1394 research outputs found

    Cover Vol. 42 No. 1

    No full text

    Evaluasi Kualitas Mi Kering dengan Tepung Labu Kuning dan Tepung Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) sebagai Substitusi Sebagian Tepung Terigu

    Get PDF
     Mi kering merupakan salah satu jenis pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas. Hal tersebut menyebabkan peningkatan konsumsi tepung terigu sebagai bahan dasar mi. Selain itu dapat menyebabkan tingginya impor gandum di Indonesia. Tepung labu kuning merupakan salah satu bahan yang dapat menggantikan tepung terigu pada pembuatan mi kering. Kandungan karbohidrat tepung labu kuning tinggi. Namun karena proteinnya rendah, maka perlu penambahan protein dari luar, misalnya tepung ikan cakalang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat sensoris, fisik, dan kimia mi kering berbahan dasar tepung labu kuning dan tepung ikan cakalang sebagai substitusi sebagian tepung terigu. Formulasi pada pembuatan mi kering yaitu menggunakan rasio tepung terigu:tepung labu kuning sebesar 100:0; 90:10; 80:20; 70:30; 60:40 dan ditambahkan tepung ikan cakalang sebesar 0, 10, 20, 30, 40%. Mi kering yang dihasilkan kemudian dianalisis sifat sensoris, fisik, dan kimianya. Berdasarkan sifat sensorisnya, formulasi mi kering dengan tepung terigu:tepung labu kuning sebesar 80:20 masih dapat diterima oleh panelis. Rasio tepung ikan cakalang terbaik berdasarkan sifat fisik dan sensoris hingga 20%. Penambahan tepung ikan cakalang sebesar 20% menghasilkan mi kering dengan warna kuning, aroma, rasa, tekstur dan aftertaste yang masih dapat diterima panelis. Penambahan tepung ikan cakalang sebesar 10-40% akan meningkatkan nilai cooking loss, kekerasan, tetapi menurunkan nilai daya serap air, swelling index, tensile strength mi kering yang dihasilkan. Kandungan protein mi kering yang diformulasikan tepung ikan cakalang sebesar 20% meningkat sebesar 2,09 kali lipat, yaitu dari 12,03% db menjadi 25,10% db. Mi kering yang dihasilkan memiliki kadar air, abu, dan protein yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI)

    MaxEnt-Simulated Site Suitability Model for Adlai (Coix lacryma-jobi. L.) in Bukidnon, Philippines

    Get PDF
    To create a baseline and projected site suitability models for Adlai and assess the effects of climate change on the distribution of the species, 52 species occurrence points (SOPs) and 14 bioclimatic variables were used. Subsequently, purposive sampling was adopted to collect SOPs, while bioclimatic variables were obtained from a credible online source. The results showed that 245,980 hectares in the province are suitable for species based on the model. To determine the impact of climate change, the projected suitability modeled over 30 years was used, showing an increase from 245,980 hectares to 391,872, an increase of 145,892 hectares. Most of the projected suitable areas are in the southern part where some towns have almost 100% suitability coverage. The prediction accuracy of the model was excellent at 92% based on the Receiver Operating Characteristic-Area Under Curve (ROC-AUC). The bioclimatic variable with the most important contribution is AP12 (annual precipitation) which obtained 24.74%. The information generated in this research is essential for interested sectors in planning, targeting, and prioritizing strategic areas for Adlai investment programs

    Pengaruh Derajat Sosoh dan Pencucian terhadap Karakteristik Nasi Instan Biofortifikasi

    Get PDF
    Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh derajat sosoh dan jumlah pencucian terhadap karakteristik nasi instan biofortifikasi. Bahan baku yang digunakan adalah beras varietas Inpari IR Nutri Zinc. Proses produksi nasi instan terdiri dari beberapa tahapan yaitu perendaman dalam larutan Na-Sitrat, pencucian, pemasakan, pendinginan, pembekuan, thawing, pengeringan, dan pengemasan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan frekuensi pencucian (x1 :2, x2 :3, dan x3 :4 kali) dan derajat sosoh (y1 :90, y2 :95 dan y3 :100). Setiap perlakuan diulang sebanyak dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat sosoh dan jumlah pencucian pada beras berpengaruh terhadap karakteristik nasi instan biofortifikasi (p < 0.05). Perlakuan terbaik untuk memproduksi nasi instan biofortifikasi yaitu beras dengan derajat sosoh 95 dan pencucian 2 kali. Nasi instan biofortifikasi yang dihasilkan memiliki waktu rehidrasi sebesar 4,21 menit, kadar Zn sebesar 22,11 ppm, kadar Fe sebesar 17,3 ppm, daya cerna pati sebesar 5,99%), dan kadar serat pangan total sebesar 6,86% sehingga cocok dikonsumsi terutama untuk mencegah stunting. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk nasi instan biofortifikasi dapat dijadikan sebagai alternatif makanan pokok siap saji dan layak dikonsumsi oleh masyarakat, terutama untuk mencegah stunting.

    Cover Vol. 42 No. 3

    No full text

    Pengaruh Temperatur Pengeringan pada Karakteristik Pengeringan Nori dari Campuran Ulva lactuca dan Eucheuma cottonii

    Get PDF
    Nori merupakan makanan berbahan dasar rumput laut Porphyra namun hingga saat ini masih import. Perlu dilakukan penelitian untuk membuat nori dari bahan dasar rumput laut lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi terbaik nori dari rumput laut Ulva lactuca dan Eucheuma cottonii serta mempelajari karakteristik pengeringannya. Kombinasi perlakuan yang digunakan adalah komposisi rumput laut dan suhu pengeringan. Komposisi yang digunakan A (85% Ulva lactuca  dan 15% Eucheuma cottoni), B (75% Ulva lactuca  dan 25% Eucheuma cottoni) dan C (65% Ulva lactuca  dan 35% Eucheuma cottoni). Suhu pengeringan yang digunakan adalah 75 °C, 85 °C, dan 100 °C dengan alat pengering oven memmert  UN series 55. Empat model pengeringan digunakan untuk mengevaluasi laju pengeringan yakni Henderson and Pubis, Lewis, Page dan Modified Page. Nilai Root Mean Square Error (RMSE) terendah, serta nilai R 2 tertinggi digunakan untuk menentukan model yang paling sesuai. Hasil penelitian menunjukkan suhu 100 °C memberikan waktu pengeringan yang lebih cepat. Nori dengan komposisi Ulva lactuca yang lebih besar dan suhu pengeringan yang lebih rendah memberikan permukaan nori yang lebih halus sehingga komposisi A dengan suhu pengeringan 75 °C memberikan tampilan nori yang paling baik. Suhu pengeringan 100 °C memberikan waktu pengeringan yang lebih cepat. Karakteristik pengeringan nori didominasi dengan laju pengeringan tetap sedangkan laju pengeringan menurun di akhir pengeringan. Laju pengeringan nori terbesar diperoleh pada suhu pengeringan tertinggi (100 °C) dengan nilai laju pengeringan kelompok A, B dan C secara berurutan adalah 12,97; 15,05; dan 16,92. Hasil evaluasi model pengeringan lapisan tipis menunjukkan bahwa model Page memiliki nilai R 2 tertinggi dan nilai RMSE terendah pada semua kelompok komposisi nori dan suhu pengeringan. Sehingga model Page merupakan model pengeringan lapisan tipis yang paling sesuai untuk menggambarkan karakteristik pengeringan nori Ulva lactuca dan E cottonii

    Cover Vol. 42 No. 4

    No full text

    Indeks Subjek Volume 42 Tahun 2022

    Get PDF

    Improvement of Antioxidant Activity and Sensory Quality of Pagilaran’s Tea Clones Treated by Tannase

    Get PDF
    PT. Pagilaran developed five new clones named PGL 9, PGL 10, PGL 11, PGL 12, and PGL 15 for black tea. These clones can be potentially made into ready-to-drink (RTD) instant tea beverages with low antioxidant activity. Tannase is an industrial enzyme with great potential for application in the food industry used to hydrolyze gallated ester catechin in green tea. There were no findings on the effects of this enzyme treatment on the chemical composition of PT Pagilaran’s tea clones. Therefore, this study is aimed to observe the effects of tannase treatment on five clones of black tea extracts to the antioxidant activity, profile of phenolic compounds, the tea brew color, consumer acceptance, and volatile compounds. The leaves of the plucking medium were traditionally processed into black tea. Furthermore, the tea brew was added at a 100 mg/100 mL concentration and then incubated for 1 hour at 37 °C. Additional tannase increased their antioxidant activities, the gallic acid, EC, and EGC concentrations due to hydrolysis of ECG, EGCG, or their derivatives. The color of the tea brew was brighter and yellower than the untreated, but the level of consumer acceptance was still good. The profile aroma and volatile compounds showed no significant changes after enzymatic treatment

    Skrining pada Berbagai Jenis Umbi dan Pisang sebagai Sumber Difructose Anhyride III (DFA III) Melalui Reaksi Enzimatis

    Get PDF
    Difructosa Anhyride III (DFA III) dapat diproduksi melalui reaksi enzimatis menggunakan inulin. Inulin dapat diperoleh dari akar/umbi dan batang tanaman. Pada penelitian ini, jenis umbi-umbian dan pisang yang diketahui sebagai salah satu sumber inulin dan akan diproses untuk pembuatan DFA III menggunakan inulin fructotransferase (IFTase) Nonomurae sp. Tujuan penelitian ini adalah melakukan tahapan skrining untuk memperoleh bahan baku sumber inulin dari berbagai jenis jenis umbi dan pisang yang berpotensi sebagai sumber pembuatan DFA III. Metode yang digunakan yaitu melalui reaksi enzimatis menggunakan Inulin fruktotransferase (IFTase). Umbi dan pisang diblansing, dipotong dan diblender dan ditambahkan air panas dengan rasio 1:2. Ekstrak inulin yang dihasilkan diukur secara kualitatif menggunakan metoda kromatografi lapis tipis (KLT) dan metode spektrofotometer. Hasil penelitian menujukkan bahwa umbi jalar mempunyai potensi besar dalam pembentukan DFA III dengan kadar inulin sebesar 7.03%, sedangkan untuk jenis pisang tidak berpotensi dalam pembentukan DFA III, hanya memiliki kandungan inulin saja (20,1%)

    861

    full texts

    1,394

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    agriTECH
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇