31665 research outputs found
Sort by
Efektivitas Vaksin Bakterial (Streptococcus agalactiae) dengan Penyalut Berbeda terhadap Peningkatan Kinerja Imunitas Ikan Nila (Oreochromis niloticus).
Ikan nila merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang
produksinya terus meningkat, sehingga komoditas ini banyak dibudidayakan dalam
skala intensif. Permasalahan yang terjadi pada kondisi budidaya skala intensif, ikan
mudah stres dan berakibat mudah terinfeksi penyakit. Penyakit yang sering
menyerang ikan nila adalah Streptococcocis yang disebabkan oleh Streptococcus
agalactiae.
Vaksinasi adalah salah satu tindakan yang efektif untuk pencegahan
penyakit ikan. Hal ini dapat dilakukan melalui injeksi, yang sudah terbukti dapat
meningkatkan respons imun ikan. Peningkatan sistem imun melalui vaksinasi
memberikan proteksi terhadap serangan penyakit tertentu (imunitas spesifik).
Preparasi vaksin dilakukan dengan cara inaktivasi sel patogen S. agalactiae,
sehingga mampu menginduksi sistem imun akibat adanya zat asing yang masuk
dalam tubuh.
Vaksin umumnya berbentuk cair karena mudah dalam pembuatan dan
penggunaannya. Vaksin cair juga memiliki kelemahan, karena kurang praktis dan
mudah rusak selama penyimpanan dan transportasi. Oleh karena itu perlu dilakukan
preparasi vaksin bentuk keringbeku sebagai solusi dari permasalahan vaksin cair.
Dalam preparasinya, penyediaan vaksin S. agalactiae bentuk kering beku
menimbulkan permasalahan tersendiri karena performa produk yang lengket dan
tidak larut dalam air, sehingga dibutuhkan penyalut untuk melapisi vaksin sekaligus
melindungi vaksin sebelum dikeringbekukan. Penelitian ini mencoba membuat
vaksin bentuk keringbeku yang disalut dengan salah satu bahan biomaterial yakni
kitosan, susu skim, dan maltodekstrin dosis 1% atau 10% untuk diseleksi dua
perlakuan terbaik (in-vitro) yang selanjutnya diujicobakan ke ikan nila dan diuji
tantang S. agalactiae (in-vivo). Dari penelitian ini didapatkan penyalut vaksin
keringbeku yang terbaik dalam menstimulasi sifat - sifat imunitas ikan uji.
Tahap uji in-vitro terdiri atas enam perlakuan. Vaksin cair S. agalactiae
ditambahkan dengan salah satu bahan penyalut: kitosan, susu skim, dan
maltodekstrin dengan dosis masing-masing 1% atau 10% kemudian dilakukan
pengeringbekuan selama 3 hari dengan suhu di bawah -100 °C. Produk preparasi
vaksin keringbeku diseleksi secara deskriptif dengan parameter uji kelarutan,
viabilitas sel, konsentrasi protein, dan berat molekul protein.
Hasil uji kelarutan menunjukkan kondisi larut sempurna pada vaksin yang
disalut kitosan dan maltodekstrin pada dosis 1% dan 10%, sedangkan vaksin disalut
susu skim menunjukkan kondisi sedikit larut. Uji viabilitas sel, menunjukkan semua
perlakuan menghasilkan sel patogen yang inaktif / not viable cells dan aman untuk
dijadikan vaksin. Uji konsentrasi protein dan berat molekul protein menunjukkan
hanya perlakuan vaksin disalut kitosan dan susu skim yang mennghasilkan nilai,
berbeda dengan vaksin disalut maltodekstrin yang tidak menghasilkan nilai. Hasil
seleksi dua terbaik dari empat pengujian in vitro diperoleh vaksin yang disalut
kitosan 1% dan kitosan 10%. Kedua vaksin ini yang diujicobakan ke tahap in-vivo.
Tahapan uji in-vivo terdiri atas enam perlakuan dan tiga ulangan yaitu ikan
uji yang diinjeksi dengan: (G) Phosphat Buffered Saline (PBS), (H) vaksin cair, (I)
vaksin keringbeku disalut kitosan 1%, (J) vaksin keringbeku disalut kitosan 10%,
(K) kitosan 1% dan (L) kitosan 10% dan diuji tantang dengan bakteri S. agalactiae.
Pemeliharaan ikan dilakukan selama 42 hari dengan 21 hari vaksinasi, 21 hari uji
tantang, dan dilakukan sampling seminggu sekali. Pengamatan parameter tahap invivo
meliputi sintasan, relative percent survival (RPS), titer antibodi, total eritrosit,
total leukosit, dan respiratory burst (RB).
Sintasan tertinggi sampai akhir pemeliharaan ikan uji ditunjukkan pada
perlakuan I dengan nilai 92.22 ± 3.85% berbeda nyata (P < 0.05) dengan perlakuan
J (75.56 ± 8.39%), L (72.22 ± 5.09%), H (72.22 ± 6.94%), K (68.89 ± 8.39%), dan
G (46.67 ± 8.82%). Begitu juga dengan RPS, nilai tertinggi ditunjukkan pada
perlakuan I (85.21 ± 7.20%) berbeda nyata dengan perlakuan J (55.00 ± 8.58%), L
(48.01 ± 1.76%), H (46.74 ± 10.73%), dan K (42.28 ± 6.87%). Untuk
mengonfirmasi secara akurat sistem imun spesifik dilakukan pengukuran titer
antibodi. Hasil tertinggi pasca uji tantang ditunjukkan perlakuan I (vaksin
keringbeku disalut kitosan 1%), diikuti perlakuan J (vaksin keringbeku disalut
kitosan 10%), dan perlakuan H (vaksin cair S. agalactiae). Parameter total eritrosit,
total leukosit, dan respiratory burst tidak menunjukkan perbedaan yang nyata
antara vaksin keringbeku berpenyalut dengan vaksin cair. Kisaran total eritrosit
selama pemeliharaan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan
dengan kisaran perlakuan G (1.23 - 1.89 x 106 sel mm-3), H (1.59 – 2.05 x 106 sel
mm-3), I (1.58 – 1.87 x 106 sel mm-3), J (1.40 – 1.94 x 106 sel mm-3), K (1.12 – 2.06
x 106 sel mm-3), dan L (1.35 – 1.91 x 106 sel mm-3). Kisaran total leukosit selama
pemeliharaan pada perlakuan G (1.45 – 2.79 x 105 sel mm-3), H (2.17 – 3.48 x 105
sel mm-3), I (1.93 – 3.59 x 105 sel mm-3), J (2.51 – 3.61 x 105 sel mm-3), K (1.46 –
3.46 x 105 sel mm-3), dan L (1.77 – 3.97 x 105 sel mm-3). Kisaran nilai respiratory
burst selama pemeliharaan perlakuan G (0.112 – 0.309 OD), H (0.122 – 0.309 OD),
I (0.131 – 0.309 OD), J (0.096 – 0.309 OD), K (0.122 – 0.495 OD), dan L (0.100 –
0.361 OD). Dengan demikian, perlakuan I (vaksin keringbeku S. agalactiae yang
disalut kitosan 1%) mampu meningkatkan sintasan dan menstimulasi sifat – sifat
imunitas lebih baik dibanding perlakuan lainnya yang ditunjukkan dengan nilai titer
antibodi tertinggi saat uji tantang
Komposisi Kimia Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) Selama Penyimpanan Beku
Komposisi kimia yang terdapat pada ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) lengkap dan bermanfaat bagi tubuh yang meliputi asam amino, asam lemak, taurin, vitamin, dan mineral. Penyimpanan beku merupakan salah satu cara untuk mempertahankan komposisi kimia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh waktu penyimpanan beku terhadap komposisi kimia yang meliputi profil asam amino, asam lemak, taurin, vitamin, dan mineral pada ikan tuna sirip kuning. Pengamatan dilakukan selama enam bulan. Komposisi kimia sampel dianalisis dengan metode soxhlet dan kjeldahl, HPLC, dan kromatografi gas. Perubahan komposisi kimia selama penyimpanan beku 6 bulan pada ikan masih terjadi. Kandungan asam amino, asam lemak, taurin, dan vitamin mengalami penurunan selama penyimpanan. Penurunan rata-rata komposisi kimia selama penyimpanan beku yaitu taurin sebesar 73%, asam amino sebesar 74% dan asam lemak 24.48%. Penurunan tertinggi terjadi pada asam amino glutamat sebesar 75.64% dan asam lemak palmitat sebesar 19.9%. Waktu penyimpanan ikan tuna sirip kuning yang cukup baik yaitu selama tiga bulan
Aktivitas Antiglikasi dan Antioksidan Ekstrak Metanol Batang Xylocarpus granatum dan Fraksinya.
Xylocarpus granatum merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang mempunyai banyak fungsi antara lain sebagai tanaman kosmetika, salah satunya ialah sebagai inhibitor tirosinase untuk mengobati penyakit hiperpigmentasi dan melanosis pada kulit. Penelitian terdahulu menunjukkan bagian batang X. granatum memiliki aktivitas antioksidan dan inhibitor tirosinase terbaik. Tujuan penelitian ini adalah menentukan aktivitas antiglikasi dan antioksidan ekstrak metanol batang X. granatum dan fraksinya.
Xylocarpus granatum diekstraksi menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut metanol sehingga diperoleh ekstrak metanol kasar. Ekstrak metanol kasar difraksionasi menggunakan ekstrasi cair-cair dan diperoleh 3 fraksi, yaitu fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi metanol. Ekstrak dan fraksi yang diperoleh diuji kandungan fitokimianya. Selain itu, aktivitas antioksidan dilkukan menggunakan metode DPPH (2,2 difenil-1-pikrilhidrazil) dan kemampuan antiaging melalui aktivitas inhibisi pembentukan advanced glycation end product (AGEs) juga ditentukan pada ekstrak dan fraksi. Fraksi dengan aktivitas antioksidan dan antiglikasi terbaik kemudian difraksionasi menggunakan kolom kromatografi dengan eluen diklorometana:kloroform. Fraksi yang dihasilkan dari proses fraksionasi kemudian diuji aktivitas antioksidan dan antiglikasi untuk mengetahui fraksi teraktif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak dan semua fraksi mempunyai aktivitas antioksidan dan antiglikasi yang berbeda signifikan (P <0.05). Fraksi n-heksana memiliki aktivitas antiglikasi dan antioksidan yang kurang aktif dibandingkan dengan ekstrak, fraksi etil asetat dan fraksi metanol. Aktivitas antiglikasi dan antioksidan yang paling aktif ditemukan pada fraksi metanol dengan IC50 masing-masing yaitu 71.55 ppm dan 8.52 ppm. Fraksi metanol mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik dan triterpenoid.
Fraksionasi dilakukan terhadap fraksi metanol sehingga diperoleh 5 fraksi. Fraksionasi lanjutan menggunakan kolom kromatografi dipandu dengan bioassai menunjukkan Fraksi 1 mempunyai aktivitas antiglikasi dan antioksidan terbaik. Berdasarkan warna spot kromatogram yang terbentuk pada UV 366 nm, komponen kimia yang terkandung dalam fraksi teraktif adalah golongan flavonoid
Palatabilitas Beberapa Hi~ferⴲ Pucuk Tebu pada Sapi Perah Dara
Produksi tebu pada musim kering sangat tinggi, salah satu hasil limbahnya
berupa pucuk tebu. Pucuk tebu dapat digunakan sebagai salah satu sumber pakan
bagi ternak. Kandungan nutrien yang terdapat dalam pucuk tebu rendah, hal
tersebut mendorong adanya pengolahan yang mampu meningkatkan kualitas dan
ketersediaannya dalam waktu yang lama. Penelitian ini ditujukan untuk
membandingkan palatabilitas beberapa Hi~ferⴲ pucuk tebu dan melihat
pengaruhnya ketika dicampurkan ke dalam ransum. Penelitian ini dilaksanakan di
Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Cibungbulang Bogor dan Laboratorium
Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Penelitian
ini menggunakan Bujur Sangkar Latin dengan 4 perlakuan, 4 ternak, dan 4 periode:
P1 (pucuk tebu tanpa perlakuan), P2( pucuk tebu + 5% aditif fermentasi), P3 (pucuk
tebu + 0.4% probiotik multigenera, P4 (pucuk tebu + 5% aditif fermentasi + 0.4%
probiotik multigenera). Perlakuan keempat Hi-ferⴲ pucuk tebu tidak memberikan
nilai yang signifikan terhadap nilai palatabilitas berbagai Hi-ferⴲ pucuk tebu.
Konsumsi ransum komplit yang menggunakan Hi-ferⴲ dengan penambahan
probiotik multigenera (P3) dan kombinasinya dengan aditif fermentasi (P4)
memberikan tingkat konsumsi yang lebih tinggi dari yang lainnya. Sehingga terjadi
efek asosiatif positif penggunaan probiotik multigenera dengan konsumsi ransum
Keanekaragaman dan Pola Sebaran Spesies Tumbuhan Asing Invasif di Resort Gunung Butak Taman Nasional Gunung Halimun Salak
dapat hidup serta berkembang di luar habitat alaminya dan dapat mendominasi
suatu habitat. Penelitian ini bertujuan mengindentifikasi keanekaragaman spesies
tumbuhan asing invasif dan pola sebaran spesies tumbuhan asing invasif di Resort
Gunung Butak Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Metode yang digunakan
adalah metode analisis vegetasi kombinasi jalur berpetak pada hutan dan analisis
petak ganda pada savana. Tumbuhan asing invasif di Resort Gunung Butak Taman
Nasional Gunung Halimun Salak yang teridentifikasi sebanyak 24 spesies dari 12
famili yaitu Achmella paniculata, Ageratum conyzoides, Axonopus compressus,
Bellucia axinanthera, Calliandra calothyrsus, Centella asiatica, Chromolaena
odorata, Clidemia hirta, Commelina diffusa, Crassocephalum crepidioides,
Ipomea cairica, Lantana camara, Maesopsis eminii, Melastoma malabathricum,
Mikania micrantha, Mimosa pudica, Musa acuminata, Paspalum conjugatum,
Piper aduncum, Solanum torvum, Stachytarpheta indica, Tihtonia diversifolia,
Imperata cylindrica, dan Sphagneticola trilobata
Pengkajian Stok Ikan Kurisi (Nemipterus bathybius Snyder, 1911) di Perairan Selat Sunda, Banten
Ikan kurisi adalah salah satu ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis
tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menduga status stok ikan kurisi di Selat Sunda,
Banten. Nisbah kelamin menunjukan bahwa ikan kurisi betina lebih dominan
dibandingkan ikan kurisi jantan. Pola pertumbuhan ikan kurisi jantan maupun
betina bersifat allometrik negatif. Ukuran pertama kali tertangkap (Lc) ikan kurisi
lebih kecil dari ukuran pertama kali matang gonad (Lm). Mortalitas dan laju
eksploitasi ikan kurisi menunjukan kondisi tangkap lebih. Hasil analisis potensi
maksimum lestari dengan model Fox menunjukan nilai upaya aktual terakhir lebih
besar dibandingkan nilai upaya lestari. Rekomendasi pengelolaan ikan kurisi di
Selat Sunda, Banten adalah melakukan pengaturan alat tangkap, pengaturan upaya
tangkap, pengaturan musim penangkapan dan pemantauan catatan hasil dan upaya
penangkapan ikan kurisi
Profil Eritrosit, Hemoglobin dan Nilai Hematokrit Luwak Jawa (Paradoxurus hemaproditus) Pemakan dan Tidak Pemakan Buah Kopi
Luwak jawa (Paradoxurus hemaproditus) merupakan hewan yang memiliki
kemampuan menghasilkan biji kopi yang berkualitas, sehingga status kesehatannya
perlu untuk diperhatikan. Gambaran darah dapat dijadikan sebagai indikator status
kesehatan luwak pada kondisi tertentu. Proses pemberian buah kopi yang dilakukan
terus menerus diduga dapat mempengaruhi status fisiologis luwak. Penelitian mengenai
luwak telah banyak dilaporkan, namun belum ada penelitian mengenai parameter
fisiologis khususnya profil eritrosit, hemoglobin dan hematokrit dari luwak yang
sengaja diberikan buah kopi secara terus menerus selama 3 bulan. Data parameter
fisiologis luwak sangat berguna sebagai acuan untuk memperkirakan status kesehatan
luwak pemakan buah kopi yang dikomersilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jumlah sel darah merah, kadar
hemoglobin dan nilai hematokrit pada luwak jawa pemakan pemakan kopi dan tidak
pemakan buah kopi. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Fisiologi, Divisi Fisiologi,
Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut
Pertanian Bogor dari bulan November 2017 hingga Maret 2018. Gambaran darah
Luwak Jawa pada saat adaptasi dan pemeliharaan berfluktuasi. Rataan jumlah eritrosit
luwak pemakan buah kopi dan tidak pemakan buah kopi adalah (8.24±2.40) x 106/mL dan (8.25±2.16) x 106/mL, kadar hemoglobin adalah (6.18±2.21) g/dL dan (6.40±2.21) g/dL dan nilai hematokrit adalah (16.50±2.21)% dan (16.00±2.14)%. Secara umum gambaran darah Luwak Jawa pemakan buah kopi memiliki rataan yang lebih rendah dari pada Luak Jawa yang tidak diberi buah kopi
Penerapan Keuangan Berkelanjutan dan Dampaknya terhadap Nilai Perusahaan di Perbankan Indonesia
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 51/POJK.03/2017 tentang penerapan keuangan berkelanjutan mengharuskan bank untuk menerapkan keuangan berkelanjutan. Kebijakan tersebut merupakan respon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap peta jalan keuangan berkelanjutan yang telah dikeluarkan OJK pada tahun 2013 dan Paris Agreement pada tahun 2016 untuk membantu proses pembangunan berkelanjutan. Bank dianggap penting karena dalam proses pendanaan pembangunan sekitar 80% pendanaan di Indonesia berasal dari Bank. Bank menghadapi risiko dalam pelaksanaan hal tersebut yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik, risiko kepatuhan, risiko lingkungan dan risiko sosial. Risiko yang tinggi akan menghasilkan profit yang tinggi. Namun, berdasarkan data pengembalian terhadap aset, bank yang menerapkan keuangan berkelanjutan selama 5 tahun terakhir mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan variabel nilai perusahaan, kinerja perusahaan, manajemen risiko perusahaan dan penerapan keuangan berkelanjutan di perbankan Indonesia, serta menganalisis dampak yang terjadi dari penerapan keuangan berkelanjutan di perbankan Indonesia
Penelitian ini menggunakan data panel yang diperoleh dari laporan tahunan bank dengan sampel 27 bank. Bank tersebut terdiri dari 20 bank yang belum menerapakan keuangan berkelanjutan dan 7 bank yang telah menerapkan keuangan berkelanjutan dengan periode tahun 10 tahun, dari 2008 hingga 2017. Metode estimasi yang digunakan adalah analisis data panel, statis maupun dinamis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan keuangan berkelanjutan dapat menurunkan risiko yang akan dihadapi karena proses manajemen risiko lebih ketat. Namun mempengaruhi biaya yang dikeluarkan untuk proses manajemen risiko. Selain itu juga penerapan keuangan berkelanjutan memerlukan biaya untuk dapat meningkatkan aset. Biaya tersebut berdampak terhadap penurunan penerimaan suatu bank. Penerapan keuangan berkelanjutan secara umum memiliki dampak positif. Bank yang telah menerapkan keuangan berkelanjutan nilai economic value added (EVA), total aset, dan LDR memiliki pengaruh positif signifikan, sedangkan pada bank yang belum menerapkan keuangan berkelanjutan nilai-nilai tersebut berpengaruh negatif signifikan
Pemetaan Zona Potensi Daerah Resapan Airtanah di Kabupaten Indramayu
Air merupakan sumber daya alam yang berguna bagi semua makhluk hidup. Sekitar 70 % air yang meliputi seluruh bumi, hanya sekitar 2.5 % yang merupakan air segar, selebihnya adalah air laut atau yang memiliki sifat seperti air laut (Asdak, 2002). Dari 2.5 % air segar tersebut 68.6% berupa glaser dan es, 30.1 % airtanah dan sisanya 1.3 % air pemukaan (Fetter, 1994). Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan yang jenuh air yang ada di bawah permukaan tanah. Air Tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan.
Kabupaten Indramayu memiliki lahan sawah 110.913 ha (54.4%) dan perlu debit air sebesar 1,75 liter/detik per hektar sawah (BPS). Untuk menduga ada tidaknya potensi airtanah banyak cara yang dapat dilakukan seperti studi peta hidrogeologi dan penyelidikan langsung di lapangan. Salah satu cara penyelidikan langsung dilapangan yang paling mudah tapi cukup efektif untuk mengetahui potensi airtanah, berikut kedalaman, ketebalan dan penyebaran batuan. Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan kajian hidrogeologi untuk mengetahui potensi airtanah di Kabupaten Indramayu yang mengalami kekurangan air untuk irigasi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan air untuk pertanian di Kabupaten Indramayu. Berdasarkan rumusan masalah ketersediaan airtanah untuk pertanian di Kabupaten Indramayu ,maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa dan mengetahui potensi airtanah tersebut di Kabupaten Indramayu. Hasil dari penyelidikan daerah penelitian diduga mempunyai tahanan jenis batuan berkisar 1-30 Ωm dengan jenis batuan tanah penutup, pasir lempungan, lempung pasiran, pasir, lempung/tufaan. Airtanah bebas (unconfined aquifer) terletak pada lapisan lempung pasiran dan pasir lempungan dengan kedalaman 3-30 m bawah muka tanah (bmt) setempat, ketebalan aquifer 7-20 m. Airtanah tertekan (confined aquifer) terdapat pada kedalaman lebih dari 60 m bawah muka tanah (bmt) dengan ketebalan aquifer lebih dari 40 m tersusun dari pasir lempungan, lempung pasiran hingga pasir. Konduktivitas hidrolik akuifer bebas dan akuifer tertekan mempunyai nilai yang sama yaitu sebesar 20 m/hari. Perhitungan potensi airtanah yang didapatkan dari persamaan Darcy yaitu airtanah bebas sebesar 31,687 m3/hari atau 0.37 m3/detik dan airtanah tertekan sebesar 99,382 m3/hari atau 1.15 m3/detik
Analisis Pengaruh Demokrasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia (Periode Tahun 2010 – 2017).
Tujuan Demokratisasi sebuah negara dalam rangka pembangunan ekonomi,
yang menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia, dan mengedepankan
keadilan adalah untuk meningkatkan partisipasi dan mendorong terciptanya
kegiatan produktif sehingga membuka ruang yang kondusif bagi aktivitas
perekonomian yang akan membangunan perekonomian negara. Penelitian ini
menggunakan data panel dari tahun 2010-2017 pada 33 Provinsi di Indonesia.
Hasil Estimasi dari model hubungan antara Indeks Hak politik dan Indeks
Lembaga Demokrasi menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Indeks Kebebasan sipil menunjukkan
hubungan yang negatif dan signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu untuk menciptakan demokrasi yang mapan dalam rangka menjaga
efektivitas pertumbuhan ekonomi perlu menjaga Good Governance guna menjaga
transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan penegakan hukum sehingga stabilitas
politikpun dapat tercapai