Jurnal Rekayasa Proses
Not a member yet
238 research outputs found
Sort by
Penurunan Logam Hg dalam Air Menggunakan Sistem Sub-Surface Flow Constructed Wetland: Studi Efektivitas
A B S T R A C THigh amount of Mercury contamination is commonly found in traditional gold mining areas. This problem might occur due to the use of amalgamation process in traditional gold extraction process by dissolving the gold-bearing rocks with mercury (Hg). The utilization of mercury in gold mining activity has contaminated the water with Hg which might lead to serious health problems. This research was carried out by discharging the Hg-contaminated wastewater to enter a system called the Sub-Surface Flow Constructed Wetland (SSF-SW). The system employed a mixture of soil and the fibers of water hyacinth as the media on which Echinodorus palaefolius L. was planted. The wastewater containing HgCl2 at 8.59 mg/L was flown. The flow rate and pH were set to 6.3 L/hour and 6-7 pH at room temperature. Samples were collected at 0; 3.5; 7; 10.5 hours every day. The SSF-CW system was continually run for 10.5 hours and 13.5hour batch. The result of this research showed that the efficiency of Hg removal reached 92.79%. The results showed that the SSF-CW offers a stable system to reduce the mercury levels as shown in the growth of the plant and the total Hg removal efficiency. Plants with Hg exposure have distinct patterns of chlorosis. Some leaves turning yellow and die, others start with new growth. In addition, the growth of Echinodorus palaefolius L. was also influenced by the amount of nutrients in the soil.Keywords: Echinodorus palaefolius L., mercury, sub-surface flow constructed wetland A B S T R A KPencemaran merkuri banyak ditemukan pada penambangan emas tradisional. Pada umumnya proses yang diterapkan dalam penambangan emas tradisional dalam ekstraksi emas adalah proses amalgamasi, yaitu dengan cara mencampur bijih emas dengan merkuri (Hg). Aktivitas penambangan dengan memanfaatkan Hg menyebabkan tercemarnya air dengan Hg yang dapat membahayakan kesehatan. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah Hg ke dalam sistem Sub-Surface Flow Constructed Wetland (SSF-CW). Media yang digunakan berupa campuran tanah dan serat eceng gondok serta ditanami dengan Echinodorus palaefolius L. Penelitian dilakukan dengan mengalirkan air limbah HgCl2 berkonsentrasi 8,59 mg/L. Percobaan menggunakan laju alir 6,3 L/jam dengan pH sekitar 6-7 pada suhu ruangan. Pengambilan sampel dilakukan pada jam ke 0; 3,5; 7 dan 10,5 pada setiap harinya. Operasi sistem SSF-CW dijalankan 10,5 jam kontinu dan 13,5 jam batch. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi penurunan Hg sebesar 92,79%. Penelitian menunjukkan bahwa sistem SSF-CW cukup stabil. Kestabilan sistem SSF-CW dalam menurunkan kadar Hg dapat dilihat dari pertumbuhan tanaman dan total penurunan yang diperoleh. Tanaman yang terpapar Hg terlihat bercak klorosis. Beberapa daun menguning dan mati, sebagian lain tumbuh tunas baru. Pertumbuhaan Echinodorus palaefolius L. tidak lepas dari pengaruh unsur hara yang terdapat di dalam tanah.Kata kunci: Echinodorus palaefolius L., merkuri, sub-surface flow constructed wetlan
Pengaruh Medan Elektromagnetik terhadap Densitas dan Vikositas pada Vacuum Residue
This study tested the effect of electromagnetic field on density and viscosity of vacuum residue from PT. PERTAMINA Refinery Unit III Plaju. The study was conducted using a batch reactor equipped with electromagnetic. The fixed variable in this study is the vacuum residue mass and cracking time, while the variables which are varied are reaction temperature and electromagnetic field. The study was conducted to see the effect of temperatures ranging from 100, 200, 300 and 400oC, and the use of electromagnets with electric currents of 0A, 5A, 10A, 15A and 20A on the density and viscosity of vacuum residue. The experiment compared the effect of the process with electromagnetic field and without electromagnetic field on the density and viscosity of vacuum residue. The results showed that the lowest density (0.874 g/cm3) and viscosity (0.481 cP) were obtained by using 20A electric current electromagnetic field at a temperature of 400oC.A B S T R A KPenelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh medan elektomagnetik terhadap densitas dan viskositas vakum residu petroleum dari PT. PERTAMINA Unit Pengolahan III Plaju. Pengujian dilakukan dalam reaktor-batch yang dilengkapi dengan elektromagnetik. Variabel tetap dalam penelitian ini adalah massa vakum residu dan waktu cracking, sedangkan variabel yang divariasi adalah suhu cracking dan kuat arus listrik elektromagnetik. Studi dilakukan untuk melihat pengaruh suhu mulai dari 100, 200, 300, dan 400oC, serta penggunaan elektromagnet dengan arus listrik sebesar 0A, 5A, 10A, 15A dan 20A terhadap perubahan densitas dan viskositas dari vakum residu. Eksperimen yang dilakukan membandingkan pengaruh proses dengan medan elektromagnetik dan tanpa medan elektromagnet terhadap densitas dan viskositas vacuum residue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai densitas dan viskositas vakum residu terendah diperoleh pada penggunaan medan elektromagnetik dengan arus listrik 20A pada suhu 400oC yaitu pada nilai denitas sebesar 0,874 g/cm3 dan nilai viskositas sebesar 0,481 cP
Pengaruh Proses Swelling dengan Supercritical Gas CO2 terhadap Penurunan Energi Ikatan Senyawa Hidrokarbon Vacuum Residue
The present study aims to develop technology to utilize a vacuum residue by reducing its density, viscosity and energy bonding, using a batch reactor equipped with CO2 injection gas in the form of a swelling process. The study was conducted by applying temperature varied between 60 and 100 °C and CO2 flux pressure varied between 1 and 5 MPa, respectively. The study of applying temperature and CO2 flux pressure are used to decrease the bond energy of hydrocarbon compounds in the form of solid vacuum residue. Furthermore, a series of reaction time was carried out started in the range of 10-30 minutes to obtain the optimum reaction time. The result showed that at temperature of 100°C, pressure of 5 MPa and variation of time, the density, viscosity, and decrease in energy bonding (ΔG) were in the range of 0.919-0.902 g/cm3, 495-166 cSt, and 8.627–6.436 J.s, respectively. A B S T R A KPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan vacuum residue dengan mengurangi densitas, viskositas dan energi ikatan. Pada penelitian ini digunakan reaktor batch yang dilengkapi dengan gas injeksi CO2 dalam bentuk proses swelling. Penelitian dilakukan dengan menerapkan variasi temperatur antara 60-100 °C dan tekanan fluks CO2 bervariasi antara 1-5 MPa. Rentang temperatur dan tekanan fluks CO2 yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengurangi energi ikatan senyawa hidrokarbon dalam bentuk padatan vacuum residue. Selanjutnya, serangkaian waktu reaksi dilakukan mulai dari 10, 15, 20, 25, dan 30 menit untuk mendapatkan waktu reaksi yang optimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada temperatur konstan (100 °C), tekanan konstan (5 MPa) dan variasi waktu diperoleh penurunan densitas (0,919–0,902 g/cm3), viskositas (495-166 cSt), dan penurunan energi ikatan (ΔG) menjadi 8,627–6,436 Js
Proses Peruraian Anaerobik Palm Oil Mill Effluent dengan Media Zeolit Termodifikasi
A B S T R A C TThis work evaluated the effect of modified zeolite as microbial immobilization medium in anaerobic digestion of palm oil mill effluent (POME). The affinity of microorganisms to attach and grow on the media surface could be increased by the addition of micro-nutrient into the media. The effect of micro-nutrient addition was studied in 1000 mL Erlenmeyer flask as batch reactors. Experiments were conducted for 30 days. The concentration of soluble chemical oxygen demand (COD) in substrate was 8000 mg/L. Zeolite was impregnated with nickel (Ni) and zinc (Zn) at individual concentration of 2.7x10-3 mg Ni/g zeolite and 3.5x10‑3 mg Zn/g zeolite. The influence of each modified zeolite was determined by periodic measurement of sCOD, volatile fatty acid (VFA), pH, and biogas production. Cumulative biogas productions in this study were 252.44; 172.13; 57.70 ml from Ni-modified, Zn-modified and natural zeolites, respectively. The highest sCOD removal was obtained in reactor with Zn-modified zeolite with 38.22% removal, followed by 33.96% with Ni-modified zeolite, and 27.87% removal with natural zeolite.Keywords: anaerobic digestion; biogas; methane; palm oil mill effluent; zeoliteA B S T R A KPenelitian ini mengevaluasi pengaruh zeolit yang dimodifikasi sebagai media imobilisasi mikroorganisme pada proses anaerobik limbah palm oil mill effluent (POME). Afinitas mikroorganisme untuk melekat dan tumbuh di permukaan dapat meningkat dengan impregnasi mikronutrien pada media. Efek penambahan mikronutrien dipelajari dengan labu Erlenmeyer 1000 mL sebagai reaktor batch. Experimen dijalankan selama 30 hari. Konsentrasi soluble chemical oxygen demand (sCOD) substrat yang digunakan adalah 8000 mg/L. Zeolit terimpregnasi Ni dan Zn yang digunakan memiliki kadar 2,7 x10-3 mg Ni/g zeolit dan 3,5x10-3 mg Zn/g zeolit. Pengaruh setiap zeolit yang dimodifikasi dievaluasi dengan mengukur konsentrasi sCOD, volatile fatty acid (VFA), pH, dan produksi biogas secara periodik. Akumulasi biogas penelitian ini sebesar 252,44; 172,13; 57,70 ml berturut-turut untuk zeolit modifikasi Ni, zeolit modifikasi Zn dan zeolit alam. Penurunan sCOD terbaik dihasilkan oleh zeolit termodifikasi Zn dengan nilai 38,22%, selanjutnya diikuti oleh zeolit termodifikasi Ni dan zeolit alam dengan nilai 33,96% dan 27,87%.Kata kunci: anaerobic digestion; biogas; metana; palm oil mill effluent; zeoli
Disosiasi H2S dalam Gas Alam pada Temperatur Ruang Menggunakan Katalisator MgO: Pengaruh Jumlah Katalis dan Laju Alir Massa
The presence of H2S in natural gas is very detrimental to ammonia industry because it can poison and deactivate steam reforming catalysts. In the ammonia plant Pusri-IB PT. Pusri Palembang, H2S was separated in the Desulfurizer Unit (201-D) by adsorption using ZnO adsorbent at low temperature (28 ° C). Unfortunately, in this process the ZnO adsorbent cannot be regenerated so that within one year the ZnO adsorbent will be saturated with sulfur. The alternative process of H2S separation is to dissociate H2S into its constituent elements (hydrogen and sulfur) with catalytic process. The magnesium oxide catalyst was chosen because magnesium oxide is a metal oxide compound widely known in the catalysis process and has two active sites. The highest H2S conversion that can be achieved by MgO catalyst is 92.29%. Unlike ZnO, MgO does not absorb H2S, but catalyzes the dissociation of H2S into hydrogen and solid sulfur without being changed consumed by the reaction itself so that the MgO catalyst has a longer life time than the ZnO adsorbent.A B S T R A KKandungan H2S dalam gas alam sangat merugikan bagi industri amoniak karena dapat meracuni dan mendeaktivasi katalis steam reforming. Di pabrik amoniak Pusri-IB PT. Pusri Palembang, H2S dipisahkan di Unit Desulfurizer (201-D) secara adsorpsi dengan menggunakan adsorben ZnO pada temperatur rendah (28 ° C). Namun sangat disayangkan, pada proses ini adsorben ZnO tidak dapat diregenerasi sehingga dalam kurun waktu satu tahun adsorben ZnO akan jenuh oleh sulfur. Salah satu alternatif proses pemisahan H2S adalah dengan mendisosiasi H2S menjadi unsur penyusunnya yaitu hidrogen dan sulfur dengan bantuan katalis. Katalis magnesium oksida dipilih karena magnesium oksida merupakan senyawa metal oksida yang penggunaannya sudah dikenal luas dalam proses katalisis serta memiliki dua gugus aktif. Konversi H2S tertinggi yang dapat dicapai katalis MgO adalah sebesar 92,29%. Berbeda halnya dengan ZnO, MgO tidak menyerap H2S, namun mengkatalisis proses disosiasi H2S menjadi hidrogen dan sulfur padat tanpa mengalami perubahan atau terkonsumsi oleh reaksi itu sendiri sehingga katalis MgO memiliki life time yang lebih lama dibanding adsorben ZnO.
Pemanfaatan Ekstrak Protein dari Kacang-kacangan sebagai Koagulan Alami: Review
Coagulation and flocculation are commonly used in water and wastewater treatment. Inorganic coagulant such as alum (Al2(SO4)3), ferrous sulphate (FeSO4), and polyaluminium chloride (PAC) are commonly used. These coagulants are known for its effectiveness and simple operation procedure. However, there are some drawbacks such as reduction in pH, potential negative health effect when the treated water is consumed, and large sludge volume. To overcome these problems, utilization of natural coagulants has been proposed. Based on its active coagulating agent, natural coagulant could be divided as polyphenolic, polysaccharides, and protein. Protein from beans and seeds is commonly used as the source of active coagulating agent, due to its effectiveness, availability, and relatively simple pretreatment is needed. Usually the protein is extracted by using 0.5-1 M NaCl solution as globulin is the major protein fraction in beans.The extracted protein could act as cationic polymer to neutralize negatively charged colloids through adsorption-charge neutralization mechanism. Extracted protein could work effectively to treat turbid and waste water with lower cost compared to alum. However, most of existing studies are still focused on small – pilot scale utilization thus further explorations are still needed.A B S T R A KKoagulasi dan flokulasi merupakan proses yang umum digunakan dalam pengolahan air dan limbah cair. Pada umumnya digunakan koagulan seperti alum (Al2(SO4)3), ferro sulfat (FeSO4), dan polialuminium klorida (PAC). Selain efektif, koagulasi merupakan proses yang relatif sederhana dan mudah diterapkan. Akan tetapi koagulasi dengan koagulan anorganik memiliki beberapa kekurangan seperti menurunnya pH menjadi asam saat digunakan, potensi gangguan kesehatan jika air hasil pengolahan terkonsumsi, serta volume sludge yang dihasilkan relatif tinggi. Penggunaan koagulan alami menjadi alternatif dalam pengolahan air untuk mengatasi berbagai kekurangan tersebut. Berdasarkan bahan aktif koagulannya, koagulan alami dapat dibagi menjadi polifenol, polisakarida, dan protein. Protein dari kacang-kacangan merupakan salah satu sumber koagulan alami yang umum digunakan, karena selain efektif, kacang-kacangan mudah didapat, serta membutuhkan perlakuan yang relatif sederhana, meliputi pengeringan, pengecilan ukuran, ekstraksi, serta purifikasi. Proses ekstraksi kacang-kacangan pada umumnya menggunakan larutan garam NaCl dengan konsentrasi 0,5-1 M, dikarenakan fraksi protein dominan pada protein kacang-kacangan pada umumnya berupa globulin. Protein yang terekstrak berfungsi sebagai polimer kationik yang cocok digunakan untuk mengolah koloid yang bermuatan negatif melalui mekanisme adsorpsi-netralisasi muatan. Pemanfaatan ekstrak protein dapat bekerja efektif untuk mengolah kekeruhan dan air limbah, dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan alum. Akan tetapi pemanfaatannya masih pada skala laboratorium-pilot, sehingga diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk isolasi ekstrak serta aplikasinya pada skala industri
The Effect of Biomass-Water Ratio on Bio-crude Oil Production from Botryococcus braunii using Hydrothermal Liquefaction Process
The increasing demand of energy in Indonesia has led to the urgency to conduct research and development in renewable energy. Biomass is one of the largest renewable energy sources in Indonesia. For biomass to energy conversion, hydrothermal liquefaction (HTL) has been considered as one of the potential methods where biomass is processed using subcritical water to produce bio-oil, aqueous phase, gas, and solid product. In this research, the effect of biomass-water ratio on hydrothermal liquefaction (HTL) process of microalgae Botryococcus braunii has been investigated. The HTL was conducted using biomass/water ratio 1:10, 1:20 and 1:30 with various holding time for each ratio. The product was bio-crude oil with similar characteristics to crude oil. Experimental results showed that biomass-water ratio affected the distribution of bio-crude oil yields. For biomass-water ratio of 1:10 and 1:20, it was found that bio-crude oil yields reached a maximum at 20 minutes, while the highest bio-crude oil yield of 4% was obtained at biomass-water ratio of 1:10. On the other hand, with biomass-water ratio of 1:30, bio-crude oil yield was continuously increasing with holding time until it reached the maximum yield of 4% at 40 minutes of holding time. The aforementioned results indicated that the highest bio-crude oil yield was obtained using biomass-water ratio 1:10 and 20 minutes of HTL processing time. A B S T R A KPeruraian anaerobik merupakan salah satu bidang riset yang sangat menarik perhatian dalam era krisis energi. Biogas tidak hanya menyediakan energi alternatif, tetapi juga dapat mencegah pencemaran akibat limbah organik. Limbah lemak susu adalah substrat yang potensial untuk proses peruraian anaerobik karena memiliki potensi biogas teoritis yang tinggi akibat kandungan lemaknya yang tinggi. Namun, peruraian anaerobik dari limbah organik dengan kandungan lemak yang tinggi memiliki tantangan tersendiri. Hambatan utama dalam peruraian anaerobik dari limbah lemak susu adalah kecenderungan untuk membentuk lapisan padatan yang tidak larut dan mengapung di bagian atas fase cair. Fenomena ini menghambat akses bakteri hidrolisis terhadap substrat. Saponifikasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kelarutan lapisan padatan tersebut, sehingga meningkatkan ketersediaan substrat untuk bakteri. Saponifikasi akan mengubah kandungan lemak menjadi sabun yang memiliki gugus fungsi polar maupun non-polar. Gugus fungsi yang bersifat polar akan meningkatkan kelarutan substrat dalam air. Studi ini mengevaluasi pengaruh dari berbagai dosis larutan basa yang ditambahkan sebagai reaktan selama perlakuan awal saponifikasi terhadap peruraian anaerobik limbah lemak susu. Kinetika proses peruraian anaerobik dianalisis dengan menggunakan model matematika. Variasi dosis yang diamati pengaruhnya untuk perlakuan awal saponifikasi adalah 0,04 mol basa/g sCOD; 0,02 mol basa/g sCOD; dan nol (tanpa perlakuan awal saponifikasi). Dari penelitian ini, terbukti bahwa saponifikasi berhasil meningkatkan kelarutan limbah lemak susu dan juga ditunjukkan oleh nilai konstanta hidrolisis (kH) 0,00782/hari lebih tinggi dua puluh kali lipat dibandingkan dengan nilai kH 0,00032/hari pada reaktor tanpa saponifikasi. Akan tetapi, penelitian ini juga mengindikasikan bahwa bakteri asidogenik bawaan substrat terhambat kinerjanya oleh paparan pH yang tinggi selama perlakuan awal saponifikasi berlangsung sehingga hasil gas metan yang diperoleh lebih rendah daripada reaktor kontrol
Pengaruh Penambahan Limestone terhadap Kuat Tekan Semen Portland Komposit
Cement is the main component of construction that makes it a significant commodity. Portland Composite Cement (PCC) is one of new cement variants that has similar characteristic to Portland Cement, but with better quality, more environmentally friendly and cheaper in price. The objective of this research is to understand the influence of limestone to the compressive strength of the cement and to determine the percentage of added limestone that gives maximum compressive strength to PPC. The limestone varies added to the cement are 0, 5, 10, 15, 20 and 25%. The impact of added limestone can be studied from several tests such as fineness test, residue test, chemical composition test and cement compressive strength. The result shows that the higher percentage of limestone added to the cement, the higher the result for residue test and fineness test, but lower result for compressive strength. The highest compressive strength obtained is at 2 days age while the best composition of the blended cement is 77% clinker, 15% limestone, 3% gypsum and 5% blast furnace slag. ABSTRAKSemen merupakan bahan dasar utama konstruksi bangunan. Hal ini menjadikan semen merupakan komoditi yang strategis. Portland Composite Cement (PCC) merupakan jenis semen varian baru yang mempunyai sifat dan karakteristik hampir sama dengan semen Portland. Namun semen jenis PCC ini mempunyai kualitas yang lebih baik, ramah lingkungan dan harga yang lebih ekonomis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan limestone dengan berbagai variasi terhadap kuat tekan dan menentukan massa limestone yang dapat memberikan kuat tekan maksimum pada semen Portland komposit. Pembuatan semen Portland komposit dilakukan dengan penambahan limestone sebagai aditif. Variasi limestone yang ditambakan adalah 0, 5, 10, 15, 20 dan 25%. Pengaruh penambahan limestone dapat diketahui dari hasil uji kehalusan, uji residu, uji komposisi kimia semen dan uji kuat tekan semen. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin besar persentase pemakaian limestone di dalam blended cement maka nilai residu dan nilai kehalusan akan semakin besar namun nilai kuat tekan akan semakin rendah. Kuat tekan semen yang tertinggi yaitu nilai kuat tekan pada umur 2 hari. Komposisi terbaik aditif limestone di dalam blended cement adalah 77% clinker, 15% limestone, 3% gypsum dan 5% blast furnace slag
Model Dispersi Gas dan Vapor Cloud Explosion pada Kebocoran Outlet Pigtail Tubes Primary Reformer
Outlet pigtail tubes, one of the components in primary reformer, have a function to carry the reformed gas from the catalyst tubes to the collection manifold. Moreover, it also has a function to provide the required flexibility within the system to avoid overstress at the end of connections of the pigtail to the manifold and to the bottom of the catalyst tube. It operates in an extreme condition with temperature range of 825-850 oC and pressure 36.2 kg/cm2 which is possible to initiate a failure. The consequences of outlet pigtail tubes failure are a dispersion of synthesis gas and vapor cloud explosion. This research aimed to make a model of those consequences with an assumption that the leakage hole was the same as the diameter of outlet pigtail tubes. The gas dispersion model used in this research was dense gas dispersion continuous release model. The results showed that the highest ratio of synthesis gas-air concentration was 0.1 at 17.4 m distance from leaking point. Whereas the lowest ratio of synthesis gas-air concentration was 0.002 at 163.4 m distance from leaking point. The highest ratio of the concentration of gas dispersion gave vapor cloud explosion energy of about 11.67 x 105 kJ with an overpressure of about 8.41 kPa. The overpressure caused a partial demolition of the building (for example control room), panels blow in, and fastening fails of equipment or machines around the area. A B S T R A KOutlet pigtail tubes adalah salah satu komponen pada primary reformer yang berfungsi untuk membawa gas hasil reforming dari tube katalis ke manifold. Selain itu outlet pigtail tubes juga berfungsi untuk memberikan fleksibilitas yang diperlukan di dalam sistem sehingga terhindar dari overstress di bagian akhir sambungan antara pigtail dengan manifold dan bagian bawah dari tube katalis. Outlet pigtail tubes beroperasi pada kondisi ekstrim yaitu suhu 825-850 oC dan tekanan 36,2 kg/cm2 yang mana memungkinkan untuk terjadinya kegagalan. Konsekuensi dari kegagalan outlet pigtail tubes adalah dispersi gas sintesis dan ledakan awan uap. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model dari konsekuensi tersebut dengan asumsi bahwa lubang kebocoran sama dengan diameter outlet pigtail tubes. Model dispersi gas yang digunakan dalam penelitian ini adalah model dispersi dense gas untuk pengeluaran yang kontinu. Hasil menunjukkan bahwa rasio konsentrasi gas sintesis-udara tertinggi adalah 0,1 pada jarak 17,4 meter, sedangkan rasio konsentrasi terendah adalah 0,002 pada jarak 163,4 meter. Konsentrasi tertinggi dari gas terdispersi memberikan energi untuk ledakan awan uap sebesar 11,67 x 105 kJ dengan overpressure sebesar 8,41 kPa. Overpressure tersebut menyebabkan kerusakan pada sebagian dari bangunan (sebagai contoh ruang kontrol), terlemparnya papan, dan mempercepat kegagalan dari peralatan atau mesin di sekitar area
Kajian Dampak Lingkungan pada Sistem Produksi Listrik dari Limbah Buah Menggunakan Life Cycle Assessment
A B S T R A C TProducing biogas by anaerobic digestion (AD) is a promising process that can simultaneously provide renewable energy and dispose solid waste safely. However, this process could affect environment e.g. due to greenhouse gas emissions. By life cycle assessment (LCA), we assessed the environmental impact (EI) of an integrated fruit waste-based biogas system and its subsystems of Biogas Power Plant Gamping. Data were collected from an actual plant in Gamping, Sleman, Yogyakarta, Indonesia that adopted a wet AD process at mesophilic condition. The results showed that the global warming potential (GWP) emission of the system reached 81.95 kgCO2-eq/t, and the acidification potential (AP), eutrophication potential (EP), human toxicity potential (HTPinf) and fresh water ecotoxicity (FAETPinf) emissions were low. The EI was mainly generated by two subsystems, namely, the electricity generation and the digestate storage. A comparison analysis showed that the GWP become the main contributor of environmental loads produced by Biogas Plant Gamping, Suazhou Biogas Model, Opatokun Biogas Model, Opatokun Pyrolisis Model, dan Opatokun Integrated System Anaerobic Digestion and Pyrolisis. The GWP impact control and reduction could significantly reduce the EI of the system. It has been shown that improving the technology of the process, the electricity generation and the digestate storage will result in the reduction of EI of the biogas system.Keywords: environmental impact; fruit waste; life cycle assessment (LCA); renewable energyA B S T R A KProduksi listrik dari biogas dengan anaerobic digestion (AD) merupakan proses yang menjanjikan karena dapat menghasilkan energi listrik dan penanganan limbah padat dengan aman. Namun, proses ini mempengaruhi lingkungan akibat emisi gas rumah kaca. Penilaian dampak lingkungan (environmental impact atau EI) sistem biogas berbasis limbah terpadu dan subsistemnya terhadap Biogas Power Plant Gamping (BPG) dilakukan dengan metode life cycle assesement atau LCA. Data dikumpulkan dari plant yang sebenarnya di Gamping, Sleman, Yogyakarta, Indonesia yang mengadopsi proses AD basah pada kondisi mesofilik. Potensi pemanasan global (global warming potential atau GWP) dari sistem mencapai 81,95 kgCO2-eq/t, sedangkan potensi keasaman (acidification potential atau AP), potensi eutrofikasi (eutrophication potential atau EP), potensi toksisitas manusia (human toxicity potential atau HTPinf) dan ekotoksisitas air (fresh water ecotoxicity atau FAETPinf) potensi emisinya cukup rendah. Potensi EI terutama dihasilkan oleh dua subsistem, yaitu, pembangkit listrik dan penyimpanan digestate. Analisis perbandingan menunjukkan bahwa dampak GWP menjadi kontributor utama dari beban lingkungan yang dihasilkan oleh Biogas Plant Gamping, biogas model Suazhou, biogas model Opatokun, model pirolisis Opatokun, serta model integrasi AD dan pirolisis Opatokun. Pengendalian dan pengurangan dampak GWP secara signifikan dapat mengurangi EI dari sistem. Telah terbukti bahwa peningkatkan teknologi proses, pembangkit listrik dan penyimpanan digestate akan menghasilkan pengurangan EI dari sistem biogas.Kata kunci: dampak lingkungan; energi terbarukan; life cycle assessment (LCA); limbah bua