Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Identifikasi Keragaman Gen Growth Hormone g.1484 A>C (GH|Pstl) pada Kambing Perah

    No full text
    Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi keragaman gen Growth Hormone (GH) atau Hormon Pertumbuhan pada ekson 4 pada kambing perah yaitu kambing peranakan etawa (PE), kambing saanen, dan persilangan keduanya (kambing sapera dan kambing saanPE). Jumlah sampel DNA berasal dari sejumlah 54 ekor kambing perah, terdiri dari peranakan etawah 6 ekor, saanen 9 ekor, sapera 36 ekor, dan saanPE 3 ekor yang terdapat di Stasiun Balitnak, Jawa Barat. Polimorfisme gen hormon pertumbuhan diidentifikasi pada situs basa ekson 4 melalui metode PCR-RFLP (Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism). Metode PCR-RFLP mengacu pada metoda standar phenol-chloroform. Amplifikasi DNA menunjukkan bahwa penempelan primer pada suhu 63 °C. Produk PCR yang didapatkan sepanjang 200 pb (pasang basa). Hasil PCR-RFLP dengan enzim PstI menghasilkan produk 131 pb dan 69 pb yang dikodekan dengan alel A. Simpulan bahwa gen GH pada g.1484 A>C (GH|Pstl) bersifat monomorfik

    Studi Profil Bahan Tambahan Pangan dan Klaim Pangan serta Kesesuaian Label Kemasan pada Produk Ready To Drink Kedelai di Kota Bogor

    No full text
    Sejalan dengan perkembangan zaman, industri pangan berbahan baku kedelai akan terus berkembang. Perkembangan industri pangan berbahan baku kedelai diproyeksikan akan meningkat rata-rata 2,44% per tahun. Peluang masyarakat untuk menikmati produk berbasis kedelai dengan berbagai jenis produk, rasa dan bentuk semakin terbuka lebar. Produk pangan berbasis kedelai khusunya minuman ready to drink kedelai sudah banyak beredar di pasaran dengan tingkat konsumsi yang cukup tinggi di masyarakat. Salah satu cara untuk melihat kandungan komposisi produk, biasanya konsumen dapat melihatnya pada bagian label kemasan. Namun, data kesesuaian antara label pangan yang beredar dengan regulasi yang berlaku belum diketahui. Bahan tambahan pangan (BTP) sudah umum di industri pangan. Pemahaman yang kurang mengenai fungsi dan regulasi BTP dapat memengaruhi konsumen dalam memilih produk. Klaim pada pangan pun memengaruhi konsumen dalam membeli produk, karena konsumen sebagai seseorang yang membeli dan menggunakan atau mengonsumsi suatu produk akan melakukan pencarian informasi sebagai salah satu faktor pengambilan keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari BTP dan klaim yang digunakan pada produk RTD kedelai serta kesesuaian informasi pada label produk RTD kedelai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia. Identifikasi jenis produk RTD kedelai dilakukan di pasaran wilayah Kota Bogor dengan cara penentuan sampel sesuai dengan produk yang telah terdaftar dan beredar di Indonesia berdasarkan peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (PerKaBPOM) tentang kategori pangan. Penetapan sampel yang diambil dihitung menggunakan rumus Slovin. Namun pada pengambilan sampel dan penentuan produk kedelai menggunakan metode purposive sampling. Penggunaan BTP pada produk RTD kedelai dapat digunakan secara tunggal atau secara kombinasi. Terdapat beberapa produk RTD kedelai yang belum mencantumkan semua keterangan minimum pada label. Klaim yang dominan digunakan pada produk RTD kedelai adalah klaim gizi sebagai sumber protein. Adapun keterangan halal bagi yang dipersyaratkan dan kode produksi pangan merupakan keterangan minimum yang belum dicantumkan pada beberapa produk

    Peningkatan Aktivitas Antioksidan Tahu Terkoagulasi Ekstrak Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) dan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia).

    No full text
    Tahu adalah salah satu pangan yang sering dikonsumsi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi sifat fungsional tahu yang dikoagulasi dengan ektrak belimbing wuluh dan jeruk nipis. Terdapat 3 konsentrasi ditetapkan untuk masing-masing koagulan (5%, 6%, & 7% untuk jeruk nipis dan 18%, 20%, & 22% untuk belimbing wuluh [% bobot/bobot dari kedelai kering]). Kadar protein tertinggi diperoleh pada konsentrasi ekstrak belimbing 20% dan ekstrak jeruk 5%. Kekerasan, kekenyalan, dan daya kunyah tahu komersial lebih rendah dibandingkan tahu perlakuan. Pita protein fraksi 11S (peptida dengan massa molekul rendah) dari tahu perlakuan belimbing dan jeruk lebih tebal dibandingkan pita protein tahu komersial dan diduga meyebabkan aktivitas antioksidan tahu perlakuan belimbing dan jeruk lebih tinggi

    Sistem Informasi Geografis 3 Dimensi Berbasis Web Kampus IPB Darmaga Menggunakan Three.js.

    No full text
    Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga memiliki wilayah yang luas serta gedung dan ruangan yang banyak tersebar di setiap fakultasnya. Informasi terkait pemetaan wilayah kampus IPB Dramaga yang tersedia kurang detail, sehingga tidak efektik untuk membantu civitas akademik atau pengunjung dalam mencari lokasi tertentu. Permasalahan yang sering terjadi adalah sulitnya mencari ruangan atau tempat tertentu di lingkungan kampus IPB Dramaga. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem informasi geografis (SIG) berbasis web dengan menggunakan Three.js untuk memetakan Kampus IPB Dramaga yang ditampilkan dalam model 3 dimensi. Sistem informasi geografis tersebut dikembangkan menggunakan metode web development life cycle (WDLC). Penyajian sistem informasi geografis 3 dimensi dibangun menggunakan framework Three.js dalam bentuk plugin yang tersedia pada perangkat lunak QGIS. Sistem informasi geografis ini bertujuan untuk dapat membantu civitas akademik atau pengunjung kampus untuk mendapatkan informasi lokasi yang dituju dengan mudah dan cepat

    Pengembangan Model Integrasi Penilaian Kerusakan Ekosistem Mangrove Akibat Tumpahan Minyak di Perairan Selat Peleng Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah

    No full text
    Peningkatan transportasi laut di Selat Peleng, Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah seperti kapal tanker berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan, seperti kasus tabrakan kapal tanker yang dapat menyebabkan tumpahan minyak. Peristiwa tumpahan minyak di lingkungan laut dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem mangrove. Penilaian kerusakan ekosistem ini dapat dilakukan dengan pendekatan model integrasi menggunakan analisis indeks kepekaan mangrove, model tumpahan minyak dan perhitungan nilai ekonomi. Hingga kini penggunaan model integrasi hanya terbatas pada indeks kepekaan mangrove dan model tumpahan minyak, sehingga diperlukan pengembangan 3 (tiga) model integrasi pendugaan kerusakan ekosistem mangrove dengan menggunakan komponen nilai ekonomi. Model ini akan menampilkan simulasi pola sebaran minyak, tingkat kerentanan ekosistem mangrove dan nilai kerusakan mangrove tersebut akibat tumpahan minyak secara terintegrasi Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan model integrasi penilaian kerusakan ekosistem mangrove akibat tumpahan minyak dengan mengabungkan nilai IKM (Indeks Kepekaan Mangrove), pola sebaran minyak, dan nilai kerusakan ekosistem mangrove. Penelitian ini dilakukan di sembilan Kecamatan di Selat Peleng Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan. Tahap pertama penelitian adalah membuat skenario tumpahan minyak dan pemilahan lokasi yang diprakirakan terkena dampak tumpahan minyak yaitu Batui Selatan, Batui, Luwuk Timur, Lamala, Masama, Balantak dan Bualemo (terletak di wilayah administratif Kabupaten Banggai) dan Kecamatan Bulagi dan Buko (terletak di wilayah administrasi Kabupaten Banggai Kepulauan) serta melakukan survei awal untuk sensus masyarakat dan nelayan yang tinggal di sekitar area ekosistem mangrove. Tahap kedua melakukan survei kepada masyarakat dan nelayan yang tinggal di sekitar ekosistem mangrove dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling pada 81 responden. Tahap ketiga melakukan pengambilan data primer untuk ekosistem, mangrove dan kondisi sekitar area mangrove (sungai dan pesisir), serta data oseanografi yang diperoleh dari data sekunder. Penelitian dilakukan dari bulan Agustus sampai November 2016. Pengolahan data sosial menggunakan analisis kuantitatif (tabulasi data) yang nantinya akan dihitung menjadi total economy value (TEV), sedangkan untuk ekosistem mangrove dilakukan analisis data dengan menghitung struktur komunitas mangrove Nilai Indeks Kepekaan Mangrove (IKM) menggunakan program Arc GIS, sedangkan untuk pola sebaran minyak menggunakan aplikasi model OILMAP yang akan memperlihatkan pola sebaran minyak secara spasial temporal. Hasil analisis IKM diperoleh kisaran nilai kepekaan dari sedang hingga peka. Daerah yang memiliki tingkat kepekaan sedang adalah Kecamatan Balantak, iii Masama, Lamala, Luwuk Timur, Bualemo, dan Batui (Kabupaten Banggai) dan Buko (Banggai Kepulauan) dengan nilai antara 10.67-22.69. Nilai IKM dengan kategori peka dengan rentang 35.21-44.92 pada kecamatan Batui Selatan (Kabupaten Banggai), dan Bulagi (Banggai Kepulauan). Sebagian besar penduduk memanfaatkan ekosistem mangrove, baik sebagai lokasi untuk mencari ikan dan kepiting maupun untuk diambil kayunya sebagai kebutuhan rumah tangga mereka. Beberapa wilayah yang sudah memiliki peraturan khusus tentang pemanfaatan ekosistem magrove, namun ada juga wilayah yang belum ada peraturan tentang pemanfaatan mangrove, sehingga dikhawatirkan terjadi pemanfaatan ekosistem magrove yang berlebihan. Total Economy Value (TEV) dilokasi penelitian diperoleh sebesar Rp 22.644.656.169,-/thn, dengan nilai ekonomi tertinggi diperoleh dari manfaat mangrove secara tidak langsung yaitu sebagai pelindung pantai. Nilai tersebut mencapai Rp 16.455.794.485,-thn atau sebesar 72.67%. Pada urutan kedua adalah nilai manfaat mangrove untuk bahan bangunan yaitu Rp 5.827.227.000,-/thn atau sebesar 25.73%). Dari dua skenario yang dibuat, nilai total kerusakan tertinggi pada skenario 1 (Pelabuhan DSLNG) akibat tumpahan minyak sebesar Rp 1.704.734.440,-/thn terjadi pada musim barat yaitu pada bulan November sampai Februari, sedangkan nilai total kerusakan tertinggi pada skenario 2 (Mulut Selat Peleng) sebesar Rp. 10.430.719.378,-/thn yang terjadi pada simulasi musim peralihan kedua yaitu Bulan September-Oktober. Hal ini disebabkan karena pada skenario 2, luas sebaran dampak mencapai 3 kecamatan dengan ekosistem mangrove termasuk katagori baik. Hasil perhitungan nilai kerusakan dengan menggunakan pendekatan metode respon organisme lebih baik jika dibandingkan dengan pendekatan metode generik, oleh karena respon organisme tidak mengasumsikan 100% pohon mangrove mati akan tetapi hanya pohon mangrove yang rentan terhadap tumpahan minyak yang diasumsikan mati (tinggi pohon < 3 m). Model intergrasi dapat menampilkan secara spasial sebaran dari tumpahan minyak, nilai indeks kepekaan mangrove dan nilai kerusakan kerusakan lingkungan ekosistem mangrove secara bersamaan

    Substitusi Bahan Bakar pada Mesin Diesel dengan Gas Hasil Gasifikasi Kayu

    No full text
    Gasifikasi merupakan teknologi konversi biomassa menjadi energi dalam bentuk gas. Gas tersebut dapat digunakan pada mesin diesel dual fuel system. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik gasifikasi kayu sengon, kayu pinus, kayu kaliandra dan wood pellet dalam menghasilkan gas mempan bakar serta menganalisis peranan syngas untuk mengurangi penggunaan solar pada mesin diesel. Alat yang digunakan merupakan tipe downdraft gasifier dengan mesin diesel berdaya maksimum sebesar 12 kW. Data yang diambil berupa laju konsumsi kayu, warna api, dan persentase penghematan solar pada masing-masing kayu. Proses gasifikasi sudah berjalan dengan baik, kayu dan wood pellet dapat terbakar menghasilkan warna oranye dengan nyala api yang stabil. Laju konsumsi kayu sengon sebesar 18 kg/jam, kayu kaliandra sebesar 15 kg/jam, kayu pinus sebesar 8 kg/jam sedangkan wood pellet sebesar 6 kg/jam. Penghematan solar dengan gas hasil gasifikasi kayu sengon, kayu pinus, dan kayu kaliandra berturut-turut sebesar 33%, 50%, dan 95%. Rendahnya nilai efisiensi dapat disebabkan oleh radiasi panas dalam reaktor, kehilangan panas atau adanya penurunan efisiensi pada mesin diesel

    Desain Lanskap Rumah Budaya Sumba Nusa Tenggara Timur

    No full text
    Pulau Sumba termasuk dalam wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Pulau ini dibagi menjadi empat Kabupaten, yaitu: Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Pulau Sumba berbatasan dengan Pulau Sumbawa di sebelah barat laut, Pulau Flores di utara, Laut Timor di timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Di Pulau Sumba, tepatnya di Kabupaten Sumba Barat Daya terdapat suatu pusat budaya Sumba yang dikenal sebagai Rumah Budaya Sumba. Tempat ini memiliki beberapa bangunan museum dan penginapan dengan arsitektur khas Sumba. Bentuk, arsitektur dan lanskap yang unik dapat meningkatkan daya tarik wisata. Keunikan dan kekayaan budaya yang berada di kawasan ini perlu dilestarikan. Namun, keadaan lanskap Rumah Budaya Sumba masih kurang mendukung sebagai lembaga studi dan pelestarian budaya, karena dapat dilihat dari lanskap yang sebagian besar didominasi dengan perkebunan kelapa dan aksesibilitas serta fasilitas yang ada kurang memadai. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi karakteristik tapak dan elemen-elemen lanskap budaya, menganalisis potensi dan kendala pada lanskap Rumah Budaya Sumba, serta membuat konsep dan mendesain lanskap Rumah Budaya Sumba agar meningkatkan jumlah pengunjung dan mendukung fungsinya sebagai lembaga studi dan pelestarian budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan pada empat aspek, yaitu biofisik, sosial, budaya, dan wisata. Metode tersebut dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu persiapan, inventarisasi, analisis dan sintesis, pembuatan konsep, desain dan gambar konstruksi, serta pembuatan laporan. Konsep dasar dari tapak tersebut ialah Edu-Culture Tourism Spcace, yaitu memanfaatkan sumberdaya yang telah ada menjadi ruang edukasi dan budaya sehingga membentuk alur wisata budaya. Sumberdaya yang ada yaitu, landform tapak yang datar, tanaman-tanaman khas Sumba seperti kelapa, bangunan dengan bentuk rumah adat Sumba, serta site structure berupa beberapa relief batu kapur yang memiliki simbol-simbol budaya Sumba. Konsep desain yang diaplikasikan pada tapak yaitu, mamuli. Mamuli merupakan salah satu simbol khas Sumba yang sangat dimuliakan. Bentuknya yang unik ditransformasikan ke dalam pola desain tapak, pola elemen keras dan pola penanaman vegetasi. Penelitian ini dibatasi sampai tahap penyusunan desain lanskap dengan hasil akhir berupa site plan dan dilengkapi gambar teknis yang dapat menjadi referensi dalam mendesain lanskap pada area Rumah Budaya Sumba. Kata kunci: Lanskap Budaya, Pusat Budaya, Wisata Buday

    Perilaku Masyarakat terhadap Bahaya dan Bencana di Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

    No full text
    Pantai Parangtritis merupakan salah satu destinasi wisata tertua di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia dengan pola pasang surut campuran ganda yang berpotensi menimbulkan bahaya. Risiko bahaya arus rip dan bahaya lainnya di Pantai Parangtritis dapat terjadi sewaktu – waktu sehingga pemahaman masyarakat sangat diperlukan untuk berperan serta dalam menanggulangi bahaya dan bencana alam. Metode pengumpulan data berupa wawancara, studi pustaka, dan observasi lapang. Pemilihan responden menggunakan teknik purposive accidental sampling. Hasil menunjukkan seluruh responden mengetahui adanya bahaya alam namun tidak semua dianggap berpotensi menjadi bencana alam. Tingkat persepsi dan sikap kelompok masyarakat tergolong baik dan netral. Hasil uji menunjukan bahwa ada hubungan antara karakteristik yaitu lama bekerja dengan persepsi masyarakat yaitu sebesar 0.04. Kesadaran dan pengetahuan masyarakat timbul dari adanya adaptasi yang dipengaruhi oleh rentang waktu bekerja sebagai pelaku wisata dan pengalaman masyarakat yang sudah merasakan dampak langsung dari adanya bahaya alam. Perilaku kelompok masyarakat secara umum sesuai dengan persepsi dan sikap yang menunjukan bahwa masyarakat sudah melakukan tindak pencegahan terhadap ancaman risiko bencana alam

    Hantaran Hidrolik Tanah pada Penggunaan Lahan Hutan, Lahan Pertanian Konservasi dan Lahan Pertanian Intensif

    No full text
    Pengelolaan lahan yang kurang bijaksana tanpa adanya tindakan konservasi tanah dan air menyebabkan degradasi tanah dan mengakibatkan adanya kecenderungan semakin tidak meratanya ketersediaan dan sebaran air. Ketersediaan air di dalam tanah ditentukan oleh jumlah air yang masuk ke dalam tanah (infiltrasi) yang ditentukan oleh kemampuan tanah melalukan air (hantaran hidrolik). Kemampuan tanah melalukan air dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik tanah yang bervariasi menurut jenis dan karakteristik penggunaan lahan. Jenis penggunaan lahan yang berbeda akan mempunyai karakteristik fisik tanah dan hantaran hidrolik yang berbeda. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi sifat-sifat fisik tanah yang berkaitan dengan hantaran hidrolik tanah pada penggunaan lahan hutan (hutan kerapatan tajuk rapat, tajuk sedang dan tajuk jarang), lahan pertanian konservasi dan lahan pertanian intensif serta mengevaluasi laju hantaran hidrolik jenuh pada penggunaan lahan hutan (hutan kerapatan tajuk rapat, tajuk sedang dan tajuk jarang), lahan pertanian konservasi dan lahan pertanian intensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat-sifat fisik tanah di hutan lebih baik dibandingkan di lahan pertanian konservasi dan lahan pertanian intensif. Pada penggunaan lahan hutan, tanah pada hutan dengan kerapatan tajuk rapat mempunyai sifat fisik tanah yang paling baik dan sebaliknya untuk tanah pada lahan pertanian intensif. Hantaran hidrolik jenuh tertinggi terdapat pada hutan kerapatan tajuk rapat dengan nilai 2,82 cm/jam (sedang), diikuti oleh hutan kerapatan tajuk sedang dengan nilai 2,49 cm/jam (sedang), hutan kerapatan tajuk rendah dengan nilai 1,67 cm/jam (agak lambat), lahan pertanian konservasi 1,39 cm/jam (agak lambat) dan terendah pada lahan pertanian intensif dengan nilai 0,83 cm/jam (agak lambat)

    Faktor yang Berpengaruh Terhadap Resistensi Antibiotik pada Salmonella spp. di Peternakan Broiler di Kabupaten Subang

    No full text
    Tingkat pengetahuan dan sikap peternak mempengaruhi penggunaan antibiotika. Penggunaan antibiotik yang tidak bijak dapat menyebabkan resistensi bakteri. Bakteri resisten dari hewan dan produk hewan dapat berpindah ke manusia dan lingkungan dan menyebabkan efek merugikan pada manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap peternak terhadap resistensi antibiotik, menduga prevalensi dan faktor yang mempengaruhi resistensi bakteri Salmonella spp. di peternakan ayam broiler di Kabupaten Subang. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Sampel diambil sebanyak 74 sampel dengan metode metode stratified random sampling, masing-masing sampel boot swab diambil dengan menggunakan 2 pasang boot swab. Sampel sekum diambil sebanyak 74 sampel dengan cara mengkomposit 5 sekum ayam dari setiap peternakan. Sampel diuji isolasi identifikasi Salmonella spp., kemudian diuji resistensi antibiotik dengan metode agar dilution (CLSI 2015). Tingkat pengetahuan dan sikap diukur menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel dan uji khi-kuadrat. Penelitian ini mendapatkan data resistensi antibiotik bakteri Salmonella spp. dari sampel boot swab cukup tinggi, sebesar 11.76% peka, 52.94% resisten 1-2 antibiotik dan 35.29% multidrgug resistante (MDR); CI 95% (12.6% -58%). Isolat saluran cerna sebesar 12.50% peka, 75% resisten 1-2 antibiotik dan 12.50% MDR; CI 95% (0% -35.4%). Resistensi tertinggi terjadi terhadap antibiotik asam nalidiksat, siprofloksasin, tetrasiklin dan ampisilin. Penelitian ini menemukan 11 serotipe Salmonella di saluran cerna ayam dan lingkungan dalam kandang ayam broiler di Kabupaten Subang. Serotipe Salmoella yang dapat menginfeksi manusia sebanyak 8 serotipe yaitu; Salmonella enteritidis, Salmonella arechavaleta, Salmonella derby, Salmonella oslo, Salmonella uppsala, Salmonella garba, Salmonella narashino dan Salmonella fulica, sedangkan Salmonella be, Salmonella nakuru, Salmonella nordufer berdasarkan data CDC tahun 2018 belum pernah dilaporkan menyebabkan infeksi pada manusia sejak 2006. Tingkat pengetahuan responden peternak terhadap resistensi antibiotik umumnya rendah dan sikap umumnya buruk. Resistensi dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, rotasi antibiotik dan jumlah pemakaian antibiotik. Resistensi diketahui menyebar di 14 Kecamatan di Kabupaten Subang sehingga upaya terkoordinasi untuk menanggulangi masalah AMR sangat diperlukan

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇