agriTECH
Not a member yet
1394 research outputs found
Sort by
Kinetika Oksidasi Protein Ikan Kakap (Lutjanus sp) Selama Penyimpanan
Fish protein is oxidased easily during storage. The oxidation reaction rate can be approached through the order to zero or first order. The objective of this research was to study the oxidation rate during storage by determining the amount of activation energy (Ea) and constant change (k). The results showed that the increased of temperature storage from 0 °C to 40oC can increased the k value from 0.0617 to 0.311. The carbonyl content of red snapper protein isolate can be increased to higher level as storage temperature increase to 40 °C with higher level increase at higher temperature. The activation energy of oxidation reactions that cause oxidation of the protein is 42.015 Kj/mol.K to zero order. Kinetics increase in protein carbonyls: the higher the temperature storage protein isolate red snapper (Lutjanus sp), the greater the value of a constant (k) is obtained. Kinetics studies show that an increase in the rate of reaction of oxidative damage fish protein (Lutjanus sp) during storage by following zero order reactions. ABSTRAKProtein ikan mudah rusak akibat oksidasi selama penyimpanan. Kecepatan reaksi oksidasi dapat didekati melalui orde ke nol maupun orde pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari oksidasi selama penyimpanan dengan menentukan besaran energi aktivasi (Ea) dan konstanta perubahan (k). Hasil menunjukkan bahwa nilai k meningkat dari 0,0617 menjadi 0,311 dengan peningkatan suhu dari 0 °C ke 40 °C. Energi aktivasi reaksi oksidasi yang menyebabkan terjadinya oksidasi protein adalah 42,015 Kj/mol.K untuk orde nol. Kinetika peningkatan protein karbonil: semakin tinggi suhu penyimpanan protein ikan kakap (Lutjanus sp) semakin besar nilai konstanta (k) yang diperoleh. Studi kinetika juga memperlihatkan bahwa peningkatan laju reaksi kerusakan oksidasi protein ikan kakap (Lutjanus sp) selama penyimpanan mengikuti reaksi orde ke nol atau reaksi berjalan lambat
Pengurangan Kadar Digliserida dan Asam Lemak Bebas dalam Minyak Sawit Kasar Menggunakan Adsorben
Indonesia is the world’s largest crude palm oil (CPO) producer and consumer in 2014. Components that affect the quality of CPO are diglycerides (DAGs) and free fatty acids (FFA). DAGs in palm oil are known as the precursor of 3-MCPD esters, while higher content of FFA could influence the oil stability. The contact of CPO with adsorbent could affect the present of DAG and FFA in CPO. The purpose of this study was to determine the best type of adsorbent in reducing DAGs and FFA in CPO with emphasis on the characteristics of the adsorbent and adsorbate. This study was carried out by using three different types of CPO quality and six different types of adsorbent (carbon active, MgO, Magnesol R-60, and 3 types of bleaching earth). The contact process of CPO with different adsorbents were carried out at a temperature of 50-60 °C (without vacuum) for adsorbents selection and 90 °C (under vacuum) for 30 minutes at a dose of adsorbent 1 and 3 %. The contact process of different adsorbents with CPO have not been able to reduce both DAGs and FFA significantly at the non vacuum condition in three differents CPO sample. The combination of MgO and bleaching earth type 1 could reduce FFA up to 70 % reaching the content of 14 % at vacuum conditions, but did not reduce DAGs of CPO. Different CPO quality and adsorbent characteristics will affect the reduction process of FFA and DAGs. ABSTRAKIndonesia merupakan negara produsen sekaligus konsumen minyak sawit kasar (Crude Palm Oil/CPO) terbesar di dunia pada tahun 2014. Salah satu komponen yang mempengaruhi kualitas CPO adalah digliserida (DAG) dan asam lemak bebas (ALB). DAG dalam minyak sawit adalah prekursor pembentuk senyawa karsinogen 3-MCPD ester, sedangkan ALB yang tinggi dapat mempengaruhi stabilitas minyak. Proses kontak adsorben ke dalam CPO akan mempengaruhi keberadaan kedua komponen tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan jenis adsorben yang paling baik dalam mengadsorp digliserida dan asam lemak bebas dalam CPO dengan menitikberatkan pada karakteristik adsorben dan adsorbat. Penelitian dilakukan terhadap 3 jenis CPO (nilai ALB: 4, 6, dan 14) dan 6 jenis adsorben (arang aktif, MgO, Magnesol R-60, dan 3 jenis bleaching earth). Proses kontak dilakukan pada suhu 50 – 60 °C (tanpa vakum) untuk seleksi adsorben dan 90 °C (dengan vakum) selama 30 menit dengan dosis adsorben 1 dan 3 %. Proses kontak adsorben pada CPO dengan kondisi adsorpsi tanpa vakum belum dapat menurunkan DAG dan ALB secara signifikan terhadap ketiga jenis CPO. Kombinasi antara adsorben bleaching earth tipe 1 dan MgO dapat menurunkan ALB hingga 70 % pada CPO dengan ALB 14 % pada kondisi vakum, tetapi tidak dapat menurunkan DAG. Karakterisitik CPO dan adsorben mempengaruhi proses reduksi ALB dan DAG
Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Amilolitik dari Industri Pengolahan Pati Sagu
Amylolytic lactic acid bacteria are a group of bacteria that are capable to use starch as the carbon source. The objectives of this research were to characterize, and identify the lactic acid bacteria from sago starch processing industry, which might be used to modify the sago starch. There were 39 isolates isolated from sago processing industry, and 36 of them were presumed as lactic acid bacteria. From 36 isolates suspected as lactic acid bacteria, 9 of them had amylolytic properties. Morphological identification results show that the 9 isolates were l Gram-positive bacteria, negative catalase, rod shape, and 5 isolates produced gas, while 4 isolates did not produce gas. The ability to produce amylase varied among isolates and isolate RN2.12112 had the higher amylolytic ability than others. Results show that the nine isolates identified as lactic acid bacteria were dominated by Lactobacillus plantarum 1. ABSTRAKBakteri asam laktat (BAL) yang bersifat amilolitik adalah bakteri asam laktat yang mampu memanfaatkan pati sebagai substratnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengkarakterisasi sifat amilolitik dan mengidentifikasi bakteri asam laktat yang mempunyai kemampuan amilolitik untuk memodifikasi pati sagu. Hasil penelitian memperoleh 39 isolat dari industri pengolahan sagu dan 36 diantaranya diduga sebagai bakteri asam laktat. Sembilan dari 36 isolat yang diduga bakteri asam laktat mempunyai sifat amilolitik. Sembilan isolat yang bersifat amilolitik selanjutnya diidentifikasi secara morfologi yang meliputi pewarnaan Gram, bentuk sel, uji katalase, dan uji kemampuan fermentasi. Hasil identifikasi secara morfologi menunjukkan bahwa kesembilan isolat termasuk kelompok bakteri Gram positif, katalase negatif, bentuk basil, dan lima isolat menghasilkan gas sedangkan empat isolat tidak menghasilkan gas. Kemampuan isolat untuk menghasilkan amilase bervariasi dan isolat RN2.12112 mempunyai kemampuan amilolitik lebih tinggi dibanding isolat lainnya. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa dari sembilan isolat yang diidentifikasi didominasi oleh Lactobacillus plantarum 1
Penggunaan Metoda Analisis Harmonik untuk Menentukan Watak Gerakan Air di Saluran Irigasi Pasang Surut
Modifikasi Penentuan Asam Pitat dengan HPLC dan Penggunaannya untuk Menguji Pengaruh Penyimpanan Dedak Padi Terhadap Kandungan Asam Pitatnya
The phytic acid of paddy, husk has been quantified ,using high ferformance liquid Chromatography (HPLC). This method gaveaccurate recovery and precision ranging from 80 to 102%. The method showed spesific result and was not time consuming compared to the colorimetric method. The chromatograms showed that the level of phytic acid in paddy husk reduced to 45aJo of the initial level after 30 days storage in Ciawi=-Bogor, and to 27% after 50 days storage those in Darrnaga- Bogor. Submerging in boilling water (1; 1,w/w) for 24 hours reduced the phytic acid to 30%, while irradiating with gamma-rays at 10 Kgy doses reduced the phytic acid, to 29% of the original amount ABSTRAKKandungan asam pitat pada dedak ditetapkan secara kuantitatif dengan HPLC. Metoda ini memberikan recovery dan ketelitian yang cukup baik yaitu antara 80-102%. Bila dibandingkan dengan metodekolorimetri, metoda HPLC memberikan hasil analisis yang spesifik dengan waktu analisis yang lebih cepat.Dengan menggunakan metoda HPLC, sampel edak padi yang disimpan di Ciawi-Bogor memperlihatkan penurunan kadar asam pitat 45% selama 30 hari, sedangkan sampel yang disimpan di Darmaga-Bogor menunjukkan penurunan sebanyak 27% setelah penyimpanan selama 50 hari. Sampel yang ditambah air mendidih (1:1) dan dibiarkan selaam 24 jam berkurang 30%, sedangkan dengan penyinaran sinar gamma turun 29%
Pengaruh Penambahan Karbon Aktif dan Pemakaian Scrubber CO2 Terhadap Kualitas dan Kuantitas Biogas
Evaluasi Sifat-Sifat Fisik dan Kimiawi Beberapa Jenis Jagung Produksi Sukamandi dan Garut
Physical and chemical evaluation of fifteen varieties of corn produced in Sukamandi and Garut. Micrometer was used to measure kernel size and shape (dimension). Physical analysis showed that corn planted at high elevation (Garut,. 700 in a.s.1) produce larger kernels, i.e. 9.7 mm length and 9.0 mm width, than those produced at lower elevation (Sukamandi, 12 m a.s.l) which their dimensions were only 8.7 mm length and 8.6 mm width. The RRS corn width had the largest kernel dimensions i.e. 9.5 mm length and 9.1 mm wide. The amylose and protein contents were 19.2-21.3% and 9.0- 10.33%, respectively
Alternatif Perbaikan Cara Giliran Air dengan Memperhitungkan Waktu Tempuh Aliran Air di Saluran
Penelitian untuk mengetahui faktor kehilangan waktu (time loss) dalam pembagian air irigasi dengan cara giliran telah dilakukan di Daerah Irigasi (DI) Cikeusik, Cirebon Jawa Barat. Penelitian dilakukan selama musim kemarau 1988 dan 1989, dengan cara melakukan pengukuran dan pengamatan lapangan terhadap waktu tempuh aliran air di saluran pada berbagai debit air. Debit air di saluran diukur pada berbagai titik pengamatan dari hulu sampai ke hilir dengan interval waktu dan jarak tartentu untuk mengetahui sebaran debit terhadap waktu dan jarak, Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kehilangan waktu dalam pembagian air cara giliran belum dipertimbangkan. Padahal laktor kehilangan waktu ini ikut menentukan tercapainya keadilan dalam pembagian air ingasi cara giliran (retasi). Selanjutnya dengan angka kehilangan waktu yang telah dikelahui ini digunakan untuk perbaikan rencana giliran pembagian air di DI yang bersangkutan serta dilakukan analisis untuk melihat keunggulan cara yang baru dibandingkan dengan cara yang lama dalam hal keadilannya