31665 research outputs found
Sort by
Efektivitas Ukuran Mata Pancing terhadap Hasil Tangkapan Pancing Ulur Ikan Tenggiri (Scomberomorus commersonii) di Tanjungpandan, Belitung.
Pancing ulur ikan tenggiri memiliki desain mata kail yang dipasang berkombinasi.
Saat ini penentuan kombinasi ukuran mata pancing oleh nelayan di
Tanjungpandan, Belitung didasarkan pada pengalaman dan coba–coba (trial
error). Penelitian ini bertujuan menghitung komposisi hasil tangkapan dan
distribusi ukuran ikan tenggiri berdasarkan ukuran mata pancing ulur ikan tenggiri
di Perairan Tanjungpandan Belitung, mengukur efektivitas ukuran mata pancing
terhadap hasil tangkapan pancing ulur ikan tenggiri di Perairan Tanjungpandan
Belitung, dan mengidentifikasi periode penangkapan ikan tenggiri di Perairan
Tanjungpandan Belitung. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah studi literatur dan uji coba penangkapan (experimental
fishing) pada pancing ulur dengan tiga kombinasi mata pancing yang berbeda
selama 30 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi hasil tangkapan
ikan tenggiri sebesar 92,11% (ekor) dan 90,93% (berat). Distribusi panjang hasil
tangkapan pada ukuran mata pancing no. 6 dan 7 memiliki persentase layak
tangkap sebesar 100%. Ukuran mata pancing no. 7 dan 8 memiliki persentase
layak tangkap sebesar 37,2%. Ukuran mata pancing no. 8 dan 8 memiliki
persentase layak tangkap sebesar 35,3%. Perbandingan hasil tangkapan pancing
ulur berbeda pada setiap perlakuannya. Pancing ulur dengan no. 6 dan 7
memperoleh hasil tangkapan sebanyak 109 ekor (38,93%), sedangkan pancing no.
7 dan 8 sebanyak 86 ekor (30,71%), dan pancing no. 8 dan 8 sebanyak 85 ekor
(30,36%). Ukuran mata pancing no. 6 dan 7 lebih efektif untuk menangkap ikan
tenggiri dibandingkan dengan no. 7 dan 8 serta no. 8 dan 8 berdasarkan uji f dan
uji t pada selang kepercayaan 95%. Periode penangkapan ikan tenggiri yang baik
adalah pukul 07.00-10.00 WIB
Analisis Kesejahteraan dan Sustainable Livelihood Nelayan di Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi
Ciletuh merupakan kawasan di Sukabumi yang diresmikan sebagai Global
Geopark oleh UNESCO pada tahun 2017, dan memiliki banyak potensi
sumberdaya alam salah satunya Pantai Palangpang yang menjadi kawasan wisata
unggulan Geopark Ciletuh. Pantai Palangpang membentuk teluk ciletuh dan
muara dari Sungai yang dimanfaatkan oleh nelayan untuk mendaratkan ikan dan
Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Nelayan di Pantai Palangpang dikategorikan
nelayan kecil menurut unit kepemilikan kapal, sehingga nelayan mengikuti
kegiatan wisata berupa penyewaan kapal kepada wisatawan untuk meningkatkan
pendapatannya. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis share pendapatan
nelayan perikanan tangkap dari sektor wisata bahari, menganalisis kesejahteraan
dan sustainable livelihood nelayan sebelum dan setelah pengembangan Geopark
Ciletuh. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis
pendapatan, dan analisis sustainable livelihood. Hasil menunjukkan pendapatan
nelayan perikanan tangkap dari kegiatan wisata bahari terhadap pendapatan total
rumah tangga yaitu sebesar 20.85%, dan sebesar 79.15% berasal dari non wisata
bahari. Terjadi penurunan surplus produsen nelayan dari Rp.23,261,777 pada
tahun 2015 menjadi Rp.13,926,375 pada tahun 2018, dikarenakan adanya
peningkatan nelayan, peningkatan biaya, penumpukan sampah di laut, dan masih
rendahnya dampak wisata kepada keseluruhan nelayan. Aset sustainable
livelihood nelayan yang mengalami peningkatan adalah human capital, sosial
capital, physical capital, dan economic and financial capital, sedangkan natural
capital mengalami penurunan aset
Kebutuhan Air Berbasis Karakteristik Iklim (Studi kasus: Kabupaten Subang).
Kondisi iklim regional khususnya curah hujan, kelembaban udara dan suhu udara menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebutuhan air padi sawah. Penelitian mengenai kebutuhan air berbasis karakteristik iklim perlu dilakukan untuk mendukung manajemen air menuju efisiensi penggunaan air dan deteksi dini kekeringan berbasis karakteristik iklim. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan estimasi kebutuhan air tanaman padi, menganalisis kecukupan curah hujan terhadap kebutuhan air tanaman padi sawah tiap karakteristik iklim, menganalisis respon kebutuhan air tanaman padi sawah terhadap karakteristik iklim dan menganalisis tindakan masyarakat petani sebagai respon pemenuhan kebutuhan air tanaman padi. Kebutuhan air padi ditentukan dengan menghitung nilai evapotranspirasi dikurangi evaporasi untuk mendapat nilai transpirasi. Total kebutuhan air padi dibandingkan dengan total curah hujan tiap wilayah iklim. Respon kebutuhan air padi dipengaruhi oleh fase pertumbuhan dan perkembangan padi yang mengikuti pola sebaran suhu udara tiap demoplot. Estimasi kebutuhan air demoplot Binong, Purwadadi, Pamanukan, Pagaden dan Cijambe berurutan adalah 1134mm/1 musim tanam, 897mm/1 musim tanam, 1242mm/1 musim tanam, 1216mm/1 musim tanam, dan 690mm/1 musim tanam. Kebutuhan air dipengaruhi signifikan oleh suhu udara rata-rata dan kelembaban relatif (variabel iklim) dan tinggi tanaman dan jumah anakan (varietas padi). Total curah hujan tidak memenuhi kebutuhan air padi tiap demoplot. Pemberian air irigasi dilakukan untuk memenuhi defisit curah hujan tiap wilayah. Kecenderungan pemberian air irigasi berdasarkan jumlah hari hujan dan curah hujan mingguan menyebabkan ketidaktepatan tinggi kadar air tanah yang dapat digunakan padi pada fase pertumbuhan tertentu
Identifikasi Pseudomonas syringae pv. lachrymans dari Benih Mentimun dan Teknik Eliminasinya dengan Elektroterapi
Pseudomonas syringae pv. lachrymans adalah bakteri yang menyebabkan penyakit bercak bersudut daun mentimun. Bakteri ini juga diketahui dapat terbawa benih. Patogen ini telah dilaporkan menyebabkan kehilangan hasil yang signifikan. Pengendalian yang lebih efektif diperlukan untuk meminimumkan risiko. Identifikasi yang akurat menjadi syarat dasar untuk mengambil keputusan pengendalian yang tepat. Teknik molekuler seperti polymerase chain reaction (PCR) dapat digunakan untuk deteksi dan identifikasi patogen tumbuhan secara cepat, sensitif dan akurat. Perlakuan benih untuk menghilangkan patogen yang terbawa benih dikategorikan sebagai prinsip pengendalian dengan meminimumkan jumlah inokulum awal. Elektroterapi dengan mengaplikasikan arus listrik ke benih diharapkan menjadi alternatif untuk menghilangkan patogen. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan identifikasi dan eliminasi bakteri patogen dari biji mentimun menggunakan elektroterapi dengan mempertahankan viabilitas benih. Bakteri diisolasi dari mentimun, dan dikarakterisasi berdasarkan morfologi koloni, uji Gram, reaksi hipersensitivitas (HR) dan amplifikasi PCR. Benih yang diinokulasi dengan bakteri dialiri listrik 12 V DC, 1 A dalam larutan elektrolit NaCl dengan dua variabel, yaitu waktu elektroterapi dan konsentrasi NaCl. Bakteri hasil isolasi dari benih mentimun dikonfirmasi sebagai Pseudomonas syringae pv. lachrymans berdasarkan morfologi koloni, Gram negatif, HR positif dan PCR menggunakan pasangan primer D21 dan D22. Elektroterapi pada 0.5 M NaCl dengan tingkat perlakuan selama 35 menit menghasilkan eliminasi total bakteri, tetapi masih mempertahankan tingkat perkecambahan benih dan vigor tanaman yang baik berturut-turut sebesar 93.0% dan 83.3%. Sementara elektroterapi selama 15 menit pada tingkat konsentrasi 2.5 M NaCl hanya menekan populasi bakteri menjadi 5.3 x 105 CFU mL-l tetapi mempertahankan tingkat perkecambahan dan kekuatan benih berturut-turut sebesar 95.0% dan 88.3%. Elektroterapi juga mampu mempertahankan pertumbuhan optimum tanaman, yaitu tinggi tanaman dan panjang akar
Uji Daya Hasil Lanjutan 50 Galur Harapan Padi Tipe Baru (Oryza sativa L.) Populasi IPB193 dan IPB194 Generasi F7.
Padi merupakan komoditas sumber makanan pokok bagi hampir seluruh rakyat
Indonesia. Padi menjadi komoditas strategis yang dapat memberikan dampak yang
serius pada bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Upaya untuk memenuhi
kebutuhan pangan nasional adalah dengan dirakitnya Padi Tipe Baru. Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan November 2018 sampai Maret 2019 di Kebun Percobaan
Sawah Baru, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor Barat.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap
Teracak dengan 50 galur padi dan empat varietas pembanding, yaitu IPB3S, IPB8G,
IPB9G, dan Ciherang. Galur-galur yang diuji berdasarkan analisis statistik memiliki
produktivitas yang setara atau tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding.
Galur yang cenderung memiliki potensi produktivitas lebih tinggi diantaranya
IPB194-F-36-2 (7.18 ton ha-1), IPB193-F-17-2 (7.18 ton ha-1), IPB193-F-18-1 (7.03
ton ha-1), IPB193-F-20-3 (6.85 ton ha-1) , IPB194-F-43-3 (7.04 ton ha-1), IPB194-
F-65-2 (7.40 ton ha-1), IPB194-F-68-1 (6.74 ton ha-1), IPB194-F-74-3 (6.46 ton ha-
1), dan IPB194-F-77-1 (8.09 ton ha-1), sedangkan produktivitas varietas
pembanding IPB3S (5.85 ton ha-1), IPB8G (5.18 ton ha-1), IPB9G (5.74 ton ha-1),
dan Ciherang (5.58 ton ha-1
Kolonisasi dan Cara Kerja Aureobasidium pullulans Dmg 30 DEP dalam Pengendalian Hayati Penyakit Bercak Cokelat pada Tanaman Tomat.
Dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis mulai dirasakan oleh
banyak pihak. Pestisida sintetis dilaporkan dapat menyebabkan patogen menjadi
resisten serta berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mencari alternatif pengendalian yang
lebih ramah lingkungan. Pengendalian hayati merupakan salah satu metode
pengendalian yang cukup menjanjikan untuk menjadi alternatif terhadap pestisida
sintetis, yang dapat diterapkan secara tunggal maupun menjadi bagian dalam
pengendalian hama dan penyakit terpadu.
Pengendalian hayati penyakit tumbuhan saat ini masih terfokus pada
pengendalian penyakit tular tanah. Pengembangan pengendalian hayati untuk
daerah filoplan masih sangat terbatas. Daerah filoplan memiliki kondisi yang
fluktuatif sehingga tidak semua mikroorganisme dapat berkembang dengan baik.
Aureobasidium pullulans merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat
berkembang baik di daerah filoplan dan banyak digunakan sebagai agens
biokontrol. Namun, laporan terkait penggunaan A. pullulans dalam pengendalian
penyakit filoplan di daerah tropis masih sangat terbatas.
A. pullulans Dmg 30 DEP asal Indonesia telah dilaporkan sebagai agens
biokontrol yang efektif dalam mengendalikan penyakit pascapanen cabai. A.
pullulans merupakan khamir yang sangat toleran terhadap kondisi ekstrim, karena
memiliki melanin dan dapat memproduksi extracellular polysaccharide (EPS).
Kelebihan tersebut menjadikan khamir ini sangat potensial untuk dikembangkan
sebagai agens biokontrol di daerah filoplan. Namun, kajian terkait kemampuan
kolonisasi dan cara kerja A. pullulans Dmg 30 DEP sebagai agens biokontrol di
daerah filoplan belum banyak dilakukan. Salah satu penyakit filoplan penting
yang telah tersebar luas di Indonesia adalah penyakit bercak cokelat yang
disebabkan oleh Alternaria solani pada tanaman tomat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas biokontrol dari
A. pullulans Dmg 30 DEP terhadap penyakit bercak cokelat pada tanaman tomat,
mengamati kemampuan kolonisasi A. pullulans Dmg 30 DEP pada permukaan
daun tomat, dan mengkaji cara kerja A. pullulan Dmg 30 DEP dalam
pengendalian penyakit bercak cokelat pada tanaman tomat.
Aktivitas biokontrol dari khamir A. pullulans Dmg 30 DEP diuji secara in
vivo dan ad planta. Kemampuan kolonisasi khamir pada daun diamati dengan
mikroskop elektron dan pengukuran perkembangan populasi khamir dilakukan
dengan metode penghitungan cawan. Cara kerja antibiosis diuji dengan metode
dual culture dengan melihat zona hambat yang terbentuk dan produksi VOC
dengan metode cawan terbagi dan dilanjutkan dengan mengidentifikasi profil
senyawa volatilnya dengan GC-MS. Kemampuan produksi metabolit yang
bersifat antimikroba dilakukan dengan metode paper disk assay. Kemampuan lisis
dari khamir diuji dengan melihat kemampuan kitinolitik (agar kitin) dan
proteolitik (skim milk agar). Adanya kemampuan lisis dari khamir ditunjukkan
dengan adanya zona bening dari tepi koloni. Pengujian potensi induksi ketahanan
dilakukan dengan mengekstrak tanaman tomat yang diberi perlakuan metabolit
dan dinding sel khamir. Ekstrak kasar tersebut selanjutnya dianalisis dengan GCMS.
Uji kemampuan produksi hidrogen sianida (HCN) dilakukan dengan metode
kertas indikator dan untuk uji kemampuan produksi siderofor dilakukan dengan
menumbuhkan khamir uji pada media chrome azurol sulfonat (CAS).
Kemampuan hiperparasitisme diobservasi dengan metode slide culture dan
melihat kemampuan afinitas khamir pada miselium patogen.
Aktivitas biokontrol dari A. pullulans Dmg 30 DEP dipengaruhi oleh
kepadatan sel yang diberikan. Kepadatan sel khamir 104 mL-1 dan 105 mL-1 pada
uji in vivo dan ad planta (jumlah daun yang bergejala) tidak berbeda dengan
kontrol, sebaliknya perlakuan kepadatan sel khamir 106 mL-1 dan 107 mL-1
menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol. Perlakuan kepadatan sel
khamir 105 mL-1 pada uji ad planta menunjukkan perbedaan yang nyata dengan
kontrol, berbeda dengan luas gejala (in vivo) dan jumlah daun yang bergejala.
Kepadatan sel 107 mL-1 merupakan perlakuan yang terbaik dalam menekan
perkembangan penyakit bercak cokelat baik pada uji in vivo dan ad planta.
Hasil penelitian ini menunjukan A. pullulans Dmg 30 DEP dapat
mengolonisasi permukaan daun tomat dan pola penyebaranya mengikuti pola
areole. Khamir yang diaplikasikan ke daun tomat populasinya cenderung
menurun hingga hari ke-6 setelah aplikasi. Pada hari pertama aplikasi jumlah sel
khamir yang menempel di daun diperkirakan sebanyak 8.2 x 105 sel cm2 -1 luas
daun untuk perlakuan 107 mL-1 dan 2.4 x 103 sel cm2 -1 luas daun untuk perlakuan
104 mL-1. Pada enam hari setelah aplikasi, kepadatannya turun menjadi 2.1 x 104
sel cm2 -1 untuk perlakuan 107 mL-1 dan untuk perlakuan 104 mL-1 sudah tidak
ditemukan sel khamir. Hasil ini memberi gambaran bahwa aplikasi khamir
antagonis dengan kepadatan yang tinggi menjadikan khamir dapat bertahan lebih
lama di permukaan daun dan memberikan manfaat bagi tanaman. Hasil penelitian
ini juga menunjukan bahwa mekanisme yang mendasari pengendalian hayati A.
pullulans Dmg 30 DEP terhadap penyakit bercak cokelat pada tanaman tomat
meliputi, produksi senyawa volatil, produksi siderofor, produksi enzim kitinase
dan protease, dan hiperparasitisme. Produksi senyawa volatil A. pullulans Dmg 30
DEP dipengaruhi konsentrasi media tumbuh, semakin tinggi konsentrasi media
maka semakin tinggi pula produksi senyawa volatil. Khamir A. pullulans Dmg 30
DEP tidak dapat memproduksi HCN dan metabolit yang bersifat antibiotik.
Penelitian ini dapat memberi informasi tambahan terkait mekanisme kerja
yang dimiliki oleh A. pullulans Dmg 30 DEP dan dapat menjadi dasar dalam
menentukan teknik aplikasi A. pullulans Dmg 30 DEP di lapangan. Penelitian ini
juga dapat menjadi bagian dalam mewujudkan sistem pertanian yang ramah
lingkungan dan berkelanjutan
Biologi Reproduksi Ikan Kurisi (Nemipterus bathybius Snyder, 1911) di Selat Sunda
Ikan kurisi merupakan ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis penting.
Permintaan pasar ikan kurisi yang semakin meningkat menyebabkan tingginya
tingkat penangkapan sehingga dapat mengancam sumberdaya ikan kurisi. Aspek
reproduksi dapat dijadikan sebagai acuan untuk membuat peraturan maupun
pengendalian terhadap penangkapan ikan kurisi. Penelitian ini bertujuan mengkaji
aspek biologi reproduksi ikan kurisi di PPP Labuan, Banten. Contoh ikan kurisi
diambil pada bulan Mei hingga Oktober 2018. Ikan contoh diambil menggunakan
metode penarikan contoh acak sederhana. Panjang maksimum ikan kurisi betina
lebih panjang dibandingkan dengan jantan. Pola pertumbuhan ikan kurisi adalah
allometrik negatif. Ikan kurisi memiliki bentuk tubuh yang pipih. Jumlah ikan
contoh selama pengamatan didominasi betina. Ikan kurisi didominasi oleh ikan
yang masih dalam masa pertumbuhan (belum matang gonad). Pemijahan ikan kurisi
diduga terjadi sepanjang waktu penelitian dengan puncak pemijahan pada bulan
Juni dan Agustus. Potensi reproduksi ikan kurisi tergolong tinggi dengan rata-rata
fekunditas 10.713 butir telur. Pola pemijahan ikan kurisi adalah partial spawner
Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu di Berbagai Tingkat Umur Lahan Pasca Terbakar di Taman Nasional Gunung Ciremai
Kebakaran hutan hampir setiap tahunnya terjadi di Taman Nasional Gunung
Ciremai (TNGC) sehingga ada perbedaan umur lahan pasca terbakar yang diduga
berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis kupu-kupu. Penelitian bertujuan untuk
menduga keanekaragaman dan komposisi jenis kupu-kupu, serta menduga
kehilangan dan perolehan keanekaragaman jenis kupu-kupu sebagai akibat
kebakaran di berbagai tingkat umur lahan pasca terbakar. Penelitian dilaksanakan
pada 1 April hingga 21 Mei 2019 di tiga lokasi lahan pasca terbakar dengan umur
yang berbeda. Metode yang digunakan yakni metode Pollard transect untuk
inventarisasi keanekaragaman jenis kupu-kupu dan kemudian dianalisis untuk
menghitung jumlah jenis kupu-kupu, indeks kekayaan, indeks keanekaragaman dan
indeks kemerataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 76
jenis kupu-kupu, indeks kekayaan jenis tertinggi pada lahan pasca terbakar berumur
2 tahun, indeks keanekaragaman tertinggi pada lahan pasca terbakar berumur 1
tahun, indeks kemerataan mendekati 1. Nilai perolehan keanekaragaman jenis
kupu-kupu akibat kebakaran tertinggi pada lahan pasca terbakar berumur 4 tahun
sebesar 84.21% sedangkan nilai kehilangan keanekaragaman jenis kupu-kupu
akibat kebakaran tertinggi pada lahan berumur 2 tahun sebesar 45.71%
Perbanyakan Vegetatif Alfalfa (Medicago sativa L) Hasil Iradiasi Sinar Gamma dengan Posisi Pemotongan Stek dan Konsentrasi IBA yang Berbeda.
Alfalfa merupakan tanaman jenis leguminosa yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai pakan ternak di Indonesia. Saat ini telah dihasilkan mutasi genetik alfalfa hasil iradiasi sinar gamma dan berhasil didapatkan mutan tropis. Di Indonesia alfalfa mutan tropis telah dikembangkan secara generatif namun belum optimal. Perbanyakan vegetatif dapat dilakukan sebagai alternatif perbanyakan dalam pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk optimasi perbanyakan vegetatif Alfalfa (Medicago sativa L) hasil iradiasi sinar gamma dengan posisi pemotongan stek dan konsentrasi IBA yang berbeda. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor, yaitu faktor posisi pemotongan stek yang terdiri dari 3 taraf (pucuk, tengah, dan bawah) dan faktor konsentrasi IBA yang terdiri dari 5 taraf ( 0 ppm, 0.5 ppm, 1 ppm, 1.5 ppm, 2 ppm). Masing-masing perlakuan terdiri dari 12 bahan stek sehingga jumlah stek yang digunakan seluruhnya sebanyak 180 bahan stek. Parameter yang diamati yaitu tingkat mortalitas, tinggi vertikal, jumlah daun trifoliat, jumlah tunas, tingkat kerontokan daun, warna daun, dan tingkat tanaman berakar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dan jika ada perbedaan yang signifikan maka akan diuji lebih lanjut dengan menggunakan Uji Duncan. Berdasarkan hasil penelitian, pengembangan alfalfa melalui teknik vegetatif optimum pada jaringan pucuk tanaman pada dosis IBA 2 ppm dengan tingkat daya tumbuh stek pucuk alfalfa sebesar 58.33% dan dihasilkan organ akar sebesar 100% dari tanaman yang tumbuh
Female In Action: Platform Online Belajar Pengembangan Diri Perempuan Milenial
Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan produk yang sesuai dengan permasalahan pelanggan khususnya perempuan sebagai pengguna platfrom online belajar pengembangan diri melalui metode customer discovery pada customer development. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden memiliki kebutuhan yang besar untuk belajar pengembangan diri. Namun platform yang ada belum dapat memberi kepuasan pengalaman belajar. Ketidakpuasan ini muncul karena permasalahan: (1) kesulitan dalam menemukan dengan cepat topik yang relevan beserta narasumber kredibel, (2) merasa bosan dan jenuh karena visualisasi video dengan durasi dinilai lama (lebih dari 20 menit), (3) terbatasnya waktu diskusi antar pengguna, (4) tidak ada atau terbatasnya ruang konsultasi pada ahli. Platform Female In Action hadir sebagai solusi pembelajaran terpadu untuk kebutuhan perempuan dalam mengembangkan diri dan kariernya Segmen pelanggan potensial yaitu perempuan berusia 18-30 tahun (generasi milenial), masyarakat perkotaan kelas menengah, berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda, dan aktif belajar pengembangan diri melalui platform online. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Female In Action dapat diterima menjadi solusi dari permasalahan yang ada