Jurnal Sain Veteriner
Not a member yet
    821 research outputs found

    Parasit Gastrointestinal pada Kadal Naga Berjanggut (Pogona vitticeps) di Cijeruk, Bogor

    Get PDF
    Bearded dragons are reptiles that are quite popular as pets. There are many factors of disease that can infect bearded dragons. The environment and feed affect the level of disease threat, such as parasitic infection in the gastrointestinal tract. Data information related to parasitic gastrointestinal infections in bearded dragons in Indonesia is still limited, so supporting examinations are necessary to help diagnose. A total of 38 fecal samples were collected from the bearded dragon in Cijeruk Bogor. Samples were examined by simple flotation method, Ziehl Neelsen staining, and counting the number of parasitic eggs. All samples were positive for gastrointestinal parasite infections such as Choleoeimeria sp., Isospora amphiboluri, Cryptosporidium spp., ascarid egg, and oxyurid egg. The average number of Choleoeimeria sp. and Isospora amphiboluri oocysts were 8730 and 51.281 oocysts per gram of feces. The average number of helminth eggs per gram was 290 and 2325 for ascarid and oxyurid, respectively. Most of the infected bearded dragons do not show significant clinical symptoms. The number of oocysts and worm eggs per gram of feces showed mild and high results

    Current Symptoms and Pathological Changes of Bursa Fabricius from Commercial Farming Broilers Led to Infectious Bursal Disease

    Get PDF
    Infectious Bursal Disease (IBD) or Gumboro is caused by the IBD virus of the Birnaviridae family. The disease is acute and highly contagious in young birds. The virus infection causes severe damage to the lymphoid organs i.e. bursa Fabricius leading to immunosuppression. The disease morbidity may reach 100%, while the mortality varies from 20 to 100%, causing high economic losses. Infectious Bursal Disease has remained significant threat although vaccination has been applied. This study aimed to determine the current typical pathological changes in the bursa Fabricius of commercial broilers showing IBD symptoms. The samples were obtained from commercial broiler farms in Sragen, Wonogiri, Batang, and Sleman. Gross lesion examination showed enlargement of the bursa Fabricius with gelatinous material on the serosal surface, oedema with fluid accumulation in the lumen, hemorrhages of the serosal surface, atrophy, and caseous exudate in the lumen. Histopathologic changes of acute IBD include hemorrhages, congestion, lymphocyte necrosis, accumulation of fibrin, oedematous and heterophils infiltration in the interfollicular tissues. Microscopic changes in chronic IBD (5-7 days post infection IBDV) including follicular atrophy, lymphocyte necrosis, vacuolization of the follicle, and proliferation of fibroblast and connective tissue in the interfollicular space.   In conclusion, the notable pathological change description of    bursa Fabricius in suspected acute is gross lesion (swelling and edema, thickened and enlarged plica bursa Fabricius, hemorraghe), microscopic lesion (congestion, hemorraghe, heterophil infiltration) or chronically IBD infection in broiler chicken was gross lesion (atrophy bursa Fabricius, atrophy and excudate casouse in the lumen bursa Fabricius), microscopic lesion (lymphocyte necrosis, vacuolization of bursa Fabricius follicles, proliferation of fibroblasts and interfollicular connective tissue)

    Kejadian Fascioliasis pada Sapi Perah di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan

    Get PDF
    Fascioliasis adalah penyakit cacing hati yang dapat menyerang sapi dan sangat merugikan, karena dapat menurunkan produktivitas. Peternakan sapi perah di Tegalombo, Pacitan merupakan peternakan rakyat yang pengelolaannya banyak melibatkan perempuan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi fascioliasis pada sapi perah di kecamatan Tegalombo, kabupaten Pacitan. Sebanyak 50 ekor sapi perah digunakan sebagai sampel di dalam penelitian ini. Semua sapi diperiksa secara fisik, diambil fesesnya dan diperiksa adanya telur cacing Fasciola sp. Hasil pemeriksaan fisik sapi secara klinis menunjukkan bahwa semua sapi pada penelitian ini menunjukkan kondisi umum normal, nafsu makan baik, serta tidak ada abnormalitas yang signifikan pada semua bagian tubuh, sehingga dinyatakan sehat secara fisik. Hasil pemeriksaan sampel feses didapatkan adanya telur cacing Fasciola sp. pada 2 dari 50 ekor sapi (4%), sedangkan 48 ekor sapi lainnya (96 %) tidak ditemukan telur cacing. Kesimpulan dari peneltian ini adalah kejadian fascioliasis pada sapi perah di Tegalombo, kabupaten Pacitan rendah. Pemeriksaan secara periodik terhadap kemungkinan fascioliasis perlu dilakukan, sebagai langkah penanggulangan fascioliasis di daerah tersebut

    Identifikasi Fenotip dan Genotip Staphylococcus aureus Isolat Asal Susu Sapi Perah Mastitis Subklinis di Wilayah Pamulihan, Kabupaten Sumedang Jawa Barat

    Get PDF
    Staphylococcus aureus adalah bakteri coccus Gram positif dari keluarga staphylococcaceae sebagai bakteri utama penyebab mastitis subklinis. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan identifikasi bakteri Staphylococcus aureus sebagai penyebab mastitis subklinis pada sapi perah dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Sampel penelitian berupa 38 isolat Staphylococcus aureus yang telah diisolasi dari sampel susu sapi perah penderita mastitis subklinis pada penelitian sebelumnya di Peternakan Mekar Bakti dan Peternakan Putra Saluyu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Hasil identifikasi fenotipik isolat Staphylococcus aureus yang dikultur pada media Blood Plate Agar (BAP) menunjukkan sebanyak 10 isolat (26%) bersifat α-hemolisis, 28 isolat (74%) bersifat β-hemolisis. Pewarnaan Gram pada 38 isolat (100%) menunjukkan koloni bersifat gram positif dengan bentuk koloni coccus bergerombol. Hasil uji katalase dan koagulase pada 38 isolat (100%) menunjukkan hasil positif. Hasil uji DNase pada 29 isolat (76%) bereaksi positif, sedangkan sebanyak 9 isolat (24%) menunjukkan hasil negatif. Identifikasi secara genotipik dilakukan berdasarkan amplifikasi terhadap gen 23S rRNA, gen nuc, dan gen coa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 38 isolat (100%) teridentifikasi sebagai Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri penyebab mastitis subklinis pada sapi perah di Wilayah Kabupaten Sumedan

    Profil Hematologi Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diberi Salep Simplisia Daun Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) Setelah Dipapar Sinar Ultraviolet

    Get PDF
    Sinar ultraviolet (UV) dapat merusak kulit dan mempengaruhi darah sehingga dibutuhkan antioksidan yang terkandung dalam daun kembang sepatu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh antioksidan pada salep simplisia daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) terhadap profil hematologi tikus putih (Rattus norvegicus) setelah paparan UV. Rancangan penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan sampel 30 ekor tikus putih galur wistar berjenis kelamin betina (100-150 gram) dibagi menjadi 6 perlakuan yang setiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus, yaitu (P0) sampel kontrol negatif tanpa diberi salep dan paparan UV, (P1) sampel kontrol positif tanpa diberi salep dan hanya dipapar UV, dan (P2, P3, P4, dan P5) sampel dengan pemberian salep simplisia daun kembang sepatu masing-masing dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, dan 40% secara topikal pada punggung yang sudah dicukur terlebih dahulu seluas 16 cm2 , kemudian dipapar UV. Spesimen darah diambil satu hari setelah perlakuan melalui vena orbitalis, selanjutnya dilakukan uji hematologi lengkap untuk mengetahui jumlah eritrosit (RBC), nilai hematokrit (HCT), kadar hemoglobin (Hb), dan jumlah leukosit (WBC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian salep simplisia daun kembang sepatu dapat mempertahankan jumlah RBC, nilai HCT, kadar Hb, dan jumlah WBC pada tikus kelompok perlakuan (P2, P3, P4, dan P5) dengan konsentrasi simplisia daun kembang sepatu (10%, 20%, 30%, dan 40%) menunjukkan hasil yang tidak berbeda signifikan (P>0,05) terhadap tikus perlakuan kontrol negatif (P0). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan, pemberian salep simplisia daun kembang sepatu pada tikus putih setelah dipapar UV dapat mempertahankan jumlah RBC, nilai HCT, kadar Hb, dan jumlah WBC

    Deteksi White Spot Syndrome Virus pada Lobster Menggunakan Primer Kit IQ2000™

    Get PDF
    Lobster adalah salah satu jenis bahan pangan yang menjadi komoditas ekspor tertinggi. Lobster dapat diinfeksi oleh White Spot Syndrome Virus yang menyebabkan kematian dan kerugian ekonomi. Penelitian ini untuk mendeteksi adanya infeksi White Spot Syndrome Virus pada lobster di Balai Besar Karantina Ikan dan Pengendalian Hasil Mutu Makassar. Sebanyak 3 sampel lobster Panulirus spp diperiksa secara molekular. Deteksi White Spot Syndrome Virus dilakukan dengan menggunakan Primer Kit IQ2000™ pada mesin Polymerase Chain Reaction. Sampel positif terinfeksi White Spot Syndrome Virus ditandai dengan pita pada agar gel yang terbentuk dengan ukuran 296 bp dan 550 bp, sampel negatif jika pita yang terbentuk berada pada 848 bp. Hasil yang diperoleh setelah eletroforesis sampel pada gel agaros 1% ditemukan adanya pita yang berukuran 848 bp yang menunjukan hasil negatif. Berdasarkan hasil pengujian diatas dapat disimpulkan bahwa ketiga sampel lobster yang diperiksa di Balai Besar Karantina Ikan dan Pengendalian Hasil Mutu Makassar tidak terinfeksi White Spot Syndrome Virus. 

    Case Report: The Successful Treatment of Toxocariasis in a Domestic Cat using Pyrantel Pamoate

    Get PDF
    Toxocariasis is an infectious disease caused by Toxocara sp. in cats that lead to deterioration of the condition and can even cause death, especially in kittens. Pyrantel pamoate is an anthelmintic that is currently being abandoned for toxocariasis. The purpose of this paper is to report the success of toxocariasis treatment in a cat using pyrantel pamoate. Female domestic cat, 3 months old, weighing 1.3 kg suffering diarrhea was used in this study. The cat examined including a physical examination, followed by laboratory examination of fecal and blood samples. The results showed the cat's body condition was thin, eye was dirty, anemic mucous membranes, dull hair/loss, and diarrhea with watery stool consistency. The cat examination revealed the presence of Toxocara sp. egg as much as 2,400 EPG in fecal sample, and the results of blood tests found that the cat had normochromic normocytic anemia. The cat was diagnosed toxocariasis with dubious prognosis. A cat treated with kaolin-pectin with 1-2 ml/kg BW orally 2 times a day for 3 days, multivitamin injection at a dose of 0.5 ml intramuscularly, and the anthelmintic pyrantel pamoate at a dose of 20mg/kg BW orally once. After 28 days of treatment, the cat was declared healthy based on better physical conditions, no diarrhea, no worm eggs in the fecal sample, and did not anemia. It concluded that cats with toxocariasis successfully cured by administering the anthelmintic pyrantel pamoate, so this drug is still recommended for the treatment of toxocariasis in cats

    Skrining Susu terhadap Mycobacterium bovis pada Peternakan Sapi Perah di Wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa, Indonesia

    Get PDF
    Tuberkulosis adalah penyakit dengan tingkat kejadian kasus tinggi pada masyarakat di Indonesia. Bovine tuberculosis pada sapi perah disebabkan oleh bakteri M. bovis, diduga turut berperan dalam menyebabkan kasus tuberkulosis karena dapat menular ke manusia (zoonosis) melalui konsumsi susu. Wilayah tengah dan timur Pulau Jawa merupakan sentra peternakan sapi perah di Indonesia yang masih melaporkan tingginya kasus tuberkulosis pada manusia. Informasi mengenai keberadaan bakteri M. bovis pada susu yang dihasilkan di wilayah tersebut belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk skrining keberadaan M. bovis di susu pada peternakan sapi perah di wilayah tengah dan timur Pulau Jawa. Sampel susu diambil dari 163 ekor sapi menggunakan metode cluster random sampling dari 3 provinsi yaitu Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Sampel susu diuji dengan menggunakan PCR konvensional dengan metode multiplex PCR untuk mengidentifikasi M. bovis dan M. tuberculosis dalam waktu bersamaan. Skrining dengan uji PCR terhadap 163 sampel susu dari peternakan sapi perah di wilayah tengah dan timur Pulau Jawa menunjukkan bahwa susu yang dihasilkan oleh sapi perah yang dipelihara di wilayah ini tidak mengandung bakteri M. Bovis dan M. Tuberculosis

    Karakteristik Calving Interval pada Sapi Jawa-Brebes di Kabupaten Brebes Jawa Tengah Indonesia

    Get PDF
    Sapi Jabres sebagai sumber daya genetik ternak lokal Indonesia harus dilindungi dan dilestarikan. Namun, kajian karakteristik kinerja reproduksi terutama calving interval pada sapi Jabres pada berbagai umur masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui calving interval sapi Jabres di kabupaten Brebes. Metode yang digunakan adalah survei dengan purposive sampling. Data diolah secara statistik menggunakan analisis deskriptif. Data disajikan dengan nilai rata-rata ± standar deviasi. Sampel data diambil dari catatan penampilan reproduksi dari 90 ekor sapi Jabres. Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa calving interval sapi Jawa Brebes di desa Pangerasan Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes pada umur 3-5 tahun sebesar 399,2±8,5 hari, umur 6-8 tahun sebesar 416,1±11,0 hari, dan umur lebih dari 9 tahun sebesar 408,0±12,6 hari. Kesimpulan penelitian ini adalah calving interval pada sapi Jabres pada semua umur cukup baik tetapi belum ideal.

    Respon Klinis dan Fisiologis Tikus Putih (Rattus Norvegicus) yang Diberikan Ekstrak Bunga Kecubung (Datura Metel L.) sebagai Anestesi

    Get PDF
    Tanaman kecubung (Datura metel L.) mengandung senyawa kimia alkaloid, saponin, flavonoida, dan fenol yang berpotensi sebagai bahan anestesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan klinis dan fisiologis tikus putih yang diberikan ekstrak bunga kecubung sebagai bahan anestesi. Sebanyak 25 ekor tikus putih jantan dengan berat 150 – 200 gram secara acak dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Kelompok P0 sebagai kontrol diberikan ketamine HCL dosis 80 mg/kgBB secara intramuscular pada musculus semitendinosus. Kelompok P1, P2, P3, dan P4 diberikan ekstrak bunga kecubung secara berurutan dengan dosis 100, 300, 500, 700 mg/kgBB secara oral menggunakan sonde lambung. Hasil penelitian pada respon klinis menunjukkan pada P0 - P4 tidak terdapat efek mual, muntah, urinasi, dan defekasi. Pada respon fisiologis, rata-rata suhu tubuh P0 - P4 bertahan stabil dari awal menit ke-0 sampai menit ke-120 dengan rentang suhu 36.6OC - 39.1OC, tetapi suhu tubuh menunjukkan kecendrungan terjadi penekanan suhu pada perlakuan pemberian ekstrak bunga kecubung. Rata-rata frekuensi denyut jantung pada P0 - P4 masih berada dalam batas normal dengan rentang frekuensi denyut jantung 252 x/menit - 301 x/menit. Rata-rata frekuensi nafas pada P0 - P4 menunjukkan bahwa kecendrungan terjadi penekanan frekuensi nafas pada perlakuan pemberian ekstrak bunga kecubung dengan rentang 101 x/menit – 158 x/menit. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak bunga kecubung dengan dosis 100-700 mg/kgBB tidak menimbulkan perubahan klinis dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap perubahan fisiologis. Penggunaan ekstrak bunga kecubung sebagai bahan anestesi masih tergolong aman terhadap respon klinis dan fisiologis hewan karena masih berada dalam kisaran normal

    419

    full texts

    821

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sain Veteriner
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇