agriTECH
Not a member yet
1394 research outputs found
Sort by
Identifikasi Hidrolisat Asam dari Pati Hidroksipropil dengan HPLC
Hidrolisat pati hidroksipropil dipisahkan dengan HPLC menggunakan uPoracil menjadi enam komponen, yaitu berturut-turut 1,2-0- propilin-D- glukofuranosa, 1,2-0-(R)-propilin-alpha-D-glukopiranosa, 1,2-0-propilin-D-glukosa , 2-0- hidroksipropil-D-glukosa tercampur sedikit 3-0-hidroksipropil-D-glukosa, dan 6-0-hidroksipropil- D-glukosa
Pengujian Keandalan Data Curah Hujan Di Daerah Irigasi Cikeusik, Kabupaten Cirebon (Pusat Penelitian Kerjasama IIMI-FTP UGM)
Penggunaan Starter Untuk Meningkatkan Mutu dan Keamanan Dendeng Basah
Sifat-sifat microbiologis dendeng giling segar yang dipersiapkan dengan fermentasi dengan starter (Pediococcus pentosaceus, Lactobacillus plantarum. dan Mrcrococcus Sp.) dipelajari selama inkubasi pada suhu 30°C dan penyimpanan pada suhu 5°C. Nilai pH dendeng segar yang diperlakukan dengan starter menurun sesuai dengan peningkatan pertumbuhan bakteri asam laktat selama inkubasi. Proses fermentasi dengan bakteri asam laktat sangat berpengaruh pada pertumbuhan bakteri perusak seperti Micrococci, Staphylococci, bakteri gram negatif dan bakteri coli. Nilai penghambatan terhadap bakteri perusak pada akhir inkubasi selama 24 jam mencapai 90%, namun starter Micrococcus sp. Tidak menunjukkan penghambatan yang nyala terhadap bakteri perusak, Dendeng giling basah dengan fermentasi bakteri asam laktat, selama 16 jam inkubasi menunjukkan penurunan pH menjadi 5,2 dan pertumbuhan bakteri asam laktat mencapai 108 per gram sample. Apabila dendeng basah langsung disimpan pada suhu 5°C penghambatan terhadap gram negative bacteria nampak nyala pada akhir penyimpanan 5 hart
Aktivitas Fitase Pada Tahap-Tahap Pembuatan Tempe dari Kara Benguk, Gude, dan Kara Putih Menggunakan Usar
Penelitian dilakukan untuk mengkaji perubahan aktivitas fitase selama proses pembuatan tempe kara benguk, gude dan kara putih dengan menggunakan usar. Ekstrak kasar fitase dipersiapkan metalui beberapa tahap isolasi dan pemurnian, sedangkan aktivitas Masa diukur berdasarkan jumlah fosfat anorganik yang dibebaskan dari substrat natrium fitat pada kondisi pengujian yang ditetapkan. Suhu dan pH optimum untuk fitase kara benguk dan kara putih berturut-turut 60°C clan 4,8 sedangkan untuk gude berturuHurut 50°C dan 5.0. Hasil yang diperoleh menunjukkan penurunan aktivrtas fitase selama perlakuan perendaman pada kara benguk dan kara putih, berturul-turul dan 129.56- 48.73 μ mol dan 169,30-77.92 μ mol. Pada gude tidak ditakukan pengujian aktivitas fitase selama perlakuan perendaman, Pada tahap fermentasi 0 - 24 jam. terjadi kenaikan aktivitas fitase berturut-turut dari 0 - 193,23 μ mol, 0 - 96.24 μ mol dan 5,56-46,33 μ mol untuk kara benguk, gude dan kara putih. Setelah 24 jam ferrnentasi, aktivrtas fitase turun menjadi berturut-turut sebesar 60,72 μ mol. 59.56 μ mol dan 7.68 μ mol. Selama fermentasi 36 - 48 jam, aktivitas fitase naik lagi berturut-turut sebesar 164,76 μ mol, 118,59 μ mol dan 9,27 μ mol untuk kara benguk. gude dan kara putih. Selama proses pembuatan tempe kandungan asam fitat turun berturut-turut dari 0,37 - 0,14%, 0,42 - 0,10% dan 2,26 - 0.16% masing-masing dalam berat kering untuk kara benguk, gude dan kara putih
Pengendalian Tekstur Tahu. Pengaruh Ekstraksi dan Penggumpalan
Tahu dibuat dengan peragaman penggumpal yait u kalsium klorida asam sitrat dan laru dengan konsentrasi masing-rnasing antara 1,5 - 3 persen, 1 - 2 persen dan untuk laru dengan jumlah 750 ml - 2250 ml pada perbandingan air dengan kedele 8:1; 10;1;12:1 dan 14:1 untuk mengetahui pengaruh konsentrasi penggumpal dan air terhadap tekstur tahunya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi penggumpal kalsium klorida dan laru bersama dengan peragaman proporsi air tidak memberikan pengaruh terhadap tekstur tahu ditunjukkan dengan determinasi masing-masing 0,29 dan 0,23. Kombinasi penggumpal asam sitrat dan air ternyata mempengaruhi tekstur tahu dengan determinasi sebesar 0,82 dengan persamaan regresi T (tekstur) = - 1,64 + 0.39 A (air) + 0.66 P (penggumpal). Persamaan tersebut dapat dijadikan pegangan dalam pembuatan tahu uniuk mendapatkan hasil dengan tekstur yang diinginkan tanpa rnerubah kondisi pengolahan lainnya