Jurnal Rekayasa Proses
Not a member yet
238 research outputs found
Sort by
Komputasi Dinamika Fluida pada T-Mikro Mixer
Fluid diffusion can occur effectively if a high gradient concentration exists in every part of the fluid. This can be achieved by decreasing the cross section area of the channel into micro size. The miniatur size of micro mixer can be very effective for molecular diffusion in the mixing process. In this research, the modeling of mixing and heat transfer in the passive micro mixer was conducted. T-shaped mixer was chosen as micro mixer. Water was used as medium and passive tracers were added to differentiate water profile from two different inlets. Mixing and heat transfer profiles inside the T-micro mixer were observed. The computational fluid dynamics (CFD) modeling of mixing and heat transfer in the T-micro mixer was completed by ANSYS®. The effect of geometry and average input velocity of fluids on mixing process were observed. The result of this research included: (1) When the laminar flow is the dominant flow (Re is 25), the tracer mixing is not particularly seen. The tracer mixing is observed when the average velocity is increased (Re increases), (2) The heat flux to the wall (4.85x10-6 Watt/m2) occurred when T–micro mixer is no longer isothermal, (3) The scale–up to factor ten does not necessarily improve the mixing performance (Re is kept constant), and (4) When the shape of cross section is changed to circle (cross section area is kept constant), the mixing performance is not necessarily improved.ABSTRAKDifusi fluida dapat berjalan secara efektif jika memiliki gradien konsentrasi yang tinggi pada setiap bagian fluida. Hal ini dapat dicapai dengan memperkecil luas penampang pipa/unit proses menjadi ukuran mikro. Ukuran yang kecil pada mikro mixer menyebabkan difusi molekuler menjadi sangat efektif pada proses pencampuran. Pada penelitian ini, pemodelan untuk proses pencampuran dan perpindahan panas pada mikro mixer pasif dilakukan. Mikro mixer yang dipilih adalah jenis mixer berbentuk T (T –mikro mixer). Air digunakan sebagai medium dan tracer pasif kemudian dimasukkan untuk membedakan profil air yang berasal dari dua inlet yang berbeda. Profil pencampuran dan perpindahan panas dalam T–mikro mixer ini kemudian diamati. Pemodelan komputasi dinamika fluida pada T–mikro mixer dilakukan dengan menggunakan program ANSYS®. Efek geometri T – mikro mixer dan kecepatan fluida masuk diobservasi selama proses pencampuran. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah: (1) Pada saat kondisi aliran laminar dengan Re = 25, terlihat tidak ada proces pencampuran tracer (tracer mixing). Pencampuran tracer terlihat ketika laju alir dinaikkan (Re meningkat), (2) Flux perpindahan panas keluar sistem sebesar 4,85x10-6 Watt/m2ketika kondisi T – mikro mixer tidak lagi dijaga isotermal, (3) Peningkatan kinerja pencampuran juga tidak terlihat ketika T – mikro mixer dilakukan scale-up sepuluh kali lebih besar dari referensi (Re dijaga konstan), dan (4) Ketika bentuk penampang diganti dari segi empat menjadi lingkaran (luas penampang dijaga konstan), kinerja pencampuran tidak menjadi lebih baik
Pengaruh Steam Pretreatment terhadap Degradasi Selulosa dan Limonen pada Limbah Jeruk dalam Produksi Biohidrogen
This research presents the influence of steam pretreatment to orange waste and its effect on the production of biohydrogen. The steam pretreatments with various times of 2, 4, and 6 hours were applied to the samples. After the pretreatment, the samples were fermented for seven days, and the contents of cellulose, limonene, volatile fatty acid (VFA), and hydrogen were assessed on the days of 1, 2, 3, 5 and 7. Kinetic parameters of hydrogen production were evaluated using the modified Gompertz`s equation. The result of this research showed that the steam pretreatment significantly reduced the cellulose and limonene compounds. The content of cellulose in the substrate after 2, 4 and 6 hours pretreatment were 37.08%; 36.63%; and 15.95%, respectively. Moreover, the content of limonene after pretreatment of 2, 4, and 6 hours were 57.44 ppm; 38.80 ppm; and 36.11 ppm, respectively. Analysis of kinetic parameters of production of hydrogen showed that the maximum productions of hydrogen (Hmax) in the samples after pretreatment of 2, 4, and 6 hours were 11.492 mL; 52.612 mL; 22.345 mL, respectively. The maximum production rates (Rm) at specified pretreatment time (2, 4, and 6 hours) were 9.888 mL H2/hour; 10.008 mL H2/hour; 12.982 mL H2/hour and the lag phases were 49.689 hours; 24.742 hours; and 24.885 hours. The study elucidated that applying pretreatment for 4 hours gives the optimum condition for hydrogen production. A B S T R A KPenelitian ini mempelajari pengaruh steam pretreatment terhadap limonen dan selulosa yang terkandung pada limbah jeruk, dengan mengevaluasi dampaknya terhadap produksi biohidrogen. Steam pretreatment dilakukan dalam 3 variasi waktu, yaitu 2, 4 dan 6 jam. Kemudian proses fermentasi dijalankan selama 7 hari dengan pengambilan sampel dilakukan pada hari ke 1, 2, 3, 5 dan 7. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa steam distillation yang dilakukan untuk pretreatment pada substrat jeruk berpengaruh terhadap kondisi substrat, yaitu mengurangi kadar selulosa dan limonen. Kadar selulosa pada substrat setelah pretreatment 2 jam adalah 37,08%; 4 jam 36,63%; dan 6 jam 15,95%. Sementara kadar limonen setelah pretreatment 2, 4 dan 6 jam berturut-turut 57,44 ppm; 38,80 ppm; dan 36,11 ppm. Konstanta kinetika produksi hidrogen pada sampel dengan pretreatment 2, 4 dan 6 jam yang diperoleh dengan persamaan Gompertz termodifikasi adalah potensi produksi hidrogen (Hmaks) 11,492 mL; 52,612 mL; 22,345 mL, laju produksi maksimum (Rm) 9,888 mL H2/jam; 10,008 mL H2/jam; 12,982 mL H2/jam serta waktu adaptasi 49,689; 24,742; dan 24,885 jam. Perlakuan pretreatment pada sampel selama 4 jam menghasilkan produk paling optimal
Perbandingan Kinerja Penyetelan Hagglund-Astorm dan Tyreus-Luyben pada Sistem Kendali Pendinginan Susu
A B S T R A C TMilk cooling process is one of the most important milk processing steps after milk extraction process. Milk cooling process is carried out to inhibit the microbial growth. The milk is cooled from room temperature to 4 °C. Generally, this process is performed in batch installation. In this research, continuous milk cooling would be simulated. First, the model of the system was derived from the mass and heat balance. The simulation results were then identified using the System Identification Toolbox (SIT) on Matlab. System Identification Toolbox was used to build the mathematical models of dynamic system based on measured input and output data. The result of system identification is useful for setting control and stability analysis. The milk cooling system was then controlled by Proportional Integral (PI) Control. There are two kinds of tuning methods that will be analyzed. These are Hagglund-Astorm method and Tyreus-Luyben. The results showed that the control performance tuned using the Tyreus-Luyben method was better than the Hagglund-Astorm method from the criteria of its SSE (sum squared of error).Keywords: control; proportional integral; system identification; tuningA B S T R A KProses pengolahan susu yang sangat penting setelah pemerahan adalah proses pendinginan. Proses pendinginan susu digunakan untuk menghambat perkembangbiakan mikrobia. Susu didinginkan dari suhu kamar sampai 4 °C. Umumnya proses ini dilakukan secara batch pada instalasi di koperasi susu. Dalam penelitian ini, disimulasikan sistem pengendalian suhu susu secara kontinu. Model sistem diperoleh dari penurunan neraca massa dan panas. Hasil simulasi kemudian diidentifikasi dengan menggunakan System Identification Toolbox pada Matlab. System Identification Toolbox digunakan untuk menyusun model matematis dari sistem dinamis berdasarkan data input dan output yang diukur. Hasil identifikasi sistem berguna untuk penyetelan pengendali maupun analisis kestabilan. Sistem pendinginan susu kemudian dikendalikan dengan Proportional Intergral (PI) Control. Metode penyetelan yang dianalisis ada dua macam yaitu metode Hagglund-Astorm dan metode Tyreus-Luyben. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kinerja pengendali yang disetel menggunakan metode Tyreus-Luyben lebih baik dibandingkan dengan metode Hagglund-Astorm dilihat dari kriteria SSE nya.Kata kunci: identifikasi sistem; pengendalian; proportional integral; tunin
Pengurangan Zat Warna Remazol Red Rb Menggunakan Metode Elektrokoagulasi Secara Batch
Batik is one of the distinctive cultural chacteristic of the Indonesian national that has gained recognition from UNESCO. Batik industries have grown rapidly. However, the activity industry produces liquid, especially from batik’s dyeing processes.. The conventional method which is used for processing wastewater still has limitation so that an innovation method wastewater treatment is need for example electrocoagulation. Electrocoagulation is a process of coagulation using unidirectional electrics current through electro-chemical process. In this work, electrocoagulation was employed to treat wastewater (synthetic dyes remazol red (Rb) as wastewater model). The method was carried out by varying the distance between electrode distance and electrical voltage. Variation of distance between electrode range were 2 cm and 3 cm while variation of electrical voltage range were 10 volt and 15 volt. To determine the effect of electrode distance and electrical voltage on treatsment performances the chemical oxygen demand(COD), total suspended solid (TSS) and waste color. The samples were taken at 10 minutes, 20 minutes, 40 minutes and 60 minutes during the process. The results showed that the distance of the electrode and the voltage affected to thr reduction of COD, TSS and waste color. The optimum elecrode distance and voltage in this research were 2 cm and 10 volt. The research showed the decrease in COD concentration from 428 mg/L to 54 mg/L, TSS concentration from 850 mg/L to 277 mg/L and the decrease in waste color from 2733 PtCo to 75,5 PtCo. ABSTRAKBatik merupakan salah satu ciri budaya khas bangsa Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Industri batik mengalami pertumbuhan cukup pesat. Aktivitas produksi dalam industri semakin meningkat menyebabkan limbah cair terutama dari proses pewarnaan semakin banyak. Metode konvensional untuk pengolahan limbah cair masih memiliki kekurangan sehingga memerluka metode pengolahan limbah alternatif, yaitu metode elektrokoagulasi. Proses elektrokoagulasi merupakan suatu proses koagulasi dengan menggunakan arus listrik searah melalui proses elektrokimia. Proses elektrokoagulasi dilakukan dengan memvariasikan tegangan listrik dan jarak antar elektroda yaitu 10 volt dan 15 volt serta 2 cm dan 3 cm. Untuk mengetahui pengaruh tegangan listrik dan jarak antar elektroda maka dilakukan pengukuran COD, TSS dan Warna dimana sampel diambil setiap 10 menit, 20 menit, 40 menit dan 60 menit lalu dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tegangan listrik dan jarak antar elektroda memberikan pengaruh terhadap penurunan COD, TSS dan Warna pada limbah cair sintetis Remazol Red RB. Jarak antar elektroda dan tegangan listrik yang optimum pada penelitian ini yaitu 2 cm dan 10 volt dengan penurunan konsentrasi COD yang pada awalnya 428 mg/L menjadi 54 mg/L, penurunan TSS yang pada awalnya 850 mg/L menjadi 277 mg/L dan penurunan Warna yang pada awalnya sebesar 2733 PtCo menjadi 75,5 PtCo
Recovery Ion Hg2+ dari Limbah Cair Industri Penambangan Emas Rakyat dengan Metode Presipitasi Sulfida dan Hidroksida
Unlicensed gold mining activities using mercury (Hg) as a gold element binder is called the amalgamation process. Mercury is a heavy metal and categorized as toxic material. The use of mercury can potentially cause a pollution in environment, especially the aquatic system. For overcoming the heavy metals of mercury in liquid waste, it needs an alternative wastewater treatment method e.g. chemical precipitation. This study is aimed to recover Hg2+ ions from liquid wastes by using sulphide precipitation and hydroxide methods. This research studied the effect of pH on Hg2+ ions which is deposited in the precipitation process and evaluated the rate of Hg2+ precipitation formation. Precipitation was carried out by using sodium sulphide (Na2S) 0.3 M and Ca(OH)2 0.004 M as a precipitation agent with a rapid mixing speed for about 200 rpm for 3 minutes and continued with slow mixing for about 40 rpm for 30 minutes. Then, the liquid sample was left for 24 hours to precipitate. The results showed that precipitation method by using Na2S solution can decrease the content of Hg in HgCl2 synthetic waste. Optimum mass of HgS precipitate of 0.046 g was achieved at pH 9 with a removal efficiency percentage up to 99.81%. The rate of formation of HgS precipitate is 0.4mg/ hour. While, hydroxide precipitation method can decrease mercury level up to 90.11% at pH 12 and mass of Hg (OH)2 precipitate obtained is 0.28 g. However, the result of EDX analysis of the precipitate of Hg (OH)2 showed that the content of Hg precipitate is still low at 0.28 wt.%. A B S T R A KKegiatan penambangan emas rakyat tanpa izin (PETI) dengan menggunakan merkuri (Hg) sebagai pengikat unsur emas disebut proses amalgamasi. Merkuri merupakan logam berat yang bersifat racun. Penggunaan merkuri ini berpotensi menimbulkan pencemaran di lingkungan sekitar, terutama lingkungan perairan. Untuk penanganan logam berat merkuri dalam limbah cair ini, maka diperlukan sebuah metode pengolahan limbah alternatif, yaitu metode presipitasi kimia. Penelitian ini bertujuan untuk me-recovery ion Hg2+ dari limbah cair dengan metode presipitasi sulfida dan hidroksida. Selain itu mempelajari pengaruh pH terhadap ion Hg2+ yang terendapkan dalam proses presipitasi dan mengetahui laju pembentukan endapan Hg. Presipitasi dilakukan dengan menggunakan natrium sulfida (Na2S) 0,3 M dan Ca(OH)2 0,004 M sebagai agen presipitan dengan pengadukan cepat 200 rpm selama 3 menit dan dilanjutkan dengan pengadukan lambat 40 rpm selama 30 menit. Larutan sampel didiamkan selama 24 jam untuk mengendapkan presipitat yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode presipitasi menggunakan larutan Na2S dapat menurunkan kadar Hg pada limbah sintetik HgCl2. Massa endapan HgS optimum sebesar 0,046 g larutan dicapai pada pH 9 dengan persentase efisiensi penyisihan hingga 99,81 %. Laju pembentukan endapan HgS diperoleh sebesar 0,4 mg/jam. Sedangkan metode presipitasi hidroksida dapat menurunkan kadar merkuri hingga 90,11% pada pH 12 dengan massa endapan Hg(OH)2 yang diperoleh adalah 0,28 g. Akan tetapi hasil analisis EDX endapan Hg(OH)2 memperlihatkan bahwa kandungan Hg dalam endapan tersebut masih sangat kecil yaitu sebesar 0,28%
Aplikasi Koagulan Biji Asam Jawa dalam Penurunan Konsentrasi Zat Warna Drimaren Red pada Limbah Tekstil Sintetik pada Berbagai Variasi Operasi
A B S T R A C TSince textile industries use a lot of water in their processes, a huge volume of waste water containing dyes are produced by the increase of the production capacity. Coagulation and flocculation are the common processes applied since they can effectively decrease the dye concentration in the waste water. These treatments usually utilize chemical coagulant and flocculant which are expensive and non-biodegradable. In this research, tamarind seed as one of biobased-coagulants was studied and developed to reduce drimaren dark red HF-CD concentration which is used widely in textile industry in the synthetic waste water. The research was designed using Design Expert 7.0.0, Central Composite Design with range of variables as follows: pH (2-7), tamarind seed concentration (1-3 g/L), and dye concentration (20-30 ppm). The result shows a promising application of natural coagulant up to 94.25% decrease of dye concentration in the optimum condition of 3.68 g/L tamarind seed concentration, 25 ppm dye concentration and pH value of 4.5.Keywords: coagulation; dye concentration acid; natural coagulant; tamarind seedsA B S T R A KIndustri tekstil merupakan industri yang banyak menggunakan air dalam proses produksinya sehingga menghasilkan limbah yang mengandung zat warna tekstil dengan volume yang besar. Pengolahan yang umum digunakan untuk mengolah limbah tekstil ini adalah koagulasi dan flokulasi. Metode ini efektif dalam mengurangi konsentrasi zat warna pada air limbah. Koagulan yang digunakan pada penelitian ini adalah koagulan alami yang terbuat dari biji asam jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan kondisi optimum biji asam jawa sebagai koagulan alami dalam menurunkan konsentrasi zat warna pada limbah tekstil. Limbah tekstil yang digunakan merupakan limbah sintetik zat warna drimaren dark red HF-CD. Rancangan penelitian dibuat menggunakan Design Expert 7.0.0 metode central composite design dengan memvariasikan variabel pH (2-7), dosis koagulan (1-3 g/L), dan dosis zat warna (20-30 ppm). Kondisi terbaik yang didapat dari penelitian diperoleh pada pH 4,5, dosis koagulan 3,68 g/L, dosis zat warna 25 ppm dengan hasil persen penurunan konsentrasi zat warna sebesar 94,29%.Kata kunci: biji asam jawa; koagulasi; koagulan alami; konsentrasi zat warn
Pengaruh Suhu Operasi terhadap Penentuan Karakteristik Pengeringan Busa Sari Buah Tomat Menggunakan Tray Dryer
A B S T R A C TFood damage can be caused by intrinsic and extrinsic factors. The causes of intrinsic factors involve water activity (aw) and moisture content, the level of maturity and the nature of the food material itself. Meanwhile, the causes of extrinsic factors were the air composition, temperature, pressure, population and microbial contamination. Drying is one of the most widely used preservative methods, namely by evaporating most of the water contained in food by heat energy. This work studied the effect of operating conditions on the characteristics of tomato drying using tray dryer with the addition of foaming agent albumin and carrier agent dextrin which function as foam stabilizer. Tomatoes used as raw materials were ripe tomatoes, fresh red, and the same relative diameter, not physiologically and mechanically damaged. In this work, tomatoes were sliced, crushed for 10 minutes using blender, separated from the seeds and the residues with a 60-mesh sieve, and then mixed with dextrin and foaming agent albumin each as much as 5% weight. The mixture was blended for 10 minutes. The tray dryer was filled with hot air at 2.0 m/sec with temperature variation of 40, 50, 60 or 70°C. The stainless-steel dish containing tomato paste with thickness of 2 mm or 4 mm was inserted to the dryer. The tomato paste was weighted every 5 minutes. It is found, at a thickness of 2 mm, the optimum drying occurred at a temperature of 70 ℃ with critical time, tc, for 0.92 hours, critical water content of the sample, Xc, 1.40 %, and constant drying rate, Rc, 897.12 kg/m2.hour. In drying operations of 4 mm thickness, optimum drying occurs at 50 ℃ temperature with critical time, tc, for 1.92 hours, critical water content of sample, Xc, 2.56 %, and constant drying rate, Rc, 175.52 kg/m2.hour.Keywords: cake thickness, drying rate, foaming agent, tomato, tray dryer.A B S T R A KTerjadinya kerusakan bahan pangan dapat disebabkan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Penyebab faktor intrinsik di antaranya aktivitas air (aw) dan kadar air, tingkat kematangan dan sifat bahan pangan itu sendiri. Sedangkan penyebab dari faktor ekstrinsik seperti komposisi udara, suhu, tekanan, populasi dan tingkat kontaminasi mikrobia. Pengeringan merupakan salah satu metode pengawetan yang paling banyak digunakan, yaitu dengan cara menguapkan sebagian besar air yang terkandung di dalam bahan pangan dengan menggunakan energi panas. Penelitian ini mempelajari karakteristik pengeringan busa sari buah tomat menggunakan tray dryer dengan penambahan foaming agent albumin dan carrier agent dextrin yang berfungsi sebagai foam stabilizer. Tomat yang digunakan sebagai bahan baku adalah tomat matang, merah segar, diameter relatif sama, tidak rusak secara fisiologis dan mekanis. Di dalam penelitian ini, tomat diiris dan dihaluskan menggunakan blender selama 10 menit. Biji dan ampasnya dipisahkan dari bubur tomat dengan ayakan berukuran 60 mesh. Kemudian bubur tomat dicampurkan dextrin dan foaming agent albumin masing-masing sebanyak 5% berat. Campuran tersebut dihaluskan dengan blender selama 10 menit. Tray dryer dialiri udara panas dengan laju 2,0 m/detik dengan variasi temperatur 40, 50, 60 atau 70 oC. Loyang stainless steel yang berisi bubur tomat dengan ketebalan 2 mm atau 4 mm dimasukkan ke dalam tray dryer. Berat bubur tomat diukur setiap 5 menit. Hasil yang diperoleh, pada ketebalan 2 mm, pengeringan optimum terjadi pada temperatur 70 ℃ dengan waktu kritis, tc, selama 0,92 jam, kadar air kritis sampel, Xc, 1,40 %, dan laju pengeringan konstan, Rc, 897,12 kg/m2.jam. Pada operasi pengeringan dengan ketebalan 4 mm, pengeringan optimum terjadi pada temperatur 50 ℃ dengan waktu kritis, tc, selama 1,92 jam, kadar air kritis sampel, Xc, 2,56 %, dan laju pengeringan konstan, Rc, 175,52 kg/m2.jam.Kata kunci: foaming agent, ketebalan bubur, laju pengeringan, tomat, tray dryer
Evaluasi Nilai Difusivitas Ion Kalsium & Magnesium pada Proses "Low Salinity Waterflood" di Batuan Berea
In recent years Low Salinity Waterflood (LSW) had been supposed as trusty method to improve oil recovery and the most essential aspect is a alteration of divalent ion concentration in reservoir pore volume as a respon LSW. The objective of this paper are to find divalent diffusivity constant (Ca2+ and Mg2+) in berea sandstone by ionsmass conservation equation along with Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) as validation. The study was conducted at 2 berea core having porosity : 0.235 and 0.230 and permeability : 661 mD and 550 mD, we use synthetic formation water accordance to "LN" field property. Experiment was treated by by diluting Ca2+ up to 79% from its original value and by diluting Mg2+ up to 95% from its original value while other ion were maintained fit to their original value. As a result we got difusion constant 0.0620 cm2.min-1 and 0.2667 cm2.min-1for Ca2+ and Mg2+, respectively.ABSTRAKPenelitian mengenai metode low salinity waterflood (LSW) dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang cukup pesat. Salah satu aspek esensial dalam metode tersebut adalah respon perubahan konsentrasi ion divalent dalam ruang pori reservoir. Penelitan ini bertujuan mencari konstanta difusivitas ion kalsium dan magnesium pada batuan Berea sandstone. Konstanta difusivitas dihitung menggunakan persamaan konservasi massa dan ditinjau secara difusi yang divalidasi oleh atomic absorption spectroscopy (AAS). Penelitian dilakukan pada 2 batuan Berea dengan porositas masing-masing: 661 mD dan 550 mD. Air formasi dibuat secara sintetik sesuai data lapangan "LN". Eksperimen difusivitas Ca2+ dilakukan dengan pengenceran hingga 79% dari konsentrasi awal. Sedangkan eksperimen Mg2+ dilakukan dengan pengenceran hingga 95% dari konsentrasi awal. Sementara itu ion lain diatur tetap sesuai konsentrasi awal. Dari hasil percobaan didapat konstanta difusivitas Ca2+ sebesar 0,0620 cm2/menitdan Mg2+ sebesar 0,2667 cm2/menit
Seleksi Isolat Bakteri Amilolitik dari Rhizosfer Canna edulis, Kerr. untuk Produksi Poli Hidroksi Alkanoat dari Limbah Cair Tapioka
Petrochemical-based plastic waste accumulated in landfills have been posing serious threat to the environment as this kind of plastics are non-biodegradable. Replacing petrochemical-based plastics with biodegradable plastics constitutes a challenging solution both in terms of mechanical design of the process and most importantly the availability of powerful local microorganism for the process. Therefore, the current study was searching for appropriate local microorganisms for poly hydroxyl alkanoate (PHA) production from starch waste, which was considered as one of cheap carbon sources. Waste water of cassava industry is a good resource of such starch waste water. The microbes were isolated from Canna edulis, Kerr. rhizosphere from Cangkringan. The expected isolates were the bacteria enable the coupling of carbon catabolic pathways with PHA anabolic pathways. It was found that ten isolates were able to use waste water of cassava flour industry as carbon source. The PHA quantitative analysis by spectrophotometer showed that the isolate of Bacillus sp. C8 produced the highest PHA of 2,095 g/L. Further FTIR analysis showed specific bands near 1363,67 cm-1, 1641,42 cm-1, 2929,87 cm-1, 3408,22 cm-1 wavelengths which revealed the presence of CH3, ester carbonyl group (C=O), C-H and terminal OH group of PHA. ABSTRAKAkumulasi sampah plastik berbasis petrokimia di tempat pembuangan sampah mengganggu lingkungan karena plastik sifatnya tidak mudah didegradasi secara biologi dan sangat tahan di lingkungan. Penggantian plastik yang berasal dari bahan petrokimia dengan bahan plastik yang mudah terdegradasi secara biologi merupakan tantangan tersendiri, baik dari sisi perancangan proses maupun ketersediaan mikrobia lokal yang sesuai untuk proses tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan bakteri lokal penghasil PHA yang mampu mengkonsumsi substrat berupa pati. Substrat pati dipilih karena ketersediaan limbat industri tapioka sebagai bahan baku potensial dan murah untuk produksi PHA. Bakteri amilolitik untuk produksi PHA telah berhasil diisolasi dari rhizosfer Canna edulis, Kerr. di Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Bakteri yang diisolasi merupakan bakteri dengan kemampuan memproduksi PHA dan memiliki kemampuan melakukan rangkaian reaksi pada limbah cair industri tapioka dan rangkaian reaksi pembentukan PHA. Telah berhasil didapatkan 10 bakteri yang memiliki aktivitas amilolitik dan dapat menghasilkan PHA menggunakan limbah cair industri tapioka. Analisis kuantitatif PHA menggunakan spektrofotometer menunjukkan bahwa isolat Bacillus sp. C8 menghasilkan PHA paling tinggi sebesar 2,095 mg/mL. Analisis hasil metabolism isolat C8 menggunakan FTIR memperlihatkan puncak spesifik 1363,67 cm-1, 1641,42 cm-1, 2929,87 cm-1, 3408,22 cm-1 adalah verifikasi adanya CH3, C=O, C-H dan OH dari PHA
Studi Kinetika Proses Atmospheric Pressure Acid Leaching Bijih Laterit Limonit Menggunakan Larutan Asam Nitrat Konsentrasi Rendah
A B S T R A C TKinetics study of atmospheric pressure acid leaching (APAL) process is indispensable for extractor design in an industrial scale. So far, the kinetic model used for this process is the shrinking core model. In this study, the shrinking core model was evaluated against experimental data for laterite leaching process using a solution of low concentration nitric acid (0.1 M). Variations in temperature and particle size were carried out at 303–358 K and <75–250 microns. Other operating conditions, such as pulp density, stirring speed, and time were kept at 20% w/v, 200 rpm, and 120 minutes, respectively. The model evaluation results showed that the shrinking core model was not suitable for this process because the process controlling stage is not just one stage only.Keywords: kinetics; laterite; leaching; shrinking core.A B S T R A KStudi terkait kinetika proses atmospheric pressure acid leaching (APAL) sangat diperlukan untuk proses perancangan ekstraktor dalam skala industri. Selama ini, model kinetika yang digunakan untuk proses tersebut adalah model shrinking core. Dalam studi ini, model shrinking core dievaluasi terhadap data percobaan proses leaching bijih laterit dengan menggunakan larutan asam nitrat konsentrasi rendah, 0,1 M. Variasi suhu dan ukuran partikel dilakukan pada 303–358 K dan <75–250 mikron. Kondisi operasi lainnya, seperti densitas pulp, kecepatan pengadukan, dan lama proses dijaga tetap pada 20%b/v, 200 rpm, dan 120 menit, secara berurutan. Hasil evaluasi model menunjukkan bahwa model shrinking core tidak cocok untuk proses ini karena tahapan pengendali proses tidak hanya satu tahapan saja.Kata kunci: kinetika; laterit; leaching; shrinking cor