Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Histopatologi Otot Paha Ayam Sentul Dengan Antibodi Maternal Anti-Myostatin.

    No full text
    Ayam sentul merupakan ayam lokal unggulan yang memiliki produktivitas cukup baik dan juga sebagai ayam dwiguna. Berdasarkan keunggulan ayam sentul tersebut, inisiatif untuk meningkatkan produktivitas ayam Sentul dalam menghasilkan daging yang lebih tinggitelah diambil. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi daging adalah melalui manipulasi pertumbuhan otot untuk meningkatkan massa otot pada ayam sentul denganmenghambat kerja protein myostatin melalui pemberian anti-myostatin (MSTN). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan gambaran histopatologis otot paha ayam sentul yang memiliki antibodi maternal anti-myostatin. Ayam indukan betina sebanyak 38 ekor dibagi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol, KLH dan MSTN. Kelompok kontrol (CON) tidak diberi perlakuan, kelompok KLH disuntik dengan 1 mg Keyhole Limpet Hemocyanin, dan kelompok MSTN disuntik dengan 1 mg MSTN yang dikonjugasi dengan KLH, secara intramuskular. Semua ayam betina dikawinkan dengan ayam jantan, dan telur diinkubasi serta ditetaskan di mesin tetas. Tiga anak ayam dari masing-masing kelompok disembelih pada umur 12 minggu dan diambil sampel otot paha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok MSTN memiliki diameter serabut otot yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok CON dan KLH. Penelitian ini menunjukan bahwa antibodi antimyostatin asal induk dapat meningkatkan massa otot paha ayam sentul

    Karakteristik Suara Kepiting Kenari (Birgus latro) varietas pulau Bacan

    No full text
    Kepiting kenari (Birgus latro) merupakan hewan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun keberadaannya di alam sudah mulai langka, sehingga perlu dilindungi agar tidak terjadi kepunahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik suara yang dihasilkan oleh kepiting kenari (Birgus latro). Penelitian dilakukan pada bulan November-Desember 2018. Suara direkam pada bulan baru, dengan menggunakan mikrofon, toa dan recorder. Data yang didapat, diolah menggunakan software Wavelab, Matlab dan Excel. Jenis suara yang didapatkan pada suara kepiting kenari yaitu suara snap yang digunakan untuk mengusir lawannya yang datang, dan suara stridulatory yang digunakan untuk berkomunikasi agar kepiting kenari yang jantan bisa memikat lawan jenisnya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa suara snaps memiliki nilai frekuensi yang tinggi dengan rentang 400-500 Hz, namun nilai intensitas tinggi. Sedangkan pada suara stridulatory memiliki nilai frekuensi yang tinggi dengan rentang 300-400 Hz, namun nilai intensitas rendah

    Identifikasi dan Pemetaan Tingkat Kekritisan Lahan di DTA Waduk Wonorejo dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis.

    No full text
    Lahan kritis menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air adalah lahan yang mempunyai fungsi kurang baik sebagai media produksi untuk menumbuhkan tanaman yang dibudidayakan atau yang tidak dibudidayakan. Lahan kritis yang terjadi di Daearah Tangkapan Air (DTA) Waduk Wonorejo berpotensi menyebabkan penurunan produksi pertanian, erosi, sedimentasi, banjir, kekeringan, pendangkalan sungai serta berkurangnya umur waduk. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan parameter tingkat kekritisan lahan di DTA Waduk Wonorejo. Ketersediaan data dan informasi terbaru mengenai lahan kritis dapat membantu dalam penyusunan rencana penanggulangan lahan kritis dan memberikan preferensi pengelolaan yang tepat di DTA Waduk Wonorejo sehingga kelestarian ekosistem dapat terjaga. Penentuan tingkat kekritisan lahan berdasarkan Perdirjen BPDASPS Nomor P.4/VSet/ 2013 diidentifikasi dari beberapa parameter yaitu peta penutupan lahan, kemiringan lereng, tingkat bahaya erosi, produktivitas, dan manajemen lahan. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa sebaran lahan kritis dan sangat kritis di DTA Waduk Wonorejo cukup luas yaitu 429.35 ha (17.15%) dan 641.83 ha (25.63%) dari luas DTA Waduk Wonorejo tanpa memperhitungkan kelas penutupan lahan awan, bayangan awan dan badan air

    Keragaman Total Flavonoid dan Gugus Fungsi dari Ekstrak Air 13 Genotipe Buah Tanaman Okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench).

    No full text
    Okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench) merupakan tanaman yang memiliki bioaktivitas tinggi berupa antidiabetes, antioksidan, antikanker, dan antiinflamasi. Bioaktivitas dari okra tidak lepas dari zat kimia yang terkandung di dalamnya. Keragaman kandungan flavonoid dan gugus fungsi merupakan faktor yang mempengaruhi bioaktivitas okra. Penelitian ini bertujuan menganalisis keragaman kandungan total flavonoid dan gugus fungsi dengan FTIR ekstrak air dari 13 genotipe buah tanaman okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench).. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode AlCl3, metode FTIR, dan analisis multivariat melibatkan analisis komponen utama dan analisis klaster hirarki. Total flavonoid yang terkandung pada ekstrak okra berkisar antara 0.898 – 1.031 mg QE/g okra. Keragaman gugus fungsi pada okra dibedakan menjadi 3 klaster berdasarkan kemiripan dari antar genotipe okra. Keragaman flavonoid dan gugus fungsi yang terkandung pada 13 genotipe okra merupakan awal yang baik untuk penelitian selanjutnya

    Kajian Urban Farming yang Berkelanjutan pada Masyarakat Kota Bogor.

    No full text
    Urban farming atau pertanian perkotaan merupakan kegiatan pertanian yang dilakukan di kawasan perkotaan oleh masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Sumberdaya dan hasil pangan sebaiknya dimanfaatkan dan didapatkan secara lokal di sekitar kawasan dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri. Saat ini Kota Bogor telah melakukan praktik urban farming. Kelurahan Mulyaharja, Kelurahan Ranggamekar, dan Kelurahan Margajaya memiliki potensi tersendiri dalam menerapkan praktik urban farming. Tujuan penelitian ini adalah: (1) memetakan pola penerapan sistem urban farming, (2) mengetahui dampak adanya urban farming yang dirasakan masyarakat dari segi ekologi, ekonomi, dan sosial-budaya, (3) membandingkan kondisi keberlanjutan urban farming, dan (4) merekomendasikan konsep penerapan urban farming yang berkelanjutan untuk Kota Bogor. Penelitian ini dilakukan selama enam bulan mulai dari bulan Januari sampai Juni 2019. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif untuk mengolah data yang dihasilkan dari analisis Community Sustainability Assesment (CSA) untuk memperoleh persepsi masyarakat mengenai keberlanjutan urban farming. Hasil dari penelitian ini meliputi penilaian keberlanjutan masyarakat dan rekomendasi. Penilaian keberlanjutan masyarakat menunjukkan hasil yang sempurna menuju ke arah keberlanjutan pada Kelurahan Mulyaharja dan Kelurahan Ranggamekar dengan skor total 1000 dan 1040. Penilaian pada Kelurahan Margajaya menunjukkan awal yang baik untuk menuju ke arah keberlanjutan dengan skor total 784. Penelitian ini menghasilkan empat rekomendasi berdasarkan potensi dan kendala yang ditemukan saat penelitian. Rekomendasi yang dihasilkan meliputi (1) pengelolaan limbah sekitar kawasan, (2) peningkatkan produktivitas dengan komoditas melalui sistem agroforestri, (3) pemanfaatan pekarangan dan lahan tidur, (4) menciptakan ‘healthy lifestyle’ pada masyarakat di perkotaan

    Produktivitas Ulat Tepung (Tenebrio molitor L.) pada Media Pakan yang Berbeda.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi produktivitas ulat tepung (Tenebrio molitor L.). Materi penelitian ini menggunakan 48 ekor kumbang betina dan 144 ekor kumbang jantan. Ulat tepung yang dihasilkan kumbang diamati produktivitasnya dari umur 28 hingga umur 40 hari. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan media bertelur yang berbeda, yaitu A (pollard), B (bran pollard), C (kombinasi bran pollard dengan onggok) dan D (onggok) dengan 3 kali ulangan sehingga terdapat 12 unit percobaan. Peubah yang diamati adalah daya hidup ulat tepung, konsumsi pakan ulat tepung, panjang tubuh ulat tepung, bobot ulat tepung, mortalitas, dan konversi ransum. Analisis yang digunakan yaitu analisis ragam (ANOVA) dan dilakukan uji banding berganda Duncan memberikan hasil yang berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media bertelur yang berbeda memiliki perbedaaan nyata (P<0.05). Penggunaan pollard sebagai media bertelur ulat tepung dapat memberikan produktivitas yang paling baik dilihat dari rataan konsumsi pakan ulat tepung 0.213 g ekor-1 3 hari-1, rataan panjang tubuh ulat tepung 18.902 mm ekor-1 3 hari-1, rataan bobot ulat tepung 0.047 g ekor-1 3 hari-1, dan konversi ransum 18.466. Oleh karena itu, media pollard masih menjadi media paling efisien untuk peternakan ulat tepung

    Permintaan Pangan Sumber Karbohidrat di Indonesia

    No full text
    Pangan menjadi salah satu isu yang sangat krusial untuk dibahas oleh setiap negara. Pada umumnya pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan yang paling mudah adalah pemenuhan kebutuhan akan energi yang dapat dengan mudah diperoleh dari pangan sumber karbohidrat. Ketersediaan pangan sumber karbohidrat, utamanya beras, telah menjadi perhatian utama pemerintah sejak dulu hingga sekarang. Pemerintah mencanangkan program diversifikasi pangan yang mengarah pada nonberas dan nonterigu dengan tujuan meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat agar lebih beragam, bergizi, serta seimbang dan aman. Selain itu, tujuan pemerintah adalah dapat menurunkan tingkat konsumsi beras karena selama ini masyarakat Indonesia telah membudayakan beras sebagai pangan sumber karbohidrat. Sehubungan dengan program pemerintah tersebut maka diperlukan informasi mengenai preferensi masyarakat Indonesia terhadap pangan sumber karbohidrat. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) menganalisis konsumsi pangan sumber karbohidrat dalam rumah tangga di Indonesia, (2) menduga faktor-faktor apa yang memengaruhi permintaan komoditas pangan sumber karbohidrat, dan (3) menganalisis pengaruh perubahan harga dan pendapatan pada pemilihan pangan sumber karbohidrat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) Maret 2017 yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) secara nasional. Responden Susenas 2017 mencakup 297 276 rumah tangga dari 34 provinsi di Indonesia. Metode yang digunakan untuk menganalisis tujuan pertama adalah dengan menggunakan deskriptif dan untuk mencapai tujuan kedua dan ketiga digunakan metode AIDS (Almost Ideal Demand System). Komoditas pangan sumber karbohidrat dibagi menjadi enam kelompok, yaitu beras, tepung terigu, padi-padian, umbi, roti, dan makanan jadi yang dikaji dengan variabel sosial ekonomi seperti jumlah anggota rumah tangga, pendidikan, umur kepala keluarga, gender kepala keluarga, dan status istri bekerja. Berdasarkan analisis deskriptif beras masih menjadi sumber karbohidrat yang paling diminati untuk sebagian besar masyarakat Indonesia. Berdasarkan analisis dengan metode AIDS, faktor yang memengaruhi konsumsi pangan sumber karbohidrat antara lain adalah harga, pendapatan/pengeluaran, jumlah anggota rumah tangga, pendidikan, umur kepala keluarga, dan gender kepala keluarga. Perubahan harga pada beras tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan karena sifatnya yang inelastis. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa beras masih menjadi komoditas sumber karbohidrat yang belum dapat disubstitusi oleh pangan sumber karbohidrat yang lainnya. Saat terjadi kenaikan pendapatan, konsumsi pangan akan bergeser pada roti dan makanan jadi sehingga pemerintah perlu mewaspadai lonjakan impor terigu seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi

    Penyemaian Benih Padi untuk Penanaman Menggunakan Metode Tanam Parasut.

    No full text
    Penanaman dengan metode parasut memerlukan komposisi media tanam yang cukup untuk memenuhi unsur hara dan ketahanan dalam menembus lumpur. Tujuan penelitian ini adalah merancang alat penebar gabah ke dalam tray, menentukan komposisi media tanam terbaik untuk bibit padi, dan mencari indeks kelunakan tanah yang cocok untuk penanaman dengan metode tanam parasut. Alat penebar gabah dalam penelitian ini di desain berbentuk miring dalam proses pemasukan gabah ke lubang tray dengan jumlah benih 3 sampai 5 gabah per lubang. Sudut lubang penjatah gabah yaitu 20°, dan setiap lubang memiliki ukuran diameter 1.5 cm, ketebalannya 0.6 cm, dan sudut kemiringannya 20°. Hasil uji kinerja alat penebar gabah menunjukkan nilai 38.45% untuk masuknya jumlah gabah yang sesuai dan 61.55% untuk masuknya jumlah gabah tidak sesuai. Interaksi masuknya bibit padi ke lumpur menunjukkan bahwa media tanam dengan komposisi 45% tanah (kg/kg) + 45% kompos kandang (kg/kg) + 10% arang sekam (kg/kg) merupakan media tanam terbaik. Indeks kelunakan dengan bola golf berada pada posisi 1 cm di bawah permukaan lumpur merupakan indeks kelunakan terbaik yang membuat bibit padi masuk ke dalam lumpur sedalam 2.8 cm

    Aplikasi DNA Barcoding dan Metabarcoding pada Ikan Kerapu Lumpur (Epinephelus coioides) dan Jenis Makanannya dari Perairan Raja Ampat

    No full text
    Makanan merupakan sumber nutrisi bagi makhluk hidup tidak terkecuali untuk ikan dalam mempertahankan keberlangsungan hidup. Oleh karena itu perlu adanya pengkajian makanan melalui kebiasaan makanan ikan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spesies ikan kerapu lumpur Epinephelus coioides melalui analisis DNA Barcoding serta keragaman jenis makanannya menggunakan analisis Metabarcoding dengan marka molekular gen COI. Sampel jaringan dianalisis dengan metode Sanger. Hasil identifikasi spesies melalui DNA Barcoding menunjukkan terdapat basa nukleotida sebanyak 643 pb dengan tingkat kemiripan sebesar 100%. Satu sampel isi perut ikan dianalisis dengan teknologi Next Generation Sequencing. Hasil penelitian menggunakan software MEGA 5.02 dari sampel isi perut didominasi oleh kelompok ikan sebesar 91,80% dan kelompok invertebrata sebesar 8,18%. Hasil serupa menggunakan software QIIME2 dengan referensi database MIDORI LONGEST, makanan didominasi oleh kelompok ikan E. coioides dengan frekuensi relatif berkisar 96% dan ivertebrata sebesar 2%

    Perbandingan Profil Hematologi dan Biokimia Serum Tikus Percobaan yang Diberi Pakan Kedelai Transgenik dan Non-Transgenik

    No full text
    Kedelai (Glycine max) merupakan komoditas pertanian sumber protein nabati yang sering dikonsumsi dalam bentuk tempe, tahu, kecap dan produk lainnya. Pemerintah melakukan impor kedelai dari Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan Nasional yang 75%-nya merupakan kedelai transgenik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan profil hematologi dan biokimia serum tikus percobaan yang diberi pakan kedelai lokal grobogan, kedelai impor transgenik dan impor non-transgenik selama 90 hari dengan konsentrasi protein ransum yang digunakan 10% dan 20%. Hasil menunjukkan konsumsi jenis kedelai dan konsentrasi yang berbeda tidak berpengaruh secara nyata (p>0.05) terhadap profil hematologi kecuali trombosit, profil lemak serum, kreatinin dan total protein sedangkan jenis kedelai berpengaruh secara nyata (p<0.05) terhadap nilai trombosit, ureum, asam urat, nilai SGOT dan nilai SGPT. Konsentrasi yang berbeda hanya berpengaruh secara nyata (p<0.05) terhadap nilai trombosit, ureum dan albumin. Seluruh kelompok tikus percobaan memiliki nilai profil hematologi dan biokimia serum yang masuk ke dalam rentang nilai normal walaupun nilai SGOT dan SGPT melebihi nilai normal tikus namun kelebihan tersebut tidak signifikan untuk menimbulkan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat kelainan maupun penyakit yang ditimbulkan akibat konsumsi kedelai transgenik bahkan ketika konsentrasi proteinnya ditingkatkan. Secara keseluruhan tidak ada perbedaan dampak yang ditimbulkan antara konsumsi kedelai impor transgenik dan non-transgenik sehingga dapat disimpulkan adanya kesepadanan anatar kedelai impor transgenik dan non-transgenik dengan kedelai lokal grobogan

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇