31665 research outputs found
Sort by
Kajian Pengembangan Super Learner dengan Cuckoo Search untuk Peningkatan Performa Klasifikasi
Metode ensemble merupakan istilah umum untuk metode-metode yang
dapat menggabungkan beberapa model, yang umumnya dilakukan pada masalah
klasifikasi. Pendekatan ini, biasanya menghasilkan tingkat akurasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan model tunggal. Beberapa contoh dari model tunggal adalah
regresi logistik, SVM, decision tree dan neural Network. Tingkat akurasi yang
lebih tinggi mampu diperoleh karena kesalahan prediksi yang dilakukan suatu model
tunggal pada observasi tertentu belum tentu dilakukan juga oleh model tunggal
lainnya. Sehingga jika digabungkan kedua model tunggal tersebut memungkinkan
untuk mendapatkan prediksi yang benar untuk observasi tersebut. Menemukan
metode penggabungan hasil prediksi terbaik dari beberapa model tunggal ini
merupakan kajian yang sering dilakukan pada model ensemble.
Secara umum, metode ensemble dapat dikelompokan menjadi 3 tipe, salah
satunya adalah metode stacking. Metode stacking merupakan metode yang
menggabungkan hasil prediksi dari beberapa model tunggal yang disebut model
dasar (base-learner) dengan menggunakan suatu model tunggal yang disebut model
tingkat lanjut (meta-learner). Super learner (SL) merupakan perkembangan terbaru
dari metode stacking yang memiliki kemampuan menyeleksi kandidat model dasar
dan secara teoritis performa dari SL lebih akurat dari kandidat model dasar yang
digunakan.
Performa dari SL ini dapat ditingkatkan menjadi lebih akurat dengan
mengatur hiperparameter-hiperparameter yang dimiliki oleh kandidat model dasar.
Cuckoo search (CS) yang merupakan salah satu tipe algoritme meta-heuristic
memiliki kemampuan untuk mengatur hiperparameter-hiperparameter ini agar
meningkatkan keakuratan prediksi dari
. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan utama untuk memformulasikan
algoritme CS supaya dapat mengatur hiperparameter-hiperparameter yang dimiliki
oleh kandidat model dasar dan meningkatkan performa dari SL menggunakan
algortime CS yang telah diformulasikan pada beberapa gugus data tolok ukur
(benchmark datasets).
Penelitian ini dilakukan dengan memformulasikan terlebih dahulu algortime
CS agar dapat mengatur hiperparameter-hiperparameter kandidat model dasar
yang dapat berupa bilangan real, bilangan bulat ataupun bilangan biner. Formulasi
ini dilakukan dengan cara melakukan transformasi kandidat solusi dari CS yang
berupa bilangan real menjadi bilangan bulat dan biner. Sebelum algoritme CS
ini diterapkan pada SL, terlebih dahulu kandidat model dasar ditentukan terlebih
dahulu. Penentuan kandidat model dasar ini didasarkan pada kandiat model
dasar yang prediksinya dapat berubah secara signifikan jika hiperparameter
yang digunakan berubah. Kemudian, pengaturan hiperparameter-hiperparameter
kandidat model dasar pada SL dilakukan dengan menerapkan algoritme CS yang
telah diformulasikan. SL yang hiperparameter-hiperparameter kandidat model
dasarnya telah diatur oleh CS disebut dengan Cuckoo super learner (CSSL).
Gugus data tolok ukur digunakan untuk mengetahui peningkatan performa yang
didapatkan oleh SL sebelum menjadi CSSL dan setelah menjadi CSSL. Hasil
dari penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan performa SL sebelum
menjadi CSSL dan setelah menjadi CSSL pada semua gugus data tolok ukur.
Walaupun demikian, waktu komputasi yang dibutuhkan oleh CSSL ini cukup besar
Asupan Gizi, Status Gizi, dan Kadar Hemoglobin serta Keterkaitannya dengan Kebugaran pada Atlet Remaja Putri di PPOP
Kebugaran fisik yang baik merupakan investasi dalam pencapaian prestasi olahraga yang maksimal. Tingginya angka partisipasi wanita dibidang olahraga tidak hanya menyebabkan peningkatan kualitas kompetensi namun tingginya intensitas kegiatan fisik dan olahraga berat disertai kurangnya asupan zat gizi menyebabkan terganggunya siklus menstruasi pada atlet wanita yang berdampak pada kejadian anemia (Saputri dan Dieny 2012). Atlet wanita khususnya remaja putri berisiko tinggi mengalami anemia karena kehilangan darah dan zat besi melalui menstruasi yang dapat menyebabkan terjadinya anemia. Anemia berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik, penurunan kebugaran jasmani, serta performa tubuh pada atlet remaja putri yang merupakan kunci utama dalam pencapaian prestasi olahraga (Tesfaye et al. 2015).
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asupan gizi, status gizi dan kadar hemoglobin serta keterkaitannya dengan kebugaran pada atlet remaja putri di PPOP DKI Jakarta. Sementara tujuan khusus dari penelitian ini adalah: (1) Mengkaji karakteristik subjek dan sosial ekonomi keluarga, (2) Menganalisis hubungan aktivitas fisik dan tingkat kecukupan gizi dengan status gizi (IMT/U dan persen lemak tubuh) atlet remaja putri, (3) Menganalisis hubungan status gizi, tingkat kecukupan gizi dengan kadar hemoglobin atlet remaja putri, (6) Menganalisis hubungan kadar hemoglobin, status gisi (IMT/U dan persen lemak tubuh), tingkat kecukupan gizi, aktivitas fisik dengan kebugaran atlet remaja putri.
Jenis penelitian ini adalah observasional menggunakan desain cross-sectional study. Penelitian dilakukan di Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) DKI Jakarta pada bulan Oktober hingga November 2018. Sebanyak 70 subjek terlibat dalam penelitian ini terdiri dari 16 cabang olahraga yaitu bulu tangkis, angkat besi, atletik, bola basket, bola voli (indoor dan outdoor), gulat, judo, karate, panahan, pencak silat, renang, senam, sepak takraw, taekwondo, tenis meja dan tinju. Sampel dipilih secara proportionate stratified random sampling pada tiap cabang olahraga, berusia 13-18 tahun, sehat dan sudah mengalami menarche.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas subjek berada pada rentang usia 15-16 tahun (51.43%). Secara umum, subjek memiliki status gizi (IMT/U) yang termasuk ke dalam kategori normal (87.14%). Rata-rata persen lemak tubuh subjek menggunakan BIA termasuk ke dalam kategori acceptable (58.57%), lebih besar dibandingkan pengukuran skinfolds yang termasuk ke dalam kategori athletic (52.86%). Mayoritas subjek memiliki siklus menstruasi yang normal baik dari panjang siklus, frekuensi menstruasi maupun lama menstruasi. Meskipun mayoritas subjek memiliki kadar hemoglobin normal dengan rata-rata 12.02 ± 1.26 g/dL, namun masih ditemukan subjek dengan kategori anemia ringan (21.43%) dan anemia sedang (18.57%).
Tingkat kecukupan gizi subjek masih berada pada ketegori kurang untuk energi, protein, lemak, karbohidrat, zat besi dan asam folat. Namun tinggi pada asupan vitamin A, vitamin C dan vitamin B12. Hampir keseluruhan subjek
memiliki aktivitas fisik yang berat (88.57%). Kegiatan latihan yang sering dilakukan atlet meliputi latihan teknik, latihan kekuatan, latihan fleksibilitas, sparing, dan relaksasi. Kegiatan fisik yang sering dilakukan oleh subjek selain latihan rutin adalah jalan kaki dan jogging. Hasil tes kebugaran menunjukkan bahwa sebagian besar subjek (50%) termasuk dalam kategori baik dan 40% termasuk dalam kategori sangat baik. Lebih dari separuh subjek (60%) mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral. Jenis suplemen yang biasa dikonsumsi oleh atlet diantaranya berupa Enervon C, sangobion, neurobion, imboost, renovit dan lainnya.
Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan tingkat kecukupan gizi (energi, protein, lemak dan karbohidrat) juga tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi (IMT/U dan persen lemak tubuh) (p>0.05). Tidak terdapat pula hubungan antara status gizi dan tingkat kecukupan gizi dengan kadar hemoglobin (p>0.05). Jika dihubungkan dengan kebugaran, maka kadar hemoglobin, tingkat kecukupan gizi (protein, zat besi, vitamin A, vitamin C, vitamin B12 dan asam folat) serta aktivitas fisik tidak terdapat hubungan yang bermakna (p>0.05). Namun terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi IMT/U (p=0.048, r=-0.238) dan persen lemak tubuh (0.001, r=-0.375) dengan kebugaran
Uji Daya Hasil Lanjutan 26 Galur Harapan Padi Tipe Baru (Oryza sativa L.) Populasi IPB187, IPB 189, IPB191, IPB193, dan IPB194 Generasi F9.
Peningkatan produktivitas padi dapat dilakukan melalui perakitan varietas unggul. Seleksi dan pengujian merupakan bagian dari proses pemuliaan tersebut. Penelitian ini bertujuan menguji daya hasil lanjutan 26 galur padi sawah populasi IPB187, IPB189, IPB191, IPB193, dan IPB194 generasi F9. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Sawah Baru, Bogor menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak faktor tunggal dengan tiga ulangan. Materi genetik yang diuji terdiri atas 26 galur inbrida padi dan dua varietas pembanding. Beberapa galur uji memiliki produktivitas yang setara dengan pembanding. Galur yang dimaksud, yaitu IPB189-F-13-1-2 (6.440 ton ha-1), IPB193-F-30-2-1 (6.270 ton ha-1), IPB187-F-76-1-1 (6.016 ton ha-1), IPB187-F-82-1-1-3 (5.606 ton ha-1), IPB191-F-27-1-3 (5.445 ton ha-1), IPB191-F-3-1-3 (5.382 ton ha-1), IPB189-F-31-1-1 (5.377 ton ha-1), IPB187-F-117-2-1 (5.303 ton ha-1), IPB187-F-72-2-1 (5.301 ton ha-1), dan IPB187-F-132-1-1 (5.260 ton ha-1). Sementara itu, diperoleh produktivitas varietas pembanding Inpari 32 adalah 6.787 ton ha-1 dan Ciherang 6.911 ton ha-1. Beberapa galur memiliki produktivitas lebih rendah serta tidak ada galur yang lebih baik dari pembanding Ciherang dan Inpari 32 dimana keduanya tidak rebah. Disarankan dilakukan optimasi pemupukan untuk galur-galur tipe baru IPB yang memiliki arsitektur berbeda dengan varietas pembanding
Reproduksi Ikan Salem (Scomber japonicus Houttuyn, 1782) di Teluk Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat
Ikan salem (Scomber japonicus) adalah salah satu ikan ekonomis dan memiliki potensi yang tinggi sebagai ikan konsumsi, namun masih sangat minim informasi biologinya di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aspek reproduksi ikan salem di Teluk Palabuhanratu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-September 2017. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa ikan salem jantan memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif, sedangkan ikan salem betina isometrik, dengan rasio kelamin didominasi ikan salem jantan. Hasil analisis menggunakan metode Spearman-Karber menunjukkan bahwa ikan salem betina lebih dulu mencapai ukuran matang gonad dibandingkan ikan salem jantan. Berdasarkan hasil analisis faktor kondisi serta korelasinya dengan tingkat kematangan gonad dan indeks kematangan gonad menunjukkan bahwa musim pemijahan ikan salem dimulai pada bulan September dengan tipe pemijahan diduga total spawner. Potensi reproduksi ikan salem tergolong sedang dengan rata-rata fekunditas sebesar 7647 butir telur pada kisaran 2241-44329 butir telur
Rantai Pasok Benih Sidat dalam Menunjang Industri Pembesaran Sidat di Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat
Benih sidat (glass eel) yang ditangkap di Sungai Cimandiri Palabuhanratu
Sukabumi Jawa Barat mempunyai peranan yang sangat penting dalam mensuplai
pembesaran sidat di Palabuhanratu. Hal ini disebabkan, pembesaran sidat masih
mengandalkan benihnya dari alam sehingga keberlanjutan pembesaran sidat masih
sangat tergantung dari ketersediaan benih sidat di alam. Penelitian ini bertujuan
untuk mengestimasi jumlah hasil tangkapan glass eel sidat per bulan per musim di
perairan Sungai Cimandiri, mendeskripsikan sistem rantai pasok glass eel sidat, dan
menilai kinerja rantai pasok pada industri pembesaran sidat di Palabuhanratu,
Sukabumi, Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan yakni metode kuantitatif
dengan pendekatan observasi langsung dan wawancara, serta studi kasus terhadap
pelaku rantai pasok menggunakan accidental sampling. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa hasil tangkapan glass eel sidat tertinggi di perairan Sungai
Cimandiri, Palabuhanratu pada tahun 2019 terjadi pada bulan Juni dengan nilai
hasil tangkapan rata-rata sebesar 14.859 gram atau setara dengan 14,9 kg. Rata-rata
hasil tangkapan glass eel sidat sebesar 14,9 kg per nelayan dengan hasil tertinggi
terjadi pada musim kemarau sebanyak 21.884 gram atau 21,8 kg. Mekanisme rantai
pasok pada komoditas benih sidat yaitu pola alur rantai pasok pada aliran produk,
aliran informasi yang cukup lancar dan transparan pada setiap mata rantainya, serta
terbaginya dua sistem pembayaran yakni sistem pembayaran tunai dan sistem
pembayaran secara kredit. Kinerja rantai pasok pada industri pembesaran sidat
diperoleh nilai kinerja sebesar 82,63 yang menunjukkan bahwa pencapaian kinerja
rantai pasok perusahaan tergolong kategori baik, dan perlunya perbaikan khususnya
untuk indikator yang memiliki nilai kinerja rendah yakni pada proses deliver yang
bernilai 2,70
Pengaruh Konversi Lahan Pertanian terhadap Marjinalisasi Masyarakat Pedesaan (Studi Kasus: Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat).
Pengalihfungsian lahan atau biasa disebut konversi lahan merupakan suatu proses alih fungsi lahan khususnya dari lahan pertanian ke nonpertanian atau dari lahan nonpertanian ke lahan pertanian. Faktor penyebab dari konversi lahan dapat terbagi dua, yaitu faktor internal atau dari dalam dan faktor eksternal yang berasal dari luar. Dampak yang paling sering timbul di masyarakat akibat konversi lahan tersebut adalah ketidakadilan agraria. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor eksternal dan internal yang mendorong terjadinya konversi lahan pertanian, menganalisis laju, luas, jenis, dan pola konversi lahan pertanian, serta menganalisis pengaruh konversi lahan pertanian terhadap marjinalisasi masyarakat pedesaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif (metode survei) yang didukung oleh data kualitatif (wawancara mendalam). Jumlah responden dari penelitian ini adalah 34 responden. Hasil dari penelitian ini menunjukkan luas konversi lahan berada pada skala kecil, laju konversi lahan berada pada laju yang cepat, dan tingkat marjinalisasi berada pada tingkat rendah. Penelitian ini juga menunjukkan tidak adanya pengaruh antara konversi lahan terhadap marjinalisasi masyarakat pedesaan
Teknik Penyimpanan Stek Batang Gamal (Gliricidia sepium) untuk Penanaman : Media dan Lama Penyimpanan serta Zat Pengatur Tumbuh
Gamal (Gliricidia sepium) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat baik secara ekologi maupun ekonomi. Gamal memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku energi baru dan terbarukan di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut dibutuhkan penyediaan bibit gamal dalam jumlah besar. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh media simpan dan lama penyimpanan serta zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan stek batang gamal. Penelitian dilaksanakan di Taman Hutan Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari tiga faktor perlakuan yakni media simpan, lama penyimpanan, dan zat pengatur tumbuh. Hasil penelitian menunjukan faktor interaksi antar perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata pada setiap parameter yang diuji. Perlakuan media simpan secara tunggal juga tidak memberikan pengaruh nyata, sedangkan perlakuan lama penyimpanan dan zat pengatur tumbuh memberikan pengaruh nyata terhadap parameter persentase berakar, persentase bertunas, dan panjang akar. Stek batang gamal memiliki pertumbuhan terbaik dengan lama penyimpanan 2 pekan dan 4 pekan serta dengan menggunakan zat pengatur tumbuh Rootone F
Hubungan antara Kebiasaan dan Kualitas Sarapan dengan Sindroma Dispepsia dan Status Gizi pada Remaja di SMAI PB Soedirman 1 Bekasi
Sarapan merupakan kegiatan makan dan minum yang dilakukan pada waktu setelah bangun tidur sampai dengan pukul 9 pagi dan menyumbang energi sebesar 15-30% kebutuhan gizi harian dalam rangka mewujudkan hidup sehat, aktif, dan cerdas. Prevalensi kebiasaan tidak sarapan di Indonesia saat ini cukup tinggi, yaitu pada anak dan remaja berkisar antara 16.9%-59% dan pada dewasa yaitu 31.2%. Kebiasaan tidak sarapan merupakan salah satu faktor pemicu timbulnya dispepsia dan masalah status gizi pada remaja. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kebiasaan dan kualitas sarapan siswa, mengidentifikasi kejadian sindroma dispepsia dan status gizi siswa, serta menganalisis hubungan kebiasaan dan kualitas sarapan dengan sindroma dispepsia dan status gizi siswa. Studi cross-sectional dilaukan pada 87 anak berusia 14-16 tahun di SMAI PB Soedirman 1 Bekasi. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri secara langsung dan pengisian kuesioner, serta wawancara food-recall 3x24 jam.
Sebanyak 51.7% contoh memiliki kebiasaan sarapan yang tidak rutin atau kurang dari 4 kali per minggu. Sebagian besar contoh (48.3%) sarapan dengan kandungan energi yang telah mencukupi 15-30% dari kebutuhan energi total harian. Sebagian besar contoh hanya mengonsumsi 2 jenis makanan yang terdiri dari makanan pokok dan lauk hewani pada kualitas sarapan baik pada hari libur maupun hari sekolah (hari senin dan selain hari senin). Sebanyak 27.6% siswa mengalami sindroma dispepsia. Sebagian besar contoh memiliki status gizi normal (42.5%). Sebagian besar contoh memiliki frekuensi aktivitas fisik lebih dari 4 kali per bulan dengan durasi kurang dari 90 menit per minggu. Hasil uji korelasi menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0.05) antara kebiasaan dan kualitas sarapan dengan sindroma dispepsia dan status gizi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0.05) antara frekuensi dan durasi aktivitas fisik dengan status gizi siswa
Penyelesaian Masalah Rural Postman Problem pada Graf Campuran dengan Metode Corberan-Marti-Romero
Rural Postman Problem (RPP) merupakan permasalahan dalam pencarian
rute terpendek dengan biaya minimum dan hanya sebagian sisi atau sisi berarah
diperlukan saja yang harus dilewati. Pada karya ilmiah ini dibahas mengenai
mixed Rural Postman Problem (MRPP), di mana representasi graf dari MRPP
memiliki dua jenis sisi, yaitu sisi berarah dan sisi tak berarah. Metode yang
digunakan adalah metode yang dikembangkan oleh Corberan-Marti-Romero.
Algoritme yang digunakan yakni algoritme Kruskal untuk menentukan minimum
spanning tree dan algoritme van Aardenne-Ehrenfest-de Bruijn untuk menentukan
sirkuit Euler. Selain itu, solusi dari masalah minimum cost flow digunakan untuk
mengonstruksi graf yang balans dan genap. Contoh aplikasi MRPP dalam karya
ilmiah ini adalah penentuan rute pengiriman barang (paket) dengan jarak
minimum
Kesesuaian Good Handling Practices dan Good Manufacturing Practices Terhadap Mutu Beras di Kabupaten Bogor
Beras merupakan salah satu komoditas pertanian terpenting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Beras hasil produksi penggilingan padi pada umumnya memenuhi mutu sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi mutu gabah dan beras yang dihasilkan penggilingan di Kabupaten Bogor dan mengevaluasi kesesuaian penerapan penanganan gabah dan beras di penggilingan padi terhadap Good Handling Practices (GHP) dan Good Manufacturing Practices (GMP).
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bogor yaitu Bogor Barat, Bogor Tengah, dan Bogor Timur. Tahapan pertama dilakukann identifikasi Rice Milling Unit (RMU): penggilingan padi kecil (PPK) dan pengilingan padi besar (PPB) . Pengumpulan data di penggilingan padi, pengambilan contoh gabah dan beras di penggilingan padi. Analisis mutu gabah, beras dan analisis data. Mutu gabah meliputi (kadar air, persentase gabah hampa, butir rusak/kuning, butir mengapur/hijau, butir merah, benda asing, dan gabah varietas lain) berdasarkan SNI 01-0224-1987 dan mutu beras meliputi (derajat sosoh, kadar air, persentase beras kepala, beras patah, butir menir, butir merah, butir kuning/rusak, butir mengapur, benda asing, dan persentase butir gabah) SNI 6128:2015. Data berupa deskriptif hasil wawancara, pengukuran mutu dan observasi dikonversi menjadi data kuantitatif dengan menghitung tingkat kesesuaiannya dengan GHP dan GMP.
Hasil pengamatan mutu beras menunjukkan bahwa Penggilingan Padi Kecil (PPK) tidak memenuhi persyaratan kategori kelas mutu SNI 6128:2015 dan Penggilingan Padi Besar (PPB) termasuk dalam beras mutu Medium III (M-3) berdasarkan SNI 6128:2015. Faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya mutu beras adalah kadar air Gabah Kering Giling (GKG) tinggi, butir hampa tinggi, derajat sosoh lebih rendah dari persyaratan SNI dan pengendalian mutu subyektif. Penggilingan padi belum sepenuhnya menerapkan pedoman GHP dan GMP. Tingkat kesesuain penerapan sistem jaminan mutu ditingkat RMU adalah 44.92% untuk GHP dan 60.25% untuk GMP. Ketidaksesuaian dari aspek fasilitas berdasarkan aspek pascapanen padi antara lain lantai penjemuran yang tidak di alas, tidak melakukan sortasi terhadap hasil panen, tidak memisahkan produk cacat dan pengkelasan. Berdasarkan kondisi bangunan gudang penyimpanan belum dilengkapi pengontrol suhu, kelembapan udara, dan perlindungan dari debu, kotoran, binatang penggerat, hama, serangga, permukaan lantai, langit-langit jendela yang tidak dilengkapi kasa pencegah serangga, lubang ventilasi dan ruangan penanganan pelengkap tidak terpisah