31665 research outputs found
Sort by
Partisipasi Masyarakat dalam Upaya Pengendalian Kebakaran Hutan di Taman Wisata Alam Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat.
Kebakaran hutan merupakan salah satu gangguan hutan yang dapat
merusak ekosistem. Kebakaran hutan di Taman Wisata Alam Gunung Guntur
dalam lima tahun terakhir memiliki frekuensi kebakaran yang tinggi. sehingga
diperlukan upaya pengendalian kebakaran hutan. Tujuan dari penelitian ini adalah
mengidentifikasi, mendeskripsikan, menganalisis upaya pengendalian dan peran
masyarakat dalam kebakaran hutan. Metode yang digunakan adalah triangulasi
data dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Pemilihan subyek penelitian
dilakukan dengan metode snowball sampling technique. Upaya pengendalian
kebakaran hutan dilakukan oleh pihak pemerintah, masyarakat sekitar hutan dan
paguyuban masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan upaya pencegahan
kebakaran hutan yang dilakukan dengan pemasangan papan peringatan, bermintra
dengan paguyuban masyarakat dan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat
sekitar hutan. Jumlah partisipasi masyarakat yang mengikuti sosialisasi sebanyak
53.33% . Jumlah partisipasi masyarakat yang melapor adanya kejadian kebakaran
hutan sebanyak 60%. Jumlah partisipasi masyarakat dalam pemadaman sebanyak
63.33%
Pengkajian Stok Ikan Selar Kuning (Selaroides leptolepis Cuvier, 1833) di Perairan Selat Sunda
Perairan Selat Sunda merupakan perairan yang memiliki potensi perikanan
yang sangat besar. Ikan yang ditangkap di perairan Selat Sunda sangat beragam
dan memiliki nilai ekonomis yang penting. Salah satu ikan ekonomis penting yang
menjadi target utama dalam penangkapan di perairan Selat Sunda adalah ikan selar
kuning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi status stok ikan selar
kuning (Selaroides leptolepis) yang ada di perairan Selat Sunda. Penelitian ini dilakukan
pada bulan Mei 2018 hingga Oktober 2018 di Pelabuhan Perikanan Pantai
Labuan, Banten dengan menggunakan teknik Penarikan Contoh Acak Sederhana
(PCAS). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa ikan selar kuning memiliki pola
pertumbuhan Isometrik. Koefisien pertumbuhan (K) ikan selar jantan adalah 0,2
dan ikan betina 0,3. Ukuran pertama kali tertangkap (Lc) ikan selar kuning lebih
kecil daripada ukuran pertama kali matang gonad (Lm). Analisis laju eksploitasi
menunjukkan ikan selar kuning di PPP Labuan, Banten mengalami tangkap lebih.
Ikan selar kuning yang berada di PPP Labuan Banten telah terindikasi mengalami
growth overfishing dikarenakan ikan yang tertangkap belum mengalami matang
gonad
Ketahanan Empat Jenis Kayu Cepat Tumbuh Termodifikasi Panas terhadap Serangan Jamur Pelapuk
Kayu cepat tumbuh dari hutan tanaman umumnya bermutu rendah, sehingga
diperlukan teknologi modifikasi untuk meningkatkan ketahanannya terhadap
serangan organisme perusak kayu. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi
ketahanan kayu sengon, jabon, mangium, dan jati cepat tumbuh termodifikasi panas
dari serangan jamur pelapuk kayu. Suhu pemanasan yang digunakan yaitu 150 °C
dan 180 °C dengan waktu pemanasan selama 0, 2, dan 6 jam. Pengujian ketahanan
kayu terhadap serangan jamur pelapuk mengacu pada SNI 01-7207-2014 yang
dimodifikasi. Pengujian kandungan kimia kayu dilakukan dengan menggunakan
Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GCMS). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa terjadinya peningkatan ketahanan kayu sengon dan jati yang dipanaskan
pada suhu 150 °C serta kayu jabon dan jati yang dipanaskan pada suhu 180 °C
terhadap serangan jamur pelapuk putih ditandai dengan nilai kehilangan berat yang
lebih rendah dibandingkan kontrol. Perlakuan panas dengan suhu 180 °C mampu
meningkatkan ketahanan kayu jabon, selain itu juga sengon, dan mangium terhadap
serangan jamur pelapuk cokelat yang ditandai dengan rendahnya nilai kehilangan
berat dibandingkan kontrol. Peningkatan ketahanan kayu termodifikasi panas
diduga karena kandungan kimia bersifat antifungi seperti benzoic acid yang muncul
pada kayu jabon, sinapaldehyde yang muncul pada kayu sengon, jabon, dan
bertambah pada kayu mangium, vanillin yang muncul pada kayu jabon dan
mangium, serta kandungan tectoquinone yang bertambah pada kayu mangium dan
muncul pada kayu jati
Hubungan Kebutuhan Belajar dengan Kemampuan Aksara dan Dampaknya terhadap Pemberdayaan Perempuan (Program Keaksaraan Dasar Kampung Anyar, Desa Urug, Sukajaya, Bogor).
Pemberantasan buta aksara melalui Program keaksaraan dasar adalah salah satu bentuk pemberdayaan perempuan yang akan mempengaruhi pembangunan nasional. Upaya pemberdayaan perempuan bersifat strategis, karena perempuan yang telah melek aksara akan mempunyai kemandirian dan kepercayaan diri dalam mengatur perekonomian keluarga yang secara tidak langsung akan mengurangi kemiskinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kebutuhan belajar dengan kemampuan aksara warga belajar dan menganalisis dampaknya terhadap pemberdayaan perempuan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Analisis data yang digunakan adalah Analisis tabulasi silang dan uji statistik Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebutuhan belajar internal nonfisik dengan kemampuan membaca dan menulis. Hubungan yang signifikan juga terdapat pada kemampuan membaca dan menulis dengan pemberdayaan meliputi aspek pendidikan, aksesibilitas dan tindakan
Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Masyarakat Muslim dalam Memilih Restoran Berlabel Halal MUI (Studi Kasus Mahasiswa Muslim IPB).
Perkembangan sektor industri halal di Indonesia terutama pada sektor
makanan halal menunjukkan peningkatan. Restoran sebagai salah satu hal yang erat
kaitannya dengan produk makanan halal juga diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan umat muslim akan jelasnya kehalalan produk yang ditawarkan, namun
belum semua restoran memiliki sertifikat maupun label halal MUI. Salah satu
konsumen muslim yang cukup mendominasi restoran yaitu mahasiswa. Mahasiswa
yang memiliki peran penting dalam bermasyarakat sudah sepatutnya menjadi lebih
kritis dan tanggap terhadap lingkungan, termasuk perihal makanan. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisa faktor-faktor yang memengaruhi mahasiswa muslim
IPB dalam memilih restoran berlabel halal MUI dengan jumlah sampel 100 orang
mahasiswa aktif IPB yang beragama Islam. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
faktor-faktor yang memengaruhi mahasiswa muslim IPB dalam memilih restoran
berlabel halal MUI adalah pengetahuan halal, religiusitas, harga, dan kualitas
produk
Analisis SWOT Introduksi Teknologi Hi-fer di Kawasan Usaha Peternakan Sapi Perah Bogor
Peternakan rakyat di KUNAK merupakan salah satu peternakan rakyat yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Ketersediaan hijauan di KUNAK baik kualitas maupun kuantitas sangat berfluktuatif, oleh karena itu dibutuhkan solusi dan strategi untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Hijauan fermentasi (Hi-fer) merupakan teknologi tepat guna untuk mengatasi permasalahan hijauan pakan. Tujuan penelitian ini menganalisis strategi introduksi teknologi Hi-fer di kawasan usaha peternakan sapi perah Bogor dengan analisis SWOT. Faktor internal dan eksternal dianalisis dengan menggunakan matriks Internal External (IE) untuk memperoleh matriks SWOT dan strategi pengembangannya, dirumuskan dengan menggunakan matriks Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Penelitian ini menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Hasil analisis matriks Internal Factor Evaluation (IFE) menunjukkan bahwa pengembangan introduksi teknologi Hi-fer memiliki faktor internal yang berada di atas rataan dengan skor 2.62, sedangkan total nilai yang diperoleh pada matriks External Factor Evaluation (EFE) adalah 2.74 yang berarti cukup baik dalam merespon peluang dan meminimalisasi ancaman yang dihadapinya. Pengembangan introduksi teknologi Hi-fer di KUNAK sapi perah Bogor dari hasil matriks I-E berada pada posisi kuadran V, stabil dan pertumbuhan, hal ini menunjukkan bahwa Hi-fer memiliki peluang dan dikembangkan dengan alternatif strategi yaitu meningkatkan ketersediaan hijauan yang berkualitas dan kontinu, mengurangi penggunaan ampas tahu dan meningkatkan keterampilan peternak dalam teknologi pakan
Pendugaan Parameter Genetik dan Evaluasi Daya Gabung Okra (Abelmoschus esculentus L. Moench) melalui Persilangan Dialel.
Okra mempunyai beragam bentuk dan warna buah. Di Indonesia, budidaya
tanaman ini masih tergolong rendah sehingga produksinya juga ikut rendah.
Upaya yang dapat dilakukan dalam peningkatan produksi adalah melalui perakitan
varietas unggul baru. Perakitan varietas unggul dapat dilakukan dengan
pembentukan populasi dasar yang dilanjutkan dengan seleksi.
Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan utama. Tahapan pertama
menggunakan 13 genotipe yang ditanam di Kebun Percobaan Leuwikopo
sehingga dapat diperoleh informasi keragaman genetik. Okra mengelompok
menjadi tiga cluster dengan nilai cophenhetic distance 0.37 berdasarkan karakter
kualitatif dan kuantitatif. Hal ini dapat membantu dalam pemilihan tetua yang
dapat digunakan dalam pembentukan populasi persilangan. Tahapan kedua
menggunakan populasi persilangan dibentuk dari enam tetua terpilih sesuai
dengan metode Griffing I sehingga terbentuk 30 kombinasi persilangan dari 6
tetua. Populasi yang terbentuk dapat digunakan untuk menduga parameter genetik,
daya gabung, heterosis dan keragaan hibrida. Parameter genetik dapat diketahui
melalui metode Hayman. Nilai daya gabung umum dan daya gabung khusus
hanya dapat diketahui dengan metode Griffing saja. Heterosis dan keragaan
hibrida dapat diketahui dari kombinasi persilangan. Keseluruhan data penelitian
dianalisis menggunakan software SAS 9.0, R, AGD-R, META-R, dan PBSTAT.
Hasil dari pelaksanaan tahapan kedua ini menerangkan bahwa penampilan
karakter dapat dipengaruhi oleh aksi gen aditif dan non aditif. Pengaruh aksi gen
aditif lebih berperan pada karakter umur berbunga dan jumlah daun. Pada karakter
lainnya pengaruh aksi gen dominan yang lebih berperan terhadap penampilan.
Penampilan setiap karakter juga dipengaruhi oleh satu gen pengendali kecuali
pada karakter diameter buah dikendalikan oleh dua gen. Pengaruh aksi gen aditif
pada karakter juga akan mempengaruhi nilai heritabilitas dalam arti luas dan
heritabilitas dalam arti sempit. Pengaruh DGU dan DGK secara umum berbeda
nyata pada setiap karakter kecuali pada karakter umur berbunga pengaruh DGK
tidak berbeda nyata. Dalam upaya peningkatan produksi genotipe PB01Nai dapat
direkomendasikan sebagai tetua untuk perakitan varietas galur murni karena
memiliki DGU tertinggi pada karakter bobot buah per tanaman, jumlah buah dan
diameter batang. Hibrida yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut
adalah D x B, D x E, B x F, C x E, F x E, A x F, dan C x D
Model Tumpangsari pada Peremajaan Kebun Kelapa Sawit Rakyat Berkelanjutan di Provinsi Riau
Permasalahan peremajaan kebun kelapa sawit rakyat di Indonesia
dikelompokkan ke dalam 5 aspek yaitu: aspek ekonomi, lingkungan, sosial
budaya, teknologi dan kelembagaan. Permasalahan ekonomi yang paling
utama adalah petani kehilangan pendapatan selama tanaman belum
menghasilkan, paling tidak 3 tahun, dan masalah lingkungan adalah
terjadinya emisi CO2 pada proses peremajaan.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis pertumbuhan dan
produktivitas tanaman sela dan pertumbuhan tanaman pokok pada
peremajaan kebun kelapa sawit rakyat; 2) menganalisis pendapatan dan
kelayakan uasaha tani model tumpangsari; 3) menganalisis dinamika emisi
CO2 dan cadangan karbon yang terjadi; 4) menganalisis status keberlanjutan
model tumpangsari pada peremajaan kebun kelapa sawit rakyat.
Penelitian dilaksanakan di Desa Bukit Jaya Kecamatan Ukui Kabupaten
Pelalawan Provinsi Riau, pada kebun kelapa sawit rakyat umur 28 tahun yang
diremajakan. Penelitian ini adalah percobaan lapangan menggunakan
rancangan Petak-terbagi, petak utama kapling petani (3 kapling), anak
petaknya 4 perlakuan tanaman sela yaitu: jagung, kedelai, kacangan dan
vegetasi alami, dan diulang sebanyak 3 kali. Data agronomis dianalisis ragam
menggunakan SAS versi 9.4. Kelayakan usaha tani dihitung dengan analisis
R/C rasio. Pengukuran emisi CO2 menggunakan alat IRGA dan
penghitungannya menggunakan persamaan allometrik, pengukuran
cadangan karbon pohon kelapa sawit tua dengan metode non destructive,
sedangkan pengukuran biomassa tumbuhan bawah dan tanaman sela dengan
metode destructive. Status keberlanjutan usaha tani tumpangsari dianalisis
dengan menggunakan metode Multidimensional Scaling (MDS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penampilan tanaman sela
menunjukkan pertumbuhan yang membaik dari musim tanam 1 sampai 3, dan
tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman pokok. Produktivitas jagung
musim tanam 1 sampai 3 berturut-turut sebesar 5.01 t ha-1, 7.51 t ha-1 dan 6.57
t ha-1, atau rata-rata 6.36 t ha-1. Produktivitas kedelai berturut-turut 1.60 t ha-
1, 1.28 t ha-1 dan 2.19 t ha-1 atau rata-rata 1.69 t ha-1. Pendapatan petani ratarata
sebesar Rp11.482.180- untuk jagung dan Rp1.782.200,untuk kedelai per
kapling (2 ha) per musim tanam, atau sebesar Rp3.280.623 untuk jagung dan
Rp636.518, untuk kedelai per kapling per bulan. Dari setiap kapling, bagian
areal lahan yang tertanam tanaman sela pada gawangan hidup dan ruang antar
tanaman pokok dalam baris, kecuali gawangan mati dan areal bawah tajuk
kelapa sawit, yang meliputi pada musim tanam 1 hingga 3 berturut-turut
seluas 53, 30 dan 27% dari luasan dua hektar (satu kapling). Rata-rata nilai
R/C jagung 2.66 dan kedelai 1.33, sehingga keduanya layak diusahakan.
Besaran emisi CO2 pada tahapan proses peremajaan, yaitu emisi CO2
dari lahan di bawah tegakan kelapa sawit tua umur 28 tahun sebelum land
clearing sebesar 28.5 t CO2 ha-1 tahun-1, pada lahan kosong setelah land
clearing sebesar 59.0 t CO2 ha-1 tahun-1. Emisi pada tanaman sela sebesar
49.3 t CO2 ha-1 tahun-1 dan pada tanaman kelapa sawit berumur 1 tahun
sebesar 42.9 t CO2 ha-1 tahun-1. Penurunan emisi CO2 terjadi selain karena
sebagian CO2 yang dihasilkan terserap kembali oleh tanaman untuk
fotosintesis, juga karena tersimpan dalam biomassa tanaman sebagai
cadangan karbon berturut-turut 10.2 t C ha-1 pada tanaman jagung, 7.6 t C
ha-1 pada kacangan, 3.5 t C ha-1 pada kedelai, 2.8 t C ha-1 pada vegetasi alami,
dan 42.9 t C ha-1 pada kelapa sawit tua umur 28 tahun.
Status keberlanjutan model tumpangsari pada peremajaan kebun kelapa
sawit rakyat di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau ditinjau dari 5 dimensi
yaitu dimensi ekonomi dengan indeks 60.02, sosial budaya 65.22, teknologi
59.45 dan kelembagaan 56.23 termasuk kategori cukup berkelanjutan,
sedangkan dimensi lingkungan 85.31 termasuk kategori berkelanjutan.
Penilaian dari 63 atribut menghasilkan 12 atribut sensitif sebagai faktor
pengungkit yang perlu dibenahi agar usaha tani tumpangsari pada peremajaan
kebun kelapa sawit rakyat berjalan optimal. Hasil validasi Monte Carlo
menunjukkan seluruh atribut dapat dipertanggungjawabkan, didasarkan pada
hasil selisih antara hasil MDS dan Monte Carlo kurang dari 5%
Pengaruh Media Pendidikan Gizi pada Ibu Hamil terhadap Pengetahuan dan Sikap terkait 1000 HPK di Kampung KB
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh media pendidikan gizi pada ibu hamil terhadap pengetahuan, sikap, dan praktik terkait 1000 HPK di Kampung KB Jakarta dan Bogor. Desain penelitian ini adalah true experimental study tipe randomized pretest-posttest control group design. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 68 ibu hamil terdiri dari 17 contoh kelompok kontrol dan 17 contoh kelompok intervensi e-booklet di Kampung KB Jakarta serta 17 contoh kelompok kontrol dan 17 contoh kelompok intervensi booklet di Kampung KB Bogor. Pengaruh pendidikan gizi diukur dengan melakukan pre test dan post test menggunakan kuesioner. Berdasarkan uji Paired sample t-test, pendidikan 1000 HPK baik menggunakan booklet maupun e-booklet dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik (p0.05). Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan latar belakang sosial ekonomi dalam memilih media pendidikan gizi
Studi Morfometrik Sclerites pada Clavularia inflata (Schenk, 1896) di wilayah Kepulauan Seribu dan Maluku
Clavularia inflata merupakan spesies karang lunak yang memiliki rangka mikro yang disebut sebagai sclerites. Sclerites setiap spesies karang lunak memiliki kekhasan morfologi untuk kepentingan identifikasi spesies. Indonesia termasuk ke dalam habitat persebaran C. inflata di wilayah timur dan barat yang dipisahkan oleh garis wallacea. Pulau Morotai dan Pulau Pramuka mewakili wilayah yang terpisah selama 20 juta tahun dari wilayah Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui morfometrik sclerites antar bagian polip C. inflata serta perbedaan karakteristik morfometrik sclerites antara kedua wilayah tersebut. Pengamatan sclerites dibagi ke dalam 4 bagian yaitu tentakel, crown, calyx dan stolon. Pengamatan sclerites C. inflata menggunakan kamera yang terintegrasi dengan mikroskop. Pengamatan dilakukan dengan membandingkan antar morfometrik sclerites dari 4 bagian polip yang berasal dari 5 koloni polip dari kedua pulau. Analisis morfologi sclerites dengan membandingkan bentuk, tipe dan susunan rangka dijelaskan secara deskriptif. Total sclerites yang terukur berjumlah 400 unit. Analisis berupa ukuran panjang sclerites diuji menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey. Morfologi sclerites bagian tentakel dan calyx memiliki kesamaan tipe sclerites serta kekhasan bentuk antara kedua pulau. Sedangkan terdapat perbedaan yang khas pada sclerites bagian crown dan stolon. Calyx merupakan bagian polip yang memiliki ukuran sclerites terpanjang sedangkan sclerites terpendek terdapat di bagian pinnules. Hasil uji ANOVA menunjukan tidak ada perbedaan signifikan (P > 0.05) ukuran panjang di kedua wilayah pada bagian pinnules dan Calyx, sedangkan terdapat perbedaan yang nyata pada bagian crown dan stolon. Sclerites antar setiap bagian polip C. inflata memiliki perbedaan morfometrik yang signifikan (P < 0.05)