Jurnal Sain Veteriner
Not a member yet
821 research outputs found
Sort by
STUDI INFEKSI NEMATODA GASTROINTESTINAL PADA KAMBING DAN DOMBA DI RUMAH POTONG HEWAN BANDA ACEH = STUDY OF GASTROINTESTINAL NEMATODES INVESTING GOATS AND SHEEP AT THE BANDA ACEH SLAUGTHERHOUSE
Telah dilakukan suatu penelitian untuk mengidentifikasi jenis-jenis parasit nematoda gastrointestinal yang menyerang kambing dan domba jantan lokal yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) Banda Aceh. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui jumlah masing-masing genus cacing yang menyerang kedua ternak tersebut. Masing-masing sebanyak 50 gastrointestinal kambing dan domba yang ada di RPH Banda Aceh ditentukan secara acak akan digunakan sebagai objek penelitian. Pemeriksaan terhadap cacing untuk keperluan identifikasi cacing nematoda gastrointestinal dilakukan setelah cacingcacing yang didapat dimasukkan ke dalam laktofenol selama 6 jam. Penentuan genus cacing nematoda gastrointestinal dilakukan sesuai dengan metode Soulsby (1982). Hasil identifikasi ternak kambing dan domba yang dipotong di RPH Banda Aceh menunjukkan bahwa kedua ternak tersebut sudah terinfestasi oleh cacing-cacing nematoda gastrointestinal. Adapun masingmasing genus untuk kambing adalah : Trichostrongylus spp, Oesophagustontum spp, Bunostomum spp, Chabertia spp, Trichuris spp dan Haemonchus spp. Sedangkan untuk domba cacing nematoda gastrointestinal dari genus: Gaigeria sp, Strongyloides spp, Bunostomum spp, Oesophagustomum spp, Haemonchus spp, Chabertia spp, dan Trichuris spp. Jumlah cacing nematoda gastrointestinal yang menyerang temak kambing sebanyak 514 ekor cacing sedangkan yang menyerang domba sebanyak 543 ekor cacing. Prilaku atau kebiasaan makan tidak signifikan (P > 0,05) terhadap jumlah cacing.nematoda gastrointestinal
SIMETIDN MENGHAMBAT ELIMINASI STJLFAMETOKSAZOL PADA KELINCI (Orydolagus cuniculus
Simetidin dilaporkan menghambat eliminasi banyak obat . lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh simetidin terhadap eliminasi sulfametoksazol pada kelinci. Penelitian menggunakan 20 ekor kelinci, sehat, umur ± 10 bulan, jenis kelamin jantan. Kelinei dibagi dalam 4 kelompoic, masingmasing 5 ekor. Kelompok I sebagai kelompok kontrol diinjeksi intramuskuler 25 mg sulfametoksazol. Kelompok II diinjeksi intramuskuler 25 mg sulfametoksazol, dengan praperlakuan 12,5 simetidin 30 menit sebelum injeksi. Kelompok III diinjeksi intramuskuler 25 mg sulfametoksazol, dengan praperlakuan 25 mg simetidin 30 menit sebelum injeksi. Kelompok IV diinjeksi intramuskuler 25 mg sulfametoksazol, dengan praperlakuan 50 mg simetidin 30 menit sebelum injeksi. Satu mililiter sarnpel darah diarnbii pada jam ke0,25; 0,75; 1,75, 3,75; 10 dan 24 setelah injeksi sulfametoksazol. Kadar sulfametoksRzol dianalisis dengan metode Bratton-Marshall. Hasil parameter farmakokinetik eliminasi dianalisis secara statistik menggunakan anava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simetidin secara signifikan menunrunkan nilai kbrens total sulfametoksazol (
AKTIVITAS SEKRESI REACTIVE OXYGEN INTERMEDIATE (ROI) PADA MAKROFAG PERITONEUM KUCING YANG DIINFEKSI DENGAN M.Tuberculosis
THE EVIDENCE OF VIRUS-LIKE PARTICLES IN CRABS (Scylla sp.) ISOLATED FROM INSIDEAND OUTSIDE POND SHRIMP INFECTED WITH WHITE SPOT DISEASE
The crabs (Scylla sp.) were investigated for the contamination of Whitespot Baculovirus (WSBV) due to they lived inside and outside pond when the disease outbreak. The 6 samples of crabs, all of them were contaminated by WSBV with the founding of virus-like particles in hyperthrophied nuclei and cytoplasm. The size of virus-like particles is 65 ± 10 nm in diameter and 145 + 10 rim in length. We suggest that crabs has a big role in the transmitting the disease in pond an acting as a host for some crustacean virus. Key words : Crabs, Scylla sp., Whitespot Baculoviru
IDENTIFIKASI VIRUS AVIAN INFECTIOUS BRONCHITIS YANG DIISOLASI DARI YOGYAKARTA DENGAN REVERSE TRANSCRIPTASE POLYMERASE CHAIN REACTION GEN PEPLOMER S-1
PERBANDINGAN EFEK ANESTETIKA NEMBUTAL DAN KOMBINASI SILAZIN-NEMBUTAL TERHADAP KADAR GLUTATION REDUKTASE PADA ANJING
Identifikasi Leptin setelah Luka Irisan padaTikus yang Diberi Pakan Lemak Tinggi
Leptin is a hormone produced by adipocytes and plays an important role in wound healing. The objectives of this research were to identify leptin and total leukocyte after incision on rat fed high fat diet and zinc topicalapplication. Sixteen male Sprague Dawley rats at 3 months of age were used in this study. Rats were randomly allotted into 4 groups (A,B,C and D) of 4. Rats in group A and B were fed normal diet, while rats in group C and D were fed high fat diet. After 2 months of treatment, skin incision was done at the back side of the rat. Incision wound was then closed with single interrupted suture. The wound of the rats in group A and C was treated with vaseline, while in group B and D was treated with zinc 10%. Three days after surgery, blood was collected from each rat for leptin analysis and total leukocyte. Leptin level and total leukocyte were analyzed statistically using ANOVA for factorial experiment (2x2). The results showed that leptin level was significantly higher in rats fedhigh fat diet compared to that of the rats fed normal diet (P<0.05). There was no significant different on total leukocyte. Therefore, it was concluded that leptin level was affected by diet, while total leukocyte was notaffected neither by diet nor topical application. However, total leukocyte tends to be lowered in the rat with zinc topical application.Keywords: high fat diet, leptin, zinc, total leucocyte, Sprague Dawley ratsLeptin merupakan hormon yang disintesis oleh sel lemak dan berperan dalam proses kesembuhan luka. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi leptin dan leukosit setelah luka irisan pada tikus yang diberi pakan lemak tinggi dan aplikasi topikal zinc. Penelitian ini menggunakan 16 ekor tikus Sprague Dawley jantan berumur tiga bulan (150-200 g). Tikus dibagi secara acak menjadi empat kelompok (A, B, C, dan D), masingmasing terdiri dari empat ekor. Kelompok A dan B diberi pakan normal, sedangkan kelompok C dan D diberi pakan lemak tinggi. Setelah dua bulan perlakuan pakan, seluruh tikus dioperasi untuk membuat luka irisan pada kulit, kemudian luka ditutup kembali dengan jahitan. Pada kelompok A dan C, luka jahitan diberi aplikasi topikal vaselin (tanpa zinc), sedangkan pada kelompok B dan D, luka jahitan diberi aplikasi topikal zinc 10%. Tiga hari setelah operasi, tikus diambil darahnya untuk analisis kadar leptin dan leukosit total. Data leptin dan total leukosit dianalisa dengan ANOVA untuk faktorial eksperimen (2x2). Hasil penelitian menunjukkan kadar leptin secara signifikan lebih tinggi pada tikus yang diberi pakan lemak tinggi dibandingkan tikus yang diberipakan normal (P<0.05), sedangkan leukosit total tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Dengan demikian, kadar leptin pada hari ketiga setelah luka irisan dipengaruhi oleh pakan, yaitu pakan lemak tinggi dapat meningkatkan kadar leptin. Leukosit total tidak dipengaruhi oleh pakan dan aplikasi topikal, meskipun demikian, leukosit total cenderung lebih rendah pada tikus yang diberi aplikasi topikal zinc.Kata kunci: pakan lemak tinggi, leptin, zinc, leukosit total, tikus Sprague Dawle