31665 research outputs found
Sort by
Kandungan Logam Berat (Pb, Hg, Cu, Cd) pada Daging Ikan Belanak (Planiliza subviridis) di Perairan Pantai Cengkok, Teluk Banten
Kandungan logam berat pada daging ikan belanak (Planiliza subviridis) di perairan Pantai Cengkok dan sekitarnya sangat berpotensi disebabkan oleh kegiatan antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan logam berat (Pb, Hg, Cu, Cd) pada ikan belanak di perairan Pantai Cengkok dan sekitarnya di kawasan Teluk Banten. Sampel ikan belanak diambil selama enam bulan mulai dari Maret hingga Agustus 2019. Destruksi basah sampel menggunakan metode Nitric Acid-Perchloric Acid Digestion serta analisis logam berat menggunakan instrument Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Hasil pengukuran kandungan logam berat Pb, Hg, Cu dan Cd pada ikan belanak masih dibawah baku mutu yang ditetapkan. Hasil ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan kandungan logam berat selama bulan pengamatan dan tidak terdapat perbedaan kandungan logam berat ikan belanak ukuran besar dan kecil. Bioakumulasi ikan belanak terjadi pada logam berat Pb dan Cd serta, biokonsentrasi logam berat tergolong akumulasi rendah untuk semua jenis logam. Batas aman konsumsi daging ikan belanak untuk anak-anak adalah 0,44 kg daging/ minggu dan untuk dewasa adalah 1,45 kg daging/ minggu
Populasi Nyamuk Ganjur Alang-alang Orseolia javanica Kieffer & van Leeuwen Reijnvaan (Diptera: Cecidomyiidae) di Gunung Gadung Cipaku, Kota Bogor
Alang-alang (Imperata cylindrica) merupakan gulma penting yang
menyebabkan kerusakan lingkungan dan kerugian ekonomi yang cukup tinggi
pada sektor pertanian, pemukiman, kehutanan, dan perkebunan. Pengendalian
alang-alang umumnya dilakukan secara mekanik, manual, dan kimiawi. Observasi
terhadap agen hayati alang-alang baru-baru ini mulai dilakukan. Salah satu
serangga yang dilaporkan memiliki potensi sebagai agen pengendali alang-alang
adalah nyamuk ganjur alang-alang (Orseolia javanica). Nyamuk ganjur alangalang
merupakan serangga monofagus dengan gejala serangan membentuk puru
pada daun. Infestasi serangga ini dapat mengurangi aktivitas fotosintesis pada
daun sehingga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan alang-alang.
Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat populasi ganjur alang-alang dan
parasitoid nyamuk ganjur alang-alang di Gunung Gadung Cipaku, Kecamatan
Bogor Selatan, Kota Bogor. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai
September 2019. Penelitian dimulai dari penentuan titik pengamatan dan
pengambilan sampel, kemudian dilakukan pengukuran ganjur alang-alang,
perhitungan tingkat parasitasi nyamuk ganjur alang-alang, identifikasi parasitoid,
dan analisis data. Setiap pengamatan diamati sebanyak 25 titik menggunakan
kuadran berukuran 50x50 cm. Pengamatan dilakukan satu kali dalam seminggu
dengan jumlah pengamatan sebanyak sebelas kali. Rentang rata-rata populasi
ganjur setiap pengamatan yaitu 0.16 – 16 ganjur per m2. Populasi ganjur tertinggi
terjadi pada pengamatan ke-1 yaitu 16 ganjur per m2 dan terendah pada
pengamatan ke-5 dan ke-6 sebanyak 0.16 ganjur per m2
. Parasitoid ganjur alangalang
yang ditemukan yaitu, Aprostocetus sp. (Hymenoptera: Eulopidae) dan
Platygaster sp. (Hymenoptera: Platygasteridae)
Penolakan Ekspor Pangan Olahan Indonesia ke Amerika Serikat dan Uni Eropa Tahun 2010-2019 dan Analisis Faktor Penyebabnya
Pangan olahan merupakan produk yang dibuat dari bahan pangan segar dan melalui teknologi pengolahan tertentu. Sektor industri pangan memberi dampak positif untuk perekonomian nasional Indonesia serta mendatangkan devisa negara dari kegiatan ekspor.Menurut data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik, nilai ekspor industri pangan Indonesia selalu menempati posisi tertinggi untuk sektor non migas setiap tahunnya.Indonesia banyak melakukan kegiatan ekspor ke beberapa negara, diantaranya Amerika Serikat dan Uni Eropa sebagai negara tujuan utama.Kasus penolakan ekspor terhadap Indonesia masih sering terjadi, hal ini disebabkan adanya temuan yang tidak sesuai dengan penerapan standar dari negara tujuan.Keamanan pangan menjadi aspek yang paling diperhatikan negara untuk perlindungan konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sistem importasi yang dijalankan Amerika Serikat dan Uni Eropa, mengetahui penyebab penolakan ekspor pangan olahan Indonesia ke Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta jenis produk yang paling dominan selama tahun 2010-2019. Sistem importasi ke Amerika Serikat melibatkan FDA, sedangkan untuk Uni Eropa melibatkan European Comission serta RASFF untuk memberitakan informasi penolakan produk ekspor yang beredar di pasaran. Analisis data sekunder mengenai penolakan ekspor pangan olahan Indonesia ke Amerika Serikat dan Uni Eropa ditinjau dari kelompok periode tahun, kategori pangan dengan standar BPOM, dan alasan penolakan. Sepanjang tahun 2010-2019, Indonesia mendapatkan 127 kasus penolakan pangan olahan di Amerika Serikat dan 27 kasus penolakan pangan olahan di Uni Eropa. Analisis lanjutan dengan diagram Pareto menunjukkan penolakan ekspor ke Amerika Serikat terbanyak diperoleh produk bumbu masak pasta dengan alasan masalah registrasi perusahaan dan jadwal proses produksi. Untuk kasus di Uni Eropa, penolakan ekspor terbanyak terjadi pada produk kelapa parut kering dengan alasan kontaminasi Streptococcus fekal dan Salmonella yang melebihi batas maksimumnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi masalah utama penolakan dilihat dari diagram Ishikawa adalah manusia, bahan, mesin, metode, lingkungan, dan manajemen
Pengembangan Indikator Green City Index untuk Pembangunan Berkelanjutan
Green City Index (GCI) merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas lingkungan dari suatu daerah dan merespon dampak buruk dari berkembangnya perekonomian suatu daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan penilaian GCI kota-kota di Indonesia dan melihat hubungannya dengan tingkat pendapatan daerah. Indikator yang digunakan dalam perhitungan GCI menggunakan metode induktif dari penelitian terdahulu diantaranya emisi CO2, kualitas udara, penggunaan energi, konsumsi air, transportasi publik, pengelolaan sampah, dan RTH. Perhitungan ini menghasilkan nilai GCI antara 2 hingga 3 dalam skala 1-5 dengan nilai tertinggi diperoleh Kota Tidore Kepulauan sebesar 4,6 dan kota dengan nilai terendah diperoleh Kota Cirebon sebesar 2,4. Nilai GCI ini kemudian digunakan untuk analisis korelasi pearson sebagai variabel x dan PDRB/kapita digunakan sebagai variabel y untuk menggambarkan pendapatan daerah. Hasil korelasi menunjukkan tidak terdapat hubungan antara GCI dengan PDRB/kapita yang disebabkan oleh beberapa hal diantaranya tidak memasukkan indikator data yang bersifat kualitatif, perlu dikaji ulang menggunakan indikator tambahan dan penggunaan metode analisis yang lain. Hasil korelasi yang baik dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan perencanaan pembangunan yang berkelanjutan
Peran Kelembagaan Pangan Dalam Resiliensi Komunitas Petani Sawah Tadah Hujan Menghadapi Perubahan Iklim.
Pertanian sawah tadah hujan tergolong sebagai ekosistem yang beresiko tinggi (high risk nvironmentst) karena terancam oleh kekeringan, kebanjiran, atau kegaraman (salinity) (Ladha et al. 1998). Resiko tersebut akan bertambah parah ketika komunitas petani sawah tadah hujan mengalami gangguan perubahan iklim. Kondisi perubahan iklim berupa tidak menentunya waktu musim tanam karena perubahan curah hujan menjadi salah satu penyebab terjadinya gagal panen yang mengakibatkan produksi sawah menurun sehingga mengancam kerawanan pangan komunitas petani sawah tadah hujan. Komunitas memiliki kelembagaan pangan yang terdiri dari norma-norma dan aturan yang mengatur kebutuhan pangan komunitas sehingga dapat diliihat sejauhmana kelembagaan pangan membantu komunitas beradaptasi terhadap perubahan iklim. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis kelembagaan pangan komunitas petani sawah tadah hujan dalam menghadapi kerawanan pangan akibat perubahan iklim; dan (2) menganalisis peran kelembagaan pangan dalam membangun resiliensi komunitas petani sawah tadah hujan menghadapi perubahan iklim.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif didukung kualitatif dengan menggunakan metode survei. Kuisioner diberikan kepada 100 responden dari 352 warga komunitas yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif (descriptive analysis). Dikumpulkan juga data kualitatif untuk memperjelas data kuantitatif. Data kualitatif dikumpulkan dengan wawancara mendalam dan Focus Group Discussion pada warga komunitas. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Dusun 1 dan Dusun 4 Desa Marga Kaya, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan karena di Dusun tersebut merupakan komunitas petani sawah tadah hujan yang mengalami dampak akibat perubahan iklim serta masih memiliki kelembagaan lumbung pangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas petani di Dusun 1 dan Dusun 4 memiliki sumberdaya yang terdiri dari sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya ekonomi. Sumberdaya alam yang dimiliki komunitas seperti lahan pertanian dan perkebunan tergolong cukup, tetapi sumber pengairan untuk kegiatan pertanian belum memadai. Selain itu sumberdaya manusia pada komunitas masih kurang karena tingkat pendidikan formal masih tergolong rendah. Sumberdaya ekonomi yang dimiliki komunitas meliputi kegiatan on farm dan non farm tegolong cukup baik karena komunitas memiliki sumber usaha lain diluar bidang pertanian.
Kapasitas adaptasi komunitas dilihat dari empat dimensi, yaitu: 1). pembangunan ekonomi (economic development); 2). modal sosial (social capital); 3). informasi dan komunikasi (information and communication); dan 4). kompetensi komunitas (community competence). Komunitas memiliki tingkat pembangunan ekonomi yang tergolong sedang. Hal ini dilihat dari peluang bekerja, peluang usaha, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan serta kemampuan membiayai pendidikan dan kesehatan rumahtangganya.
Komunitas memiliki modal sosial terutama ikatan dan komitmen komunitas yang tergolong tinggi. Akan tetapi intensitas komunikasi dan kompetensi komunitas masih tergolong sedang. Hal ini karena komunitas belum mampu mengatasi masalah serangan hama secara kolektif.
Komunitas petani sawah tadah hujan di Dusun 1 dan Dusun 4 Desa Marga Kaya memiliki dua jenis kelembagaan pangan yaitu kelembagaan lumbung pangan dan kelembagaan jimpitan. Kelembagaan lumbung pangan sudah berdiri lama sejak tahun 1970-an secara swadaya atas inisiatif dari warga komunitas dan tetap bertahan sebagai kearifan lokal komunitas. Kelembagaan lumbung pangan hadir sebagai kebutuhan komunitas dan merupakan aksi kolektif dalam upaya mengatasi ancaman kerawanan pangan ketika gagal panen dan musim paceklik. Komunitas petani di Dusun 1 dan Dusun 4 melalui kapasitas adaptif terutama modal sosial yang tergolong tinggi dan mengelola sumberdaya yang dimiliki, komunitas mampu mempertahankan kearifan lokal kelembagaan lumbung pangan sehingga komunitas resilien terhadap ancaman kerawanan pangan akibat perubahan iklim.
Kelembagaan lumbung pangan pada komunitas petani di Dusun 1 dan Dusun 4 memiliki kegiatan dalam simpan pinjam gabah, peminjaman modal dan tunda jual sehingga kelembagaan lumbung pangan berperan penting dalam resiliensi komunitas menghapi ancaman kerawanan pangan akibat perubahan iklim. Keberadaan kelembagaan lumbung pangan menjadi penting karena menopang ketahanan pangan komunitas melalui ketersediaan pangan yang cukup. Komunitas petani di Dusun 1 dan Dusun 4 sudah memiliki ketersediaan pangan yang baik dilihat dari hasil perhitungan skor ketersediaan pangan yaitu sebanyak 10,41 karena sudah mendekati skor maksimal yaitu 12.
Kelembagaan lumbung pangan sebagai salah satu bentuk aksi kolektif komunitas yang merupakan bagian dari modal sosial yang dimiliki komunitas akan mengalami ancaman keberlanjutannya apabila anggota lumbung pangan tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan lumbung seperti kegiatan simpan pinjam. Kelembagaan lumbung pangan telah menjadi tata kelakuan yang ada pada komunitas. Apabila kelembagaan lumbung pangan sudah tidak dibutuhkan lagi, maka kelembagaan pangan akan hilang. Kelembagaan lumbung pangan masih sangat diperlukan sebagai upaya menuju kemandirian pangan. Kemandirian pangan tentunya harus dipenuhi dari ketersediaan pangan yang cukup. Maka dari itu kelembagaan lumbung pangan diharakan tetap eksis pada masa mendatang
Penampilan Produksi Ayam Broiler yang Dipelihara pada Kandang Terbuka di Lingkungan yang Berbeda
Penelitian ini dilakukan di PT Ciomas Adi Satwa yang berlokasi di Cibedug dan
Exflas Farm yang berlokasi di Parung, Bogor. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis deskriptif. komsumsi pakan, PBB, bobot badan ayam pada
umur panen selama 5 minggu di PT Ciomas Adi Satwa (masing-masing
1 026.28, 505.77 dan 2 009.67 g ekor-1) lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi
pakan, PBB dan bobot badan ayam pada umur panen di Exflas Farm (masing-masing
785.90, 279.19 1 260.03 g ekor-1). Tingkat mortalitas ayam di PT Adi Satwa rendah
yaitu (8.85%) jika dibandingkan dengan tingkat mortalitas ayam di Exflas Farm
(27.68%). Konversi pakan (FCR) ayam yang dipelihara di PT Ciomas Adi Satwa lebih
rendah (2.03) dan Exflas Farm (2.81). Indeks Performa ayam yang dipelihara PT
Ciomas Adi Satwa adalah (264.87) dan di Peternakan Exflas Farm adalah (94.95).
Kondisi iklim mikro di sekitar kandang lebih baik dan lebih nyaman untuk beternak
ayam pedaging di PT Ciomas Adi Satwa. Kinerja produksi ayam broiler di PT Ciomas
Adi Satwa lebih baik dibandingkan dengan Exflas Farm
Keanekaragaman dan Kelimpahan Kumbang Daun (Coleoptera: Chrysomelidae) pada Empat Tipe Penggunaan Lahan di Lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Harapan, Jambi
Perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi perkebunan dapat memberikan dampak negatif pada ekosistem dan keanekaragaman hayati. Perubahan tata guna lahan dapat menyebabkan hilangnya spesies serangga dan menurunkan keanekaragaman serangga, salah satunya kumbang daun. Penelitian ini bertujuan memelajari keanekaragaman, kelimpahan dan komposisi kumbang daun pada empat tipe penggunaan lahan di lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Harapan. Koleksi sampel dilakukan dengan menggunakan metode pengasapan pada kanopi. Plot pengamatan ditentukan sebanyak empat plot pengamatan pada masing-masing tipe penggunaan lahan dan masing-masing plot ditentukan subplot. Serangga dikoleksi dengan wadah sebanyak 16 wadah (ukuran 1 m x 1 m) yang dipasang di bawah kanopi. Sampel yang telah dikoleksi, disortir dan diidentifikasi di Laboratorium Pengendalian Hayati, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Kumbang daun yang ditemukan sebanyak 1 040 individu yang terdiri dari 6 subfamili, 59 genus dan 127 morfospesies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan lanskap tidak berpengaruh terhadap kelimpahan dan keanekaragaman kumbang daun. Perbedaan keanekaragaman, kelimpahan dan komposisi kumbang daun terjadi karena perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi perkebunan. Keanekaragaman, kelimpahan dan komposisi kumbang daun yang ditemukan di hutan dan hutan karet lebih tinggi dibandingkan perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet
Pengaruh Pemberian Diet Berbasis MOCAF terhadap Total Protein dan Albumin Serum pada Model Tikus Kurang Gizi
Pertumbuhan yang terhambat karena kurang gizi dalam jangka waktu yang panjang dapat mengarah pada kondisi stunting (de Onis dan Branca 2016). Kekurangan gizi menunjukkan kurangnya asupan energi dan zat gizi untuk memenuhi kebutuhan individu (Maleta 2006). Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa prevalensi gizi kurang di Indonesia sebesar 19.6% dan turun menjadi 17.7% pada tahun 2018 (Kemenkes 2018). Data studi status gizi balita di Indonesia (SSGBI) 2019 menunjukkan penurunan gizi kurang jika dibandingkan dengan Riskesdas 2018, gizi kurang turun 1.5% menjadi 16.29% (Kemenkes 2019). Prevalensi gizi kurang di Indonesia masih termasuk sangat tinggi yakni ≥15% (Unicef, WHO dan World Bank 2019). Makanan pendamping yang baik akan mampu memenuhi kebutuhan gizi dan mampu meningkatkan sintesis protein untuk tumbuh kembang organ. MP-ASI diberikan diusia 6-24 bulan karena pada periode tersebut anak rentan menderita malnutrisi. Salah satu bentuk MP-ASI yang banyak dikenal masyarakat adalah bubur instan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh pemberian diet berbasis MOCAF terhadap total protein dan albumin serum pada model tikus kurang gizi. Bubur instan berbasis MOCAF yang digunakan yakni MOCAF yang diolah dari singkong mentega yang memiliki daging berwarna kuning dan kaya akan betakaroten serta dari bahan singkong manggu yang memiliki daging berwarna putih. Produk bubur instan diperkaya dengan inulin serta micronutrien premix (Fe, Zn, vitamin B1, vitamin B2, asam folat). Tikus yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus jenis Sprague dawley jantan yang selesai masa sapih dari induknya, umur 21 hari hingga 28 hari dengan berat badan 50-100 gram. Pada penelitian ini tikus dikelompokkan menjadi tiga yaitu satu kelompok kontrol normal dan dua kelompok perlakuan diet yakni kelompok yang diberi diet kurang protein dan diet kurang energi protein. Setiap kelompok perlakuan yang mencapai kondisi kurang gizi diberikan empat jenis produk intervensi. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok faktorial (RAKF) dan data dilaporkan dalam bentuk rata-rata dan di analisis dengan Anova dan uji lanjut Duncan.
Pada penelitian ini dibuktikan bahwa pemberian diet rendah protein 5% dan restriksi pakan secara bertahap yakni 30%, 50% dan 60% berhasil mencapai kondisi kurang gizi. Hal tersebut ditandai dengan adanya penurunan berat badan yakni -5.76±4.8 g pada kelompok kurang protein dan -5.53±4.66 g pada kelompok kurang energi protein, perubahan rasio berat organ hati terhadap berat badan tikus sebesar 5.18% pada kelompok kurang protein dan 4.95% pada kelompok kurang energi protein, kadar total protein (4.61±1.21 g/dL) dan albumin serum (3.22±4.61 g/dL) pada kelompok kurang protein dan terdapat tikus mengalami edema pada kelompok kurang energi protein yang menandakan kondisi kurang gizi. Pemberian diet berbahan dasar lokal yakni MOCAF dan tempe menunjukkan tidak ada perbedaan total protein dan albumin serum untuk semua kelompok (p>0.05) namun ada tanda perbaikan total protein dan albumin serum. Pada kelompok kurang protein, pemberian diet dengan diet MOCAF mentega tanpa
inulin terdapat perbaikan albumin serum dari 3.22±0.33 g/dL menjadi 3.33±0.35 g/dL sedangkan total protein serum dari 4.61±1.21 g/dL menjadi 5.01±0.82 g/dL. Pada kelompok kurang energi protein, terdapat perbaikan albumin dari 3.85±0.29 g/dL menjadi 4.15±0.94 g/dL dan total protein menjadi 6.18±1.27 g/dL yang menunjukkan bahwa setelah diberikan MOCAF manggu tanpa inulin sudah pada kondisi normal. Oleh karena itu, perlakuan diet rendah protein dan restriksi pakan dapat membuat kondisi tikus kurang gizi namun jika ditinjau dari segi waktu yang dibutuhkan, pemberian diet rendah protein lebih cepat yakni 21 hari dan intervensi dengan MOCAF dapat membantu pemenuhan kebutuhan gizi pada kondisi kurang gizi yang ditandai dengan peningkatan berat badan dan perbaikan total protein dan albumin serum
Identifikasi Single Nucleotide Polymorphism Ekson 2.2 Gen PLAG1 pada Sapi Bali, Peranakan Ongole dan Limousin
PLAG1 merupakan gen yang berada di kromosom 14 pada sapi yang diduga memiliki hubungan dengan sifat pertumbuhan dan penambahan bobot badan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi Single Nucleotide Polymorphism (SNP) ekson 2.2 Gen Pleomorphic Adenoma 1 (PLAG1) pada Sapi bali, PO, dan limousin. Penelitian ini menggunakan teknik direct sequencing pada 15 sampel darah sapi bali jantan, 15 sampel darah sapi bali betina, 8 sampel darah sapi PO, dan 8 sampel darah sapi limousin. Hasil sequencing kemudian dianalisis menggunakan program BLAST dari NCBI, Finch TV, BioEdit dan Popgene. Identifikasi keragaman SNP dianalisis dengan menggunakan pendekatan ClustalW menggunakan program MEGA10. Hasil amplifikasi ekson 2.2 gen PLAG1 pada 3 bangsa sapi berbeda diperoleh 11 SNP bersifat polimorfik dan frekuensi alelnya memenuhi kriteria keseimbangan Hardy-Weinberg. SNP yang ditemukan pada sapi bali berjumlah 6 yaitu c.1654 A>C, c.1660 G>A, c.1720 C>T, c.1753 A>G, c.1759 G>A dan c.1870 G>A, pada sapi PO ditemukan 2 SNP c.1822 A>T dan c.2050 A>G, dan pada sapi limousin ditemukan 3 SNP c.1779 T>C, c.1792 C>T dan c.1818 C>G
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Preferensi Generasi Milenial Terhadap Tabungan Pada Perbankan Syariah di Kota Padang
Perbankan syariah di Indonesia mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang sangat baik. Generasi milenial merupakan salah satu kalangan yang berperan dalam perkembangan inklusi keuangan syariah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi generasi milenial serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi preferensi generasi milenial Kota Padang dalam memilih tabungan syariah. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi logistik. Hasil analisis deskriptif menunjukkan persepsi yang sangat baik dari generasi milenial Kota Padang terhadap tabungan syariah terutama pada aspek pelayanan. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa variabel jenis kelamin berpengaruh secara signifikan negatif sedangkan pendapatan, pengetahuan, promosi, pelayanan, dan religiusitas berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi milenial Kota Padang dalam memilih tabungan syariah