31665 research outputs found
Sort by
Manajemen Pemanenan Kelapa Sawit (Elaeisguineensis Jacq.) di Kebun Adolina PTPN IV, Serdang Bedagai, Sumatera Utara
Pelaksanaan magang di Kebun dilakukan sejak 21 Januari hingga 21 Mei 2019 . Magang secara umum bertujuan memahami dan menambah kemampuan diseluruh aspek yang berkaitan dengan budidaya kelapa sawit secara teknis dan manajerial. Tujuan khusus maganga dalah mempelajari kegiatan panen dari persiapan panen hingga pengangkutan ke pa brik pengolahan . ... ds
Analisis Kekuatan dan Deformasi Rangka Sepeda Berbahan Dasar Bambu Cendani.
Bambu sangat potensial sebagai bahan subtitusi kayu karena rumpunan bambu
dapat terus berproduksi selama pemanenannya terkendali dan terencana. Umumnya,
bambu cendani digunakan sebagai pagar rumah, joran panjing, dan aneka produk
kerajinan lain. Melihat potensi dan keunikan bambu cendani, maka sangat cocok
digunakan sebagai bahan baku rangka sepeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
potensi dan kemampuan bambu cendani untuk digunakan sebagai rangka sepeda sesuai
dengan standar SNI 1049-2008. Karakteristik bambu cendani dapat dilihat melalui
pengujian sifat fisis dan mekanis mengacu pada standar BS 373-1957. Selain itu,
pengujian rangka sepeda meliputi pengujian lelah rangka dan kejut rangka mengacu pada
standar SNI 1049-2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu cendani memiliki
potensi yang besar untuk dijadikan sebuah rangka sepeda, hal ini diperkuat dengan hasil
pengujian yang menyatakan bahwa bambu cendani mampu lulus uji lelah rangka dan uji
kejut rangka sesuai dengan SNI 1049-2008. Oleh karena itu, rangka sepeda menggunakan
bahan bambu cendani dapat digunakan dengan aman dan dapat digunakan sebagai bahan
pengganti untuk sebuah rangka sepeda yang ramah lingkungan
Aktivitas Antibakteri dan Antioksidan Ekstrak Caulerpa racemosa dari Perairan Binuangeun Banten
Caulerpa racemosa mengandung senyawa aktif yang potensial sebagai antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh jenis pelarut terhadap senyawa aktif dalam ekstrak C. racemosa dan pengaruh jenis ekstrak terhadap aktivitas antibakteri dan antioksidan. Sampel segar dimaserasi menggunakan pelarut heksana, etil asetat, dan metanol. Pengujian antibakteri menggunakan metode Resazurin Microtitter Assay. Pengujian antioksidan menggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) dan Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Ekstrak etil asetat C. racemosa menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap bakteri Escherichia coli, sementara ekstrak etil asetat dan metanol menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Aktivitas antioksidan ekstrak etil asetat C. racemosa menunjukkan hasil tertinggi pada metode DPPH dan FRAP dengan masing-masing nilai IC50 110.70 ppm dan 96.68 μM
Deteksi Spesies Mamalia Menggunakan DNA Lingkungan dari Kubangan Garam Alami Adudu, Suaka Margasatwa Nantu, Gorontalo, Sulawesi.
Deteksi keberadaan spesies mamalia merupakan langkah penting dalam
penilaian keanekaragaman hayati dan pengelolaan populasi satwaliar di habitat
alami. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan keberhasilan pendekatan
metabarkoding eDNA dalam mendeteksi keberadaan spesies-spesies mamalia.
Sebagian mamalia terestrial diketahui memanfaatkan kubangan garam alami
sebagai sumber mineral di dalam diet dan meninggalkan material genetik yang
dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan spesies mamalia. Penelitian ini
bertujuan untuk menguji dan mengevaluasi keandalan metode metabarcoding
eDNA menggunakan primer MiMammals dari penanda 12S rRNA dalam
mendeteksi spesies mamalia endemik Sulawesi dari sampel air kubangan garam
alami Adudu.
Penelitian ini dilakukan di kubangan garam alami Adudu, Suaka
Margasatwa Nantu, Gorontalo, Indonesia. Kerja lapangan dilakukan pada
pertengahan September 2017. Prosedur metabarkoding eDNA telah dilakukan
untuk mendeteksi keberadaan mamalia dari kubangan garam alami ini. Sampel air
dari kubangan garam alami tersebut difilter dan kemudian DNA lingkungan
diekstraksi menggunakan DNeasy Blood and Tissue kit. Kemudian pustaka
amplikon disusun melalui amplifikasi PCR dan sekuensing menggunakan
platform MiSeq Illumina. Pengolahan data sekuen dan penentuan taksonomi
dilakukan menggunakan dua platform bioinformatika, PipeCraft-1.0 dan
OBITools-1.2.13.
Tiga sampel DNA berhasil diekstraksi dan digunakan untuk penyusunan
pustaka amplikon. Proses penyaringan kualitas dan penggabungan R1 dan R2
menghasilkan 131.275 urutan basa dengan panjang minimum 161 pb, panjang
maksimum 252 pb, dan panjang rata-rata 232 pb. Pemrosesan reads menghasilkan
urutan basa yang akan dikelompokkan untuk menyusun tabel OTU, penentuan
taksonomi mencari urutan basa yang sangat mirip di dalam database referensi
untuk menentukan identitas mamalia Sulawesi hingga tingkat spesies.
Dua spesies mamalia Sulawesi berhasil dideteksi, yaitu anoa dataran rendah
(Bubalus depressicornis) dan babirusa (Babyrousa babyrussa). Reads yang
teridentifikasi sebagai babirusa Buru (Babyrousa Babyrussa, Linnaeus, 1758)
kemungkinan besar adalah false-positive, karena lokasi studi tidak termasuk ke
dalam range distribusi alami dari spesies ini. Kemungkinan urutan basa tersebut
seharusnya teridentifikasi sebagai babirusa Sulawesi Utara (Babyrousa
celebensis, Deninger, 1910). Keakuratan identifikasi spesies mamalia
menggunakan metabarcoding eDNA dipengaruhi oleh prosedur metabarkoding
eDNA, ketersediaan database referensi, dan perilaku mamalia
Upaya Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan Menggunakan Gel Pemadam (Gel Pack Extinguishing Agent).
Kebakaran hutan menjadi masalah serius yang sampai saat ini masih belum dapat
diatasi dengan baik. Metode pemadaman kebakaran hutan dan lahan saat ini menggunakan
air yang kurang efektif dan efisien, sehingga dibutuhkan metode pemadaman kebakaran
hutan dan lahan yang lebih efektif dan efisien pada aspek sosial, ekonomi serta ekologi.
Tujuan dari penelitian ini adalah memastikan kemampuan gel pemadam yaitu Gel Pack
Extinguishing Agent (GPEA) dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan dalam
skala penelitian pada berbagai tipe bahan bakar. Prosedur kerja dalam penelitian ini
meliputi tahap persiapan, pengovenan, pembakaran, pemadaman serta pengamatan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa GPEA dengan dosis 5 bungkus per liter air cukup efektif
dan efisien digunakan sebagai alat pemadaman kebakaran hutan dan lahan berdasarkan
pengujian dari ketiga jenis bahan bakar yang digunakan yakni serasah daun Pinus merkusii,
serasah daun Shorea leprosula, serta tumbuhan bawah jenis paku Dicranopteris linearis
dengan berat yang sama dari masing-masing jenis bahan bakar yaitu 55g, 65g, 75g, dan
85g. Waktu pemadaman yang berlangsung paling cepat yakni pada tumbuhan bawah
Dicranopteris linearis. Waktu pemadaman yang berlangsung paling lama yakni pada jenis
bahan bakar serasah daun Pinus merkusii
Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat Tahun 2014-2017
Perekonomian negara yang kuat dapat dibangun dengan cara
meningkatkan produktifitas sektor industri. Provinsi Jawa Barat menjadi
penyumbang terbesar ketiga terhadap PDB Indonesia. Sektor industri
pengolahan menyumbang 42.29 persen terhadap PDRB Jawa Barat, namun
pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat sendiri cenderung mengalami
perlambatan dari tahun 2014 hingga 2017. Penelitian ini bertujuan
menganalisis peranan yang diberikan sektor industri pengolahan terhadap
pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Barat. Metode analisis yang
digunakan adalah analisis deskriptif dan data panel dengan pendekatan Fixed
Effect Model (FEM). Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel investasi
sektor industri pengolahan, output industri pengolahan, populasi penduduk,
belanja modal pemerintah, dan indeks pembangunan manusia memiliki
pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi
Jawa Barat
Deteksi Staphylococcus sp. Penyebab Mastitis Subklinis yang Resistan terhadap Antibiotik di Wilayah Bogor
Mastitis subklinis adalah penyakit pada sapi perah yang umum dan
berdampak pada ekonomi secara signifikan. Staphylococcus sp. ditemukan sebagai
salah satu agen penyebab utama mastitis subklinis. Resistansi Staphylococcus sp.
terhadap antibiotik pada kasus mastitis subklinis belum banyak dilaporkan. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui resistansi antibiotik pada
Staphylococcus sp. penyebab mastitis subklinis. Sampel susu sapi sebanyak 188
kuartir dari Wilayah Bogor (Kelompok Usaha Peternakan/KUNAK di
Cibungbulang, Tapos, Tajur Halang, dan Kebon Pedes) diidentifikasi dengan uji
IPB-1 diikuti dengan pemeriksaan bakteriologi. Pengujian resistansi dilakukan
dengan menggunakan metode difusi cakram menurut Kirby-Bauer. Hasil pengujian
resistansi diperoleh dengan mengukur diameter zona hambat dan diinterpretasikan
dengan mengacu pada Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI 2017).
Hasil uji resistansi pada 3 isolat Staphylococcus aureus (S. aureus) dan 22 isolat
Staphylococcus koagulase negatif (CNS) menunjukkan resistansi tertinggi terhadap
antibiotik golongan β-laktam (penisilin G dan ampisilin). Resistansi terhadap
eritromisin, streptomisin, tetrasiklin, dan siprofloksasin ditunjukkan oleh CNS
tetapi pada S. aureus masih sensitif terhadap antibiotik tersebut. Hasil uji resistansi
menunjukkan bahwa 3 dari 22 isolat CNS mengalami multidrug-resistant. S. aureus
dan CNS masih sensitif terhadap doksisiklin dan gentamisin sehingga kedua
antibiotik tersebut dapat menjadi rekomendasi pengobatan mastitis subklinis di
Bogor
Pemberian Jamu Kombinasi Jahe, Temulawak, Lempuyang, dan Madu Terhadap Profil Organ Dalam Broiler
Pemberian antibiotik untuk mencegah hewan sakit sudah biasa dilakukan oleh peternak. Antibiotik yang sering digunakan adalah antibiotic growth promoters (AGP). Pemberian sediaan AGP yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi antibiotik. Jamu dapat digunakan sebagai feed additive yang berkhasiat sebagai subtitusi AGP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian jamu kombinasi jahe, temulawak, lempuyang, dan madu terhadap profil organ dalam broiler. Sebanyak 36 ekor broiler Strain Cobb dibagi menjadi 4 perlakuan dengan masing-masing perlakuan 9 ekor. Perlakuan tersebut ialah ayam percobaan yang tidak diberikan jamu sebagai kontrol dan ayam percobaan yang diberikan konsentrasi bertingkat (1.25%, 2.5%, dan 5%). Pemberian perlakuan jamu dilakukan dengan cara dicampurkan pada air minum pada hari ke-24 hingga hari ke-32. Hasil menunjukkan bahwa jamu kombinasi tidak memengaruhi organ dalam secara nyata terhadap karkas, lemak abdominal, dan organ dalam (proventriculus, ventriculus, usus, hati, paru-paru, limpa, jantung, pankreas, dan ginjal). Selain itu, jamu kombinasi dapat sebagai alternatif substitusi AGP
Isolasi, Identifikasi dan Analisis Kelimpahan Bakteri Penghasil Invertase Asal Rizosfer Tebu dengan Berbagai Tingkat Produktivitas
Mikroba dan enzim tanah berperan penting dalam mempertahankan stabilitas ekosistem tanah dan memberikan dampak bagi produktivitas tanaman. Invertase merupakan salah satu enzim tanah yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan berfungsi dalam proses hidrolisis sukrosa di lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelimpahan bakteri penghasil invertase dan aktivitas invertase pada rizosfer tebu dengan tingkat produktivitas berbeda serta hubungannya dengan sifat fisik dan kimia tanah dan mengisolasi isolat bakteri penghasil invertase asal rizosfer tebu.
Pengambilan contoh tanah dari rizosfer tebu dengan simple randomized sampling, selanjutnya dilakukan analisis sifat fisik-kimia tanah serta enumerasi kelimpahan bakteri penghasil invertase dan analisis aktivitas invertase tanah. Isolat bakteri penghasil invertase yang telah diisolasi, dianalisis kemampuannya dengan uji kualitatif dan kuantitatif. Tiga isolat terbaik diidentifikasi secara molekuler dengan analisis gen 16S rRNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri penghasil invertase dan aktivitas invertase tanah lebih tinggi pada rizosfer tebu dengan produktivitas tinggi. Kelimpahan bakteri penghasil invertase berkorelasi dengan aktivitas invertase, C organik, N total dan kandungan pasir tanah. Aktivitas invertase tanah berkorelasi dengan kelimpahan bakteri penghasil invertase, pH dan C organik tanah.
Sebanyak 20 isolat bakteri penghasil invertase berhasil diisolasi dari rizosfer tebu. Tiga isolat menghasilkan zona hidrolisis dan aktivitas invertase tertinggi, yakni isolat ScT112, ScT124, dan ScR301, dengan zona hidrolisis berturut-turut 3.12 cm, 2.76 cm dan 2.55 cm, serta aktivitas invertase berturut-turut 27.82 U mL-1, 24.56 U mL-1 dan 24.08 U mL-1. Hasil identifikasi molekuler dengan analisis gen 16S rRNA menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut adalah Cupriavidus sp, Klebsiella variicola dan Pantoea sp
Dampak Tutupan Lahan Terhadap Peningkatan Curah Hujan di Palangkaraya Menggunakan Back-Trajectory Massa Udara.
Interaksi dan pengaruh tutupan lahan terhadap pola curah hujan di Indonesia masih belum diketahui dengan jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami hubungan antara tutupan lahan dan pola curah hujan di Kota Palangkaraya. Interaksi antara atmosfer dengan berbagai jenis tutupan lahan menggunakan trajektori mundur massa udara yang melewati permukaan yang direpresentasikan oleh Leaf area index (LAI) dan evapotranspirasi (ET) mampu menjelaskan keterkaitan antara parameter atmosfer dan permukaan. Trajektori massa udara dianalisis menggunakan data permukaan, ketinggian tekanan, dan geopotensial dari ECMWF. Data permukaan berupa LAI dan ET dihasilkan dari produk MODIS MOD15A2H dan model GLDAS. Keterpaparan massa udara oleh LAI dan ET dari hasil trajektori massa udara selanjutnya diregresikan dengan curah hujan di Kota Palangkaraya. Kondisi LAI dan evapotranspirasi memengaruhi curah hujan melalui proses biokimia dan biofisik meliputi jejak gas, fluks energi, momentum, dan kelembaban. Pada penelitian ini, ditunjukan hubungan eksponensial kedua parameter permukaan terhadap curah hujan di Kota Palangkaraya. Hubungan keterpaparan massa udara oleh LAI dapat meningkatkan curah hujan di Palangkaraya pada R-squared 52.66% (40.49%) di bulan-bulan basah (kering) dan ET pada R-squared 62.74% (49.64%) di bulan-bulan basah (kering). Hasil uji t dan uji P menunjukan hubungan signifikan dari LAI dan ET terhadap peningkatan curah hujan pada bulan-bulan basah dan kering. Nilai ET sebesar 622.85 mm dari total 1004.6 mm curah hujan berkontribusi terhadap peningkatan 62% curah hujan pada bulan basah dan nilai ET sebesar 115.28 mm dari total 235.3 mm curah hujan berkontribusi terhadap peningkatan 49% curah hujan pada bulan kering