Jurnal Sain Veteriner
Not a member yet
    821 research outputs found

    Effectiveness Comparison Between Young Leaf Extracts Acacia nilotica with Desmanthus virgatus Against Vermicidal Potency of Haemonchus contortus In-vitro

    Get PDF
    Acacia nillotica and Desmanthus virgatus are two entopharmacologycal plants that thrives throughout the season in East Nusa Tenggara Province, other Provinces in Indonesia or tropical countries. Extraction of young leaves of Acacia nillotica (EDMAN) and Desmanthus virgatus (EDMDV) contains tannin compound. By pharmacodynamic viewpoint, this extraction has potency as an anthelmintic. Objective: to compare the in-vitro effectivity of young leaves extraction of the two plants as a vermicidal power to combat Haemonchus contortus. Materials: young leaves of Acacia nillotica and Desmanthus virgatus and Haemonchus contortus. Method: The study was grouped into four treatments: EDMAN, EDMDV, Positive control (Albendazole 0,055%) and negative control (aquades).  The concentration of the young leaves extracts are 2.5%, 3.5%, 4.5% out of 0.01 g/mL of extraction. Each treatment was applied to 6 female Haemonchus contortus with four replicates allowing immersion time for 1, 3, 5 or 7 hours. Variable measured and tested was mortality of the H. contortus. The vermicidal effectively was descriptively analysed. The results showed that mortality percentage (vermicidal) treatment of 2.5%, 3.5%, 4.5% EDMAN for 7-hour immersion was 16.7%, 45.8%, 12.5%, respectively. That values for EDMDV for similar concentrations and immersion time was 50%, 33.3%, 12.5%, respectively. Conclusion: EDMDV has a more effective vermicidal power between the two etnopharmacological treatments at 2.5% concentration

    Survei Prevalensi Ektoparasit pada Populasi Anjing Pemburu (Canis Lupus familiaris) di Kecamatan Jagong Jeget Kabupaten Aceh Tengah

    Get PDF
    Abstract Dogs are one of the domestic animals that are much loved by humans as pets because of their relatively easy maintenance. The existence of dogs is becoming popular among the public, because for some people, dogs are kept as friends, guards, hunters, scouts or drug trackers.. On the other hand, to maintain their good body condition, then need to control their health.. One of the parameters for dog health disorders is the presence of ectoparasites in their body. This study was aimed to determine the prevalence of ectoparasites of hunting dogs that are kept in Jagong Jeget District, Central Aceh Regency. Research activities have been carried out from November 2019 to February 2020. The samples used in this study were 30 hunting dog samples that owned by the member of PORBI in Jagong Jeget subdistrict by manual ectoparasites examination. The Analysis of results were conducted descriptively. The results showed that the prevalence of ectoparasites in hunting dogs in Jagong Jeget District was 83.3%. In detail, this result comprised of the prevalence of ectoparasites of the Ctenocephalides canis group at 80%, followed by Rhipicephalus sanguineus and Boophilus sp. with a prevalence of 16.6% and Trichodectes canis with a prevalence of 3.3%. We concluded that there was ectoparasitic infection in hunting dogs that were kept in Jagong Jeget District and hunting dog maintenance management in Jagong Jeget District was still classified as poor.Abstrak Anjing merupakan salah satu hewan domestik yang banyak digemari manusia sebagai hewan kesayangan karena pemeliharaannya yang relatif mudah. Keberadaan anjing sangat populer dikalangan masyarakat tertentu, karena bagi mereka, anjing dipelihara sebagai teman, penjaga, pemburu, pengintai atau pelacak narkoba. Disisi lain, untuk menjaga kondisinya tetap stabil sesuai kebutuhan pemeliharaannya, maka kesehatannya perlu dirawat dengan baik. Salah satu parameter gangguan kesehatan anjing adalah keberadaan ektoparasit dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi pada ektoparasit pada anjing pemburu yang di pelihara di Kecamatan Jagong Jeget Kabupaten Aceh Tengah. Kegiatan penelitian telah dilaksanakan dari bulan November 2019 sampai bulan Februari 2020. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 sampel anjing pemburu yang diperiksa dari pemilik anjing pemburu anggota PORBI dari Kecamatan Jagong Jeget dengan pemeriksaan ektoparasit secara makroskopis. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa prevalensi ektoparasit pada anjing pemburu yang di pelihara di Kecamatan Jagong Jeget adalah 83.3%. Secara rinci ektoparasit dari kelompok kelompok Ctenocephalides canis yaitu 80%. diikuti oleh Rhipicephalus sanguineus dan Boophilus sp. dengan prevalensi 16.6% dan Trichodectes canis dengan prevalensi 3.3%. Dapat disimpulan bahwa terdapat infeksi ektoparasit pada anjing pemburu yang dipelihara di Kecamatan Jagong Jeget dengan tingkat infestasi yang tergolong tingg

    STATUS KLINIS DAN DETEKSI LipL32 SAPI SEROPOSITIF LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN KULON PROGO

    No full text
      Leptospirosis is a zoonotic disease caused by Leptospira interrogans. Animals can act as carriers, spread leptospires in urine, and be a source of infection for other animals and humans. In leptospirosis cows can cause abortion, early birth, infertility, decreased milk production and death. The aims of this study was to determine the clinical status and detect the presence of leptospires with Polymerase Chain Reaction (PCR) from urine cows that are expressed as leptospirosis seropositive. A total of 12 cattle seropositive leptospirosis with Microscopic Agglutination Test (MAT) were carried out clinical examinations covering general conditions, pulsus examination, breathing and temperature and organ systems. The urine is collected aseptically, then DNA isolation is carried out using a kit from Genoid. Detection of leptospires in the urine is carried out by detecting the presence of the primary lipoprotein LipL32 making up the Leptospira membrane. The primer was designed with a 21-base forward forward: 5'-TGG ATC TGA TCA ACT ATT ACG-3 ‘containing 38.1% GC with Tm 57.2oC. 22 bases reverse reverse obtained: 5 '-CAC TTC ACC TGG TTT GTA GGT-3' containing GC 45.5% with Tm 62.1oC. Amplification was carried out as many as 40 cycles and continued with electrophoresis to determine the band formed at a wavelength of 506 bp. The results showed that all cows that were positive for leptospirosis with MAT were in a clinically healthy condition. In electrophoresis there are 7 out of 12 positive samples found in the urine leptospira indicated by the formation of a band at 506 bp. From the results of this study it can be concluded that leptospirosis-positive cows do not always show clinical symptoms, but have the potential to excrete leptospires along with urine, so they can act as a source of transmission of leptospirosis to humans, other animals, and the environment.

    Analisis Epidemiologi Kasus Hipofungsi Ovarium pada Sapi Potong di Kabupaten Jepara

    Get PDF
    Hipofungsi ovarium menjadi kasus gangguan reproduksi yang memiliki angka kejadian paling tinggi di Jawa Tengah, dengan kerugian peternak karena panjangnya Calving Interval dan biaya pengobatan yang tinggi. Kualitas pakan seringkali dianggap menjadi menjadi penyebab hipofungsi ovarium, tetapi juga terdapat faktor lain yang mengakibatkan munculnya penyakit. Penelitian bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko hipofungsi ovarium pada sapi potong, serta model untuk memprediksi penyakit hipofungsi ovarium di Kabupaten Jepara.  Sapi betina produktif sebanyak 304 ekor sampel dari 176 peternak dipilih secara formal random sampling pada 14 desa di 7 kecamatan dengan tahapan ganda. Dilakukan anamnesis pada peternak dan pemeriksaan sapi  secara per rektal untuk mengetahui status reproduksi, serta kuesioner untuk tingkat peternakan dan individu ternak. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipofungsi ovarium 8,88% dan faktor risiko yang mempunyai hubungan adalah frekuensi pakan tambahan/PKTB (OR=12,77) dan pakan utama/PKUT (OR=9,59). Variabel yang menurunkan hipofungsi ovarium adalah jenis ternak/JNT (OR=0,37), kepemilikan ternak satu/PUNYA1 (OR=0,34), umur ternak/UMT (OR=0,32), status laktasi/STLAK (OR=0,07) dan umur sapih/SAPH (OR=0,027). Model persamaan pada tingkat ternak adalah Ln P/1-P = 5,709 - 3,198xSAPH - 1,825xSTLAK - 0,992xJNTR. Model persamaan pada tingkat peternakan adalah Ln P/1-P = 1,213 + 1,813xPKUT + 1,736xPKTB - 1,331xPUNYA

    Gangguan Pertumbuhan Organ Limfoid Ayam Broiler yang Menderita Omfalitis

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk melihat gangguan pertumbuhan jaringan limfoid primer dan sekunder yang menderita omphalitis dengan pemeriksaan histopatologi diwarnai dengan pewarnaan hematoksilin-eosin rutin dan pewarnaan imunohistokimia streptavidin biotin terhadap interleukin-10 (IL-10) pada ayam muda. Ayam umur 24 hari (DOC) broiler digunakan dan dikumpulkan dari tempat penetasan yang sama di Jawa Tengah di Indonesia. Semua 24 DOC dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 12 DOC (Grup A) dan 12 DOC omphalitic (Grup B). Semua DOC dirawat di kandang yang berbeda, diberi makan dan diminum di libitum. Pada hari ke 3, 6 dan 9, empat ekor ayam dari masing-masing kelompok ditimbang untuk kemudian dinekropsi. Timus, bursa fabricius dan limpa dikumpulkan dan ditimbang. Semua jaringan diproses secara histopatologi dengan pewarnaan hematoksilin-eosin rutin dan pewarnaan biotin streptavidin imunohistokimia imunopatologi. Data indeks berat limpa, bursa Fabricius dan tymus dianalisis menggunakan program statistik IBM SPSS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks bobot limpa, bursa fabricius dan timus ayam omphalitic (kelompok B) lebih rendah dibandingkan dengan indeks bobot ayam sehat (kelompok A). Indeks berat timus berbeda nyata (P <0, 05). Lesi histopatologis pada organ limfoid diamati pada semua ayam di Grup B. Lesi ditandai dengan penipisan dan nekrosis limfosit. Ayam dari Grup A tidak mengalami perubahan pada organ limfoid. Biotin streptavidin immunostaining dengan ekspresi antibodi policlonal anti IL-10 pada bursa Fabricius pada ayam omphalitic (Grup B) memiliki IL-10 yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan ayam sehat (Grup A). Kesimpulan, omfalitis menyebabkan penurunan indeks berat badan yang signifikan dan gangguan pertumbuhan organ limfoid yang ditandai dengan deplesi dan nekrosis limfosit. 

    Akumulasi Fibrin dalam Anterior Chamber Pada Kucing Penderita Tripanosomiasis dan Feline Immunodeficiency Virus

    Get PDF
    Tripanomiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Tripanosoma sp, protozoa hemoflagellata dari kelas Zoomatigophora dan famili Tripanosomatidae. Tripanosomiasis banyak dijumpai di daerah tropis dan menyerang berbagai hewan domestik seperti kuda, sapi, kerbau, onta, anjing, kucing dan tikus. Feline immunodeficiency virus (FIV) dikenal sebagai  feline AIDS adalah spesies virus dalam genus Lentivirus, menyebabkan penurunan sistem imun pada kucing dimana tubuh tidak dapat mengatasi serangan dari berbagai sumber penyakit lain sehingga muncul infeksi tambahan. Umumnya kucing tidak menimbulkan gejala klinis infeksi FIV meskipun telah berlangsung beberapa tahun. Seekor kucing domestik jantan, 3 tahun didiagnosis Tripanosomiasis dan positif FIV. Kedua mata terlihat berwarna keputihan, berawal dari mata kiri, berukuran kecil yang berkembang secara progresif selama 2 minggu, diikuti penurunan nafsu makan serta kondisi badan yang semakin kurus. Kucing berasal dari kucing jalanan, dan gemar memakan tikus maupun burung, serta belum dilakukan vaksinasi. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan mukosa anemik, dehidrasi, oedema di daerah submandibular hingga bahu, BCS 4/9, dan uveitis anterior. Hasil pemeriksaan hematologi dan kimia darah menunjukkan anemia normositik-hipokromik, trombositophenia, normal leukosit total dengan peningkatan relatif monosit, nilai SGPT dan SGOT yang sangat tinggi, peningkatan creatinin dan penurunan total kolesterol. Hasil pemeriksaan rapid test menunjukkan positif antibodi FIV (Feline Immunodeficiency Virus), negatif Feline Leukemia Virus, serta negatif  toksoplasma. Pemeriksaan apus darah menunjukkan mild anemia tanpa polikromasia, dan ditemukan flagellata Trypanosoma sp. Akumulasi fibrin di dalam anterior chamber yang bersifat progresif-bilateral disertai dengan aqueous flare dan normal retina merupakan gambaran anterior uveitis sebagai gejala klinis yang menciri dari Tripanosomiasis pada kucing dan infeksi FIV

    Efficacy of Albendazole Against Strongylus sp. and Hematology Changes on Equine in Yogyakarta Special Region

    Get PDF
    The infestation of Strongylus sp. in horses can cause losses to horse breeders, including anorexia, anemia, gastrointestinal diseases and can cause death and decrease the horse population in DIY. Albendazole was a Benzimidazole preparation that is often used to treat worms in ruminants. This study also aims to determine the effect of Albendazole on blood images before and after treatment. The material used in this study were 10 horses with male and female sex,  over 3 years old, and infected with Strongylus sp. with an infestation rate of 200 EPG in faeces. Before treatment of drug was carried out, the faeces was examined with Mc Master method. After treatment with Albendazole, the worm eggs were examined three times at intervals of three days. Routine examination of worm eggs and blood was carried out at the Laboratory of the Department of Internal Medicine, Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada. The results showed that the EPG number decreased from the 0th, 3rd, 6th and 9th day of examinations. The average number of EPG on the 0th day was 990 eggs/gram, and the examination on the 9th day showed the number of eggs was 0 eggs/gram. The results of the hematology examination also showed no significant difference except for the high number of eosinophils on the 12th day after drug administration. The conclusion from this research is that Albendazole as a worm medicine can kill Srongylus sp. however, it does not affect the horse's hematology and health status

    Kepincangan Akibat Kuku Abnormal Sapi Perah di Kandang dengan Alas Karet dan Beton

    No full text
    Kepincangan pada sapi perah yang dapat diebabkan kuku abnormal dapat mempengaruhi kesehatan dan produksi susu. Penelitian ini bertujuan membandingkan kasus kepincangan akibat kuku abnormal pada sapi perah yang dipelihara di kandang dengan alas karet dan beton. Penelitian ini menggunakan 104 ekor sapi perah dari 23 peternak, yang terdiri dari 72 ekor dipelihara dengan alas kandang karet dan 32 beton. Semua sapi diperiksa kukunya, kemampuan berdiri dan berjalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kasus kuku abnormal sebanyak 26 dari 105 ekor sapi (25%) yang terdiri dari 16/72 ekor (22,2%) pada kandang alas karet dan 10/32 ekor (31,3%) pada kandang alas beton. Kondisi kuku tersebut menyebabkan sebanyak 8 ekor sapi (30,8%) kesulitan berdiri atau kesulitan berjalan dan (69,2%) masih dapat berdiri dan berjalan dengan normal. Sebanyak 6/16 ekor (37,5%) sapi pada kandang alas karet dan 2/10 ekor (20%) sapi pada kandang alas beton menunjukkan kesulitan berdiri dan berjalan. Abnormalitas kuku pada penelitian ini kemungkinan disebabkan kuku tidak dipotong tepat waktu karena peternak kurang berpengalaman. Kesimpulan dari peneltian ini adalah prevalensi problem kuku abnormal adalah 25% yang didapatkan lebih banyak terjadi pada kandang alas beton. Kepincangan akibat kuku abnormal terjadi pada 30,8% sapi perah kuku abnormal dan kejadian didapatkan lebih banyak pada sapi yang dipelihara di kandang dengan alas karet

    Deteksi Bakteri Penyebab Mastitis Subklinis pada Kambing Peranakan Etawah di Kokap, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta

    Get PDF
    Resident in Kokap, Kulon Progo, Yogyakarta Province has another income sector, that is dairy goat (Etawah Crossbreed) farming and they have been joining into farm group, which is called Kelompok Ternak. There are many bacteria that causing dairy goat intra mamary infection, thus the milk production will be contaminated. Two hundred and four (204) milk samples from 103 lactation goat in four farm groups in Kokap, Kulon Progo, Yogyakarta is used in this study. Out of these, 21 samples (10,29%) were detected strong positive (++ and +++) for subclinical mastitis by using California Mastitis Test (CMT). Among this positive result, the next step was bacteria detection. This tests were held in Preclinic Laboratory Animal Health Study Program, Vocational School, UGM. The samples were inoculated in blood agar, then colony was identify by Gram staining. The next steph is biochemical tests using McConkey Agar (MCA) and eosin methylene blue (EMB) as a selective media for Gram negative bacteria, manitol salt agar (MSA) as selective media for Staphylococcus, sugar fermented broth (glucose, lactose, mannitol, maltose, and sacharose), Kigler iron agar (KIA), lysine iron agar (LIA), motility indole ornithin (MIO), and Simmon’s citrate. The result was Staphylococcus aureus (80%), Staphylococcus epidermidis (20%), Escherichia coli (10%), and Klebsiella pneumoniae (10%).

    Bovine Ephemeral Fever (BEF) : Penyebab, Epidemiologi, Diagnosa, dan Terapi

    Get PDF
    Bovine ephemeral fever (or 3-day sickness) is an acute febrile illness of cattle and water buffaloes caused by an Ephemerovirus of the family rhabdoviridae. The disease transmitted by arthropod vectors. It is common in tropical and subtropical regions. The main impact of BEF infection cause decreased productivity, decreased milk yield, body score and reproductive losses, and recovery can be prolonged in some animals. Clinical signs vary in individual animals, but the classic course begins with a fever, which is often biphasic to polyphasic. Mortality is typically low, however, significantly higher case fatality rates were reported in some recent outbreaks. This disease is widespread in various regions in Indonesia. In general, BEF does not cause large economic losses if medical assistance is provided sufficiently so that complications do not occur with other diseases. This paper aims to summarize the causes, epidemiology, diagnosis methods, and treatments that can be done to overcome BEF disease

    419

    full texts

    821

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sain Veteriner
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇