31665 research outputs found
Sort by
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan di Provinsi Kepulauan Bangka
Hubungan Antara Partisipasi Masyarakat dengan Efektivitas Program Kampung Iklim
Program Kampung Iklim adalah Program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang sudah diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah dan semua pihak berharap Program Kampung Iklim mampu mengatasi masalah perubahan iklim di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, penulis meneliti tentang efektivitas Program Kampung Iklim di RW 07, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik individu dari masyarakat dan peran kader PKK sebagai aktor pada Program Kampung Iklim yang memiliki keterkaitan dengan partisipasi masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif didukung oleh data kualitatif dengan jumlah responden sebanyak 40 orang yang menggunakan teknik sensus dan informan dipilih secara sengaja (purposive). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif atau tampak berhubungan tidak nyata antara partisipasi masyarakat dengan efektivitas Program Kampung Iklim
Pendekatan Bayes pada Rancangan Campuran D-Optimal.
Rancangan campuran merupakan bagian dari rancangan percobaan. Masing-masing faktor (komponen) pada rancangan campuran memiliki nilai berupa proporsi dan jumlah keseluruhan faktor adalah satu. Karakteristik ini menyebabkan sulitnya menentukan kombinasi proporsi komponen yang tepat untuk menghasilkan campuran yang diinginkan. Mekanisme yang dapat dilakukan untuk memperoleh kombinasi proporsi yang tepat adalah dengan perancangan optimal. Pengoptimalan rancangan dilakukan dengan memilih titik rancangan secara sistematis dengan suatu kriteria tertentu. Salah satu kriteria pengoptimalan yang digunakan adalah kriteria D-optimal. Rancangan yang optimal pada kriteria D-optimal dipilih dari titik rancangan yang menghasilkan determinan terbesar pada matriks informasi.
Penerapan rancangan optimal sangat bergantung pada spesifikasi model yang digunakan. Ketidaktepatan pada model dapat mengurangi ketepatan hasil perancangan. Pengoptimalan menggunakan D-optimal telah banyak dikembangkan pada berbagai kasus dan metode. Salah satu diantaranya yaitu D-optimal dengan pendekatan Bayes. Rancangan D-optimal Bayesian dapat mengurangi kebergantungan terhadap model yang diasumsikan. Pendekatan Bayes menggunakan informasi awal (prior) berupa sebaran parameter model berupa informasi dari pengalaman peneliti atau ahli. Informasi prior digunakan untuk memperoleh ragam posterior parameter untuk mendapatkan matriks informasi perancangan optimal. Selanjutnya, model dibagi menjadi primary term dan potential term dengan nilai �������� sebagai rasio yang mengukur ragam pada potential terms dengan tingkat kesalahan model. Berdasarkan nilai ��������, potential term dapat dipertimbangkan masuk ke dalam model atau tidak.
Karakteristik rancangan campuran menyebabkan korelasi yang besar antar faktor utama maupun dengan interaksi dua faktor. Untuk mengatasi korelasi tersebut, masing-masing faktor dan unsur interaksi model ditransformasi dengan scaling convention. Pencarian titik rancangan optimal menggunakan kandidat titik rancangan yang telah ditransformasi. Hasil titik rancangan yang diperoleh kemudian dikembalikan ke nilai asal sebelum ditransformasi. Pencarian titik rancangan optimal dipilih dengan algoritma pergantian titik (point-exchange). Algoritma dijalankan dengan mengganti satu persatu titik rancangan yang telah dipilih dengan titik lain pada himpunan kandidat. Algoritma dijalankan secara berulang pada beberapa nilai ��������. Hasil rancangan optimal diperoleh dari rancangan pada �������� dengan nilai determinan paling besar dari semua pengulangan dan menghasilkan rancangan yang konvergen.
Penerapan rancangan D-optimal Bayesian dilakukan pada tiga studi kasus rancangan campuran. Kasus pertama terdiri dari dua komponen sedangkan kasus kedua dan ketiga terdiri dari tiga komponen. Masing-masing komponen memiliki fungsi kendala berupa batas bawah dan/atau batas atas dari proporsi. Fungsi kendala pada masing-masing komponen menyebabkan terbatasnya daerah rancangan sebagai kandidat rancangan optimal.
Pada kasus pertama diperoleh bahwa penggunaan asumsi model yang digunakan tidak cocok. Model hanya memuat satu unsur potential term dan algoritma tidak menghasilkan rancangan yang konvergen. Potential term tidak memiliki pengaruh pada model, sehingga pada kasus ini potential term dimasukkan ke dalam primary terms. Akibatnya pendekatan Bayes pada rancangan D-optimal tidak cocok digunakan. Hasil rancangan dengan D-optimal klasik diperoleh berupa tiga titik yang berada pada kedua ujung dan tengah daerah rancangan.
Pendekatan Bayes pada rancangan D-optimal untuk kasus kedua dan ketiga memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan kasus pertama. Pada kasus kedua rancangan konvergen pada ��������=2 dan kasus ketiga pada ��������=3. Potential term memberikan pengaruh yang baik dalam menduga titik rancangan optimal. Dari dua belas titik rancangan diperoleh tujuh titik yang berbeda, lima diantaranya diulang sebanyak dua kali. Rancangan D-optimal Bayesian menggunakan algoritma point-exchange cukup baik dalam membentuk rancangan optimal campuran tiga komponen. Terbatasnya algoritma dalam memeriksa keseluruhan permutasi titik rancangan dari kandidat menjadikan hasil iterasi yang tidak konsisten seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan rancangan D-optimal Bayesian khususnya untuk kasus dua komponen sehingga diperoleh rancangan optimal yang lebih konvergen
Analisis Ekspresi Gen Hd3a pada Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) Kultivar Jala Ipam Transgenik
Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah tanaman pangan dari kelompok umbi-umbian yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan dunia setelah gandum, jagung, dan padi. Pasokan bahan baku untuk industri pengolahan kentang di Indonesia hampir seluruhnya diperoleh melalui impor karena produksi kentang dalam negeri tidak sesuai kriteria ataupun belum mencukupi permintaan industri. Salah satu upaya pengembangan kultivar unggul yang memiliki produksi dan kualitas yang tinggi dapat dilakukan melalui rekayasa genetik. Protein Hd3a memiliki kemiripan dengan protein StSP6A yaitu sinyal yang menginduksi pengumbian kentang sehingga gen Hd3a memiliki peluang dalam pengembangan produksi kentang. Gen Hd3a di bawah kendali ekspresi promoter 35S CaMV telah ditransformasikan ke dalam genom kentang kultivar Jala Ipam.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi dan ekspresi gen Hd3a pada kentang kultivar Jala Ipam transgenik (klon JHS1, JHS2, JHS3) dengan tanaman Jala Ipam non-transgenik (JNT) sebagai kontrol. Bahan yang digunakan adalah tanaman generasi G1 yang ditumbuhkan dari umbi G0. Analisis integrasi transgen menggunakan teknik PCR dengan pasangan primer spesifik, sedangkan analisis ekspresi gen Hd3a menggunakan teknik Real-Time Quantitative PCR (qPCR) dengan metode kuantifikasi relatif. Analisis potensi produksi umbi dilakukan berdasarkan penanaman di lapangan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 ulangan.
Analisis integrasi menunjukkan bahwa gen Hd3a tetap stabil terintegrasi dalam genom kentang Jala Ipam transgenik generasi G1. Semua klon transgenik mengekspresikan gen Hd3a dengan tingkat yang berbeda. Ekspresi paling tinggi terdapat pada klon JHS1 yaitu 9.9 kali terhadap JNT kemudian diikuti oleh klon JHS2 dan JHS3 di bawahnya. Peningkatan ekspresi gen Hd3a berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi bobot basah umbi per tanaman, tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah umbi per tanaman. Klon JHS1 memiliki bobot umbi paling tinggi dengan kenaikan 1.5 kali dari bobot JNT dan berbeda nyata terhadap bobot umbi klon JSH2 dan JHS3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi gen Hd3a berkorelasi terhadap peningkatan produksi bobot umbi per tanaman, sehingga gen Hd3a memiliki potensi dimanfaatkan untuk pengembangan produksi umbi kentang.
Kata kunci: ekspresi relatif, florigen, kentang transgenik, produksi umbiKentang (Solanum tuberosum L.) adalah tanaman pangan dari kelompok umbi-umbian yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan dunia setelah gandum, jagung, dan padi. Pasokan bahan baku untuk industri pengolahan kentang di Indonesia hampir seluruhnya diperoleh melalui impor karena produksi kentang dalam negeri tidak sesuai kriteria ataupun belum mencukupi permintaan industri. Salah satu upaya pengembangan kultivar unggul yang memiliki produksi dan kualitas yang tinggi dapat dilakukan melalui rekayasa genetik. Protein Hd3a memiliki kemiripan dengan protein StSP6A yaitu sinyal yang menginduksi pengumbian kentang sehingga gen Hd3a memiliki peluang dalam pengembangan produksi kentang. Gen Hd3a di bawah kendali ekspresi promoter 35S CaMV telah ditransformasikan ke dalam genom kentang kultivar Jala Ipam.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi dan ekspresi gen Hd3a pada kentang kultivar Jala Ipam transgenik (klon JHS1, JHS2, JHS3) dengan tanaman Jala Ipam non-transgenik (JNT) sebagai kontrol. Bahan yang digunakan adalah tanaman generasi G1 yang ditumbuhkan dari umbi G0. Analisis integrasi transgen menggunakan teknik PCR dengan pasangan primer spesifik, sedangkan analisis ekspresi gen Hd3a menggunakan teknik Real-Time Quantitative PCR (qPCR) dengan metode kuantifikasi relatif. Analisis potensi produksi umbi dilakukan berdasarkan penanaman di lapangan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 ulangan.
Analisis integrasi menunjukkan bahwa gen Hd3a tetap stabil terintegrasi dalam genom kentang Jala Ipam transgenik generasi G1. Semua klon transgenik mengekspresikan gen Hd3a dengan tingkat yang berbeda. Ekspresi paling tinggi terdapat pada klon JHS1 yaitu 9.9 kali terhadap JNT kemudian diikuti oleh klon JHS2 dan JHS3 di bawahnya. Peningkatan ekspresi gen Hd3a berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi bobot basah umbi per tanaman, tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah umbi per tanaman. Klon JHS1 memiliki bobot umbi paling tinggi dengan kenaikan 1.5 kali dari bobot JNT dan berbeda nyata terhadap bobot umbi klon JSH2 dan JHS3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi gen Hd3a berkorelasi terhadap peningkatan produksi bobot umbi per tanaman, sehingga gen Hd3a memiliki potensi dimanfaatkan untuk pengembangan produksi umbi kentang
Resistensi Bakteri Klebsiella sp. yang diisolasi dari Peternakan Ayam Pedaging di Desa Cibangbara terhadap antibiotik.
Klebsiella sp. adalah flora normal yang terdapat pada saluran pencernaan
ayam. Bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit akibat adanya perubahan
cuaca, defisiensi nutrisi, kelelahan, kelaparan, dan adanya infeksi parasit. Pada
unggas, infeksi Klebsiella sp. dapat menyebabkan kematian embrio, infeksi
kantung kuning telur, septikemia, salpingitis dan oophoritis pada ayam betina.
Antibiotik sering digunakan untuk pencegahan dan pengobatan. Penggunaan
antibiotik dengan dosis yang tidak sesuai dipeternakan ayam dapat memicu
terjadinya resistensi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi bakteri
Klebsiella sp. yang diisolasi dari swab kloaka ayam pedaging dan mengetahui
gambaran resistensi Klebsiella sp. pada ayam pedaging terhadap antibiotik
ampisilin, oksitetrasiklin, gentamisin, asam nalidiksat, eritromisin, tetrasiklin, dan
kloramfenikol. Pengujian dilakukan menggunakan metode diffusion test Kirby-
Bauer dengan cara mengukur diameter zona hambat yang terbentuk kemudian
dibandingkan dengan standar sensitivitas antibiotik yang ditetapkan oleh CLSI.
Hasil penelitian menunjukkan bakteri Klebsiella sp. telah resisten terhadap
antibiotik ampisilin (100%), oksitetrasiklin (100%), eritromisin (100%),
tetrasiklin (100%) dan asam nalidiksat (71.4%). Antibiotik kloramfenikol dan
gentamisin bersifat sensitif dengan persentase masing-masing sebesar 85.7% dan
85.7%
Pemetaan Kerawanan Pantai terhadap Tsunami dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) di Kabupaten Pangandaran Jawa Barat
Gempa tektonik di laut merupakan salah satu penyebab tsunami. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki aktivitas tektonik tinggi dan berpotensi tsunami berada di Pesisir Selatan Jawa. Analisis kerawanan tsunami dapat dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuan penelitian ini adalah melakukan pemetaan dan mengidentifikasi kerawanan tsunami menggunakan SIG di Kabupaten Pangandaran. Analisis kerentanan tsunami dilakukan menggunakan metode tumpang susun (overlay) parameter penentu kerawanan tsunami. Parameter yang digunakan adalah jarak dari garis pantai, elevasi daratan, jarak dari sungai, jarak pantai terhadap sumber gempa, keberadaan pulau penghalang, bentuk pantai, dan kelerengan daratan. Analisis tingkat kerawanan tsunami pada penelitian ini dibagi menjadi 5 kelas yaitu sangat rawan, rawan, agak rawan, aman, dan sangat aman. Luasan wilayah Kabupaten Pangandaran yang termasuk ke dalam kelas sangat rawan sebesar 1753.33 ha (1.57%), kelas rawan sebesar 5299.63 ha (4.75%), kelas agak rawan 8455.58 ha (7.58%), kelas aman sebesar 22833.04 ha (20.46%), dan kelas sangat aman sebesar 73279.54 ha (65.65%). Wilayah administrasi yang memiliki tingkat kerawanan sangat rawan berada pada 6 kecamatan yang berbatasan langsung dengan laut yaitu Kecamatan Cijulang, Cimerak, Kalipucang, Pangandaran, Parigi, dan Sidamulih
Membandingkan Kadar Albumin Ikan Gabus (Channa striata) Asal Kabupaten Bogor Dan Provinsi Papua, Dan Ikan Gabus (Channa micropeltes) Asal Kabupaten Bogor
Channa striata dan Channa micropeltes dikenal sebagai ikan gabus yang
berasal dari family Channidae. Ikan gabus banyak digunakan oleh masyarakat
sebagai bahan pengobatan karena memiliki kandungan protein albumin lebih
tinggi dibandingkan jenis ikan lain. Tujuan Penelitian ini adalah membandingkan
kadar albumin ikan gabus (Channa striata) asal Kabupaten Bogor dan Provinsi
Papua, dan ikan gabus (Channa micropeltes) asal Kabupaten Bogor. Penelitian ini
juga membandingkan kadar albumin serum mencit yang mendapatkan asupan
pakan mengandung tepung ikan gabus dan yang tidak. Daging dan kulit dari dua
spesies ikan gabus C. striata dan C. micropeltes yang berasal dari Kabupaten
Bogor dan ikan gabus C. striata dari Propinsi Papua dikeringkan selama lima, 10
dan 15 menit.
Teknik titrasi, spektrofotometrik dan elektroforesis SDS-PAGE digunakan
untuk mengukur kadar dan berat molekul protein dalam ekstrak daging dan kulit
ikan, serta serum mencit. Kadar protein dalam ekstraksi daging C. micropeltes
dan C. striata yang dikeringkan selama lima menit sebesar 0,830 mg/mL dan
0,803 mg/mL. Kadar protein lebih tinggi dibandingkan dikeringkan selama 10
dan 15 menit. Kadar protein C. striata dalam ekstrak daging dari Provinsi Papua
yang dikeringkan selama 10 menit sebesar 0,834 mg/mL yang lebih tinggi
dibandingkan hasil dari dua cara pemanasan lainnya. Kadar protein dalam ekstrak
kulit dari ikan C. striata Provinsi Papua paling tinggi pada pengeringan selama
lima menit sebesar 0,771 mg/mL dibandingkan C. micropeltes dan C. striata dari
Kabupaten Bogor sebesar 0,753 mg/mL dan 0,719 mg/mL. Seluruh nilai kadar
protein dalam ekstraksi daging dan kulit ikan gabus C. micropeltes dan C. striata
baik dari Kabupaten Bogor maupun dari Provinsi Papua tidak berbeda nyata
secara statistik (P > 0,05). Berat molekul protein albumin dari kedua spesies dari
ektrak kulit dan daging adalah 65,56 kDa untuk yang dikeringkan selama lima
menit, 65,08 kDa untuk yang dikeringkan selama 10 menit, dan 64,91 kDa untuk
yang dikeringkan selama 15 menit. Hasil Penelitian memperlihatkan tidak ada
perbedaan kadar protein dalam daging dan kulit dari kedua spesies yang
dikeringkan dengan tiga teknik pengeringan. Hanya, lama pengeringan yang
mempengaruhi berat molekul albumin ikan gabus. Asupan tepung ikan ke dalam
pakan mencit tidak mempengaruhi penambahan berat badan dan kadar protein
serum darah mencit
Kebijakan Ekonomi Tata Kelola Laut dalam Pengembangan Perekonomian di Provinsi Maluku
Pembangunan ekonomi pada wilayah kepulauan khususnya di Provinsi
Maluku memiliki problematika berupa karakteristik geografis, sosial dan ekonomi
yang khas meliputi tingkat kerentanan, struktur ekonomi, potensi, serta
keterbatasan kemampuan dalam mengeksploitasi skala ekonomi. Kondisi ini
tercermin dalam pertumbuhan ekonominya yang cenderung berfluktuasi serta
kontribusi bidang kelautan yang belum optimal sebagai konsekuensi geokonomis
yang dimiliki di lain sisi pertumbuhan ekonomi belum berdampak linear pada
indikator makro seperti pertumbuhan output, peningkatan pendapatan, serta
perluasan lapangan kerja. Fakta-fakta tersebut tentunya membutuhkan pendekatan
kebijakan endogen yang mampu mencerminkan provinsi tersebut sebagai provinsi
kepulauan dengan mendorong pertumbuhan sektor-sektor berbasis ekonomi laut
guna pencapaian pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mendeskripsikan posisi dan keterkaitan
kelembagaan khususnya Organisasi Perangkat Daerah bidang kelautan di Provinsi
Maluku; 2) Mengkaji tingkat keberlanjutan tata kelola laut di Provinsi Maluku; 3)
Menganalisis keterkaitan dan peranan serta dampak bidang kelautan terhadap
pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku; 4) Merumuskan strategi kebijakan
percepatan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan di Provinsi Maluku, dan 5)
Mendesain model kebijakan ekonomi tata kelola laut dalam pembangunan
ekonomi di Provinsi Maluku
Penelitian ini dilakukan di Provinsi Maluku dengan menggunakan metode
penelitian studi kasus. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder,
yang diperoleh melalui studi pustaka, observasi dan wawancara. Metode analisis
data dilakukan melalui 1) analisis interpretative structural modelling (ISM); 2)
analisis multidimenssion scalling (MDS); 3) analisis input-output (IO); 4) analisis
hierarchy proses (AHP) dan 5) analisis Sistem Dinamik (SD)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua elemen memiliki keterkaitan
dengan sistem. Sub-elemen kunci dalam pengelolaan bidang kelautan adalah Dinas
Kelautan dan Perikanan, kepemimpinan dan pertumbuhan ekonomi merupakan
penggerak utama dan mempengaruhi sub elemen pada level berikutnya. Sementara
secara keseluruhan tingkat keberlanjutan dari tiga dimensi yaitu Transparansi,
Partisipasi, dan Akuntabilitas termasuk dalam kategori baik atau sangat
berkelanjutan, namun berdasarkan hasil uraian per dimensi, diperoleh bahwa
dimensi akuntabilitas memiliki nilai terendah sehingga atribut-atribut pada dimensi
ini perlu mendapatkan perhatian utama atau perlu adanya intervensi kebijakan.
Potret keadaan ekonomi (economic landscape) Provinsi Maluku menunjukan
struktur output sektor-sektor yang mampu memberikan dampak output terbesar di
atas 10 persen adalah sektor bangunan kelautan dan sektor perikanan. Sementara
sektor yang memiliki Nilai Tambah Bruto (NTB) di atas 10 persen adalah sektor
perikanan. Sektor unggulan atau sektor basis adalah sektor perikanan, sektor
bangunan kelautan dan sektor jasa kelautan. Sementara sektor yang memiliki nilai
pengganda output, pendapatan dan tenaga kerja terbesar adalah sektor industri
kelautan. Dampak permintaan akhir terhadap pembentukan output, pendapatan dan
perluasan lapangan kerja terbesar berturut-turut terjadi di sektor bangunan kelautan,
sektor perikanan dan sektor jasa kelautan.
Kebijakan percepatan pertumbuhan ekonomi bidang kelautan di Provinsi
Maluku dapat dilakukan melalui kebijakan penganggaran yang diarahkan untuk
peningkatan output dan peningkatan pendapatan, sementara kebijakan
pembangunan regional (regional development) diarahkan untuk penanggulangan
pengangguran dan kebijakan tata kelola yang efektif (effective government)
diarahkan untuk tujuan kelestarian lingkungan hidup.
Berdasarkan hasil simulasi yang dilakukan yaitu dengan meningkatkan
pengeluaran pemerintah di sektor perikanan sebesar 10 persen maka PDRB sektor
perikanan akan meningkat rata-rata sebesar 11,66 persen per tahun. Sementara
ketika dilakukan peningkatan belanja sebesar 20 persen mampu mendorong
pertumbuhan PDRB sebesar 12,94 persen per tahun
Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Bangun Bandar PT. Socfin Indonesia Sumatera Utara
Kegiatan magang telah meningkatkan pengetahuan mengenai budidaya kelapa sawit dan mengetahui serta mempelajari aspek teknis dan manajerial di perkebunan kelapa sawit. Tujuan khusus dari kegiatan magang yaitu mempelajari manajemen pemupukan di perkebunan kelapa sawit di Kebun Bangun Bandar, PT. Socfin Indonesia. Kegiatan magang dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Mei 2019. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kegiatan budidaya pada aspek pemupukan sudah memenuhi standar kaidah 5 tepat, yaitu: ketepatan jenis dan dosis pemupukan, tepat waktu, tepat cara dan tempat aplikasi pemupukan. Walaupun sudah memenuhi standar yang berlaku, namun tetap diperlukan adanya tindakan pengawasan dan evaluasi dari kegiatan pemupukan karena menyangkut biaya yang dikeluarkan perusahaan dan peningkatan produksi yang akan didapatkan. Gejala kekahatan unsur hara di lapangan secara visual menunjukkan ada tanaman kekurangan unsur hara mikro Besi (Fe), Magnesium (Mg) dan Boron (B)
Pengaruh Pemberian Tepung Daun Ubi Jalar dan Daun Singkong dalam Pakan terhadap Daya Tetas Telur Itik Pajajaran
Itik sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai penghasil daging dan
telur. Rendahnya daya tetas telur itik menghambat upaya peningkatan populasi itik.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh pakan mengandung
tepung daun ubi jalar dan daun singkong terhadap daya tetas telur itik. Daun ubi
jalar dan daun singkong mengandung β-karoten, salah satu karotenoid pro-vitamin
A yang dapat meningkatkan daya tetas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak
lengkap dan rancangan acak kelompok. Penelitian ini menggunakan 180 itik betina
dan 36 itik jantan berumur 18 minggu dengan perbandingan jantan:betina (1:5)
yang dibagi menjadi enam perlakuan faktorial, dua taraf tepung daun ubi jalar (0%
and 5%) dan tiga taraf tepung daun singkong (0%, 5% and 10%) dalam pakan
dengan masing-masing sebanyak tiga kali ulangan. Parameter yang diamati
meliputi berat telur, indeks telur, berat tetas, fertilitas, daya tetas dan mortalitas
embrio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung daun ubi jalar dan
daun singkong berpengaruh nyata terhadap berat telur, fertilitas, daya tetas dan
kematian embrio. Pemberian tepung daun ubi jalar dan daun singkong dalam pakan
itik tidak memberikan efek terhadap indeks telur dan berat tetas. Kesimpulan
penelitian ini adalah pemberian tepung daun singkong pada taraf 5% dan 0% tepung
daun ubi jalar mampu meningkatkan berat telur dan daya tetas serta menurunkan
kematian embrio. Pemberian tepung daun singkong hingga taraf 10% dan tepung
daun ubi jalar hingga taraf 5% dapat meningkatkan fertilitas