Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Formulasi dan Nilai Gizi Camilan Berbahan Tepung Belalang (Valanga nigricornis) sebagai Pangan Alternatif untuk Perbaikan Gizi Balita

    No full text
    Camilan adalah makanan porsi kecil yang dimakan di luar waktu makan dan membantu pencegahan masalah gizi karena bergizi tinggi, dan mudah dikonsumsi. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji nilai gizi camilan berbahan tepung belalang (Valanga nigricornis) sebagai pangan alternatif untuk balita. Formula terpilih adalah formula dengan penambahan tepung belalang sebanyak 12% dari total adonan tepung. Hasil analisis zat gizi tepung belalang menunjukkan bahwa tepung belalang memiliki beberapa kelebihan, diantaranya rendah kadar air dan tinggi protein yaitu 5.8% b.b dan 68.1 b.b. Penambahan tepung belalang pada formula tepilih menyebabkan peningkatan kualitas pada kandungan kadar air, protein, kalsium, dan seng yaitu menjadi 4.1% w.b, 9.9% d.b, 25.68mg/ 100g, and 1.26mg / 100g. Rasio omega-6:omega-3 formula terpilih adalah 20.3, sementara PUFA padaformula terpilih didominasi oleh asam lenoleat dan asam linolenat serta kandungan SFA tertinggi yaitu pada asam palmitat. Klaim produk adalah sumber protein dan tinggi mineral besi. Kandungan zat gizi makro, mineral besi dan seng sudah memenuhi kontribusi zat gizi satu kali makan selingan terhadap AKG usia 1-3 tahun dan 4-6 tahun

    Empat Jenis Kayu Cepat Tumbuh yang Diimpregnasi Methyl Methacrylate terhadap Serangan Rayap Tanah.

    No full text
    Rayap tanah merupakan hama bangunan yang paling merugikan di Indonesia. Oleh karena itu aplikasi teknologi pengawetan kayu yang semakin baik sangat diperlukan untuk meningkatkan umur pakai bangunan. Penggunaan methyl metacrylate (MMA) pada kayu berguna untuk meningkatkan sifat fisis-mekanis dan ketahanan kayu terhadap biodeteriorasi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keawetan kayu cepat tumbuh terhadap serangan Coptotermes curvignathus melalui teknologi impregnasi menggunakan MMA. Pengujian ketahanan 4 jenis kayu cepat tumbuh dilakukan berdasarkan SNI 7207:2014. Hasil uji dianalisis faktorial 3x4 menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial menggunakan SPSS 16.0 pada selang kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan bahwa nilai kerapatan tertinggi adalah kayu Pinus sebesar 0.74 g/cm3. Sementara itu, persentase penurunan berat tertinggi kayu Pinus dengan 6.28%. Persentase mortalitas rayap pada seluruh jenis kayu hampir 100%. MMA dapat digunakan sebagai bahan alternatif pengawet kayu terhadap serangan rayap

    Strategi Pemasaran “Kedai Lobster” Bogor Setelah Rebranding dan Relocation

    No full text
    Sejak Kedai Lobster melakukan rebranding dan relocation, mulai terjadi penurunan penjualan pada restoran. Apakah ada hubungan antara rebranding dan relocation dengan penurunan penjualan serta bagaimana cara meningkatkan kembali volume penjualan merupakan masalah yang akan diteliti. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: menganalisis penilaian responden terhadap tingkat kepentingan atribut bauran pemasaran restoran secara umum, menganalisis tingkat kinerja bauran pemasaran Kedai Lobster dan menyusun rancangan strategi pemasaran bagi Kedai Lobster. Penelitian ini akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan Importance Performance Analysis (IPA). Berdasarkan hasil diagram IPA keseluruhan didapatkan rumusan strategi pemasaran bagi Kedai Lobster yaitu menyesuaikan harga produk dengan porsi, melengkapi persediaan bahan baku, membuat neon box Kedai Lobster, meningkatkan kualitas dan intensitas promosi social media, mengganti penerangan lampu restoran, menambah mesin pendingin ruangan, dan menyediakan alunan musik lagu (non live

    Studi Degreening Menggunakan Etefon dan Metode Penyimpanan pada Jeruk Keprok (Citrus reticulata Blanco) Garut.

    No full text
    Buah jeruk tidak berwarna jingga dan tidak seragam merupakan masalah yang terjadi pada buah jeruk lokal di Indonesia. Umur simpan yang rendah membuat kualitas buah cepat menurun ketika berada di penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan warna jingga dan mempertahankan kualitas pada buah jeruk keprok Garut melalui metode degreening dan penyimpanan yang efektif. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama bertuajuan untuk mendapatkan metode terbaik dalam aplikasi degreening dengan menggunakan etefon untuk menghasilkan warna jingga pada jeruk keprok Garut. Hasil dari percobaan pertama digunakan sebagai metode aplikasi degreening pada percobaan kedua. Percobaan kedua bertujuan untuk mendapatkan waktu inkubasi setelah degreening sebelum penyimpanan dan metode penyimpanan yang tepat untuk meningkatkan warna jingga dan mempertahankan kualitas jeruk keprok Garut. Percobaan pertama dilakukan pada bulan Juli- Agustus 2016 dan percobaan kedua dilakukan pada bulan Maret – April 2018. Rancangan yang digunakan pada percobaan pertama adalah rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari lima taraf, yaitu buah yang tidak diberi aplikasi degreening atau kontrol, kombinasi waktu perendaman 30 detik dan suhu larutan etefon 13 ± 1 ºC , kombinasi waktu perendaman 30 detik dan suhu larutan etefon ambient (27 ± 1 ºC), kombinasi waktu perendaman 60 detik dan suhu larutan etefon 13 ± 1 ºC, dan kombinasi waktu perendaman 60 detik dan suhu larutan etefon ambient (27 ± 1 ºC ). Percobaan kedua menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu waktu inkubasi setelah degreening sebelum penyimpanan dan metode penyimpanan. Faktor waktu inkubasi setelah degreening sebelum penyimpanan terdiri dari tiga taraf, yaitu tanpa waktu inkubasi, waktu inkubasi selama dua hari, dan waktu inkubasi selama empat hari. Faktor metode penyimpanan terdiri dari empat taraf, yaitu tidak dililin dan disimpan pada suhu ruang (29 ± 1 ºC), tidak dililin dan disimpan pada suhu 18 ± 1 ºC, dililin dan disimpan pada suhu ruang (29 ± 1 ºC), serta dililin dan disimpan pada suhu 13 ± 1 ºC. Percobaan pertama menunjukan perlakuan kombinasi waktu perendaman dan suhu larutan etefon dapat meningkatkan warna jingga pada kulit jeruk keprok Garut dibandingkan dengan kontrol. Warna jingga pada kulit jeruk keprok Garut dapat dilihat dengan meningkatnya nilai citrus color index (CCI) dan menurunnya nilai ºhue. Nilai CCI tertinggi dan ºhue dihasilkan oleh perlakuan kombinasi waktu perendaman selama 30 detik dan suhu larutan 27 ± 1 ºC, dengan nilai CCI 9.01 dan ºhue 66.46. Rendahnya kandungan total klorofil dan terbentuknya karotenoid pada buah yang diberi aplikasi degreening merubah warna kulit buah jeruk keprok Garut dari hijau ke jingga. Aplikasi degreening tidak mempengaruhi susut bobot buah, padatan terlarut total (PTT), asam tertitrasi total (ATT) dan vitamin C. Percobaan kedua menunjukan waktu inkubasi setelah degreening sebelum penyimpanan dan metode penyimpanan mempengaruhi nilai CCI dan ºhue yang merupakan penilaian parameter warna jingga pada jeruk keprok Garut. Waktu inkubasi selama empat hari dapat meningkatkan warna jingga pada kulit jeruk 5 keprok Garut yang dapat dilihat dengan nilai CCI tertinggi dan nilai ºhue terendah, yaitu berturut-turut 9.2 dan 65.6 pada hari ke-27 setelah penyimpanan. Metode penyimpanan tidak dililin dan disimpan pada suhu 18 ± 1 ºC dapat meningkatkan warna jingga pada kulit jeruk Garut dengan nilai CCI 10.5 dan nilai ºhue 63.0 pada hari ke-27 setelah penyimpanan. Waktu inkubasi setelah degreening tidak berpengaruh pada persentase susut bobot buah namun berpengaruh pada kadar air kulit jeruk keprok Garut. Buah tanpa waktu inkubasi setelah degreening memiliki kadar air tertinggi dibandingkan dengan buah yang diberi waktu inkubasi setelah degreening. Buah yang diberi perlakuan pelilinan dan penyimpanan pada suhu 18 ± 1 ºC memiliki persentase susut bobot yang lebih rendah dan kadar air kulit yang lebih tinggi dibandingkan dengan buah yang tidak diberi pelilinan dan disimpan pada suhu ruang. Buah yang diberi waktu inkubasi setelah degreening selama empat hari memiliki kandungan PTT tertinggi dibandingkan dengan buah yang diberi waktu inkubasi setelah degreening lainnya pada hari ke-24. Buah yang tidak diberi pelilinan baik disimpan pada suhu ruang atau suhu 18 ± 1 ºC memiliki PTT yang lebih tinggi dibandingkan buah yang diberi pelilinan pada hari ke-24. Waktu inkubasi setelah degreening dan metode penyimpanan tidak berpengaruh pada ATT tapi buah yang diberi waktu inkubasi (dua hari dan empat hari) memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi dibandingkan buah yang tidak diberi waktu inkubasi setelah degreening pada hari ke-12. Waktu inkubasi selama empat hari setelah degreening sebelum penyimpanan memiliki persentase buah busuk yang paling kecil. Buah yang disimpan pada suhu 18 ± 1 ºC dapat menurunkan persentase busuk buah

    Kajian Resistensi Antibiotik dan Gen Penyandinya pada Escherichia coli Asal Peternakan di Bandung dan Purwakarta

    No full text
    Kasus infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotika, menjadi masalah serius di dunia kesehatan, penggunaan antibiotika tidak dapat dilakukan untuk pengobatan penyakit. Penggunaan antibiotika di industri peternakan untuk terapi, penggunaan dosis sub terapi, dan growth promotor secara rutin tanpa memperhatikan aturan pemakaian berperan dalam perkembangan resistensi bakteri komensal dan patogen terhadap antibiotika. Tahun 2050, beberapa ahli memperkirakan infeksi akibat bakteri resisten terhadap antibiotika menyebabkan kematian hingga 10 juta jiwa per tahun dan biaya penanganan mencapai US$ 100 triliun. Sebagian besar kematian tersebut diakibatkan infeksi E. coli, Mycobacterium tuberculosis yang telah resisten terhadap antibiotika, dan malaria. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengidentifikasi E. coli, menguji resistensi antibiotika, dan mendeteksi gen penyandi resistensi bakteri E. coli asal peternakan ayam di Bandung dan Purwakarta. Sebanyak 57 sampel swab kloaka, litter, dan air minum dikoleksi secara acak dari 4 peternakan ayam layer dan breeder di Bandung dan Purwakarta. Penelitian dilakukan selama bulan Juni 2018 sampai Februari 2019. Isolasi dan identifikasi bakteri E. coli dengan menumbuhkan isolat E. coli ke media eosin metylen blue agar (EMBA), dilanjutkan dengan pewarnaan Gram, dan uji IMVIC, dan dikonfirmasi dengan identifikasi E. coli menggunakan polymerase chain reaction (PCR). Delapan belas biakan murni bakteri E. coli yang positif diuji sensitivitasnya menggunakan media agar Mueller-Hinton, metode disk diffusion menurut Kirby- Bouer. Disk antibiotika ampisilin, oksitetrasiklin, tetrasiklin, asam nalidiksid, gentamisin, dan kloramfenikol diposisikan di permukaan kultur bakteri, diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35°C. Diameter zona terang disekeliling disk antibiotika yang terbentuk, diukur dalam satuan millimeter dan diinterpretasikan berdasarkan Clinical and Laboratory standards Institute guidelines (CLSI 2018). Isolat yang dikategorikan resisten dan intermediate terhadap antibiotika tersebut selanjutnya dideteksi gen penyandi resistensinya menggunakan polymerase chain reaction (PCR). Sebanyak 57 sampel yang diuji menunjukkan hasil positif 18 isolat E. coli. Hasil uji kepekaan antibiotik 18 isolat E. coli menunjukkan resistensi total 100% terhadap ampisilin, dan tingkat resistensi yang tingggi terhadap asam nalidiksit (94.4%), oksitetrasiklin (88.9%), tetrasiklin (88.9%), sedangkan resistensi terhadap gentamisin dan kloramfenikol masing-masing (22.2%), dan (11.1%). Sebagin besar isolat resisten terhadap 3-4 antibiotika dan hanya satu isolat resisten terhadap satu antibiotika. Frekuensi empat gen resisten pada penelitian ini diantaranya qnr(B) (94.4%), tet(A) (94.4%), ampC (77.8%), dan tet(B) (55.6%). Semua isolat E. coli mengandung 2-4 gen resistensi. Penelitian ini melaporkan resistensi antibiotik yang signifikan pada E. coli dari peternakan ayam di Bandung dan Purwakarta. Penelitian ini menggaris bawahi pentingnya pemantauan penggunaan antibiotik dan pengawasan ruitn resistensi antibiotik

    Respons Imun dan Mortalitas Kumulatif Udang Vaname Litopenaeus vannamei Pascakoinfeksi White Spot Syndrome Virus dan Vibrio harveyi.

    No full text
    Penyakit merupakan salah satu faktor kendala dalam kegiatan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) karena dapat mengakibatkan mortalitas, penurunan produksi dan kerugian ekonomi yang besar. White spot syndrome virus (WSSV) dan Vibrio harveyi merupakan patogen yang umum menginfeksi udang. Patogen WSSV ini umumnya menginfeksi udang di tambak dan dapat mengakibatkan mortalitas udang sebanyak 100 % dalam waktu 3-5 hari pascainfeksi. Patogen V. harveyi merupakan patogen oportunistik yang dapat menginfeksi semua stadia udang, mulai dari stadia nauplius, zoea, mysis dan pascalarva sampai pada udang di tambak pembesaran. Patogen ini merupakan salah satu bakteri Vibriosis dan sangat virulen dan prevalen pada larva dan udang di tambak. Kegiatan budidaya di lapangan menunjukkan bahwa udang umumnya terinfeksi lebih dari satu patogen dan mengakibatkan mortalitas udang yang lebih tinggi dan cepat, serta kerugian ekonomi yang sangat besar dibandingkan dengan infeksi tunggal. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan evaluasi respons imun dan mortalitas kumulatif udang vaname akibat koinfeksi WSSV dan V. harveyi. Pada tahap pertama dilakukan infeksi tunggal. Udang vaname diinjeksikan V. harveyi dengan dosis V. harveyi 104 CFU mL-1 (V4), 105 CFU mL-1 (V5) dan 106 CFU mL-1 (V6). Infeksi tunggal WSSV dilakukan dengan menginjeksikan WSSV dosis 5 kopi virus μL-1 (W5), 50 kopi virus μL-1 (W50) dan 500 kopi virus μL-1 (W500). Pada perlakuan koinfeksi, udang terlebih dahulu diinjeksikan WSSV 5 kopi virus μL-1 dan 24 jam kemudian diinjeksikan V. harveyi 104 (W5V4), 105 (W5V5), dan 106 CFU mL-1 (W5V6). Variabel pengamatan meliputi respons imun (total hemocyte count (THC), aktivitas respiratory burst (RB), dan aktivitas phenoloxidase (PO), total vibrio count (TVC), uji konfirmasi WSSV dan mortalitas kumulatif (MK) udang vaname. Hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan infeksi tunggal V. harveyi, MK sebesar 41.11 % pada V6, 8.99% pada V5, dan tidak ada mortalitas udang pada perlakuan V4. Pada perlakuan infeksi tunggal WSSV, MK udang sebesar 100% pada jam ke-96 di perlakuan W500, dan 120 jam pascainfeksi pada W50, dan 22% pada perlakuan W5. Pada perlakuan koinfeksi, MK udang sebesar 100% pada jam ke-96 (W5V6) dan jam ke-120 (W5V5) pascakoinfeksi, serta 66,67% pada perlakuan W5V4. Hasil ini menunjukkan bahwa koinfeksi dapat meningkatkan dan mempercepat MK udang vaname dibandingkan dengan infeksi tunggal. Hal ini dikonfirmasi kembali dengan mengamati TVC di hepatopankreas. TVC pada perlakuan W5V4 hingga jam 120 pascainfeksi sebesar Log 3.06 CFU g-1, sedangkan pada V4 tidak ada TVC pada jam ke-120. Konfirmasi WSSV juga menunjukkan bahwa udang vaname pada perlakuan infeksi tunggal WSSV dan koinfeksi terdeteksi positif WSSV. Parameter respons imunitas juga menunjukkan hasil yang sama, dimana terjadi penurunan THC, aktivitas RB, dan aktivitas PO udang yang signifikan pada perlakuan koinfeksi dibandingkan dengan perlakuan infeksi tunggal

    Potensi Polisakarida Teripang Holothuria nobilis sebagai Antihiperkolesterolemia

    No full text
    Hiperkolesterolemia merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan peningkatan salah satu atau lebih profil lipid atau lipoprotein (kolesterol total, low density lipoprotein/LDL, trigliserida) dan penurunan high density lipoprotein/HDL dalam darah. Penggunaan obat-obatan dalam menurunkan kadar profil lipid telah diketahui memiliki banyak efek samping, sehingga perlu dicarikan alternatif obat alami yang dapat dimanfaatkan sebagai antihiperkolesterolemia. Perkembangan beberapa tahun terakhir, polisakarida dari teripang banyak diminati oleh peneliti karena memiliki sifat antihiperkolesterolemik. Teripang hitam (Holothuria nobilis) adalah hewan air yang banyak ditemukan di Indonesia, tetapi minimnya informasi tentang manfaat yang dimiliki oleh H. nobilis membuat banyak masyarakat tidak memanfaatkannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis aktivitas antioksidan polisakarida H. nobilis, menganalisis daya hambat HMG KoA reduktase, mengukur jumlah konsumsi pakan dan berat badan tikus, menguji kemampuan polisakarida H. nobilis pada tikus sebagai pencegahan maupun pengobatan hiperkolesterolemia, mengukur profil kolesterol pada tikus model hiperkolesterolemia, mengukur kadar MDA dan aktivitas SOD pada jaringan hati tikus model hiperkolesterolemia, dan menganalisis kandungan antioksidan Cu, Zn-SOD pada jaringan hati tikus model hiperkolesterolemia melalui studi immunohistokimia. Penelitian menggunakan tikus jantan Rattus norvegicus galur Sprague Dawley yang dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok pencegahan dan pengobatan. Kelompok pencegahan terdiri atas kelompok kontrol negatif/ non-hiperkolesterolemia (K-), kelompok kontrol positif/ hiperkolesterolemia (K+), dan kelompok pencegahan hiperkolesterolemia yang diberi pakan kolesterol 1% dan polisakarida H. nobilis dosis 400 mg/kg BB polisakarida H. nobilis secara bersamaan (PCh). Perlakuan pada semua kelompok pencegahan diberikan selama 28 hari. Kelompok pengobatan terdiri atas kelompok kontrol hiperkolesterolemia, yang diberi pakan 1% kolesterol selama 28 hari dan dilanjutkan dengan pakan standar (Ch), dan kelompok hiperkolesterolemia yang diberi pakan kolesterol 1% selama 28 hari dan dilanjutkan dengan pemberian polisakarida H. nobilis 400 mg/kg BB (ChP). Perlakuan semua kelompok pengobatan diberikan selama 56 hari. Penimbangan konsumsi pakan dilakukan setiap hari dan penimbangan berat badan dilakukan setiap 7 hari sebelum pemberian perlakuan. Pengukuran kadar profil lipid dilakukan pada hari ke-0, 28 dan 56. Pada akhir perlakuan, tikus dibius dengan menggunakan ketamine (70mg/kgBB) dan xylazine (10mg/kgBB), selanjutnya diambil organ hati untuk dianalisis kadar MDA dan aktivitas SOD serta kandungan antioksidan Cu, Zn-SOD melalui studi immunohistokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polisakarida H. nobilis memiliki aktivitas antioksidan yang lemah, sedangkan daya hambat polisakarida H. nobilis terhadap HMG KoA reduktase tinggi. Kelompok PCh memiliki jumlah konsumsi pakan yang sama (P>0.05) dengan kelompok K- dan K+, tetapi dengan pemberian polisakarida H. nobilis secara bersamaan dapat menekan peningkatan berat badan. Pemberian polisakarida H. nobilis pada kelompok ChP dapat menekan jumlah konsumsi pakan (P0.05) kelompok K-, sedangkan pada kelompok ChP lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan kelompok Ch. Imunoreaktivitas Cu,Zn-SOD terhadap hepatosit dan sitoplasma yang bereaksi dengan antibody pada kelompok PCh lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan kelompok K- dan K+ sedangkan kelompok ChP lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan Ch. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian polisakarida teripang H. nobilis dapat diaplikasikan pada kelompok pencegahan dan pengobatan hiperkolesterolemia. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa, polisakarida H. nobilis memiliki aktivitas antioksidan yang lemah, tetapi memiliki daya hambat yang tinggi terhadap HMG KoA reduktase. Pemberian polisakarida H. nobilis dapat menekan konsumsi pakan, menstabilkan berat badan, menurunkan kadar profil lipid (kolesterol total, trigliserida, LDL) dan kadar MDA, serta meningkatkan HDL, aktivitas SOD, kandungan antioksidan Cu,Zn-SOD pada jaringan hati tikus baik pada kelompok pencegahan maupun pengobatan

    Malaysian Crude Palm Oil Export Performance in Partner’s Countries for the year 2000-2017

    No full text
    Malaysia is the second largest producer and export of Crude Palm Oil (CPO) in the world. However, there is a black campaign made by the European Union (EU) that banned the CPO consumption. This research is to analyse the competitiveness and factors that affect the export performance in China, EU, India, Japan and USA. The analytical methods used in this research are Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamic (EPD) and panel data. The results in RCA shows that Malaysian CPO is competitive in 5 major trade partners. The results of EPD analysis shows that Malaysian CPO commodities for the United States and EU are in the rising star position. Japan experiences retreat conditions. Then CPO exports to China and India experienced a falling star position. The results of the panel data shows that the three variables are significantly affecting the CPO export which are Population in partner’s countries, CPO price and Exchange rate. Meanwhile, GDP in Malaysia is not significant

    Analisis Disruptif Teknologi Terhadap Bauran Pemasaran 9P (Belanja Daring dan Belanja Konvensional).

    No full text
    Disruptif teknologi merupakan era di mana pelaku usaha harus peka terhadap perubahan yang terjadi. Teknologi yang terus berkembang menghadirkan inovasi yang tak terduga. Pelaku usaha yang tidak melakuan perubahan memungkinkan akan menurunkan pangsa pasar. Penelitian ini bertujuan menelaah atribut bauran pemasaran yang dianggap penting oleh konsumen terhadap objek penelitian, dengan objek penelitian belanja daring dan belanja konvensional. Belanja dalam jarigan dikategorikan dengan belanja daring, dan belanja konvensional dikategorikan menjadi dua yaitu belanja modern dan belanja tradisional. Kedekatan atribut dengan objek pada penelitian ini di analisis menggunakan analisis biplot yang berfungsi melihat proximity antara variabel peubah dengan objek penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah; variabel bauran produk, tempat, promosi, bukti fisik, dan pembayaran dekat dengan belanja modern dan daring. Variabel bauran personal dekat dengan belanja modern dan belanja tradisional. Variabel harga dan proses dekat dengan belanja tradisional. Variabel bauran produktivitas dan kualitas dekat dengan belanja daring

    Pengembangan Front-End Aplikasi Control Monitoring Perkebunan Inagrow Berbasis Mobile Pada Sisi Ahli Praktisi dan Pemilik Lahan

    No full text
    Perkebunan kopi memiliki potensi besar dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia. Namun, proses pengawasan lahan perkebunan yang dilakukan masih kurang optimal, karena proses pelaporan perkebunan masih dilakukan secara manual. Berdasarkan masalah tersebut dibangunlah aplikasi control monitoring perkebunan. Penelitian ini berfokus pada pengembangan front end aplikasi mobile untuk pemilik lahan dan ahli praktisi. Metode yang digunakan dalam pengembangan aplikasi adalah prototyping dan dilakukan iterasi sebanyak dua kali. Tujuan pengembangan aplikasi adalah mempermudah pemilik lahan dalam melakukan pengawasan terhadap lahan perkebunan dan mempermudah ahli praktisi dalam memberikan konsultasi secara online tanpa harus pergi ke lahan perkebunan. Fitur utama yang dikembangkan untuk pemilik lahan adalah mengirim task dan melihat laporan perkebunan. Sedangkan fitur utama untuk ahli praktisi adalah membuat pesan chat untuk memberikan konsultasi terkait masalah perkebunan. Aplikasi masih perlu perbaikan dari segi user interface dan user experience

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇