31665 research outputs found
Sort by
Analisis Penambatan Molekul Senyawa Aktif Pare (Momordica charantia) pada Enzim Human PPAR untuk Agen Anti-Diabetes
Pare (Momordica charantia) merupakan salah satu tanaman yang memiliki
aktivitas anti-diabetes. Senyawa yang terkandung didalam pare berupa Caffeic
acid, Catechin, Chlorogenic acid, Epicatechin, Ferulic acid, Gallic acid, Gentisic
acid, Kuguacin dan P-coumaric acid yang dipercaya berkhasiat untuk mengobati
penyakit diabetes namun belum diketahui potensi dari masing-masing senyawa
tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi senyawa aktif pare
(Momordica charantia) pada enzim human PPARγ sebagai obat anti-diabetes
melalui simulasi penambatan molekul (molecular docking). Senyawa kontrol yang
digunakan dalam penambatan ini adalah Rosiglitazone dan senyawa uji yang yang
digunakan adalah senyawa aktif pare. Epicatechin merupakan senyawa aktit pare
yang memiliki potensi sebagai inhibitir enzim human PPARγ untuk agen antidiabetes
mengikuti Rosiglitazone. Epicatechin memiliki energi bebas Gibbs ikatan
yang kecil, konstanta inhibisi yang kecil, memiliki jumlah kontak hidrofobik yang
paling banyak dan memiliki persentase binding site similarity yang besar
dibandingkan ligan uji lainnya
Model Pemanfaatan Situ Perkotaan Sebagai Tampungan Debit Banjir dan Penyedia Air Baku (Studi Kasus Situ Cipondoh Kota Tangerang).
Situ merupakan merupakan sumberdaya air permukaan yang memiliki beragam fungsi dan manfat yang perlu dilestarikan. Selain berfungsi sebagai daerah parkir air, situ berfungsi sebagai cadangan air permukaan, tempat rekreasi dan sumber penghidupan bagi masyarakat sekitarnya. Berbeda dengan situ di daerah perdesaan, situ perkotaan sangat dipengaruhi oleh kondisi sempadan dan daerah tangkapannya. Penggunaan lahan yang didominasi oleh penutupan tanah yang diperkeras dan sedikit memiliki lahan resapan, mengakibatkan air yang jatuh ke permukaan tanah mengalir menjadi air larian permukaan. Akibatnya, debit inflow yang masuk ke dalam situ perkotaan melalui saluran-saluran cenderung tidak stabil dan memiliki rentang fluktuasi yang tinggi. Kondisi tersebut mempengaruhi kinerja situ perkotaan sebagai tempat parkir air (retarding basin) dan penyedia air permukaan. Penelitian ini bertujuan membangunan model pemanfaatan Situ Cipondoh yang berfokus pada aspek pengelolaan kuantitas air, serta merumuskan rekomendasi tata kelola pemanfaatan situ sebagai penampung debit banjir dan penyedia air baku, dengan studi kasus di Situ Cipondoh Kota Tangerang Provinsi Banten.
Model Tangki Sugawara digunakan dalam penelitian ini untuk memodelkan dan mensimulasikan debit aliran dari daerah tangkapan pada berbagai tingkat resapan air. Peningkatan fungsi tampungan dilakukan melalui simulasi neraca air tampungan untuk memperoleh tingkat muka air yang optimal dalam mendukung fungsi situ sebagai penampung debit banjir dan penyedia air baku. Penelusuran tampungan (reservoir routing) dengan memanfaatkan model tangki reservoir dapat membantu pendugaan kehilangan air dari tampungan akibat rembesan dan perkolasi, yang selama ini sulit diprediksikan. Interpretive Struktural Modelling (ISM) dilakukan untuk mengidentifikasi dan menstrukturkan elemen kelembagaan pengelolaan situ. Sintesa hasil dan metode deskriptif-analitis digunakan untuk mengidentifikasi berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh pemangku kepentingan dalam pengelolaan situ perkotaan agar fungsinya sebagai penampung debit banjir dan penyedia air baku dapat lebih optimal dan berkelanjutan.
Pengaruh tingkat resapan air daerah tangkapan terhadap debit inflow yang masuk ke dalam Situ Cipondoh berhasil disimulasikan menggunakan Model Tangki. Semakin tinggi tingkat resapan, maka debit inflow yang masuk ke dalam Situ Cipondoh akan cenderung semakin stabil. Berdasarkan hasil simulasi Model Tangki, peningkatan resapan air pada daerah tangkapan dari 44,2% menjadi 90% akan menurunkan debit puncak sebesar 69%, yaitu dari rata-rata 17,91 m3/detik menjadi 5,59 m3/detik, serta meningkatkan debit dasar sebesar 75%, yaitu dari 0,54 m3/detik menjadi 0,95 m3/detik. Air yang mengalir masuk ke dalam Situ Cipondoh tidak seluruhnya tersimpan di dalam tampungan. Berdasarkan analisis neraca air menggunakan Reservoir Tank Model (RTM) kehilangan air akibat resapan air (infiltrasi) dan kebocoran tampungan (seepage) diperkirakan mencapai
42,4-57,2% dari total inflow. Di luar faktor kehilangan air tersebut, penurunan muka air lebih didominasi oleh jumlah lepasan air dari tampungan.
Berdasarkan hasil observasi, Situ Cipondoh dapat berfungsi secara optimal apabila muka air situ dijaga pada kisaran 2,70 m hingga 3,70 m dari datum. Aturan operasi tampungan yang disusun dapat menjaga kisaran muka air secara efektif sehingga tampungan Situ Cipondoh 98% dapat diandalkan untuk menampung debit banjir sekaligus menyediakan air baku bagi PDAM dengan kapasitas 30 liter/detik. Apabila kapasitas olah air baku PDAM akan ditingkatkan menjadi 150 liter/detik, maka konservasi daerah tangkapan merupakan alternatif yang perlu diupayakan agar kinerja tampungan Situ Cipondoh tetap terjaga. Pada tingkat pengambilan air baku 150 liter/detik, peningkatan resapan daerah tangkapan dari 44,8% menjadi 75,0 % dapat meningkatkan keandalan Situ Cipondoh pada dari 72,9 % menjadi 98,6 %. Secara umum, keandalan Situ Cipondoh relatif meningkat dengan penerapan aturan operasi dan konservasi daerah tangkapan.
Berdasarkan analisis ISM pengelolaan situ terutama ditujukan untuk menjaga fungsinya sebagai reservoir (cadangan air permukaan) dan pengendalian banjir. Target perubahan yang diinginkan adalah menurunnya laju penyusutan perairan dan stabilitas dari tingkat muka air. Kegiatan inventarisasi data situ, melakukan rekonsiliasi dan penetapan aset situ, serta menetapkan batas kawasan situ dalam bentuk fisik menjadi prioritas yang dibutuhkan dalam kegiatan pengelolaan situ. Kendala utama pengelolaan Situ Cipondoh yang perlu segera diatasi adalah masalah penentuan batas kawasan situ, koordinasi dan komunikasi antar instansi, serta aturan/kebijakan pengelolaan. Balai Besar Wilayah Ciliwung Cisadane dan Walikota Kota Tangerang memiliki peran penting sebagai aktor kunci yang menentukan keberhasilan pengelolaan situ. Diperlukan koordinasi dan sinergitas dari berbagai kegiatan sesuai dengan faktor-faktor kunci keberhasilan pengelolaan situ melalui sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) di tingkat daerah
Sumber dan Dosis Pupuk Kalium dengan Fertigasi melalui Irigasi Tetes pada Budidaya Tanaman Buncis yang Menggunakan Mulsa Polietilen.
Buncis merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang dapat dikonsumsi dalam bentuk polong muda. Permasalahan yang sering terjadi dalam budidaya tanaman buncis adalah ketidakefisienan penggunaaan air dan pupuk. Hal tersebut dapat ditanggulangi dengan perbaikan metode irigasi dan pengelolaan pupuk, yaitu melalui sistem fertigasi. Pemupukan hara kalium (K) pada tanaman buncis sangat dibutuhkan karena berpengaruh terhadap proses metabolisme, fisiologi, dan nutrisi untuk mencapai hasil yang maksimal dan berkualitas baik. Tujuan penelitian ini adalah menentukan sumber dan dosis optimum pupuk K pada fertigasi melalui irigasi tetes tanaman buncis yang menggunakan mulsa polietilen. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2018 sampai Mei 2018 di kebun University Farm (UF) IPB pada ketinggian tempat ±230 m dpl. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) tersarang (nested) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah sumber pupuk K, yaitu: KCl, ZK, dan NPK. Faktor kedua adalah dosis pada masing-masing sumber pupuk K, yaitu: 0, 37.5, 75, 112.5, 150 kg K2O ha-1. Pada percobaan ini dosis pupuk tersarang pada faktor utama yaitu sumber pupuk. Pemberian pupuk melalui sistem fertigasi mikro irigasi tetes dengan emiter yang diletakkan dekat pada perakaran tanaman diberikan dalam bentuk larutan bersamaan dengan air irigasi. Pemupukan terdiri dari pupuk dasar pada saat preplant dan pupuk susulan melalui irigasi tetes.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sumber pupuk K memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peubah pertumbuhan dan hasil panen buncis. Pemupukan dengan menggunakan sumber pupuk NPK memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemberian pupuk tunggal KCl dan ZK. Sumber pupuk K yang berpengaruh nyata diduga disebabkan oleh bentuk dan kelarutan dari jenis pupuk yang digunakan, kemudahan dalam aplikasinya, dan kelengkapan kandungan hara sumber pupuk. Analisis usaha tani menghasilkan nilai R/C ratio yang diperoleh dari sumber pupuk NPK sebesar 1.69. Suatu usaha tani dikatakan layak jika nilai R/C ratio > 1. Berdasarkan bobot polong basah per petak, produktivitas per hektar polong buncis yang dihasilkan pada penelitian ini mencapai 7.52 ton ha-1. Taraf dosis K2O yang diberikan melalui sumber pupuk K yang berbeda belum berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil produksi buncis. Hal ini disebabkan karena kondisi hara K pada tanah lahan yang sudah tinggi. Tingginya curah hujan pada masa pembungaan menyebabkan kerontokan bunga yang cukup tinggi dan juga menyebabkan kelembaban yang tinggi yang dapat memicu serangan penyakit Fusarium pada tanaman. Permasalahan pemupukan yaitu kehilangan hara akibat pencucian dapat diatasi dengan penggunaan mulsa. Bersamaan dengan itu, adapun kendala yang disebabkan oleh mulsa yaitu kesulitan dalam penyiraman tanaman juga dapat diatasi dengan teknologi penyiraman dengan irigasi tetes
Evaluasi Potensi Biomassa Hijauan dan Kapasitas Tampung pada Lahan Integrasi Sawit-Sapi di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi biomassa hijauan dan
kapasitas tampung berdasarkan perbedaan waktu rotasi grazing pada Clan di lahan
integrasi Sawit-sapi, serta menentukan waktu rotasi optimum di Kotawaringin
Barat. Desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial
dengan waktu rotasi 1 bulan (R1), 2 bulan (R2), 3 bulan (R3), dan lebih dari 3 bulan
(R4). Parameter yang diamati adalah sifat kimia tanah; indeks keanekaragaman;
laju pertumbuhan hijauan; potensi produksi hijauan, kualitas nutrien, dan kapasitas
tampung; stocking rate, Proper Use Factor (PUF), permodelan tinggi dan bobot
hijauan, serta estimasi konsumsi hijauan sapi yang dianalisis secara korelasi dan
regresi, nilai tengah akar kuadrat (RMSE), dan uji t-Tes. Hasil menunjukkan bahwa
C-Organik dan N di Clan 2 lebih tinggi dibandingkan Clan 1 dan Clan 3 sehingga
pertumbuhan hijauannya lebih optimum. Indeks keanekaragaman antar-Clan
tergolong sedang yang didominasi oleh hijauan perenial Ottochloa nodosa,
Nephrolepis biseratta, Centotheca lappacea, Axonopus compressus, dan Paspalum
conjugatum. Laju pertumbuhan tertinggi terdapat di Clan 2, yaitu 3.58 cm/minggu.
Interaksi antara Clan dan lama waktu rotasi berpengaruh nyata (p<0.05)
meningkatkan potensi produksi bahan kering. Ketinggian tanaman berkorelasi
linear positif dengan bobot hijauan. Permodelan yang diperoleh untuk Clan 1 adalah
y = 0.6994x - 2.2910; Clan 2: y = 0.6543x - 2.9535, dan Clan 3: y = 0.7952x -
4.1921. Validasi permodelan dengan membandingkan nilai observasi dengan
estimasi berdasarkan RMSE dan uji probabilitas menunjukkan permodelan adalah
valid dan dapat digunakan untuk mengestimasi konsumsi hijauan di blok. Rataan
PUF, Produksi biomassa hijauan dan kapasitas tampung tertinggi terdapat di Clan
2. Rataan PUF adalah sebesar 62.11%, potensi produksi tertinggi terdapat pada
rotasi 4 bulan, yaitu 2027.36 kg BK Ha-1 dan kapasitas tampung tertinggi terdapat
pada rotasi 2 bulan, yaitu 2.52 ST Ha-1Th-1
Status Ekologi Perairan Berdasarkan Makrozoobentos dengan Pendekatan Kurva ABC di Pantai Kupang, Desa Lubuk Damar, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang
Pantai Kupang, Desa Lubuk Damar, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang
berpotensi mendapatkan gangguan ekosistem perairan karena berbagai aktivitas
masyarakat di sekitar Pantai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status
ekologi perairan menggunakan makrozoobentos berdasarkan kurva ABC.
Penelitian dilaksanakan pada Bulan Agustus 2017 dan Januari 2018 di Pantai
Kupang. Data yang dikumpulkan berupa kelimpahan makrozoobentos, substrat
dan beberapa parameter kualitas air. Kepadatan makrozoobentos bulan Januari
lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Agustus. Secara umum hasil kurva ABC
pada bulan Agustus maupun Januari menggambarkan bahwa adanya gangguan
ekosistem perairan (kategori sedang) terhadap kehidupan makrozoobentos. Nilai
indeks ekologi dan kurva ABC yang didapatkan berdasarkan kondisi
makrozoobentos mengindikasikan bahwa Pantai Kupang telah mengalami
gangguan ekosistem perairan yang tergolong sedang
Strategi Pengembangan Perikanan Telur Ikan Terbang yang Didaratkan Nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Tual
Pelabuhan perikanan di Kota Tual salah satunya adalah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tual, dengan salah satu hasil tangkapan yang didaratkan adalah ikan dan telur ikan terbang (Cypselurus sp.). Ikan terbang termasuk ikan pelagis yang dapat ditemukan di perairan tropis dan sub tropis dengan kondisi perairan yang tidak keruh dan berlumpur (Hutomo et al. 1985). Ikan dan telur ikan terbang menjadi target penangkapan utama nelayan karena memiliki nilai ekonomis tinggi di pasaran domestik maupun ekspor.
Berdasarkan KEPMEN-KP Nomor 69 Tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Ikan Terbang, beberapa isu prioritas yang menjadi permasalahan yaitu; (1) sumber daya ikan dan habitat; (2) sosial dan ekonomi; (3) tata kelola. Permasalahan tersebut secara umum juga menjadi permasalahan perikanan telur ikan terbang di Kota Tual saat ini. Tujuan penelitian ini adalah; 1) Menganalisis situasi permasalahan sistem perikanan terbang di PPN Tual; 2) Membangun model untuk sistem pengembangan perikanan terbang di PPN Tual; dan 3) Menyusun strategi kebijakan dalam pengembangan perikanan terbang di PPN Tual.
Permasalahan perikanan ikan terbang di PPN Tual, merupakan permasalahan yang kompleks. Salah satu metode untuk mengatasi permasalahan yang kompleks serta bersifat dinamis adalah dengan menggunakan pendekatan sistem. Tahapan metode pendekatan sistem meliputi: 1) Analisis kebutuhan, 2) Formulasi masalah, 3) Identifikasi sistem, 4) Pemodelan sistem. Metode pengumpulan data dilakukan melalui survei dan wawancara terhadap nelayan telur ikan terbang, pengusaha, Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tual, Kepala Dinas Perikanan Kota Tual beserta staf, Kepala Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kota Tual beserta staf, dan para Dosen Politeknik Perikanan Negeri Tual. Analisis yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian yaitu analisis deskriptif, analisis sistem dan Analisis Hirarki Proses (AHP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2015 sampai 2017, produksi telur ikan terbang meningkat. Kondisi sebaliknya, terjadi pada jumlah kapal yang mengalami penurunan. Hal ini diantaranya disebabkan kapal-kapal tidak mendapatkan izin operasi dan adanya pengawasan yang ketat dari pihak PSDKP. Kapal penangkap telur ikan terbang rata-rata berukuran 5 GT-20 GT. Alat tangkap yang digunakan para nelayan adalah rumpon (bale-bale). Nelayan sebagian besar merupakan nelayan andon, yang berasal dari Kabupaten Takalar dan Galesong serta Buton. Lama trip dua minggu hingga satu bulan tergantung kondisi cuaca dan tinggi gelombang. Berdasarkan hasil kajian sistem, dapat digambarkan situasi permasalahan sistem yaitu dari aspek biologi; 1) Ancaman terhadap kondisi sumber daya telur ikan terbang karena pendataan ikan yang belum baik; 2) Musim penangkapan telur ikan terbang bersamaan dengan musim gelombang (Musim Timur) sehingga pihak Syahbandar tidak mengeluarkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB).
Aspek teknis yaitu; 1) Kapal tidak memilki dokumen perizinan seperti SIUP, SIPI, STKA dan SIKPI; 2) Penggunaan alat tangkap yang dianggap tidak ramah lingkungan. Aspek sosial yaitu; 1) Sumberdaya manusia yang masih rendah; 2) Nelayan rugi akibat kapal tidak memiliki izin penangkapan. Aspek ekonomi yaitu; 1) Biaya operasional kegiatan penangkapan yang semakin tinggi sehingga membatasi jangkauan operasi penangkapan; 2) Tidak adanya alokasi BBM bersubsidi dari SPBU dan APMS sehingga kalau membeli dengan harga industri, nelayan merasa terbeban; 3) Harga telur ikan yang tidak stabil; dan 4) Terbatasnya akses modal untuk usaha perikanan terbang. Untuk mengatasi masalah yang ada dibuat model untuk pengembangan perikanan telur ikan terbang. Model dibagi menjadi 2, yaitu; 1) sub model penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan, dan 2) sub model pengembangan bisnis perikanan telur ikan terbang. Alternatif strategi dalam pengembangan perikanan telur ikan terbang adalah pembatasan jumlah alat tangkap dan pembatasan jumlah hasil tangkapan. Pembatasan jumlah alat tangkap (bale-bale) dimaksudkan untuk menjaga sumberdaya ikan terbang dengan cara setiap kapal yang melakukan operasi penangkapan telur ikan diwajibkan untuk melepaskan 20% dari total bale-bale yang dipakai, sehingga pemulihan stok dapat dilakukan dan berkelanjutan
TRASHSURE: Mengubah Sampah Kertas menjadi Uang dan Donasi Berbasis Bisnis Sosial
Penelitian ini didasarkan dari masalah pengelolaan sampah kertas di
Indonesia yang dapat dikelola agar bernilai ekonomis yang dikombinasikan
dengan peluang aktivitas donasi dan penggunaan internet yang memiliki tren
positif pada masyarakat Indonesia menjadi suatu peluang untuk menghubungkan
penyaluran sampah kertas yang bernilai ekonomis dalam suatu sistem berdonasi
melalui platform online. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
permasalahan konsumen dalam penyaluran sampah kertas dan aktivitas berdonasi
sehingga terbentuk rancangan model bisnis, fitur, dan prototipe produk yang tepat
untuk menjawab permasalahan konsumen dan membentuk sistem berdonasi
dengan sampah kertas melalui digital platform. Penelitian ini menggunakan model
customer discovery dengan teknik pengambilan sampel convenience sampling.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Konsumen memiliki masalah tidak
adanya pihak penampung sampah kertas yang konsisten, fleksibel, dan mudah, (2)
Konsumen memiliki masalah banyaknya donasi yang tidak terpercaya dengan
transparansi yang terlalu sering, serta keinginan berdonasi tetapi tidak selalu
memiliki uang yang lebih, (3) Model bisnis dan prototipe produk TRASHSURE
telah terverifikasi serta bersifat problem-solution fit dan product-market fit, (4)
Sebanyak 100% konsumen potensial menyatakan akan menggunakan
TRASHSURE, dan (5) Perlunya pengembangan potensi bisnis berupa ekspansi
jenis sampah, sistem donasi, key partners yang berbasis pemberdayaan
masyarakat, dan sistem pengolahan sampah menjadi produk daur ulang
Pengembangan Backend Aplikasi IPB Connect untuk Alumni dan Mahasiswa dengan Metode Prototyping
IPB Connect merupakan aplikasi yang dikembangkan untuk memudahkan
komunikasi antara alumni dan mahasiswa IPB. Pengembangan aplikasi ini dibagi
menjadi dua bagian yaitu pengembangan dari sisi backend dan frontend.
Pengembangan backend pada aplikasi IPB Connect menggunakan metode
prototyping dengan 2 iterasi. Metode prototyping yang digunakan terdiri dari 5
tahapan, yaitu komunikasi, perencanaan cepat, pemodelan, pembuatan prototype,
dan pengiriman sekaligus umpan balik. Prototype dibuat dengan Node.js dan
menggunakan basis data MongoDB. Arsitektur yang digunakan dalam proses
pengembangan aplikasi IPB Connect adalah REST API. Dalam pengembangan
aplikasi IPB Connect masih diperlukan penambahan fitur yang membantu interaksi
antara alumni dan mahasiswa IPB baik dari sisi backend maupun frontend. Tujuan
dari penelitian ini adalah mengembangkan aplikasi IPB Connect dari sisi backend
untuk menghasilkan API yang akan dikonsumsi oleh bagian frontend untuk
membuat antarmuka pengguna dan menyajikan data yang memenuhi kebutuhan
pengguna. Pengembangan dari sisi backend telah menghasilkan API yang dapat
digunakan oleh bagian frontend. API yang dibuat juga telah diuji dan telah
memenuhi kebutuhan bagian frontend untuk digunakan pada fitur baru aplikasi IPB
Connect
Status Kesehatan Hutan Tanaman Industri Eucalyptus pellita F. Muell di PT Perawang Sukses Perkasa Industri, Riau.
Praktik pengelolaan hutan di PT Perawang Sukses Perkasa Industri, Riau
menggunakan sistem silvikultur tebang habis permudaan buatan. Praktik
pengelolaan tersebut dilakukan untuk memperoleh tegakan hutan baru yang
seumur dan bernilai tinggi. Pengelolaan hutan produksi perlu memperhatikan
kondisi tegakan melalui aspek ekologis hutan agar mendapatkan kualitas produksi
yang optimal. Salah satu metode pemantauan kesehatan hutan yang sistem
penilaiannya berdasarkan komponen-komponen ekologis hutan adalah Forest
Health Monitoring (FHM). Tujuan penelitian ini adalah menilai status kesehatan
hutan tanaman industri E. pellita F. Muell di PT PSPI dengan menggunakan
metode FHM. Penelitian ini menggunakan indikator kualitas tapak, vitalitas, dan
produktivitas. Klaster plot dibangun pada petak RKT, KU1, KU2, KU3, KU4 dan
KU5, yang setiap umurnya dibangun pada topografi datar dan agak curam. Hasil
akhir nilai kesehatan hutan berdasarkan kelas umur dari KU1 hingga KU5,
menunjukkan tingkat kesehatan hutan tanaman industri dalam kondisi sedang,
kemudian berdasarkan topografi, hanya topografi datar pada KU5 yang memiliki
tingkat kesehatan hutan sehat
Tingkat Stres, Strategi Koping, Dukungan Sosial dan Fungsi Keluarga Korban Bencana di Kabupaten Lombok Timur
Gempa bumi yang telah terjadi pada 5 Agustus 2018 di Lombok Utara dan
Lombok Timur serta kawasan di sekitarnya berkekuatan 7 pada Skala Richter,
merupakan tipe gempa merusak dan mengakibatkan korban jiwa. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa dampak bencana berpengaruh terhadap munculnya
gejala stres. Stres pada korban bencana dapat mengganggu fungsi keluarga,
melemahkan keseimbangan keluarga, sehingga dibutuhkan strategi koping dan
dukungan sosial agar fungsi keluarga berjalan optimal.
Tujuan umum dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk menganalisis
pengaruh tingkat stres, strategi koping dan dukungan sosial terhadap fungsi
keluarga korban bencana di Kabupaten Lombok Timur. Tujuan khusus penelitian
ini, yaitu (1) menganalisis perbedaan tingkat stres, strategi koping, dukungan sosial
dan fungsi keluarga korban bencana di wilayah pegunungan dan pesisir; (2)
menganalisis hubungan tingkat stres, strategi koping, dukungan sosial dan fungsi
keluarga korban bencana; (3) menganalisis pengaruh tingkat stres, strategi koping,
dan dukungan sosial terhadap fungsi keluarga korban bencana.
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dan metode survey
dengan menggunakan kuesioner sebagai alat bantu pengumpulan data. Lokasi
penelitian dipilih secara purposive, yaitu di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan
Sembalun dan Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur,
Nusa Tenggara Barat. Tempat penelitian dipilih berdasarkan kerusakan terbanyak
akibat bencana di wilayah pegunungan dan pesisir, yaitu Desa Sembalun Bumbung,
Kecamatan Sembalun mewakili wilayah pegunungan dengan kerusakan terbanyak
dan Desa Sugian, Kecamatan Sambelia mewakili wilayah pesisir dengan kerusakan
terbanyak. Pengumpulan data dilaksanakan pada Bulan Januari hingga Agustus
2019. Populasi penelitian ini adalah seluruh keluarga korban bencana yang
bertempat tinggal di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun mewakili
wilayah pegunungan dan Desa Sugian,Kecamatan Sambelia mewakili wilayah
pesisir, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Responden pada
penelitian ini adalah istri dari keluarga korban bencana. Teknik penarikan contoh
yang digunakan adalah random sampling disproportional. Jumlah contoh yang
diambil untuk penelitian ini sebanyak 120 orang istri dari keluarga korban bencana.
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft
Excel dan Statistical Package for Social Science (SPSS). Analisis yang dilakukan
meliputi analisis deskriptif, uji beda t-test, dan uji regresi linear berganda.
Usia istri pada penelitian ini berada pada rentang usia 18-42 tahun, dengan
rata-rata usia istri 23.4 tahun. Rata-rata lama pendidikan istri secara keseluruhan
adalah 7.9 tahun atau setara SD dan SMP. Istri di wilayah pegunungan lebih banyak
bekerja sebagai petani, sedangkan istri di wilayah pesisir lebih banyak yang bekerja
sebagai buruh. Rata-rata jumlah anak yang dimiliki adalah 2 orang. Rata-rata besar
keluarga yang dimiliki korban bencana di wilayah pegunungan dan pesisir adalah
5 orang.
Tingkat stres dan strategi koping keluarga di wilayah pegunungan tidak
berbeda nyata dengan keluarga di wilayah pesisir. Namun, dimensi koping berfokus
masalah pada keluarga di wilayah pegunungan lebih tinggi daripada keluarga di
wilayah pesisir. Dukungan sosial di wilayah pegunungan lebih tinggi dari pada
wilayah pesisir. Selain itu, dimensi dukungan keluarga, dukungan teman dan
dukungan pemerintah pada keluarga di wilayah pegunungan lebih tinggi daripada
keluarga di wilayah pesisir. Fungsi keluarga di wilayah pesisir lebih tinggi dari pada
keluarga di wilayah pegunungan. Selain itu, dimensi peran, keterlibatan afektif dan
fungsi umum pada keluarga di wilayah pesisir lebih tinggi daripada keluarga di
wilayah pegunungan.
Hasil uji hubungan menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan dan
tingkat stres maka semakin tinggi pula strategi koping. Semakin tinggi usia istri dan
jumlah anak maka semakin rendah dukungan sosial. Semakin tinggi pendidikan,
tingkat stres, dan strategi koping maka semakin tinggi pula dukungan sosial.
Semakin tinggi strategi koping dan dukungan sosial maka semakin tinggi pula
fungsi keluarga. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi fungsi keluarga yaitu wilayah tempat tinggal, pekerjaan, strategi
koping dan dukungan sosial.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, saran yang dapat
diberikan adalah sebagai berikut: (1) Keluarga korban bencana diharapkan saling
memberikan dukungan melalui nasihat dan perhatian agar merasa nyaman, dan
meningkatkan komunikasi yang baik agar menciptakan lingkungan yang saling
menguatkan sehingga tidak merasa terbebani secara berlebihan dengan masalah
yang dihadapi. (2) Pihak masyarakat dan LSM yang peduli dengan daerah bencana
diharapkan memberikan edukasi, perhatian, konseling, dan arahan secara berkala
untuk membantu keluarga melakukan strategi koping secara maksimal. (3) Bagi
pemerintah diharapkan memberikan informasi yang akurat mengenai
perkembangan penanganan rekonstruksi fisik korban pascabencana, pendampingan
psikologi jangka panjang, dan meningkatkan pelatihan-pelatihan terkait program
pemberdayaan perekonomian keluarga melalui wirausaha produk lokal untuk
memotivasi masyarakar agar lebih berdaya