Jurnal Rekayasa Proses
Not a member yet
238 research outputs found
Sort by
Extraction and Modification of Gum from Cashew Tree Exudates Using Wheat Starch and Glycerine
Penelitian ini bertujuan untuk mengekstrak getah pohon mete dan memodifikasi sifatnya untuk dapat digunakan sebagai senyawa pembantu proses pengeringan menggantikan fungsi getah Arab. Dengan menggunakan getah mete termodifikasi dari penelitian ini, permasalahan biaya pada proses pengeringan jus buah dengan spray dryer dapat diatasi. Getah pohon mete dipungut dan diendapkan dari larutan hasil penyadapan dengan bantuan etanol sebagai antisolvent. Dalam penelitian ini gliserin dan pati gandum digunakan sebagai bahan tambahan untuk memodifikasi sifat getah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa getah pohon mete termodifikasi yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan kesamaan sifat dengan getah Arab.
Kata kunci : getah pohon mete, getah Arab, modifikasi, pati, gliserin
The objectives of this research were to extract cashew tree gum (CTG) from cashew tree exudates and to modify it into a new drying aid, which can act as a substitute for Arabic gum. The cost problem faced in the spray drying of fruit juices is expected to be solved with the use of modified CTG as a replacement of Arabic gum. The CTG was extracted and precipitated from its raw cashew exudates solution with the help of ethanol as antisolvent. Glycerine and wheat starch were the additives used in the modification of the gum. The good quality of modified CTG was obtained based on their close similarity to Arabic gum properties.
Keywords: CTG, Arabic gum, modification, starch, glycerin
Analisis Eksperimental Fluks Kalor pada Celah Sempit Anulus Berdasarkan Variasi Suhu Air Pendingin Menggunakan Bagian Uji HeaTiNG-01
Eksperimen untuk mempelajari mekanisme perpindahan panas pendidihan pada celah sempit berdasarkan skenario kecelakaan parah PLTN TMI-2 perlu dilakukan untuk pemahaman terkait manajemen kecelakaan. Penelitian bertujuan untuk memperoleh nilai fluks kalor dan fluks kalor kritis (FKK) selama proses perpindahan panas pendidihan pada celah sempit anulus. Metode penelitian secara eksperimen menggunakan bagian uji HeaTiNG-01dengan fluida pendingin adalah air. Eksperimen dilakukan dengan memvariasikan suhu air pendingin pada suhu 75C, 85C dan 95C, dan memanaskan batang panas hingga mencapai suhu awal 650C. Kemudian proses pendidihan selama pendinginan direkam berdasarkan suhu transien pada batang panas. Data suhu digunakan untuk menghitung nilai fluks kalor dan wall superheat, hasilnya direpresentasikan melalui kurva didih. Hasil penelitian menunjukkan nilai FKK suhu pendingin 750C lebih rendah dibandingkan FKK suhu pendingin 85C dan 95C, dimana nilai FKK untuk suhu pendingin 85C dan 95C agak berdekatan. Nilai FKK maksimum untuk suhu 75C adalah 230 kW/m2, sedangkan untuk suhu 95C adalah 282 kW/m2. Meskipun demikian korelasi FKK terhadap posisi aksial batang panas pada berbagai variasi suhu mengikuti korelasi polynomial. Peristiwa pendidihan pada celah sempit tidak termasuk kategori didih kolam dengan membandingkan area didih film hasil eksperimen menggunakan korelasi Bromley.
Kata kunci : kecelakaan parah, anulus, fluks kalor, FKK, celah sempit, didih kolam
Experiment to investigate the mechanism of boiling heat transfer in a narrow gap on severe accident scenarios of TMI-2 nuclear power plant is necessary to develop the understanding of the related accident management.The present study aimed to obtain heat flux value and critical heat flux (CHF) during boiling heat transfer process in a narrow gap of annulus. The study was experimentally carried out using the HeaTiNG 01 test with water as cooling fluid which temperature was varied at 75C, 85C dan 95C. The rod was heated to 650C. The boiling process during cooling was investigated by recording the transient temperature of the heated rod. The data was used to calculate the heat flux and wall superheat which results were represented in a boiling curve. The experimental results showed that the CHF value of the cooling media at 75C was lower compared with that of at 85C and 95C. It was found that the values of CHF at 85C and 95C were close. The maximum CHF value at 75C was 230 kW/m2, while at 95C was 282 kW/m2. The CHF values at various position of heated rod was found to follow polynomial correlation. By comparing the boiling film areas from experimental results with that of Bromley correlation, it was concluded that boiling process in a narrow gap could not categorized as pool boiling process.
Keywords: severe accident, annulus, heat flux, CHF, narrow gap, pool boilin
Produksi Asam Lemak dari Dedak Melalui Proses Hidrolisis Enzimatis Secara In Situ
Indonesia berpotensi sebagai penghasil asam lemak dari dedak padi yang jumlahnya melimpah. Dedak padi mengandung enzim lipase yang dapat mengkatalisis proses hidrolisis trigliserida pada dedak padi menjadi asam lemak. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses hidrolisis trigliserida pada dedak padi dengan mengaktifkan enzim lipase. Studi produktivitas dilakukan dengan mengkaji pengaruh penambahan buffer phosphat terhadap pembentukan asam lemak. Studi produktivitas dilakukan dengan membandingkan perolehan asam lemak dengan atau tanpa penggunaan buffer pada proses hidrolisis. Parameter yang diteliti meliputi: volume buffer (0–25% terhadap volume air), rasio dedak-air (1:1–1:6 b/v), dan suhu reaksi (30–50°C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ion-ion pada larutan buffer mampu meningkatkan aktivitas dan stabilitas lipase. Penambahan buffer mampu meningkatkan perolehan asam lemak hingga 48%. Sementara perolehan asam lemak tertinggi dicapai pada hidrolisis dengan kondisi operasi volume buffer 5%, suhu reaksi 50°C dan rasio air dedak 1:5, dengan bilangan asamnya 2,63 mgek NaOH/g dedak
Kata Kunci: asam lemak, dedak padi, lipase, hidrolisis, enzimatis
Indonesia has potential to produce fatty acid from rice bran which is abundantly available as a side product of rice field activities. Rice bran contains lipase enzyme which is a catalyst for hydrolysis of triglycerides largely found in rice bran. The present work aimed to investigate the hydrolysis process of triglyceride from rice bran by activated lipase enzyme. Effect of the presence of phosphate compounds as buffer on fatty acid production was studied. The amount of fatty acid produced during hydrolysis with the use of buffer was compared to that without buffer. The parameters studied in the present work were volume of buffer (0% to 25% of water volume), rice bran-water ratio (1:1 to 1:6 w/v) and reaction temperature (30°C – 50°C). Experimental results showed that ions in the buffer solution could increase the activity and stability of lipase enzyme. The addition of buffer was found to increase fatty acid yield up to 48%. The highest fatty acid results ware obtained at the operation condition at which buffer volume of 5%, reaction temperature of 50°C and rice bran-water ratio of 1:5 where the acid number was 2.63 mgek NaOH/g rice bran.
Keywords: fatty acid, rice bran, lipase, hydrolysis, enzymati
Kajian Awal Laju Reaksi Fotosintesis untuk Penyerapan Gas CO2 Menggunakan Mikroalga Tetraselmis Chuii
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya konsentrasi CO2 di udara akibat dari pembuangan proses industri dan pembakaran bahan bakar sehingga dapat menyebabkan global warming. Oleh karena itu dilakukan penelitian tentang pengurangan konsentrasi CO2 melalui reaksi fotosintesis menggunakan mikroalga Tetraselmis chuii. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan konstanta laju reaksi menggunakan Tetraselmis chuii. Penelitian dilakukan dengan menjenuhkan media kultur air laut terlebih dahulu dengan gas CO2, sehingga pengaruh difusi CO2 ke dalam media kultur dapat diabaikan. Kemudian mikroalga dimasukkan ke dalam fotobioreaktor dengan berbagai kondisi operasi. Kondisi operasi yang divariasikan adalah temperatur yakni, 28C, 30C, dan 35oC serta umpan gas CO2 sebesar 4, 9, dan 14% dengan rancangan percobaan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan tertinggi diperoleh pada suhu 30C dan 35oC untuk setiap konsentrasi masukan CO2.. Orde reaksi terhadap CO2 belum dapat disimpulkan karena tidak ada beda nyata faktor koreksi (R) pada setiap grafik untuk persamaan order reaksi 1, 2, dan 3.
Kata kunci : fotobioreaktor, penyerapan, Tetraselmis chuii, konstanta laju reaksi, konsentrasi CO2
The background of the present study was the facts that the increase of carbon dioxides concentration in the air due to industrial activities and fossil fuel combustion certainly leads to global warming. In order to reduce carbon dioxides concentration, photosynthesis reaction using Tetraselmis chuii was one of the potential methods to use. The present study aimed at determining the rate constant of reaction that used Tetraselmis chuii. The study was carried out by firstly saturating sea water as a culture media with carbon dioxide in order to reduce the influence of carbon dioxide diffusion through the media. Microalgae were then put inside the photo-bioreactor at different operating conditions. The operating variables investigated in the present work were temperature (28C, 30C and 35C) and inlet CO2 gas concentration (4, 9 and 14%) with a complete random experimental design. Experimental results showed that the highest absorption capacity was achieved at 30C and 35C for each inlet CO2 concentration. However, the order of reaction with respect to CO2 concentration could not have been determined since the correction factors (R) values obtained from graphical analysis of first, second and third order reactions were not significantly different.
Keywords : photo-bioreactor, absorption, Tetraselmis chuii, reaction rate constant, CO2 concentratio
Pembuatan Zat Warna Alami dalam Bentuk Serbuk untuk Mendukung Industri Batik di Indonesia
Zat warna sintetis sangat praktis digunakan serta dapat menimbulkan warna yang mencolok pada produk. Namun limbah buangan zat warna sintetis dapat mencemari lingkungan. Saat ini zat warna alami mulai digunakan kembali. Untuk memudahkan pemakaian, zat warna alami berbentuk cair dikeringkan menjadi serbuk. Ekstrak zat warna alami dari biji kesumba dalam penelitian ini dikeringkan menggunakan spray dryer sehingga terbentuk serbuk. Zat warna kesumba diekstraksi dengan pelarut larutan NaOH dan Ca(OH)2. Pengeringan dilakukan dengan laju umpan rata – rata 0,13 ml/detik dengan suhu umpan 70°C dan suhu pengering 120°C. Pelarut NaOH memberikan hasil yang lebih baik dibanding pelarut Ca(OH)2. Kondisi yang relatif baik dicapai pada penggunaan pelarut NaOH 0,4 M, suhu 90C dan waktu 180 men. Serbuk yang dihasilkan 19,6 g/L larutan ekstrak.
Kata Kunci : zat warna alam, serbuk, biji kesumba, pengering sembur, batik.
Synthetic dyes are very practical to use and can lead to a striking color on the products. However, synthetic dye effluent may pollute the environment. For this reason, currently natural dyes have been used again for coloring. In order to ease the use of natural dyes, the liquid form of the dyes is dried into powder. In the present study, natural dyes extracted from kesumba seeds were dried using a spray dryer to form a powder. The Kesumba dye was extracted in an alkaline solutions of NaOH and Ca(OH)2. Drying was carried out with a feed having an average rate of 0.13 ml/sec at a temperature of 70°C. Meanwhile, dryer temperature was 120C. Experimental results showed that extraction using NaOH solution offered better results than that using Ca(OH)2 solution. The extraction using NaOH solution was optimum at NaOH concentration of 0.4 M, temperature of 90C and duration of 180 min. With this condition, the resulting powder was 19.6 g/L extract solution.
Keywords : natural dye, powder, kesumba seed, spray dryer, batik
Optimasi Proses Nitrasi pada Pembuatan Nitro Selulosa dari Serat Limbah Industri Sagu
Proses pembuatan selulosa nitrat dari serat sagu dilakukan dengan dua tahapan proses yaitu proses delignifikasi dan proses nitrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses nitrasi selulosa menjadi nitro selulosa. Sebelum dinitrasi, selulosa serat sagu dibersihkan dari kandungan ligninnya dengan proses soda nitrat memakai asam nitrat dan natrium hidroksida. Proses nitrasi menggunakan asam campuran yang terdiri dari asam nitrat dan asam sulfat sebagai katalisator. Proses dilakukan dalam labu leher tiga yang dilengkapi pengaduk dan pengatur suhu. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh waktu reaksi, perbandingan selulosa dengan asam campuran dan perbandingan asam sulfat dengan asam nitrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses nitrasi akan memberikan hasil terbaik pada waktu reaksi 1,5 jam, perbandingan selulosa – asam campuran 1:20 serta perbandingan asam sulfat – asam nitrat 1:5. Pada kondisi ini diperoleh yield sebanyak 151,22% dengan kandungan nitrogen sebanyak 13,39% yang mendekati kadar nitrogen maksimum teoritis sebesar 14,14%. Kata kunci: delignifikasi, nitrasi, nitroselulosa, kadar nitrogen Nitrocellulose production from sago fibers was conducted in two steps, i.e. delignification and nitration processes. This work studied the nitration process of sago fiber cellulose. Before nitration, the lignin was removed using the nitrate soda process utilizing nitric acid and sodium hydroxide. The nitration process used an acid solution consisting of nitric acid and sulfuric acid as a catalyst. The process was carried out in a three neck flask equipped with stirrer and temperature control. The effects of reaction time, nitric acid concentration, and sulfuric to nitric acid ratio were investigated. The results showed that the best operating conditions obtained for the reaction time, cellulose to mixed acid ratio and sulfuric to nitric acid ratio were 1.5 hours, 1:20 and 1:4 respectively in which the product yield and nitrogen content were found to be 151.22% and 13.39%. This nitrogen content was close to the theoretical maximum nitrogen content of 14.14%. Keywords: delignification, nitration, nitrocellulose, nitrogen content
Pengaruh Temperatur Heat-Treatment terhadap Kekerasan dan Struktur Mikro Paduan Al-Fe-Ni
Fabrikasi elemen bakar antara lain meliputi proses deformasi dan annealing. Proses annealing akan mengakibatkan perubahan sifat logam. Pemanasan pada suhu tersebut akan mempengaruhi sifat mekanik, sifat fisik dan sifat termal logam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi pengaruh suhu terhadap sifat bahan terutama kekerasan dan fasa paduan logam. Proses annealing dilakukan di atas suhu rekristalisasi dan di bawah suhu titik cair logam, yaitu pada 450°C, 500°C dan 550°C. Pengujian kekerasan bahan struktur berbasis aluminium Al-Fe-Ni dilakukan dengan menggunakan metoda Vicker. Pengamatan mikrostruktur dilakukan dengan metalografik-optikal dan analisis besaran struktur butir mikrostruktur menggunakan metode DAS. Analisis struktur fasa dilakukan berdasarkan pola difraksi sinar-x. Hasil pengujian sifat kekerasan menunjukan paduan Al-Fe-Ni dengan pemanasan pada 450°C, 500°C dan 550°C masing-masing adalah 53 HV, 60 HV dan 55 HV. Kekerasan paduan mengalami kenaikan dari 53 HV pada suhu 450°C menjadi 60 HV pada suhu 500°C, dan mengalami penurunan di atas suhu 500°C, menjadi 55 HV pada 550°C. Hasil pengamatan metalografik-optikal memperlihatkan mikrostruktur paduan mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya suhu. Mikrostruktur memperlihatkan bentuk struktur butir dendrit yang cenderung mengecil pada 500°C. Hasil analis pola difraksi menunjukkan pembentukan fasa θ (FeAl3), fasa k (NiAl3) dan τ (FeNiAl9) cenderung meningkat pada suhu 500°C. Paduan logam yang terbentuk akibat pemanasan pada suhu 450°C didominasi oleh keberadaan fasa k (NiAl3) dan fasa τ (FeNiAl9). Sementara itu, pada suhu 550°C terdapat kecenderungan pembentukan fasa tunggal τ (FeNiAl9). Pada kisaran suhu yang dipelajari, sifat kekerasan paduan Al-Fe-Ni dipengaruhi oleh perlakuan suhu. Kekerasan paduan Al-Fe-Ni tertinggi diperoleh pada suhu pada 500°C. Kata kunci: annealing, heat-treatment, kekerasan, fasa, paduan Al-Fe-Ni Fuel element manufacturing includes deformation process and annealing. Annealing process will change the properties of the metal. Thermal treatment will affect the nature of mechanical, physical and thermal properties of metal. This research aims to investigate the effects of thermal treatment on the properties of the materials, especially the hardness and phase of the metal alloy. Annealing process was carried out above recrystallization temperature and below melting point of the metal, e.g. 450°C, 500°C and 550°C. The hardness of Al-Fe-Ni alloy was determined by using Vickers method. The microstructure was observed by optical microscopy and grain microstructure was analyzed by DAS method. The phase structure analysis was done based on x-ray diffraction pattern. Heat treatment at three different temperatures of 450°C, 500°C and 550°C resulted in material hardness of 53 HV, 60 HV and 55 HV, respectively. Between 450°C - 500°C, the hardness of Al-Fe-Ni increased with increasing annealing temperature. On the other hand, above 500°C, the alloy hardness decreased with increasing annealing temperature. Optical metallographic observation results showed that the microstructure tends to change along with temperature increase. The microstructure of the Al-Fe-Ni alloy showed grain structure of dendritic that tends to wane at 550°C. Diffraction pattern analysis indicated that the formation of phase tended to increase at 500°C. The x-ray diffraction pattern also showed the tendency of formation of k (NiAl3) and τ (FeNiAl9) phase at 450°C. At 500°C the tendency was to form the phase τ (FeNiAl9), θ (FeAl3) and phase k (NiAl3). Meanwhile, τ (FeNiAl9) phase was preferably to form at 550°C. It was found that in the range of observed temperature, the maximum hardness of Al-Fe-Ni alloy was obtained at 500°C. Keywords: annealing, heat-treatment, hardness, phase, Al-Fe-Ni allo
Bottom ash Limbah Batubara sebagai Media Filter yang Efektif pada Pengolahan Limbah Cair Tekstil
Limbah cair tekstil mempunyai beban pencemaran yang tinggi sehingga dalam penanganannya perlu dipilih cara pengolahan dan media yang tepat agar hasil olahan memenuhi baku-mutu limbah. Salah satu tahap yang menentukan lamanya waktu pengolahan limbah adalah proses filtrasi. Kandungan zat organik, partikel padatan, dan logam berat dalam limbah dapat dikurangi dalam jumlah yang cukup besar dengan cara filtrasi, yang dapat mengurangi waktu dan beban pada proses selanjutnya (pengolahan biologi dengan lumpur aktif). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan suatu bahan yang paling efektif untuk media filter pada pengolahan limbah cair industri tekstil. Pada penelitian ini dilakukan pembandingan kemampuan tiga jenis media filter yaitu karbon aktif, zeolit aktif dan limbah batubara (bottom ash). Sebelum dilakukan filtrasi, mula-mula limbah cair dilakukan stabilisasi, flotasi, koagulasi-sedimentasi agar partikel berukuran besar yang terkandung didalamnya terpisahkan. Limbah cair tersebut kemudian dialirkan dengan laju alir tertentu melalui kolom filtrasi yang terisi oleh media filter. Untuk mengetahui efektivitas media filter, diuji kandungan TSS, BOD, COD dan Cr limbah sebelum dan sesudah proses filtrasi. Hasil percobaan filtrasi dengan ketiga media filter menunjukkan bahwa filtrasi dengan menggunakan media bottom ash limbah batubara lebih baik dibanding dengan filtrasi dengan zeolit aktif dan karbon aktif. Filtrasi dengan bottom ash dapat menurunkan beban pencemaran dalam jumlah yang lebih besar, khususnya pada nilai TSS sebesar 32,5%, COD 54,1%, BOD 58,9% serta kandungan logam berat Cr 80,8%. Oleh sebab itu, bottom ash limbah batubara dapat digunakan sebagai media filter yang efektif dalam proses filtrasi limbah cair tekstil.
Kata kunci: limbah cair, industri tekstil, filtrasi, bottom ash, karbon aktif, zeolit aktif
Wastewater from textile industry contains very high contaminants. Therefore, a suitable treatment method is highly required to fulfill wastewater quality standard. Filtration is a step in wastewater treatment which affects duration of the whole process. By filtration, organic materials, solid particles and heavy metals can be significantly reduced. As a result, the load for biological process (activated sludge) decreases very much. The objective of this research is to obtain the most effective filtration medium for wastewater treatment from textile industry. Performance of three filter media (activated carbon, activated zeolite and coal bottom ash) were compared. The experiment was started by doing a preliminary process (stabilization, flotation, coagulation- sedimentation) to separate big size particles from wastewater before filtration. Then, the filtration medium was placed in a filtration column and a stream of wastewater was flown through the column at a certain flow rate. In order to better understand the effectiveness of medium, a sample of wastewater before and after filtration was measured for TSS, BOD, COD values and heavy metal (Cr) content. The experimental result showed that filtration using coal bottom ash was more effective than that using activated zeolite and activated carbon. The filtration was able to reduce TSS by 32,5%, COD by 54,1%, BOD by 58,9% and heavy metal (Cr) content 80,8%. Thus, coal bottom ash could be utilized as an effective filtration medium in the treatment of textile industry wastewater.
Keywords: wastewater, textile industry, filtration, bottom ash, activated carbon, activated zeolit
Kinetika Pelarutan Silika Amorf dari Lumpur Panas Bumi Dieng
Lumpur geotermal yang dihasilkan dari proses operasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Dieng mengandung silika amorf sebesar 50 %, yang sangat potensial untuk dijadikan sumber kebutuhan silika amorf untuk dunia industri. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinetika pelarutan silika amorf dari lumpur panas bumi dengan menvariasikan variabel – variabel yang mempengaruhinya. Pada penelitian ini, alkali-solubilization yang merupakan proses pelarutan silika dalam larutan NaOH dalam labu berpengaduk dipelajari dengan memvariasikan variabel suhu (50 – 90 °C), kecepatan pengadukan (150 – 450 rpm), perbandingan molar Na/Si (2 – 8), dan ukuran diameter padatan (0,0069 – 0,01975 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pelarutan silika amorf dari limbah geotermal meningkat dengan naiknya suhu dan kecepatan pengadukan. Namun, ukuran padatan dan perbandingan molar pereaksi tidak menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap proses pelarutan.
Kata kunci: lumpur geotermal, silika amorf, alkali-solubilization, kinetika pelarutan
Dieng’s geothermal power plant generates not only energy but also wastes as sludge that contains around 50% silica in an amorphous state. The waste has a great potential to be used as a source of micro-amorphous silica synthesis to fulfill industrial needs. This research aimed to study the dissolution kinetics of amorphous silica. In the present work, the alkali – solubilization process by means of the dissolution of amorphous silica in an agitated flask was studied by varying process temperatures (50 – 90C), stirring speed (150 – 450 rpm), Na/Si molar ratio (2 – 3), and silica particle size (0,0069 – 0,01975 cm). Experimental results showed that the rate of geothermal silica dissolution increased with temperature and stirring speed. Meanwhile, Na/Si molar ratios and silica particle sizes showed no significant influence on the dissolution process. Calculation results indicated that the dissolution process involved a solid – liquid reaction that occured at the solid surface.
Keywords : geothermal sludge, amorphous silica, alkali-solubilization, dissolution kinetic
Pengembangan dan Pengujian Inokulum Untuk Pengomposan Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit
Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang jumlahnya mencapai 23% dari tandan buah segar, mengandung unsur hara makro dan mikro yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Pada saat ini limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan menguji inokulum yang dapat digunakan untuk pembuatan kompos dari limbah tandan kosong kelapa sawit. Inokulum merupakan campuran bakteri dan jamur yang diisolasi dari limbah tandan kosong kelapa sawit. Isolat kemudian ditumbuhkan pada media pertumbuhan tertentu dan difermentasikan. Pengujian inokulum dilakukan pada skala laboratorium dengan cara sebagai berikut: dua kilogram tandan kosong kelapa sawit yang telah dicacah sepanjang 2 cm dimasukkan ke dalam wadah, kemudian diinokulasi dengan inokulum pada dosis 500 dan 1000 ml/ton. Percobaan diulang hingga tiga kali. Selama percobaan kelembaban relatif dijaga tetap 60% dan suhu diamati hingga proses pengomposan selesai. Kompos yang dihasilkan dianalisis kadar air, karbon, nitrogen, fosfor, kalium, dan magnesium. Pada penelitian ini telah berhasil dikembangkan inokulum yang terdiri atas campuran bakteri dan jamur dinamakan ”Indigenous Microbial Consortium” dan dapat dipergunakan untuk membuat kompos dengan kualitas yang memenuhi standar.
Kata kunci: kompos, limbah tandan kosong kelapa sawit, inokulum, konsorsium mikroba.
Empty palm oil bunch waste is about 23% of the fresh bunches which is rich with important macro and micro nutrients for plant growth. However, those have not been optimally utilized. The objective of this experiment was to develop and to evaluate the inoculums which could be used to make compost from empty palm oil bunch wastes. The inoculums consisted of fungies and bacteria isolated from the empty palm oil bunches. The isolates were then grown and fermented on to a particular media. The inoculums were then evaluated at laboratory scale according to the following methods. About 2 kg of 2 cm long crushed empty palm oil bunches were put in particular places and were then inoculated by the inoculums at a dosage of 500 and 1000 ml/ton of wastes. The experiment was done at triplicates and the relative humidity during the experiment was kept constant at 60%, and temperature was recorded until the end of the experiment. Water, carbon, nitrogen, phosphor, potassium, and magnesium contents of the composts were analysed. The inoculums that consisted of fungies and bacteria were successfully developed and it was called “Indigenous Microbial Consortium”. The inoculums could be used to make good quality of composts.
Keywords: compost, empty palm oil bunches, inoculums, microbial consortium