31665 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pakan Konsentrat Lakto Terhadap Kualitas Semen Kambing Peranakan Etawa dan Frekuensi Ejakulasi Terhadap Kualitas Semen Domba Lokal
Beternak kambing dan domba perlu didukung oleh penyediaan pakan yang baik agar dapat menghasilkan semen yang berkualitas. Pakan merupakan faktor yang dapat memengaruhi proses pembentukan sperma dalam proses spermatogenesis. Penelitian ini bertujuan membandingkan pengaruh pemberian konsentrat lakto terhadap kualitas semen kambing dan menganalisis pengaruh frekuensi ejakulasi terhadap kualitas semen domba. Penelitian ini terdiri atas dua bagian, yaitu pertama pengaruh konsentrat lakto terhadap kualitas semen kambing PE dengan menggunakan 5 ekor kambing (PE) dengan 5 ulangan dengan perlakuan 100% rumput (P0) dan 40% konsentrat+60% rumput (P1). Kedua melihat pengaruh frekuensi ejakulasi tehadap kualitas semen domba lokal dengan menggunakan 4 domba lokal dengan 5 perlakuan 3 ulangan. Parameter yang diamati adalah kualitas makroskopis (volume, pH, konsistensi, dan warna) serta mikroskopis (gerakan massa, motilitas, viabilitas, konsentrasi, morfologi sperma normal dan membran plasma utuh sperma). Analisis data semen kambing menggunakan Uji T dan analisis data semen domba menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan program SPSS versi 20. Hasil analisis menunjukkan pemberian konsentrat lakto meningkatkan konsistensi semen, motilitas sperma dan keutuhan membran plasma (P<0.05). Tidak terdapat perbedaan dalam parameter lainnya termasuk potensi untuk mengawini dengan inseminasi buatan (IB). Frekuensi ejakulasi pada domba menunjukkan warna dan konsistensi pada ejakulat pertama yang lebih krem dan kental dibandingkan dengan ejakulat 4 dan 5. Gerakan massa, konsentrasi sperma per mL, konsentrasi sperma total pada ejakulat 1 dan 2 lebih tinggi daripada ejakulat 5. Potensi IB pada ejakulat 1 dan 2 lebih tinggi daripada ejakulat 5. Penelitian menyimpulkan bahwa konsentrat lakto dapat memperbaiki konsitensi semen, motilitas dan keutuhan membran plasma sperma kambing. Frekuensi ejakulasi memengaruhi gerakan massa, konsentrasi sperma dan potensi IB pada domba lokal
Model Pengelolaan Terpadu Ekowisata Bahari di Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat
Kajian tentang model pengelolaan terpadu ekowisata bahari di kawasan
konservasi perairan Raja Ampat dilakukan melalui pemetaan potensi jasa
ekosistem berbasis sumberdaya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil, penentuan
daya dukung kawasan berbasis kesesuaian kawasan dan faktor pembatas
lingkungan serta perlindungan terhadap sumberdaya pesisir, laut dan pulau-pulau
kecil. Penelitian disertasi ini dilakukan dengan menghimpun data maupun
informasi ilmiah dari berbagai sumber dan studi komprehensif dari berbagai
kajian di lapangan dengan menggunakan metode penelitian eksploratif, deskriptif,
dan komparatif. Pengambilan data dilakukan pada bulan November 2016 sampai
dengan November 2017. Pengambilan data penelitian dengan menggunakan
metode LIT (Line Intercept Transect), UVC (Underwater Visual Census), dan
dengan menggunakan metode transek kuadran (Quadrant Transect). Pengambilan
data sosial ekonomi dilakukan melalui wawancara langsung dengan wisatawan
maupun masyarakat lokal. Data sekunder diperoleh melalui kompilasi data dari
berbagai sumber informasi ilmiah, yaitu jurnal, laporan penelitian, dan sumber
lainnya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif,
kesesuaian, daya dukung kawasan, SIG (Sistem Informasi Geografis),
kelembagaan, dan analisis keberlanjutan.
Hasil penelitian menunjukkan kondisi terumbu karang di perairan Selat
Dampier termasuk dalam kategori baik dengan rata-rata nilai tutupan karang keras
sebesar 64.24%. Jenis karang keras yang telah diidentifikasi sebanyak 141 jenis
dan termasuk dalam 16 famili. Jumlah jenis ikan karang yang ditemukan sebanyak
232 jenis (37 308 individu) dengan komposisi 27 jenis (557 individu) ikan
indikator, 95 jenis (13 578 individu) ikan target, dan 110 jenis (23 173 individu)
ikan major. Tumbuhan mangrove sejati ditemukan sebanyak 9 jenis dan termasuk
dalam 6 famili, sedangkan mangrove asosiasi berjumlah 12 jenis yang termasuk
dalam 11 famili. Ekosistem padang lamun dengan karakteristik habitat pasir putih
halus merupakan feeding ground bagi satwa dugong. Jenis lamun yang ditemukan
sebanyak 4 (empat) jenis termasuk kategori kepadatan sedang dan berada dalam
kondisi ekosistem padang lamun yang kurang sehat (47.68%).
Arah angin dominan di sekitar Raja Ampat adalah menuju Timur Laut dan
sangat dipengaruhi oleh pola angin Muson. Gelombang terjadi selama 19-116
hari/tahun dan skala 6 Beaufort terjadi selama 1-17 hari/tahun. Hasil peramalan
gelombang menunjukkan tinggi gelombang signifikan dan bervariasi antara 0.001-
2.19 m/s. Curah hujan tahunan berkisar antara 1 432-3 819 mm/tahun. Suhu
Permukaan Laut (SPL) rata-rata di perairan Raja Ampat adalah 29.0 oC dengan
kisaran sebesar 19.3-36.0 oC. Pada perairan Selat Dampier terjadi fenomena
upwelling, sehingga memungkinkan pasokan nutrien bagi perairan dan sangat
dibutuhkan untuk pertumbuhan serta perkembangan biota laut.
Hasil analisis kesesuaian kawasan menunjukkan potensi luas area yang dapat
digunakan untuk ekowisata selam adalah 4 631 896.14 m2. Luas total kategori S1
adalah 1 654 846.12 m2 sedangkan kategori S2 adalah 2 997 050.02 m2. Potensi
v
luas area yang dapat digunakan untuk ekowisata snorkeling adalah 1 592 400 m2.
Luas total kategori S1 adalah 306 800 m2, kategori S2 adalah 648 500 m2
sedangkan kategori S3 adalah 637 100 m2. Potensi luas kawasan hutan mengrove
yang dapat dimanfaatkan untuk ekowisata mangrove adalah 1 352 200 m2,
sedangkan potensi luas kawasan ekosistem lamun yang dapat dimanfaatkan untuk
ekowisata padang lamun adalah 138 100 m2. Potensi daya dukung kawasan untuk
ekowisata selam adalah 9 067 penyelam/hari dan 335 484 penyelam/tahun. Daya
dukung kawasan untuk ekowisata snorkeling adalah 3 104 orang/hari, dan 114
840 orang/tahun. Potensi daya dukung kawasan untuk ekowisata mangrove adalah
1 067 orang/hari, dan 49 346 orang/tahun. Daya dukung kawasan untuk ekowisata
lamun adalah 554 orang/hari dan 24 518 orang/tahun.
Luas area pemanfaatan yang direkomendasikan untuk ekowisata bahari,
dengan mempertimbangkan preservasi ekosistem dan jalur migrasi satwa adalah
ekowisata selam 1 686 919.28 m2, ekowisata snorkeling 1 120 962.61 m2,
ekowisata mangrove 542 232.20 m2 dan ekowisata lamun 103 575.00 m2.
Pengaturan pemanfaatan kawasan area maksimum, DDK adalah 6 464 wisatawan/
hari dan 410 480 wisatawan/tahun. Alokasi kunjungan wisatawan dapat diatur
berdasarkan kapasitas daya dukung ekologis kawasan (50:50) untuk kategori
wisatawan internasional dan wisatawan domestik dengan biaya masuk kawasan
konservasi sebesar Rp1 000 000/orang (wisatawan mancanegara) dan Rp500 000/
orang (wisatawan domestik). Jumlah PAD yang dapat diterima dari sektor
pariwisata (penerimaan KJL) berdasarkan sistem kuota (50:50) adalah Rp4 848
000 000/hari dan Rp307 860 000 000/tahun. Pengaturan pemanfaatan area 25 %
maka DDK 25% area adalah 1 335 wisatawan/hari dan 102 665 wisatawan/tahun.
Prediksi jumlah PAD yang dapat diterima adalah Rp1 102 250 000/hari dan
Rp76 998 750 000/tahun. Pengaturan pemanfaatan area 50 % maka DDK 50% area
adalah 2 671 wisatawan/hari dan 181 795 wisatawan/tahun. Prediksi jumlah PAD
yang dapat diterima adalah Rp2 003 250 000/hari dan Rp136 346 250 000/tahun.
Pengaturan pemanfaatan kawasan yang direkomendasikan untuk ekowisata
bahari berbasis ekosistem dengan mempertimbangkan ODTE, aksesibilitas
dan keterjangkauan kawasan yaitu : Pengelolaan wilayah I : P. Gam, P. Manswar
dan P. Waigeo bagian selatan maka DDK adalah 3 310 wisatawan/hari
dan 226 383 wisatawan/tahun. Jumlah PAD yang dapat diterima dari sektor
pariwisata adalah Rp2 482 500 000/hari dan Rp199 787 250 000/tahun.
Pengelolaan wilayah II : P. Batanta (bagian utara dan selatan) maka DDK adalah
788 wisatawan/hari dan 56 250 wisatawan/tahun. Prediksi jumlah PAD yang
dapat diterima dari sektor pariwisata adalah Rp591 000 000/hari dan
Rp42 390 000 000/tahun. Kunjungan wisatawan ke kawasan konservasi perairan
Raja Ampat masih belum melewati kapasitas daya dukung ekologis kawasan.
Berdasarkan hasil perhitungan analisis potensi daya dukung kawasan berbasis
ekosistem, maka kapasitas jumlah wisatawan kategori ekowisata selam,
snorkeling, mangrove, dan lamun adalah 524 188 orang/tahun.
Strategi efektivitas pengelolaan ekowisata bahari di kawasan konservasi
perairan Raja Ampat dapat dilakukan dengan cara mengatur distribusi wisatawan
ke beberapa destinasi ekowisata bahari (ODTE), berdasarkan kapasitas daya
dukung ekologis kawasan. Pengaturan kunjungan wisatawan dapat dilakukan
secara periodik berdasarkan kondisi cuaca dan hidro-oseanografi. Pada musim
timur (Juni, Juli dan Agustus) dan pada musim barat (Desember, Januari, dan
vi
Februari) merupakan kondisi cuaca yang ekstrim sehingga kunjungan wisatawan
diarahkan untuk tidak melakukan aktivitas wisata di perairan Selat Dampier. Pada
musim barat dan musim timur, diperkirakan terjadi fenomena upwelling yang
memungkinkan pasokan nutrien bagi perairan dan sangat dibutuhkan untuk
pertumbuhan dan perkembangan biota laut. Berdasarkan hal tersebut perlu
dilakukan penutupan kawasan untuk sementara sehingga memberikan kesempatan
kepada biota laut untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangan yang
maksimal dan memulihkan kondisi ekosistem secara alami. Efektivitas
pemanfaatan ekowisata bahari berbasis daya dukung dapat dilakukan dengan
membangun sistem informasi terpadu dengan technology website dan mobile data
yang dapat diakses oleh wisatawan, pengelola jasa wisata, operator wisata, dan
pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya
Uji Analgesik dan Stamina pada Mencit Jantan yang Diberi Infusa Daun Kemangi (Ocimumbasilicum)
Daun kemangi merupakan salah satu tanaman obat yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, karena mengandung berbagai macam senyawa yang berkhasiat bagi kesehatan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengkaji efek analgesik dan peningkatan stamina oleh infusa daun kemangi berbagai dosis. Efek analgesik diketahui dengan metode hot water immersion tail-flick test sedangkan efek peningkatan stamina diketahui dengan metode swimming endurance. Penelitian ini menggunakan 20 ekor mencit jantan galur Deutschland Denken Yoken yang dikelompokkan menjadi 4 kelompok perlakuan, yaitu mencit kontrol dan mencit perlakuan yang diberi infusa daun kemangi dosis 1, 2, dan 4 g/kg BB. Setiap kelompok terdiri atas 5 ekor mencit. Pemberian infusa dilakukan secara per oral sebanyak 3 kali pengulangan dengan selang waktu satu hari. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infusa daun kemangi pada mencit jantan mampu memberikan efek analgesik pada dosis 1 g/kg BB dan meningkatkan stamina pada dosis 2 g/kg BB. Kesimpulan dari penelitian ini ialah infusa daun kemangi memiliki efek analgesik dan meningkatkan stamina
Mikroplastik Pada Kolom Air di Sungai Cimandiri, Sukabumi, Jawa Barat.
Sungai Cimandiri merupakan salah satu sungai yang bermuara ke Teluk Palabuhanratu. Adanya aktivitas masyarakat di sepanjang aliran sungai dapat menyebabkan Sungai Cimandiri mengalami pencemaran sampah khususnya tipe plastik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mengkuantifikasi mikroplastik pada kolom air di Sungai Cimandiri ruas Cikundul dan muara Sungai Cimandiri Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pengambilan contoh dilakukan pada bulan September hingga Desember 2018. Pengambilan contoh dilakukan menggunakan plankton net. Kelimpahan mikroplastik berkisar 60-782 partikel/m3. Kelimpahan mikropastik tertinggi di dua stasiun terdapat pada bulan September dan Oktober. Film merupakan tipe mikroplastik yang paling banyak ditemukan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan rata-rata mikroplastik lebih tinggi terdapat di daerah muara
Sebaran Kualitas Air Laut Di Sekitar Tempat Bongkar Batubara (Ship Unloader) PLTU 3 Banten Lontar
Berdirinya pembangkit listrik tenaga uap yang merupakan program pemerintah untuk menghasilkan listrik 10,000 MW menyebabkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan berupa limbah. Menurunnya kualitas air laut di sekitar PLTU mengakibatkan air laut tersebut tidak dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya secara normal baik untuk kehidupan manusia maupun biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter seperti pH, total suspended solid (TSS), suhu, kandungan besi, salinitas dan dissolved oxygen (DO), menentukan indeks kualitas air laut dan status mutu air sesuai standar yang berlaku serta pembuatan peta sebaran. Hasil pengukuran pada perairan sekitar tempat bongkar batubara PLTU 3 Banten Lontar menunjukkan suhu berkisar antara 29.3 – 32.7 oC, salinitas berkisar antara 32.55 – 32.9 ‰, pH berkisar antara 7.57 – 8.05, DO berkisar antara 2.55 – 4.2 mg/l, TSS berkisar antara 25 – 134 mg/l dan Fe berkisar antara 0.07 – 0.63 mg/l. Dari 16 titik yang dilakukan pengambilan sampel hanya terdapat 3 titik yang memiliki nilai IP > 1 dengan status tercemar ringan yaitu titik L0, L12 dan L13. Peta sebaran yang dihasilkan berupa peta sebaran pH, suhu, salinitas, kandungan besi, TSS, dan DO serta menyajikan sebaran pencemar di sekitar PLTU 3 Banten Lontar
Emotional Sensory Mapping Kopi Susu Kekinian Di PT Mane Indonesia
Konsumsi kopi didorong oleh motivasi yang berbeda seperti kenikmatan sensorik yang diberikan oleh rasa kopi dan stimulasi psikofisik yang disebabkan oleh kafein. Dewasa ini, banyak bermunculan coffee shop yang menjual produk kopi susu yang disajikan dengan es dalam kemasan siap minum dengan harga yang relatif terjangkau bagi semua kalangan masyarakat. Kopi Kekinian adalah signature/speciality coffee yang dicampur dengan susu segar serta bahan lainnya seperti gula aren atau gula kelapa, lalu disajikan secara dingin dengan es batu. Mengkonsumsi makanan atau minuman tertentu ternyata dapat menghasilkan emosi, baik positif maupun negatif. Emosi khas yang terkait dengan suatu produk menjadi semakin penting untuk keunggulan diferensial, terutama ketika produk dalam kategori yang sama berhubungan dengan kualitas, harga, dan daya jual produk tersebut. Beberapa metode sudah ditemukan untuk mengukur emosi positif yang berkaitan dengan makanan atau minuman, seperti check all that apply (CATA) dan rating scales. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi mengenai emotional sensory mapping dari sampel kopi susu kekinian sehingga menghasilkan profil emosi dari sampel tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 tahapan, yaitu focus group discussion (FGD), pengujian emotional sensory mapping dengan metode CATA dan korelasi brand dengan produk, dan analisis dengan perangkat lunak XLSTAT. Enam jenis es kopi susu yang menjadi sampel antara lain Si Eko Warunk Upnormal, Kopi Lain Hati, Kopi Janji Jiwa, Kopi Kenangan, Kopi Soe dan Kopi Kulo. Produk yang paling disukai menurut panelis adalah Kopi Kenangan dengan atribut sensori milky, caramel, dan sweet, atribut emosi fun, energetic, dan comfortable, atribut needstate energy, fun, dan refreshment, atribut musik pop, jazz dan happy, atribut tekstur velvet, wool, dan wood, serta atribut warna orange
Kinerja Pengeringan Tumpukan Gabah Secara Intermittent dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Beras
Pengeringan gabah secara mekanik di Indonesia umumnya menggunakan alat
pengering tipe bak. Alat pengering tipe ini memiliki kendala seperti suhu pengeringan
yang tinggi (≥ 55 ºC). Pengeringan suhu tinggi secara terus menerus dapat meningkatkan
persentase beras patah. Hal ini disebabkan oleh tekanan dipermukaan dan didalam butir
gabah berbeda. Kendala tersebut dapat diatasi dengan kombinasi metode pengeringan
secara intermittent.
Tujuan penelitian ini untuk mengkaji suhu dan durasi pengeringan dengan
tempering pada alat pengering tipe bed dryer menggunakan suhu tinggi secara
intermittent, serta pengaruhnya terhadap kualitas gabah Varietas Ciherang. Metode
penelitian ini terdiri atas perlakuan pengeringan tanpa tempering (TT) menggunakan suhu
35°C (tanpa pengadukan), 60°C (pengadukan setiap 20 menit) dan 80°C (pengadukan
setiap 10 menit) sampai kadar air rata-rata 14%. Perlakuan pengadukan dilakukan untuk
menyeragamkan kadar air disetiap lapisannya. Metode pada pengeringan I-IV
menggunakan tempering (DT). Pengeringan DTI terdiri pengeringan awal suhu 80°C
selama 20 menit (T1), setelah dikeringkan dilanjutkan tempering awal (Tp1) selama 90
menit tetapi sebelum tempering dilakukan pengadukan. Setelah tempering I dilanjutkan
pengeringan kedua suhu 35°C (T2) sampai kadar air rata-rata 14% dan dilanjutkan
tempering kedua (Tp2) selama 90 menit. Pengeringan DTII yaitu T1-Tp1-pengeringan suhu
60°C (T3) sampai kadar air rata-rata 14%, tetapi setelah pengeringan II dilakukan
perlakuan tanpa tempering (Tp3). Pengeringan DTIII terdiri T3-Tp1-T3-Tp2 dan
pengeringan DTIV yaitu T3-Tp1-T2-Tp3. Parameter yang diamati pada pengeringan
intermittent adalah kadar air, suhu plenum, suhu disetiap lapisan gabah, suhu bola basah
dan kering lingkungan, keretakan beras serta beras kepala.
Hasil penelitian semua perlakuan pengeringan menghasilkan konsumsi energi
spesifik berkisar antara 4105-7638 kJ kg-1 air dengan laju pengeringan berkisar 0.021-
0.219 % b.k menit-1. Pengeringan DTI sebesar 7604 kJ kg-1 air selama 60 menit,
persentase keretakan beras yang dihasilkan yaitu 40% dan beras kepala 66.76%
sedangkan konsumsi energi spesifik pengeringan DTII sebesar 5849 kJ kg-1 air dengan
durasi pengeringan selama 100 menit, persentase keretakan beras yang dihasilkan yaitu
29% dan beras kepala 70.25%. Pengeringan DTIII menghasilkan konsumsi energi
spesifik paling tinggi yaitu 7638 kJ kg-1 air selama 70 menit dengan persentase keretakan
beras yang dihasilkan yaitu 22% dan beras kepala sebesar 74.46%. Pengeringan DTIV
menghasilkan konsumsi energi spesifik sebesar 7201 kJ kg-1 air dengan persentase
keretakan beras yang dihasilkan yaitu 10% dan beras kepala paling tinggi yaitu 81.41%
selama 160 menit. Metode pengeringan gabah secara intermittent adalah pengeringan
DTIV. Pengeringan tersebut terdiri dari pengeringan I suhu 60°C selama 30 menit,
tempering I 90 menit dan dilanjutkan pengeringan akhir dengan suhu 35°C sampai k.a
14% tanpa tempering II yang menghasilkan persentase keretakan beras rendah dan beras
kepala yang tinggi dibandingkan semua perlakuan dengan tempering
Pengendalian Penangkapan Ikan Baronang untuk Mengoptimumkan Peran Lamun sebagai Blue Carbon Sink
Ancaman penurunan luasan dan kelimpahan lamun dipengaruhi oleh faktor
aktivitas manusia dan faktor alami, salah satu diantaranya adalah grazing oleh
herbivora. Ikan baronang atau Siganidae merupakan salah satu herbivora yang
memanfaatkan lamun sebagai makanannya. Mempertimbangkan pengaruh ikan
baronang terhadap kelimpahan lamun, keberlanjutan perikanan baronang dan
ekosistem lamun, maka peneliti melakukan kajian dinamika keseimbangan
ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi status ekosistem lamun di
lokasi studi, serta mengestimasi laju grazing oleh ikan baronang terhadap lamun.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menghasilkan konsep pengendalian
penangkapan ikan baronang untuk mengoptimumkan peran lamun sebagai blue
carbon sink. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan di lapang dengan
metode seagrass watch dan pengamatan di laboratorium berupa pengamatan
kandungan C-organik pada lamun dan kandungan lamun dalam lambung ikan
baronang. Kelimpahan lamun di Pulau Pramuka adalah 137 ind/m2 (stasiun A) dan
362 ind/m2 (stasiun B), dengan biomassa berturut-turut adalah 77,08 gbk/m2 dan
63,67 gbk/m2. Kelimpahan ikan baronang di Pulau Pramuka adalah 0,189 ind/m2.
Laju grazing ikan baronang terhadap lamun sekitar 0,20 gbk/ind/hari untuk ikan
muda (juvenil) dan 0,51 gbk/ind/hari untuk ikan dewasa. Penangkapan ikan
baronang di padang lamun Pulau Pramuka tidak mengancam peran lamun sebagai
blue carbon sink karena kelimpahan ikan di alam belum melebihi batas optimum
kelimpahannya. Keberlanjutan perikanan baronang dan ekosistem lamun dicapai
jika jumlah ikan baronang alam dibatasi sampai nilai optimumnya kelimpahan ikan,
yakni kisaran nilai maksimal kelimpahan ikan adalah 1 – 3 ind/m2 di stasiun A dan
stasiun B adalah 3 – 8 ind/m2. Jika mempertimbangkan pergerakan atau mobilitas
ikan baronang antar stasiun, maka kisaran nilai maksimumnya di Pulau Pramuka
sekita 4 – 11 ind/m2. Intensitas penangkapan ikan baronang di Pulau Pramuka
dikendalikan berdasarkan nilai-nilai kelimpahan tersebut untuk mempertahankan
fungsi padang lamun dalam proses blue carbon sink di lokasi ini
Clustering Data Polutan Kabut Asap Hasil Pemodelan WRFChem di Riau tahun 2015 Menggunakan Algoritme ST-GRID
Bencana asap akibat kebakaran lahan gambut yang terjadi di Riau pada tahun
2015 telah menyebabkan 25 834 orang menderita infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA) dan status daerah Riau tanggap darurat. Kondisi tanggap darurat merupakan
kondisi diperlukan serangkaian kegiatan dengan segera pada saat bencana untuk
menangani dampak buruk yang ditimbulkan. Besarnya dampak yang disebabkan
oleh kebakaran hutan tidak dapat diperkirakan karena terbatasnya informasi
prediksi persebaran polutan dari kebakaran hutan. Dalam penelitian ini, pemodelan
persebaran polutan kabut asap menggunakan WRF-Chem. Persebaran polutan
kabut asap dikelompokkan menggunakan algoritme clustering ST-GRID. Hasil
clustering divisualisasikan ke dalam bentuk peta dilakukan menggunakan
QuantumGIS dan divalidasi dengan perhitungan nilai silhouette index. Analisis
hasil clustering didapat nilai silhouette index tertinggi sebesar 0.1512 dan nilai
kerapatan tertinggi sebesar 0.0093. Kandungan polutan CO di Kabupaten Indragiri
Hilir dan Rokan Hulu sebesar 0.0840 ppmv dalam batas wajar bagi kesehatan.
Kandungan polutan CO2 di Kabupaten Indragiri Hilir sebesar 369.9983 ppmv
tergolong tercemar
Pengetahuan, Sikap Keuangan, dan Perencanaan Keuangan Pribadi pada Mahasiswa Tingkat Akhir IPB
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan dan sikap keuangan terhadap perencanaan keuangan pribadi pada mahasiswa tingkat akhir IPB. Penelitian ini menggunakan stratified proportionate random sampling sebagai metode penelitiannya. Data penelitian diperoleh dari pengisian kuesioner secara online yang diisi oleh 375 mahasiswa aktif tingkat akhir angkatan 2015 Institut Pertanian Bogor. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa mahasiswa tingkat akhir IPB memiliki tingkat pengetahuan keuangan dan perencananaan keuangan pribadi yang rendah serta sikap keuangan yang berada pada kategori sedang. Rendahnya perencanaan keuangan pribadi ini ditunjukkan dengan rendahnya skor dari seluruh dimensi perencanaan keuangan pribadi, yaitu pengelolaan uang, perencanaan asuransi, perencanaan investasi, perencanaan properti, dan perencanaan karir. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa pengetahuan keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap sikap keuangan pribadi. Selanjutnya, pengetahuan keuangan dan sikap keuangan memengaruhi secara positif signifikan perencanaan keuangan pribadi pada mahasiswa tingkat akhir IPB