31665 research outputs found
Sort by
Karakteristik Daerah Penangkapan Ikan Tongkol di Perairan Indramayu
Indramayu memiliki kontribusi yang tinggi sebagai pemasok ikan di Jawa Barat, terutama dalam sektor perikanan laut. Penjualan hasil tangkapan ikan di Indramayu banyak dilakukan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Karangsong. Ikan yang dominan didaratkan di PPI Karangsong adalah ikan tongkol yang merupakan salahsatu ikan pelagis. Sumberdaya ikan pelagis di Laut Jawa telah mengalami gejala tangkap lebih (overfishing) sehingga perlu adanya informasi mengenai karakteristik Daerah Penangkapan Ikan (DPI). Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan kondisi perikanan tongkol di PPI Karangsong, mendeskripsikan karakteristik daerah penangkapan ikan tongkol melalui analisis sumber daya ikan tongkol komo (Euthynnus affinis), teknologi penangkapan ikan, dan kondisi lingkungan perairan di Indramayu, serta menentukan tingkat kesesuaian karakteristik tesebut. Metode penelitian berupa survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dan accidental sampling serta menggunakan metode analisis deskriptif dan deskriptif-komparatif. Berdasarkan hasil penelitian, ikan tongkol yang didaratkan di PPI Karangsong pada Januari 2018–Maret 2019 yaitu 34,72% dari seluruh hasil tangkapan. Alat tangkap yang digunakan yaitu gillnet. Analisis hasil tangkapan menunjukkan produktivitas tangkapan ikan tongkol komo tinggi dan hasil tangkapan didominasi ikan layak tangkap. Penggunaan gillnet dalam penangkapan tongkol sesuai dengan karakteristik alat tangkap ramah lingkungan. Kisaran suhu permukaan laut, klorofil-a, arus, dan salinitas berkisar antara 28-30 oC; 0,3-0,59 mg/m3; 0,03-0,2 m/s; dan 32-33 ppt. Tingkat kesesuaian DPI tongkol berdasarkan tiga karakteristik tersebut yaitu 79% dari 14 kriteria
Depolimerisasi Karagenan Hasil Hidrolisis Kapang RS6A Menggunakan Iradiasi Gamm
Kappa karagenan adalah galaktosa-sulfat dengan rantai linear yang
dihubungkan oleh ikatan (3,6)-anhidro-D-galaktosa yang diekstrak dari rumput laut
Kappaphycus alvarezii. Kapang RS6A dimanfaatkan dalam proses hidrolisis
rumput laut K. alvarezii sebagai penghasil enzim selulase untuk mengekstrak
karagenan. Penelitian bertujuan menentukan dosis iradiasi gamma yang optimal
pada depolimerisasi oligokaragenan. Depolimerisasi dilakukan untuk menurunkan
berat molekul karagenan, dosis iradiasi gamma yang digunakan adalah 2, 4, 6, 8
dan 10 kGy. Iradiasi gamma mampu menurunkan viskositas oligokaragenan dari
semula 3.08 cP menjadi 2.47-1.87 cP yang dibuktikan dengan penurunan berat
molekul dari semula 56.70 kDa menjadi 48.21-38.95 kDa seiring meningkatnya
dosis iradiasi gamma. Oligkaragenan K5 dengan berat molekul 38.95 kDa
menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap bakteri Escherichia coli
dengan nilai persentase reduksi bakteri 93.50%
Aplikasi Model Breathing Earth System Simulator (BESS) untuk Estimasi Gross Primary Production (GPP) dan Evapotranspirasi Pertanaman Kelapa Sawit (Studi Kasus : PT. Perkebunan Nusantara VI Batanghari, Jambi).
Tanaman kelapa sawit berpotensi sebagai penyerap CO2 karena berkaitan dengan produksi biomassa tanaman yang tinggi dan ekspansi area perkebunan yang dinamis. Gross Primary Production (GPP) merupakan proses fotosintesis pada tanaman yang memberikan kontribusi terhadap cadangan karbon yang tersimpan dalam tanaman. Evapotranspirasi (ET), yang berkaitan erat dengan proses GPP, sebagai salah satu komponen neraca air dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui kebutuhan air kelapa sawit, hal tersebut erat kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air, sumber daya lahan, dan penanaman atau pertanian secara umum. Penerapan estimasi GPP dan evapotranspirasi menggunakan komponen penginderaan jauh dirasa dapat lebih baik tentunya untuk skala area yang luas, sehingga diaplikasikan model Breathing Earth System Simulator (BESS) untuk mengestimasi GPP dan evapotranspirasi di wilayah kajian penelitian, tower fluks perkebunan kelapa sawit PTPN VI, Batanghari, Jambi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi nilai GPP dan evapotranspirasi pertanaman kelapa sawit menggunakan model BESS, mengidentifikasi berbagai pola dan karakteristik GPP dan ET pada periode basah dan periode kering, serta mengidentifikasi hubungan GPP dengan produktivitas tanaman kelapa sawit. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah hubungan yang signifikan terjadi antara ET dan GPP yang disimulasikan dari Model BESS dengan hasil pengukuran dari Eddy Correlation System, dengan p-value = 0,001 / R2 = 56% (periode basah) dan 0,01 / R2 = 45% ( periode kering) untuk ET, dan 0,005 / R2 = 49% (periode basah) dan 0,03 / R2 = 39% (periode kering) untuk GPP, meskipun output model underestimate terhadap data observasi selama periode kering. Nilai GPP dan ET tinggi selama periode basah, begitupun pada produktivitas kelapa sawit yang juga lebih tinggi selama periode basah. GPP berkontribusi signifikan terhadap produktivitas kelapa sawit, dengan korelasi tinggi (R = 70% dan p-value = 0,001) antara produktivitas dan GPP setiap 3 bulan untuk 2015-2017
Pengaruh Gaya Pengasuhan Ayah, Kelekatan Teman Sebaya, dan Self Esteem terhadap Cyberbullying
Cyberbullying adalah suatu bentuk kejahatan dengan memanfaatkan media elektronik dan internet terhadap orang lain dengan tujuan tertentu. Secara general, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya pengasuhan ayah, kelekatan teman sebaya dan self esteem terhadap perilaku cyberbullying remaja. Penelitian ini menerapkan desain explanatory research dengan metode survey online. Total responden dalam penelitian ini adalah 180 remaja. Hasil uji korelasi menunjukkan gaya pengasuhan authoritative berhubungan positif signifikan dengan self esteem dan berhubungan negatif signifikan dengan cyberbullying. Gaya pengasuhan authoritarian berhubungan positif signifikan dengan cyberbullying remaja. Secure attachment berhubungan negatif signifikan dengan cyberbullying, sedangkan insecure attachment berhubungan negatif signifikan dengan self esteem dan berhubungan positif signifikan dengan cyberbullying. Self esteem memiliki hubungan negatif signifikan dengan cyberbullying. Hasil uji pengaruh menunjukkan bahwa gaya pengasuhan authoritative berpengaruh negatif signifikan terhadap perilaku cyberbullying, sementara gaya pengasuhan authoritarian berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku cyberbullying. Insecure attachment berpengaruh terhadap perilaku cyberbullying
Film Komposit PVA-Kitosan Termodifikasi Selulosa Mikrobial dengan Indikator Ekstrak Ubi Jalar Ungu untuk Deteksi Kesegaran Daging Ayam.
Mutu daging ayam mudah menurun selama penyimpanan. Oleh karena itu, diperlukan suatu kemasan yang dapat langsung mendeteksi kesegarannya. Penelitian ini menghasilkan film komposit polivinil alkohol (PVA)-kitosan termodifikasi selulosa mikrobial dan dilengkapi dengan indikator dari ekstrak ubi jalar ungu untuk mendeteksi kesegaran daging. Selulosa mikrobial dari nata de coco dipreparasi dengan hidrolisis asam dan dicirikan menggunakan penganalisis ukuran partikel. Film PVA-kitosan ditambahkan selulosa mikrobial sebagai penguat dan glutaraldehida sebagai penaut silang. Metode pencampuran ekstrak menghasilkan film indikator dengan intensitas warna yang lebih menarik dibandingkan dengan metode pengolesan ekstrak. Kehomogenan partikel selulosa yang diperoleh ialah 0.385 pada rentang ukuran mikroselulosa. Film komposit PVA-kitosan-selulosa (70:20:10) memiliki nilai permeabilitas uap air terendah sehingga film digunakan sebagai kemasan. Evaluasi kinerja film indikator pada daging ayam menunjukkan terjadinya perubahan warna film seiring dengan menurunnya kesegaran daging
Pengembangan Pasar Produk Kopi Celup dengan Pendekatan Metode Riset Aksi
Riset aksi merupakan suatu metode yang dirancang untuk menjawab
masalah dengan cara menentukan tindakan koreksi yang kemudian ditetapkan dan
diukur efektifitasnya melalui iterasi hingga diperoleh hasil tujuan. Penelitian ini
bertujuan untuk merancang prototipe produk kopi celup dan merancang model
bisnis produk kopi celup. Penggunaan data primer diperoleh melalui wawancara
responden potensial dan konsumen potensial, dengan rentang umur mulai 22-32
tahun berjumlah 57 orang. Data literatur yang digunakan meliputi demografi
penduduk dan data konsumsi kopi Indonesia. Prototipe dan model bisnis terpilih
diperoleh melalui tes solusi beberapa fitur, yaitu penampakan produk, aroma
produk, tingkat kesolutifan terhadap masalah, kemasan produk, lokasi, cara
pemasaran, loyalitas konsumen terhadap produk kopi celup, dan saran untuk
produk. Prototipe Kopi celup dirancang mengunakan roasting profile yang telah
disesuaikan dengan karakternya yang cepat terekstraksi dan tidak membutuhkan
waktu seduh yang lama. Rancangan model bisnis produk kopi celup yang
diperoleh segmen pelanggan generasi milenial, dengan proposisi nilai yaitu
menarik, aroma kopi yang baik, rasa yang premium, dan harga terjangkau.
Penjualan dilakukan melalui online market place, kedai kopi, minimarket, serta
media online
Aktivitas Inhibitor Alfa Glukosidase Aktinobakteri Endofit Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.).
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes
tertinggi didunia. Diabetes mellitus (DM) tipe II memiliki jumlah kasus lebih
tinggi dibandingkan DM tipe I. Selain faktor keturunan, peningkatan jumlah
penderita DM II terjadi karena kondisi obesitas dan gaya hidup yang tidak sehat.
Alternatif pengobatan yang dipilih oleh penderita diabetes adalah mengkonsumsi
obat antidiabetes setelah makan makanan yang mengandung gula. Konsumsi obat
antidiabetes secara terus menerus menimbulkan efek samping merugikan bagi
penderita diabetes.
Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu buah lokal yang
tumbuh di daerah tropis. Beberapa laporan ilmiah menunjukkan bahwa kulit buah
manggis kaya akan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antidiabetes.
Kemampuan ekstrak tanaman untuk menghasilkan senyawa bioaktif dapat terkait
dengan peran mikrob endofit salah satunya aktinobakteri. Aktinobakteri memiliki
kemampuan sebagai penghasil senyawa bioaktif yang dapat menghambat aktivitas
alfa glukosidase. Inhibisi alfa glukosidase menyebabkan hidrolisis karbohidrat
menjadi gula sederhana terjadi secara bertahap, sehingga mencegah terjadinya
kondisi hiperglikemia postprandial pada penderita DM.
Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi eksistensi aktinobakteri endofit
kulit buah manggis yang diduga memiliki kemampuan sebagai penghasil senyawa
inhibitor alfa glukosidase. Aktinobakteri endofit kulit buah manggis diisolasi,
dimurnikan, dikarakterisasi secara morfologi, dan dilakukan penapisan aktivitas
inhibitor alfa glukosidase secara in vitro. Hasilnya sebanyak 13 isolat
aktinobakteri berhasil diisolasi, dimurnikan dan dikarakterisasi secara morfologi.
3 isolat aktinobakteri terpilih sebagai isolat potensial berdasarkan hasil penapisan
yakni AGM 1, AGM 2, dan AGM 7 yang memiliki kemampuan penghambatan
alfa glukosidase berturut-turut sebesar 79.61%, 84.62%, 79.66%. Ketiga isolat
terpilih tidak bersifat patogen berdasarkan uji hipersensitivitas dan hemolisis.
Nilai IC50 ekstrak etil asetat AGM 1 berada pada kisaran konsentrasi (62.5-125
μg/mL), AGM 2 (125-250 μg/mL), AGM 7 (250 μg/mL). Nilai IC50 ekstrak etil
asetat kulit buah manggis berada pada kisaran konsentrasi 125- 250 μg/mL. Hasil
ANOVA dan uji lanjut Tukey menunjukkan aktivitas penghambatan alfa
glukosidase dari ektraks etil asetat aktinobateri endofit terpilih dan kulit buah
manggis secara signifikan berbeda nyata (p<0.1). Identifikasi secara molekuler
berdasarkan gen 16S rRNA menunjukkan bahwa ketiga isolat aktinobakteri
potensial berkerabat dekat dengan Streptomyces xylanilyticus SR2-123 dengan
persentase kemiripan lebih dari 99%. Informasi yang diperoleh dari studi ini
menunjukkan bahwa aktinobakteri endofit kulit buah manggis berpotensi sebagai
penghasil senyawa inhibitor alfa glukosidase
Kajian Pustaka Sifat Mekanik Bioplastik Pati Umbi Gadung sebagai Film Edibel Terkomposit Sabut Kelapa
Film edibel merupakan bioplastik yang digunakan sebagai kemasan produk yang dapat dikonsumsi bersama produk tersebut. Bahan utama dalam pembuatannya adalah pati. Berdasarkan penelitian sebelumnya, sumber pati yang digunakan ini merupakan bahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Oleh karenanya, karya ilmiah ini mengkaji sumber pati dari umbi gadung yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat sebagai bahan pangan. Tujuan dari kajian ini ialah membuat pati dari umbi gadung dan selulosa dari sabut kelapa serta mengkaji sifat mekanik bioplastik pati-selulosa sebagai film edibel melalui kajian pustaka. Untuk memperoleh film edibel yang baik, pati ditambahkan gliserol sebagai pemlastis dan selulosa sabut kelapa sebagai penguat. Berdasarkan kajian pustaka, penambahan selulosa dari sabut kelapa pada bioplastik berbasis pati dapat meningkatkan nilai kuat tarik dan ketahanan terhadap airnya, tetapi menurunkan elastisitasnya
Peningkatan Produktivitas Bioetanol Tanaman Mengkuang dengan Praperlakuan Biologis dan Liquid Hot Water
Faktor penghambat dalam proses konversi bahan berlignoselulosa menjadi
gula yaitu lignin dan kristalin selulosa. Untuk mengkonversi bahan
berlignoselulosa dengan efektif diperlukan tahap praperlakuan dalam produksi
bioetanol sebelum tahap hidrolisis yang bertujuan untuk memodifikasi
karakteristik bahan berlignoselulosa yang cenderung sulit untuk didegradasi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas bioetanol dari tanaman
mengkuang melalui praperlakuan biologis, LHW, dan kombinasi kedua
praperlakuan tersebut terhadap pulp tanaman mengkuang. Tahap pertama
penelitian ini adalah karakterisasi sifat dasar bahan mentah (bagian tanaman
mengkuang) dan pulp hasil proses pulping alkali serta menentukan pulp terbaik
sebagai bahan baku praperlakuan. Tahap penelitian selanjutnya adalah
karakterisasi sifat dasar pulp hasil praperlakuan biologis (pada konsentrasi
inokulum 5% dan10% selama 15, 30, dan 45 hari) dan praperlakuan LHW (pada
suhu 140 oC, 160 oC, dan 180 oC selama 20, 30, dan 40 menit serta menentukan
praperlakuan terbaik. Kondisi praperlakuan terbaik digunakan sebagai
praperlakuan awal dari kombinasi biologis-LHW dan LHW-biologis. Sifat dasar
pulp alkali hasil praperlakuan kombinasi biologis-LHW dan kombinasi LHWbiologis
dianalisis dan ditentukan kondisi praperlakuan kombinasi terbaiknya.
Pulp hasil praperlakuan kombinasi biologis-LHW dan kombinasi LHW-biologis
terbaik dikonversi menjadi etanol dengan proses SSF. Filtrat hasil SSF ditentukan
kadar etanol, rendemen etanol, dan konsentrasi gula pereduksi sisanya. Persentase
peningkatan rendemen etanol ditetapkan berdasarkan nisbah peningkatan
rendemen etanol hasil SSF pulp hasil praperlakuan terhadap rendemen etanol
hasil SSF pulp kontrol (tanpa praperlakuan).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun dan batang mengkuang masingmasing
mengandung �����-selulosa 35.02% dan 40.29%, hemiselulosa 33.12% dan
31.19%, serta lignin 29.10% dan 26.84%. Tanaman mengkuang tergolong
Gramineae (rumput-rumputan) karena komposisi ligninnya terdiri dari siringil,
guaiasil, dan p-hidroksifenil berturut-turut 40.76%, 40.00%, dan 19.24% untuk
daun, dan 41.82%, 39.81%, dan 18.37% untuk batang. Hemiselulosa daun disusun
oleh glukosa sebesar 583.20 μg g-1 dan serta non glukosa (arabinosa, xilosa,
manosa, rhamnosa dan galaktosa) sebesar 1330.15 μg g-1, sedangkan
hemiselulosa batang disusun oleh glukosa sebesar 628.26 μg g-1 dan non glukosa
sebesar 1711.70 μg g-1. Pulp batang hasil pulping alkali 25% digunakan sebagai
bahan baku bioetanol yang telah mengalami praperlakuan biologis dan LHW
karena kadar �����-selulosa batang (88.19%) hampir sama dengan pulp daun
(88.27%), tetapi mengandung lignin terendah (11.90%), kristalinitas dengan nilai
68.38% serta rendemen sebesar 40.50%.
Praperlakuan biologis menghasilkan pulp dengan kadar �����-selulosa,
hemiselulosa, lignin, dan kristalinitas berturut-turut sebesar 72.36-84.11%, 8.56-
14.81%, 7.83-11.51%, dan 42.87-49.26%, sedangkan praperlakuan LHW
menghasilkan pulp dengan kadar �����-selulosa, hemiselulosa, lignin, dan
kristalinitas berturut-turut sebesar 62.40-73.32%, 5.90-9.93%, 7.69-8.99%, dan
30.43-49.29%. Kondisi praperlakuan biologis terbaik adalah perlakuan pada
konsentrasi inokulum 10% selama 30 hari karena menghasilkan pulp dengan �����-
selulosa, hemiselulosa, lignin, dan kristalinitas sebesar 83.24%, 9.11%, 7.83%,
dan 42.87%. Kondisi praperlakuan LHW terbaik adalah perlakuan pada suhu 180
oC selama 30 menit karena menghasilkan pulp dengan �����-selulosa, hemiselulosa,
lignin, dan kristalinitas masing-masing sebesar 76.24%, 5.90%, 7.69%, dan
41.72%.
Kadar �����-selulosa, hemiselulosa, dan lignin pulp hasil praperlakuan
kombinasi biologis-LHW masing-masing sebesar 63.42-78.99%, 8.35-9.99%, dan
6.08-8.09%. Kadar �����-selulosa, hemiselulosa, dan lignin pulp hasil praperlakuan
kombinasi LHW-biologis masing-masing sebesar 62.94-76.85%, 7.81-11.78% dan
7.26-10.61%. Kondisi praperlakuan kombinasi biologis-LHW terbaik adalah
pada suhu 180 oC selama 30 menit karena menghasilkan pulp dengan kadar �����-
selulosa, hemiselulosa, dan lignin berturut-turut sebesar 77.41%, 9.81%, dan
6.45%, sedangkan kondisi praperlakuan kombinasi LHW-biologis terbaik adalah
pada konsentrasi inokulum 10% selama 30 hari karena menghasilkan pulp dengan
kadar �����-selulosa, hemiselulosa, dan lignin berturut-turut sebesar 73.1%, 7.82%,
dan 7.26%.
Proses SSF terhadap pulp batang mengkuang dari praperlakuan kombinasi
biologis-LHW terbaik menghasilkan filtrat dengan kadar etanol (15.50%) dan
konsentrasi gula pereduksi sisa (35.87 g L-1) lebih tinggi dibandingkan dengan
filtrat dari proses SSF terhadap pulp batang hasil praperlakuan kombinasi LHWbiologis
terbaik yang mengandung etanol sebesar 11.54% dan gula pereduksi
sisa sebesar 22.48 g L-1. Rendemen etanol tertinggi diperoleh dari proses SSF
terhadap pulp batang mengkuang hasil praperlakuan kombinasi biologis-LHW
dengan persentase peningkatan rendemen etanol sebesar 387% terhadap pulp
kontrol, sedangkan persentase peningkatan rendemen etanol dari proses SSF
terhadap pulp batang mengkuang hasil praperlakuan kombinasi LHW-biologis
sebesar 278% terhadap pulp kontrol
Pengembangan Makanan Enteral Bebas Laktosa Berbasis Susu bagi Pasien Stroke
Gejala disabilitas, disfagia, hingga penurunan kemampuan bicara yang
ditimbulkan stroke mengakibatkan penderita stroke kesulitan untuk mengonsumsi
makanan dan menyebabkan malnutrisi. Pemberian makanan enteral menjadi
alternatif untuk mencegah malnutrisi pada pasien stroke. Harga makanan enteral
rumah sakit (home enteral nutrition) biasanya lebih ekonomis dibandingkan
makanan enteral komersial sehingga lebih mudah dijangkau oleh setiap kalangan
masyarakat. Salah satu makanan enteral rumah sakit yang dapat diberikan untuk
pasien stroke dengan intoleransi laktosa dan gangguan motilitas usus adalah
makanan enteral bebas laktosa dengan bahan utama susu bebas laktosa. Tujuan
penelitian ini adalah mengembangkan makanan enteral bebas laktosa berbasis
susu bagi pasien stroke. Metode yang digunakan yaitu analisis osmolalitas dan
proksimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai osmolalitas ketiga formula
makanan enteral lebih rendah dari makanan enteral komersial dan semakin
meningkat sejalan dengan peningkatan perlakuan. Formula terpilih adalah F3
dengan taraf pemberian susu bebas laktosa sebesar 50 gram. Harga pembuatan F3
lebih murah dibandingkan dengan makanan enteral komersial. Protein dan
karbohidrat F3 lebih rendah dibandingkan dengan makanan enteral komersial dan
lemak F3 lebih tinggi dibandingkan dengan makanan enteral komersial.
Persentase kandungan gizi terhadap total kalori F3 masih memenuhi standar yang
telah ditetapkan. Dengan demikian, F3 dapat dijadikan sebagai alternatif
pengganti makanan enteral komersial bebas laktosa