31665 research outputs found
Sort by
Pengaruh Aktor dalam Pengelolaan Air Bersih BUMDes Barokah Desa Tugu Utara Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor
Pendirian BUMDes merupakan amanat undang-undang dalam upaya mendorong atau menstimulasi roda perekonomian perdesaan dan juga sebagai upaya peningkatan sumber pendapatan asli desa. Desa Tugu Utara membentuk sebuah lembaga BUMDes dengan produk unggulan pengelolaan air bersih. Pemanfaatan sumber daya mata air yang merupakan common reasource harus dikelola dengan baik dan melibatkan semua aktor agar terus terjaga ketersediaan sumber mata air bersih. Persaingan dalam pengelolaan air bersih dengan aktor lain akan mengganggu keberlangsungan usaha BUMDes yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dan pola interaksi pada setiap aktor dalam upaya pengelolaan berkelanjutan BUMDes Barokah Desa Tugu Utara.
Metode yang digunakan adalah Mactor Analisis. Dalam metode mactor, keterlibatan semua aktor yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan munculnya tujuan yang berbeda. Persamaan dan perbedaan tujuan akan menghasilkan pengaruh dan pola hubungan/interaksi yang akhirnya bisa diidentifikasi keberlanjutan usaha BUMDes Barokah. Dalam penelitian ini teridentifikasi ada 17 aktor dengan 7 (tujuh) rumusan tujuan.
Aktor yang memiliki pengaruh paling tinggi dan memberikan pengaruh paling tinggi adalah Perhutani, sedangkan aktor yang memiliki ketergantungan paling tinggi dan menerima pengaruh tertinggi adalah pengurus BUMDes Barokah. Perbedaan tujuan dari masing-masing aktor dengan tujuan memerlukan upaya dan pendekatan dari aktor kunci dalam hal ini kepala desa dan pengurus BUMDes untuk melakukan komunikasi dan koordinasi terkait kewenangan, kepentingan, dan kesepakatan tujuan bersama yang saling menguntungkan.
Aktor-aktor yang memiliki tujuan yang sama akan berpotensi untuk menjalin kerjasama, sedangkan aktor yang memiliki tujuan yang berbeda akan menghasilkan potensi konflik. Aktor yang memberikan respon positif terhadap tujuan dan bisa menjalin kerjasama adalah Kepala Desa, Pengelola BUMDes Barokah, dan Konsorsium Save Puncak IPB. Sedangkan yang memberikan respon negatif terkait dengan tujuan yang sudah ditetapkan adalah aktor PT Lintas Daya Kreasi dan PT SSBP. Aktor yang akan bekerjasama tergantung tujuan tertentu tanpa memperhatikan tujuan yang lain (aktor ambivalen) adalah PT SSBP, PT LDK, petani sayur, dan kebun organik Pondok Caringin.
Variabel kelestarian lingkungan dan kontinuitas air bersih memiliki pengaruh sangat kuat untuk mengisolasi konvergensi terhadap tujuan lain aktor. Aktor kepala desa dan aktor pengurus BUMDes memiliki kemampuan untuk menciptakan hubungan baik terhadap aktor lain dengan memperhatikan divergensi tujuan aktor
Analisis Pendapatan dan Pemasaran Cengkeh di Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan
Tanaman cengkeh banyak dibudidayakan di Kabupaten Lampung Selatan, daerah
sentra tanaman cengkeh terdapat di Kecamatan Rajabasa khususnya di Desa
Tanjung Gading dan Desa Betung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengestimasi faktor-faktor produksi dan pendapatan usahatani cengkeh, serta
menganalisis efisiensi pemasaran komoditas cengkeh di Kecamatan Rajabasa.
Metode yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda, analisis
pendapatan usahatani, dan analisis Structure, Conduct, Performance (SCP),
analisis margin dan farmer’s share. Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa variabel jumlah pohon, pupuk, tenaga kerja panen &
pascapanen, dan umur tanaman berpengaruh signifikan terhadap produksi cengkeh
di Kecamatan Rajabasa. Usahatani cengkeh di Kecamatan Rajabasa pada tahun
2018 memberikan keuntungan sebesar 157% dari total biaya yang dikeluarkan,
dalam perhitungan ini tidak memperhitungkan biaya dari awal penanaman hanya
memperhitungkan biaya perawatan dalam satu tahun. Struktur pasar yang ada di
Kecamatan Rajabasa mengarah pada struktur pasar oligopsoni dan didapatkan 3
saluran pemasaran, dari ketiga saluran pemasaran yang ada di Kecamatan
Rajabasa semua saluran pemasaran dapat dikatakan efisien karena memliki nilai
margin pemasaran yang rendah dan farmer’s share yang tinggi. Saluran
pemasaran yang paling baik ada pada saluran pemasaran III
Performa Reproduksi Kuda Laut (Hippocampus comes) yang diberi Artemia dengan Perendaman Oodev pada Dosis yang Berbeda
Kuda laut (Hippocampus comes) merupakan komoditas laut yang masuk ke
dalam ekonomi penting dimana populasinya mulai menurun di alam. Penelitian
ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian Oodev terhadap peningkatan
performa reproduksi kuda laut (Hippocampus comes) melalui perendaman artemia
dalam Oodev dengan dosis yang berbeda. Kuda laut diberi pakan artemia yang
direndam dengan Oodev pada dosis 0 (A), 0,1 (B), dan 1 (C) mL/L air dengan
waktu perendaman 12 jam. Kuda laut diberi pakan 2 kali sehari pada pukul 08.00
dan 16.00 WIB sebanyak 80 ekor artemia per ekor kuda laut per hari dan
dipelihara selama 8 minggu. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan A tidak
memijah sedangkan perlakuan B dan C berhasil memijah. Frekuensi pemijahan
perlakuan B sebanyak 8 kali dengan interval kelahiran 13,5 hari dan perlakuan C
sebanyak 7 kali dengan interval kelahiran 12,7 hari. Jumlah juwana perlakuan C
lebih banyak daripada perlakuan B, yaitu 1294 ekor dan 634 ekor dengan rata-rata
kelahiran 184,84 ekor dan 79,25 ekor (P<0,05). Tingkat kelangsungan hidup
juwana perlakuan B dan C sebanyak 40% dan 72%. Produksi juwana perlakuan C
2 kali lebih banyak daripada perlakuan B. Pemberian Oodev melalui artemia
mampu mempercepat dan meningkatkan performa reproduksi kuda laut
Sifat Fisis, Sifat Mekanis dan Ketahanan Lamina Gewang (Corypha Utan Lamk.) Terdensifikasi terhadap Jamur Pelapuk Kayu
Pemanfaatan batang Gewang (Corypha Utan Lamk.) belum dilakukan
secara optimal disebabkan bagian dalam batangnya memiliki tingkat modulus of
elasticity (MOE), modulus of rupture (MOR), dan kerapatan yang rendah
dibandingkan bagian tengah dan bagian luarnya. Bagian dalam batang Gewang
juga sangat rentan terhadap serangan jamur. Kondisi tersebut menyebabkan
bagian dalam batang Gewang tidak dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai
bahan konstruksi. Oleh karena itu perlu aplikasi teknologi yang dapat
meningkatkan sifat fisik dan mekanik bagian dalam batang Gewang. Densifikasi
atau pemadatan kayu adalah salah satu teknologi yang diduga potensial untuk
meningkatkan atau memodifikasi sifat fisis dan sifat mekanis kayu Gewang. Dari
satu batang Gewang dibuat 90 lamina (100 x 5 x 1.2 cm), yang berasal dari sisi
dalam, tengah, dan luar bagian pangkal, tengah, dan ujung batang. Dari 90 lamina
tersebut, 45 lamina yang mewakili bagian batang dan sisi batang didensifikasi
menggunakan mesin kempa panas dengan suhu 150ºC selama 60 menit sehingga
ketebalannya berkurang 50 % menjadi 0.6 cm dari ketebalan awal yaitu 1.2 cm.
Contoh uji lamina Gewang terdensifikasi dan tanpa densifikasi kemudian diuji
sifat fisis (kadar air dan kerapatan), sifat mekanis (MOE dan MOR), serta
ketahanannya terhadap jamur pelapuk Schizophyllum commune Fr. Pengujian sifat
fisis dan sifat mekanis dilakukan berdasarkan Standar BS:373:1957. Sementara itu
pengujian ketahanan terhadap jamur pelapuk dilakukan berdasarkan SNI
01.7207:2014. Hasil penelitian menunjukkan densifikasi mampu menurunkan
kadar air lamina Gewang dan meningkatkan kerapatannya secara signifikan.
Disamping itu, proses densifikasi mampu meningkatkan MOR lamina Gewang
secara signifikan. Peningkatan MOR tertinggi terjadi pada bagian ujung sisi luar
batang yaitu mencapai 622.31%, sedangkan peningkatan MOR terendah terjadi
pada bagian pangkal sisi tengah batang yaitu hanya 105.47%. Namun demikian
MOE lamina Gewang terdensifikasi menurun karena suhu densifikasi melebihi
batas kemampuan sehingga struktur sel kayu mengalami deformasi. Ketahanan
lamina Gewang terdensifikasi terhadap jamur pelapuk S.commune meningkat
secara signifikan. Berdasarkan SNI 01.7207.2014 lamina Gewang terdensifikasi
tergolong agak tahan sampai sangat tahan terhadap serangan jamur S.commune,
kecuali lamina yang berasal dari bagian pangkal sisi dalam dan tengah batang
Penggunaan Gage Linearity and Bias Study Untuk Menduga Kadar Glukosa Darah pada Alat Non-Invasif.
Diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah. Kontrol metabolik mengupayakan agar kadar
glukosa darah berada di batas normal tanpa harus kekurangan glukosa darah.
Penelitian ini dilakukan untuk menyusun model melalui pendekatan gage linearity
and bias study pada pendeteksian kadar glukosa darah berdasarkan spektrum time
domain terhadap frekuensi hasil keluaran alat pengukur glukosa darah non-invasif.
Alat pada penelitian ini menggunakan konsep spektroskopi. Hasil dari spektrum
residu intensitas cahaya yang kemudian dimodelkan untuk menduga kadar glukosa
darah. Metode yang digunakan untuk memodelkan dugaan kadar glukosa darah
tersebut menggunakan gage linearity and bias study dengan pendugaan parameter
menggunakan regresi ortogonal. Hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa
gage linearity and bias study dapat digunakan sebagai model untuk menduga kadar
glukosa dalam darah dengan cara non-invasif. Dalam penelitian ini, setelah
ditemukan model yang sesuai, validasi dilakukan menggunakan uji hipotesis dua
contoh berpasangan antara hasil dari model dengan hasil kadar glukosa darah
invasive
Pengelolaan Konservasi Perairan Pulau Kecil dengan Pendekatan Pemodelan Resiliensi Sistem Sosial-Ekologi: Studi Kasus KKPD Pulo Pasi Gusung, Selayar, Sulawesi Selatan
Penetapan kawasan konservasi perairan laut tidak hanya mempertimbangkan keberlanjutan sumberdaya yang ada, terutama ekosistem terumbu karang, padang lamun, mangrove, biota yang dilindungi, habitat serta daerah pemijahan ikan dan biota lainnya. Yang perlu dipertimbangkan juga adalah aktifitas masyarakat lokal yang memanfaatkan sumberdaya tersebut.
Sebagai upaya mengatasi degradasi sumber daya kelautan di Indonesia, diperlukan suatu desain pengelolaan yang komprehensif, yang tidak hanya mempertimbangkan kemampuan sumberdaya terumbu karang untuk dapat pulih kembali setelah mengalami penurunan serta faktor-faktor pendukung lainnya juga perlu dipertimbangkan aspek sosial-ekonomi dari masyarakat yang memanfaatkannya. Desain pengelolaan ini diharapkan selain dapat menjamin keberlanjutan sumberdaya juga dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat.
Resiliensi merupakan respon ekosistem dan jaminan terhadap terjadinya perubahan lingkungan, dan telah menjadi tujuan utama dari pengelolaan terumbu karang. Keanekaragaman hayati, keanekaragaman spasial dan konektivitas diusulkan sebagai landasan resiliensi dan jaminan terhadap ketidakpastian ekologi. Indikator empirik yang dapat dijadikan sebagai landasan resiliensi antara lain: pelaku kolonisasi ruang, mengukur keanekaragaman spasial dan kapasitas grazing.
Studi tentang analisis perikanan terumbu karang dengan pendekatan sistem sosial-ekologi masih belum banyak dilakukan. Komponen-komponen sistem yang mempengaruhi perikanan terumbu karang akan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Selain dipengaruhi oleh perbedaan kondisi alam, seperti pengaruh perbedaan musim, pengaruh kondisi oseanografi dan letak geografis, juga dipengaruhi budaya dan aktifitas masyarakat di sekitarnya.
Pendekatan sistem didalam melakukan analisis perikanan terumbu karang di KKPD Pulo Pasi Gusung dilakukan untuk melihat komponen-komponen apa saja yang mempengaruhi serta hubungan diantara komponen tersebut. Komponen dan hubungan diantara komponen tersebut membentuk suatu sistem yang khas dan berbeda dengan daerah lainnya.
Komponen aktifitas pemanfaatan sumberdaya terdiri dari penangkapan ikan secara tradisional dan penggunaan bius. Tekanan terhadap pemanfaatan sumberdaya terdiri dari musim, tingkat pendidikan, populasi penduduk, hasil tangkapan ikan, harga ikan dan pendapatan nelayan. Keputusan atau kebijakan yang dibutuhkan antara lain kawasan konservasi perairan dengan penetapan zona larangan pemanfaatan sumberdaya, pengawasan terhadap kawasan dan tersedianya lapang kerja alternatif selain sebagai nelayan. Keputusan yang diperoleh dari partisipasi aktif masyarakat menggambarkan kebutuhan yang sebaiknya dilaksanakan oleh pengelola KKPD Pulo Pasi Gusung untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya dan aktifitas pemanfaatannya.
Penilaian potensi pemulihan atau resiliensi terumbu karang tidak hanya menggunakan indkator ekologi, tetapi indikator sosial dan ekonomi juga dapat
v
digunakan untuk melakukan penilaian resiliensi di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Pulo Pasi Gusung, Selayar. Indeks resiliensi terumbu karang yang dikembangkan dengan pendekatan sistem sosial-ekologi menghasilkan penilaian yang tidak jauh berbeda dengan indeks kesehatan terumbu karang yang dikembangkan oleh LIPI. Kelebihan indeks resiliensi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah memperhitungkan indikator sosial dan ekonomi yang berperan didalam menentukan kondisi terumbu karang di kawasan konservasi karena aktifitas masyarakat sangat menentukan kondisi dan potensi pemulihan terumbu karang.
Berdasarkan indikator sosial dan ekonomi tersebut maka dapat menjadi acuan bagi pengambil keputusan, dalam hal ini pemerintah daerah, tentang kebijakan yang mengarah pada langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga ekosistem terumbu karang, salah satunya adalah dengan membuka lapangan kerja alternatif selain sebagai nelayan, baik nelayan tradisional maupun nelayan pengguna bius, sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap ekosistem terumbu karang.
Pendekatan analisis sistem dapat digunakan didalam pengelolaan KKPD Pulo Pasi Gusung. Pemodelan sistem dinamik dengan pendekatan sistem sosial-ekologi digunakan didalam penelitian ini untuk menggambarkan keragaan dari dimensi sosial, ekonomi dan ekologi di KKPD Pulo Pasi Gusung.
Studi tentang resiliensi spasial, terutama untuk ekosistem terumbu karang dengan pendekatan sistem sosial-ekologi masih sangat terbatas. Diperlukan data dan informasi yang cukup, baik secara spasial dan temporal, untuk dapat melakukan kajian tersebut. Operasionalisasi resiliensi menjadi prioritas global didalam pengelolaan ekosistem. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menghitung resiliensi menggunakan pendekatan model ekologi spasial.
Skenario pengelolaan dengan mengintegrasikan pengelolaan KKPD terpadu antara pengelolaan kawasan dan tersedianya pekerjaan alternatif bagi nelayan merupakan skenario yang ideal akan tetapi membutuhkan pembiayaan yang tinggi dan upaya yang besar, dimana pengawasan yang dilakukan selama 20 hari dalam sebulan dan 6 jam setiap harinya; tersedianya lapangan pekerjaan hingga 45% dari populasi nelayan; dan luasan no-take zone area hingga 40 % dari luas terumbu karang, yaitu 229,756 hektar.
Skenario bertahap direkomendasikan untuk dapat dimplementasikan didalam pengelolaan KKPD Pulo Pasi Gusung, dimana akan diperoleh hasil yang optimal dengan upaya dan anggaran yang tidak terlalu besar, yaitu pada 3 tahun pertama tersedia pekerjaan lain yang mencapai 45 % dari populasi nelayan, 3 tahun berikutnya penetapan no-take zone area mencapai 40 % dari luas terumbu karang dan tahun berikutnya pelaksanaan pengawasan selama 6 jam setiap hari yang dilakukan selama 20 hari setiap bulannya.
Model spasial resiliensi terumbu karang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap zonasi suatu kawasan konservasi perairan laut, dimana lokasi yang memiliki potensi resiliensi tinggi ditetapkan zona inti
Analisis Neraca Air Pulau Jawa Menggunakan Pendekatan Supply-Demand.
Pulau Jawa merupakan salah satu pulau dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, sekaligus sebagai pusat kegiatan industri dan pertanian, yang menghadapi masalah tidak hanya pada ketersediaan air tetapi juga dalam hal kebutuhan air. Analisis neraca air wilayah diperlukan untuk mengevaluasi kondisi keseimbangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan neraca air tahunan Pulau Jawa dalam setiap periode rata-rata 10 tahunan (1981-1990, 1991-2000, dan 2001-2010). Penelitian ini menggunakan data curah hujan dari CHIRPS (Climate Hazards-Group InfraRed Precipitation with Stations) dan suhu udara dari CRU (Climatic Research Unit) untuk menghitung ketersediaan air. Kebutuhan air dihitung berdasarkan standar penggunaan air untuk sektor domestik, industri, pertanian, dan lingkungan dari standar penggunaan air Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah kabupaten/kota yang mengalami defisit air setiap periode 10 tahunan dari tahun 1981-2010. Penelitian ini mampu menggambarkan tren potensial dari neraca air untuk periode mendatang
Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Sirih Merah (Piper crocatum) dengan Metode Ferric Reducing Antioxidant Power
Sirih merah (Piper crocatum) merupakan tanaman yang berperan sebagai
sumber antioksidan yang telah banyak diteliti aktivitasnya. Penelitian ini
bertujuan mengukur kandungan kuersetin dan menentukan aktivitas antioksidan
ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air daun sirih merah
dengan metode Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Ekstraksi dilakukan
dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstrak etanol
difraksinasi menggunakan tiga pelarut berdasarkan tingkat kepolarannya, yaitu nheksana,
etil asetat, dan air. Pengukuran kandungan kuersetin dilakukan
menggunakan HPLC dan uji antioksidan dilakukan dengan metode Ferric
Reducing Antioxidant Power (FRAP). Fraksi etil asetat memiliki kandungan
kuersetin tertinggi sebesar 3.887 mg/g dan aktivitas antioksidan tertinggi sebesar
844.050 μmol Tr/g. Kandungan kuersetin ekstrak etanol sebesar 1.473 mg/g dan
fraksi air sebesar 1.055 mg/g. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol sebesar
433.940 μmol Tr/g, fraksi n-heksan sebesar 8.975 μmol Tr/g dan fraksi air sebesar
743.597 μmol Tr/g
Dampak Ekonomi Penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) terhadap Petani Hutan Rakyat (Studi Kasus: Desa Burat, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah).
Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yaitu sebuah skema sertifikasi untuk membuktikan legalitas kayu dan memenuhi unsur pengelolaan hutan lestari. Kabupaten Wonosobo tepatnya di Desa Burat adalah salah satu daerah dengan hutan rakyat yang melaksanakan SVLK pada tahun 2011. Akan tetapi, pelaksanaan SVLK tersebut tidak dilanjutkan pada tahun 2017 oleh petani hutan rakyat yang tergabung dalam Asosiasi Pemilik Hutan Rakyat (APHR) Kayu Jaya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi keragaan dan peran kelembagaan unit manajemen hutan rakyat dalam pelaksanaan SVLK di Desa Burat, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo; (2) mengidentifikasi peran stakeholder dalam pelaksanaan SVLK di Desa Burat, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo; (3) menganalisis persepsi petani hutan rakyat terhadap pelaksanaan SVLK di Desa Burat, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo; (4) mengestimasi dampak ekonomi pada petani hutan rakyat dalam pelaksanaan SVLK di Desa Burat, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo; dan (5) menganalisis faktor-faktor yang mendorong petani tidak melanjutkan pelaksanaan SVLK di Desa Burat, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif, analisis stakeholder, skala likert, serta analisis biaya dan manfaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stakeholder memiliki tupoksi masing-masing dengan APHR Kayu Jaya sebagai aktor utama dalam pelaksanaan SVLK di Kabupaten Wonosobo. Stakeholder dengan tingkat kepentingan dan pengaruh tertinggi (key players) dalam pelaksanaan SVLK yaitu APHR Kayu Jaya sedangkan mayoritas stakeholder lain berada pada minimal effort yakni memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh rendah. Berdasarkan persepsi petani, pelaksanaan SVLK tidak memberikan dampak ekonomi berupa perubahan harga, volume penjualan, maupun rantai pasar namun cukup memberikan dampak sosial. Pengusahaan hutan rakyat baik dengan maupun tanpa skema SVLK layak secara ekonomi, namun jika dengan skema SVLK nilai manfaat lebih kecil dibandingkan tanpa skema SVLK. Faktor yang mendorong petani tidak melanjutkan pelaksanaan SVLK di Desa Burat yaitu harga, volume penjualan, dan rantai pasar kayu
Pengembangan Sistem Aplikasi Mobile Untuk Visualisasi Pola Sekuens Pada Titik Panas (SIMPANTAS).
Kebakaran lahan dan hutan sering terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Indikasinya mampu diketahui dengan pendataan pola-pola titik panas yang terjadi sebelumnya. Sistem untuk pendataan titik panas berbasis aplikasi web dan mobile pun sudah dikembangkan dan berfungsi optimal. Namun dalam penerapannya kadang mengalami kesulitan karena kurangnya kemudahan terhadap penggunaan akses dalam meraih informasi, baik lokasi saat dibutuhkan karena sistem tersebut hanya mampu dipergunakan pada perangkat komputer ataupun laptop. Maka dari itu penelitian ini mengembangkan sistem visualisasi pola titik panas berbasis perangkat berjalan (mobile) dengan menggunakan library SPMF dan Google Maps API pada environment Android. Penelitian ini juga mengembangkan fitur visualisasi pola titik panas secara realtime, sehingga hasil penelitian dapat memvisualisasikan pola sekuens titik panas