agriTECH
Not a member yet
1394 research outputs found
Sort by
The Physical, Mechanical, Barrier Characteristics, and Application of Edible Film from Yellow Sweet Potato and Aloe Vera Gel
This study aimed to determine the effect of the concentrations of yellow sweet potato starch and aloe vera gel on the physical, mechanical, and barrier characteristics of the edible film, which is applied as packaging for strawberries. It was carried out using a factorial randomized block design (RBD) consisting of 2 stages where the first step was making edible with varied yellow sweet potato starch and aloe vera gel, followed by the application of the selected edible film. The two factors used as edible films were yellow sweet potato starch (Ipomea batatas) at 2%, 3%, and 4% w/v, as well as aloe vera gel (Aloevera barbadensis) at 5%, 10%, and 15% v/v concentrations. The formulation was applied to the strawberries to examine their ability to extend shelf life. The parameters tested in the first step were thickness, color, solubility, transparency, tensile strength, elongation, and WVTR, while weight loss, texture, and color were examined in the second stage for four days of storage. The results showed an interaction between yellow sweet potato starch and aloe vera gel on thickness with a range of 0.07-0.16 mm, L value of 66.73-73.23, a* value of 0.8-2.5, b* value of 11.1-14.4, solubility of 33.24-56.16%, transparency 2.68-3.43 A/mm, tensile strength 0.08-0.70 MPa, elongation in the range of 10.95-51.14%, and WVTR of 3.97-4.90 g/m 2 /24 hours. This showed that the application of edible coating with the best treatment can prevent a decrease in weight loss, texture andcolor intensity as well as extend the shelf life of strawberries up to two times
Penilaian Indikasi Geografis Pegunungan Hyang Argopuro dan Kesesuaian Lahannya untuk Budidaya Kopi
Kopi adalah salah satu komoditas pertanian yang menjadi produk unggulan di Kabupaten Bondowoso. Salah satunya adalah biji kopi yang dihasilkan oleh petani di Desa Tanah Wulan. Kopi yang dihasilkan oleh petani di Tanah Wulan memiliki rasa dan aroma yang khas karena dipengaruhi oleh kondisi geografis kebun kopi yang berada di lereng pegunungan Hyang Argopuro. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis karakteristik sumberdaya lahan pada lereng pegunungan Hyang Argopuro, khususnya di Desa Tanah Wulan dan membuat peta kesesuaian lahannya. Sumberdaya lahan tersebut berpengaruh terhadap cita rasa kopi, sementara pembuatan peta berpengaruh pada pengembangan kopi di masa datang. Penelitian ini penting untuk dilakukan agar produk kopi di Bondowoso mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis sebagai bukti cita rasa produk kopi di lokasi penelitian. Selain itu, Indikasi Geografis tersebut juga bertujuan menunjukkan karakteristik sumberdaya lahan yang ada disana dan membedakannya dari lokasi-lokasi lain. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS, set pengambilan tanah, software ArcGIS 10.4, sampel tanah, data curah hujan tahun 1999 – 2018, data DEM (Digital Elevation Modul), dan data suhu tahun 1999 – 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis perkalian bobot kesesuaian lahan untuk komoditas kopi berdasarkan kriteria parameter dari Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Center, kemudian dipetakan menggunakan software ArcGIS 10.4. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman kopi Arabika di Desa Tanah Wulan terdapat 4,09 Ha atau 0,42% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S1 (sangat sesuai), 977,28 Ha atau 99,52% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S2 (cukup sesuai), dan 0,62 Ha atau 0,06% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S3 (sesuai marginal). Sedangkan untuk tanaman kopi Robusta terdapat 918,89 Ha atau 93,58% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S2 (cukup sesuai) dan 63,10 Ha atau 6,42% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S3 (sesuai marginal). Oleh karena itu perlu dilakukan pemberian irigasi yang baik, pembuatan terasiring, dan pemberian zat hara agar lahan yang ada bisa lebih sesuai untuk pengembangan tanaman kopi. Sementara itu, hasil penilaian indikasi geografisnya, yaitu wilayah tersebut memiliki ciri suhu 17 – 27 °C, ketinggian 300 – 1.700 mdpl, curah hujan tahunan 1.800 – 2.000 mm/tahun, lama bulan kering 2 bulan, tekstur tanah agak kasar (lempung berpasir), mengandung c-organik lebih dari 1,8% - 6%, dan kemiringan lereng 8 – 30%
Produksi Selobiosa dari Hidrolisis Kulit Umbi Singkong dan Uji Aktivitas Prebiotiknya pada Lactobacillus plantarum
Kulit umbi singkong merupakan salah satu limbah dari industri pengolahan singkong. Eksplorasi dari pemanfaatan selulosa kulit umbi singkong dilakukan untuk mendapatkan peningkatan nilai tambah dan menjawab kebutuhan industri, salah satunya adalah selobiosa sebagai alternatif sumber prebiotik. Selobiosa didapatkan melalui hidrolisis selulosa dengan enzim selulase. Penelitian ini bertujuan memproduksi selobiosa dengan menggunakan kombinasi konsentrasi enzim selulase dan waktu hidrolisis yang tepat, serta menguji aktivitas prebiotik selobiosa yang dihasilkan menggunakan Lactobacillus plantarum. Penelitian ini menggunakan kulit umbi singkong varietas Gajah (GJ-0) dari Sukabumi, Jawa Barat. Metode yang dilakukan pada penelitian ini meliputi karakterisasi bahan baku, ekstraksi selulosa dari kulit singkong, hidrolisis selulosa menjadi selobiosa, pengukuran total gula dan gula pereduksi produk hidrolisis, kinetika reaksi hidrolisis, uji kemampuan tumbuh probiotik dan penentuan skor aktivitas prebiotik. Proses hidrolisis menggunakan enzim selulase berkonsentrasi 1,15 U/mL dan 2,88 U/mL, pH 4,8, suhu 37 °C, kecepatan agitasi 150 rpm, dan diamati selama 24 jam waktu hidrolisis. Hasil menunjukkan bahwa selama 12 jam waktu hidrolisis dapat menghasilkan selobiosa dengan derajat polimerisasi 2,05 pada selulase berkonsentrasi 1,15 U/mL dan 1,94 pada selulase berkonsentrasi 2,88 U/mL. Hidrolisis selama 12 jam dengan konsentrasi enzim 1,15 U/mL meningkatkan kandungan total gula sebesar 516,30±16,57 mg/L dan gula pereduksi sebesar 250,03±9,43 mg/L. Peningkatan penggunaan konsentrasi selulase menjadi 2,88 U/ mL menghasikan kandungan total gula menjadi 592,41±17,81 mg/L dan kandungan gula pereduksi menjadi 304,67±10,70 mg/L. Reaksi hidrolisis selulase mengikuti kinetika reaksi ordo 0 dengan nilai k yang tidak jauh berbeda diantara kedua konsentrasi enzim yang digunakan. Penggunaan konsentrasi enzim sebesar 1,15 U/mL selama 12 jam waktu hidrolisis adalah kombinasi terbaik. Potensi prebiotik dari selobiosa terlihat dengan adanya pertumbuhan Lactobacillus plantarum pada MRS dimana glukosa disubstitusi dengan selobiosa. Produk hidrolisis dengan selulase berkonsentrasi 2,88 U/ml memiliki skor aktivitas prebiotik 0,74 dan lebih tinggi dibandingkan produk hidrolisis dengan konsentrasi selulase 1,15 U/mL, yakni dengan skor 0,60
Pengaruh Jenis Beras dan Konsentrasi Karboksimetil Selulosa (CMC) terhadap Tape Beras Probiotik dan Produk Es Krim
Tape merupakan makanan fermentasi berbahan dasar pati yang salah satunya dibuat dari beras ketan. Beras digunakan sebagai pengganti beras ketan karena harganya lebih murah. Penambahan pengental karboksimetil selulosa (CMC) untuk meningkatkan kelengketan dan penambahan bakteri asam laktat (BAL) Lactobacillus plantarum DAD-13 yang telah teruji sebagai probiotik untuk memenuhi syarat makanan probiotik. Penelitian ini bertujuan menghasilkan tape beras probiotik, mengevaluasi mutu tape beras probiotik yang dihasilkan, serta menerapkannya pada es krim. Penelitian ini menggunakan desain rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan tiga jenis beras, yaitu beras pratanak Ciherang, Rojolele, dan Ciherang dengan perlakuan penambahan bahan pengental CMC pada tiga konsentrasi, yaitu 0%, 1,5%, dan 2%. Parameter yang diamati adalah sifat kimia, fisika, mikrobia serta tingkat kesukaan konsumen. Parameter yang diamati pada es krim tape adalah tingkat kesukaan dan jumlah bakteri asam laktat. Hasilnya diketahui jenis beras dan konsentrasi bahan pengental CMC tidak mempengaruhi kadar alkohol, kecerahan dan kelengketan tetapi mempengaruhi gula reduksi, kadar air, nilai pH, jumlah bakteri asam laktat, dan jumlah yeast tape beras probiotik. Tape terpilih diambil dari jumlah bakteri asam laktat terbanyak dengan tingkat kesukaan konsumen yang tinggi yaitu tape beras probiotik pratanak Ciherang dengan pengental CMC 1,5%. Tape ini mempunyai nilai parameter warna 2,64, aroma 2,68, rasa 2,20, tekstur 2,36, kelengketan 2,80, keseluruhan 2,44 dan hasil analisis kadar pati 23,34 ± 0,02%; kadar gula reduksi 21,84±0,06%, kadar amilosa 52,62±0,38% kadar air 63,89± 1,16%, kadar abu 0,87 ± 0,02%, kadar lemak 0,30 ± 0,02%, kadar protein 5,65 ± 0,01%, kadar asam laktat 0,36 ± 0,02%, kadar asam asetat 0,24 ± 0,02%, nilai pH 5,65 ± 0,01, kadar alkohol 0,87 ± 0,06%, jumlah BAL 1,9 x 10 9 cfu/g dan jumlah yeast 3,0 x 10 6 cfu/g. Es krim yang ditambah 25% tape beras probiotik mengandung jumlah BAL 1,8 x 10 7 cfu/g
Pemetaan Kinerja Sistem Irigasi Berbasis WebGIS pada Daerah Irigsi Krueng Jreu Kabupaten Aceh Besar
Kebutuhan irigasi dalam aspek dunia pertanian merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. Kabupaten Aceh Besar belum mempunyai informasi kinerja sistem irigasi berbasis online, sehingga diperlukan sistem informasi geografis (SIG) guna memberikan informasi mengenai kondisi jaringan irigasinya. Tujuan penelitian ini menilai kinerja sistem irigasi dan menyusun sistem informasi geografis dari data kinerja sistem irigasi yang berbasis web agar mudah diakses user secara online. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengumpulan data primer yang didapatkan dari penelusuran jaringan irigasi Krueng Jreu berupa pengambilan titik koordinat menggunakan GPS, dokumentasi bangunan irigasi dan indeks penilaian kinerja sistemirigasi. Data sekunder berupa data mengenai Daerah Irigasi Krueng Jreu yang didapatkan dari instansi terkait. Pengolahan data dan penyajian informasi sistem kinerja irigasi menggunakan software Quantum GIS versi 3.4.11. Hasil penelitian menunjukkan kinerja sistem irigasi keseluruhan dengan indeks sebesar 74,53% (tergolong baik). Namun aspek kinerja irigasi sarana penunjang dengan indeks 65,55% masih memerlukan perhatian, indeks aspek dokumentasi sebesar 59,40% (kurang baik) sedangkan indeks dari aspek kelembagaan P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) memiliki nilai 44,33% (berkategori jelek). Informasi kinerja sistem irigasi tersebut telah mampu ditampilkan dalam bentuk sistem informasi geografis berbasis web. Pemetaan kinerja sistem irigasi Krueng Jreu berbasis web dapat diakses melalui alamat URL http://tp.unsyiah. ac.id/webgis/1605106010019
Kajian Keju Mozzarella Analog yang Disubstitusi dengan Pati Termodifikasi
Keju mozzarella analog (KMA) merupakan keju mozzarella imitasi yang telah menjadi perhatian beberapa tahun terakhir. Namun, keju mozzarella analog memiliki umur simpan yang pendek karena tekstur dan regangannya tidak stabil pada suhu tinggi. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan umur simpan keju mozzarella analog dengan mensubstitusi lemak menggunakan pati termodifikasi. Pada penelitian ini digunakan tiga tipe pati termodifikasi yaitu pati beras, pati jagung, dan pati kentang. Pada penelitian ini, kestabilan KMA terpilih dipelajari pada beberapa suhu penyimpanan berbeda yaitu 5 °C, 15 °C, 25 °C, dan 35 °C. Kekerasan dan daya regang merupakan parameter yang diamati selama penelitian. Keju mozzarella analog terpilih pada penelitian ini adalah KMA yang disubstitusi dengan 5% pati beras termodifikasi. Kualitas KMA menurun seiring dengan meningkatnya suhu penyimpanan. Paramater regangan menurun lebih cepat dari pada parameter kekerasan. Laju penurunan kualitas kekerasan dan regangan pada suhu 5 °C, 15 °C, 25 °C, dan 35 °C berturut-turut 0,017; 0,022; 0,105; dan 0,151% per hari dan 0,025; 0,028; 0,172; dan 0,222% per hari. Karakteristik penurunan kestabilan kekerasan dan regangan yang dipengaruhi oleh suhu disebut dengan energi aktivasi (Ea) adalah 14378,64 kal/mol dan 14507,73 kal/mol. Stabilitas KMA meningkat berturut-turut 31 hari (46%), 10 hari (34%), 3 hari (22%), dan 1 hari (15%) pada masing-masing suhu penyimpanan 5 °C, 15 °C, 25 °C, dan 35 °C. Kestabilan KMA terpilih pada suhu ruang (30 °C) meningkat 10%. Substitusi pati beras termodifikasi juga dapat mengurangi aw dari 0,95 menjadi 0,92
Perancangan Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Lokasi Agroindustri: Studi Industri Tahu di Daerah Istimewa Yogyakarta
Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) pada studi kelayakan pemilihan lokasi agroindustri dengan analisis finansial dan lingkungan belum banyak dilakukan, khususnya untuk kelayakan industri sekala kecil menengah di area permukiman. Penelitian ini bertujuan membuat rancang bangun sistem pendukung keputusan (SPK) pemilihan lokasi agroindustri dengan kombinasi analisis finansial dan spasial lingkungan. Studi dilakukan untuk penetapan lokasi industri tahu di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penelitian dilakukan melalui tahapan perancangan context diagram, hierarchical input process output (HIPO), dan data flow diagram. Sistem dirancang dengan 2 desain antarmuka: untuk user (interface front end) dan antarmuka oleh admin (interface back end). Hasil penelitian adalah prototype aplikasi pendukung keputusan berbasis website bernama IFSS (Industrial Feasibility Support System) dengan alamat domain http://ifssugmku.com/. Pemilihan lokasi industri dengan kriteria finansial dan lingkungan dilakukan untuk menentukan lokasi yang paling sesuai bagi pendirian industri. Uji coba sistem menunjukkan Kabupaten Gunungkidul merupakan lokasi dengan hasil kelayakan finansial tertinggi dengan nilai NPV (Rp) 879.520.243, sementara Kabupaten Bantul dan Kulon Progo merupakan daerah dengan sebaran lokasi terpilih tertinggi dari analisis lingkungan menggunakan teknik overlay. Verifikasi dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan manual dengan hasil perhitungan aplikasi, serta membandingkan sebaran lokasi keberadaan 14 sampel industri tahu di DIY dengan hasil pemilihan lokasi secara spasial pada ArcGIS Pro. IFSS adalah aplikasi untuk membantu memberikan petimbangan pemilihan lokasi industri secara finansial dan lingkungan
Mutu Fisik Buah Salak Pondoh (Salacca edulis Reinw): Pengaruh Pelilinan dan Pengemasan Menggunakan Kantong Plastik Low Density Polyethylene
Salak Pondoh (Salacca edulis Reinw) merupakan komoditi unggulan Yogyakarta, khususnya Kabupaten Sleman. Buah salak Pondoh telah diekspor ke beberapa Negara. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pelilinan dan kemasan individu salak Pondoh menggunakan plastik Low Density Polyethylene (LDPE). Lima perlakuan pelilinan dan pengemasan, yaitu pengemasan individu buah (kantong LDPE) dengan pengemasan sekunder (kotak karton berlubang) (A), pengemasan individu buah (kantong LDPE) dengan pengemasan sekunder (keranjang plastik) (B), pelilinan dengan penambahan ekstrak lengkuas 5% dengan pengemasan sekunder (keranjang plastik) (C), pengemasan sekunder (keranjang plastik) (D), dan pengemasan dengan kotak karton berlubang (E). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kantong LDPE dengan kemasan sekunder keranjang plastik maupun karton berpengaruh positif dalam menurunkan susut bobot, mempertahankan tekstur dan warna daging buah. Pelilinan dengan penambahan ekstrak lengkuas 5% berpengaruh negatif pada penurunan susut bobot, mempertahankan kekerasan (tekstur) dan warna daging buah. Penggunaan kantong LDPE untuk pengemasan buah salak dapat mempertahankan umur simpan sampai hari ke-30 dengan susut bobot di bawah <10%
The Physicochemical Characteristics of Palado Seed Flour (Aglaia sp.) and Its Potential Use as a New Alternative Flour in Indonesia
Flour is one of the main energy sources for humans and an important ingredient in food processing, for use as fillers, thickeners, gel, film forming and adhesives. Therefore, this study aimed to analyze the physicochemical characteristics of palado seed flour (Aglaia sp.) including proximate analysis and chemical properties comprising energy, carbohydrates, water, and protein, content, as well as dietary fiber, starch, amylose and amylopectin. Furthermore, the physical properties including yield, particle size, degree of whiteness, paste clarity, gel strength, swellability and water absorption, as well as the potential use of palado flour (Aglaia sp) in food processing were analyzed. The study was conducted with a method comprising two stages, namely pre-treatment including processing palado fruit into seeds, drying, and extracting flour, as well as proximate analysis of the physicochemical characteristics. The results showed energy content of 396.14 kcal/100 g, carbohydrates 69.78%, water content 7.53%, protein 9.59%, fat 8.74%, dietary fiber 4.02. %, ash 4.36%, starch 41.31%, amylose 5.68% and amylopectin content 35.63%. Meanwhile, the physical characteristics include the yield of 84.21% with a particle size of 60 mesh, degree of whiteness 29.27%, paste clarity 29.7%, gel strength 109.96 gf, swelling power 0.4%, and water absorption 133.72 %. Based on the results, palado flour has high potential to be developed as the main or alternative ingredient in bread and noodle processing, such as durian and jackfruit seed flour
Qualitative Evaluation of Land Suitability for Olive, Potato and Cotton Cultivation in Tarom in Zanjan
The use of soil as one of the main factors in the manufacture of agricultural products for human consumption must be carried out using the right basis and scientific principles. One of the ways to achieve this important goal is to assess land suitability for common crops in the study area. It is also necessary to determine product compatibility based on the soil and climate conditions to reduce the risk of investment because there is no history of the studied plant’s cultivation in the region. Therefore, this study aims to evaluate the suitability of land for cotton, potato, and olive crops at the bottom of the valley in Tadarom in Tarom region, Zanjan province to ensure proper use planning. After sampling and performing physical, chemical, and profile tests using the classification key of 2014, the soils were classified into different Aridi Sols categories, namely Typic calcigypsids, haplocambids, and torriortent. The climate, soil, and terrain data of the area were then collected from the relevant agencies. Land suitability assessment for olive, potato, and cotton was also performed using the simple constraint, parametric, FAO system methods. The evaluation results showed that the Tahdareh area with series 1 soils was in the not suitable (N) and subclass (Ns) categories using the history and second root methods, respectively with depth and pebbles as the limiting factors. Meanwhile, soil series 2, 3, 4, and 5 were placed in the critical fit (S3 ) and proportionality (S2 ) classes by the story and second root methods, respectively, where they were hindered by drainage. Evaluation of these lands for potato crop by story method for series 1, 2 and 3 shows that they were in Ns class, while 4 was in the proportionality (S3 ) category with lime as the limiting factor. The non suitable class was obtained using the story method (N) for series 2, 3, 4 and 5 and they were hindered by soil depth, while class S3 was obtained for all the soils with the texture and gravel as limit factors. The results showed that the studied lands were relatively suitable for olive groves and the conditions can be improved with corrective factors for drainage and the amount of gravel. The storytelling method has very strict output while presenting its results. The study area was considered a land with critical fit (S3 ) class for olive cultivation, but it was not very consistent with field observations. Furthermore, the second root method had the greatest compliance with the existing realities in the region and it can be considered the most reliable parametric technique in the qualitative assessment of land suitability