31665 research outputs found
Sort by
Pemberian Jamu Temulawak, Sambiloto, Jahe, dan Molases sebagai Alternatif Pengganti Antibiotic Growth Promoters (AGP) pada Broiler
Konsumsi ayam di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Tingkat
konsumsi ayam pada tahun 2017 mengalami peningkatan 11.22% jika
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peternak menggunakan Antibiotic
Growth Promoters (AGP) untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Penggunaan AGP
pada pakan ternak dapat menyebabkan resistensi dan residu antibiotik. Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi jamu yang tepat dalam meningkatkan
proksi dan palatabilitas ayam. Jamu yang digunakan terdiri dari temulawak,
sambiloto dan jahe dengan perbandingan 2: 1: 1, kemudian direbus menggunakan
air dengan perbandingan 1: 10. Molases ditambahkan sebanyak 2% dari volume
total yang dihasilkan. Penelitian dilakukan dengan metode rancangan acak
lengkap (RAL), yang terdiri dari lima perlakuan (termasuk kontrol negatif dan
positif) dan tujuh kali pengulangan. Perlakuan yang dilakukan pada kelompok
pemberian kombinasi jamu dengan konsentrasi 15%, 20%, dan 25% dari volume
total air minum. Palatabilitas ayam dapat diketahui dari tingkat konsumsi pakan
dan minum. Pengaruh dai pemberian kombinasi terhadap produksititas dapat
diketahui melalui bobot hidup, bobot karkas, FCR, dan pertambahan bobot. Bobot
organ dalam (jantung, ginjal, hati, usus, dan limpa) dapat digunakan untuk
mengetahui pengaruh dari kombinasi terhadap kerja dan aktivitas organ melalui
bobot organ. Konsentrasi kombinasi terbaik terhadap produktivitas, palatabilitas,
dan bobot organ dalam ayam adalah konsentrasi 20%. Kombinasi jamu dari
penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pengganti dari AGP dan
mengurangi resistensi dan residu antibiotik melalui pakan ayam
Dispersion Model 3D of Salinity in the Eastern part of Jakarta Bay
Perairan sisi timur Teluk Jakarta merupakan perairan dangkal yang memperoleh masukan air tawar dari beberapa sungai, dua diantaranya merupakan sungai dengan debit rata-rata tertinggi di Teluk Jakarta. Proses pencampuran massa air tawar dengan massa air laut di wilayah pesisir dapat mengakibatkan perubahan nilai salinitas. Analisis sebaran salinitas dapat digunakan sebagai indikator proses dinamika massa air di suatu perairan. Dinamika air yang terjadi di perairan sisi timur Teluk Jakarta sangat dipengaruhi oleh Angin Muson dan pasang surut (pasut). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola sebaran salinitas di perairan sisi timur Teluk Jakarta pada 4 musim melalui model hidrodinamika 3 dimensi yang didasarkan pada hipotesa bahwa sebaran salinitas dipengaruhi oleh masukan air tawar, pasang surut dan angin.
Model numerik 3 dimensi DHI MIKE 3 Flow Model FM digunakan untuk mengkaji sebaran salinitas di perairan sisi timur Teluk Jakarta. Simulasi model salinitas dilakukan pada empat musim, yaitu Musim Barat, Musim Peralihan I, Musim Timur dan Musim Peralihan II. Model tersebut diverifikasi menggunakan data observasi berupa arus, pasut, suhu dan salinitas. Hasil verifikasi model menunjukkan kesesuaian dengan data hasil pengukuran di sisi timur Teluk Jakarta.
Pola arus di sisi timur Teluk Jakarta berdasarkan hasil model hidrodinamika bergerak ke arah utara (Musim Barat dan Musim Peralihan II) dan barat (Musim Peralihan I dan Musim Timur) mengikuti pola pergantian musim, dengan kecepatan berkisar antara <0,01 sampai 0,26 m/s. Kecepatan arus akan semakin kuat pada saat arah angin bersesuaian dengan kondisi muka laut, yaitu pada saat pasang di Musim Timur (kecepatan rata-rata 0.05 m/s) dan pada saat surut di Musim Peralihan II (kecepatan rata-rata 0.10 m/s).
Hasil simulasi model salinitas menunjukkan bahwa variasi kecepatan angin, pasut, debit sungai dan curah hujan setiap musimnya merupakan faktor penting dalam mengontrol sebaran salinitas di sisi timur Teluk Jakarta. Pada saat debit sungai dan curah hujan meningkat disertai tingginya kecepatan angin (Musim Barat), pola sebaran massa air bersalinitas rendah (isohaline 28 psu) menyebar luas ke arah laut hingga jarak 4.8 km dari garis pantai pada lapisan permukaan. Sementara itu, pada Musim Timur saat debit sungai dan curah hujan menurun, serta rendahnya kecepatan angin, jarak sebaran massa air bersalinitas rendah di lapisan permukaan berkurang (3.0 km dari garis pantai). Sebaran massa air bersalinitas rendah ini dapat menyebar lebih luas ke arah laut pada saat kondisi surut. Hal ini dikarenakan dorongan energi pasut dari laut melemah, sedangkan aliran air tawar dominan.
Masukan air tawar dan pencampuran yang disebabkan oleh angin dan pasut juga memainkan peranan penting terhadap struktur vertikal salinitas di sisi timur Teluk Jakarta. Stratifikasi massa air akan meningkat dengan meningkatnya masukan air tawar, kuatnya angin serta melemahnya energi pasut (surut), dan sebaliknya. Stratifikasi massa air (isohaline 1–28 psu) di Musim Barat dan Musim Peralihan I terbentuk pada lapisan permukaan hingga kolom perairan (stratifikasi tinggi) baik pada kondisi pasang maupun surut, masing-masing mencapai ketebalan 4.4 m (pasang) dan 6.2 m (surut) pada Musim Barat serta 2.2 m (pasang) dan 4.2 m (surut) pada Musim Peralihan I. Sementara itu, stratifikasi massa air (isohaline 1–28 psu) di Musim Timur dan Musim Peralihan II pada saat surut terbentuk pada lapisan permukaan hingga kolom perairan (masing-masing mencapai ketebalan 2.1 m dan 2.0 m), sedangkan pada saat pasang stratifikasi yang terbentuk lebih dangkal (hanya di lapisan permukaan), masing-masing mencapai ketebalan 1.0 m dan 0.7 m.The Eastern Part of Jakarta Bay is shallow water which obtains freshwater inflow from several rivers, two of them are rivers with the highest annual averaged discharges in Jakarta Bay. The process of mixing freshwater mass with seawater mass in the coastal region can changes salinity values. Analysis of salinity dispersion can be used as an indicator of the process of dynamics water mass. In these waters, dynamics of water that occur is determined by combination of monsoon winds and tidal forcing. This study aims to analyze salinity dispersion in the Eastern Part of Jakarta Bay are carried out in different seasons through a three-dimensional hydrodynamic model, with assumption that salinity dispersion occurring is by freshwater inflow, tidal forcing and wind.
A three-dimensional numerical model DHI MIKE 3 Flow Model FM, is employed to salinity dispersion model in the Eastern Part of Jakarta Bay. Model simulation are carried out in different seasons, there are northwest monsoon, southeast monsoon and transition monsoon. Model was calibrated and verified using observational data including tidal, current, temperature and salinity. The modeled results are in reasonable agreement with observational data in the Eastern Part of Jakarta Bay.
Current pattern in the Eastern Part of Jakarta Bay based on the results of the hydrodynamic model moves to the north (northwest monsoon and transition monsoon II) and to the west (transition monsoon I and southeast monsoon) following seasons, with speeds ranging from <0.01 to 0.26 m/s. The current speed will be stronger when the wind direction matches the water level positions, namely at the flood period on the southeast monsoon (0.05 m/s) and ebb period on the transition monsoon II (0.10 m/s).
The result shows that the seasonal variation of wind speed, tide, river discharge and precipitation are important factor controlling the salinity distribution in the Eastern Part of Jakarta Bay. When the river discharge and precipitation are increased and strong wind speeds (northwest monsoon), distribution of low salinity water (isohaline 28 psu) widespread seaward to a distance of 4.8 km from the shoreline in the surface layer. Otherwise, when the river discharge and precipitation are decreased and week wind speeds (southeast monsoon), the distribution distance of the low salinity water mass in the surface layer is reduced (3.0 km from the shoreline). The distribution of this low salinity water mass can spread wider towards the sea at ebb period. This is because the tidal energy impulse from the sea is weak, while the flow of fresh water is dominant.
Freshwater inflow and mixing caused by wind and tides also play an important role in the vertical structure of salinity in the Eastern Part of Jakarta Bay. Water mass startification will increase with increasing freshwater inflow, strong winds and ebb period. Water mass startification (isohaline 1–28 psu) on the northwest monsoon and transition monsoon I was formed on the surface layer to the water column (high stratification) both at flood and ebb period, each reaching a thickness of 4.4 m (flood) and 6.2 m (ebb) on the northwest monsoon and 2.2 m (flood) and 4.2 m (ebb) on the transition monsoon I. Meanwhile, water mass stratification (isohaline 1–28 psu) on the southeast monsoon and transition monsoon II at ebb period forms on the surface layer to the water column (reaching a thickness of 2.1 m and 2.0 m, respectively), while at flood period the stratification is formed shallower (only on the surface layer), reaching 1.0 m and 0.7 m thickness, respectively
Seleksi Khamir Penghasil Bioetanol dan Analisis Filogenetik Berdasarkan Sekuen Daerah Internal Transcribed Spacer
Kebutuhan bahan bakar yang semakin bertambah perlu diiringi upaya untuk
mencari sumber energi alternatif seperti bioetanol. Khamir umum digunakan untuk
fermentasi bioetanol. Penelitian ini bertujuan melakukan seleksi khamir penghasil
bioetanol dengan konsentrasi tinggi menggunakan high-performance liquid
chromatography (HPLC) dan mengidentifikasi keragaman genetik atau analisis
filogenetik dengan mengamplifikasi daerah internal transcribed spacer (ITS).
Hasil penelitian ini menunjukkan khamir mampu hidup dalam konsentrasi glukosa
dan xilosa tinggi, tetapi tidak mampu mengonsumsi selulosa. Isolat khamir yang
berpotensi menghasilkan kadar etanol tinggi adalah RAGI NKL 10.5.2.3 dan TKH
(BGR) 10.5.2.1 yakni sebesar 2.61 g/L. Amplifikasi pada daerah ITS berhasil
dilakukan dengan ukuran amplikon 400-900 pb. Amplikon pada domain D1/D2 26s
rDNA sebesar 250 pb. Amplifikasi dengan primer spesifik ScerF2 dan ScerR2
berhasil dilakukan dan membuktikkan terdapat dua isolat yang bukan golongan
Saccharomyces cerevisiae. Analisis keragaman genetik khamir menunjukkan 13
isolat khamir tergolong Saccharomyces cerevisiae dan sisanya masuk ke dalam
genus Clavispora, Candida, dan Kodamaea (Pichia)
Analisis Penyebab Penolakan Produk Perikanan Indonesia oleh Uni Eropa Periode 2007- 2017 dengan Pendekatan Root Cause Analysis
Produk perikanan Indonesia merupakan komoditas ekspor yang potensial
dan strategis. Di antara negara tujuan ekspor produk perikanan yang sangat
menjanjikan adalah pasar Uni Eropa dengan persentase ekspor sebesar 8-10%
setiap tahunnya. Uni Eropa memiliki peraturan keamanan pangan yang ketat
untuk produk perikanan, yang hatus diperhatikan oleh produsen produk perikanan
di Indonesia. Produk perikanan yang diekspor ke Uni Eropa dipersyaratkan untuk
diproduksi dari Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang telah mempunyai sertifikat
penerapan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) Grade A.
Namun masih terjadi kasus penolakan dengan alasan ditemukannya cemaran
mikrobiologi dan kimia yang melebihi ambang batas standar Uni Eropa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab penolakan dan
faktor utama yang berpengaruh sebagai penyebab kasus penolakan tersebut
dengan menggunakan pendekatan Root Cause Analysis (RCA). Penelitian
dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu: (1) identifikasi dan analisis data penolakan
produk perikanan di Uni Eropa dari tahun 2007 sampai 2017 dan (2) melakukan
analisis faktor utama tiga penyebab penolakan produk perikanan tertinggi di Uni
Eropa dengan pendekatan RCA, dan (3) merumuskan tindakan perbaikan untuk
menyelesaikan masalah faktor utama penyebab penolakan.
Data yang digunakan adalah data penolakan produk perikanan yang
diekspor ke Uni Eropa selama periode 2007-2017. Hasil analisis menunjukkan
bahwa tiga penyebab tertinggi penolakan produk perikanan Indonesia adalah
cemaran merkuri (33 kasus), cemaran histamin (16 kasus) dan cemaran
Salmonella (12 kasus). Faktor utama penyebab penolakan untuk merkuri adalah:
(1) monitoring kandungan merkuri di UPI kurang memadai, dan (2) pencemaran
merkuri pada lingkungan perairan sebagai akibat limbah industri yang menggunakan
merkuri. Faktor utama penyebab penolakan karena kandungan histamin
adalah: (1) penanganan ikan tuna pada produksi primer serta pengetahuan nelayan
dan pekerja terkait sanitasi dan higiene tidak memadai dan (2) rantai dingin tidak
terpelihara sejak dari penanganan ikan diatas kapal sampai ke UPI. Faktor utama
penyebab penolakan karena kontaminasi Salmonella adalah: (1) penanganan ikan
pada produksi primer (nelayan dan pengumpul) yang tidak memadai, dan (2)
potensi kontaminasi silang dari karyawan dan peralatan
Hubungan Tinggi Muka Air Gambut dengan Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
Kabupaten Musi Banyuasin merupakan salah satu wilayah di Sumatera Selatan yang sering terjadi kebakaran di lahan gambut. TMA (Tinggi Muka Air) merupakan indikator terjadinya kebakaran di lahan gambut, selain itu faktor seperti curah hujan dan titik panas (hotspot) dapat mendukung kejadian kebakaran. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan curah hujan dengan hotspot, serta tinggi muka air gambut, dan hubungan tinggi muka air gambut dengan hotspot sebagai indikator kebakaran hutan dan lahan. Penelitian ini menggunakan data sekunder hotspot yang di dapatkan dari MODIS NASA, curah hujan dari satelit TRMM dan TMA dari BRG (Badan Restorasi Gambut). Untuk mengetahui hubungan curah hujan dengan hotspot, serta tinggi muka air gambut dilakukan uji korelasi bivariate pearson. Hasil penelitian menunjukan distribusi hotspot di lahan gambut Kabupaten Musi Banyuasin saat musim kering di bulan Juli – Agustus meningkat tajam diikuti penurunan curah hujan. Hasil uji stastistik korelasi hotspot dengan curah hujan menyatakan tidak berpengaruh nyata, namun pada uji statistik arah korelasi menunjukan hubungan yang terbalik, peningkatan curah hujan akan diikuti penurunan hotspot. Hasil uji stastistik korelasi curah hujan dengan TMA menyatakan berpengaruh nyata dengan korelasi rendah. Hal ini karena kondisi lahan gambut yang sudah terdegdrasi dan kering sehingga gambut tidak dapat menyerap air dan menyimpan air dengan baik. Hasil uji statistik TMA dengan hotspot tidak berpengaruh nyata dengan arah korelasi terbalik. Hal ini menjelaskan hotspot memberikan dampak kekeringan terhadap tinggi muka air gambu
Kontaminasi Logam Berat Pb dan Hg pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus Linnaeus, 1758) Budidaya di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat
Waduk Jatiluhur dimanfaatkan oleh masyarakat untuk budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus). Meskipun begitu, waduk ini rentan terhadap limbah berbahaya dan beracun. Penelitian ini bertujuan menentukan kontaminasi kandungan logam berat timbal (Pb) dan merkuri (Hg) pada ikan nila yang dibudidayakan dan hubungannya dengan kualitas perairan di Waduk Jatiluhur. Analisis logam berat dilakukan dengan AAS. Kandungan logam berat tertinggi pada ikan nila adalah Hg pada ginjal yaitu 0,054 mg/kg. Kandungan logam berat tertinggi pada air yaitu Pb yaitu 0,263 mg/L. Nilai Bioconcentration Factor (BCF) untuk Pb dan Hg adalah 0,42 dan 211,11. Nilai MTI (Maximum Tolerable Intake) untuk orang dewasa (60 kg) untuk Pb dan Hg yaitu 16,67 kg/minggu dan 15,79 kg/minggu sedangkan pada anak-anak (15 kg) untuk Pb yaitu 4,17 kg/minggu dan 3,95 kg/minggu. Penelitian menunjukkan bahwa kadar DO dan timbal sudah tidak sesuai dengan baku mutu
Prediksi Sebaran Spasial Penyakit Blas pada Tanaman Padi Menggunakan Model SMCE di Kabupaten Karawang dan Purwakarta
Penyakit blas pada tanaman padi disebabkan oleh Pyricularia oryzae Cav.
Potensi epidemi penyakit ini dapat disimulasikan secara spasial menggunakan
metode MCA (Multi Criteria Analysis) berdasarkan karakteristik geografis, praktik
budi daya, dan kondisi lingkungan. Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE)
merupakan bagian dari perangkat lunak ILWIS (Integrated Land and Water
Information System), adalah salah satu metode alternatif dalam MCA yang dapat
digunakan untuk menyimulasikan epidemi penyakit blas berdasarkan faktor-faktor
yang memengaruhinya. Penelitian ini bertujuan membuat prediksi pola sebaran
penyakit blas secara spasial menggunakan model SMCE, dan mengidentifikasi
faktor-faktor yang mendukung epideminya dengan membandingkan dua wilayah
yang memiliki karakter geografis dan sejarah epidemi penyakit blas yang berbeda.
Kabupaten Karawang dan Purwakarta dijadikan model penelitian karena kedua
kabupaten tersebut berdekatan tetapi memiliki karakter geografis, agroekosistem
dan sejarah epidemi penyakit blas yang berbeda.
Penelitian dilaksanakan pada Februari sampai dengan Agustus 2018.
Observasi lapangan dilakukan di 9 kecamatan di Kabupaten Karawang dan 7
kecamatan di Kabupaten Purwakarta yang meliputi pengamatan keparahan
penyakit blas, faktor praktik budi daya, dan kondisi lingkungan. Hubungan antara
faktor praktik budi daya dan kondisi lingkungan dengan keparahan penyakit blas
dianalisis menggunakan korelasi. Faktor yang dimasukkan dalam analisis SMCE
adalah faktor yang memiliki nilai korelasi lebih dari 0.50 dan nyata pada taraf nyata
10%. Analisis ini menggunakan data spasial pertanaman padi kurun waktu Februari
hingga Mei 2018, yang diperoleh dari Sistem Monitoring Pertanaman Padi
(Simotandi). Analisis SMCE terdiri atas 3 tahap yaitu pengelompokan faktor,
standarisasi faktor, dan pembobotan faktor. Hasil simulasi SMCE berupa peta
sebaran kesesuaian wilayah untuk perkembangan penyakit blas yang digambarkan
dengan gradasi warna berdasarkan nilai potensi epideminya. Akurasi hasil prediksi
dievaluasi dengan MAPE (Mean Absolute Percentage Error) berdasarkan data hasil
pengamatan keparahan penyakit aktual pada umur 70 dan 90 HST dari hamparan
contoh di seluruh kecamatan. Penetapan prediksi final dilakukan apabila diperoleh
nilai MAPE ≤ 30% (akurasi minimal 70%).
Prediksi di Kabupaten Karawang dan Purwakarta memiliki akurasi rata-rata
78.16% dan 73.95%. Secara umum, faktor-faktor yang berpengaruh kuat pada
perkembangan penyakit blas antara lain ketinggian lokasi, jarak dari sumber
epidemi, sejarah epidemi di lahan, jumlah tangkapan spora (inokulum), kualitas
irigasi, aplikasi herbisida, kandungan hara tanah (N , P, K) dan tingkat kemasaman
tanah
Evaluasi Manajemen Pemeliharaan terhadap Endoparasit Saluran Pencernaan pada Kukang Sumatera (Nycticebus coucang).
Kukang Sumatera yang berada di konservasi sering mengalami infeksi
endoparasit saluran pencernaan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi
manajemen pemeliharaan terhadap endoparasit saluran pencernaan pada kukang
sumatera. Sampel feses dikoleksi dari feses kukang pada setiap kandang.
Penelitian ini menggunakan metode natif, McMaster, pengapungan, sedimentasi,
dan pemupukan feses. Data manajemen diperoleh dari observasi lansung dan
wawancara dengan keeper. Hasil yang diperoleh dari masing-masing kandang
tidak ditemukan adanya endoparasit saluran pencernaan baik cacing maupun
protozoa. Manajemen pemeliharaan yang baik seperti sanitasi, pembersihan
kandang setiap hari, dan pemberian pakan berupa serangga hasil budidaya sendiri
dapat mencegah infeksi endoparasit. Selain itu, kukang juga tidak terinfeksi
cacing cestoda dan trematoda karena tidak ditemukan adanya inang antara seperti
kumbang dan siput. Program pemberian antelmintik secara reguler juga dapat
menurunkan infeksi cacing
Respon Morfofisiologi Tanaman Padi (Oryza sativa L.) terhadap Cekaman Salinitas
Padi memberikan respon yang berbeda dalam menghadapi cekaman
salinitas, baik respon morfologi maupun respon fisiologi bergantung genotipe.
Penelitian ini bertujuan mempelajari respon morfofisiologi dua kultivar padi, yaitu
kultivar IR64 dan Pokkali terhadap cekaman salinitas. Kecambah padi ditanam di
dalam pot dengan media pasir. Kecambah berumur dua minggu diberi perlakuan
garam dengan tiga tingkat salinitas berbeda, yaitu 0, 4, dan 6 dS/m. Pengamatan
morfologi meliputi tinggi tanaman,panjang akar, biomassa kering tajuk, biomassa
kering akar, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, dan bobot gabah per
rumpun, serta analisis fisiologi yang meliputi pengukuran kandungan air relatif,
klorofil dan prolin daun dilakukan pada fase vegetatif dan fase generatif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kultivar memberikan pengaruh yang
berbeda nyata pada setiap peubah yang diamati baik pada fase vegetatif maupun
generatif kecuali pada kandungan air relatif daun, sedangkan tingkat salinitas
berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, panjang akar, biomassa kering akar dan
biomassa kering tajuk fase vegetatif, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif,
dan bobot gabah per rumpun. Tingkat salinitas juga berpengaruh pada kandungan
air relatif, klorofil, dan prolin daun. Peningkatan konsentrasi garam pada media
menurunkan kandungan air relatif dan kandungan klorofil daun tanaman tetapi
meningkatkan kandungan prolin daun tanaman padi. Tanaman padi kultivar Pokkali
memiliki respon morfologi dan fisiologi yang lebih baik terhadap cekaman salinitas
dibanding kultivar IR64, sehingga mengindikasikan bahwa kultivar Pokkali lebih
toleran terhadap cekaman salinitas
Optimasi Parameter Model Hujan-Debit GR4J dengan Particle Swarm Optimization pada Kalender Tanam Terpadu
Selama beberapa dekade mendatang, para petani di dunia akan menghadapi
tugas yang menantang dalam meningkatkan produksi pangan untuk bersaing
dengan pertumbuhan populasi, pertumbuhan konsumsi per kapita dan penggunaan
produk pertanian sebagai bahan bakar hayati. Tantangan dalam produksi pangan di
masa depan tentunya menjadi lebih kompleks pada negara berkembang seperti
Indonesia. Variabilitas iklim dan perubahan iklim merupakan faktor yang
mempengaruhi produksi pangan. Untuk menyesuaikan dampak perubahan iklim,
Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) mengembangkan sistem
informasi Kalender Tanam (Katam) Terpadu. Katam Terpadu memberi informasi
tentang potensi pola tanam, waktu tanam, luas areal tanam potensial dan
rekokmendasi teknologi adaptif pada level provinsi sampai dengan tingkat
kecamatan, di seluruh Indonesia. Meski telah diluncurkan secara resmi sejak tahun
2011, penentuan debit air menggunakan model hujan debit GR4J (Genie Rural a 4
parametres Journalier) masih perlu ditingkatkan akurasinya.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil akurasi model GR4J untuk
penentuan debit air pada suatu daerah. Area studi dalam penelitian ini adalah
Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta), sub
DAS Wuryantoro (Provinsi Jawa Tengah), dan DAS Cimanuk (Provinsi Jawa
Barat). Model GR4J diukur berdasarkan 4 parameter bebas berupa kapasitas
maksimum simpanan produksi (X1), koefisien tukar air (X2), kapasitas maksimum
simpanan pengalihan (X3), dan waktu dasar hidrograf satuan (X4). Keempat
parameter tersebut dioptimasi menggunakan Particle Swarm Optimization (PSO).
Penelitian ini menunjukan bahwa optimasi parameter model GR4J dengan
PSO berhasil dilakukan. Sebagai penentu keberhasilan model, digunakanlah
persamaan Nash-Sutcliffe Efficiency (NSE) dan Root Mean Square Error (RMSE).
Ini bisa dilihat dari meningkatnya NSE dan menurunnya RMSE pada masingmasing
DAS setelah menggunakan optimasi PSO. Luas wilayah berpengaruh
terhadap akurasi model GR4J, semakin kecil luas wilayah maka semakin dapat
menunjukan karakteristik suatu DAS. Data curah hujan dan data meteorologi yang
memiliki rentang waktu cukup lama memiliki akurasi model sangat rendah
dibandingkan dengan rentang waktu satu tahun, sehingga tidak dapat menunjukan
karakteristik suatu DAS. Algoritme PSO yang digunakan dalam model GR4J akan
lebih efektif dari pada menggunakan cara manual atau coba-coba atas dasar
pengetahuan pakar karena dapat mencapai optimisasi dengan waktu yang cukup
singkat. Optimasi parameter model GR4J dengan PSO dapat digunakan oleh Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian untuk mengembangkan sistem informasi
Kalender Tanam (Katam) Terpadu