31665 research outputs found
Sort by
Evaluasi Pengelolaan Taman Kota 1 BSD City, Tangerang Selatan.
Perkembangan kota yang semakin pesat memerlukan adanya ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki suatu kota, di antaranya, ketersediaan ruang terbuka hijau. Taman Kota 1 BSD City terletak di Jalan Letnan Sutopo, Lengkong Gudang Timur, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. BSD City mempunyai beberapa ruang terbuka hijau, salah satunya Taman Kota 1 BSD City yang memerlukan evaluasi dalam pengelolaannya agar sesuai dengan fungsi dan manfaatnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis, mengevaluasi, dan menyusun strategi yang dapat direkomendasikan dalam pengelolaan Taman Kota 1 BSD City. Pendekatan yang digunakan adalah analisis SWOT untuk menyusun strategi pengelolaan Taman Kota 1 BSD City yang tepat. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk mengidentifikasi kinerja, Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan Matriks External Factor Evaluation (EFE) untuk menganalisis faktor internal dan eksternal di Taman Kota 1 BSD City, dan Matriks SWOT untuk menciptakan dan menentukan strategi yang akan dilakukan dalam pengelolaan. Matriks SWOT dalam penelitian ini menghasilkan 11 strategi alternatif dalam pengelolaan Taman Kota 1 BSD City, yaitu meningkatkan kualitas pengelolaan yang berlangsung, mengoptimalkan taman kota dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak untuk memelihara dan menjaga taman kota, menyusun rencana pengelolaan yang baik dan sesuai sehingga pengelolaan dan pemeliharaan taman kota dapat berjalan dengan optimal, mengadakan pelatihan untuk sumber daya manusia (SDM) pengelola DLH Kota Tangerang Selatan dalam kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan taman kota, meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas taman disertai pemeliharaan dan pengelolaan yang optimal, khususnya untuk elemen hardscape taman, menyediakan alternatif transportasi umum untuk pengunjung, meningkatkan pengawasan untuk meminimalisir vandalisme yang dilakukan pengunjung, meningkatkan pendekatan sosial terhadap pengunjung, mengawasi dan melakukan pencegahan untuk pohon yang membahayakan pengunjung, dan meningkatkan keterlibatan pengunjung dalam menjaga kebersihan dan memelihara taman dengan pembinaan mengenai pelestarian lingkungan
Pengaruh Nilai Alpha pada Pergerakan Titik-titik Iterasi dalam Algoritme Titik Interior
Terdapat beberapa metode untuk menyelesaikan masalah optimisasi linear,
antara lain metode grafik, metode simpleks, dan metode titik interior. Metode grafik
adalah metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah optimisasi linear
dengan dua variabel keputusan. Metode simpleks merupakan metode yang
digunakan untuk mencari masalah optimum yang bergerak dari verteks ke verteks,
sedangkan algoritme titik interior adalah algoritme yang digunakan untuk
menyelesaikan masalah optimum yang bergerak di dalam interior daerah fisibel.
Pada karya ilmiah ini dibahas algoritme titik interior untuk menyelesaikan program
linear serta mengamati pengaruh nilai alpha pada pergerakan titik-titik iterasi dalam
algoritme titik interior
Pemanfaatan Sisa Makanan Kantin sebagai Pakan Ternak dan Pengaruhnya pada Karakteristik Fermentasi Rumen In Vitro
Penelitian ini bertujuan menetapkan komposisi sisa makanan asal kantin sebagai pakan alternatif dan pengaruhnya pada karakteristik fermentasi rumen secara in vitro. Rancangan Acak Kelompok digunakan dalam penelitian ini, dengan perlakuan berupa : P0 : 30% rumput gajah + 70% konsentrat; P1 : 30% rumput gajah + 8% sisa makanan + 62% konsentrat; P2 : 30% rumput gajah + 16% sisa makanan + 54% konsentrat; P3 : 30% rumput gajah + 24% sisa makanan + 46% konsentrat; dan P4 : 30% rumput gajah + 32% sisa makanan + 38% konsentrat, dan dengan tiga sumber cairan rumen sapi sebagai kelompok. Peubah yang diamati meliputi analisis proksimat, fermentabilitas (produksi VFA total, konsentrasi NH3 dan SPM), kecernaan bahan kering dan bahan organik (KcBK dan KcBO), produksi gas metan dan analisis biaya produksi pakan. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA), dan diuji lanjut menggunakan Duncan. Data biaya produksi pakan dianalisis menggunakan analisis Deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi konsentrat sisa makanan untuk pengganti konsentrat ruminansia terdiri dari sumber energi 61% (47% nasi dan 14% tepung terigu), sayuran 26% ( 10% timun, 5% kol, 5% daun singkong, 4% jamur tiram, 1% wortel, 1% caisim) serta sumber protein dan mineral 13% (10% tepung tulang ayam dan 3% tepung ikan). Ransum perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pH rumen, konsentrasi NH3 dan sintesis protein mikroba, namun menunjukkan peningkatan secara nyata pada produksi gas metan dan peningkatan secara sangat nyata pada produksi VFA total, KcBK, dan KcBO dibanding kontrol. Ransum dengan penggunaan sisa makanan pada taraf 32% meningkatkan konsentrasi NH3, VFA, SPM, gas metan, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik dan menurunkan biaya pakan
Hasil Tangkapan Bagan Apung Menggunakan Daya Lampu yang Berbeda di Palabuhanratu, Sukabumi
Lampu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan
penangkapan ikan. Compact Fluorescent Lamp (CFL) adalah jenis lampu yang
banyak digunakan. Permasalahan yang ditemui di lapangan yaitu konsumsi daya
berlebihan, jumlah lampu berlebihan, dan ukuran bagan apung yang tidak
beraturan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan teknis bagan apung,
membandingkan hasil tangkapan dari bagan apung berdasarkan daya lampu yang
digunakan, dan menghitung pendapatan nelayan. Penelitian dilaksanakan pada
bulan Februari 2018-Maret 2018 di Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Data
dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif komparatif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa bagan apung di Pelabuhanratu menggunakan daya dan
jumlah lampu yang berbeda satu sama lain. Bohlam lampu paling banyak
digunakan berada pada selang kelas 33-47 watt sebanyak 397 unit. Hasil
tangkapan tertinggi berasal dari penggunaan daya lampu pada kisaran 466-651
watt dengan hasil tangkapan 333 kg dan terendah pada daya lampu 1.024-1.209
watt dengan hasil tangkapan 35 kg. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp
52.575 setiap hari pada musim Barat
Kualitas Semen Beku Sapi dalam Pengencer Tris dan Sitrat Kuning Telur dengan Imbuhan Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera).
Kualitas semen beku dapat berkurang karena reaksi oksidasi dari radikal
bebas. Ekstrak daun kelor (EDK) adalah salah satu sumber antioksidan alami.
Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh imbuhan EDK dalam pengencer
Tris kuning telur (TKT) dan Sitrat kuning telur (SKT) terhadap kualitas semen
beku sapi. Semen dikoleksi dari tiga ekor sapi Friesian Holstein menggunakan
vagina buatan. Semen yang diperoleh dievaluasi kualitasnya. Semen dengan
motilitas > 70% dan konsentrasi > 500 × 106 selanjutnya dibagi enam, masingmasing
diencerkan dengan pengencer TKT + EDK 0%, TKT + EDK 1.2%, TKT +
EDK 1.6%, SKT + EDK 0%, SKT + EDK 1.2%, dan SKT + EDK 1.6%. Semen
yang telah diencerkan dikemas dalam ministraw, disusun dalam rak pembekuan,
dan diekuilibrasi dalam suhu 5 oC selama 4 jam. Pembekuan dilakukan
menggunakan uap nitrogen cair selama 10 menit. Semen beku disimpan dalam
kontainer nitrogen cair hingga evaluasi berikutnya. Evaluasi kualitas semen beku
dilakukan dengan mengamati motilitas, viabilitas, dan recovery rate spermatozoa.
Semen dalam pengencer TKT + EDK 1.2% menunjukkan nilai motilitas dan
recovery rate tertinggi yaitu 48.13±0.66% dan 68.76% dibandingkan pengencer
lainnya. Penambahan berbagai konsentrasi EDK dalam semua pengencer tidak
memengaruhi viabilitas spermatozoa, dengan nilai viabilitas spermatozoa
53.37±2.77% sampai dengan 61.55±2.38%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa
penambahan EDK 1.2% terbaik pada pengencer Tris dan tidak memengaruhi
viabilitas spermatozoa
Imunogenisitas Kandidat Vaksin Oral Lactococcus lactis Rekombinan HBcAg dan IFNα-2b untuk Pencegahan Hepatitis B.
Hepatitis merupakan peradangan pada organ hati yang disebabkan infeksi
virus, dan dapat memicu kondisi akut dan kronis. Virus Hepatitis B merupakan
penyebab utama sirosis dan kanker hati di wilayah endemik, terutama Indonesia.
Virus Hepatitis B subgenotipe B3 merupakan jenis virus yang banyak tersebar di
Indonesia, dan memiliki dua protein struktural utama yaitu HBsAg dan HBcAg.
Antigen inti Hepatitis B (HBcAg) dilaporkan sebagai komponen virus yang
bersifat antigenik, dapat menginduksi sel T dan sel B spesifik yang tinggi
dibandingkan HBsAg. Rekombinan HBcAg sudah dikembangkan sebagai
kandidat vaksin oral di dalam vektor ekspresi Lactococcus lactis NZ3900. IFNα-
2b merupakan protein imunomodulator terhadap sistem imun adaptif yang sudah
disetujui sebagai agen terapeutik untuk penyakit hepatitis B. Kebutuhan protein
IFNα-2b untuk penanganan penyakit hepatitis cukup tinggi, maka sediaan protein
rekombinan IFNα-2b dikembangkan di dalam vektor L. lactis pNZ8148 untuk
dapat digunakan dalam sediaan vaksin oral. Kombinasi kedua protein tersebut
diharapkan dapat menghasilkan respon antibodi yang lebih tinggi. Penelitian ini
bertujuan menganalisis ekspresi protein rekombinan IFNα-2b yang sudah
dikonstruksi menggunakan validasi western blot. Reaksi imunogenisitas dari
kandidat vaksin L. lactis rekombinan HBcAg dan IFNα-2b diuji secara in vivo
pada mencit Balb/c betina. Respon antibodi yang terbentuk dianalisis
menggunakan ELISA, dan jenis imunoglobulin yang ada di dalam serum
dianalisis menggunakan MagPix®.
Protein rekombinan IFNα-2b pada L. lactis NZ3900 berhasil diekspresikan
secara ekstraseluler melalui purifikasi kromatografi filtrasi gel, yang tervalidasi
positif dengan anti- IFNα-2b pada ukuran 19 kDa. Imunisasi yang diberikan pada
hewan uji menghasilkan respon imun humoral (IgG) total yang optimal di hari ke-
35 dengan rataan konsentrasi 4.96±1.03 mg/ml. Perlakuan tunggal dengan HBcAg
menghasilkan respon IgG total lebih tinggi dibandingkan dengan kombinasi
menggunakan IFNα-2b. Imunisasi oral menggunakan L. lactis rekombinan
HBcAg mempertahankan imunitas mukosal dengan terbentuknya konsentrasi IgA
yang lebih tinggi dibandingkan kontrol sampai hari ke-51. Ekspresi IgA yang
tinggi mengindikasikan bahwa tingkat stress pada hewan uji rendah, karena stress
menghasilkan persinyalan untuk produksi hormon yang dapat menekan ekspresi
IgA. Penggunaan L. lactis rekombinan pada penelitian ini mendemonstrasikan
bahwa pemberian imunisasi peroral dapat meningkatkan imunitas mukosal, tidak
menimbulkan stress pada hewan uji. Sediaan kandidat vaksin bersifat aman karena
tidak menghasilkan penurunan berat badan, tidak menghasilkan kerusakan
jaringan hati hingga terjadi nekrosis, dan tidak terdapat kelainan pada organ
limpa
Morfometri dan Karakter Molekuler Elaeidobius kamerunicus Faust. (Coleoptera: Curculionidae) di Indonesia
Elaeidobius kamerunicus adalah serangga penyerbuk yang diintroduksi
ke Sumatera Utara, Indonesia sejak lebih dari 30 tahun yang lalu untuk
meningkatkan produktivitas kelapa sawit dan telah menyebar diberbagai pulau di
Indonesia, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi dan Papua.
Informasi tentang variasi intraspesifik dalam ukuran tubuh dan genetik kumbang
ini di berbagai pulau masih sedikit. Teori mengatakan bahwa terdapat tekanan
seleksi yang berbeda yang menyebabkan adaptasi lokal dalam populasi pada lokasi
yang berbeda-beda.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi ukuran tubuh dan genetik
E. kamerunicus, mempelajari struktur populasi dan inbreeding pada populasi E.
kamerunicus di Indonesia. Contoh serangga diambil dari dari bunga jantan post
anthesis di berbagai daerah di Indonesia, kemudian dilakukan pengukuran terhadap
tubuh serangga sebanyak 100 jantan dan 100 betina dengan menggunakan
perangkat lunak Image Raster. DNA serangga diekstrak dan diamplifikasi dengan
teknik PCR menggunakan primer CoxI dan SSR. Selanjutnya, analisa filogenetik
digunakan untuk melihat jarak genetik antar populasi dengan menggunakan
perangkat lunak MEGA 6.0 dan DARwin 6.05. Struktur populasi dianalisa dengan
menggunakan perangkat lunak STRUCTURE, inbreeding dianalisa berdasarkan
nilai heterozigositas yang dihitung menggunakan perangkat lunak GenAlEx 6.501.
Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi intraspesifik pada ukuran
tubuh dan genetik pada E. kamerunicus di Indonesia masing-masing membentuk 3
kelompok. Namun, terdapat perbedaan komposisi populasi pada masing-masing
kelompok. E. kamerunicus di Sumatera Utara memiliki ukuran tubuh yang lebih
besar baik betina maupun jantan sedangkan E. kamerunicus di Sumatera Selatan
dan Sulawesi Tengah memiliki ukuran tubuh lebih kecil. Ukuran lebar kepala dan
panjang ketiga tibia menunjukkan tingkat variasi paling stabil (conserved)
dibandingkan dengan 12 bagian tubuh lainnya. Terdapat 7 subpopulasi E.
kamerunicus pada tiap lokasi penelitian yang menunjukkan adanya keragaman
genetik dalam populasi E. kamerunicus di Indonesia dan inbreeding depression
tidak terjadi pada populasi E. kamerunicus di berbagai lokasi penelitian yang
dilakukan
Pemodelan Estimasi Konsentrasi CO dan CO2 di Pulau Sumatera Menggunakan Metode Random Forest Regression.
Pencemaran udara memiliki dampak buruk bagi kesehatan tubuh manusia. Salah satu penyebab pencemaran udara adalah kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang mengandung polutan CO dan CO2. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model estimasi konsentrasi polutan CO dan CO2 dari titik panas kebakaran hutan dan lahan serta data iklim di Pulau Sumatera pada bulan September hingga Oktober tahun 2015. Model dibentuk menggunakan metode random forest regression. Model yang dihasilkan diharapkan dapat diimplimentasikan pada sistem peringatan dini sehingga sistem dapat mengestimasi konsentrasi CO dan CO2 pada waktu tertentu. Hasil penelitian menunjukkan model estimasi konsentrasi polutan telah berhasil dibangun dengan model estimasi CO terbaik didapatkan menggunakan parameter ntree sebesar 1000 dan mtry sebesar 18 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.3023715 dan nilai RMSE sebesar 1.082021×10-7. Sedangkan model estimasi CO2 terbaik didapatkan menggunakan parameter ntree sebesar 1000 dan mtry sebesar 18 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.4239955 dan nilai RMSE sebesar 9.710838×10-7
Komunikasi Partisipatif dalam Penerapan Standar Sertifikasi Kakao Pada Kelompok Tani di Kabupaten Polewali Mandar
Program Sertifikasi Kakao merupakan penerapan praktik pengelolaan kakao yang ditujukan untuk memenuhi standar pertanian berkelanjutan. Program ini dilaksanakan sebagai implementasi komitmen seluruh pelaku sektor kakao mewujudkan sustainable cocoa. Ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang mendorong tercapainya pertanian secara berkelanjutan. Negara tujuan ekspor dan industri pengolah kakao mensyaratkan sumber bahan baku kakao yang mereka diproduksi dari praktek budidaya berkelanjutan (aspek ekonomi, sosial dan lingkungan) paling lambat Tahun 2025 (ICCO 2012).
Isu ini penting bagi Indonesia sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, sekitar 17,36% terhadap total produksi kakao dunia (Pusdatin 2014). Di sisi lain, pemerintah mengakui tingkat adopsi petani masih rendah terhadap teknologi baru dalam praktik budidaya perkebunan berkelanjutan. Pemberdayaan yang dilaksanakan belum mampu meningkatkan adopsi petani terhadap inovasi tersebut (Ditjenbun 2016). Provinsi Sulawesi Barat merupakan sentra produksi kakao terbesar keempat di Indonesia, yang baru memiliki petani tersertifikasi sekitar 8,4% dari total petani kakaonya di Tahun 2016.
Perlu dilakukan identifikasi program yang berhasil mendorong adopsi Sertifikasi Kakao secara berkelanjutan. Jika memiliki potensi keberlanjutan yang tinggi maka program yang ada sekarang dapat diarahkan menjangkau petani lebih luas. Untuk menilai potensi keberlanjutan adopsi inovasi kolektif Sertifikasi Kakao dari aspek komunikasi pembangunan dapat merujuk pada Model Community Dialogue dan Collective Action. Model komunikasi ini fokus pada proses dialog sebagai bentuk partisipatif dari komunikasi yang berhubungan dengan tindakan kolektif (Figueroa et al. 2002).
Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan dialog dan tindakan kolektif kelompok tani kakao dalam menerapkan standar Sertifikasi Kakao di Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat; 2) menganalisis hubungan antara karakteristik inovasi, peran fasilitator dan dukungan lingkungan kelompok dengan dialog tani kakao dalam penerapan standar Sertifikasi Kakao di Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat; 3) menganalisis hubungan antara dialog dengan tindakan kolektif kelompok tani kakao dalam penerapan standar Sertifikasi Kakao di Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat; dan 4) menganalisis hubungan antara dialog dan tindakan kolektif dalam penerapan standar Sertifikasi Kakao dengan faktor internal keberdayaan kelompok tani di Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat.
Desain penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat deskriptif korelasional, dengan unit analisis kelompok. Penelitian dilakukan di Kecamatan Luyo Provinsi Sulawesi Barat. Jumlah sampel sebanyak 41 kelompok tani yang dipilih secara acak sederhana, dengan jumlah responden sebanyak 205 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner, wawancara mendalam dan observasi kegiatan kolektif kelompok. Pengukuran peubah dialog dan
5
tindakan kolektif mengacu pada pengukuran Communication for Social Change: An Integrated Model for Measuring the Process and Its Outcomes dari Figueroa et al. (2002). Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif, analisis korelasi rank Spearman.
Hasil penelitian menunjukkan (1) bobot rata-rata skor penilaian kelompok terhadap pelaksanaan dialog (tahap community dialogue) dan tindakan kolektif (tahap collective action) sebesar 56,05; 50,88 dan 65,72 dari skor penilaian maksimal 100. Ini menunjukkan rata-rata tingkat partisipasi dan partisipasi komunikasi anggota kelompok dalam dialog dan tindakan kolektif masih kurang. Ini mengindikasikan potensi keberlanjutan adopsi inovasi Sertifikasi Kakao masih rendah; (2) tidak terdapat hubungan nyata antara karakteristik inovasi dengan dialog dan tindakan kolektif kelompok kecuali pada tingkat kemudahan diamati. Peran fasilitatif dan dukungan pelatihan memiliki hubungan nyata dengan dialog dan tindakan kolektif kelompok, (3) terdapat hubungan nyata antara dialog dengan tindakan kolektif kelompok. Makin tinggi partisipasi anggota kelompok dalam dialog merencanakan tindakan kolektif makin tinggi tingkat partisipasinya dalam pelaksanaan tindakan kolektif kelompok menerapkan standar Sertifikasi Kakao; (4) Terdapat hubungan nyata antara dialog dan tindakan kolektif dengan keberdayaan kelompok yang meliputi kesetaraan partisipasi, sense of ownership, dan self-efficacy kelompok, tetapi tidak berhubungan secara nyata dengan kesetaraan akses informasi. Akses informasi terutama informasi harga kakao sudah tinggi dan hampir sama di semua kelompok tani
Pematahan dormansi fisiologi pada benih padi dan dormansi fisik pada benih saga merah dengan Ultrafine Bubbles Water
Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh faktor fisik, fisiologi, atau
keduanya secara bersamaan. Pematahan dormansi yang umumnya digunakan sudah
banyak diinformasikan, seperti KNO3 untuk dormansi fisiologi dan H2SO4 untuk
dormansi fisiologis. Metode pematahan dormansi yang ada saat ini masih
membutuhkan waktu relatif lama dan tenaga yang besar. Pengembangan metode
pematahan dormansi perlu dilakukan untuk mendapatkan sebuah metode efisien
waktu dan tenaga. Pemanfaatan ultrafine bubbles water (UFB water) dapat menjadi
salah satu upaya mengembangkan metode pematahan dormansi benih karena
reactive oxygen species (ROS) yang dihasilkan dapat meningkatan sintesis GAs
endogenues dan menurunkan integritas membran. Penelitian bertujuan
mengevaluasi pemanfaatan UFB water untuk pematahan dormamsi benih padi dan
benih saga merah.
Percobaan 1: Pematahan dormansi benih padi. Penelitian dilakukan
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan. Metode
pematahan dormansi yang digunakan yaitu tanpa perendaman (kontrol),
perendaman 24 jam dalam aquadest, perendaman 48 jam dalam aquadest,
perendaman 24 jam dalam KNO3 3%, perendaman 48 jam dalam KNO3 3%,
perendaman 24 jam dalam UFB, perendaman 48 jam dalam UFB, perendaman 24
jam dalam UFB20, dan perendaman 48 jam dalam UFB20. Benih padi Varietas IR-
64 memiliki fase after ripening hingga 9 minggu setelah panen (MSP) yang
ditunjukkan pada periode tersebut daya berkecambah sudah lebih dari 80%. Benih
yang direndam selama 48 jam menggunakan semua perlakuan menunjukkan
penurunan intensitas dormansi (ID) lebih dari 50% dari ID pada kontrol yang
dimulai pada periode 2 MSP. Perendaman dalam UFB dan KNO3 3% selama 48
jam menjadi perlakuan dengan ID terendah pada saat 6 MSP, yaitu 1% dan 0.5%.
Perendaman dalam UFB selama 48 jam sudah menunjukkan radicle emergence
(RE) tertinggi yaitu 87.8% pada 2 MSP, serta memiliki indeks vigor (IV), daya
berkecambah (DB), dan potensi tumbuh maksimum (PTM) tertinggi yaitu 93%,
93%, dan 96.5% pada 5 MSP. Perendaman dalam UFB selama 48 jam menjadi
metode yang memiliki peluang digunakan dalam pematahan dormansi fisiologis
pada benih padi.
Percobaan II: Pematahan dormansi benih saga. Penelitian dilakukan
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan. Metode
pematahan dormansi terdiri dari tanpa perlakuan (kontrol), skarifikasi fisik (SF)
dengan menggunting kulit benih menggunakan gunting kuku), SF + perendaman
dalam UFB selama 24 jam (SF + UFB 24), SF + perendaman dalam UFB selama
48 jam (SF + UFB 48), SF + perendaman dalam UFB20 selama 24 jam (SF +
UFB20-24), SF + perendaman dalam UFB20 selama 48 jam (SF + UFB20-48), SF
+ perendaman dalam aquades selama 24 jam (SF + AQ 24), dan SF + perendaman
dalam aquades selama 48 jam (SF + AQ 48), perendaman dalam H2SO4 10% selama
30 menit (H2SO4), perendaman dalam UFB selama 24 jam (UFB 24), perendaman
dalam UFB selama 48 jam (UFB 48), perendaman dalam UFB20 selama 24 jam
(UFB20-24), dan perendaman dalam UFB20 selama 48 jam (UFB20-48),
perendaman dalam aquades selama 24 jam (AQ 24), dan perendaman dalam
aquades selama 48 jam (AQ 48). Benih saga perlakuan kontrol menunjukkan tidak
adanya peningkatan laju imbibisi hingga 28 jam, dan laju imbibisi tetap rendah
hingga 48 jam yaitu 10.5 ml/jam. Skarifikasi fisik yang diberikan tidak terlalu
signifikan meningkatkan laju imbibisi pada benih saga karena hingga 48 jam hanya
sebesar 14.8 ml/jam. Laju imbibisi benih saga dengan skarifikasi kimiawi
menggunakan H2SO4 meningkat secara signifikan dengan meningkatnya lama
imbibisi. Laju imbibisi meningkatan 62.2 ml/jam selama waktu imbibisi 8 jam dan
terus meningkat hingga 171.4 ml/jam selama 48 jam waktu imbibisi.
Benih saga tanpa perlakuan (kontrol) memiliki ID sebesar 32.5%, dengan
skarifikasi fisik sebesar 22.7%. Perlakuan AQ 24, AQ 48, UFB 24, SK, SF + AQ
48, SF + UFB20-48, dan SF + UFB 48 tidak efektif menurunkan ID benih saga.
Penurunan relatif signifikan diperoleh dengan perlakuan SF + UFB 24, SF + UFB
20-24, SF + AQ 24, UFB 48, UFB20-24, dan UFB20-48, dan perlakuan SF + UFB
24 merupakan perlakuan dengan ID terendah yaitu 0.7 %. Pematahan dormansi
benih saga dengan skarifikasi kimia menggunakan H2SO4 10% selama 30 menit
memberikan dampak buruk dengan meningkatnya jumlah benih mati (53.9%).
Proses perendaman selama 24 dan 48 jam menyebabkan kondisi benih terlalu
lembab dan memfasilitasi serangan cendawan selama di lapangan dan
meningkatkan jumlah benih mati seperti yang ditunjukkan pada perlakuan SF +
UFB 48, SF + UFB20-48, SF +AQ 48, kontrol, AQ 24, AQ 48, UFB 24. Benih saga
dengan perlakuan skarifikasi fisik memiliki daya hantar listrik (DHL) lebih tinggi
dibandingkan dengan tanpa skarifikasi fisik pada semua perlakuan, baik
menggunakan UFB, UFB20, AQ, dan H2SO4. Perendaman selama 48 jam yang
membuat benih sangat lembab dan mudah terinfeksi cendawan menyebabkan benih
mati meningkat, sehingga KcT, IV, DB, dan PTM juga rendah. Perendaman 24 jam
menunjukkan tidak semua perlakuan mampu meningkatkan KcT, IV, DB, dan
PTM. Perlakuan SF + UFB 24 dan SF + UFB20-24 merupakan perlakuan dengan
KcT dan IV tertinggi dibandingkan perlakuan lain, yaitu 9.1 %/etmal dan 78.6%,
serta 8.1%/etmal dan 51.4%. Perendaman selama 24 tidak menyebabkan benih
terlalu lembab dan dapat melemahkan integritas membran, serta mencegah lisis
membran. Perlakuan SF + UFB 24 dan SF + UFB20-24 merupakan perlakuan
dengan DB dan PTM tertinggi dibandingkan perlakuan lain yaitu 97.8% dan 98.6%,
serta 98.7% dan 99.0%. Skarifikasi fisik benih saga diikuti dengan perendaman
dalam UFB dan UFB20 selama 24 jam menjadi metode yang memiliki peluang
untuk digunakan dalam pematahan dormansi fisik pada benih saga.
Penentuan H1 dan H2 berdasarkan nilai jumlah kecambah normal harian
dan nilai jumlah kecambah normal kumulatif tertinggi dari setiap kombinasi
perlakuan. Waktu H1 tercepat dan H2 terlama ditetapkan sebagai H1 dan H2 yang
digunakan dalam menghitung indeks vigor dan daya berkecambah, yaitu H1 pada
hari ke-9 dan H2 pada hari ke-41