Jurnal Sain Veteriner
Not a member yet
821 research outputs found
Sort by
Multidrug-Resistant Strain ExPEC Isolat Asal Puyuh (Coturnix coturnix japonica)
AbstractExtraintestinal Escherichia coli (ExPEC) causes colibacillosis in poultry, including quail. ExPEC is a pathogenic E. coli that causes colibacillosis outside the gastrointestinal tract of poultry, in the form of peritonitis, pericarditis, salpingitis, synovitis, osteomyelitis, septicemia, pneumonitis, nephritis, pleurisy, proventriculitis and ventriculitis. In poultry farming antibiotics are used to promote growth and egg production, prevention and treatment of bacterial infections. Antibiotic resistance is a new problem that arises in poultry farming. In this study, 24 isolates of ExPEC strain from quail were used. These isolates did not differentiate sorbitol in the MacConkey (SMAC) sorbitol test assay. Antibiotic resistance was tested based on the inhibition of bacterial growth on Muller Hinnton Agar (MHA) media. 10 types of antibiotics were used to observe their resistance in all isolates. Resistance to Amikacin (87.5%), Ampicillin (87.5%), Ciprofloxacin (100%), Clindamycin (95.83%), Cefoxacin (25.0%), Doxycycline (87.5%), Erythromycin (100%), Gentamicin (95.83%), Penicillin (95.83%) and Tetracycline (83.3%). The isolates had multidrug-resistance between 3 to 10 types of antibiotics. This study showed that ExPEC isolates from quail were resistant to the type of antibiotics tested, so that the use of antibiotics in quail culture should be limited to reduce and prevent the emergence of new antibiotic resistance. Keyword: Escherichia coli, sorbitol-negative, quail, antibiotics resistanc
Pengaruh Penambahan Tepung Protein Maggot Black Soldier Fly (Hermetia illucens) terhadap Palatabilitas Pakan Kucing Komersial
Larva Black Soldier Fly (BSF) spesies Hermetia illucens mengandung nutrisi protein yang berpotensi menjadi sumber pakan alternatif hewan peliharaan yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan memiliki komposisi nutrisi yang ideal. Namun, laporan penggunaannya masih belum diketahui sebagai bahan pakan kucing. Uji palatabilitas pakan komersial dengan penambahan tepung protein maggot bertujuan untuk mengetahui daya terima pakan yang dikonsumsi. Uji palatabilitas dilakukan dengan metode monadik atau single bowl pada kucing domestik jantan dalam dua tahap, adaptasi pakan dan pemberian pakan uji pada empat kelompok perlakuan (0,25%, 50%, dan 75%) dengan penambahan tepung maggot, yang masing-masing terdiri dari 3 ekor kucing. Hasil pengujian diperoleh dari jumlah konsumsi pakan harian dengan cara jumlah pakan yang diberikan dikurangi dengan jumlah sisa pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) pada perlakuan P1 119±15,36 (g/hari) dan 204±26,31 (kkal/hari) pada jumlah konsumsi pakan dan jumlah kebutuhan kucing harian. Dapat disimpulkan bahwa tepung protein maggot BSF dapat menjadi sumber bahan pakan kucing
ANALISIS KARTOGRAFI KASUS WABAH AFRICAN SWINE FEVER DI KABUPATEN DAIRI PROVINSI SUMATERA UTARA
African Swine Fever (ASF) is an infectious disease in pigs caused by the African Swine Fever virus (ASFV) with virus species in the Asfarviridae family and Asfivirus genus. African Swine Fever causes economic losses for pig farmers with the number of deaths until 100%. This study aims to determine the distribution of ASF disease directions in Dairi Regency, North Sumatra Province and clusters and outliers in ASF cases in 2019 and 2020. This research method uses cartographic analysis, namely the distribution of directions and clusters and outliers with Moran's Index. Software using ArcGIS 10.5. This study obtained the results that the distribution of ASF disease in Dairi Regency in 2019 had an average center in Siempat Nempu Hulu District with longitude coordinates of 98.265459 and latitude 2.8055450. The distribution of ASF cases in 2019 is in the northwest – southeast region with a rotation of 121.05°. The ASF case in 2020 has a mean center in Lae Parira District with coordinates of longitude 98.3998 and latitude 2.7367. Meanwhile, the distribution of ASF cases in 2020 is northwest – southeast with a rotation of 133.58°. The conclusion of this study can be seen that cases of swine mortality due to ASF virus have a pattern of distribution of ASF disease and ASF case groups in 2019 and 2020
Slaughterhouse’s Animal Welfare Assessement at Bekasi City, West Java
The quality of meat sold in Bekasi City is affected by the implementation of animal welfare during the slaughtering process in Slaughterhouses. The research aimed to analyze the animal welfare implementation during the slaughtering process at Bekasi City slaughterhouses. The data was conducted by observing the five-freedom implementation for five slaughterhouses throughout Bekasi City, from the shelter cages to the slaughter. Herding officers ensured no disturbance in the herding route, hitting only animals' backs when the animals stopped walking, and confirmed that animals did not pile up on the herding lane and that live animals did not see the slaughter process. However, some officers still wear clothing that contrasts with the environment, hit the animals repeatedly, and shout at the animals excessively during the herding process. Animal welfare aspects of the slaughter process, such as officers already in position when the animal enters the restraining box, the sharpness of the knife being checked before slaughtering, having a spare knife, and animals slaughtered less than 30 seconds after stunning, have been implemented by all officers. The butcher animal welfare implementation, such as checking the animals' death after being slaughtered, still needs to be improved. This research concluded that Bekasi City's slaughterhouse officers had implemented aspects of animal welfare. However, some improvements are still required through training to increase the competence of officers
Kemampuan Rectovaginal Endoscopy (RVE) Mendeteksi Berahi dan Gambaran Kadar Estrogen Selama Siklus Berahi Kambing
Deteksi estrus yang tepat pada kambing akan menentukan keberhasilan inseminasi buatan (IB). Rectovaginal endoscopy (RVE) merupakan alat deteksi estrus pada kambing yang dimodifikasi dengan perpaduan spekulum yang dilengkapai kamera terhubung dengan layar monitor. Alat RVE ini membantu peternak memastikan saat IB yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Rectovaginal endoscopy (RVE) untuk mendeteksi gejala estrus pada kambing-domba dan mengetahui gambaran estrogen selama siklus berahi kambing-domba. Metode penelitian dengan membandingkan deteksi estrus menggunakan kawin alami dengan pejantan (kelompok 1, kontrol) dengan konvensional/penglihatan mata langsung (Kelompok 2) dan RVE (kelompok 3). Masing-masing kelompok menggunakan 16 ekor kambing dengan ras jawa randu dengan Body Condition Score(BCS) 2,5-3 (kondisi bagus). Deteksi lendir dilakukan pada masing kelompok perlakuan dan diberi nilai (score). Setelah terdeteksi estrus, kelompok 2 dan 3 dilakukan inseminasi buatan (IB) sedangkan kelompok 1 kawin alami dengan pejantan. Data pengamatan estrus analisis secara deskriptif sedangkan data pengamatan lendir dianalisis menggunak Chie-Square. Koleksi serum darah untuk pemeriksaan kadar estrogen diambil pada hari ke-0, 3, 12, dan 15 siklus untuk mendapatkan gambaran kadar estrogen. Hasil deteksi estrus berdasarkan pengamatan lendir diketahui terdapat perbedaan signifikan diantara kelompok (P < 0,05). Pada hari ke-0 nilai profil hormon estrogen 36,14 pg/ml, tampilan gambar alat RVE menunjukkan lendir jernih bening dan terlihat banyak disaluran serviks sampai ke vulva. Hari ke-3 profil hormon estrogen 11,13 pg/ml, terlihat leleran pekat dan sedikit keruh dan hanya terlihat di sekitaran serviks. Hari ke-12 tampilan profil hormon estrogen 8,74 pg/ml terlihat lendir menjadi pekat keruh dan hanya terdapat di sekitar serviks. Hari ke-15 dengan tampilan hormon estrogen 15,82 pg/ml terlihat leleran bening dan hanya di sekitaran serviks. Disimpulkan bahwa penggunaan alat metode baru RVE memberikan pengaruh terhadap deteksi gejala estrus yaitu mampu mendeteksi lendir berdasarkan masing-masing fase siklus berahi.
Tingkat Morbiditas dan Mortalitas African Swine Fever pada Peternakan Rakyat di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit menular dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi yang menyerang ternak babi, baik ternak babi domestik maupun babi liar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat mobiditas dan mortalitas African Swine Fever pada Peternakan Rakyat yang tersebar di 12 Kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder ternak babi yang sakit dan mati akibat virus ASF. Penentuan status infeksi ASF melalui pemeriksaan sampel melalui metode polymerase chain reaction (PCR) yang dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morbiditas dan mortalitas pada ternak babi yang terinfeksi ASF mengalami peningkatan dari tahun 2020 hingga 2021. Morbiditas atau tingkat kesakitan secara menyeluruh meningkat dari 1,67 % di tahun 2020 menjadi 3,86% di tahun 2021. Penyebab tingginya morbiditas ASF di Kabupaten Mangarai Barat antara lain masyarakat belum memahami penerapan biosekuriti yang ketat, sistem pemeliharaan masih secara tradisonal, populasi babi liar yang tidak teridentifikasi dan personal. Mortalitas atau tingkat kematian secara menyeluruh meningkat dari 1,36 % di tahun 2020 menjadi 3,37% di tahun 2021. Penyebab meningkatnya mortalitas antara kurangnya pengetahuan masyarakat tentang transmisi penyakit, gejala klinis penyakit, sumber infeksi penyakit, dan pencegahan penyakit. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas, peningkatan kasus ASF di Kabupaten Manggarai Barat disebabkan oleh peternak itu sendiri. Oleh karena itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan perlu melakukan edukasi dan pemberdayaan kepada peternak di Kabupaten Mangggarai Barat agar lebih memahami ASF sehingga angka morbiditas dan mortalitas menurun
Acute Moist Dermatitis with Thrombocytopenia in Cat
Abstract Background: The causes of cases of Acute Moist Dermatitis (AMD) or also known as hotspots are numerous. Early AMD is accompanied by symptoms of pruritus or different behaviors triggered by itching such as scratching or licking. Many causes of pruritus in cats such as hypersensitivity dermatitis, ectoparasites, fungal infections, bacterial infections, or skin reactions to systemic diseases. Gradually clinical symptoms will occur alopecia and erythema because it is very itchy, moist and smells on the surface of the skin. Case Description: A male Persian cat, 1.6 years old and weighing 3.4 kg, presented with a history of pruritus, alopecia, erythema and wet skin in several locations, especially around the neck, and had been present for 3 months. Appetite to eat and drink is not very good because the cat is busy scratching and biting its fur due to excessive itching. Examination Results and Treatments: After clinical examination and microscopic examination of samples, the main trigger in this case was furmite in a cat, Lynxacarus radovskyi with secondary bacterial infection causing Acute Moist Dermatitis (AMD). Not only that, ectoparasites in this case also cause other systemic diseases, namely suspicion of blood parasites that cause thrombocytopenia as evidenced by the results of a Complete Blood Count (CBC), and is characterized by clinical symptoms of hematuria and epistaxis. This cat underwent intensive treatment for several weeks with several combinations of drugs such as antiparasitics, antibiotics. antihistamines, NSID and vitamins. Conclusion: Thi
Profil Leukosit Tikus Jantan (Rattus novergicus L.) Galur Sprague Dawley Setelah Paparan Nanopartikel Kitosan Ekstrak Etanol Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss.)
Ekstrak daun mimba memiliki aktivitas antioksidan yang memberikan efek terapeutik luas. Penelitian in vivo berbasis bio-nanomaterial banyak digunakan sebagai drug delivery untuk meningkatkan ketersediaan hayati pada obat selama berada di sirkulasi sistemik. Kombinasi antara nanopartikel dan ekstrak daun mimba perlu diketahui kadar keamananya bagi tubuh. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh nanopartikel kitosan ekstrak etanol daun mimba terhadap profil leukosit tikus jantan galur Sprague Dawley jantan yang ditunjukkan dengan jumlah total dan diferensial leukosit. Penelitian ini menggunakan desain RAL dengan 4 ekor tikus jantan dari 4 kelompok perlakuan terdiri dari P0 (akuades), P1 (larutan nanopartikel kitosan), P2 (NEEDM 50%), P3 (NEEDM 100%). Pemberian perlakuan diberikan secara oral selama 28 hari. Semua prosedur penelitian telah disetujui oleh komisi etik KEPK FK UNDIP, Semarang dengan nomor sertifikat 29/EC/H/FK-UNDIP/III/2021. Sintesis nanopartikel kitosan menggunakan metode gelasi ionik dan berhasil mendapatkan ukuran nano sebesar 232,3 nm, 700,1 nm, dan 297,3 nm. Uji fitokimia pada ekstrak etanol daun mimba positif mengandung senyawa fenolik, alkaloid, flavonoid, terpenoid, tanin, dan saponin. Variabel yang diamati yaitu jumlah total dan diferensial leukosit. Data dianalisis dengan Statistical Product and Service Solution (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan secara nyata antar kelompok perlakuan (P>0,05). Jumlah total leukosit, dan jumlah rataan limfosit, monosit, dan neutrofil segmen masih dalam kisaran normal. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian sediaan nanopartikel kitosan ekstrak etanol daun mimba memberikan efek protektif terhadap sistem imun dan tidak bersifat toksik
Proses Penyembelihan dan Waktu Mati Sempurna Sapi Bali sebagai Hewan Kurban di Kabupaten Manokwari
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek kesejahteraan hewan berdasarkan tata cara pemisahan dan handling sapi ketika akan disembelih, berapa lama waktu maksimal sapi Bali yang disembelih mati sempurna dan indikator kematian apa yang paling lama hilang setelah sapi disembelih. Penelitian ini dilakukan pada 57 ekor sapi Bali yang disembelih di 5 masjid di Kabupaten Manokwari yang menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban. Pengamatan tata cara pemisahan dan handling sapi dilakukan dengan observasi. Waktu henti darah memancar dihitung sejak awal darah memancar sampai tidak lagi memancar. Indikator kematian lain (refleks pupil, refleks kornea, pernafasan ritmik, tonus rahang, tonus lidah, refleks ekor, refleks anus, dan refleks tracak) dihitung setelah waktu henti darah memancar diperoleh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Data henti darah memancar dihitung rerata dan simpangan bakunya, sedangkan indikator lain disajikan dengan range tiap menit dalam tabel. Pemisahan antara lokasi penempatan dengan penyembelihan dan penggunaan kandang jepit modifikasi untuk handling telah dilakukan disebagian besar lokasi pengamatan. Waktu henti darah memancar pada penelitian ini adalah 2,93 menit. Refleks kornea dan tonus lidah merupakan indikator tercepat yang hilang, yaitu 4-5 menit setelah darah berhenti memancar, kemudian berturut-turut diikuti dengan pernafasan ritmik dan tonus rahang, yaitu masing-masing 5-6 menit serta refleks ekor dan refleks tracak, yaitu 6-7 menit. Refleks anus merupakan indikator terlama yang hilang, yaitu 7-8 menit setelah darah berhenti memancar. Kesimpulan: sebagain besar masjid telah memperhatikan kesejahteraan hewan berdasarkan lokasi dan tata cara penyembelihan. Sapi Bali sebagai hewan kurban di Kabupaten Manokwari mengalami mati sempurna pada menit ke 13,93 dan indikator kematian terakhir yang hilang adalah refleks anus
Cat Scabies Prevalence at Animal Health Center Pemalang
Scabies in cats is an infectious skin disease caused by the mite Sarcoptes scabiei that attacks the stratum corneum layer of the cat's skin at all ages and is zoonotic. The purpose of this study is to determine the prevalence of scabies using cat patient data from the Pemalang Animal Health Center from May 13th to July 15th, 2022, as well as morphological information of S. scabiei. The scabies diagnosis method employs two stages, namely the examination of clinical and laboratory symptoms. Purposive sampling was used to select laboratory examination samples. Cats with clinical scabies use the skin scraping technique, which involves scraping the skin in the area around the lesion, placing it on an object glass, dripping with 10% KOH, covering it with a cover glass, and examining it under a 400x microscope. The prevalence of scabies in cat patients at the Pemalang Health Center was 33.19%, and S. scabiei was found on the legs of cat patients