Jurnal Sain Veteriner
Not a member yet
821 research outputs found
Sort by
Kajian Potensi Tanaman Herbal Antitrematodosis Berbasis Etnoveteriner Pada Ruminansia
Berbagai kendala dalam pengobatan trematodosis pada ruminansia menggunakan agen farmakologi sintetik mendorong penggunaan tanaman herbal berbasis etnoveteriner sebagai alternatif, termasuk di Nusa Tenggara Barat. Jumlah penelitian terkait potensi tanaman herbal sebagai antitrematodosis terus berkembang, namun kajian pustaka masih terbatas. Telaah literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran penelitian terkait potensi tanaman herbal antitrematodosis berbasis etnoveteriner pada ruminansia, khususnya pada limbah kulit nanas di Nusa Tenggara Barat. Telaah literatur terhadap sumber primer, review dan non riset menunjukkan 7 tanaman herbal yang berpotensi sebagai antifasciolosis dan antiparamphistomiasis (6 studi in vitro dan 1 in vivo). Limbah kulit nanas prospeltif untuk dikembangkan menjadi sedian antitrematodosis seperti granul dan tablet berdasarkan kajian pendahuluan pada aspek farmakologis dan farmasetik. Berdasarkan temuan dapat disimpulkan bahwa tanaman herbal berpotensi sebagai antitrematodosis berbasis etnoveteriner pada ruminansia, khususnya pada limbah kulit nanas di Nusa Tenggara Barat
Purifikasi dan Karakterisasi Imunoglobulin Yolk (IgY) terhadap Jembrana dari Telur Ayam sebagai Dasar Pengembangan Imunisasi Pasif
AbstrakPenyakit Jembrana adalah penyakit yang menyerang Sapi Bali (Bos javanicus) dengan penularan dan kematian yang tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh Jembrana Disease Virus (JDV) dari famili retroviridae. Pengendalian penyakit Jembrana di Indonesia menggunakan vaksin inaktif yang dibuat dari jaringan limfa sapi terinfeksi JDV sehingga produksinya sangat terbatas. Immunisasi pasif menggunakan antibodi terbukti mampu memberikan perlindungan terhadap berbagai infeksi. Ayam merupakan penghasil antibodi immunoglobulin yolk yang sangat baik. Tujuan penelitian ini adalah melakukan purifikasi dan karakterisasi IgY terhadap Jembrana untuk pengembangan imunisasi pasif. Sebanyak 15 ekor ayam white leghorn umur 24 minggu dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 disuntik dengan 1ml vaksin Jembrana, kelompok 2 disuntik dengan seed virus Jembrana, dan kelompok ke 3 adalah kontrol. Penyuntikan antigen Jembrana dilakukan dua kali dengan interval dua minggu. Telur mulai dikoleksi setelah satu minggu penyuntikan antigen pertama sampai minggu ke lima. Uji antibodi Jembrana dilakukan dengan metode Agarose Gel Precipitaion Test (AGPT). Purifikasi IgY dilakukan dengan pengendapan NaCl, sedangkan untuk melihat karakter IgY Jembrana menggunakan SDS PAGE. Pengendapan NaCl mampu menghasilkan IgY dengan mudah dan biaya yang murah. Pengujian AGPT menunjukkan bahwa IgY muncul pada kelompok ayam yang disuntik dengan vaksin Jembrana, dan tidak muncul pada kelompok yang disuntik dengan seed Jembrana. Pengujian SDS PAGE menunjukkan adanya pita protein dengan berat molekul 67 kDa yang merupakan rantai berat, 46 kDa yang merupakan fragmen Fab, dan 24 kDa yang merupakan rantai ringan
Efek Suplementasi Tepung Tulang Ikan Bandeng (Chanos chanos) dengan Metode Freeze Dry terhadap Performa Otot Ayam Bangkok (Gallus gallus domesticus)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung tulang ikan bandeng (Chanos chanos) yang dikeringbekukan menggunakan freeze-dry terhadap kadar testosteron pada otot pectoralis, bobot otot pectoralis, dan lingkar dada pada ayam bangkok (Gallus gallus domesticus). Penelitian ini menggunakan 10 ekor ayam bangkok jantan dengan umur 3-4 bulan yang terbagi menjadi dua kelompok perlakuan yaitu P0 (kontrol) dan P1 (tepung tulang ikan bandeng sebanyak 3,3 g/ekor/hari). Sebelum dilakukan penelitian dilakukan aklimatisasi selama 7 hari dan tepung tulang bandeng yang sudah dicampurkan dengan pakan diberikan setiap hari secara oral selama 35 hari. Pengukuran lingkar dada ayam bangkok dilakukan pada hari ke 7, 14, 21, 28, dan 35. Pada akhir penelitian ayam dinekropsi, kemudian dilakukan penimbangan otot pectoralis dan sampel homogenat otot pectoralis disentrifugasi dingin. Selanjutnya supernatan dikoleksi dan dianalisis menggunakan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mengetahui kadar testosteron pada otot pectoralis. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan independent sample T-Test dengan bantuan SPPS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (Sig. (2-tailed) < 0,05) pada kadar hormon testosteron otot pectoralis, bobot otot pectoralis dan lingkar dada ayam bangkok. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung tulang ikan bandeng dengan metode freeze-dry dengan dosis 3,3 g/ekor/hari secara oral selama 35 hari dapat meningkatkan kadar testosteron pada otot pectoralis, bobot otot pectoralis dan lingkar dada pada ayam bangkok
Efek Penambahan Antioksidan Selenium, Kurkumin dan Kombinasinya Terhadap Motilitas, Recovery Rate dan Viabilitas Spermatozoa pada Kriopreservasi Semen Sapi Peranakan Ongole
Salah satu kendala dalam pelaksanaan kriopreservasi semen adalah tingginya kadar reactive oxygen species (ROS) yang dapat menyebabkan reduksi pada motilitas sperma dan viabilitas sperma post thawing. Strategi untuk mengatasi tingginya kadar ROS adalah dengan menambahkan antioksidan pada pengencer selama proses kriopreservasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan antioksidan selenium dan kurkumin dalam menurunkan stress oksidatif pada proses kriopreservasi semen sapi peranakan ongole (PO). Penelitian ini menggunakan semen yang dikoleksi dari sapi PO dengan vagina buatan. Sampel semen yang ditampung diperiksa secara mikroskopis dan makroskopis kemudian dibagi menjadi 4 perlakuan yaitu kontrol, penambahan selenium (sodium selenite) dengan konsentrasi 50 µM, kurkumin 10 µM dan kombinasi antara selenium 50 µM dengan kurkumin 10 µM. Semen yang telah dicampur dengan pengencer dan antioksidan kemudian dibekukan dalam proses kriopreservasi, selanjutnya parameter yang diamati meliputi pemeriksaan motilitas sperma, recovery rate dan viabilitas sperma. Semua parameter dianalisis statistika menggunakan One Way ANNOVA dan uji DMRT. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kurkumin 10 µM memiliki nilai motilitas 48.00 ± 4.47%, recovery rate 66.66 ± 5.54% dan viabilitas 67.00 ± 4.30%, sedangkan perlakuan selenium 50 µM memiliki nilai presentase motilitas 46,00 ± 4,18%, recovery rate 63.90 ± 5.59% dan viabilitas 64.00 ± 3.93%. Pemanfaatan kombinasi kurkumin dan selenium tidak memberikan pengaruh yang nyata dibandingkan dengan kontrol. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan antioksidan kurkumin dan selenium bermanfaat dalam mempertahankan kualitas sperma sapi PO, namun perlakuan kombinasi kurang baik dalam mempertahankan kualitas sperma
Prevalensi dan Tingkat Resistansi Silang Golongan Kuinolon Pada Escherichia coli Asal Usap Kloaka Ayam Layer
Escherichia colimerupakan bakteri komensal yang digunakan sebagai parameter monitoring resistansi pada hewan maupun manusia. Selain bersifat komensal, terdapat juga E. coli patogen yang dapatmenginfeksi pada hewan dan manusia. Resistansi E. coli terhadap golongan antibiotik kuinolon berpotensi semakin meningkat. Namun demikian, belum banyak diketahui mengenai tingkat resistansi silang golongan kuinolon pada E. coli patogen khususnya pada ayam layer. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui prevalensi resistansi E. coli pada beberapa jenis kuinolon dan tingkat resistansi silang antar golongan kuinolon dari E. coli asal ayam layer. Sebanyak 360 isolat E. coli asal usap kloaka ayam layer arsip Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) tahun 2022 dari delapan provinsi diuji kepekaan terhadap siprofloksasin, norfloksasin, enrofloksasin, flumekuin, serta marbofloksasin, dan diuji patogenesitasnya. Uji kepekaan dilakukan dengan menggunakan metode dilusi agar. Prevalensi E. coli resistan terhadap siprofloksasin adalah 45,00% (CI 95%; CI 39,94% - 50,16%), norfloksasin 38,33% (CI 95%; CL 33,46% - 43,45%), enrofloksasin 44,72% (CI 95%; CL 39,67% - 49,89%), flumekuin 42,22%(CI 95%; CL 37,23% - 47,38%), dan marbofloksasin 42,22% (CI 95%; CL 37,23% - 47,38%). Sebanyak 160 (44,44%) merupakan isolat E. coli multiresistan. Tingkatresistansi silang kuinolon dievaluasi dengan statistik kappa (k) berdasarkan resistansi siprofloksasin terhadap norfloksasin, enrofloksasin, flumekuin, dan marbofloksasin. Nilai (k) resistansi silang siprofloksasin terhadap empat kuinolon yang lain adalah 0,86-0,99. Hal ini menunjukkan tingginya resistansi silang dalam golongan kuinolon. Adanya prevalensi resistansi dan silang kuinolon yang tinggi menunjukkan ancaman yang serius bagi tingkat efikasi antibiotik kuinolon.
Isolation, Identification, and Resistance Test of Escherichia coli to Antibiotics in Ujung Berung Broiler Poultry
Escherichia coli is commensal bacteria in the intestinal of broiler chickens with low virulence. However, mostly pathogenic and cause colibacillosis illness. Inappropriate use of antibiotics in broiler chickens has been widely reported. This research aims to determine the presence of E. coli contamination in the poultry environment and determine the levels of antibiotics resistance of erythromycin, doxycycline, oxytetracycline and neomycin. The research was carried out through isolation and identification of E. coli using EMB media, Gram staining, and biochemical tests. Then, an antibiotic resistance test was carried out using by Kirby-Bauer method. From a total of 10 samples (3 coops), 7 (70%) were positive for E. coli. The positive of 7 which for E. coli, 43% of the isolates came from fresh feces obtained from coops 1, 2, and 3; 43% of the isolates came from litter from coops 1, 2, and 3; and 14% of isolates from soil outside the coop 3. The antibiotic resistance results by Kirby-Bauer method showed that E. coli was 100% resistant to erythromycin, 100% to neomycin, 66.7% to doxycycline, and 66.7% to oxytetracycline throughout isolates from feces and litter. Other results showed that isolates from soil outside coop 3 showed resistance to all antibiotics. Taken together, we concluded the E. coli has been contamination which is proven by antibiotic resistance
Dampak Terapi Antibiotika Mastitis Periode Kering pada Sapi Perah
AbstrakPeriode kering pada sapi perah didefinisikan sebagai masa istirahat non laktasi sebelum melahirkan dengan tujuan utama meningkatkan produksi susu pada periode laktasi berikutnya. Saat ini secara umum antibiotika juga digunakan untuk terapi maupun pencegahan mastitis saat periode kering. Mastitis adalah salah satu penyakit menular yang paling penting pada sapi perah di seluruh dunia, bertanggung jawab atas kerugian ekonomi yang besar dan dampak negatif pada kesejahteraan sapi maupun manusia disebabkan oleh penurunan produksi susu. Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan produksi susu pada laktasi berikutnya adalah periode kering yang berkisar antara 40-60 hari sebelum melahirkan. Guna menghindari kejadian mastitis saat periode kering maka saat ini banyak digunakan antibiotika saat memasuki periode kering atau akhir periode kering. Saat ini, sebagian besar dari antibiotika yang digunakan dalam industri susu diterapkan untuk mengendalikan mastitis pada sapi perah periode kering. Banyak Negara menerapkan system pemberian antibiotika pada semua kwartir saat periode kering. Namun demikian penggunaan antibiotika tersebut meningkatkan kekhawatiran munculnya resistensi antibiotika. Tulisan ini akan mencoba mengulas secara sederhana dampak penggunaan antibiotika saat periode kering pada sapi perah.Kata kunci : mastitis; periode kering; antibiotika; resistens
Survei Infeksi Salmonella spp. pada Pasien Anjing dan Kucing di Klinik/Rumah Sakit Hewan Daerah Istimewa Yogyakarta
Salmonellosis is an infectious disease that is zoonotic and includes food borne disease. Salmonella spp. can also be found in pets so that it can be a source of transmission of Salmonellosis to humans. The purpose of this study was to determine the infection level of Salmonella spp. in dogs and cats in clinics/animal hospitals in the Special Region of Yogyakarta. A total of 250 rectal swabs from 83 dogs and 167 cats were taken in this study. Isolation and identification of Salmonella spp. using Xylose Lysine Deoxycholate (XLD), Triple Sugar Iron Agar (TSIA), and Lysine Iron Agar (LIA) media. The isolates were confirmed by Polymerase Chain Reaction (PCR)using a primer Forward primer (5'- GCT AAG TAT GAC ATT CCG GT -3') and reverse (5'- CCA AAG ACT ATC TGC GGA AT -3') eith targeting the STM2773 (IroB) gene. Information on the patient's medical history was obtained based on the anamnesis and questionnaire to the animal owner. Data analysis was descriptive statistics. A total of 32 isolates of Salmomella spp. obtained through conventional methods and as many as 30 samples (12%) confirmed Salmonella spp. using PCR. A total of 11 (13.25%) of 83 dogs and 19 (11.27%) of 167 cats were identified as positive for Salmonella spp. The results of this study indicated that 12% of pet animals in the Special Region of Yogyakarta were infected with Salmonella spp
Karakterisasi Molekuler dan Studi Filogenetik Virus African Swine Fever pada Kejadian Wabah di Sumatera Utara Tahun 2019 - 2023
African swine fever is a viral disease that causes hemorrhagic fever in domestic pigs and wild swine worldwide. The first case of ASF in Indonesia was reported in North Sumatra Province in September 2019. A total of 20 archival samples of positive ASF collected from the Animal Disease Investigation Center of Medan during the outbreak investigation took place from 2019 to 2023, were used in this study. The partial B646L gene (p72), the full sequence of the E183L gene (p54) and the central variable region (CVR) of the B602L gene were amplified, purified, then sequenced. Web-based BLAST program and MEGA XI software were used to analyze the nucleotide sequencing results. The results of molecular and phylogenetic characterization analysis revealed that the ASF virus that infected pigs in North Sumatra Province in 2019-2023 was belonged to genotype II. Analysis of the three genes (B646L, E183L and B602L) did not show changes in the nucleotide and amino acid sequences in the isolates in the last 5 years. No novel variants were found in the CVR gene B602L. CVR analysis showed that these ASF virus strain belonged to subgroup XXXII. The results of this study revealed that the ASF virus in North Sumatra Province has high homology with ASF virus isolates previously detected in China, Vietnam and East Leste in 2019
Populasi Mikroba Pada Saluran Cerna Ayam Pedaging yang diberi Probiotik dan Fitogenik sebagai Feed Additive dalam Ransum
The aim of this study was to evaluate the population of lactic acid bacteria and pathogenic bacteria (Escherichia coli) in the gastrointestinal tract (duodenum, jejunum, ileum and cecum) of broiler chickens aged 2, 4 and 6 weeks given probiotics and phytogenics in the diet. The study used 96 day old chicks (DOC) which were reared up to the age of six weeks. The study was conducted using an experimental method, using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four ration treatments and four replications. The ration treatments consisted of: R1 (basal ration/control), R2 (basal ration + probiotic), R3 (basal ration + phytogenic), and R4 (basal ration + probiotic + phytogenic). The variables observed were the population of lactic acid bacteria and pathogenic bacteria (Escherichia coli) in the gastrointestinal tract/intestine of broiler chickens (doudenum, jejunum, ileum and cecum) aged 2, 4 and 6 weeks. Data analysis was carried out with one-way variance and continued with Duncan's Multiple Range Test. The results showed that the use of probiotics and phytogenics as feed additives in the diet significantly (P<0.05) increased the of lactic acid bacteria population and decreased the Escherichia coli population in the gastrointestinal tract of broiler chickens aged 2, 4 and 6 weeks of the study. It was concluded that the use of probiotics and phytogenics as feed additives in the ration could have a positive effect on the gastrointestinal tract of broilers