Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Efektivitas Ukuran Mata Pancing terhadap Hasil Tangkapan Pancing Ulur Ikan Tenggiri (Scomberomorus commersonii) di Tanjungpandan, Belitung.

    No full text
    Pancing ulur ikan tenggiri memiliki desain mata kail yang dipasang berkombinasi. Saat ini penentuan kombinasi ukuran mata pancing oleh nelayan di Tanjungpandan, Belitung didasarkan pada pengalaman dan coba–coba (trial error). Penelitian ini bertujuan menghitung komposisi hasil tangkapan dan distribusi ukuran ikan tenggiri berdasarkan ukuran mata pancing ulur ikan tenggiri di Perairan Tanjungpandan Belitung, mengukur efektivitas ukuran mata pancing terhadap hasil tangkapan pancing ulur ikan tenggiri di Perairan Tanjungpandan Belitung, dan mengidentifikasi periode penangkapan ikan tenggiri di Perairan Tanjungpandan Belitung. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan uji coba penangkapan (experimental fishing) pada pancing ulur dengan tiga kombinasi mata pancing yang berbeda selama 30 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi hasil tangkapan ikan tenggiri sebesar 92,11% (ekor) dan 90,93% (berat). Distribusi panjang hasil tangkapan pada ukuran mata pancing no. 6 dan 7 memiliki persentase layak tangkap sebesar 100%. Ukuran mata pancing no. 7 dan 8 memiliki persentase layak tangkap sebesar 37,2%. Ukuran mata pancing no. 8 dan 8 memiliki persentase layak tangkap sebesar 35,3%. Perbandingan hasil tangkapan pancing ulur berbeda pada setiap perlakuannya. Pancing ulur dengan no. 6 dan 7 memperoleh hasil tangkapan sebanyak 109 ekor (38,93%), sedangkan pancing no. 7 dan 8 sebanyak 86 ekor (30,71%), dan pancing no. 8 dan 8 sebanyak 85 ekor (30,36%). Ukuran mata pancing no. 6 dan 7 lebih efektif untuk menangkap ikan tenggiri dibandingkan dengan no. 7 dan 8 serta no. 8 dan 8 berdasarkan uji f dan uji t pada selang kepercayaan 95%. Periode penangkapan ikan tenggiri yang baik adalah pukul 07.00-10.00 WIB

    Analisis Kesejahteraan dan Sustainable Livelihood Nelayan di Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi

    No full text
    Ciletuh merupakan kawasan di Sukabumi yang diresmikan sebagai Global Geopark oleh UNESCO pada tahun 2017, dan memiliki banyak potensi sumberdaya alam salah satunya Pantai Palangpang yang menjadi kawasan wisata unggulan Geopark Ciletuh. Pantai Palangpang membentuk teluk ciletuh dan muara dari Sungai yang dimanfaatkan oleh nelayan untuk mendaratkan ikan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Nelayan di Pantai Palangpang dikategorikan nelayan kecil menurut unit kepemilikan kapal, sehingga nelayan mengikuti kegiatan wisata berupa penyewaan kapal kepada wisatawan untuk meningkatkan pendapatannya. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis share pendapatan nelayan perikanan tangkap dari sektor wisata bahari, menganalisis kesejahteraan dan sustainable livelihood nelayan sebelum dan setelah pengembangan Geopark Ciletuh. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis pendapatan, dan analisis sustainable livelihood. Hasil menunjukkan pendapatan nelayan perikanan tangkap dari kegiatan wisata bahari terhadap pendapatan total rumah tangga yaitu sebesar 20.85%, dan sebesar 79.15% berasal dari non wisata bahari. Terjadi penurunan surplus produsen nelayan dari Rp.23,261,777 pada tahun 2015 menjadi Rp.13,926,375 pada tahun 2018, dikarenakan adanya peningkatan nelayan, peningkatan biaya, penumpukan sampah di laut, dan masih rendahnya dampak wisata kepada keseluruhan nelayan. Aset sustainable livelihood nelayan yang mengalami peningkatan adalah human capital, sosial capital, physical capital, dan economic and financial capital, sedangkan natural capital mengalami penurunan aset

    Kebutuhan Air Berbasis Karakteristik Iklim (Studi kasus: Kabupaten Subang).

    No full text
    Kondisi iklim regional khususnya curah hujan, kelembaban udara dan suhu udara menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebutuhan air padi sawah. Penelitian mengenai kebutuhan air berbasis karakteristik iklim perlu dilakukan untuk mendukung manajemen air menuju efisiensi penggunaan air dan deteksi dini kekeringan berbasis karakteristik iklim. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan estimasi kebutuhan air tanaman padi, menganalisis kecukupan curah hujan terhadap kebutuhan air tanaman padi sawah tiap karakteristik iklim, menganalisis respon kebutuhan air tanaman padi sawah terhadap karakteristik iklim dan menganalisis tindakan masyarakat petani sebagai respon pemenuhan kebutuhan air tanaman padi. Kebutuhan air padi ditentukan dengan menghitung nilai evapotranspirasi dikurangi evaporasi untuk mendapat nilai transpirasi. Total kebutuhan air padi dibandingkan dengan total curah hujan tiap wilayah iklim. Respon kebutuhan air padi dipengaruhi oleh fase pertumbuhan dan perkembangan padi yang mengikuti pola sebaran suhu udara tiap demoplot. Estimasi kebutuhan air demoplot Binong, Purwadadi, Pamanukan, Pagaden dan Cijambe berurutan adalah 1134mm/1 musim tanam, 897mm/1 musim tanam, 1242mm/1 musim tanam, 1216mm/1 musim tanam, dan 690mm/1 musim tanam. Kebutuhan air dipengaruhi signifikan oleh suhu udara rata-rata dan kelembaban relatif (variabel iklim) dan tinggi tanaman dan jumah anakan (varietas padi). Total curah hujan tidak memenuhi kebutuhan air padi tiap demoplot. Pemberian air irigasi dilakukan untuk memenuhi defisit curah hujan tiap wilayah. Kecenderungan pemberian air irigasi berdasarkan jumlah hari hujan dan curah hujan mingguan menyebabkan ketidaktepatan tinggi kadar air tanah yang dapat digunakan padi pada fase pertumbuhan tertentu

    Identifikasi Pseudomonas syringae pv. lachrymans dari Benih Mentimun dan Teknik Eliminasinya dengan Elektroterapi

    No full text
    Pseudomonas syringae pv. lachrymans adalah bakteri yang menyebabkan penyakit bercak bersudut daun mentimun. Bakteri ini juga diketahui dapat terbawa benih. Patogen ini telah dilaporkan menyebabkan kehilangan hasil yang signifikan. Pengendalian yang lebih efektif diperlukan untuk meminimumkan risiko. Identifikasi yang akurat menjadi syarat dasar untuk mengambil keputusan pengendalian yang tepat. Teknik molekuler seperti polymerase chain reaction (PCR) dapat digunakan untuk deteksi dan identifikasi patogen tumbuhan secara cepat, sensitif dan akurat. Perlakuan benih untuk menghilangkan patogen yang terbawa benih dikategorikan sebagai prinsip pengendalian dengan meminimumkan jumlah inokulum awal. Elektroterapi dengan mengaplikasikan arus listrik ke benih diharapkan menjadi alternatif untuk menghilangkan patogen. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan identifikasi dan eliminasi bakteri patogen dari biji mentimun menggunakan elektroterapi dengan mempertahankan viabilitas benih. Bakteri diisolasi dari mentimun, dan dikarakterisasi berdasarkan morfologi koloni, uji Gram, reaksi hipersensitivitas (HR) dan amplifikasi PCR. Benih yang diinokulasi dengan bakteri dialiri listrik 12 V DC, 1 A dalam larutan elektrolit NaCl dengan dua variabel, yaitu waktu elektroterapi dan konsentrasi NaCl. Bakteri hasil isolasi dari benih mentimun dikonfirmasi sebagai Pseudomonas syringae pv. lachrymans berdasarkan morfologi koloni, Gram negatif, HR positif dan PCR menggunakan pasangan primer D21 dan D22. Elektroterapi pada 0.5 M NaCl dengan tingkat perlakuan selama 35 menit menghasilkan eliminasi total bakteri, tetapi masih mempertahankan tingkat perkecambahan benih dan vigor tanaman yang baik berturut-turut sebesar 93.0% dan 83.3%. Sementara elektroterapi selama 15 menit pada tingkat konsentrasi 2.5 M NaCl hanya menekan populasi bakteri menjadi 5.3 x 105 CFU mL-l tetapi mempertahankan tingkat perkecambahan dan kekuatan benih berturut-turut sebesar 95.0% dan 88.3%. Elektroterapi juga mampu mempertahankan pertumbuhan optimum tanaman, yaitu tinggi tanaman dan panjang akar

    Uji Daya Hasil Lanjutan 50 Galur Harapan Padi Tipe Baru (Oryza sativa L.) Populasi IPB193 dan IPB194 Generasi F7.

    No full text
    Padi merupakan komoditas sumber makanan pokok bagi hampir seluruh rakyat Indonesia. Padi menjadi komoditas strategis yang dapat memberikan dampak yang serius pada bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional adalah dengan dirakitnya Padi Tipe Baru. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2018 sampai Maret 2019 di Kebun Percobaan Sawah Baru, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan 50 galur padi dan empat varietas pembanding, yaitu IPB3S, IPB8G, IPB9G, dan Ciherang. Galur-galur yang diuji berdasarkan analisis statistik memiliki produktivitas yang setara atau tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding. Galur yang cenderung memiliki potensi produktivitas lebih tinggi diantaranya IPB194-F-36-2 (7.18 ton ha-1), IPB193-F-17-2 (7.18 ton ha-1), IPB193-F-18-1 (7.03 ton ha-1), IPB193-F-20-3 (6.85 ton ha-1) , IPB194-F-43-3 (7.04 ton ha-1), IPB194- F-65-2 (7.40 ton ha-1), IPB194-F-68-1 (6.74 ton ha-1), IPB194-F-74-3 (6.46 ton ha- 1), dan IPB194-F-77-1 (8.09 ton ha-1), sedangkan produktivitas varietas pembanding IPB3S (5.85 ton ha-1), IPB8G (5.18 ton ha-1), IPB9G (5.74 ton ha-1), dan Ciherang (5.58 ton ha-1

    Kolonisasi dan Cara Kerja Aureobasidium pullulans Dmg 30 DEP dalam Pengendalian Hayati Penyakit Bercak Cokelat pada Tanaman Tomat.

    No full text
    Dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis mulai dirasakan oleh banyak pihak. Pestisida sintetis dilaporkan dapat menyebabkan patogen menjadi resisten serta berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mencari alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan. Pengendalian hayati merupakan salah satu metode pengendalian yang cukup menjanjikan untuk menjadi alternatif terhadap pestisida sintetis, yang dapat diterapkan secara tunggal maupun menjadi bagian dalam pengendalian hama dan penyakit terpadu. Pengendalian hayati penyakit tumbuhan saat ini masih terfokus pada pengendalian penyakit tular tanah. Pengembangan pengendalian hayati untuk daerah filoplan masih sangat terbatas. Daerah filoplan memiliki kondisi yang fluktuatif sehingga tidak semua mikroorganisme dapat berkembang dengan baik. Aureobasidium pullulans merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat berkembang baik di daerah filoplan dan banyak digunakan sebagai agens biokontrol. Namun, laporan terkait penggunaan A. pullulans dalam pengendalian penyakit filoplan di daerah tropis masih sangat terbatas. A. pullulans Dmg 30 DEP asal Indonesia telah dilaporkan sebagai agens biokontrol yang efektif dalam mengendalikan penyakit pascapanen cabai. A. pullulans merupakan khamir yang sangat toleran terhadap kondisi ekstrim, karena memiliki melanin dan dapat memproduksi extracellular polysaccharide (EPS). Kelebihan tersebut menjadikan khamir ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai agens biokontrol di daerah filoplan. Namun, kajian terkait kemampuan kolonisasi dan cara kerja A. pullulans Dmg 30 DEP sebagai agens biokontrol di daerah filoplan belum banyak dilakukan. Salah satu penyakit filoplan penting yang telah tersebar luas di Indonesia adalah penyakit bercak cokelat yang disebabkan oleh Alternaria solani pada tanaman tomat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas biokontrol dari A. pullulans Dmg 30 DEP terhadap penyakit bercak cokelat pada tanaman tomat, mengamati kemampuan kolonisasi A. pullulans Dmg 30 DEP pada permukaan daun tomat, dan mengkaji cara kerja A. pullulan Dmg 30 DEP dalam pengendalian penyakit bercak cokelat pada tanaman tomat. Aktivitas biokontrol dari khamir A. pullulans Dmg 30 DEP diuji secara in vivo dan ad planta. Kemampuan kolonisasi khamir pada daun diamati dengan mikroskop elektron dan pengukuran perkembangan populasi khamir dilakukan dengan metode penghitungan cawan. Cara kerja antibiosis diuji dengan metode dual culture dengan melihat zona hambat yang terbentuk dan produksi VOC dengan metode cawan terbagi dan dilanjutkan dengan mengidentifikasi profil senyawa volatilnya dengan GC-MS. Kemampuan produksi metabolit yang bersifat antimikroba dilakukan dengan metode paper disk assay. Kemampuan lisis dari khamir diuji dengan melihat kemampuan kitinolitik (agar kitin) dan proteolitik (skim milk agar). Adanya kemampuan lisis dari khamir ditunjukkan dengan adanya zona bening dari tepi koloni. Pengujian potensi induksi ketahanan dilakukan dengan mengekstrak tanaman tomat yang diberi perlakuan metabolit dan dinding sel khamir. Ekstrak kasar tersebut selanjutnya dianalisis dengan GCMS. Uji kemampuan produksi hidrogen sianida (HCN) dilakukan dengan metode kertas indikator dan untuk uji kemampuan produksi siderofor dilakukan dengan menumbuhkan khamir uji pada media chrome azurol sulfonat (CAS). Kemampuan hiperparasitisme diobservasi dengan metode slide culture dan melihat kemampuan afinitas khamir pada miselium patogen. Aktivitas biokontrol dari A. pullulans Dmg 30 DEP dipengaruhi oleh kepadatan sel yang diberikan. Kepadatan sel khamir 104 mL-1 dan 105 mL-1 pada uji in vivo dan ad planta (jumlah daun yang bergejala) tidak berbeda dengan kontrol, sebaliknya perlakuan kepadatan sel khamir 106 mL-1 dan 107 mL-1 menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol. Perlakuan kepadatan sel khamir 105 mL-1 pada uji ad planta menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol, berbeda dengan luas gejala (in vivo) dan jumlah daun yang bergejala. Kepadatan sel 107 mL-1 merupakan perlakuan yang terbaik dalam menekan perkembangan penyakit bercak cokelat baik pada uji in vivo dan ad planta. Hasil penelitian ini menunjukan A. pullulans Dmg 30 DEP dapat mengolonisasi permukaan daun tomat dan pola penyebaranya mengikuti pola areole. Khamir yang diaplikasikan ke daun tomat populasinya cenderung menurun hingga hari ke-6 setelah aplikasi. Pada hari pertama aplikasi jumlah sel khamir yang menempel di daun diperkirakan sebanyak 8.2 x 105 sel cm2 -1 luas daun untuk perlakuan 107 mL-1 dan 2.4 x 103 sel cm2 -1 luas daun untuk perlakuan 104 mL-1. Pada enam hari setelah aplikasi, kepadatannya turun menjadi 2.1 x 104 sel cm2 -1 untuk perlakuan 107 mL-1 dan untuk perlakuan 104 mL-1 sudah tidak ditemukan sel khamir. Hasil ini memberi gambaran bahwa aplikasi khamir antagonis dengan kepadatan yang tinggi menjadikan khamir dapat bertahan lebih lama di permukaan daun dan memberikan manfaat bagi tanaman. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa mekanisme yang mendasari pengendalian hayati A. pullulans Dmg 30 DEP terhadap penyakit bercak cokelat pada tanaman tomat meliputi, produksi senyawa volatil, produksi siderofor, produksi enzim kitinase dan protease, dan hiperparasitisme. Produksi senyawa volatil A. pullulans Dmg 30 DEP dipengaruhi konsentrasi media tumbuh, semakin tinggi konsentrasi media maka semakin tinggi pula produksi senyawa volatil. Khamir A. pullulans Dmg 30 DEP tidak dapat memproduksi HCN dan metabolit yang bersifat antibiotik. Penelitian ini dapat memberi informasi tambahan terkait mekanisme kerja yang dimiliki oleh A. pullulans Dmg 30 DEP dan dapat menjadi dasar dalam menentukan teknik aplikasi A. pullulans Dmg 30 DEP di lapangan. Penelitian ini juga dapat menjadi bagian dalam mewujudkan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan

    Biologi Reproduksi Ikan Kurisi (Nemipterus bathybius Snyder, 1911) di Selat Sunda

    No full text
    Ikan kurisi merupakan ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis penting. Permintaan pasar ikan kurisi yang semakin meningkat menyebabkan tingginya tingkat penangkapan sehingga dapat mengancam sumberdaya ikan kurisi. Aspek reproduksi dapat dijadikan sebagai acuan untuk membuat peraturan maupun pengendalian terhadap penangkapan ikan kurisi. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek biologi reproduksi ikan kurisi di PPP Labuan, Banten. Contoh ikan kurisi diambil pada bulan Mei hingga Oktober 2018. Ikan contoh diambil menggunakan metode penarikan contoh acak sederhana. Panjang maksimum ikan kurisi betina lebih panjang dibandingkan dengan jantan. Pola pertumbuhan ikan kurisi adalah allometrik negatif. Ikan kurisi memiliki bentuk tubuh yang pipih. Jumlah ikan contoh selama pengamatan didominasi betina. Ikan kurisi didominasi oleh ikan yang masih dalam masa pertumbuhan (belum matang gonad). Pemijahan ikan kurisi diduga terjadi sepanjang waktu penelitian dengan puncak pemijahan pada bulan Juni dan Agustus. Potensi reproduksi ikan kurisi tergolong tinggi dengan rata-rata fekunditas 10.713 butir telur. Pola pemijahan ikan kurisi adalah partial spawner

    Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu di Berbagai Tingkat Umur Lahan Pasca Terbakar di Taman Nasional Gunung Ciremai

    No full text
    Kebakaran hutan hampir setiap tahunnya terjadi di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sehingga ada perbedaan umur lahan pasca terbakar yang diduga berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis kupu-kupu. Penelitian bertujuan untuk menduga keanekaragaman dan komposisi jenis kupu-kupu, serta menduga kehilangan dan perolehan keanekaragaman jenis kupu-kupu sebagai akibat kebakaran di berbagai tingkat umur lahan pasca terbakar. Penelitian dilaksanakan pada 1 April hingga 21 Mei 2019 di tiga lokasi lahan pasca terbakar dengan umur yang berbeda. Metode yang digunakan yakni metode Pollard transect untuk inventarisasi keanekaragaman jenis kupu-kupu dan kemudian dianalisis untuk menghitung jumlah jenis kupu-kupu, indeks kekayaan, indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 76 jenis kupu-kupu, indeks kekayaan jenis tertinggi pada lahan pasca terbakar berumur 2 tahun, indeks keanekaragaman tertinggi pada lahan pasca terbakar berumur 1 tahun, indeks kemerataan mendekati 1. Nilai perolehan keanekaragaman jenis kupu-kupu akibat kebakaran tertinggi pada lahan pasca terbakar berumur 4 tahun sebesar 84.21% sedangkan nilai kehilangan keanekaragaman jenis kupu-kupu akibat kebakaran tertinggi pada lahan berumur 2 tahun sebesar 45.71%

    Perbanyakan Vegetatif Alfalfa (Medicago sativa L) Hasil Iradiasi Sinar Gamma dengan Posisi Pemotongan Stek dan Konsentrasi IBA yang Berbeda.

    No full text
    Alfalfa merupakan tanaman jenis leguminosa yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai pakan ternak di Indonesia. Saat ini telah dihasilkan mutasi genetik alfalfa hasil iradiasi sinar gamma dan berhasil didapatkan mutan tropis. Di Indonesia alfalfa mutan tropis telah dikembangkan secara generatif namun belum optimal. Perbanyakan vegetatif dapat dilakukan sebagai alternatif perbanyakan dalam pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk optimasi perbanyakan vegetatif Alfalfa (Medicago sativa L) hasil iradiasi sinar gamma dengan posisi pemotongan stek dan konsentrasi IBA yang berbeda. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor, yaitu faktor posisi pemotongan stek yang terdiri dari 3 taraf (pucuk, tengah, dan bawah) dan faktor konsentrasi IBA yang terdiri dari 5 taraf ( 0 ppm, 0.5 ppm, 1 ppm, 1.5 ppm, 2 ppm). Masing-masing perlakuan terdiri dari 12 bahan stek sehingga jumlah stek yang digunakan seluruhnya sebanyak 180 bahan stek. Parameter yang diamati yaitu tingkat mortalitas, tinggi vertikal, jumlah daun trifoliat, jumlah tunas, tingkat kerontokan daun, warna daun, dan tingkat tanaman berakar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dan jika ada perbedaan yang signifikan maka akan diuji lebih lanjut dengan menggunakan Uji Duncan. Berdasarkan hasil penelitian, pengembangan alfalfa melalui teknik vegetatif optimum pada jaringan pucuk tanaman pada dosis IBA 2 ppm dengan tingkat daya tumbuh stek pucuk alfalfa sebesar 58.33% dan dihasilkan organ akar sebesar 100% dari tanaman yang tumbuh

    Female In Action: Platform Online Belajar Pengembangan Diri Perempuan Milenial

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan produk yang sesuai dengan permasalahan pelanggan khususnya perempuan sebagai pengguna platfrom online belajar pengembangan diri melalui metode customer discovery pada customer development. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden memiliki kebutuhan yang besar untuk belajar pengembangan diri. Namun platform yang ada belum dapat memberi kepuasan pengalaman belajar. Ketidakpuasan ini muncul karena permasalahan: (1) kesulitan dalam menemukan dengan cepat topik yang relevan beserta narasumber kredibel, (2) merasa bosan dan jenuh karena visualisasi video dengan durasi dinilai lama (lebih dari 20 menit), (3) terbatasnya waktu diskusi antar pengguna, (4) tidak ada atau terbatasnya ruang konsultasi pada ahli. Platform Female In Action hadir sebagai solusi pembelajaran terpadu untuk kebutuhan perempuan dalam mengembangkan diri dan kariernya Segmen pelanggan potensial yaitu perempuan berusia 18-30 tahun (generasi milenial), masyarakat perkotaan kelas menengah, berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda, dan aktif belajar pengembangan diri melalui platform online. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Female In Action dapat diterima menjadi solusi dari permasalahan yang ada

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇