1394 research outputs found

    Studi Tentang Kitin Cangkang Udang (Penaeus merguiensis) I : Isolasi Menggunakan Actinase E dan EDTA

    No full text
    Telah dilakukan isolasi kitin dari cangkang udang {Panama merguiensis) menggunakan Actinase E untuk deproteinisasi dan EDTA untuk demineralisasi. Pada optimasi kondisi Actinase E. dalam deproteinisasi, hasil percobaan rnenunjukken bahwa pH, suhu dan konsentrasi enzim optimum berturut-turut adalah 6,0; 50°C dan 4,0 mglml (4000 tyrosine unitiml) untuk substrat 40 mg/ml. Kitin yang diperoleh dengan prosedur dalam percobaan ini mempunyai residu protein, abu, kalsium, fosfor, serta derajat deasetilesi relatif same dengan kitin komersial. Nairn bentuk Mtn yang dapat larut dalam air. kitin yang diperoleh rmempunyai berat molekul > 800.000; sedangkan kitin komersial rnempunyei berm molekul > 50.000, diestimasikan dengan HPLC. Hasil percobaan menunjukkan pula bahwa Actinase E tidak menampakkan aktivitas deasetilitik maupun kitinolitik

    Kajian Protein Daging Fase Pre-Rigor Selama Pendinginan Sebagai Emulsifier Sosis

    No full text
    Telah dilakukan penelitian tentang kajian protein daging sapi fase pre-rigor selama pendinginan sebagai emulsifier sosis. Daging fase pre-figor, disimpan dalam almari es pada suhu 0°C- 4°C selama waktu 1, 13, 25 dan 37 jam. Setiap waktu pendinginan, daging yang sudah didinginkan diambil dan diamati tekstur, pH, WHC, kadar air dan warna. Selanjutnya dibuat emulsi sosis dengan cars mencampur daging giling, minyak jagung, susu skim, tepung terigu dan bumbu-bumbu dengan formulasi Morrison et al (1971). Emulsi yang diperoleh diuji stabilitas emulsinya den diamati dispersi globula lemak dalam sislem emulsi secara mikroskopis. Selanjutnya emulsi sosis dimasukkan ke dalam selongsong, kemudian dipilin sepanjang 10 cm, diasap dalam almari pengasap suhu 70°C selama 30 menit dan dilanjutkan dengan perebusan pada suhu 100°C selama 10 menit. Sosis yang diperoleh dilakukan uji sensoris untuk mengetahui fingkal kesukaan panelis terhadap tekstur, sifat irisan dan sifat keseluruhan sosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendinginan daging sapi pada fase pre-rigor menghambat berlangsungnya proses rigormortis sehingga menurunkan kemampuan protein aktin dan miosin sebagai emulsifier sosis dan kemampuannya untuk menahan air (WHC). Pendinginan daging sampai dengan waktu 13 jam, ternyata menghasilkan WHC yang cukup tinggi yaitu 5,00. Namun demikian, WHC semakin menurun sampai dengan waklu pendinginan 37 jam yaitu 8,46. Hasil ini didukung dengan stabilitas emulsi sosis yang ling' sebesar 94,77 persen dengan perlakuan pendinginan selama 13 jam dan secara keseluruhan sosisnya disukai panelis dengan nilai 3,70. Adapun stabilitas emulsi yang rendah sebesar 62,97 persen dan lidak disukai panelis dengan nilai 1,95 pada perlakuan pendinginan selama 37 jam

    Peranan Perubahan Komponen Prekursor Aroma dan Cita Rasa Biji Kakao Selama Fermentasi Terhadap Cita Rasa Bubuk Kakao yang Dihasilkan

    No full text
    Telah dilakukan penelitian tentang peranan perubahan komponen prekursor aroma dan cita rasa biji kakao lindak selama fermentasi terhadap cita rasa bubuk kakao yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan dengan variasi waktu fermentasi dari 0 hari (tanpa fermentasi) sampai 8 hari. Biji kakao hasil fermentasi dikeringkan dengan pengering buatan. Biji kakao kering dibuat bubuk kakao dengan metode "liquor" process" . Bubuk kakao secara indrawi diuji tingkat kesukaan oleh sejumlah panelis terpilih. Juga dilakukan analisis komponen prekursor aroma dan cita rasa seperti total asam amino, gula reduksi, total polifenol, teobromin dan keasaman (pHl). Hasil analisis menunjukkan bahwa selama fermentasi terjadi peningkatan kandungan total asam amino dan gula reduksi, dan nilai tertinggi dicapai berturut-turut sebesar 0,60 dan 0,65% pada fermentasi 6 hari. Kandungan total polifenol dan teobromin berturut-turut turun mencapai 5,68 dan 1,42% dengan lama fermentasi yang sama. Baik total asam amino, gula reduksi, total polifeno. maupun teohromin terbukti semuanya memiliki peranan yang besar pada aroma dan cita rasa bubuk kakao yang dihasilkan

    Simulasi Pemerkiraan Parameter Sifat Fisikawi Bahan Makanan dengan Metode Penjejak Parameter

    No full text
    Simulation of the parameter tracking method was used to estimate the physical parameters of food material. The input-output relationships of the materials were based on known mathematical models. Three mathematical models of the food properties were studied: the Kelvin model of linear viscoetastic material, the power law of non Newtonain liquid, and the impact model of a non linear viscoelastic spherical object. The results indicated that the parameter tracking method can determine the parameters of the models correctly. However the speed of the estimation depends on the models. The estimation of the parameters of the linear model converged Faster than that of non linear models

    Hubungan Keadaan Kimiawi dan Mikrobiologik Bandeng Asap Pada Penyimpanan Suhu Kamar dengan Sifat Organoleptiknya

    No full text
    Perubahan kimiawi dan keadaan mikrobiologik bandeng asap telah diamati selama penyimpanan pada suhu kamar. Bandeng asap dibuat dengan cara pengasapan panas (suhu ± 70°C) selama 3 - 4 jam dengan bahan serbuk gergaji kayu jati. Pengamatan keadaan kimiawi meliputi kandungan ammonia, kerusakan lemak, dan keadaan asamnya. Diperoleh keterangan, pengasapan dapat menaikkan kandungan ammonia dan total asam, tetapi menurunkan nilai TBA-nya. Setelah bandeng asap disimpan pada suhu kamar, kandungan ammonia dan nilai TBA-nya meningkal terus masing-masing mencapai 40% dan 160% pada penyimpanan empat hari. Total asam mula-mula menurun kemudian meningkat selama penyimpanan. Pengasapan juga menurunkan jumlah bakteri lebih daripada 93%. tetapi pertumbuhan bakteri meningkat selama penyimpanan. Jamur dapat mulai tumbuh setelah penyimpanan dua hari, sedangkan pada hari ketiga penyimpanan bandeng asap, pertumbuhan jamur menjadi nyata terlihat. Penyimpanan dua hari hampir tidak merubah penerimaan (kesukaan) panelis terhadap bau dan kenampakan bandeng asap, pada saat kandungan ammonia dan nilai TBA-nya masing-masing baru mencapai 30 mg/kg dan 620 mg/kg. Bau dan kenampakan bandeng asap tidak lagi disukai panelis setelah penyimpanan berlangsung 4 hari, pada saat kandungan ammonia mencapai 39 mg/kg dan nilai TBA mencapai 680 mg/kg ikon asap

    Peranan Teknologi Konstruksi dalam Menunjang Pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan yang Berkelanjutan

    No full text
    Insufficient involvement of O&M staffs' the design and construction stages, and the designers are not sufficiently alert to the requirement of O&M, indicate that the principle of water resources development as a unit system of operation and maintenance focussing on management have not been adopted in Indonesia. This condition causes weak linkage between construction and O&M, as indicated by unsuited structures to the local O&M capability. Low reliability of topographic map, complicated structural network, and insufficient data information on physical environment are also strongly influence on the unsuited structures to the O&M practice. Attempting to eliminate the problem, it is suggested that the adopted technology of construction has to be more flexible to accomodate the specific site requirements. As the complement of this effort the current administrative procedure of project implementation has to be revised in some ways so that the technology of construction transferable to O&M. By adopting this procedure of project implementation, technology of construction will have significant contribution in attaining sustainable O&M

    Penyimpanan Buah Rambutan dalam Atmosfir Termodifikasi

    No full text
    Penelitian tentang penyimpanan buah rambutan segar dalam Iingkungan udara termodifikasi dimaksudkan untuk memperpanjang umur simpan yang sudah diketahui berhasil untuk berbagai macam buah. Penyimpanan dengan atmosfir termodifikasi yang digunakan campuran gas CO2 4%, 02 4 - 8%, N2 88 - 92%; dengan suhu 10 - 15°C. Parameter yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan penyimpanan sifat-sifat fisik dan kimia yang dianalisis sampai buah memberikan tanda-tanda rusak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan buah diikuti dengan penurunan kadar gula, vitamin C, tekstur dan sebaliknya terjadi peningkatan asam dan timbulnya warna coklat pada kulit dan rambut serta berbau tidak sedap. Penyimpanan buah rambutan dengan menggunakan campuran gas CO2 4%, 02 6%, dan N2 90%, pada suhu 15°C memberikan hasil yang terbaik yaitu sampai hari ke-16 buah masih tetap segar, sedang yang disimpan dalam atmosfir terbuka sudah rusak pada hari ke-4

    Toxicological Aspects of Sorbates : A Review

    No full text
    Sorbic acid its sodium or potassium salts (sorbates) are still commonly used in preserved foods of plant or animal origin. It effectively inhibits the growth of yeast and mold species in processed foods pose no health hazard when properly used. According to published literatures, it is clear that sorbates are less toxic than other commonly used antimicrobial agents, because sorbic acid is metabolized in mammals in a similar way as other fatty acid such as caproic acid. For comparison, the LD50 of sodium chloride in rats is 5 g/kg body weight, while the LD50 of sorbic acid and potassium sorbate Is 10.5 and 6.2 g/kg body weight, respectively. Therefore, consumers, food processors and regulatory agencies should not considered sorbates as the most dangerous "public enemy". Proper method and.levels of use should always be advised

    Identifikasi Bahaya Kontaminasi Staphylococcus aureus dan Titik Kendali Kritis Pada Pengolahan Produk Daging Ayam dalam Usaha Jasa Boga

    No full text
    The increasing demand of ready-to-eat food in big cities has led to the increasing number of food catering businesses. Ready to-eat foods prepared by food caterers have frequently been implicated as vehicles in outbreaks of foodborne diseases and their practices are potential vehicles of foodborne illness. Staphylococcus aureus is a foodborne pathogen which is of major concern for its ability to grow and produce heat resistance enterotoxin in variety of foods. Risks of eating ready-to-eat food, can be evaluated by the hazard analysis and critical control point (HACCP) approach. The objective of the study was to identify the hazard and critical control points relating to the production of several chicken meat products by food catering, especially from S. aureus contamination. Production of chicken satay, chicken meatball, and grilled chicken were evaluated in this study. The result indicated that raw chicken meats had total S. aureus of 10$-106 CFUIg and total bacterial count of 107 CFUIg. During processing the number of S. aureus varied from 103 to 106 CFU/g according to the processing procedures. The number of total S. aureus of the finished products were < 102-103 CFU/g. During serving the products contained total bacterial count of 105 CFU/g and total S. aureus of 103-106 CFUIg. The D values of S. aureus at 45.60, and 65.5°C were 200,6.49, and 3.26 minutes, respectively. Evaluation on the processing procedures indicated that heating was the most important step in reducing bacterial population. The critical control points of these three products were refrigerating, cooking, distributing and serving

    Some Characteristics of Oil Palm and Sago Starch Acetates

    No full text
    Pati kelapa sawit dan pati sagu diasetilasi dengan anhidrid asetat pada suhu 25°C dalam larutan alkali. Tingkat pemberian anhidrit asetat adalah 2,5 - 15,0 %, berdasar berat kering pati. Pati asetat yang diperoleh dicirikan mengenai tingkat substitusi (DS), perilaku pembentukan pasta, kemampuan penggelembungan, dan kedapat cernaannya menggunakan amilase pankreas babi. Hasilnya menunjukkan bahwa makin banyak tingkat pemberian anhidrid asetat menghasilkan pati dengan DS makin besar. Prosedur modifikasi yang dilakukan menghasilkan turunan pati dengan DS 0,007 - 0,095 untuk pati kelapa sawit, dan DS 0,041 - 0,056 untuk pati sagu. Asetilasi berakibat menurunkan suhu pembentukan pasta, meningkatkan kemampuan penggelembungan, dan menurunkan kedapatcernaannya secara in vitro. Pati kelapa sawit dan turunannya memiliki suhu pembentukan pasta yang lebih rendah dari pada pati sagu dan turunannya. Sifat-sifat pati kelapa sawit mirip dengan sifat-sifat pati sagu dalam beberapa hal

    861

    full texts

    1,394

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    agriTECH
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇