Jurnal Sain Veteriner
Not a member yet
    821 research outputs found

    Potential Anticholesterol Infusion of Malaca Leaf (Phyllanthus Emblica) In Mice (Mus Musculus) Hypercholesterolemia

    No full text
    The aim of this research was to find out infusion test of malaka leaves (Phyllantus emblica) to mice (Mus musculus) blood cholesterol rate which hypercholesterolemic mice. Twenty male mice with the age of 3 month and clinically healthy were used in this research. All mice were randomly divided into 4 treatment groups, 5 mice each. K1 was negative control group. K2 was positif control group, fed with hypercholesterolemic feed. K3 and K4 group were fed with hypercholesterolemic feed and infusion of malaka leaves with the doses of 0,04 and 0,08 mg body weight respectively. The result of statistic analysis showed that infusion of malaka leaves significantly effect (P<0,01) on the decrease of cholesterol level of male mice inducedby hypercholesterolemic feed. The treatment of infusion of malaka leaves 0,04 mg and 0,08 mg was able to decrease the cholesterol level ofmice induced by hypercholesterolemic feed. The advance test showed that the treatment K1 significantly effect (P<0,01) compare to K2 and K3. The K2 treatment significantly effect (P<0,01) with K1, K3, and K4. The K3 treatment showed no significanly effect compare to K4 (P<0,05). In conclusion, the administration of infusion of malaka leaves with the dose of 0,04 and 0,08 mg reduce cholesterol level

    Penggunaan Ventilator dalam Menunjang Keberhasilan Operasi Hernia Diafragmatika karena Trauma Pada Kucing Lokal

    No full text
    Ventilator merupakan perangkat vital pada mesin anestesi inhalasi yang sangat diperlukan untuk penanganan hernia diafragmatika, yang banyak ditemukan kasusnya pada kucing, di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mayoritas kasus hernia diafragmatika disebabkan akibat trauma, baik karena jatuh dari ketinggian, rudapaksa maupun tertabrak kendaraan bermotor. Operasi penanganan hernia diafragma tergolong sulit dikarenakan hilangnya kemampuan ventilasi akibat sobeknya diafragma akan berakibat kolapsnya paru paru yang rawan menyebabkan kematian. Penggunaan mesin ventilator akan sangat membantu dalam proses operasi, karena ventilasi mekanik akan mempertahankan suplai oksigen secara stabil sampai dengan operasi selesai dilaksanakan. Monitoring stabilitas kondisi pasien sebelum, selama dan sesudah operasi merupakan prosedur yang tidak kalah pentingnya dalam penanganan hernia diafragmatika. Hewan biasanya akan bernafas normal dan menunjukkan perbaikan kondisi dalam beberapa hari setelah operasi selesai

    Perbandingan Protein Serum Sapi Potong Fertile dan Delayed Puberty

    Full text link
    Gangguan reproduksi delayed puberty sering ditemukan pada sapi potong, yang kemungkinan berkaitan dengan protein di dalam darah. Penelitian ini bertujuan membandingkan protein serum  pada sapi fertile dan delayed puberty. Materi penelitian ini berupa 10 ekor sapi betina, jenis Peranakan Ongole cross terdiri dari 5 ekor fertile dan 5 ekor mengalami delayed puberty. Semua sapi diperiksa secara fisik untuk ditentukan status kesehatan dan reproduksinya, diambil serum darah untuk pemeriksaan kadar total protein, albumin dan globulin. Data protein serum antar kelompok dianalisis menggunakan T-test. Hasil penelitian didapatkan bahwa kadar albumin sapi fertile 3, 26 ± 0,13 gr/dL dan sapi delayed puberty 3,38 ± 0,18 gr/dL. Kadar globulin sapi fertile 4,48 ± 0,06 gr/dL dan sapi delayed puberty 3,62 ± 0,94 gr/dL. Total protein serum sapi fertile 7,84 ± 0,21 gr/dL dan sapi delayed puberty 7,56 ± 0,70. Rasio kadar albumin/globulin sapi fertile 0,73 ± 0,02 dan sapi delayed puberty 1,05 ± 0,29.  Semua parameter protein yang diuji dari sapi fertile dan delayed puberty secara statistik tidak ada perbedaan nyata. Disimpulkan bahwa kadar total protein serum, albumin, globulin dan rasio A/G sapi fertile tidak berbeda nyata dengan sapi delayed puberty

    Radiological Examination of The Maxillary Bone to Detect Alveolar Bone Loss in Orchidectomized Cats (Felis catus)

    Full text link
    This study aims to determine the potential impact of orchidectomy on alveolar bone density in male cats, using an exploratory research design and the CEJ-ABC distance measurement method. This study involved four different groups based on duration since orchidectomy, with maxillary radiographic images used to assess the degree of alveolar bone loss. The results, as determined by one-way ANOVA test, showed no statistically significant differences in CEJ-ABC distances between orchidectomy groups for the measured surfaces (mesial PM3, distal PM3, mesial PM4, and distal PM4), with all p -value exceeds 0.05. Consequently, the null hypothesis, indicating no substantial difference in alveolar bone density between orchidectomy groups, can be accepted.Keywords: alveolar bone loss, CEJ-ABC distance, orchidectom

    Identification of Feather Mites on Asian Glossy Starling (Aplonis panayensis) in Industrial Estate

    Full text link
    This study aims to identify the types of feather mites found on Asian glossy starling (Aplonis panayensis) (Passeriformes: Sturnidae) as a pest in industrial estate. This issue has not been extensively studied, and information about the feather mites biodiversity of Asian glossy starlings in Indonesia is limited. Feather mites samples were collected from KIE Bontang, East Kalimantan in January 2024. Live traps with mist nests were used to catch Asian glossy starlings and mites were examined on the feathers. Mites specimens preserved in ethanol 70%. Asian glossy starlings then released into the wild after examination. Data analysis and mites identification were conducted in the Health Entomology Laboratory of the School of Veterinary Medicine and Biomedicine at Bogor Agricultural University from July until September 2024. Feather mites were preserved on the microscope slide. Mites observations were used Olympus CX23 microscope with 10x and 40x objective magnifications. Based on identification, feather mites on Asian glossy starlings were described 2 types Astigmata, Trouessartia sp. (Sarcoptiformes: Trouessartiidae), and Montesauria sp. (Sarcoptiformes: Proctophyllodidae) found on the secondary feathers of Asian glossy starling wings. Male Trouessartia sp. was found with patterned shields, like hollow tissue (lacunae) and anterior hysterosomal shield separate from the other shield. Female Montesauria sp. was found with a slender, elongated, and flat body shape, large and sclerotized dorsal body shield, leg I hypertrophied, setae h2 fusiform and spindle-like, filiform setae h3. Trouessartia sp. and Montesauriasp. play an important role in maintaining ecosystem function as symbionts

    Praktik Biosekuriti pada Pedagang Unggas Hidup di Pasar Tradisional di Bogor Terhadap Pencegahan Avian Influenza

    Full text link
    Penyakit avian influenza (AI) merupakan penyakit zoonotik yang mengancam kesehatan manusia. Unggas hidup yang dijual di di pasar tradisional merupakan berpotensi menjadi sumber penularan virus AI, sehingga dibutuhkan langkah pencegahan dan pengendalian penyakit di lokasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik biosekuriti pada pedagang unggas hidup di wilayah Bogor sebagai langkah pencegahan penularan penyakit AI. Penelitian dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner yang disusun sebagai alat untu mengidentifikasi karakteristik pedagang unggas dan penerapan praktik biosekuriti. Sebanyak 30 pedagang diwawancarai sebagai responden di 3 pasar tradisional di Kota Bogor dan 7 pasar tradisional di Kabupaten Bogor. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui gambaran terkait karakteristik pedagang unggas serta praktik biosekuriti yang dilakukan pedagang. Hasil penelitian menunjukkan praktik biosekuriti terhadap penyakit AI belum sepenuhnya diterapkan oleh pedagang unggas di wilayah Bogor, terutama pada aspek isolasi hewan sakit dan sanitasi. Selain itu kesadaran pedagang unggas untuk melaporkan kejadian penyakit masih sangat rendah (20%). Penerapan praktik biosekuriti pada pedagang perlu ditingkatkan melalui penyuluhan terkait penyakit AI serta perbaikan sarana dan prasarana kios unggas. Kata kunci : Avian Influenza, Biosekuriti,  Pedagang unggas hidup, Kios ungga

    Karakterisasi Gejala Klinis pada Kucing dengan Gangguan Gastrointestinal yang Disertai Leukopenia

    Full text link
    Abstract               Gastrointestinal is one of the digestive system disorders in cats that can be characterized by leucopenia. This study aimed to evaluate the clinical symptoms of cats with digestive disorders with leucopenia. This study used 30 cats of various breeds, ages, and genders that had symptoms of digestive disorders with leucopenia. All cats were physically and laboratory examined for hematology. The data obtained were analyzed descriptively. The results showed 18/30 (60%) cats aged 1-6 months, 9/30 (30%) aged 7-12 months, and 3/30 cats (10%) aged >12 months, had gastrointestinal disorders with leucopenia. Leucopenia conditions were more common in male cats (53.3%) than female cats (46.7%). Cats with leucopenia, 10 (33.3%) with a leukocyte count <1,000 cells/mm3, 14 (46.7%) with a leukocyte count of 1,001-2,500 cells/mm3 and 6 (20%) with a leukocyte count of 2,501-<5,500 cells/mm3. Clinical symptoms found in this study included lethargy, anorexia, fever, dehydration, diarrhea, vomiting, halitosis, hypersalivation, anemia, lacrimation, epistaxis and jaundice. Concluded that gastrointestinal disorders with leucopenia were more common in young cats and male cats. Clinical symptoms of lethargy, anorexia, fever, dehydration, diarrhea and vomiting, can be used as a reference to determine the diagnosis of gastrointestinal disorders with leucopenia in cats. Key words:  cats; clinical sign; gastrointestinal; leucocyte

    Kepadatan Lalat di Area Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta

    Full text link
    Lalat merupakan Arthropoda yang termasuk Ordo Diptera dengan karakteristik tubuh  bersegmen-segmen. Lalat merupakan vektor food-borne disease yang dapat menyebabkan penyakit diare, disentri, typhus, dan juga myiasis. Umumnya keberadaan sampah sesuai untuk  lalat hidup dan melanjutkan perkembangbiakannya. Lalat  dapat bertahan hidup di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan spesies lalat di TPST Piyungan dan permukiman sekitarnya. Penelitian dilakukan pada Juli–September 2021. Lalat dikoleksi dengan menggunakan sweep net dan dihitung kepadatannya dengan  fly grill. Lalat yang sudah dikoleksi kemudian diidentifikasi dengan buku identifikasi “Borror and Delong’s Introduction To The Study of Insect” (Triplehorn and Johnson, 2005). Analisis keanekaragaman dilakukan dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dan pola distribusi menggunakan Indeks Morisita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan lalat di TPST Piyungan dan permukiman sekitarnya termasuk tinggi  yaitu masing-masing sebesar 68 dan 43,6. Indeks keanekaragaman di TPST Piyungan temasuk rendah dengan nilai sebesar 0,37 dan pada permukiman sebesar 1,07 yang berarti sedang. Ditemukan spesies lalat masing- masing berjumlah 4 dan 5 di TPST Piyungan dan area permukiman sekitarnya. Spesies lalat yang ditemukan berupa Musca domestica, Fannia sp., Chrysomya megacephala, Lucilia sp., dan Sarcophaga sp. Pola distribusi kelima spesies lalat sendiri tergolong kedalam penyebaran secara mengelompok. Pola distribusi lalat dipengaruhi oleh faktor seperti suhu sebesar 28-29,5⁰C dan kelembaban berkisar 69%-78% yang optimal untuk hidup lalat

    Gambaran Makroskopis dan Histopatologi Hati Broiler yang Diinfeksi Escherichia coli dan Diberi Pakan Terapi Linkomisin-spektinomisin

    Full text link
    Antibiotik sebagai senyawa terapi dapat digunakan dengan mencampur ke dalam pakan ternak unggas yang disebut sebagai pakan terapi (medicated feed). Tingginya tingkat resistensi akibat pemberian antibiotik yang tidak tepat menyebabkan sulitnya terapi penyakit yang disebabkan oleh bakteri seperti E. coli. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan bakterisidal antibiotik ialah dengan mengkombinasikan antibiotik yang tersedia di pasar seperti linkomisin dan spektinomisin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan terapi linkomisin-spektinomisin terhadap gambaran makroskopis dan mikroskopis hati broiler yang diinfeksi E. coli. Delapan puluh ekor day old chicken (DOC) strain Cobb dibagi kedalam 4 kelompok masing-masing 20 ekor perkelompok secara acak yaitu kontrol positif (KP), kontrol negatif (KN), kelompok perlakuan 1 (K1), kelompok perlakuan 2 (K2) dan dipelihara selama 35 hari. Kelompok KP, K1 dan K2 diinfeksi isolat E. coli melalui 3 rute yaitu intratrakeal sebanyak 0,2 ml, intraperitoneal 0,5 ml dan 0,3 ml oral (109) CFU pada hari ke 16. Kelompok K1 diberi pakan yang telah ditambahkan linkomisin-spektinomisin dengan dosis 5 g/kg selama 7 hari, sedangkan kelompok K2 diberikan selama 14 hari. Kelompok KN dan KP diberi pakan tanpa penambahan kombinasi antibiotik. Ayam yang diinfeksi diamati gejala klinis selama 1-2 hari, seperti bulu kusam dan kasar, ayam terlihat depresi, dan mengalami kelemahan.  Semua kelompok perlakuan dinekropsi pada hari ke 35. Hasil skoring lesi hati dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis sedangkan hasil pengamatan mikroskopis dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menujukkan kelompok ayam yang diberikan pakan terapi linkomisin-spektinomisin dan diinfeksi E. coli dapat memberikan efek kesembuhan pada organ hati baik secara makroskopis dengan berkurangnya lesi dan secara histopatologi berkurangnya proses inflamasi

    Potensi Kombinasi Rosemari (Rosemarinus officinalis), Eucalypytus (Eucalyptus pellita), dan Minyak Peppermin (Mentha piperita L.) pada Waktu Kematian Caplak

    Full text link
    Caplak menjadi faktor penyebab gangguan kulit yang banyak terjadi pada anjing. Resiko akibat caplak membuat kulit anjing mengalami kerusakan jaringan dan reaksi inflamasi sehingga penampilan terlihat jelek. Berbagai metode penaggulangan infeksi caplak telah berkembang. Namun, perlu adanya penyediaan obat baru yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan menguji waktu kematian caplak terhadap kombinasi rosemari, eucalyptus, dan minyak peppermin. Caplak Rhipicephalus sanguineus diperoleh melalui teleskopik dari anjing yang positif terinfeksi caplak di Asrama Mahasiswa Papua Dramaga Bogor. Perlakukan yang digunakan dengan komposisi rosemari 2 ml, eucalypytus 2 ml, dan minyak peppermin 1 ml; rosemari 2 ml, eucalypytus 2 ml, dan minyak peppermin 1,5 ml; serta rosemari 2 ml, eucalypytus 2 ml, dan minyak peppermin 2 ml dengan berlipat ganda sebanyak tiga kali. Analisis data dilakukan dengan melihat jumlah mortalitas akibat pengaruh paparan konsentrasi yang berbeda pada kombinasi rosemari, eucalyptus, dan minyak peppermin terhadap mortalitas caplak. Komposisi rosemari 2ml, eucalypytus 2 ml, dan minyak peppermin 2 ml pada hasil penelitian merupakan kombinasi paling efektif membunuh caplak dibandingkan 2 kombinasi lainnya

    419

    full texts

    821

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sain Veteriner
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇