31665 research outputs found
Sort by
Desain Taman Tepi Banjir Kanal Timur dengan Pendekatan Pengguna Remaja di Duren Sawit Jakarta Timur
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak menuju masa
dewasa. Pada masa peralihan ini, remaja mengalami emosi tidak stabil yang dapat
mengakibatkan perubahan perilaku sosial. Perilaku sosial remaja di tempat
umum/keramaian biasanya dilakukan bersama-sama dengan komunitas atau
kelompok. Sehingga, remaja membutuhkan ruang yang relatif luas, guna
memberikan fasilitas bagi remaja untuk berkreasi dan berekspresi. Taman Tepi
Banjir Kanal Timur Duren Sawit merupakan salah satu taman percontohan yang
sering dikunjungi remaja baik ketika dengan teman, pacar, atau komunitas. Taman
ini merupakan salah satu taman di Kecamatan Duren Sawit yang memiliki tingkat
kriminalitas tinggi di Jakarta Timur. Tingkat kriminalitas ini didominasi oleh
remaja, sehingga memicu terjadinya permasalahan sosial dan lingkungan
dikalangan remaja. Untuk mengatasi permasalahan kriminalitas di tapak ini,
remaja perlu wadah untuk menyalurkan aktivitas dan kreativitasinya dalam
sebuah taman sehingga perlu penataan taman yang bisa memadai kebutuhan
remaja. Untuk itu, diperlukan suatu studi mengenai desain Taman Tepi Banjir
Kanal Timur dengan Pendekatan Remaja di Duren Sawit Jakarta Timur. Taman
ini berfungsi sebagai tempat melakukan aktivitas dan kreativitas remaja. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi dan karakteristik tapak,
menganalisis dan membuat sintesis, menyusun suatu konsep dan desain taman
tepi kanal. Metode penelitian yang digunakan mengacu pada metode perancangan
Simonds (1983). Konsep dasar yang digunakan dalam desain ini adalah Urban
Youth Park, untuk memenuhi kebutuhan remaja di lingkungan terbuka secara
maksimal. Batasan pada penelitian ini adalah desain lanskap yang menghasilkan
siteplan dan gambar detail
Respons Tingkah Laku Ikan Selar Kuning (Selaroides leptolepsis) terhadap Intensitas Cahaya Lampu Putih dan Biru
Ikan selar merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang cukup potensial di Indonesia. Nelayan banyak menangkap ikan selar dengan metode light fishing yang hingga saat ini masih terus dikembangkan teknologinya. Penggunaan cahaya tidak dapat terlepas dari sifat fototaksis positif yang dimiliki ikan. Peranan retina pada mata ikan menjadi penting untuk mengetahui kemampuan adaptasi ikan, sehingga diperlukan penelitian yang lebih banyak mengenai adaptasi retina mata ikan pada ikan hasil tangkapan light fishing guna menunjang pengembangan teknologi penangkapan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkah laku ikan selar kuning (Selaroides leptolepsis) terhadap warna cahaya dan intensitas yang berbeda, menentukan adaptasi mata ikan selar (Selaroides leptolepsis) terhadap cahaya lampu, menentukan intensitas cahaya yang menjadi preferensi ikan selar kuning (Selaroides leptolepsis). Penelitian dilakukan di Laboratorium Tingkah Laku Ikan, Sekolah Tinggi Perikanan, Banten dan Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perikanan, IPB untuk pengamatan retina mata ikan melalui metode histologi sehingga dapat dilihat rasio penjuluran sel kon mata ikan pada setiap intensitas cahaya, yaitu 10 lux, 20 lux, 35 lux dan 50 lux dengan dua warna cahaya, yaitu putih dan biru.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan selar kuning memiliki pola tingkah laku yang hampir sama di setiap perlakuan cahaya putih dan biru dengan intensitas berbeda. Pola yang dibentuk setelah ikan mengelilingi sumber cahaya kemudian menyebar setelah mencapai titik jenuh. Ikan selar kuning sensitif terhadap warna cahaya putih dan biru pada hampir semua intensitas yang diujicobakan dengan kisaran penjuluran sel kon antara 79%-90%. Ikan selar kuning lebih cepat bereaksi pada cahaya dengan iluminasi rendah karena penjuluran ikan lebih maksimal terjadi pada pemaparan 10 lux hingga 35 lux
Pengembangan Metode Kuantitatif Untuk Cupping Test Kopi Arabika Menggunakan Spektroskopi NIR
Harga kopi sangat ditentukan oleh kualitas dari biji kopi, sehingga menjaga
kualitas dari biji kopi akan berdampak pada nilai ekonominya. Kualitas kopi
sering dinilai secara fisik dan rasanya. Fisiknya dapat dilihat dari ukuran, adanya
kotoran, adanya serangga yang pengelompokannya berbeda antara satu negara
dengan negara lainnya, sementara untuk pengelompokan mutu dari segi rasa saat
ini telah dikenal secara internasional menggunakan metode cupping. Metode
cupping diperkenalkan oleh The Specialty Coffee Association of America (SCAA),
Hubungan cupping kopi dengan komposisi kimia yang ada di dalam bubuk
kopi perlu diketahui untuk dapat mengkuantifikasikan cupping yang dilakukan
sehingga lebih objektif dan pengaruh subjektifitas dari personal yang melakukan
cupping dapat dihilangkan. Salah satu metode saat ini yang sedang berkembang
dan digunakan untuk mendeteksi kualitas suatu produk pertanian adalah metode
pantulan infra merah dekat atau Near Infrared Spectroscopy (NIRS). Penggunaan
NIRS dapat diterapkan pada proses cupping kopi karena nilai cupping dipengaruhi
oleh komposisi kimia dalam kopi, sementara komposisi kimia di dalam kopi
berdasarkan penelitian yang telah ada dapat diprediksi menggunakan NIRS.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah pemutuan rasa kopi (cupping)
menggunakan teknologi NIRS, sementara tujuan khususnya adalah: (1)
menganalisis komponen kimia kopi tergiling yang berhubungan langsung dengan
kualitas rasanya; (2) mendapatkan korelasi antara komponen kimia tertentu kopi
tergiling dengan spektrum Near InfraRed Spectroscopinya, serta hubungannya
dengan nilai cupping; (3) menguji perbedaan spektrum NIRS untuk setiap tingkat
kualitas cupping kopi serta perbedaan spektrum untuk setiap komponen kimia
dalam kopi, dan (4) mendapatkan model pemutuan uji cupping kopi arabika
menggunakan nilai spektrum Near InfraRed Spectroscopy.
Jenis kopi yang digunakan adalah arabika yang berbentuk bubuk yang
perlakuan sangrai dan penggilingannya dilakukan mengikuti prosedur yang
dikeluarkan oleh SCAA. Kualitas rasanya dianalisa menggunakan cara cupping,
analisa kimia menggunakan instrument spektrofotometer UV-VIS dan untuk
mendapatkan spektrum NIRnya menggunakan spektrofotometer Buchi NIRFlex
N-500. Hasilnya menunjukkan kalibrasi PLS spektrum NIR terhadap komposisi
kimia kopi mendapatkan nilai hubungan yang baik, seperti untuk kalibrasi kafein
dengan spektrum NIR didapatkan nilai hubungan yang baik pada penggunaan
pretreatmnent Mean Normalization (MN) dan transformasi Orthogonal Signal
Correlation (OSC) dengan nilai R2 sebesar 0.72 dan Ratio of Performance to
Deviation (RPD) sebesar 2.96. Hasil terbaik untuk korelasi NIRS dengan
konsentrasi lemak total dicapai pada pretreatment MN dengan nilai R2 sebesar
0.95 dan RPD sebesar 6.56 dan transformasi OSC dengan R2 sebesar 0.95 dan
RPD sebesar 5.63. Sementara itu untuk kalibrasi PLS antara konsentrasi asam
klorogenat dengan NIRS cocok digunakan hampir semua pretreatment dan
transformasi kecuali Mean Centering yang menghasilkan nilai hubungan yang
tidak baik. Kalibrasi antara nilai cupping dengan NIRS didapatkan hasil yang baik
jika digunakan transformasi de-trending (DT) dimana penggunaan spektrum NIR
yang belum dilakukan pretreatment menggunakan PLS mendapatkan nilai validasi
silang RMSE 6.14. Sementara itu bila menggunakan Multiplicative Scatter
Correction spectrum mendapatkan nilai validasi silang RMSE 5.43. Nilai validasi
silang RMSE terbaik didapatkan dengan melakukan koreksi de-trending sebesar
1.73. Nilai ini sangat kecil, semakin kecil nilai RMSE semakin baik korelasinya
sehingga NIRS dapat digunakan untuk memprediksi nilai cupping
Analisis Keragaman Genetik Graptophyllum pyctum dari 10 Etnis di Indonesia Bagian Barat Berbasis Marka Molekular SRAP
dengan beragam nama lokal dan khasiat sesuai etnis penggunanya. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui polimorfisme dan filogenetik G. pyctum antar etnis
dan aksesi. Isolasi genom dilakukan dengan GeneJET Plant Genomic DNA
Purification Mini Kit. Amplifikasi PCR menggunakan primer SRAP. Pengolahan
data menggunakan NTSYS dan PopGene 1.3. Terdapat 8 kombinasi primer
terpilih dengan persen polimorfik rerata 72,23% dan total 45 lokus. Etnis dengan
persen polimorfik tertinggi adalah etnis Kutai (55,56%). Keragaman antar
populasi dan aksesinya tergolong sedang (ID<0,69). Etnis Ribun adalah tetua
dengan lokus ke-24 dan 41 sebagai lokus penanda. Etnis dengan kekerabatan G.
pyvtum terdekat adalah Tasik-Pagatan (ID=0,0094), sedangkan yang terjauh
adalah Ribun-Pagatan (ID=0,4359). Sebesar 81,29% keragaman dapat dijelaskan
oleh 8 PC teratas yang mencakup 17 alel utama. Terdapat 4 klaster yang
memisahkan 28 aksesi secara acak dan tidak mengikuti pola etnis maupun
geografisnya
Prediction of Interactions in Bipartite Compounds and Proteins on Imbalanced Data
Identifikasi interaksi senyawa-protein merupakan salah satu komponen penting pada Drug-Target Analysis dalam pengembangan obat-obatan. BleakleyYamanishi menemukan algoritme Bipartite Local Model (BLM) yang memiliki hasil performa prediksi interaksi senyawa-protein dengan sangat baik. Selanjutnya, Kurnia menerapkan algoritme Bipartite Local Model - Neighbor Interaction-profile Inferring (BLM-NII) untuk memprediksi interaksi senyawa-protein pada Indonesia
jamu herbs (Ijah) analytics. Penerapan konsep Network–based Interaction–profile Infering (NII) memungkinkan BLM untuk melakukan prediksi pada kondisi senyawa atau protein yang tidak memiliki data interaksi. Hasil prediksi interaksi senyawa-protein pada penelitian Bleakley-Yamanishi dan Kurnia ditemukan bahwa jumlah data yang tidak berinteraksi jauh lebih banyak daripada jumlah data senyawa-protein yang memiliki interaksi (imbalanced class). Permasalahan tersebut menyebabkan prediksi interaksi senyawa-protein yang dihasilkan bias menuju kelas mayoritas (tidak berinteraksi). Selain itu tidak banyak penelitian tentang prediksi interaksi senyawa-protein yang membandingkan beberapa teknik sampling data untuk menangani permasalahan imbalanced class.
Oleh karena itu, penelitian ini membandingkan performa prediksi interaksi senyawa-protein dengan beberapa teknik sampling data, yaitu Random Oversampling (ROS), Random Under-sampling (RUS), Combination of Over-undersampling (COUS), Synthetic Minority Oversampling Technique (SMOTE), dan Tomek Link (T-Link). Teknik tersebut diimplementasikan pada jaringan interaksi senyawa-protein yang telah diketahui dengan dataset Nuclear Receptor dan Gprotein-coupled Receptor (GPCR), serta pada jaringan interaksi yang belum diketahui dengan dataset Ijah. Performa prediksi setiap teknik sampling data dievaluasi menggunakan nilai Area Under Curve (AUC) dan kurva Receiver Operating Characteristic (Kurva ROC).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa prediksi interaksi senyawa protein dengan teknik sampling data SMOTE memiliki nilai AUC dan kurva ROC yang paling optimal pada ketiga dataset yang digunakan. Peningkatan nilai AUC pada data imbalanced yaitu sebesar 7.19% pada dataset Nuclear Receptor, 21.37% pada dataset GPCR, dan sebanyak 7.96% pada dataset Ijah
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Wakif dalam Memilih Wakaf Produktif (Studi Kasus pada Dompet Dhuafa Republika).
Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia
memiliki potensi dalam memanfaatkan wakaf tunai untuk mengatasi kemiskinan.
Wakaf tunai yang diterima oleh sebuah lembaga akan disalurkan untuk berbagai
jenis wakaf. Jenis wakaf berdasarkan substansi ekonomi terbagi menjadi dua, yaitu
wakaf langsung dan wakaf produktif. Pada dasarnya, wakaf produktif mampu
memberikan efek pengganda ekonomi yang sangat besar antara lain mengurangi
kemiskinan dan pengangguran, yang pada akhirnya berkontribusi pada kemajuan
ekonomi nasional. Akan tetapi, wakaf produktif masih kalah populer dibandingkan
dengan wakaf langsung. Hal ini dibuktikan dengan penghimpunan dana wakaf yang
masih didominasi untuk jenis wakaf langsung sesuai dengan amanah yang
diberikan oleh wakif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
faktor-faktor yang memengaruhi keputusan wakif dalam memilih wakaf produktif.
Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada 65 orang wakif
di Dompet Dhuafa Republika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis deskriptif dan regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
keputusan wakif dalam memilih wakaf produktif dipengaruhi oleh pemahaman
wakaf produktif, usia, norma subjektif, dan status pernikahan
Ekstraksi Karotenoid dari Minyak Buah Merah (Pandanus conoideus) dengan Metode Kromatografi Kolom Kilas
Karotenoid merupakan salah satu pigmen alami yang berfungsi sebagai
antioksidan yang baik sehingga sering dijadikan sebagai suplemen. Penelitian ini
bertujuan mengoptimisasi proses ekstraksi karotenoid dari minyak buah merah
(Pandanus conoideus) dengan metode kromatografi kolom kilas (KKK). Ekstraksi
karotenoid dalam sampel minyak meliputi pencirian minyak, ekstraksi karotenoid
dari sampel dibantu reaksi saponifikasi, fraksinasi karotenoid dengan KKK,
pencirian karotenoid dengan kromatografi lapis tipis (KLT), spektrofotometer
UV-Vis, dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Kadar air produk sebesar
0.7% dan rendemen ekstrak 5.80% dengan total karotenoid 1110 μg/g. Hasil Uji
KLT menggunakan eluen Gradien 1 (heksana:aseton 6:4 dan 7:3) dan Gradien 2
(heksana aseton 8:2 dan 9:1) menghasilkan jejak berturut-turut 3, 5, 4, dan 3 jejak.
Kemudian ekstrak difraksionasi dengan KKK menggunakan sistem Gradien 1 dan
Gradien 2. Identifikasi dengan spektrofotometer UV-Vis dan KCKT menunjukkan
sistem Gradien 1 menghasilkan fraksi yang dominan mengandung karotena dan
sistem Gradien 2 menghasilkan fraksi yang dominan mengandung kriptoxantinol
Formulasi Edible Coating Berbahan Aloe vera L. dan Pektin Dengan Penambahan Ca-Propionate Untuk Mempertahankan Kesegaran Buah Rambutan.
Buah rambutan adalah buah dengan jumlah stomata yang banyak. Hal inilah yang menjadi penyebab utama cepatnya kehilangan air serta kesegaran buah. Penanganan pascapanen yang dapat diaplikasikan untuk menutup stomata buah adalah coating. Aloe vera L. dan pektin merupakan bahan pelapis yang telah banyak diteliti. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa coating Aloe vera L. dan pektin efektif dalam menekan laju penurunan mutu buah selama penyimpanan. Pencelupan merupakan metode coating yang umum dan mudah digunakan. Kelemahan dari metode celup adalah tidak dapat membentuk lapisan yang baik pada buah dengan bentuk tidak rata. Metode lain yang dapat diaplikasikan untuk menutupi kelemahan tersebut adalah metode semprot. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji karakteristik larutan coating untuk aplikasi metode semprot serta penambahan antimikroba untuk menghambat laju pertumbuhan mikroba pada permukaan kulit rambutan.
Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap yang pertama adalah pemilihan larutan coating. Bahan baku coating yang digunakan terdiri dari dua macam yaitu Aloe vera L. dan pektin. Aloe vera L. dipilih dengan perlakuan konsentrasi 10% dan 20%. Pektin yang dipilih terdiri dari dua jenis yaitu pektin jeruk low methoxyl dan high methoxyl dengan konsentrasi 0.5% dan 1% untuk masing-masing jenis pektin. Pemilihan larutan coating berdasarkan diameter dan kerapatan droplet serta Water Vapor Transmission Rate (WVTR) dan ketebalan film. Larutan dipilih berdasarkan karakteristik larutan yang meliputi viskositas, diameter serta kerapatan droplet dan karakteristik film yang meliputi ketebalan serta WVTR film. Pembobotan dilakukan untuk menentukan larutan terpilih dengan karakteristik yang terpenting memiliki bobot tertinggi. Diameter droplet dipilih berdasarkan nilai minimum, kerapatan droplet berdasarkan nilai maksimum, WVTR film berdasarkan nilai minimum dan ketebalan film berdasarkan nilai minimum. Larutan yang terpilih kemudian digunakan pada tahap dua yaitu aplikasi pada buah dengan penambahan kalsium propionat sebagai antimikroba (0%, 2% dan 4%). Buah yang telah dilapisi disimpan pada suhu 10 0C selama 14 hari. Analisis perubahan mutu dilakukan dua hari sekali yang meliputi respirasi, kadar air kulit, susut bobot, warna kulit, kadar air daging, Total Padatan Terlarut (TPT) buah, warna daging, total mikroba dan organoleptik.
Larutan Aloe vera L. konsentrasi 10% (AV 10%) dan larutan pektin jeruk low methoxyl 1% (PJL 1%) terpilih sebagai larutan terbaik untuk coating menggunakan metode spray, berdasarkan : viskositas larutan, diameter droplet, kerapatan droplet, ketebalan film dan WVTR film. Aplikasi terbaik dilakukan dengan jarak 30 cm dari nozel, tekanan 3.5 Bar dan lama semprot 13 detik.
Coating berbahan Aloe vera L. memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pektin jeruk low methoxyl. Perlakuan terbaik dari coating Aloe vera L. adalah perlakuan Aloe vera L. tanpa penambahan antimikroba. Hal ini ditunjukkan dengan 8 parameter mutu (laju respirasi, kadar air, susut bobot, warna kulit, total mikroba dan organoleptik) seuai dengan kriteria sampai hari ke-14.
Adapun nilai dari parameter-parameter tersebut adalah laju respirasi (5.50 ml.kg-1.h-1) , kadar air (71.35%), susut bobot (8.83%), warna kulit buah nilai L (13.33), a (24.00), b (12.33), total mikroba (65 koloni/ml) dan skor uji sensori berada diatas penerimaan konsumen (>4)
Identifikasi Tahap Keekonomian Dari Potensi Hasil Hutan di UPTD KPH Bali Timur
Pada Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 2004 pasal 28 ayat 1, pemerintah mengeluarkan kebijakan pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang merupakan program prioritas pemerintah dalam rangka meningkatkan pemanfaatan dan kelestarian hutan, serta memperbaiki tata kelola hutan dan memperkuat desentralisasi sektor kehutanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis potensi manfaat, tahap keekonomian dan kemajuan pemanfaatan hasil hutan yang dikandung ekosistem hutan di KPH Bali Timur. Data dan informasi diperoleh melalui wawancara terhadap pimpinan dan staff KPH, pengusaha hasil hutan dan masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukan KPH Bali Timur memiliki 50 jenis manfaat hasil dari kawasan hutan yang terdiri dari hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, tanaman hortikultur, hewan ternak, satwa liar dan jasa lingkungan. Selain itu, hasil menunjukan jenis manfaat yang ada memiliki tahap keekonomian dengan jumlah yang berbeda pada setiap variabel. Pada tahap keekonomian (1) belum ada pengetahuan manfaat terdapat 11 jenis, (2) ada pengetahuan manfaat terdapat 22 jenis, (3) ada teknologi pemaanfaatan 4 jenis, (4) ada manajemen pemanfaatan terdapat 3 jenis, (5) ada pasar 2 jenis, (6) ada keunggulan komparatif terdapat 0 jenis, dan (7) ada keunggulan kompetitif terdapat 8 jenis. Kemampuan pelaku usaha lokal membatasi tahap keunggulan kompetitif hanya 8 jenis, sedangkan pada tingkat nasional diperkirakan terdapat 37 jenis yang diharapkan sudah mencapai tahap keunggulan kompetitif
Penundaan Kematangan Menggunakan Oksidan Etilen dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Mutu dan Daya Tahan Pisang Barangan.
Pisang Barangan merupakan salah satu varietas buah lokal Indonesia yang umumnya didistribusikan tanpa menggunakan sarana pendingin. Suhu penyimpanan dan distribusi yang tidak terkontrol dapat memicu meningkatnya produksi etilen endogen buah. Sebagaimana buah klimakterik lainnya, pisang Barangan mudah terpengaruh oleh keberadaan etilen yang dapat mempercepat proses kematangan buah sehingga masa simpannya menjadi pendek. Oleh karena itu, upaya pengendalian etilen pada suhu lingkungan diperlukan untuk memperpanjang masa simpan.
Salah satu metode yang umum digunakan untuk mengendalikan etilen pada suhu lingkungan adalah penggunaan oksidan etilen berupa kalium permanganat (KMnO4). Dalam aplikasinya diadsorpsikan pada media pembawa (carrier). Pada penelitian ini digunakan zeolit bubuk (200 mesh) sebagai media pembawa. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan penggunaan KMnO4 sebagai oksidan etilen mampu menunda kematangan buah pisang sehingga masa simpannya lebih lama. Namun, belum dikaji lebih lanjut tentang efek penggunaannya terhadap perubahan fisiologi pada buah pasca-perlakuan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji efek penundaan kematangan pisang Barangan menggunakan oksidan etilen terhadap perubahan mutu dan daya tahan buah selama penyimpanan, proses kematangan buah secara alami pascaperlakuan dan masa pemajangan (display period).
Bahan yang digunakan berupa pisang Barangan, diperoleh dari PTPN VIII Parakansalak, Sukabumi yang dipanen pada umur petik 10 dan 11 minggu setelah potong ontong (MSPO). Buah dipanen pada tingkat ketuaan komersial berwarna hijau (hard green maturity). Oksidan etilen terbuat dari larutan KMnO4 6.28% yang diadsorpsikan pada zeolit 200 mesh dan dikemas dalam bentuk sachet. Pisang Barangan dikemas dengan plastik low density polyethylene (LDPE) ketebalan 0.03 yang didalamnya diletakkan oksidan etilen sachet, selanjutnya disusun dalam kardus teleskopik dan disimpan pada suhu 25±2 °C, RH ±85%.
Penelitian dilakukan dengan tiga perlakuan lama waktu (durasi) penundaan kematangan yaitu 9,18 dan 24 hari. Pengamatan perubahan fisiologi pisang dilakukan pada (1) periode penundaan (penyimpanan), (2) proses kematangan alami setelah penundaan kematangan dihentikan dan (3) selama masa pemajangan sampai dengan tidak diterima konsumen. Parameter yang diamati meliputi kadar air, susut bobot, kekerasan, total padatan terlarut (TPT) dan warna kulit buah. Rancangan percobaan untuk perlakuan durasi penundaan dan masa pemajangan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dua faktor. Pada perlakuan penundaan kematangan (penyimpanan), faktor pertama adalah tanpa pemberian oksidan etilen (A1) dan diberi oksidan etilen (A2), sedangkan faktor kedua adalah umur panen (10 MSPO [P1] dan 11 MSPO [P2]). Pada pengamatan masa pemajangan, faktor pertama adalah umur panen (P1 dan P2), faktor kedua adalah durasi penundaan kematangan meliputi 9 hari (D1), 18 hari (D2) dan 24 hari (D3),
dengan kontrol tanpa oksidan etilen (D0). Data dianalisa dengan ANOVA menggunakan software IBM SPSS Statistics 24 dan dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan selang kepercayaan 95%.
Hasil menunjukkan pemberian oksidan etilen secara signifikan berpengaruh terhadap penurunan laju perubahan mutu buah pisang Barangan pada penyimpanan suhu 25±2 °C. Aplikasi oksidan etilen secara efektif dapat menunda kematangan pisang Barangan umur petik A1 sampai 24 hari dibandingkan kontrol 9 hari, sedangkan A2 sampai 18 hari dibandingkan kontrol 7 hari. Umur petik berpengaruh nyata terhadap perubahan mutu buah selama penyimpanan. Pisang Barangan baik kontrol maupun perlakuan dapat matang secara alami (mencapai indeks kematangan 5) dalam kurun waktu 3-5 hari setelah dikeluarkan dari kemasan. Buah yang ditunda kematangannya selama 9 hari (A1D1 dan A2D2) membutuhkan waktu untuk matang lebih lama dibandingkan perlakuan lain (18 dan 24 hari). Perlakuan durasi penundaan kematangan tidak berpengaruh terhadap perubahan mutu buah sampai mencapai tingkat kematangan yang siap konsumsi (indeks warna 5). Hasil pengamatan selama masa pemajangan menunjukkan, durasi penundaan kematangan tidak berpengaruh nyata terhadap mutu buah setelah matang, baik antar perlakuan maupun kontrol (α<0.05), sedangkan umur petik berpengaruh terhadap warna Hue dan Total Padatan Terlarut (TPT). Masa pemajangan buah dalam bentuk sisir utuh adalah 4 hari setelah 80% buah mencapai indek