31665 research outputs found
Sort by
Analisis Pemanfaatan E-Marketing oleh Petani dalam Pemasaran Produk Agribisnis (Kasus E-Marketing Tani Niaga Dikelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah).
Sejalan dengan berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK), muncul pemahaman baru mengenai paradigma pemasaran berupa konsep
pemasaran modern melalui jaringan internet yang disebut dengan e-marketing. Emarketing
merupakan bagian dari manajemen pemasaran yang memperhatikan
perkembangan lingkungan yang dinamis, dimana internet menjadi alternatif media
pemasaran yang efektif dan efisien. E-marketing menggambarkan penggunaan
teknologi informasi dalam proses menginformasikan, mengomunikasikan,
mempromosikan, menjual produk dan jasa serta membangun dan
mempertahankan hubungan dengan pelanggan melalui kegiatan pemasaran secara
online. Sebagian besar e-marketing banyak dimanfaatkan untuk kegiatan bisnis
oleh perusahaan-perusahaan dalam memasarkan produk atau jasa sesuai
kebutuhan konsumen. Namun, perkembangan pemasaran produk melalui internet
kini merambah ke berbagai produk termasuk produk agribisnis. Salah satu contoh
e-marketing produk agribisnis, yaitu Tani Niaga yang dikelola oleh Dinas
Pertanian Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Tani Niaga merupakan sistem yang
dibuat untuk memfasilitasi petani dalam memasarkan produk hasil pertaniannya,
memotong rantai tataniaga menjadi lebih pendek, menstabilkan harga saat panen
raya, memperluas jangkauan pasar, dan memungkinkan petani mendapatkan
pembeli dengan tawaran harga yang lebih tinggi sehingga berujung pada
peningkatan pendapatan petani. Oleh karena itu, tujuan dalam penelitian ini
adalah: 1) mendeskripsikan profil website e-marketing Tani Niaga yang dikelola
oleh Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan; 2) mendeskripsikan sistem kerja emarketing
Tani Niaga yang dikelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan;
3) menganalisis tingkat pemanfaatan e-marketing Tani Niaga oleh petani; dan 4)
menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi petani dalam memanfaatkan emarketing
Tani Niaga.
Penelitian e-marketing dengan kasus Tani Niaga sebagai media pemasaran
online produk agribisnis dilakukan di Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa
Tengah pada November 2017 sampai Oktober 2018. Penentuan responden petani
dan informan dari pihak Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan dilakukan dengan
metode purposive sampling. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan,
wawancara serta diskusi dengan sejumlah responden penelitian, yaitu 114 petani
dan perwakilan pihak Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan sebagai pengelola emarketing
Tani Niaga. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis
deskriptif dan pendekatan Partial Least Square (PLS) dengan software SmartPLS
3.
Tani Niaga merupakan e-marketing berbasis website yang dikelola oleh
Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah yang berdiri sejak tahun 2016
dan mulai beroperasi pada bulan Juli tahun 2017 untuk memfasilitasi petani
Kabupaten Grobogan dalam memasarkan produk hasil pertanian. Website Tani
Niaga dapat diakses secara online oleh petani maupun pengguna lainnya (calon
konsumen) dengan menggunakan handphone serta komputer melalui alamat URL
www.taniniaga.com. Website Tani Niaga ini terdiri dari sembilan menu, di
antaranya Login, Daftar, Home, Kategori, Blog, Cara Order, Info Reseller,
Testimoni, dan Download Katalog.
Tani Niaga dirancang khusus untuk memfasilitasi petani dalam memasarkan
produk hasil pertaniannya langsung kepada calon konsumen melalui sistem
pemasaran online. Sistem pemasaran melalui Tani Niaga merupakan upaya untuk
menghilangkan keterlibatan tengkulak atau pedagang perantara lainnya yang
mengakibatkan panjangnya rantai distribusi dan ketergantungan petani akan
tengkulak tersebut. Sehingga secara potensial, adanya Tani Niaga ini dapat
meningkatkan efisiensi pemasaran produk hasil pertanian petani Kabupaten
Grobogan.
Tani Niaga dimanfaatkan oleh petani sebagai media pemasaran produk hasil
pertanian secara online. Namun demikian, secara umum tingkat pemanfaatan Tani
Niaga, baik pada kelompok petani pangan maupun petani hortikultura masih
relatif rendah. Hal ini ditunjukkan dari aspek tingkat akses sarana teknologi
informasi, intensitas pemanfaatan Tani Niaga, tingkat manfaat yang dirasakan
setelah memanfaatkan Tani Niaga serta jangkauan pemasaran dari Tani Niaga.
Tingkat Pemanfaatan Tani Niaga dipengaruhi oleh karakteristik individu
petani dan karakteristik Tani Niaga. Faktor karakteristik individu pada petani
pangan yang dominan berpengaruh nyata terhadap tingkat pemanfaatkan Tani
Niaga adalah pendidikan formal, sedangkan pada kelompok petani hortikultura
adalah keberanian mengambil resiko. Faktor karakteristik Tani Niaga yang
dominan berpengaruh nyata terhadap tingkat pemanfaatan Tani Niaga pada
kelompok petani pangan adalah kesesuaian dengan kebutuhan, sedangkan pada
kelompok petani hortikultura adalah kemudahan untuk diaplikasikan
Analisis Modal Sosial dan Tingkat Keberdayaan Petani Padi Sawah dalam Sistem Tanam Jajar Legowo
Upaya peningkatan produktivitas pertanian khususnya padi, perlu adanya
pemberdayaan petani dengan melakukan penanaman padi dengan sistem tanam jajar legowo.
Tujuannya agar petani mendapatkan hasil pertanian yang lebih baik. Disisi lain, perlu adanya
modal sosial untuk memperkuat pemberdayaan agar petani bisa terberdayakan. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis hubungan modal sosial dengan tingkat keberdayaan komunitas
petani dalam sistem tanam padi jajar legowo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif yang didukung dengan data
kualitatif. Lokasi penelitian ini berada di Desa Sandingtaman, Kecamatan Panjalu, Kabupaten
Ciamis. Hasil dari penelitian ini terdapat hubungan antara modal sosial dan tingkat keberdayaan
petani pemilik dan penggrap sawah yang menanam padi dengan sistem jajar legowo , bentuk
hubungan yang didaptakan merupakan hubungan yang lemah. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah modal sosial yang dimiliki petani dalam menjalankan pertanian tinggi dan tingkat
keberdayaanya pun tinggi, sehingga pada saat modal sosial yang dimiliki petani tinggi maka
petani terberdayakan
Dampak Ekonomi dan Pengembangan Wisata Telaga Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo
Telaga Ngebel merupakan salah satu destinasi wisata alam unggulan yang
dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo sesuai dengan rencana strategis
pariwisata Kabupaten Ponorogo 2016-2021. Daya tarik wisata Telaga Ngebel berupa
pemandangan telaga dan suasana alam yang masih asri. Pengembangan wisata perlu
memperhatikan kondisi permintaan dan penawaran wisata untuk menghindari pemborosan
sumberdaya. Selain itu, banyaknya wisatawan yang berkunjung menimbulkan dampak
ekonomi yang positif bagi masyarakat sekitar berupa peluang usaha, lapangan pekerjaan dan
peningkatkan pendapatan, sehingga pengembangan wisata harus memperhatikan kondisi
sumberdaya alam dan lingkungan yang dijadikan sebagai daya tarik wisata. Penurunan
kualitas lingkungan berpotensi menurunkan dampak ekonomi wisata. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi potensi wisata Telaga Ngebel dari segi
permintaan dan penawaran wisata, (2) menganalisis dampak ekonomi dan faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan wisata Telaga Ngebel, (3) menganalisis potensi pengembangan
wisata Telaga Ngebel dari segi permintaan dan penawaran. Metode yang digunakan adalah
analisis deskriptif kuantitatif, keynesian multiplier effect, regresi linear berganda, skala likert,
dan Contingent Valuation Method (CVM). Hasil penelitian menunjukkan terdapat kelebihan
penawaran (over supply) yang mengakibatkan inefisiensi pemanfaatan sumberdaya. Adapun
dari aspek ekonomi, kegiatan wisata Telaga Ngebel sudah berdampak pada perekonomian
lokal dimana faktor atraksi air, jarak, dan waktu tempuh harus diperhatikan dalam
pengembangan wisata. Selain itu, terdapat kesesuaian kesediaan membayar wisatawan dengan
kesediaan menerima pengelola wisata sehingga pengembangan wisata dapat dilakukan
Sensitivitas dan Spesifisitas Food Recall serta Food Frequency Questionnaire dalam Memprediksi Hipertensi pada Wanita Vegetarian di Bali
Hipertensi dikenal dengan sebutan silence killer, hal ini disebabkan karena tidak menunjukan tanda dan gejala. Berdasarkan data WHO (2013), hipertensi merupakan penyebab terjadinya penyakit jantung (45%)dan stroke (51%). Data Riskesdas 2018 menunjukan prevalensi hipertensi di Indonesia tahun 2013 sebesar 25.8% dan meningkat menjadi 34.1% di tahun 2018 (Kemenkes 2018). Sementara itu prevalensi di Provinsi Bali pada tahun 2018 19%, sedangkan rata-rata prevalensi hipertensi berdasarkan rentang usia 40-65 tahun pada wanita sebesar 30%.
Salah satu cara untuk menurunkan angka prevalensi hipertensi adalah dengan merubah pola konsumsi. Salah satu perubahan yang dapat dilakukan adalah dengan menerapakan diet vegetarian. Perubahan pola konsumsi dapat membantu menurunkan resiko dari hipertensi. Adventisth Health Study-2 menunjukan vegetarian diet berkaitan dengan penurunan kematian akibat dari penyakit jantung dimana salah satu penyebab terjadinya penyakit jantung adalah hipertensi (Orlich et al. 2013). Perbedaan kedua pola konsumsi dari kedua group ini dapat dilihat dari kebiasaan makan setiap individu. Kebiasaan makan setiap ini individu dapat diketahui dengan menggunakan metod recall 2x24 jam dan food frequency questionnaire (FFQ). Penilaian kedua metode tersebut menggunakan penilaian food consumption score (FCS). Setiap jenis pangan dari setiap metode tersebut akan dimasukan kedalam 9 kategori pangan yang ada pada food consumption score (FCS), total skor yang diperoleh akan dibandingkan dan dihitung sensitivitas dan spesifisitas dari kedua metode tersebut.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik subjek terkait usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pola konsumsi, pengetahuan gizi dan kesehatan, status gizi, gaya hidup, sensitivitas dan spesifisitas dari metode recall dan food frequency questionnaire dan hubungan antara gaya hidup dengan status gizi dan status kesehatan pada kelompok subjek lakto vegetarian dan non vegetarian. Desain penelitian yang digunakan adalah metode cross-sectional study. Penelitian ini menggunakan sebagian data penelitian Sutiari et al. (2018) dengan judul Dietary Pattern, Protein Quality, Nutritional Status And Health Status In Vegetrian dan Non vegetarian Community Group In Bali yang didanai oleh Neys-van Hoogstraten Foundation. Penelitian ini bertempat di Provinsi Bali. Penelitian pada subjek lakto vegetarian bertempat di Kabupaten Badung (Asharm Krisna dan Saipoja) dan untuk subjek non vegetarian di Kota Denpasar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2018. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 80 wanita dengan rentang usia 40-65 tahun.
Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer. Data primer meliputi karakteristik sosial ekonomi, kebiasaan makan, status gizi, status kesehatan, gaya hidup (kebiasaan merokok dan konsumsi kopi dan minuman beralkohol), pengetahuan gizi dan kesehatan terkait hipertensi. Data tersebut diperoleh dari hasil wawancara menggunakan kuesioner. Data kebiasaan makan diperoleh menggunkan kuesioner food recall 24 jam selama 2 kali dan food frequency questionaire. Data antropometri, level Hb, dan tekanan darah diperoleh melalui pengukuran langsung.
Hasil penelitian menunjukan rata-rata usia subjek lakto vegetarian berkisar 49 tahun dan subjek kelompok non vegetarian 53 tahun. Besar keluarga kelompok subjek lakto vegetarian termasuk kedalam kategori kecil, kelompok non vegetarian termasuk kedalam kategori sedang. Tiga puluh lima persen kelompok lakto vegetarian memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar dan 40% kelompok non vegetarian memiliki tingkat pendidikan sarjana. Mayoritas kedua kelompok subjek memiliki perkerjaan sebagai wisraswata, dan mempunyai pendapatan berkisar 1.2 -1.8 juta rupiah. Kelompok subjek lakto vegetarian mempunyai status gizi yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok subjek non vegetarian ditandai dengan rata-rata IMT sebesar 24.5 kg/m2, dan lingkar pinggang 80.9 cm. Sebanyak 70% dari kelompok subjek lakto vegetarian termasuk kedalam kategori anemia disebabkan karena rendahnya konsumsi pangan sumber protein hewani. Kelompok lakto vegetarian mempunyai risiko hipertensi lebih rendah disebabkan karena tingginya konsumsi pangan sumber serat. Gaya hidup dari kelompok subjek lakto vegetarian lebih baik dibandingkan dengan kelompok subjek non vegetarian. Sementara pengetahuan gizi dan kesehatan kedua kelompok subjek termasuk kedalam kategori baik. Kelompok subjek lakto vegetarian mempunyai frekuensi konsumsi sayuran dan buah lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok subjek non vegetarian. Metode recall mempunyai nilai sensitifitas 86.6% dan nilai spesifisitas 4%, cukup tinggi dalam memprediksi hipertensi pada kelompok non vegetarian. Metode food frequency questionnaire mempunyai nilai sensitifitas 83.3% dan nilai spesifisitas 21.4%, cukup tinggi dalam memprediksi hipertensi. Kedua metode tersebut dapat digunakan dalam memprediksi hipertensi. Hasil uji beda menunjukan terdapat perbedaan pada status gizi, status kesehatan, dan asupan zat gizi (energi, protein, lemak, serat, natrium, vitamin B12, dan vitamin C) pada kedua kelompok subjek (p0.05). Tidak terdapat hubungan antara gaya hidup dengan status gizi dan status kesehatan pada kedua kelompok subjek (p>0.05)
Ekstraksi, Karakterisasi dan Formulasi Kolagen Gelembung Renang Ikan Patin (Pangasius sp.) sebagai Sediaan Tablet Suplemen Kesehatan Kulit.
Gelembung renang merupakan byproduct hasil perairan yang berpotensi
sebagai sumber alternatif kolagen untuk industri makanan, kosmetik, biomedis
dan farmasi. Kolagen gelembung renang ikan patin diharapkan dapat mengatasi
kekhawatiran produsen dan konsumen dengan merebaknya beberapa penyakit
yang bersumber dari bahan baku sapi serta masalah ketidakhalalan penggunaan
babi oleh pemeluk agama tertentu. Metode produksi kolagen umumnya
menggunakan metode asam. Penggunaan metode asam dan kombinasinya dengan
enzim penting untuk dilakukan guna meningkatkan rendemen dan kualitas.
Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik gelembung renang ikan patin,
mengevaluasi pengaruh konsentrasi NaOH dalam pelarutan protein nonkolagen
dan pengaruh konsentrasi enzim papain terhadap karakteristik kolagen yang
dihasilkan dan menentukan formulasi sediaan tablet kolagen.
Penelitian dilakukan dalam empat tahapan yaitu preparasi dan karakterisasi
gelembung renang ikan patin (Pangasius sp.), penghilangan protein nonkolagen
menggunakan NaOH 0.05; 0.1 dan 0.15 M selama 12 jam pada suhu 4°C,
ekstraksi kolagen menggunakan enzim papain konsentrasi 0; 5 000; 10 000;
15 000 dan 20 000 U/mg selama 24 dan 48 jam pada suhu 4ºC dan
memformulasikan sediaan tablet kolagen.
Proporsi gelembung renang ikan patin yakni 1.42±0.68% dari total bobot
ikan. Gelembung renang ikan patin mengandung protein 84.66±0.47% (bk) dan
memiliki asam amino yang didominasi oleh asam amino penciri kolagen yakni
glisina (55.94 mg/g), prolina (30.48 mg/g) dan alanina (23.4 mg/g). Pretreatment
menggunakan NaOH 0.05 M selama 6 jam merupakan perlakuan yang efektif
dalam menghilangkan protein nonkolagen gelembung renang ikan patin. Ekstraksi
menggunakan enzim papain 5 000 U/mg selama 48 jam merupakan perlakuan
terpilih berdasarkan pengujian kelarutan kolagen dan derajat pengembangan.
Kolagen larut enzim papain (PaSC) terpilih memiliki rendemen sebesar
27±0.08% (bk) dengan kandungan protein 88.13±0.07 dan mengandung tiga asam
amino tertinggi yaitu glisina (276.98 mg/g), prolina (119.61 mg/g) dan alanina
(90.02 mg/g). Kolagen memiliki derajat putih 90.99±0.79% dengan pH 4.05, serta
bebas dari (Pb, Hg, As dan Cd). Suhu transisi gelasi (Tg) dan suhu puncak
pelelehan (Tmax) masing-masing 88°C dan 151°C. Spektra FTIR kolagen
menunjukkan eksistensi gugus amida A, amida B, amida I, amida II, amida III dan
triple helix. Struktur permukaan kolagen memiliki serat-serat putih. Angka
lempeng total pada formula sediaan tablet kolagen negatif dari cemaran mikroba,
memiliki nilai aw yang rendah dan memenuhi standar DEPKES R1 1991 dengan
nilai keseragaman bobot 500.13±0.11 g, keseragaman ukuran dengan diameter
1.02 cm dan tebal 0.52 cm, kekerasan 6.32 ± 1.3 mg, kerapuhan 0.83% dan
waktu hancur 7 menit 6 detik
Partisipasi, Keefektifan Program, dan Keberdayaan Ekonomi Masyarakat dalam Implementasi Program Corporate Social Responsibility
Kehadiran perusahaan dalam suatu wilayah berpotensi menimbulkan konflik dan ketimpangan di masyarakat sekitar perusahaan. Perusahaan tambang minyak merupakan salah satu contoh sektor industri yang sangat produktif dalam penambahan pendapatan Negara. Di sisi lain, sektor pertambangan juga menjadi sektor yang cenderung rentan terhadap konflik dan ketimpangan ekonomi. Program tanggungjawab sosial perusahaan atau CSR berperan mengelola potensi konflik dan mencegah ketimpangan di masyarakat sekitar perusahaan tambang. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis hubungan antara prasyarat partisipasi dengan partisipasi masyarakat dalam implementasi program CSR; (2) Menganalisis hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi masyarakat dalam implementasi program CSR; (3) Menganalisis hubungan partisipasi masyarakat dengan keberdayaan ekonomi dalam implementasi program CSR; (4) Menganalisis hubungan partisipasi masyarakat dengan keefektifan program CSR; dan (5) Menganalisis hubungan partisipasi masyarakat dengan keefektifan program CSR. Pengambilan data dilakukan dengan metode sensus sebagai data primer dengan panduan kuesioner dan data kualitatif digunakan peneliti dengan melakukan wawancara mendalam kepada informan menggunakan panduan pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Prasyarat partisipasi menunjukkan keterkaitan yang sangat kuat dengan setiap tahap partisipasi masyarakat; (2) Faktor internal dan eksternal berperan kuat terhadap penguatan partisipasi masyarakat; (3) Keberdayaan ekonomi menunjukkan memperkuat partisipasi masyarakat dalam program CSR; (4) Partisipasi masyarakat telah memperkuat keefektifan program CSR; dan (5) Keberdayaan ekonomi telah memperkuat keefektifan CSR
Faktor Internal dan Eksternal yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2009–2017
Perbankan Indonesia terdiri dari dual banking system yakni perbankan
konvensional dan perbankan syariah. Eksistensi perbankan syariah di Indonesia
semakin kokoh semenjak adanya UU No 21 Tahun 2008 tentang perbankan
syariah yang memberikan landasan operasi yang lebih jelas bagi bank syariah.
Profitabilitas (ROA) merupakan indikator yang paling penting untuk mengukur
kinerja suatu bank. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh faktor
internal yakni BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional), CAR
(Capital Adequacy Ratio), NPF (Non Performing Finance) dan faktor eksternal
yakni Inflasi (INF), SBIS (Sertifikat Bank Indonesia Syariah), jumlah uang
beredar (MS) terhadap profitabilitas (ROA) BUS (Bank Umum Syariah).
Penelitian ini menggunakan data sekunder, mencakup delapan BUS yang terdapat
di Indonesia dari tahun 2009-2017. Metode penelitian yang digunakan adalah data
panel dengan model regresi Pooled Least Square (PLS). Hasil penelitian
menunjukkan faktor internal seperti BOPO dan NPF berpengaruh signifikan
terhadap ROA, sedangkan faktor eksternal tidak berpengaruh signifikan
Deteksi Bakteri Penghasil Histamin melalui Gen Histidine Decarboxylase (hdc) pada Ikan Tuna, Tongkol, dan Cakalang
Bakteri penghasil histamin dapat diidentifikasi dengan mendeteksi gen
histidin dekarboksilase (hdc). Tujuan penelitian ini yaitu menentukan kadar
histamin pada daging ikan tuna, tongkol, dan cakalang, mengidentifikasi jenis
bakteri pembentuk histamin dan menganalisis bioinformatika melalui konstruksi
pohon filogeni. Kadar histamin diuji menggunakan spektrofluorometer, sedangkan
analisis DNA bakteri penghasil enzim hdc menggunakan PCR. Kadar histamin
yang terdeteksi dari ikan tuna, tongkol, dan cakalang yaitu sebesar 2.96±0.22 ppm,
2.14±0.23 ppm, dan 1.02±0.97 ppm. Jenis bakteri pembentuk histamin yang
berhasil diidentififikasi baik menggunakan primer spesifik hdc maupun primer
universal 16S rRNA yaitu Morganella morganii, Enterobacter hormaechei,
Klebsiella aerogenes dan Enterobacter bugandensis. Konstruksi pohon filogeni
menunjukkan bahwa bakteri M. morganii dan E. hormaechei berkerabat dekat pada
satu cabang, serta bakteri Klebsiella aerogenes, Enterobacter bugandensis, dan
Escherichia fergusonii juga berkerabat dekat, namun ketiganya tidak berkerabat
dengan bakteri Peptoniphilus stercorisuis dan Vagococcus carniphilus
Estimasi Nilai Ekonomi dan Pengelolaan Wisata Alam Sesuai Daya Dukung di Telaga Ngebel Kabupaten Ponorogo.
Wisata alam Telaga Ngebel terletak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Telaga Ngebel memiliki fungsi sebagai kawasan lindung, daerah penangkapan air
dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Keberadaan wisata Telaga Ngebel
berpotensi mendatangkan nilai ekonomi sebagai jasa penghasil wisata berbasis
sumberdaya alam. Daya tarik tersebut menyebabkan meningkatnya jumlah
wisatawan, yang memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat
sekitar dan berpotensi menimbulkan dampak negatif, yaitu terganggunya
kelestarian lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengestimasi nilai
ekonomi di wisata Telaga Ngebel, mengestimasi kapasitas daya dukung di wisata
Telaga Ngebel, dan tambahan harga tiket masuk berdasarkan kesediaan membayar
wisatawan Telaga Ngebel. Metode yang digunakan adalah travel cost method
(TCM), metode Cifuentes, dan contingent valuation method (CVM). Berdasarkan
hasil estimasi dengan TCM menunjukkan bahwa nilai ekonomi wisata Telaga
Ngebel yang cukup besar. Nilai tersebut akan hilang jika lingkungan di Telaga
Ngebel tidak dikelola dengan baik. Berdasarkan penilaian, kapasitas daya dukung
kawasan Telaga Ngebel secara keseluruhan pada tingkat daya dukung fisik (PCC),
daya dukung riil (RCC), dan daya dukung efektif (ECC) masih di bawah kapasitas
daya dukung. Harga tiket yang ditetapkan berdasarkan kesediaan membayar
wisatawan dapat digunakan sebagai tambahan dana untuk kegiatan konservasi
wisata Telaga Ngebel sehingga dapat meminimalisir kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh wisatawan
“CREATURE”: Makerspace SB-IPB sebagai Creative Hubs Industri Startup
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan rancangan Makerspace SB-IPB melalui metode customer development yang difokuskan pada tahapan customer discovery. Tujuan dibentuknya Makerspace SB-IPB yaitu untuk menghubungkan kebutuhan pendidikan di SB-IPB dengan dinamika ekosistem bisnis yang mengedepankan era perekonomian kreatif. Elemen kanvas model bisnis dirumuskan berdasarkan hasil pengujian masalah maupun solusi di lapangan melalui kuesioner dan prototype. Hasil yang diperoleh adalah kanvas model bisnis yang terverifikasi dan prototype dari Makerspace SB-IPB. Value proposition yang ditawarkan yaitu pelayanan utama, sertifikasi keahlian melalui workshop, creative event, pameran produk, dan premium location yang dimiliki SB-IPB, serta fasilitas pendukung yang terintegrasi dengan Makerspace. Channels yang digunakan untuk menjangkau segmen pengguna melalui customer experience, salesperson, social media, interactive website, serta pemerintah Kota Bogor. Makerspace SB-IPB diharapkan dapat menjadi ekosistem pendukung bagi mahasiswa SB-IPB dan pelaku industri kreatif di Kota Bogor dalam mendukung terjadinya inovasi dan kolaborasi dari berbagai latar belakang penggunanya