31665 research outputs found
Sort by
Pengaruh Hormon Oksitosin dan Keberadaan Induk Jantan terhadap Keseragaman Waktu Melahirkan pada Ikan Plati Koral Xiphophorus maculatus
Ikan plati koral merupakan ikan yang bereproduksi dengan cara melahirkan (livebearer). Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya ikan plati koral ialah ketidakseragaman waktu induk melahirkan anak dalam suatu pemijahan masal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh hormon oksitosin dan keberadaan induk jantan terhadap keseragaman waktu melahirkan pada ikan plati koral. Dosis hormon oksitosin yang digunakan adalah 0, dan 0.2 ml L-1, dan jumlah induk jantan yang digunakan adalah 0, 1, 2, dan 3 ekor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan dosis hormon oksitosin meningkatkan jumlah induk yang melahirkan. Dosis hormon oksitosin yang dikombinasikan keberadaan induk jantan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap keseragaman waktu melahirkan ikan plati koral. Jumlah induk ikan plati koral yang melahirkan hanya dipengaruhi oleh dosis hormon oksitosin dengan persentase induk melahirkan tertinggi sebesar 53.33% pada dosis 0.2 ml L-1 oksitosin. Perlakuan hormon dan keberadaaan induk jantan juga tidak memiliki interaksi dalam memengaruhi persentase keseragaman waktu melahirkan pada ikan plati koral
Deteksi dan kuantifikasi hamburbalik akustik sedimen tersuspensi dan zooplankton menggunakan instrumen Acoustic Doppler Current Profiler
Salah satu topik yang penting dikaji dalam ilmu hidroakustik adalah
pendeteksian berbagai objek bawah air seperti sedimen tersuspensi, zooplankton,
dan objek-objek lainnya. Karakterisasi tiap objek bawah air memiliki tantangan
tersendiri khususnya pada objek yang berukuran kecil. Proses kuantifikasi sinyal
akustik untuk objek berukuran kecil tersebut dapat dilakukan menggunakan
instrumen hidroakustik frekuensi tinggi. Tujuan umum penelitian ini adalah
mendeteksi dan mengkuantifikasi nilai hamburbalik dari sedimen tersuspensi dan
zooplankton dengan instrumen Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) dan
mengidentifikasi sinyal akustik yang diperoleh dari instrumen tersebut.
Pada penelitian pendahuluan, estimasi konsentrasi sedimen tersuspensi
dilakukan di perairan Selat Lembeh menggunakan ADCP tambat frekuensi 750 kHz
dan ADCP bergerak frekuensi 307.2 kHz. Instrumen ADCP yang digunakan
memiliki frekuensi yang berbeda untuk memberikan gambaran terkait respon sinyal
suara dalam mendeteksi partikel sedimen tersuspensi di kolom perairan. Sampel air
diambil setiap kedalaman dengan rentang 1 m saat kondisi pasang dan surut
menggunakan botol van Dorn di lokasi dekat ADCP tambat diletakkan. Seluruh
sampel air dianalisis secara gravimetri di laboratorium untuk mengetahui
konsentrasi sedimen tersuspensi (mg l-1). Persamaan empiris dikembangkan dan
dievaluasi untuk konversi data akustik intensitas gema menjadi konsentrasi
sedimen tersuspensi menggunakan persamaan regresi linear sederhana. Persamaan
regresi linear diperoleh dengan cara membandingkan konsentrasi sedimen
tersuspensi dari analisis di laboratorium terhadap relative acoustic backscatter (RB)
pada tiap kedalaman. Persamaan empiris yang didapat untuk ADCP tambat
750 kHz adalah y = 0.0435*RB + 1.4639 dengan r = 0.9346 dan ADCP bergerak
307.2 kHz adalah y = 0.0202*RB + 1.6121 dengan r = 0.9226. Estimasi konsentrasi
sedimen tersuspensi dari instrumen ADCP berkisar antara 48 - 60 mg l-1.
Penelitian tahap berikutnya adalah deteksi dan kuantifikasi untuk
zooplankton. Selama ini penelitian zooplankton di Indonesia sangat bergantung
pada cara konvensional yaitu pengambilan sampel menggunakan teknik netsampling
dengan jaring. Keterbatasan ini dapat diatasi dengan mengkombinasikan
teknik net-sampling dengan teknik hidroakustik menggunakan instrumen ADCP.
Tujuan dari penelitian lanjutan ini adalah mengkuantifikasi nilai hamburbalik untuk
pengamatan keberadaan zooplankton dan tingkah lakunya, dan karakterisasi sinyal
akustik yang dihamburkan oleh individu zooplankton menggunakan model
numerik distorted wave-Born approximation (DWBA).
Nilai mean volume backscattering strength (MVBS) dari pemrosesan sinyal
akustik ADCP difilter pada rentang -100 hingga -60 dB yang mengindikasikan nilai
hamburbalik dari zooplankton dan ditemukan pada kedalaman 11.5-16 m sebagai
sound scattering layer (SSL). Nilai MVBS pada kedalaman SSL memiliki pola
turun dan naik setiap hari yang mengindikasikan tingkah laku migrasi vertikal
harian. Pada siang hari, zooplankton cenderung berada di kedalaman yang lebih
dalam yaitu 16 m, sedangkan pada malam hari zooplankton cenderung berada di
kedalaman yang lebih dangkal yaitu 11.5 m. Migrasi vertikal ke perairan yang lebih
dangkal terjadi sekitar 20 menit sebelum matahari terbenam pada pukul 17:43 dan
bergerak kembali ke perairan yang lebih dalam pada saat matahari terbit pada pukul
5:37. Data deret waktu MVBS menampilkan perbedaan dari waktu ke waktu dan
memiliki hubungan yang baik dengan siklus matahari. Hal ini berkaitan dengan
penetrasi cahaya matahari yang menembus ke dalam kolom hingga dasar perairan.
Kecepatan maksimum pergerakan vertikal ke atas dan bawah adalah 2.5 mm s-1.
Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa terdapat kontribusi kondisi pasang
surut harian yang mempengaruhi migrasi vertikal harian zooplankton.
Sampel zooplankton diambil dengan cara menarik plankton-net mulai dari
kedalaman 18 m hingga permukaan air. Sampel tersebut diamati menggunakan
Sedgwick-Rafter Counting Method pada stereomikroskop untuk identifikasi spesies,
ukuran, dan kelimpahan zooplankton. Oithona sp. dan Paracalanus sp. merupakan
spesies yang paling dominan di area pengamatan. Rata-rata kelimpahan Oithona
sp. adalah 1.635 ind m-3 dan kelimpahan Paracalanus sp. adalah 1.113 ind m-3.
Panjang tubuh rata-rata dari Oithona sp. dan Paracalanus sp. adalah masingmasing
0.74 mm dan 0.39 mm, dengan maksimum 1.09 mm dan 0.93 mm. Kedua
spesies zooplankton ini diduga sebagai penghambur akustik utama di daerah yang
diamati. Nilai TS teoretis tertinggi dari model DWBA untuk Oithona sp. adalah
-148.19 dB pada frekuensi 307.2 kHz dan -132.92 dB pada frekuensi 750 kHz,
sedangkan nilai TS teoretis Paracalanus sp. adalah -161.83 dB pada frekuensi
307.2 kHz dan -146.4 dB pada frekuensi 750 kHz.
Hubungan nilai MVBS dan TS teoretis pada frekuensi yang berbeda
digunakan untuk memperkirakan sumber penghambur utama di kolom air pada
daerah yang diamati. Perbedaan nilai TS teoretis pada frekuensi 750 kHz dan 307.2
kHz (ΔTS750−307.2) pada setiap zooplankton adalah 15 dB. Nilai ini berbeda dengan
perbedaan nilai MVBS pada frekuensi 750 kHz dan 307.2 kHz (ΔMVBS750−307.2)
yaitu sebesar 5.64 dB. Perbedaan nilai ΔMVBS terhadap ΔTS digunakan untuk
membuktikan bahwa sumber hamburbalik yang kuat pada kedalaman SSL berasal
dari schooling seluruh spesies zooplankton, bukan hanya berasal dari salah satu
spesies zooplankton. Jika salah satu zooplankton mendominasi kedalaman SSL,
maka ΔMVBS750–307.2 memiliki nilai yang sama dengan ΔTS750–307.2.
Permasalahan lain yang muncul adalah bagaimana membedakan sinyal
akustik dari zooplankton dengan sedimen tersuspensi. Metode kecerdasan buatan
menggunakan artificial neural network (ANN) diaplikasikan untuk klasifikasi
sinyal akustik dari sedimen tersuspensi dan zooplankton dengan memasukan input
konsentrasi sedimen tersuspensi dan kelimpahan zooplankton dengan pengaruh
pasang surut, arus, dan kecepatan vertikal. Metode ANN juga digunakan untuk
memperkirakan konsentrasi sedimen tersuspensi di kemudian hari. Penelitian ini
memberikan implikasi yang baru terhadap deteksi dan kuantifikasi sedimen
tersuspensi dan zooplankton dengan menggunakan instrumen ADCP
Analisis Multikriteria untuk Penentuan Komoditas Unggulan di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor.
Analisis multikriteria merupakan sebuah cara pengambilan keputusan dari
berbagai alternatif berdasarkan banyak kriteria dengan tujuan memberi petunjuk
dalam pengambilan keputusan untuk mengambil tindakan yang adil. Analisis
multikriteria yang menggabungkan antara data kuantitatif dan kualitatif dapat
digunakan dalam penentuan komoditas unggulan di suatu wilayah. Tujuan
penelitian ini adalah menganalisis komoditas unggulan per desa dan ketersediaan
lahan serta menyusun arahan pengembangan komoditas unggulan di Kecamatan
Jasinga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis multikriteria
dengan menggabungkan 5 (lima) hasil analisis penentuan komoditas unggulan yaitu
hasil analisis Location Quotient (LQ) dan Differential Shift (DS), kesesuaian lahan,
land rent, dan usaha tani, serta dilakukan analisis preferensi masyarakat
menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot
masing-masing parameter. Penggabungan hasil analisis didapat melalui metode
skoring indeks berbobot. Kemudian dilakukan analisis ketersediaan lahan dan
arahan pengembangan untuk komoditas unggulan di Kecamatan Jasinga. Terdapat
5 (lima) komoditas unggulan dominan di setiap desa di Kecamatan Jasinga yaitu
cabai, jagung, padi sawah, timun, dan ubi jalar. Lahan yang tersedia untuk
penegmbangan komoditas unggulan seluas 10 634.34 ha. Arahan pengembangan
komoditas unggulan meliputi areal existing maupun baru untuk komoditas padi
sawah, padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, cabai, timun, dan
kacang panjang seluas 6 036.37 ha. Khususnya untuk pengembangan komoditas
padi sawah dan padi ladang seluas 62.46 ha di Desa Kalongsawah
Fenomena Overreaction Jangka Pendek pada Saham Syariah terhadap Peristiwa Tertentu di Indonesia Periode 2013–2018
Overreaction adalah salah satu fenomena yang disebabkan karena
ketidakefisienan pasar saham dan sebuah hasil reaksi dari sebuah peristiwa.
Peristiwa yang diambil dalam sampel ini sejumlah sepuluh peristiwa yang terjadi
pada periode 2013–2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena
overreaction pada saham syariah dan faktor yang memengaruhi fenomena
overreaction dengan menggunakan metode uji beda dua sampel berpasangan dan
cross sectional regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada peristiwa
terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS (Event 7) dan aksi terorisme di
Surabaya (Event 9) terbukti secara signifikan terjadi fenomena overreaction pada
kategori saham winner. Faktor-faktor yang memengaruhi kedua peristiwa tersebut
berbeda. Fenomena overreaction pada peristiwa terpilihnya Donald Trump
sebagai Presiden AS terbukti secara signifikan dipengaruhi adanya kebocoran
informasi sedangkan peristiwa aksi terorisme di Surabaya dipengaruhi secara
signifikan oleh kategori kepemilikan perusahaan
Ekstrak Daun Pitis (Hoya multiflora Blume) Sebagai Biolarvasida Terhadap Aedes aegypti Linn. (Diptera: Culicidae).
Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor berbagai macam penyakit,
khususnya demam berdarah dengue. Hoya multiflora Blume merupakan satu dari
jenis tanaman yang memiliki potensi sebagai larvasida. Penelitian ini bertujuan
mengetahui aktivitas ekstrak daun pitis (Hoya multiflora Blume) dalam pelarut
akuades, etanol, dan metanol dengan konsentrasi 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, dan
400 ppm sebagai biolarvasida terhadap larva nyamuk Ae. aegypti instar III. Data
dianalisis menggunakan ANOVA dan probit. Keterpaparan larva Ae. aegypti
selama 24 jam dengan ekstrak tanaman ini dalam konsentrasi tertinggi belum
mampu membunuh 50% populasi. Berdasarkan analisis probit, ekstrak daun pitis
dalam pelarut akuades, etanol, dan metanol masing-masing memiliki LC50 3311.31
ppm, 1905.46 ppm, dan 1174.89 ppm. Terdapat perlambatan perkembangan
pradewasa Ae. aegypti pada semua konsentrasi ekstrak dibandingkan terhadap
kontrol, yang diduga akibat adanya aktivitas insect growth regulator dari daun pitis
Pertumbuhan Hasil Persilangan Ayam Merawang Arab dengan Ayam Merawang dan Resiprokalnya pada Umur 1 sampai 12 Minggu.
Ayam merawang mempunyai potensi yang cukup baik dalam produksi
daging, ayam arab juga memiliki potensi yang baik sebagai penghasil telur
sehingga persilangan antara ayam merawang dan ayam arab dapat menghasilkan
hasil produksi yang dapat bersaing dengan ayam kampung. Tujuan penelitian ini
mengkaji pertumbuhan hasil persilangan antara ayam merawang arab (MA)
dengan ayam merawang (M) dan resiprokalnya pada umur 1–12 minggu.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Pemuliaan dan Genetika
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Total DOC ayam MMA berjumlah
76 ekor dan ayam MAM 27 ekor diamati bobot badan, pertambahan bobot badan,
konsumsi pakan, konversi pakan, dan mortalitas. Data yang diperoleh dianalisis
ragam menggunakan analisis peragam (ANCOVA) dalam rancangan acak
kelompok (RAK). Bobot badan persilangan ayam MAM lebih besar dibandingkan
persilangan ayam MMA, konsumsi pakan dan konversi pakan ayam MAM lebih
baik dibandingkan konsumsi pakan ayam MMA. Kematian ayam MMA lebih
tinggi dibandingkan ayam MAM pada umur 5-12 minggu. Performa ayam MAM
lebih baik dari ayam MMA
Karakterisasi Tanah dan Wilayah Lahan Sawah untuk memahami Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Ngoro, Mojokerto
Kecamatan Ngoro memiliki lahan sawah yang produktif. Produktivitas
area untuk tanaman padi di lokasi penelitian mencapai 6,02 ton GKG/ha, namun
saat ini hanya 0,70 ton GKG/ha. Penurunan produktivitas area saat ini menjadi
menarik untuk dianalisis penyebabnya. Penyebab penurunan produktivitas ini
kemungkinan oleh karena aspek tanah atau aspek wilayah. Penelitian ini bertujuan
mengidentifikasi karakteristik tanah dan wilayah lokasi penelitian. Penelitian ini
dilakukan di tiga desa, yaitu Desa Sedati, Kembangsri, dan Candiharjo. Terdapat
tiga titik pengamatan berdasarkan perbedaan kedalaman yang digunakan untuk
analisis fisika dan kimia tanah. Karakterisasi wilayah dianalisis melalui
keselarasan penggunaan tanah dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW),
nilai tanah, dan kepemilikan tanah. Hasil analisis fisik lahan menunjukkan bahwa
tanah penelitian tergolong subur yang ditandai dengan tingginya nilai KTK, KB,
bahan organik, serta unsur-unsur essensial seperti N, P, K. Peta RTRW Kabupaten
Mojokerto menyatakan bahwa tanah tersebut dialokasikan untuk industri,
permukiman, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan, meskipun penggunaan
tanah saat ini berupa sawah. Sementara itu, nilai tanah di lokasi penelitian tinggi
karena terletak dekat jalan yang menghubungkan dengan Surabaya (ibukota
provinsi). Selain itu, pemilik tanah saat ini sudah bukan petani lagi, sehingga
meskipun tanah subur, pemilik enggan melakukan budidaya padi yang
mengakibatkan menurunnya produksi per satuan luas. Produksi padi saat ini tidak
mengekspresikan aspek kesuburan tanah, namun disebabkan tanah tidak digarap.
Analisis kewilayahan menunjukkan bahwa lokasi penelitian tidak diarahkan untuk
dijadikan sektor pertanian. Analisis keselarasan penggunaan tanah dengan RTRW
menunjukkan bahwa 39,8% selaras, 59,4% transisi, dan 0,8% tidak selaras.
Meskipun ketidakselarasan sangat kecil, namun yang perlu diperhatikan adalah
transisi yang dapat diindikasikan sebagai peluang perubahan penggunaan lahan
saat ini karena tidak sesuai dengan RTRW. Pertanian merupakan sektor terbesar
yang berpeluang untuk terkonversi menjadi industri dan pemukiman. Tingginya
nilai tanah yang disebabkan oleh infrastruktur yang memadai juga memicu
terjadinya perubahan penggunaan tanah
Potensi Emisi Gas Rumah Kaca Produk Tapioka dengan Pendekatan Life Cycle Assessment
Karbondioksida merupakan unsur gas rumah kaca (GRK) yang paling berpengaruh. Industri tapioka sebagai industri yang berkembang di Bogor, khususnya di daerah Ciluar menjadi salah satu penyumbang karbondioksida dan berkontribusi dalam peningkatan emisi GRK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya dampak lingkungan yang dinyatakan dalam nilai emisi GRK, menentukan besarnya efisiensi penggunaan energi, dan memberikan alternatif proses pada produksi tapioka sehingga dapat mengurangi potensi dampak lingkungan. Metode yang digunakan untuk menentukan nilai emisi GRK yang dihasilkan dari siklus hidup produk yaitu Life Cycle Assessment (LCA). Metode LCA terdiri dari 4 tahapan, yaitu goal and scoping, inventory analysis, impact assessment, dan interpretation and improvement. Hasil penelitian menunjukkan emisi GRK 1 kg tapioka sebesar 0.32 kg CO2-eq. Efisiensi energi ditunjukkan dengan nilai NER sebesar 3.19 MJ dan NEV sebesar 3.94 MJ/kg tapioka. Emisi GRK dapat dikurangi dengan melakukan beberapa alternatif perbaikan, diantaranya mensubstitusi bahan bakar minyak dengan bahan bakar gas pada proses transportasi dan memanfaatkan limbah cair menjadi sumber energi berupa biogas. Besarnya nilai emisi yang dapat dikurangi yaitu sekitar 36% dari total emisi daur hidup tapioka
Pengendalian Mutu Minyak Sawit Kasar di PT XYZ dengan Pendekatan Six Sigma dan Data Mining
PT XYZ merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi minyak sawit kasar (CPO). Permasalahan yang dihadapi perusahaan saat ini adalah rendahnya mutu CPO yang diproduksi dan banyaknya kerusakan mesin yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab rendahnya mutu CPO produksi dan memberikan solusi terhadap permasalahan. Tahapan penelitian menggunakan pendekatan metodologi six sigma (define, measure, analyze dan improve), text mining-TFIDF dan assosiation rule mining. Hasil pengukuran kinerja menggunakan nilai sigma diperoleh rata-rata sigma dari Oktober 2018 sampai Februari 2019 adalah 2.378���������. Mutu bahan baku yang rendah disebabkan oleh tingginya tandan buah restan (inap). Analisis proses produksi minyak sawit kasar menggunakan SPC/control chart menunjukan proses produksi yang tidak terkendali secara statistik. Analisis asosiasi kerusakan mesin menggunakan algoritma Apriori (assosiation rule mining) menunjukan bahwa asosiasi kerusakan tertinggi pada mesin Scraver oleh anjloknya rantai dengan nilai support 4.3%, confidence 60% dan lift 6.4. Analisis kepuasan konsumen menggunakan quality function deployment (QFD) diketahui bahwa konsumen menginginkan perbaikan pada atribut mutu asam lemak bebas (ALB) CPO. Saran perbaikan berdasarkan Five M-Checklist yaitu pemberian sanksi atau teguran bagi perkebunan dengan mutu TBS rendah, melakukan penjadwalan perbaikan mesin, melakukan briefing setiap hari sebelum pergantian shift, melakukan kontrol dan pengawasan kepada operator, melakukan training untuk karyawan baru dan memberikan alat pelindung diri (APD) kepada karyawan
Hubungan Partisipasi Petani dengan Keberlanjutan Sistem Pertanian Terpadu Mina Padi.
Pemerintah saat ini sedang mengembangkan sistem pertanian terpadu mina padi dalam rangka mengoptimalisasi lahan pertanian yang dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian, menyejahterakan petani dan mendukung ketahanan pangan. Partisipasi petani dalam menerapkan sistem mina padi diharapkan dapat mendukung pertanian berkelanjutan pada dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi-infrastruktur dan kelembagaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat partisipasi petani dengan keberlanjutan sistem pertanian terpadu mina padi. Data dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner dan dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian yang melibatkan 42 responden menunjukkan bahwa petani tergolong cukup partisipatif dan sistem mina padi yang cukup berkelanjutan. Karakteristik petani yang berhubungan nyata dengan tingkat partisipasi yaitu tingkat kekosmopolitan. Faktor eksternal yang berhubungan nyata dengan tingkat partisipasi yaitu, peran penyuluh, tingkat akses pasar, dan ketersediaan informasi. Tingkat partisipasi secara umum berhubungan nyata dengan semua dimensi tingkat keberlanjutan, yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi-infrastruktur dan kelembagaan