31665 research outputs found
Sort by
Strategi Pengembangan Wilayah Ekonomi Kabupaten Bangkalan.
Kota Bangkalan menjadi salah satu pusat kegiatan skala regional
kabupaten dalam Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) Gerbangkertosusila
(Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan) dengan Surabaya
sebagai pusatnya. Maka dari itu, untuk mengimbangi pembangunan deagan daerah
- daerah SWP lainnya. Secara umum, tujuan kajian ini adalah merumuskan
strategi pengembangan wilayah ekonomi yang ada di Kabupaten Bangkalan.
melalui analisis Input-output (I-O) dan Analithical Hierarchy Processs (AHP).
Terdapat 4 langkah analisis I-O, antara lain keterkaitan sektor ekonomi, sektor
kunci, pengganda sektor ekonomi, dan dampak investasi. Analisis I-O dilakukan
sebagai dasar alternatif strategi yang ditindaklanjuti dengan analisis AHP.
Prioritas alternatif strategi yang dihasilkan melalui analisis AHP diterjemahkan
menjadi rekomendasi kebijakan dalam menentukan prioritas pengembangan
investasi sektor ekonomi di Kabupaten Bangkalan,
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor yang memiliki keterkaitan ke
belakang total terbesar adalah sektor Industri makanan, minuman, dan tembakau;
sektor angkutan laut, sungai, danau & penyeberangan; sektor angkutan jalan raya
sebesar, sektor lembaga keuangan bukan bank dan sektor barang kayu, dan hasil
hutan lainnya. Sektor yang memiliki nilai keterkaitan ke depan langsung terbesar
adalah sektor angkutan jalan raya, sektor perdagangan besar dan eceran, sektor
tanaman bahan makanan, sektor konstruksi dan sektor minyak dan gas bumi.
Sektor yang termasuk didalam sektor kunci adalah sektor ini tanaman bahan
makanan; sektor bangunan; sektor angkutan jalan raya; sektor angkutan laut,
sungai, danau dan penyeberangan; sektor lembaga keuangan tanpa bank serta
sektor jasa perusahaan.
Sektor yang memiliki nilai pengganda output terbesar adalah sektor
Angkutan jalan raya, sektor perdagangan besar dan eceran, sektor tanaman bahan
makanan, sektor konstruksi dan sektor angkutan laut, sungai, danau &
penyeberangan. sektor yang memiliki nilai pengganda pendapatan terbesar adalah
sektor industri makanan, minuman, dan tembakau; sektor logam dasar, besi, dan
baja; sektor semen dan barang galian bukan logam; sektor pupuk, kimia, dan
barang dari karet dan sektor listrik Peningkatan output akibat dampak output dari
investasi adalah sebesar 45,86 % dengan total output sebesar 15,61 trilyun
rupiah. Peningkatan ouput juga mengiringi peningkatan PDRB sebesar 55,64%
Dampak kenaikan pendapatan investasi di bangkalan secara total, sebesar 4,094
trilyun rupiah dengan persentase 44,7%.
Strategi pengembangan wilayah di Kabupaten Bangkalan urutan
prioritasnya adalah berdasarkan pengganda pendapatan, yaitu industri makanan,
minuman, dan tembakau; sektor logam dasar, besi, dan baja; sektor semen dan
barang galian bukan logam; sektor pupuk, kimia, dan barang dari karet; dan sektor
listri
Kontribusi Usaha Budidaya Lebah Madu Terhadap Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Petani Lebah Madu di RPH Rendang, KPHL Bali Timur.
Rendang, KPHL Bali Timur. Dibimbing oleh YULIUS HERO.
Kegiatan budidaya lebah madu merupakan salah satu mata pencaharian
masyarakat di Desa Pempatan yang bertujuan meningkatkan produktivitas
lebah madu dan kesejahteraan petani lebah madu. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui besar kontribusi budidaya lebah madu terhadap pendapatan
total petani dan informasi mengenai tingkat kesejahteraan petani lebah madu.
Penelitian dilakukan di Desa Pempatan, RPH Rendang, wilayah KPHL Bali
Timur dengan jumlah responden sebanyak 21 orang. Pengumpulan data
responden dilakukan secara sensus. Dari hasil penelitian diketahui bahwa
kegiatan budidaya lebah madu memberikan kontribusi sebesar 19.59 persen
terhadap pendapatan total petani. Menurut kriteria garis kemiskinan Sajogyo,
sekitar 89.94 persen petani lebah madu berada di atas garis kemiskinan,
menurut garis kemiskian BPS Provinsi Bali seluruh petani lebah madu berada
diatas garis kemiskinan, berdarkan besar UMR Kabupaten Karangasem
seluruh petani lebah madu termasuk dalam golongan keluarga sejahtera,
sedangkan menurut kriteria Bank Dunia sekitar 66.67 persen petani lebah
madu berada di atas garis kemiskinan
Karakteristik Perikanan Kakatua dan Hubungannya dengan Ekosistem di Perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta.
Ikan kakatua merupakan salah satu jenis ikan karang pemakan alga, yang hidup
di perairan berbatu dan berkarang. Kegiatan penangkapan dapat berpengaruh
secara langsung maupun tidak langsung terhadap ekosistem. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui perikanan kakatua berdasarkan unit penangkapan,
serta mengevaluasi status penangkapan ikan kakatua dan dampaknya terhadap
fungsi ekosistem. Pengumpulan data berupa pengamatan lapang mengenai hasil
tangkapan nelayan yang berbasis di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu dengan
metode accidental sampling dan analisis sampel di laboratorium berupa
pengamatan tingkat kematangan gonad dan isi lambung ikan.Hasil penelitian
menunjukkan bahwa alat tangkap yang digunakan nelayan di Perairan Pulau
Panggangyaitu jaring muroami, bubu kawat, bubu tali dan bubu tambun. Ikan
kakatua yang tertangkap selama penelitian sebanyak tujuh jenis yang didominasi
oleh Scarus ghobban (mogong bataan). Statuspenangkapan ikan kakatua
dominan (S. ghobban) menunjukan bahwa 70% hasil tangkapan masih
berukuran juvenil. Berdasarkan parameter rasio potensi pemijahan (Spawning
Potential Ratio/SPR), menunjukan nilai SPR sebesar 17%, yang
mengindikasikan pemanfaatan ikan ini sudah mencapai status overfished, hal ini
berarti jika tidak dikelola dengan baik akan mengancam keberlanjutannya.Hasil
analisis isi lambung ikan S. ghobbanmenunjukan jenis makanan utamanya
adalah makroalga, sehingga ikan kakatua memiliki peranan penting dalam
menjaga keberlanjutan ekosistem terumbu karang. Intensitas penangkapan yang
tinggi tanpa manajemen yang baik dapat mengancam populasi ikan kakatua di
Perairan Kepulauan Seribu. Pengaturan kegiatan penangkapan yang dapat
mengontrol intensitas penangkapan dan ukuran layak tangkap sangat diperlukan
untuk keberlanjutan perikanan kakatua di lokasi ini
Karakteristik Papan Laminasi Lima Lapis dari Batang Kelapa Sawit Menggunakan Perekat Isosianat dan Fenol Formaldehida
Salah satu alternatif dalam pemanfaatan limbah batang kelapa sawit adalah
menggunakan limbah sebagai bahan baku papan laminasi. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh variasi arah lapisan dan jenis perekat (Fenol
Formaldehida dan Isosianat) terhadap sifat fisis dan mekanis papan laminasi dengan
perlakuan termomekanis (pemadatan) pada lamina. Variasi arah lapisan yang
digunakan yaitu variasi A (variasi dengan lapisan kedua dan keempat tegak lurus
serat) dan variasi B (variasi dengan lapisan kedua, ketiga dan keempat tegak lurus
serat). Lamina dikeringkan menggunakan kempa panas pada suhu 1300C, tekanan
5 MPa dan waktu 10 menit untuk mengurangi kadar air, cacat pengeringan dan
pemadatan hingga tebal lamina 0.6 cm. Papan laminasi yang dibuat berukuran 30
cm x 30 cm x 5 cm. Penentuan kualitas papan laminasi mengacu pada standar JAS
234:2003, JIS A 5908:2003 dan JAS 232:2003. Hasil pengujian papan laminasi
yang direkomendasikan adalah papan laminasi yang menggunakan perekar fenol
formaldehida dengan variasi arah lapisan B (variasi dengan lapisan kedua, ketiga
dan keempat tegak lurus serat)
Strategi Pengembangan Usaha pada Budidaya Ikan Lele Ominos Farm di Laladon Kabupaten Bogor
Ominos Farm merupakan pembudidaya ikan air tawar yang berfokus pada
usaha pembenihan ikan lele dan juga ikan lele konsumsi. Tingginya permintaan
terhadap ikan lele konsumsi menuntut Ominos Farm melakukan pengembangan
agar mampu bersaing dalam memenuhi kebutuhan petani pembesaran dan
konsumen ikan lele konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi
yang tepat dalam upaya pengembangan usaha budidaya ikan lele Ominos Farm.
Tahap input penelitian ini menggunakan matriks IFE dan EFE yang menghasilkan
tujuh faktor kunci utama internal dan enam faktor kunci eksternal yang
mempengaruhi usahanya. Matriks IFE menunjukan bahwa kualitas indukan
merupakan kekuatan utama dengan skor 0.639 dan kemampuan produksi
merupakan kelemahan terbesar dengan skor 0.382. Matriks EFE menunjukan
bahwa perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi lele menjadi
peluang utama dengan skor 0.536 dan potensi munculnya pesaing baru sebagai
ancaman terbesar dengan skor 0.968. Tahap pencocokan menggunakan matriks IE
menghasilkan lima alternatif strategi. Tahap keputusan menggunakan analisis
QSPM menghasilkan strategi bekerjasama dengan petani lain
Ketahanan Ayam IPB D1 yang Memiliki Gen TLR4 terhadap Infeksi Bakteri Salmonella Enteritidis
Ayam IPB D1 merupakan hasil persilangan antara ayam pelung, sentul,
kampung dan broiler. Persilangan ayam ini dilakukan oleh para peneliti dari
Fakultas Peternakan-Institut Pertanian Bogor dengan tujuan mendapatkan galur
ayam pedaging yang dikembangbiakan oleh masyarakat dengan sistem
pemeliharaan tradisional yaitu dengan cara diumbar (back yard). Salah satu
penyakit bakterial yang umumnya menyerang unggas adalah Salmonellosis, oleh
sebab itu dilakukan penelitian untuk mengetahui ketahanan ayam IPB D1 ini
terhadap agen penyakit Salmonellosis dengan menggunakan penciri genetik gen
TLR4 (Toll-Like Receptor 4). Gen TLR4 merupakan salah satu gen yang
mengontrol ketahanan ayam terhadap infeksi bakteri Gram negatif salah satunya
Salmonella Enteritidis, melalui respon imun non-specific.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketahanan ayam IPB D1
yang memiliki gen TLR4 terhadap infeksi S. Enteritidis. Total sampel yang
digunakan adalah sebanyak 11 ekor. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa
tahapan pengujian keberadaan gen TLR4 dengan uji Polymerase Chain Reaction
(PCR) dan sekuensing serta pengamatan respon kekebalannya melalui pemeriksaan
jumlah leukosit, diferensial leukosit serta gambaran umum darahnya dan
kemampuan kekebalannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. Enteritidis
pada saat sebelum maupun setelah ditantang dengan bakteri S. Enteritidis. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa ayam IPB D1 yang memiliki gen TLR4
(genotipe GG dan AG) memiliki ketahanan terhadap bakteri S. Enteritidis
berdasarkan gambaran leukosit dan darahnya secara umum. Secara in vitro sistem
kekebalan humoralnya mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. Enteritidis
melalui uji clearance
Dinamika Perubahan Penggunaan Lahan dan Perkembangan Wilayah serta Tipologi Kecamatan di Kabupaten Serang
Kabupaten Serang merupakan salah satu kawasan pendukung Kota Serang sebagai ibukota Provinsi Banten, yang telah banyak mengalami perubahan penggunaan lahan akibat perkembangan wilayah yang pesat yang dipicu oleh pertambahan penduduk. Pertambahan penduduk ini mempengaruhi penggunaan lahan akibat meningkatnya kebutuhan manusia (Andriyani 2007). Terdapat 11 kecamatan di bagian barat Kabupaten Serang yang memiliki wacana pembentukan Daerah Otonom Baru Serang Barat yang direncanakan menjadi kabupaten baru (Diskominfo Kabupaten Serang 2018). Laju urbanisasi di Kota Serang dan sekitarnya menyebabkan terjadinya dinamika perubahan penggunaan lahan di wilayah tersebut. Oleh karena itu, perencanaan dan pengendalian akan penggunaan lahan harus diperhatikan agar tidak menjadi rintangan ketika wilayah tersebut menjadi suatu wilayah administrasi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan dan keragaman jenis penggunaan lahan, mengetahui tingkat perkembangan wilayah dan mengetahui karakteristik tipologi wilayah di Kabupaten Serang. Wilayah Kabupaten Serang memiliki luas ± 146.735 ha, dengan penggunaan lahan yang beragam. Hasil penelitian perubahan penggunaan lahan tahun 2006, 2010, 2014 dan 2018 diketahui bahwa dari tahun ke tahun wilayah Kabupaten Serang mengalami perubahan penggunaan lahan, akan tetapi banyak terjadi ketimpangan dalam pemerataan pembangunan antara bagian barat dengan bagian timur Kabupaten Serang, yang secara jarak lebih dekat dengan pusat administratif pemerintahan serta berbatasan langsung dengan Kabupaten Tangerang sebagai pusat industri. Penggunaan lahan di Kabupaten Serang didominasi oleh sawah sebesar 39%, kemudian ladang/tegalan 32% dan lahan terbangun 13%. Berdasarkan analisis keragaman jenis penggunaan lahan menggunakan metode entropi di Kabupaten Serang pada 28 kecamatan, nilai entropi berkisar antara 0,09 hingga 0,27. Nilai entropi terendah di Kabupaten Serang adalah 0,09 berada di Kecamatan Binuang, Ciruas dan Bandung. Nilai entropi tertinggi di Kabupaten Serang yaitu 0,27 yang terdapat di Kecamatan Cinangka dan Padarincang. Data tipologi wilayah berdasarkan tingkat kemiripan karakteristik tiap kecamatan, menunjukkan bahwa kecamatan-kecamatan yang termasuk ke dalam klaster 2 dan 3 didominasi oleh bagian timur Kabupaten Serang sebanyak 8 dan 12 kecamatan, sedangkan kecamatan yang termasuk di dalam klaster 1 terletak di bagian barat Kabupaten Serang
Evaluasi Sifat Biologi Tanah pada Beberapa Tipe Penggunaan Lahan di PTPN VIII Gunung Mas Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Keberadaan organisme tanah masih sedikit sekali dipertimbangkan sebagai
penilaian kesehatan tanah secara biologi. Padahal peranan organisme tanah cukup
baik sebagai bioindikator kesehatan tanah, karena memiliki respon yang sensitif
terhadap perubahan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari sifat-sifat
biologi tanah yang meliputi populasi dan keanekaragaman organisme tanah pada
tiga jenis penggunaan lahan. Pengambilan contoh tanah untuk mengumpulkan
fauna tanah diambil dengan metode simple random sampling pada kedalaman tanah
0-15 cm sebanyak 15 titik sampel masing-masing untuk lapisan serasah dan tanah
di setiap penggunaan lahan. Untuk isolasi mikrob, contoh tanah juga diambil
dengan metode simple random sampling dengan cara komposit pada kedalaman
tanah 0-10 cm sebanyak 5 titik sampel pada setiap jenis penggunaan lahan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis penggunaan lahan memiliki populasi
dan keanekaragaman organisme tanah (mikrob dan fauna tanah) yang berbeda.
Populasi mikrob tanah tertinggi didominasi pada hutan sekunder yaitu total mikrob
(64 x 105 SPK/g), total fungi (1.76 x 105 SPK/g), Azotobacter (1.55 x 105 SPK/g),
dan mikrob pelarut fosfat (1.85 x 105 SPK/g), kecuali populasi mikrob pendegradasi
selulosa. Hasil keseluruhan dari populasi rata-rata individu fauna tanah tertinggi
juga pada hutan sekunder yaitu mencapai 3 436 individu/m2. Nilai indeks
keanekaragaman fauna tanah terbesar berada di kebun teh dengan kategori
keanekaragaman sedang. Populasi organisme tanah yang cukup merata dan
mendominasi pada tiga jenis penggunaan lahan adalah fungi (kelompok mikrob
tanah) dan Collembola (kelompok fauna tanah). Data ini dapat dijadikan sebagai
data base untuk penelitian selanjutnya atau sebagai bahan pertimbangan dalam
melalukan pengelolaan lahan, mengingat masih kurangnya informasi mengenai
potensi organisme tanah di lahan-lahan Indonesia
Migrasi desa-kota di Indonesia: Keputusan, Pola dan Perilaku serta Konsekuensi.
Pergerakan penduduk memiliki implikasi penting bagi proses pembangunan. Meskipun migrasi dapat bermanfaat bagi migran, namun hal ini tidak selalu bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Terutama di negara-negara berkembang, migrasi dapat menyebabkan kepadatan penduduk kota, pengangguran dan ketidakseimbangan antara daerah perdesaan dan perkotaan. Migrasi telah diidentifikasi sebagai salah satu strategi yang dilakukan oleh rumah tangga miskin untuk mendiversifikasi sumber pendapatan mereka dan untuk mengatasi dampak yang merugikan dari kendala sosial, ekonomi, dan kelembagaan di tempat asal, khususnya di wilayah perdesaan. Di sisi lain, migrasi juga dapat digunakan sebagai strategi investasi dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan yang diharapkan di masa depan dan memperoleh keuntungan dari upah yang lebih tinggi di tempat lain, misalnya di daerah perkotaan.
Dalam memahami faktor-faktor yang menjelaskan heterogenitas dampak dari migrasi, terdapat tantangan dalam menguraikan kerangka teoretis yang sesuai tentang migrasi. Untuk itu dibutuhkan sebuah penelitian yang komprehensif tentang migrasi dalam hal ini migrasi yang dilakukan dari wilayah perdesaan menuju wilayah perkotaan dimulai dari faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan bermigrasi, pola dan prilaku dalam bermigrasi serta manfaat yang ditimbulkan migrasi bagi rumah tangga migran berdasarkan motif migrasi. Dari hasil penelitian yang komprehensif tersebut diperoleh informasi yang sangat bermanfaat bagi kebijakan pengelolaan migrasi, khususnya di Indonesia, sehingga dapat mengoptimalkan manfaat dari migrasi serta meminimalisis eksternalitas negatif yang ditimbulkannya.
Setiap tujuan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan analisis yang berbeda. Untuk tujuan pertama yakni mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh karakteristik rumah tangga, karakteristik wilayah dan karakteristik komunitas di wilayah asal terhadap keputusan rumah tangga untuk melakukan migrasi dilakukan menggunakan metode deskriptif statistik dan regresi multinomial logit. Untuk tujuan kedua mendeskripsikan dan menganalisis serta memetakan pola dan perilaku migrasi di Indonesia dilakukan dengan menggunakan analisis spasial. Untuk tujuan ketiga yakni menganalisis konsekuensi dari migrasi terhadap rumah tangga migran digunakan treatment evaluation dengan metode difference-in-differences.
Penelitian ini menggunakan raw data yang berasal dari hasil Indonesia Family Life Survey (IFLS) untuk tahun 2007 (gelombang 4) dan tahun 2014 (gelombang 5). Indonesia Family Life Survey (IFLS) adalah survei longitudinal rumah tangga yang paling komprehensif yang pernah dilakukan di Indonesia. Survei ini adalah sebuah studi panel rumah tangga, individu, dan survei masyarakat terintegrasi yang sudah berlangsung sebanyak lima gelombang sejak 1993.
Penelitian ini menjelaskan bahwa karakteristik rumah tangga, wilayah dan komunitas memiliki pengaruh yang berbeda terhadap keputusan rumah tangga dalam melakukan migrasi desa-kota untuk setiapmotif migrasi baik migrasi sebagai penanggulangan risiko maupun migrasi sebagai investasi. Rumah tangga pada
kelompok pendapatan terendah (rumah tangga miskin) di wilayah perdesaan memiliki peluang yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok pendapatan lainnya untuk melakukan migrasi dengan motif risiko, temuan ini menyiratkan kecenderung penggunaan migrasi sebagai sebuah strategi untuk penanggulangan risiko (risk coping strategy) pada masyarakat miskin di wilayah perdesaan. Untuk migrasi dengan motif investasi, kemungkinan bermigrasi meningkat untuk rumah tangga yang berada pada kelompok pendapatan yang lebih tinggi. Hal ini menjelaskan kendala likuiditas yang ada dalam keputusan migrasi untuk motif investasi.
Hasil analisis peluang migrasi desa-kota berdasarkan wilayah/region menunjukkan bahwa rumah tangga yang berada di region 1 (sumatera) memiliki peluang 2 kali lebih besar dibandingkan dengan region 2 (jawa dan bali) dan region 3 (Kalimantan, Sulawesi dan nusa tenggara) untuk melakukan migrasi desa-kota dengan motif risiko, sedangkan untuk migrasi dengan motif investasi, rumah tangga yang berada di region 2 (jawa dan bali) memiliki probabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan region lainnya. Selanjutnya, hasil dari karakteristik migran menjelaskan bahwa migrasi baik dengan motif risiko maupun investasi berpotensi menyebabkan tenaga kerja produktif di wilayah perdesaan melakukan migrasi menuju wilayah perkotaan, sehingga berpeluang memberikan dampak negatif (brain drain) terhadap aktivitas ekonomi di wilayah perdesaan/lokal.
Terjadinya pengutuban (polarisasi) pada pola arus migrasi antar wilayah. Pulau Jawa dan Bali sebagai wilayah yang menjadi pusat arus migrasi desa-kota di Indonesia. Kondisi ini berpeluang mengakibatkan kota-kota di wilayah Pulau Jawa dan Bali mengalami peningkatan tingkat kepadatan penduduk yang lebih cepat dibandingkan dengan kota-kota di wilayah lainnya di Indonesia.
Hasil analisis dampak migrasi desa-kota juga menjelaskan adanya perbedaan dampak migrasi untuk setiap motif. Migrasi dengan motif risiko secara statistik tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan konsumsi perkapita rumah tangga di wilayah perdesaan, sebaliknya migrasi dengan motif investasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan konsumsi perkapita rumah tangga di wilayah perdesaan. Region 1 (sumatera) merupakan wilayah yang memperoleh dampak terbesar dari aktifitas migrasi terhadap peningkatan kesejahteraan rumah tangga di wilayah asal migran jika dibandingkan dengan rumah tangga migran pada region lainnya, khususnya migrasi dengan motif investasi.
Penelitian ini memiliki beberapa hasil yang dapat berguna untuk desain dan implementasi kebijakan pengelolaan migrasi desa-kota di Indonesia. Dalam melihat peristiwa migrasi, sangat penting untuk memperhatikan motif yang mendorong terjadinya migrasi tersebut. Perbedaan motif dalam migrasi menyebabkan adanya perbedaan dalam pola dan perilaku migrasi serta dampak yang ditimbulkannya. Hasil penelitian juga telah memberikan penjelasan bahwa pola, perilaku serta dampak migrasi bagi rumah tangga migran dapat berbeda tergantung kepada wilayah asal rumah tangga yang melakukan migrasi. Berdasarkan kondisi tersebut, kebijakan pengelolaan migrasi yang nantinya akan dirumuskan oleh pemerintah, khususnya pemerintah daerah harus mempertimbangkan aspek penyebab migrasi desa-kota, motif melakukan migrasi, serta karakteristik wilayah asal migran
Pengambilan Keputusan Pembelian Susu Cair Oleh Konsumen Remaja di Kota Sukabumi Jawa Barat
Produk minuman yang ditawarkan pada zaman sekarang bervariasi mulai dari kemasan dan rasanya, akan tetapi kandungan gizinya kurang. Susu cair merupakan salah satu produk minuman yang baik untuk kesehatan tubuh. Pengambilan keputusan pembelian susu cair dilihat faktor apa saja yang menjadi pertimbangan responden dalam melakukan pembelian. Responden pada penelitian ini yaitu remaja usia 15-18 tahun. Konsumen remaja adalah salah satu konsumen potensial dalam pembelian sebuah produk. Penelitian ini dilakukan di Kota Sukabumi dengan memberikan kuisioner untuk mengumpulkan data. Jumlah dari responden ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin, dan didapatkan jumlah 100 responden untuk mewakili remaja di wilayah Kota Sukabumi. Hasil analisis meliputi 5 tahap pengambilan keputusan pada pembelian susu cair yaitu tahap pengenalan kebutuhan bahwa responden memilih alasan mengonsumsi susu cair untuk kesehatan tubuh. Tahap pencarian informasi responden mendapatkan informasi dari televisi dan manfaat dari produk yang menjadi fokus perhatian. Tahap evaluasi alternatif responden memilih manfaat dari susu cair tersebut yang akan dipertimbangkan. Tahap proses pembelian responden memilih susu UHT dengan merk Ultramilk yang sering mereka konsumsi. Tahap terakhir yaitu proses pasca pembelian yaitu responden puas dengan produk susu yang mereka konsumsi