Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Estimasi Nilai Kerugian Ekonomi Masyarakat Akibat Intrusi Air Laut (Studi Kasus: Desa Surya Bahari, Kabupaten Tangerang)

    No full text
    Intrusi air laut merupakan proses masuknya air laut ke dalam aliran air tanah daratan. Desa Surya Bahari merupakan salah satu desa di Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang yang terkena dampak intrusi air laut. Intrusi air laut telah menyebabkan kelangkaan air bersih di pemukiman masyarakat dan menurunnya produktivitas pertanian. Tujuan penelitian bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi karakteristik masyarakat dan usaha tani di Desa Surya Bahari 2) Mengestimasi besarnya nilai kerugian ekonomi masyarakat dan usaha tani yang diakibatkan oleh intrusi air laut 3) Mengestimasi kesediaan membayar masyarakat untuk memperbaiki sistem penyediaan air bersih di Desa Surya Bahari, dan 4) Mengkaji alternatif kebijakan yang tepat untuk mengurangi dampak intrusi air laut di Desa Surya Bahari. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan dianalisis dengan analisis deskriptif, replacement cost, change in productivity, dichotomus choice contingent valuation method (CVM) dan Analitycal Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan hasil penelitian, 45% responden masyarakat Desa Surya Bahari adalah nelayan dengan rata-rata pendapatan Rp. 2.869.600 per bulan. Latar belakang pendidikan responden masyarakat Desa Surya Bahari didominasi dengan lulusan Sekolah Dasar. Mayoritas petani di Desa Surya Bahari merupakan petani penggarap non pemilik dengan rata-rata luas lahan sebesar 2,06 ha dan produktivitas lahan dibawah 4,7 ton/ha. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa total nilai kerugian ekonomi masyarakat Desa Surya Bahari akibat penurunan produktivitas pertanian dan pengeluaran biaya penggantian sumber air bersih adalah sebesar Rp. 5.096.863.340 / tahun. Estimasi nilai kesediaan membayar masyarakat sebesar Rp. 2.116,46/m3 menggunakan Metode Logit, dan Rp. 2.383/m3 menggunakan Metode Turnbull. Alternatif kebijakan yang disarankan untuk menjaga kelestarian air tanah adalah konservasi daerah resapan air dan pengawasan terhadap penggunaan air tanah.Sea water intrusion is the movement of saline water into the fresh water aquifer. Surya Bahari Village is one of the villages in Pakuhaji Sub-district, Tangerang Districts that was affected by seawater intrusion. Seawater intrusion has caused clean water scarcity in community settlements and affected the quality and productivity of agriculture in Surya Bahari Village. The aims of this study are to: 1) identify the characteristics of community and farmers in Surya Bahari Village 2) estimate the value of community and farmers economic losses due to seawater intrusion 3) estimate community’s willingness to pay to improve the water supply system in Surya Bahari Village 4) examine appropriate policy alternatives to reduce the impact of seawater intrusion in Surya Bahari Village. Survey method was used as research method and the results were analyzed with descriptive analysis, replacement cost, change in productivity, dichotomus choice contingent valuation method (CVM) and Analitycal Hierarchy Process (AHP). Based on research results, 45% of community in Surya Bahari Village is a fisherman with average income IDR 2,869,600 per month. Community education background was dominated by elementary school graduate. Majority of farmers in Surya Bahari Village are non-owner cultivators with average land area of 2.06 ha and land productivity below 4.7 tons/ha. The results of this study indicated that total value of community economic losses due to decreased agricultural productivity and expenditures on buying clean water was IDR 5,096,863,340 a year. The estimated value of community’s willingness to pay was IDR 2,116.46/m3 using logit method, and IDR 2,383/m3 using the turnbull method. The suggested appropriate policy alternatives to maintain groundwater sustainability are water catchment areas conservation program and supervision of groundwater use

    Design of Sustainable Agricultural and Agroindustry System of Gayo Arabica Coffee in Aceh Province

    No full text
    Budidaya kopi Arabika Gayo dapat dibudidayakan dengan menggunakan tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala) sebagai penaung. Interaksi kedua tanaman tersebut memiliki manfaat ekologi. Tanaman kopi dan tanaman pepohonan lainnya di dalam kebun tersebut dikenal sebagai agroforestri yang memiliki berbagai fungsi diantaranya penyimpan karbon dan penyedia nutrisi dalam sistem yang relatif tertutup. Melalui proses fotosintesis pada tanaman, CO2 di udara tersimpan dan menjadi cadangan karbon. Dengan demikian agroforestri kopi berperan kuat mengurangi dampak potensi pemanasan global dari emisi gas rumah kaca sekaligus menjadi model pertanian berkelanjutan dari aspek kecukupan nutrisi tanaman. Bersamaan dengan itu, agroindustri kopi yang fokus pada pengolahan primer dengan menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan. Limbah cair dan padat melepaskan gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Perbaikan proses produksi untuk mengurangi bahan pencemar dan penggunaan kembali limbah menjadi energi untuk digunakan dalam proses diharapkan akan mengurangi penggunaan energi fosil dan akan memperbaiki lingkungan. Penelitian ini membatasi pada aspek: 1). cadangan karbon dan siklus nutrisi tertutup pada agroforestri, 2). evaluasi kesesuaian lahan pada kopi arabika, dan 3). aliran material, energi dan penilaian daur hidup pada pengolahan kopi. Tujuan penelitian mendesain ulang sistem pertanian dan agroindustri kopi arabika berkelanjutan di dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh. Secara khusus bertujuan: 1). mendapatkan nilai cadangan karbon pada sistem agroforestri kopi, 2) memperkirakan kecukupan nutrisi pada pertumbuhan tanaman kopi, 3). menilai kelas kesesuaian lahan kopi arabika dengan faktor cadangan karbon, 4). mendapatkan tingkat emisi gas rumah kaca dan kebutuhan energi pada agroindustri kopi, (5) menghitung karbon netto (net carbon) pada sistem agroforestri dan agroindustri. Metode yang digunakan di dalam penelitian, adalah 1). permodelan cadangan karbon, 2). estimasi kecukupan nutrisi, 3). georeferencing , 4). dampak lingkungan terhadap potensi pemanasan global, dan 5). estimasi karbon netto (carbon net). Hasil penelitian menunjukan model agroforestri kopi Arabika Gayo berpotensi mengurangi emisi melalui penyerapan karbon. Stok karbon tumbuhan di kebun agroforestri kopi di Dataran Tinggi Gayo menunjukkan karbon dalam tanaman kopi dan jenis tanaman lainnya (kayu, buah-buahan dan rerumputan) berada pada rata-rata 71.052 ton C/ha. Nilai cadangan karbon yang memiliki proporsi paling besar pada selang 54.59 - 79.90 ton C/ha (dengan rata-rata 49.428 ton C/ha) mendominasi (53 persen) lahan perkebunan kopi. Perkiraaan kemampuan serapan emisi karbon pada agroforestri kopi yang berumur 15 tahun setiap tahun sebesar 4.74 CO2-e ton/ha. Perhitungan cadangan karbon skala tutupan lahan pada periode 2009 - 2015 memperlihatkan terjadi penyerapan karbon melalui peningkatan luasan hutan tanaman dan belukar. Penambahan cadangan karbon berasal dari konversi lahan terbuka dan savanna menjadi hutan tanaman. Kecukupan nitrogen diperlihatkan oleh model keseimbangan nitrogen. Agroforestri kopi dengan tanaman fiksasi N lamtoro (Leucaena leucocephala) memberikan manfaat ekologi. Estimasi keseimbangan nitrogen pada kebun petani kopi Arabika Gayo memperlihatkan ketercapaian kecukupan nitrogen, dan pada semua tingkatan luas lahan (0.1-0.8 ha, 0.9-1.9 ha, 2.0-2.8 ha) terdapat kelebihan unsur nitrogen pada setiap hektar masing-masing sebesar 9.45 ton, 54.16 ton dan 67.32 ton. Areal penelitian memiliki dua kelas kesesuaian lahan aktual untuk tanaman kopi arabika yakni kelas S3 sebesar 16.95 persen dan kelas N sebesar 81.97 persen. Penggunaan lahan kopi menempati wilayah dengan luasan 57 128.61 ha atau 9.16 persen dari total luasan areal penelitian. Sebagian besar (40 344.22 ha) tanaman kopi ditanam pada lahan yang secara aktual tidak sesuai (berstatus N). Potensi luasan kelas kesesuaian S2 dan S3 setelah dilakukan perbaikan adalah sebesar 8 217.21 ha (1.32 persen) dan 35 664.65 ha (5.72 persen). Penggunaan lahan kopi sebagian besar (25 836.67 ha) mempunyai cadangan karbon sedang hingga tinggi (30 490.34 ha). Tiga kelas cadangan karbon (rendah, sedang dan tinggi) sebagian besar menempati wilayah yang secara aktual tidak sesuai untuk tanaman kopi arabika (status N). Pelaku agroindustri Arabika Gayo adalah petani, pengumpul dan koperasi yang meliputi kegiatan pengolahan primer mulai dari pulping di kebun petani sampai ke pengepakan di fasilitas pengolahan milik koperasi. Penilaian dampak lingkungan (produksi 1 kg biji kopi) menggunakan perhitungan jejak karbon standar IPCC menunjukkan emisi kopi Arabika Gayo lebih rendah (0.43 kg CO2-e) dibandingkan emisi karbon di negara produsen Costa Rica, kawasan Mesoamerika dan Kenya (1.93 – 10.8 kg CO2-e). Penilaian dampak lingkungan dari dua model produksi (tahun 2015 dan tahun 2106) menunjukkan jejak karbon dan jejak energi pada model 2016 lebih tinggi yang berasal dari penggunaan bahan bakar fosil dan sumber pembangkit listrik. Kesimpulan akhir memperlihatkan tercapainya keberlanjutan lingkungan sistem agroforestri dan agroindustri kopi Arabika Gayo dengan indikator potensi pemanasan global (parameter CO2-e netto). Pengurangan CO2-e netto berasal dari konversi biomassa menjadi sumber pembangkit listrik dan mempertahankan biomassa tanaman. Kebaruan riset pada aspek keberlanjutan lingkungan meliputi: 1). pemetaan cadangan karbon biomassa agroforestri kopi dan kecukupan nitrogen menjadi indikator penting kapasitas daya dukung lingkungan dalam pengelolaan perkebunan kopi berkelanjutan, 2). pengembangan areal perkebunan kopi yang dievaluasi sesuai arahan FAO dan dalam konteks cadangan karbon dapat dijadikan acuan dalam perencanaan tata ruang fungsi budi daya, dan 3). perhitungan CO2-e netto detail dan menyeluruh berasal dari proses emisi, reduksi dan serapan karbon

    Analysis of the Behavior of Purchasing Health Products through E-Commerce for Millennial Generation during the Covid-19 Pandemi.

    No full text
    Pandemi Covid-19 membuat pemerintah memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) agar dapat mengurangi penyebaran Covid-19. Hal ini membuat masyarakat untuk melakukan segala aktivitas dari rumah termasuk belanja produk kesehatan agar dapat mengurangi penyebaran virus. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis karakteristik generasi milenial dalam melakukan pembelian produk kesehatan di masa Pandemi Covid- 19, (2) menganalisis perbedaan perilaku kesadaran akan kesehatan sebelum dan sesudah pandemi Covid-19, (3) menganalisis pengaruh variabel theory of planned behavior terhadap intensi generasi milenial dalam melakukan pembelian produk kesehatan pada masa pandemi Covid-19. Metode pengolahan data menggunakan analisis deskriptif, uji wilcoxon, analisis SEM-LISREL, dan net promoter score. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa netizen yang mempengaruhi konsumen saat memutuskan pembelian produk kesehatan. Sehingga dalam perilaku pembelian produk kesehatan di masa Pandemi Covid-19 netizen atau pembeli lain yang mempengaruhi konsumen dalam memutuskan produk kesehatan yang dibeli

    The Effect of Delaying Fertilization Time on Production and Quality of IPB 3S Rice Seeds

    No full text
    Distribusi pupuk subsidi dari pemerintah kepada petani sering mengalami keterlambatan sehingga menyebabkan petani tidak dapat melakukan pemupukan dengan tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penundaan waktu pemupukan terhadap produksi dan mutu benih padi (Oryza sativa L.) varietas IPB 3S. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) satu faktor, yaitu waktu pemupukan yang terdiri atas empat taraf dengan tiga kali ulangan. Taraf pertama atau kontrol adalah waktu pemupukan pada saat 7, 21, dan 35 HST. Taraf kedua terdiri atas waktu pemupukan pada 7, 28, dan 35 HST. Taraf ketiga terdiri atas waktu pemupukan pada 7, 21, dan 42 HST. Taraf keempat terdiri atas waktu pemupukan pada 7, 28, dan 42 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penundaan waktu pemupukan selama satu minggu tidak memberikan pengaruh terhadap produksi benih padi varietas IPB 3S, akan tetapi berpengaruh terhadap mutu fisik dan fisiologis benih. Penundaan pemupukan pada fase generatif mampu meningkatkan indeks vigor dan bobot kering kecambah normal, sedangkan penundaan pemupukan pada fase vegetatif dan generatif sekaligus dapat menurunkan bobot 1000 butir benih.The distribution of subsidized fertilizers from the government to farmers is often late. This causes farmers unable to apply fertilizers on time. This study aims to determine the effect of delaying fertilization time on the production and quality of IPB 3S rice seeds. The research used randomized complete block design (RCBD) with one factor. The factor was difference of fertilization time which consist of four levels and three replicates. The first level or the control is the time of fertilization at 7, 21, and 35 DAT. The second level consists of fertilization time at 7, 28, and 35 DAT. The third level consists of fertilization time at 7, 21, and 42 DAT. The fourth level consists of fertilization time at 7, 28, and 42 DAT. The result showed that the delay in fertilization time for one week had no effect on the production of IPB 3S rice seeds, but had an effect on the physical and physiological quality of the seeds. Delaying fertilization in the generative phase can increase the vigor index and dry matter of normal seeds, while delaying fertilization in the vegetative and generative phases simultaneously can reduce the weight of 1000 seeds

    Penyusutan Bobot Badan dan Mortalitas Ayam Broiler pada Jarak Tempuh Transportasi yang Berbeda

    No full text
    Proses pengangkutan ayam broiler sebelum pemotongan merupakan kegiatan yang menyebabkan stres sehingga dapat mengakibatkan penyusutan bobot badan dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penyusutan bobot badan dan mortalitas ayam broiler pada jarak tempuh yang berbeda selama transportasi dari data-data penelitian bersumber dari jurnal internasional bereputasi dan jurnal nasional terakreditasi. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan teknik penulisan narative review. Lama jarak transportasi berpengaruh signifikan terhadap penyusutan bobot badan dan mortalitas ayam broiler. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyusutan bobot badan dan mortalitas adalah suhu lingkungan, penempatan posisi box pengangkutan, kebisingan, dan getara

    Growth of Transgenic and Non-transgenic Jala Ipam Potato Inoculated by Endophytic Bacteria Micrococcus endophyticus G053

    No full text
    Tanaman kentang kultivar Jala Ipam transgenik JCL2 dan JCL3 mengekspresikan gen LYZ-C secara konstitutif di dalam sitosol sehingga resisten terhadap bakteri patogen, yaitu Ralstonia solanacearum dan Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum. Gen LYZ-C menyandi lisozim yang merusak dinding sel bakteri dengan cara memotong ikatan β-1,4 di antara N-asetil-D-muramat dengan N-asetil-D-glukosamin pada peptidoglikan sehingga dapat mengakibatkan lisisnya sel bakteri. Bakteri endofit Micrococcus endophyticus G053 dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kentang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan plantlet kentang kultivar Jala Ipam transgenik yang mengandung gen LYZ-C dan non-transgenik yang diinokulasi dengan bakteri endofit M. endophyticus G053 secara in vitro. Plantlet kentang kultivar Jala Ipam non-transgenik, JCL2, dan JCL3 yang diinokulasi dengan bakteri endofit M. endophyticus G053 secara in vitro, tidak menunjukkan perbedaan nyata dalam pertumbuhan tinggi batang, jumlah buku, panjang akar, dan jumlah akar. Reisolasi bakteri dari plantlet yang telah diinokulasi sebelumnya dengan M. endophyticus G053 dan dari hasil subkultur plantlet tersebut menunjukkan bahwa M. endophyticus G053 tidak mengalami kematian di plantlet transgenik. Hasil ini mengindikasikan bahwa gen LYZ-C yang terdapat di dalam tanaman kentang kultivar Jala Ipam transgenik JCL2 dan JCL3 yang diekspresikan secara konstitutif di dalam sitosol tidak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bakteri endofit M. endophyticus G053. Kata kunci: jumlah akar, jumlah buku, lisozim, panjang akar, tinggi batangThe transgenic potato cultivar Jala Ipam JCL2 and JCL3 expressed the LYZ-C gene constitutively in the cytosol so that it was resistant to pathogenic bacteria Ralstonia solanacearum and Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum. The LYZ-C gene encodes the lysozyme that damages cell walls of the bacteria by cutting the β-1,4 bonds between N-acetyl-D-muramate and N-acetyl-D-glucosamine of peptidoglycan resulting in bacterial cells lysis. Endophytic bacteria Micrococcus endophyticus G053 increases the growth of potato plants. This study aims to determine the growth of transgenic potato cv Jala Ipam plantlets containing the LYZ-C genes and non-transgenic one which were inoculated with endophytic bacteria Micrococcus endophyticus G053 in vitro. Non-transgenic Jala Ipam, JCL2, and JCL3 inoculated with endophytic bacteria M. endophyticus G053 in vitro, did not show significant differences in the growth of stem height, number of nodes, root length, and number of roots. The re-isolation of bacteria from the plantlets previously inoculated with M. endophyticus G053 and the results of the plantlet subcultures showed that M. endophyticus G053 did not die in the transgenic plantlets. These results indicated that the LYZ-C gene contained in the transgenic potato cultivar Jala Ipam, i.e. JCL2 and JCL3 which was expressed constitutively in the cytosol did not affect the growth and development of endophytic bacteria M. endophyticus G053. Keywords: lysozyme, number of nodes, number of roots, root length, stem heightProyek Penelitian Terapan yang berjudul “Pengembangan Kentang Untuk Industri Keripik dan Kentang Sayur” atas nama Prof. Dr. Ir. Suharsono, DEA

    Prediction Models for Pine Stand Biomass at Rehabilitation Area of Gunung Walat University Forest, Sukabumi, West Java

    No full text
    Kemampuan hutan untuk menyerap CO2 menurun akibat deforestasi dan degradasi hutan. Salah satu upaya untuk meningkatkan penyerapan CO2 adalah dengan merehabilitasi kawasan hutan yang terdegradasi, seperti yang dilakukan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi biomassa tegakan pinus di areal rehabilitasi HPGW. Variabel tegakan diukur di lapangan menggunakan 60 plot contoh yang ditetapkan secara sistematis di setiap areal tahun tanam. Variabel tegakan dianalisis menggunakan beberapa model regresi linier dan non linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model terbaik pendugaan biomassa tegakan pinus (W, ton/ha) dengan umur tegakan (A, tahun) dan luas bidang tegakan (G, m2/ha) adalah W = 0,38 A0,953 G1,10 dengan nilai R2 sebesar 89,9% dan RMSE 3,02 ton/ha. Jika data umur tegakan dan luas bidang dasar tidak tersedia, maka model alternatif pendugaan biomassa tegakan pinus hanya dengan menggunakan diameter tegakan adalah W = 72,62 (exp (-17,14 / D)) dengan nilai R2 77,5% dan RMSE 4,45 ton/ha.The capability of forests to absorb CO2 decreases due to deforestation and forest degradation. One of the efforts to increase CO2 sequestration is rehabilitating degraded forest areas, such as practised in Gunung Walat University Forest (GWUF). This study was aimed to developed prediction models for pine stand biomass at the rehabiliation area of GWUF. Stand variables were measured in the field using 60 plots that were established systematically in every planting year area. The stand variables were analyzed using some linear and non-linear regression models. The results showed that the best model for estimating pine stand biomass (W, ton/ha) using stand age (A, year) and stand basal area (G, m2 /ha) was W = 0,38 A 0.953 G 1.10 with an R2 value of 89,9% and an RMSE of 3,02 ton/ha. When the stand age and basal area data were not available, an alternative model for estimating the pine stand biomass using stand diameter only was W = 72,62 (exp (-17,14 / D)) with an R2 value of 77,5% and an RMSE of 4,45 ton/ha

    Implementation of Corporate Social Responsibility (CSR) Policies and Programs of Nusantara V Oil Palm State Plantation Company in Riau Province

    No full text
    Implementasi kebijakan CSR merupakan kewajiban tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya yang dijalankan sesuai kepatutan dan kewajaran. Provinsi Riau merupakan provinsi dengan luas perkebunan kelapa sawit terbesar dan provinsi ketiga dengan perusahaan kelapa sawit terbanyak di Indonesia sehingga implementasi kebijakan CSR salah satu yang paling banyak dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit berada di Provinsi Riau. Namun demikian, implementasi kebijakan CSR yang berbasis pemberdayaan kurang diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa penelitian yang menemukan rendahnya kegiatan pemberdayaan dari perkebunan kelapa sawit yang ada di Provinsi Riau. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan penelitian terkait implementasi kebijakan CSR yang dilakukan perkebunan kelapa sawit yang ada di Provinsi Riau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja implementasi kebijakan dan program CSR perusahaan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau. Penelititan ini dilakukan pada perusahaan BUMN (PTPN V) dengan mengambil empat contoh unit kebun berdasarkan purposive sampling yang dilihat dari perbedaan lokasi kehidupan masyarakat, 3 unit kebun berada di Kabupaten Kampar, dan satu unit kebun di Kabupaten Rokan Hilir. Pengambilan responden dilakukan dengan purposive sampling sesuai dengan lokasi perusahaan melaksanakan program CSR. Analisis data dilakukan dengan metode analisis supply-demand yang memerbandingkan antara persepsi perusahaan dan masyarakat. Komponen penyusun kuisioner untuk menilai persepsi terdiri atas penjabaran pernyataan yang diambil dari Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 2012 sebagai turunan dari UU No 40 Tahun 2007 terkait pelaksanaan CSR dan komponen lainnya yang bersumber dari beberapa literatur buku yang menjelaskan pelaksanaan CSR secara baik. Selain itu digunakan pula kuisioner untuk melihat persepsi masyarakat terhadap program pemberdayaan yang dilakukan oleh perusahaan. Data persepsi diolah dengan SPSS untuk mendapatkan diagram analisis supply-demand sehingga tergambarkan strategi peningkatan kinerja yang dapat dilakukan perusahaan. Antara lain, indikator-indikator yang berkinerja baik sehingga harus dipertahankan, indikator-indikator yang berkinerja sangat buruk sehingga harus menjadi prioritas utama perbaikan, indikator-indikator yang berkinerja buruk sehingga menjadi prioritas rendah perbaikan, dan indikator-indikator yang dibiarkan untuk terus dilaksanakan. Persepsi terhadap pemberdayaan digambarkan dalam persentase kategori persepsi. Hasil diagram kartesius analisis supply-demand menunjukkan bahwa secara umum implementasi kebijakan dan program CSR perusahaan tergolong baik. Hal ini ditunjukkan oleh hanya enam indikator saja yang tergolong dalam prioritas utama untuk ditingkatkan, dari 33 indikator yang diteliti. Indikator yang harus menjadi perhatian utama perusahaan adalah kurang tersebarnya informasi terkait pelaksanaan implementasi CSR perusahaan. Pada tingkat persepsi terhadap pemberdayaan, perusahaan juga tergolong cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan lebih besarnya persepsi positif masyarakat. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) secara umum, kinerja implementasi kebijakan CSR yang dilakukan oleh perusahaan sudah tergolong baik, artinya banyak aspek dan indikator dalam parameter implementasi CSR yang perlu dipertahankan dan hanya ada beberapa aspek dan indikator yang perlu menjadi prioritas utama untuk ditingkatkan terkait transparansi, pelaksanaan CSR di bidang lingkungan, dan pemberdayaan, (2) persepsi masyarakat terhadap tingkat pemberdayaan cenderung positif, (3) kegiatan implementasi CSR yang dilaksanakan perusahaan lebih dalam bentuk charity dibandingkan pemberdayaan yang bersifat berkelanjutan, dan (4) transparansi dan keterbukaan informasi yang lebih luas dan intens menjadi poin penting untuk menjangkau sasaran pemberian CSR yang lebih baik dan luas. Penelitian ini merupakan langkah awal pengetahuan akan pentingnya pengoptimalan implementasi kebijakan dan program CSR.The implementation of CSR is a corporate social responsibility obligation to the surrounding environment that is carried out according to propriety and fairness. Riau Province is the province with the largest oil palm plantation area and the third province with the most palm oil companies in Indonesia, hence the implementation of CSR policies is one of the most widely carried out by oil palm companies in Riau Province. However, the implementation of empowerment-based CSR is not given enough attention, indicated by the low empowerment activities performed by the oil palm companies. Therefore, a research is required related to the implementation of CSR by oil palm companies in Riau Province. This study aims to analyze the oil palm plantation company’s performance on the implementation of CSR policies and programs in Riau Province. This research was conducted in PTPN V, an oil palm state-owned company, specifically in four samples of plantation estate based on purposive sampling, 3 estates in Kampar District and one estate in Rokan Hilir Regency. Respondents were selected using purposive sampling in accordance to the location where the CSR programs were implemented. Data analysis was performed using the supply-demand analysis method, which compared the perceptions of the company and the local community. The compilation component of the questionnaire to assess perceptions consisted of the elaboration of statements taken from the Government Regulation No. 47 of 2012 as a derivative of Act No. 40 of 2007 related to the implementation of CSR and other components sourced from several literatures that explained the implementation of proper CSR. In addition, questionnaires were also applied to gather information on people's perceptions of the empowerment programs implemented by the company. Perceptions data were processed using SPSS to obtain a supply-demand analysis diagram to provide insights into the performance improvement strategies that can be carried out by the company. Among these,include, indicators that performed well, thus must be maintained; indicators that performed very poorly, which indicated the main priorities for improvement; indicators that performed poorly. indicating low priorities for improvement; and indicators that were left to continue to be implemented. Perceptions on empowerment were described in the percentage of perception categories. The results of the cartesius diagram of supply-demand analysis showed that in general, the implementation of the CSR policies and programs was categorized as good. This was indicated by six indicators classified as top priorities for improvement out of the 33 indicators studied. The indicator which should be the company's main concern is the lack of information dissemination related to the implementation of the company's CSR. Related to the perception of empowerment, the categorization is also as indicated by the greater positive community’s perceptions. This research concluded that (1) the performance of CSR policy implementation carried out by the company was classified as good, suggesting only a few aspects and indicators that should be the main priority to be improved related to transparency, CSR implementation in the environmental sector, and empowerment, (2) community perception on empowerment was classified as good, implying positive perceptions, (3) CSR implementation activities carried out by the company are more classified in the form of charity rather than empowerment (more sustainable), and (4) better transparency and openness and more intense information were important points for reaching better and broader targets for CSR. This research is the first step in justifying the importance of optimizing the implementation of CSR policies and programs.Pribad

    Keterkaitan Produktivitas Primer dengan Bahan Organik di Tambak Udang Intensif

    No full text
    Kondisi kualitas air yang perlu menjadi perhatian di ekosistem tambak adalah peningkatan bahan organik. Bahan organik tersebut akan mengalami dekomposisi oleh bakteri dan hasilnya yang berupa nutrien akan dimanfaatkan oleh fitoplankton melalui proses produksi primer. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara produktivitas primer dengan bahan organik di tambak udang intensif. Penelitian dilakukan pada bulan September hingga Desember 2018. Parameter suhu, kecerahan, salinitas, pH, oksigen terlarut, produktivitas primer diamati secara in situ. Parameter bahan organik, nutrien (nitrit, nitrat, amonia, ortofosfat), rasio C/N dianalisis di laboratorium. Analisis keterkaitan produktivitas primer dengan bahan organik dilakukan menggunakan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan semua parameter masih berada pada kisaran yang aman untuk kegiatan budidaya udang vaname sistem intensif. Produktivitas primer menunjukkan korelasi negatif dengan bahan organik, sedangkan produktivitas primer berkorelasi positif dengan nutrien. Produktivitas primer lebih menunjukkan kedekatan dengan nutrien daripada bahan organik.Water quality conditions that need attention in the pond ecosystem are the increasing of organic matter. The organic matter will be decomposed by bacteria and the results will be utilized by phytoplankton through a primary productivity process. This study aims to analyze the relationship between primary productivity and organic matter in intensive shrimp ponds. The study was conducted from September to December 2018. Temperature, brightness, salinity, pH, dissolved oxygen, primary productivity were observed in situ. While organic matter, nutrients (nitrite, nitrate, ammonia, orthophosphate), and C/N ratio were analyzed in the laboratory. Analysis of the relationship between primary productivity and organic matter was carried out using Pearson correlation. The results showed that all parameters were still in a safe range for the intensive system of vaname shrimp cultivation. Primary productivity shows negative correlation to organic matter, while primary productivity has positive correlation to nutrients. Primary productivity shows more proximity to nutrients than organic matter

    Penyelesaian Cutting Stock Problem Satu Dimensi pada Pemotongan Balok Kayu Menggunakan Column Generation Technique

    No full text
    Cutting Stock Problem (CSP) satu dimensi adalah suatu permasalahan pemotongan benda yang pola pemotongannya hanya berdasarkan satu dimensi saja. Pemotongan yang dilakukan bertujuan meminimumkan sisa pemotongan yang dihasilkan. Penelitian ini akan meneliti masalah pemotongan balok kayu di UD Sinar Jaya Abadi Depok dengan tujuan mendapatkan kombinasi pola pemotongan optimal yang meminimumkan sisa hasil pemotongan balok kayu. Pada penelitian ini, digunakan column generation technique (CGT) dengan bantuan algoritma pattern generation. Pada tahap pertama, algoritma pattern generation digunakan untuk menentukan seluruh pola pemotongan yang layak. Selanjutnya CGT digunakan untuk mencari kombinasi pola pemotongan. Hasil yang diperoleh untuk meminimumkan sisa pemotongan balok kayu di UD Sinar Jaya Abadi Depok dapat dilakukan dengan memotong 2,5 meter panjang balok kayu sebanyak 190 batang dengan kombinasi pola pemotongan yang optimal yaitu kombinasi pola 1 sebanyak 50 batang, pola 6 sebanyak 20 batang, pola 12 sebanyak 80 batang, pola 26 sebanyak 30 batang, dan pola 38 sebanyak 10 batang.One-dimensional cutting stock problem (CSP) is a cutting problem whose cutting pattern is based only on one dimension. This cutting aims to minimize the trim loss from the cuts. This study will examine the problem of timber cutting at UD Sinar Jaya Abadi Depok to obtain the optimal combination of cutting patterns that minimize the remaining results of timber cutting. In this research column generation technique is used with pattern generation algorithm help. In the first stage, the pattern generation algorithm is used to determine all the feasible cutting patterns. Next, CGT is used to find a combination of cutting patterns that can minimize trim loss. The result obtained to minimized the trim loss of timber cutting at UD Sinar Jaya Abadi Depok has done by cutting a 2,5 meters timber of 190 sticks with the optimal combination of cutting patterns, namely a combination of pattern 1 as many as 50 sticks, pattern 6 as many as 20 sticks, pattern 12 as many as 80 sticks, pattern 26 as many as 30 sticks, and pattern 38 as many as 10 stickies

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇