31665 research outputs found
Sort by
Peningkatan Performansi Perangkat Tomografi RPi EIT.
Penelitian ini melaporkan hasil dari pengembangan perangkat tomografi RPi
EIT yang murah dan aman digunakan. Penelitian ini merupakan lanjutan dari
penelitian sebelumnya yang menghadirkan konsep IoT dalam penerapannya
sehingga mudah digunakan. Pengembangan yang dilakukan salah satunya adalah
membuat proses pengiriman data tegangan menjadi lebih efisien sehingga proses
dari Realtime Reconstruction menjadi lebih cepat daripada sebelumnya dan
penerapan komputasi parallel GPU pada rekonstruksi citra. Selain itu,
pengembangan yang ketiga adalah penambahan fitur kalibrasi pada antarmuka
web. Hasil dari peningkatan performansi perangkat RPI EIT diantaranya adalah
pengiriman data tegangan mampu dipercepat 8 kali lipat, penerapan komputasi
parallel GPU pada method yang memiliki iterasi sebanyak 16 kali mampu
mempercepat proses rekonstruksi pada jumlah piksel segitiga diatas 1000 dan
dengan adanya fitur kalibrasi maka sistem ini dapat digunakan untuk rekonstruksi
citra dari berbagai macam phantom resistor
Kajian Regulasi dan Pemenuhan Persyaratan Teknis Laboratorium Pengujian Sesuai ISO 17025 : 2017 di Industri Infant Formula.
Mutu dan keamanan kandungan zat gizi infant formula harus terbukti secara
ilmiah dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Label kemasan
pangan yang sesuai standar juga dapat mendukung dalam melindungi bayi sebagai
sarana komunikasi produsen kepada konsumen mengenai pilihan berdasarkan
informasi. Peran laboratorium penting untuk memastikan terjaminnya mutu dan
keamanan pangan melalui ISO 17025:2017 General Requirements for the
Competence of Testing & Calibration Laborataries.
PT. XYZ sebagai lokasi studi kasus merupakan industri susu yang
memproduksi infant formula yang memiliki laboratorium belum terakreditasi ISO
17025:2017. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh tingkat pemenuhan
regulasi mutu, keamanan dan label kemasan. Selain itu menyusun rekomendasi
dari hasil analisis kesenjangan kondisi dan kemampuan laboratorium pengujian
PT XYZ. Persyaratan parameter yang dianalisis yaitu mutu (karbohidrat dan
vitamin B3) dan keamanan (angka lempeng total dan arsen) melalui kriteria
persyaratan teknis ISO 17025.
Metode yang digunakan adalah identifikasi regulasi mutu keamanan dan
kemasan terkait infant formula. Langkah selanjutnya yaitu menganalisis
kesenjangan pemenuhan persyaratan teknis sesuai ISO 17025:2017. Adapun
persyaratan teknis yang dikaji terdapat didalam subklausul peralatan, ketelusuran
metrologi, pemilihan, verifikasi dan validasi metode uji, pengambilan sampel,
penanganan benda uji. Langkah terakhir yaitu pemberian rekomendasi pemenuhan
parameter teknis. Hasil penelitian menunjukkan pemenuhan persyaratan
parameter infant formula terkait mutu, keamanan dan kemasan sudah melebihi
50%. Penilaian pemenuhan persyaratan terkait mutu, kemanan mikrobiologi dan
kimia serta kemasan secara berurutan adalah 100% (33/33), 50% (3/6), 71.42%
(5/7) dan 91.67% (11/12).
Hasil penilaian menunjukkan bahwa laboratorium pengujian infant formula
sudah mengimplementasikan 93% pemenuhan persyaratan teknis ISO 17025.
Pemenuhan persyaratan teknis terhadap masing-masing sub klausul ketelusuran
metrologi, pemilihan, verifikasi dan validasi metode uji, pengambilan sampel,
penanganan benda uji sudah mencapai 100 %, namun untuk subklausul peralatan
hanya mencapai 78%. Rekomendasi dalam pemenuhan kesenjangan persyaratan
ISO 17025 mencakup kalibrasi peralatan, penulisan logbook, jadwal pengecekan
antara, rekaman peralatan serta perencanaan dan pelaksanaan validasi/verifikasi
Daya Hambat Matcha Cajuput’s Candy pada Pembentukan Biofilm Solobacterium moorei ATCC-22971 secara in Vitro dan Senyawa Sulfur Volatil pada Oral Volunter.
Solobacterium moorei diketahui berasosiasi dengan halitosis karena mampu
menghasilkan senyawa sulfur volatil (VSC) di dalam rongga mulut. Salah satu
metode mengurangi halitosis adalah dengan cara menghambat aktivitas bakteri S.
moorei yang berpotensi membentuk biofilm, sehingga VSC yang terbentuk juga
dapat ditekan. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa matcha cajuput’s candy
sukrosa (MCCS) mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab halitosis,
yaitu Porphyromonas gingivalis sekaligus mengurangi kadar metil merkaptan yang
merupakan VSC yang dihasilkan oleh bakteri tersebut. Penelitian ini bertujuan
mengetahui daya hambat matcha cajuput’s candy sukrosa (MCCS) dan matcha
cajuput’s candy non sukrosa (MCCNS) dengan konsentrasi matcha x%, x-0.5% dan
x+0.5% terhadap pembentukan biofilm S. moorei ATCC-22971 penyebab halitosis
secara in vitro dan mengetahui potensi matcha cajuput’s candy dalam menurunkan
kadar VSC penyebab bau mulut pada volunter. Penelitian ini juga bertujuan
mengetahui nilai kesukaan panelis terhadap sensori matcha cajuput’s candy. Hasil
menunjukkan bahwa matcha cajuput’s candy dan cajuput’s candy tanpa matcha
mampu menghambat pembentukan biofilm S.moorei ATCC-22971 lebih baik
dibandingkan kontrol (suspensi bakteri tanpa perlakuan permen). Konsentrasi
matcha sebesar x% dalam matcha cajuput’s candy mampu menurunkan biofilm
secara nyata dibandingkan cajuput’s candy tanpa penambahan matcha, ditandai
dengan penurunan nilai optical density (OD). Penurunan viabilitas biofilm paling
tinggi yaitu sebesar 3 log dengan perlakuan MCCNS x+0.5%. Secara umum, bahan
baku utama yaitu sukrosa dan non sukrosa pada matcha cajuput’s candy tidak
memiliki perbedaan yang nyata dalam menghambat pembentukan biofilm S. moorei
ATCC-22971 secara in vitro. Berdasarkan uji bau mulut menunjukkan bahwa
semua sampel permen memiliki kemampuan yang sama dalam mengurangi bau
mulut volunter dengan halitosis sedang menjadi tidak ada bau mulut. Pengujian
sensori menunjukkan bahwa tingkat kesukaan panelis terhadap matcha cajuput’s
candy berada pada tingkat agak suka (>3 dari 6)
Optimisasi Penjadwalan dan Pemuatan Tow Train dalam Feeding Process Suku Cadang Menggunakan Integer Linear Programming
Dalam industri otomotif, pengaturan feeding process suku cadang merupakan
suatu masalah yang tidak dapat diabaikan. Terdapat empat permasalahan keputusan
dalam pengaturan feeding process suku cadang menggunakan tow train, yaitu
perencanaan lokasi supermarket, penentuan rute tow train, pengaturan jadwal tow
train, dan penentuan muatan untuk setiap tur. Karya ilmiah ini menyajikan sebuah
model optimisasi untuk masalah penjadwalan tow train sekaligus penentuan muatan
untuk setiap tur berdasarkan integer linear programming dengan tujuan agar
didapatkan jadwal tow train dan muatan suku cadang yang optimal sehingga dapat
mengefisiensikan biaya operasional tow train. Model diimplementasikan
menggunakan bantuan software LINGO 18.0 pada masalah penjadwalan tow train
yang mengirimkan suku cadang ke 9 work station dengan periode produksi selama
60 work cycle. Hasil implementasi menggunakan komputer berprosesor 2.20 GHz
dan RAM 8.00 GB diperoleh solusi optimum dalam waktu 2 jam 28 menit 17detik
Evaluasi Viabilitas dan Vigor Benih Padi Varietas IPB 3S selama Penyimpanan.
Penyimpanan benih menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga ketersediaan benih padi. Penggunaan benih bermutu untuk mencukupi pertanaman mendorong perlunya pengujian dan pelabelan ulang untuk benih yang sudah habis masa edarnya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi viabilitas dan vigor beberapa lot benih padi varietas IPB 3S selama penyimpanan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, IPB, dari bulan Januari hingga Oktober 2017. Penelitian ini menggunakan rancangan petak tersarang dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu periode simpan yang terdiri atas tiga taraf yaitu 6, 9 dan 12 bulan setelah panen. Faktor kedua adalah lot benih yang terdiri atas 10 taraf, yaitu L1-L10. Hasil penelitian menunjukkan viabilitas seluruh lot benih padi IPB 3S yang telah disimpan selama 12 bulan masih berada pada kondisi optimal (daya berkecambah 80.3-97.7%) untuk disimpan atau ditanam kembali. Beberapa lot benih padi sudah mengalami penurunan vigor setelah disimpan 12 bulan, yaitu L7 dan L10. Lot benih L7 dan L10 sudah memasuki Periode III (periode kritis), sedangkan lot benih yang lain masih dalam Periode II (periode simpan) menurut konsepsi Steinbauer-Sadjad. Selain faktor penyimpanan, viabilitas dan vigor benih juga dipengaruhi oleh lot benih. Lot benih yang sebelumnya disimpan pada kondisi simpan ruang AC (17-19 ºC) selama 6 bulan pertama setelah panen dapat mempertahankan viabilitas dan vigor benih dibandingkan dengan lot benih yang disimpan dalam kondisi suhu kamar (26-31 ºC) selama 6 bulan pertama setelah panen. Lot benih dengan kondisi simpan dan viabilitas awal yang sama juga belum tentu memiliki vigor daya simpan yang sama
Kualitas dan Daya Fertilisasi Spermatozoa Semen Beku Sapi Friesian Holstein yang Disimpan dalam Waktu yang Berbeda
Kriopreservasi semen adalah penyimpanan semen pada suhu rendah (-196 oC) dalam nitrogen cair dengan tujuan penggunaan masa depan. Spermatozoa yang dibekukan dalam nitrogen cair dapat bertahan hidup untuk waktu yang lama. Kehidupan spermatozoa dapat dipertahankan jika manajemen kontainer yang berisi semen beku dilakukan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kualitas dan kemampuan fertilisasi post-thawing semen beku sapi Friesian Holstein (FH) setelah disimpan dalam waktu yang lama. Penelitian menggunakan semen beku sapi FH yang telah disimpan selama 25, 20, 15, 10, 5 dan 1 tahun dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang, Jawa Timur. Variabel evaluasi post-thawing semen beku yakni motilitas spermatozoa menggunakan computer-assisted sperm analysis (CASA), keutuhan membran plasma (MPU) menggunakan hypo-osmotic swelling (HOS) test, abnormalitas dan viabilitas spermatozoa menggunakan pewarnaan eosin-nigrosin. CASA juga menilai curvilinear velocity (VCL), straight-line velocity (VSL), average pathway velocity (VAP), linearity (LIN), straightness (STR), wobble (WOB), beat cross frequency (BCF), amplitude of lateral displacement (ALH).
Pengujian daya fertilisasi secara in vitro menggunakan medium IVMD101 untuk tahap maturasi dan medium IVF100 untuk tahap fertilisasi. Data diolah menggunakan one-way ANOVA dan disajikan dalam rerata ± SEM, jika terdapat perbedaan maka dilakukan dengan uji lanjut Duncan. Motilitas total dan motilitas progresif spermatozoa tertinggi ditunjukkan oleh spermatozoa yang disimpan selama 5 tahun diikuti spermatozoa yang disimpan selama 15, 10, 1 dan 20 tahun. Motilitas terendah ditunjukkan oleh spermatozoa yang disimpan selama 25 tahun. Selaras dengan nilai motilitas, viabilitas spermatozoa terendah (P0.05) dengan nilai 65 – 78%. Abnormalitas spermatozoa menunjukkan <20% dan sesuai dengan persyaratan yang tertuang dalam Permentan no 10/Permentan/PK.210/3/2016. Abnormalitas spermatozoa tertinggi ditunjukkan semen beku dengan lama simpan 10 tahun, dengan nilai 10.61 ± 2.3% dan nilai abnormalitas spermatozoa pada lama simpan lainnya menunjukkan antara 3.5 sampai dengan 6%. Nilai MPU spermatozoa semen beku sapi FH pada lama simpan yang berbeda menunjukkan nilai 85 sampai dengan 95%.
Hasil penelitian untuk nilai VCL, VSL dan VAP tidak menunjukkan perbedaan (P>0.05) dengan nilai masing-masing 100 sampai dengan 150 μm/s, 39 sampai dengan 65 μm/s dan 53sampai dengan 75 μm/s. Nilai STR pada semua lama simpan sesuai standar >50% berkisar 67 – 105% dan LIN antara 31 sampai dengan 55%, semen beku dengan lama simpan 1 dan 5 tahun di bawah standar optimal 0.05) dengan nilai 1 sampai dengan 2 μm dan BCF menunjukkan nilai 10 sampai dengan 23 Hz.
Daya fertilisasi spermatozoa dari lama simpan berbeda tidak menunjukkan perbedaan (P>0.05). Daya fertilisasi untuk pembentukan pronukleus normal (2PN) dengan antara 43 sampai dengan 60% dan polispermia (>2PN) dengan nilai antara 1 sampai dengan 6%. Penelitian ini menyimpulkan kualitas semen beku sapi FH yang disimpan selama 25, 20, 15, 10, 5 dan 1 tahun tidak berbeda dan masih memiliki kemampuan fertilisasi yang tinggi sehingga masih dapat digunakan untuk program inseminasi buatan (IB)
Perbaikan Pertumbuhan Tanaman Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr Perr) dengan Aplikasi Pupuk Organik-Anorganik dan Triakontanol.
Upaya untuk memperbaiki pertumbuhan tanaman cengkeh dapat dilakukan
dengan cara penambahan unsur hara berupa pupuk organik dan anorganik yang
cepat tersedia bagi tanaman serta triakontanol yang berperan penting dalam proses
fisiologi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendapatkan paket pupuk
organik-anorganik yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman
cengkeh, (2) mendapatkan konsentrasi triakontanol terbaik untuk meningkatkan
pertumbuhan tanaman cengkeh, (3) mendapatkan kombinasi pupuk organikanorganik
dan triakontanol yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan
tanaman cengkeh.
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Bogor pada
bulan Oktober 2017 sampai dengan April 2018. Penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama
adalah paket dosis pupuk organik-anorganik yang terdiri atas 6 taraf, yaitu tanpa
pupuk, 100% dosis anjuran pupuk anorganik (d.a.p.a), 25% dosis anjuran pupuk
organik (d.a.p.o) + 75% d.a.p.a, 50% d.a.p.o + 50% d.a.p.a, 75% d.a.p.o + 25%
d.a.p.a, 100% d.a.p.o. Faktor kedua yaitu konsentrasi triakontanol yang terdiri atas
tanpa triakontanol, 2 mg l-1 dan 4 mg l-1. Dengan demikian, terdapat 18 kombinasi
perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang lima kali, sehingga terdapat 90
satuan percobaan. Masing-masing satuan percobaan digunakan satu tanaman,
sehingga dibutuhkan 90 tanaman cengkeh.
Aplikasi pupuk organik-anorganik berpengaruh nyata terhadap diameter
batang, jumlah cabang, klorofil b, karatenoid, laju transpirasi, sedangkan pupuk
organik-anorganik berpengaruh sangat nyata terhadap peubah luas daun, klorofil a,
total klorofil. Perlakuan pupuk organik-anorganik yang terbaik yaitu taraf 25%
d.a.p.o + 75% d.a.p.a, yang mampu meningkatkan diameter batang, jumlah cabang
primer, luas daun, klorofil a, klorofil b, total klorofil, karatenoid dan laju transpirasi.
Aplikasi triakontanol hanya memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman
yang mulai terlihat dari 6-24 MSPP dan luas daun. Interaksi antara pupuk organikanorganik
dan triakontaol berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang primer,
kerapatan stomata dan berpengaruh sangat nyata pada laju transpirasi
Penentuan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penyebaran Malaria di Indonesia Tahun 2017 dengan Regresi Terboboti Geografis Kekar
Malaria menjadi salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan
kematian. Morbiditas malaria pada suatu wilayah ditentukan dengan Annual
Parasite Incidence (API) per tahun, yaitu jumlah kasus positif malaria per 1 000
penduduk dalam satu tahun. Selain negara-negara di Afrika, Indonesia merupakan
salah satu negara dengan jumlah kasus malaria tertinggi. Satu wilayah dengan kasus
malaria tinggi akan menyebarkan malaria ke wilayah lainnya. Hal ini
mengindikasikan adanya unsur spasial dalam penyebaran malaria di berbagai
daerah. Setiap kabupaten/kota memiliki kondisi geografis, masalah lingkungan,
masalah perilaku penduduk, dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang berbedabeda.
Perbedaan kondisi di setiap kabupaten atau kota tersebut dapat menyebabkan
perbedaan dalam penyebaran malaria di setiap kabupaten atau kota. Regresi
Terboboti Geografis (RTG) adalah metode yang dapat diterapkan untuk masalah
keheterogenan ragam akibat adanya pengaruh spasial. Metode RTG tidak resisten
terhadap pencilan sehingga apabila terdapat pencilan pada data maka akan
mengakibatkan kekeliruan pada kesimpulan hubungan regresi. Penelitian ini
menggunakan analisis RTG Kekar (RTGK) dengan metode penduga M untuk
menangani pencilan tersebut. Metode RTGK dengan penduga M menghasilkan nilai
pseudo- ��������2 sebesar 81.05% yang lebih baik dari model RTG. Faktor yang
berpengaruh signifikan terhadap nilai API berbeda-beda tiap lokasinya. Penelitian
ini menggunakan lima peubah penjelas yang diindikasikan sebagai faktor yang
memengaruhi nilai API, yaitu suspek, Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum,
Slide Positivity Rate (SPR), dan Annual Blood Examination Rate (ABER). Peubah
Plasmodium vivax berpengaruh di Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan
dan Pulau Sulawesi. Peubah Plasmodium falciparum berpengaruh di Pulau
Sumatera, sebagian besar Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan sebagian besar Pulau
Sulawesi. Peubah SPR berpengaruh di Pulau Sumatera, sebagian kecil Pulau Jawa
dan Pulau Kalimantan, sebagian besar Pulau Sulawesi dan seluruh Pulau Papua.
Peubah Annual Blood Examination Rate (ABER) berpengaruh di seluruh Indonesia
Arahan Pengembangan Kopi Robusta dalam Realisasi Program Desa Emas di Desa Mekarbuana – Kabupaten Karawang
Kopi robusta sebagai salah satu komoditas utama yang dikembangkan di Desa Mekarbuana dalam rangka realisasi program Desa Enterpreneur, Mandiri, Adil dan Sejahtera (Emas). Produksi kopi robusta masih flutuatif antara 0.2 – 0.8 ton ha-1. Oleh karena itu, peningkatan produksi kopi robusta penting untuk dikaji. Bahan yang digunakan berupa sampel tanah dari Satuan Peta Lahan (SPL) terpilih pada kedalaman 0 – 20 cm, 20 – 40 cm, dan 40 – 60 cm. Kemudian ditetapkan pH tanah, Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah, kation-kation basa dapat ditukar (dd). Kejenuhan Basa (KB), P2O5, K2O, C-organik dan Al-dd. Hasil analisis Principle Component Analysis (PCA) menunjukkan bahwa terdapat tiga PC yang berpengaruh nyata pada produksi. Kemasaman tanah (PC 1) menyumbang 42.635% dari total varian, terdiri dari pH, Ca-dd, Kejenuhan Basa, dan Al-dd. KTK tanah dan P-potensial (PC 2) menyumbang varian sebesar 18.539%, terdiri dari Kapasitas Tukar Kation, K-dd, Mg-dd, P2O5, dan K2O. C-organik (PC 3) menyumbang varian sebesar 11.299%, terdiri dari Na-dd (0.783) dan C-organik (-0.764). Hasil PCA juga menunjukkan bahwa input berupa kapur dapat meningkatkan produksi kopi robusta. Hasil berdasarkan analisis lanjutan dengan SWOT (Strength, Weakness, Opportinities, Threats) didapatkan tiga aspek dalam pengembangan kopi robusta. Ketiga aspek tersebut diantaranya produksi kopi, kualitas kopi serta pemasaran kopi robusta yang kemudian menjadi rekomendasi pengembangan kopi robusta di Desa Mekarbuana
Pati Sagu Modifikasi Sebagai Bahan Edible Film
Sagu (Metroxylon sp) merupakan tanaman yang kaya akan kandungan pati
dengan potensi yang cukup besar di Indonesia namun pemanfaatan masih rendah.
Pati sagu alami dari tiga varietas yaitu, sagu Tuni (Metroxylon rumphii Mart.), Ihur
(M. sylvestre Mart.) dan Molat (M. sagu Rottb.) memiliki kandungan amilosa yang
tinggi sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembentuk edible
film.
Mutu pati sagu alami sesuai dengan standar mutu SNI 01-3729-1995 dan
SIRIM (1972) kecuali warna pada pati sagu varietas Molat dan Ihur. Pati sagu
varietas Molat memiliki kandungan proksimat tertinggi yaitu, kadar protein (0.40%
bk), kadar lemak (0.41% bk), kadar amilosa (38.79%), kadar pati (90.27% bk),
ukuran granula yang besar (40.60 μm), swelling power rendah (32.57%), kejernihan
pasta rendah (62.50%T), freeze-thaw tinggi (79.92% sineresis) dan memiliki
keunggulan sifat amilografi dari yang lainnya dengan karakter gel yang kuat dan
stabil terhadap pengadukan, pemanasan dan pendinginan. Pati sagu varietas Tuni
memiliki warna L (tingkat kecerahan) (95.93%) dan kejernihan pasta yang tinggi
(74.35%T).
Pati alami dengan kadar amilosa yang tinggi memiliki sifat pembentuk film
yang baik, namun edible film yang dihasilkan memiliki sifat fisik dan mekanis yang
rendah dan bersifat hidrofilik dengan nilai contact angle (CA) 32.0o. Hidrofobisitas
edible film berbasis pati sagu alami dapat ditingkatkan dengan meningkatkan
derajat substitusi (DS) pati melalui reaksi asetilasi. Akan tetapi peningkatan nilai
DS tersebut dapat menurunkan kekuatan tarik edible film. Untuk mendapatkan nilai
DS optimum perlu dilakukan optimasi kondisi proses asetilasi. Optimasi proses
asetilasi pati sagu terhadap tensile strength (TS) dan CA edible film dilakukan
dengan metode permukaan respon (RSM). Kondisi proses asetilasi adalah
konsentrasi asam asetat anhidrida, waktu reaksi dan pH. Hasil penelitian ditemukan
konsentrasi asam asetat anhidrida dan pH berpengaruh nyata terhadap kadar asetil
dan DS pati sagu asetat sedangkan nilai TS dan CA edible film pati sagu asetat
hanya dipengaruhi konsentrasi asam asetat anhidrida dan pH. Konsentrasi asam
asetat anhidrida dan nilai pH berpengaruh negatif terhadap TS dan berpengaruh
positif terhadap CA. Kondisi optimum asetilasi untuk TS dan CA edible film pati
sagu asetat adalah konsentrasi asam asetat anhidrid 44%, pH 8.24 dan waktu reaksi
60 menit. Kondisi optimal ini menghasilkan nilai TS 2.80 MPa dan CA 42.18o.
Karakteristik sifat pati sagu ketika diaplikasikan dalam pengolahan pangan
akan berdampak pada produk akhir. Informasi mengenai karakteristik sifat fisik,
kimia, fungsional dan sifat pasting sangat diperlukan, karena pati dari sumber
botani yang berbeda memiliki karakteristik yang berbeda. Sifat-sifat tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sumber pati, ukuran granula dan kadar
amilosa. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik pati sagu sebagai
bahan edible film, menentukan kondisi proses asetilasi optimum untuk
meningkatkan sifat hidrofobisitas edible film dan mengevaluasi stabilitas edible film
selama penyimpanan.
Setelah dilakukan validasi diperoleh hasil eksperimen TS 2.80 MPa dan CA 49.78o,
hasil ini mirip dengan nilai prediksi. Perbedaan antara nilai aktual dan optimum
adalah 0% untuk TS dan CA 13.5%. Model optimasi dapat diterima karena nilai
eksperimen sesuai dengan prediksi model. Asetilasi pati sagu dapat meningkatkan
sifat hidrofobisitas edible film.
Pada kondisi proses asetilasi yang optimal karakteristik pati sagu asetat lebih
baik dari pati alami. Asetilasi pati sagu meningkatkan tingkat kecerahan (L) bubuk
pati sagu dari 76.62 menjadi 91.64, menurunkan nilai chroma dari 34.01 menjadi
6.95, kadar abu (0.23% bk), kadar lemak (0.15% bk), kadar protein (0.33% bk),
kadar amilosa (29.56%), meningkatkan nilai kelarutan dalam air dari 15.44%
menjadi 36.70%, swelling power 32.57 menjadi 62.32, kejernihan pasta dari
62.50%T menjadi 76.25%T, dan menurunkan nilai freeze-thaw stability dari
79.92% sineresis menjadi 75.23% sineresis. Asetilasi pati sagu juga menurunkan
sifat amilografi, peak viscosity dari 6 671 cP menjadi 2 416 cP, breakdown viscosity
dari 4 713 cP menjadi 1 158 cP, final viscosity dari 3 552 cP menjadi 2 066 cP dan
setback viscosity dari 1 594 cP menjadi 808 cP dan kristalinitas pati asetat (20.37%)
dan edible film pati asetat (10.10%). Karakteristik pati ini selanjutnya digunakan
untuk melihat stabilitas edible film selama penyimpanan