Jurnal Sain Veteriner
Not a member yet
821 research outputs found
Sort by
STATUS MAKROMINERAL (Ca dAn P) DOMBA YANG TERINFESTASI RINGAN DAN BERAT CACING STRONGIL
Infestasi parasit gastlointestinal adalah salah satu penyebab defisiensi makromineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi status makrominera(Ca dan P ) pada domba yang terinfestasi ringan dan berat oleh cacing strongil. Tiga puluh tujuh (37) ekor domba lokal, jantan, umur +12 bulan di daerah Sleman digunakan dalam penelitian ini. Domba di kelompokkan menjadi kelompok yang terinfestasi ringan( 26 ekor) dan kelompoky ang terinfestasbi erat (10 ekor) cacings hongil. Pengelompokkan domba didasarkan pada pemeriksaan parasitologi terhadap jumlah telur cacing per gram tinja. Setiap domba pada masing-masing kelompok diambil sampel darah sebanyak 5 mL melalui vena jugularis, selanjutnya dipisahkan plasmanya. Pengambilan sampel darah dilakukan sebelum domba digembalakan atau diberi pakan. Plasma yang diperoleh disimpan pada suhu- 20'C sampai analisis mineral dilakukan. Analisis Ca dalam plasma dilakukan dengan metode o-Kresolpthalein Komplekson yang diuraikan oleh Ray Sarkerd an Chaunan( 1967), dan fosfat anorganik dalam plasma diperiksa dengan menggunakan metodef osfomolibdat( Kraft dan Duer, 1999). Pemeriksaan jumlah telur cacing dilakukan secara mikroskopik dengan menggunakan metode McMaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa(1) 97% domba lokal, jantan, dewasa(± 12 bulan) di daerah Sleman terinfestasi cacing strongil, (2) infestasi ringan ( 1.000 epg) cacing strongil pada domba tampaknya tidak menimbulkan gejala klinis atau gangguan patologis yang dapat mengganggu metabolisme makromineral( Ca dan P), dan (3) stafus domba yang terinfestasi ringan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan domba yang terinfestasi berat dan status makrominerapl ada kedua kelompok tersebut masih dalam batas nilai fisiologisnorm(Ca:9,65±0,29 d an 10,60 ±.0,46m g/dl dan (P:6,61r0,25dan6,76±0,38mg/dl). Kata kunci: makromineral, cacings trongil, domb
PRELIMINARY INVESTIGATION OF THE EFFECT OF DIFFERENT DOSES GNRH (GONADDOTROPIN RELEASING HORMON ) AND BOVINE LH (LISTERING HORMON) ON PLASMA LH AND TESTOSTERON CONCENTRATION IN MALE DOGS
Six male adult dogs were randomized into 2 equal groups. Groups 1, dogs wer
STRUKTUR HISTOLOGI KELENJAR LUDAH BURUNG WALET (Collocalia fusiphaga) DAN BURUNG GEREJA (Passer montanus)
Burung walet putih (Collocalia fusiphaga) mempunyai nilai ekonomi tinggi karena menghasilkan sarang dari cairan ludah yang mempunyai kandungan nutrisi tinggi. Burung tersebut termasuk burung liar, tidak dilindungi, tetapi habitat dan budidayanya diatur oleh pemerintah Indonesia demi pemanfaatan sebesar-besarnya untuk kesejahteraanrakyat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan struktur histologi pada burung walet (Collocalia fusiphaga) dengan burung gereja (Passer montanus) sebagai pembanding. Empat ekor burung walet dewasa dan empat ekor burung gereja dewasa, diambil rahang bawah (mandibula) dan lidahnya, dibuat preparat histologi pemotongan serial dengan ketebalan 5 um. Sampel diwarnai dengan metoda hematoksilin-eosin (HE) dan dan alcian blue-periodic acid schiff(AB-PAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tipe kelenjar ludah adalah tubulo alveolar kompleks yang mengandung mukosakarida bersifat asam. Kelenjar ludah burung walet tersebar merata disepanjang lapisan mukosa mandibula dan mukosa organ lidah. Distribusinya semakin sedikit ke arah ujung lidah kelenjar, dan kemudian menghilang di ujung lidah. Pada burung gereja, kelenjar ludah di lapisan mukosa mandibula hanya terdeteksi di lateraldan dorsolateral secara berkelompok, sedangkan pada organ lidah berada ditepi dorsal, dorso lateral dan ventrolateral.Kata kunci: burung walet (Collacolia fusiphaga), burung gereja (Passer montanus), kelenjar ludah, struktur histolog
STUDI METODE SCHIFF UNTUK DETEKSI KADAR FORMALIN PADA IKAN BANDENG LAUT (Chanos-chanos)
Penambahan zat pengawet berbahaya, formalin, pada bahan pangan telah terjadi di Indonesia. Deteksi formalin dengan larutan Schiff yang relatif murah dan mudah dilakukan pada ikan bandeng laut (Chanos chanos) yang dipapar dengan formalin dengan konsentrasi 0,03% (300 ppm), 0,04% (400 ppm), dan 0,05% (500 ppm) selama 1 jam.Sensitivitas dan spesifisitas Schiff untuk deteksi formalin dipelajari. Efek formalin terhadap ikan diamati baik pH, organoleptik dan gambaran histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan Schiff sangat sensitif dan spesifik (masing-masing sensitivitas dan spesifisitasnya 100%) untuk mendeteksi formalin dengan konsentrasi minimal 0,05%. Nilai pH ikan baik perlakuan maupun kontrol tidak berbedajauh. Nilai organoleptik menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi formalin. Formalin berpengaruh pada gambaran histopatologi insang, tetapi tidakpada lambung, kulit, dan daging. Formalin menyebabkan ruptur lamellae, hiperplasia sel radang, dan hipertropi epitel insang.Kata kunci: formalin, Schiff, sensitifitas, spesifisitas, histopatolog
EFEK EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam.) TERHADAP AKTIVITAS ENZIM DAN mSTOPATOLOGIK HATI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI CCl4
Dua puluhekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dibagi dalam lima kelompok. Kelompok I merupakan kelompok kontrol, kelompok II, III, IV dan V adalah kelompok perlakuan. Senyawa CC14 dengan dosis 0,125 mL/200 g bb diberikan peroral pada kelompok tikus perlakuan sebanyak 10 kali (hari ke-l sampai hari ke-19) dengan interval 2 hari, dan kelompok kontrol diberi akuades dengan volume yang sama. Mulai hari ke-21 sampai hari ke-35 tikus kelompok IV dan V diberi ekstrak buah merah sebanyak 0,54 mL, dan kelompok I, II dan III diberi akuades dengan volume yang sarna. Pada hari ke 21,23,27 dan 35, tikus kelompok III dan V masing-masing dibunuh satu ekor untuk pemeriksaan histopatologik hati. Pada akhir penelitian (hari ke-35) semua tikus penelitian yang tersisa dibunuh untuk kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologik hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian CC14 dengan dosis 0,125 mL/200 g bb sebanyak 10 kali dengan interval 2 hari menyebabkan peningkatan aktivitas enzim ALT(p<0,05) dibandingkan kelompok kontrol. Selanjutnya pada hari ke-35 terjadi penurunan aktivitas enzim ALT pada kelompok tikus perlakuan II dan IV (p<0,05) dibandingkan pada hari ke-21. Pemeriksaan histopatologik terlihat kongesti, susunan radier hepatosit tidak jelas, degenerasi hidropik dan nekrosis sentrolobuler hati. Regenerasi hati tikuskelompok perlakuan yang diberi ekstrak buah merah memperlihatkan proses regenerasi yang lebih cepat ditandai dengan susunan radier hepatosit dibandingkan kelompok tikus yang hanya diberi CC14 saja.Kata kunci : Ekstrak buah merah, enzim ALT, CC1
ISOLATION OF VT1 AND/OR VT2 GENE-BEARING Escherichia coif FROM CATTLE, SWINE AND SHEEP AND GOAT = ISOLASI Escherichia coli PEMBAWA GEN VT1 DAN VT2 DART SAPI, BABI DAN DOMBA/KAMBING
Dewasa ini dikenal adanya lima kelas EScherichia coli enterovirulen, termasuk E. coli verositotoksigenik (VTEC). Nama VTEC berhubungan dengan verositotoksin yang dihasilkan, yang disandi oleh gen VT dalam kromosom E. coli. Identifikasi VTEC pada awalnya selalu dikaitkan dengan serotipe 0157:H7. Tulisan ini melaporkan isolasi E. coli pembawa gen VT1 dan/atau VT2 dari sapi, babi, dan domba/kambing. Oles rekturn diambil dari hewan, dan adanya E. coli dideteksi dengan BGA, EMBA dan SMAC. Uji aglutinasi lateks digunakan untuk mendeteksi antigen 0157, dan adanya gen VT1 dan VT2 dideteksi dengan PCR. Paling tidak 44% isolat E. coli dari sapi tidak inernfermentasi sorbitol dengan 1,5% di antaranya adalah serotipe 0157. Isolat E. coil pembawa gene VTI danlatau VT2 paling banyak berasal dari babi. Namun, tidak semua E. coil pembawa gen tersebut adalah 0157
PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DALIN PEPAYA PADA AYAM: II. RESPON PATOFISIOLOGIK HEPAR = THE EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ON CHICKENS: II. PATHOPHYSIOLOGIC AL CHANGES OF LIVER
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan dam pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik hepar ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) adalah 577 ± 69,97 gram. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlakuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertama sebagai kontrol hanya diberikan aquades (P0); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasaan daun pepaya dosis tunggal sebagai berikut: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun pepaya digunakan 400 g daun pepaya yang diekstraksi secara sederhana. Empat hturi setelab perlakuan ayam dikorbankan, dinekropsi dan dilakukan pemeriksaan hepar. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode parafin dan diwarnai dengan hematoksilineosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pada hepar pada kelompok perlakuan P2„ P3 dan P4. Secara makroskopik pada hepar terlihat membengkak dan hiperemik, sedangkan secara mikroskopik struktur hepatositus teijadi degenerasi dengan gambaran inti pucat, hiperemi, hemoragi, dan koloni sel polimorfonuklear. Pada kelompok Po dan Pl tidak terlihat adanya perubahan makroskopik dan mikroskopik pada hepar ayam. Dari basil penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis air perasan daun papaya 1,5 ml tidak menimbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,0 nil, 2,5 ml dan 3,0 mi memperlihatkan perubahan patofisiologik pada hepar ayam buras. Semakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan pada ayam semakin besar perubahannya. Kata kunci: Air perasan daun pepaya; patofisiologik hepa
ntracellular Localization of HBV Capsid in Hepatocyte Line After Transfected by The Entire HBV Genome = Lokalisasi Intraseluler Kapsid HBV Pada Sel Line Hepatosit Setelah Ditransfeksi Dengan Genom Utuh HBV.
HBV replicates within the nucleus of hepatocyte using cellular transport machinery for the import of their genomes into the nucleus. Genome of HBV has to transported through the cytoplasm towards the nuclear pore complex (NPC) followed by subsequent passage through the pore. HBV capsid is involved in a number of important functions in the replication cycle of HBV. It can be detected in the nucleus, cytoplasm or both within infected hepatocytes. Nuclear localization of HBV capsid protein, which is karyophilic, depends on the cell cycle. The objective of the present study was to analyzes the intracellular localization of HBV capsid protein after transfected by entire HBV genome into hepatocyte cell lines (HuH-7) and to determine the predominantly localization of the capsid into cell compartment. In this work we analysed the intracellular localization of the HBV capsid in human hepatocyte cell lines liuH-7 by transfection using entire HBV genome and transient expression. The transfected cells were fixed and an indirect immune staining against the HBV capsid was performed to detect the capsid. To verify the location within the cell, an additional co-staining against the nuclear pore complexes was performed. The Intracellular localization of the HBV capsid and NPC were analyzed by a confocal laser scan microscope. The observed of localizations into the transfected cells were classified to be predominantly as nuclear localization, cytoplasmic localization or distributed within both of these compartments. Result of this study indicated that Staining of HBV capsid found predominantly within the nucleus (71%). Less frequently, the HBV capsid localized within the cytoplasm (26%). Only in a minority of cases, the capsids were localized within cytoplasm and nucleus (3%). This low frequency indicate that the capsids were not diffusing within the cells being in accordance to the in vivo situation in which the nuclear membrane was impermeable for the capsid
Kaji Banding Morfometri Spermatozoa Sapi Bali (Bos sondaicus) Menggunaican Pewarnaan Williams, Eosin, Eosin Nigrosin dan Formol-Saline= Comparative Study of Bali Bull Cattle (Bos sondaicus) Sperm Morphometry...
ujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji morfometri spermatozoa sapi bali dengan pewarnaan Williams (W), eosin (E), eosin nigrosin (EN) dan fiksasiformol-saline (FS) sebagai data dasar yang sampai scat ini belum dilaporkan. Semen dikoleksi dengan teknik vagina buatan dari sepuluh ekor sapi di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Baturiti, Bali. Semen yang diperoleh dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Morfometri spermatozoa dilakukan dengan menggunakan mikrometer dengan bagian yang diukur adalah panjang dan lebar kepala; panjang ekor bagian tengah dan utama; serta panjang total sperma pada 50 sel untuk setiap sampel sebanyak 3 ulangan. Morfometri spermatozoa pada bagian panjang kepala dengan pewarnaan W (10,0510,05 pm) dan FS (10,0810,04 Rm) nyata lebih panjang (
aman Imunohistokimia Perkembangan Bentuk Neuron Atekolaminergik Pada Area Postrema Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)= Morphological Development of Catecholaminergic Neurons in the Area Postrema of Long-tailed ..
Area postrema merupakan sepasang penonjolan ke dorsal pada bagian kaudal medula oblongata yang berbatasan dengan ventrikel IV. Area ini berperan sebagai chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada proses muntah yang juga melibatkan neuron katekolaminergik (neuron KA). Pada kemoterapi penderita kanker, fungsi AP sebagai CTZ diupayakan untuk ditekan agar tidal( ada refleks muntah pada pasien. Dalam rangka lebih memahami neuron KA tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perkembangan bentuk neuron KA di area postrema (AP) monyet ekor panjang (MEP) mulai fetus (F) umur 40 sampai anak (P) umur 105 hari secara imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap enzim tirosin hidroksilase (TH). Hasil penelitian memperlihatkan neuron KA di medula oblongata belwn terlihat pada F40, dan bare dijumpai pada F55 di daerah bakal AP, bentuk bulat dengan inti besar dengan sitoplasma sedikit yang merupakan ciri perkembangan awal bentuk neuron. Prosesus sitoplasma yang pendek pada mulai ditemukan pada F85, dan neuron KA di AP berubah menjadi bipolar pada F100 yang merupakan tanda perkembangan menengah bentuk neuron. Dengan bertambahnya umur, prosesus sitoplasma neuron KA bipolar bertambah panjang yang merupakan ciri tingkat perkembangan bentuk akhir dan ditemukan dominan di AP pada P105. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa neuron KA di AP pada MEP berada dalam stadium perkembangan bentuk awal dan menengah selama masa prenatal, dan stadium perkembangan lanjut menuju ke perkembangan akhir terjadi pada masa postnatal