31665 research outputs found
Sort by
Antibiotic resistance in Staphylococcus aureus isolated from one broiler farm at Cibangbara Village, Sukabumi District
Antibiotics are widely used in poultry for therapeutic, prophylactic, and
growth promotion purposes. S. aureus resistant to antibiotic, also an opportunist
pathogen cause infection in human and animal. The aim of this research was to
determine the antibiotic resistance of S. aureus were isolated from the cloaca
swabs in from one broilers farm in Cibangbara Village, Sukabumi District. Fifteen
S. aureus isolated showed present of S. aureus. The antibiotics that were used in
this study were tetracycline, oxytetracycline, erythromycin, nalidixic acid,
ampicillin, chloramphenicol and gentamicin. The resistance of S. aureus to
various antibiotics was tested by the Kirby-Bauer method. The results were
compared with Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI 2008). S. aureus
isolates were resistant towards tetracycline (100%), oxytetracycline (100%),
erythromycin (100%), nalidixic acid (60%), ampicillin (26.7%), chloramphenicol
(20%), and gentamicin (6.7%). In conclusion, S. aureus showed resistant to
tetracycline, oxytetracycline and erythromycin while still susceptible toward
gentamicin and chloramphenicol
Evaluasi Piriproksifen dalam Ovitrap untuk Mengendalikan Nyamuk Aedes spp pada Skala Semi Lapang
Ovitrap merupakan alternatif cara pengendalian nyamuk yang dapat menurunkan kepadatan populasi Aedes spp, vektor demam berdarah dengue. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi piriproksifen dalam ovitrap untuk mengendalikan Aedes spp melalui mekanisme otodiseminasi oleh nyamuk tersebut pada skala semi lapang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2018 di lingkungan (outdoor) Hotel Braja Mustika Bogor. Ovitrap yang digunakan terdiri atas 2 jenis yaitu (1) In2Care trap yang di dalamnya dilengkapi dengan piriproksifen, Beauveria bassiana dan ragi, serta (2) ovitrap standar (tanpa insektisida). In2Care trap (30 buah) dipasang dengan jarak 400 m2/trap, sedangkan ovitrap standar (10 buah) dengan jarak 4 m secara acak di sekitar In2Care trap. Pengamatan dilakukan setiap satu kali dalam seminggu selama 2 bulan. Parameter yang diamati pada In2Care trap adalah jumlah larva dan pupa Aedes spp baik yang hidup maupun yang mati. Adapun pengamatan pada ovitrap standar adalah keberadaan telur Aedes spp, jumlah larva, pupa dan nyamuk yang eklosi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa In2Care trap efektif menarik nyamuk Aedes spp untuk bertelur dan berkembangbiak (86.7-100.0%). Jumlah larva yang teramati di dalam In2Care trap berkisar antara 10-50 larva (33.3-80.0%), dan selanjutnya seluruh larva yang berkembang di dalam In2Care trap (100%) mati setelah dipelihara di laboratorium selama 2 bulan. Hasil pengamatan pada ovitrap standar terlihat adanya pupa yang mati (22.7-80.8%) dan dewasa yang gagal eklosi (26.2-83.6%) selama 2 bulan pengamatan. Hal ini menunjukkan adanya mekanisme otodiseminasi piriproksifen oleh Aedes spp dari In2Care trap ke ovitrap standar ketika bertelur. Hasil wawancara efek dari pemasangan In2Care trap menunjukkan bahwa (1) tingkat gangguan gigitan nyamuk menurun dari 80% menjadi 0%, (2) frekuensi gigitan nyamuk dari beberapa kali dalam sehari menjadi tidak ada, (3) pengunjung hotel tidak merasakan gigitan nyamuk, (4) pihak hotel puas dengan hasil pemasangan ovitrap
Residu Hormon dan Bahan Kimia Berbahaya pada Daging di Kota Bogor 2014-2017
Peningkatan pengawasan daging telah dilakukan oleh Dinas Pertanian
Bidang Peternakan Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet),
Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Peternakan Pemerintah Kota Bogor, dengan
cara melakukan berbagai pengujian yaitu pengujian residu hormon dan bahan
kimia berbahaya lain. Tulisan ini bertujuan menganalisa tingkat keamanan daging
berdasarkan kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh Dinas, sehingga mampu
memberikan informasi tentang efektifitas kegiatan pengawasan tersebut. Desain
penelitian yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan
analisis data sekunder di Kota Bogor tahun 2014-2017. Penelitian ini
menunjukkan residu hormon Trenbolone Acetate (TBA) yang ditemukan tidak
pernah melebihi ambang batas dan residu formalin yang ditemukan tahun 2014-
2015 tidak ditemukan lagi pada tahun 2016-2017
Infeksi Cacing Gastrointestinal pada Kuda Delman di Kebun Binatang Ragunan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, derajat infeksi, dan
prevalensi kecacingan saluran pencernaan pada kuda delman di Kebun Binatang
Ragunan. Sampel feses dikoleksi dari 10 ekor kuda delman setiap minggu sebanyak
delapan kali di Kebun Binatang Ragunan. Pemeriksaan sampel feses menggunakan
metode McMaster, pengapungan, dan filtrasi bertingkat untuk mengetahui
keberadaan telur cacing saluran pencernaan. Pemeriksaan larva infektif (L3)
dilakukan pada sampel yang positif terhadap kelompok Strongyle. Hasil penelitian
menunjukkan 10 kuda (100%) terinfeksi cacing saluran pencernaan. Jenis-jenis
cacing yang menginfeksi kuda delman di Kebun Binatang Ragunan yaitu Strongyle
(100%) dan Parascaris equorum (20%). Kuda mengalami infeksi tunggal oleh
Strongyle (100%) and infeksi campuran oleh Strongyle dan Parascaris equorum
(20%). Derajat infeksi kecacingan termasuk dalam kategori ringan. Tingkat
prevalensi Strongyle sebesar 100% pada semua rentang umur, sedangkan
Parascaris equorum hanya menyerang dua kuda muda yang berusia empat tahun
dengan prevalensi sebesar 20%. Hasil identifikasi larva infektif Strongyle
menunjukkan adanya larva Strongylus vulgaris dan Strongylus equinus
Perkembangan Sikonia, Morfologi Bunga, serta Perkecambahan Benih Ficus hispida L.f. dan F. racemosa L. di Kampus IPB Darmaga, Bogor
Keberadaan ficus di hutan hujan tropis memiliki banyak peranan yang
tidak dapat digantikan oleh jenis lainnya, oleh karena itu jenis ficus didaulat
sebagai spesies kunci. Informasi mengenai perkembangan sikonia ficus masih
terbatas di Indonesia, khususnya mengenai F. hispida dan F. racemosa. Penelitian
ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan tahapan perkembangan
sikonia dan bunga F. hispida dan F. racemosa berdasarkan karakteristik
morfologinya. Sikonia dengan berbagai ukuran dipilih dan dilakukan pengukuran
diameter, lebar rongga, dan tebal dinding. Pengamatan secara visual dilakukan
terhadap warna sikonia, kondisi brachtea involucrata, dan jumlah serangga
penyerbuk yang ditemukan di dalam sikonia. Sampel bunga ficus dipilih
berdasarkan hasil analisis tahapan perkembangan sikonia yang diamati. Sampel
benih diekstrak dari 100 gram sikonia F. hispida dan F. racemosa.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tahapan
perkembangan sikonia jantan dan sikonia betina F. hispida. Sikonia jantan dan
sikonia F. racemosa mengalami 5 fase perkembangan yaitu fase A, B, C, D, dan E,
sedangkan sikonia betina mengalami 4 fase perkembangan yaitu fase A, B, C dan
E. Sikonia betina F. hispida tidak mengalami fase D karena tidak memiliki bunga
jantan. Hasil pengamatan karakter morfologi bunga menunjukkan bahwa bunga
betina dan bunga gall pada F. hispida dan F. racemosa dapat dibedakan
berdasarkan tepal, stigma, dan panjang stilus, sedangkan karakter pembeda pada
bunga jantan ialah jumlah stamen. Berdasarkan hasil pengamatan bagian-bagian
bunga F. hispida dan F. racemosa lebih mudah dibedakan pada fase C. Jumlah
bunga jantan, bunga betina, dan bunga gall pada F. hispida dan F. racemosa
bervariasi, namun secara umum bunga jantan berjumlah lebih sedikit
dibandingkan dengan bunga betina dan bunga gall. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa benih F. hispida dan F. racemosa yang dihasilkan pada akhir fase E dalam
satu musim tergolong melimpah meskipun persen kecambah benih keduanya tidak
terlalu tinggi. Benih F. hispida dan F. racemosa bersifat rekalsiltran sehingga
sebaiknya segera dikecambahkan
Tingkat Kemiskinan di Pulau Papua Tahun 2011-2017
Pembangunan ekonomi adalah serangkaian upaya dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat secara keseluruhan. Salah satu tujuan pembangunan ekonomi adalah pengentasan kemiskinan. Kemiskinan memiliki arti kehilangan kesejahteraan. Provinsi Papua dan Papua Barat yang terletak di Pulau Papua memiliki tingkat kemiskinan tertinggi pertama dan kedua di Indonesia selama tahun 2011 hingga 2017. Apabila dilihat dalam level kabupaten/kota, tingkat kemiskinan di Pulau Papua sangat beragam.
Tujuan studi ini adalah: (1) untuk menganalisis pola penyebaran tingkat kemiskinan di Pulau Papua tahun 2011 dan 2017; (2) untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kemiskinan masing-masing kabupaten/kota di Pulau Papua dengan mempertimbangkan ruang geografis pada data panel. Pola penyebaran tingkat kemiskinan dianalisis secara deskriptif melalui peta penyebaran tingkat kemiskinan. Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kemiskinan masing-masing kabupaten/kota dianalisis secara kuantitatif menggunakan model Geographically Weighted Panel Regression (GWPR) yang menghasilkan model lokal. Data yang digunakan merupakan data tahunan yang mencakup 40 kabupaten/kota di Pulau Papua dengan periode penelitian dari tahun 2011 sampai 2017.
Hasil analisis pola penyebaran tingkat kemiskinan di Pulau Papua menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan yang tinggi di Pulau Papua tersebar di daerah pegunungan. Hasil estimasi menggunakan model GWPR menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kemiskinan berbeda antara satu kabupaten/kota dengan yang lainnya. Hal ini diakibatkan karena adanya heterogenitas spasial atau keragaman spasial. Variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap penurunan tingkat kemiskinan adalah: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berpengaruh di 18 kabupaten/kota, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita sektor primer berpengaruh di 7 kabupaten/kota; PDRB per kapita sektor sekunder berpengaruh di 26 kabupaten/kota; dan PDRB per kapita sektor tersier berpengaruh di 14 kabupaten/kota.
Prioritas kebijakan dalam upaya penurunan tingkat kemiskinan di masing-masing kabupaten/kota adalah: peningkatan output sektor sekunder di Nabire, Paniai, Mimika, Waropen, Puncak, Dogiyai, Intan Jaya, dan Deiyai; peningkatan output sektor tersier di Fakfak, Kaimana, Teluk Wondama, Teluk Bintuni, Manokwari, Sorong Selatan, Sorong, Raja Ampat, Tambrauw, Maybrat, Kepulauan Yapen, Biak Numfor, Supiori, dan Kota Sorong; peningkatan IPM dan output sektor sekunder di Merauke, Jayawijaya, Puncak Jaya, Boven Digoel, Mappi, Asmat, Yahukimo, Tolikara, Mamberamo Raya, Nduga, dan Lanny Jaya; peningkatan IPM, output sektor primer, dan output sektor sekunder di Jayapura, Pegunungan Bintang, Sarmi, Keerom, Mamberamo Tengah, Yalimo, dan Kota Jayapura
Evaluasi Kualitas Pupuk Hayati yang Beredar di Masyarakat
Pupuk hayati memiliki prospek yang baik dalam pengembangan usaha tani
sebagai alternatif dalam pengelolaan hara ramah lingkungan. Beragamnya jenis
pupuk hayati memberi keuntungan bagi petani karena terdapat banyak pilihan yang
tersedia. Akan tetapi, tidak semua kualitas pupuk hayati yang beredar di masyarakat
sesuai dengan hasil uji mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena
itu, evaluasi kualitas pupuk hayati penting untuk dilakukan. Kualitas pupuk hayati
diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011
tentang pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah. Peraturan Menteri
Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 telah di perbaharui dengan
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 01 tahun 2019. Evaluasi kualitas pupuk hayati
ditentukan berdasarkan populasi mikrob fungsional dan informasi yang tertulis
dalam label kemasan. Informasi yang harus tertulis dalam label kemasan antara
lain : nama komersial pupuk, bentuk pupuk, produsen, nomor pendaftaran, tanggal
produksi, tanggal kadaluarsa, jenis dan jumlah mikrob, isi kemasan, serta petunjuk
penggunaan. Dari 10 jenis pupuk hayati yang diuji, terdapat sembilan pupuk atau
90% yang tidak memenuhi syarat menurut jumlah populasi mikrob. Menurut
persyaratan label kemasan pupuk, terdapat tujuh pupuk atau 70% yang tidak
memenuhi syarat . Sebanyak lima pupuk atau 50% dengan izin pendaftaran telah
kadaluarsa serta tanpa informasi jumlah mikrob, tujuh pupuk atau 70% tanpa
informasi tanggal produksi, dan tiga pupuk atau 30% tanpa informasi tanggal
kadaluarsa
Pemanfaatan Data Curah Hujan Ekstrem Harian dalam Penilaian Risiko Banjir
Indonesia sebagai negara tropis rentan terhadap dampak dan kejadian ekstrem. Salah satu parameter iklim yang paling berpengaruh yaitu curah hujan. Curah hujan ekstrem dianggap penting untuk dikaji karena memiliki sifat yang variatif baik secara spasial maupun temporal. Dampak yang sering ditimbulkan oleh curah hujan ekstrem yaitu banjir. Faktor-faktor yang menyebabkan banjir selain curah hujan, yaitu penutupan lahan dan topografi. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan indeks risiko banjir yang dihasilkan dari penggunaan data curah hujan ekstrem harian dan tanpa menggunakan data curah hujan ekstrem harian. Indeks risiko banjir dihasilkan dari overlay parameter Topographic Wetness Index (TWI), penutupan lahan, dan curah hujan ekstrem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks banjir yang dihasilkan dari penggunaan data curah hujan ekstrem harian yaitu 1.8 – 4.8. sedangkan, indeks risiko banjir yang dihasilkan tanpa menggunakan data curah hujan ekstrem harian yaitu 1.8 – 4.7. Indeks risiko banjir menggunakan data curah hujan ekstrem harian lebih menjelaskan secara spesifik daerah – daerah yang berpotensi terjadinya banjir
Khasiat Ekstrak Etanol Daun Surian (Toona sinensis) sebagai Antihiperkolesterolemia pada Tikus Galur Sprague-Dawley
Daun surian selama ini belum diketahui khasiatnya sebagai obat hiperkolesterolemia. Penelitian ini bertujuan menguji khasiat ekstrak etanol daun surian sebagai antihiperkolesterolemia pada tikus galur Sprague-Dawley yang mengalami kondisi hiperkolesterol. Tikus putih jantan sebanyak 24 ekor dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kelompok I (normal) diberi pakan standar, kelompok II (hiperkolesterol) diberi pakan tinggi lemak dan PTU (0.5 mg/kgBB), kelompok III (lovastatin) ditambah lovastatin 0.2857 mg/kgBB, kelompok IV (ekstrak 1) ditambah ekstrak etanol daun surian 200 mg/kgBB, kelompok V (ekstrak 2) ditambah ekstrak etanol daun surian 400 mg/kgBB, serta kelompok VI (ekstrak 3) ditambah ekstrak etanol daun surian 600 mg/kgBB. Pengukuran konsentrasi kolesterol total darah dilakukan setiap minggu pada masa perlakuan menggunakan metode enzimatik kolesterol oksidase (CHOD-PAP) yang diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 501 nm. Dosis ekstrak 400 mg/kgBB dan 600 mg/kgBB berpotensi mengobati kenaikan konsentrasi kolesterol darah dengan menekan kenaikan sebesar 18.55% dan 19.89% lebih besar dibanding dengan kelompok lovastatin sebesar 13.92%
Akitivitas antioksidan dan inhibisi α-glukosidase dari ekstrak akar kuning (Fatuoa pilosa Gaudich) secara in vitro.
Diabetes melitus merupakan salah satu gangguan metabolik pada
metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah
dalam tubuh (hiperglikemia) disebabkan ketidakmampuan tubuh memproduksi
insulin atau sel yang tidak merespon insulin yang dihasilkan. Salah satu tanaman
yang dikenal oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Flores Timur,
untuk mengobati gula darah adalah tanaman akar kuning (Fatoua pilosa
Gaudich). Akar kuning yang telah berbentuk simplisia diekstraksi melalui
perebusan dengan pelarut air selama 2 jam dan maserasi dilakukan dengan cara
merendam simplisia ke dalam pelarut etanol 30%, etanol 70 % dan etanol 96%.
Maserasi dilakukan selama 24 jam dengan shaker pada kecepatan 150 rpm di suhu
ruang.
Penentuan kadar fenolik total dilakukan dengan menggunakan metode
Folin-Ciocalteu, dengan asam galat sebagai standar dan penentuan kandungan
total flavonoid dilakukan dengan menggunakan metode kolorimetri aluminium
klorida (AlCl3), dengan kuersetin sebagai standar. Secara kuantitatif, ekstrak
etanol 70% dari akar kuning memiliki kandungan fenolik total tertinggi dan 96%
ekstrak etanol akar kuning memiliki kandungan flavonoid total tertinggi.
Uji aktivitas antioksidam dengan metode DPPH menggunakan 2.2 diphenyl-
1-picrylhydrazyl (DPPH) sebagai sumber radikal bebas. Hasil penelitian
menunjukkan ekatrak etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan tinggi dengan
nilai IC50 14.62 μg/mL. Ekstrak etanol 70% yang memiliki aktivitas antioksidan
tinggi difraksinasi dengan menggunakan 4 pelarut dengan kepolaran berbeda.
Hasil fraksinasi dilakukan uji aktivias enzim α-glukosidase.
Uji penghambatan aktivitas α-glukosidase menggunakan larutan enzim
dengan konsentrasi 0.04 U/mL, larutan substrat dengan konsentrasi 15 mM
dengan akarbos sebagai pembanding. Prinsip dari uji ini adalah reaksi hidrolisis
pada substrat p-nitrophenyl-α-D-glukopiranosida yang yang menghasilkan α-Dglukosa
dan p-nitrophenol yang berwarna kuning. Fraksi etil asetat memiliki nilai
IC50 paling rendah yaitu 680.54 μg/mL. Fraksi etil asetat yang memiliki aktivitas
penghambatan α-glukosidase lebih tinggi digunakan sebagai penghambat untuk
menentukan jenis penghambatan enzim
Mekanisme penghambatan enzim ditentukan dengan metode Dixon. Nilai
konsentrasi produk diperoleh dengan menggunakan persamaan linear pada kurva
standar p-nitrophenyl. Hasil pengujian menggunakan metode Dixon, diperoleh
plot yang menunjukkan bahwa sampel memiliki mekanisme penghambatan
kompetitif. Identifikasi senyawa aktif berdasarkan hasil terbaik dari aktivitas
inhibisi α-glukosidase menggunakan LC-MS/MS menunjukkan bahwa fraksi etil
asetat akar kuning Senyawa Phellodenol-A dan lupenol yang diduga berpotensi
sebagai antidiabetes