1394 research outputs found

    Penambahan Tepung Ubi Jalar Ungu (Ipomea batatas L) dan Tapioka Sebagai Bahan Pengisi Pembentuk Tekstur Nugget Ikan Lele

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik tepung ubi jalar ungu dan tapioka terbaik untuk membentuk tekstur nugget ikan. Penelitian dilakukan melalui 2 tahapan yaitu proses pembuatan nugget dan pengujian nugget ikan lele dengan uji Texture Profil Analysis (TPA) menggunakan Texture analyzer meliputi Hardness, Springiness dan Cohesiveness dan pengujian susut masak produk. Nugget ikan lele dengan perbandingan terbaik kemudian dianalisa proksimat meliputi kadar air, kadar abu, kadar karbohidrat, lemak dan kadar protein. Metode yang digunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan faktor tunggal dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan yakni 6 taraf perbandingan tepung ubi jalar ungu dan tapioka % (b/b) yaitu P0 (0:100), P1(10:90), P2(20:80), P3 (30:70), P4 (40:60) dan P5 (50:50) dan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji barlett dan tukey lalu dilanjutkan dengan uji ANOVA dan uji BNT dengan taraf 5%. Hasil analisis uji TPA menggunakan Texture analyzer yaitu diperoleh perlakuan terbaik pada perbandingan tepung ubi jalar ungu dan tapioka (40:60)% berpengaruh nyata terhadap parameter hardness, springiness dan cohesivennes  namun tidak berbedanyata pada parameter susut masak dengan nilai hardness 374,13 N, Springiness 10,05 mm dan cohesiveness 1,16 mm serta susut masak produk berkisar 1.39 -1,55 % serta analisis kandungan gizi meliputi kadar air (41,75%), kadar abu (0,27%), kadar protein (9,23%), kadar lemak (9,58%) dan kadar karbohidrat (38,14%). Berdasarkan standar mutu SNI nugget ikan 7758 :2013 bahwa produk nugget hasil subtitusi tepung ubi jalar ungu terbaik telah memenuhi standar

    Extraction and Characterization of Glucomannan from Porang (Amorphopallus oncophyllus) with Size Variations of Porang

    Get PDF
    Porang (Amorphophallus oncophyllus) is a tuber plant with high economic value as a raw material for making glucomannan. In this context, glucomannan possesses soluble properties, enabling the material to form a gel and contribute to thickening used in the food, pharmaceutical, and chemical industries. The extraction process uses porang harvested at the age of 3 years, with a size ranging from 10 to 20 cm. Even though the content is established, crucial information regarding the yield and different physical properties, such as viscosity, moisture content, and whiteness, remains unknown. Further analysis on glucomannan extraction should be performed with different age variations, before and after 3 years, namely 1 year, 2 years, and 4 years. Therefore, this study aimed to characterize and test the porang effects of various ages on the yield and physical properties of glucomannan, including viscosity, moisture content, and whiteness. The glucomannan extraction process included heating, filtering, 1:1 extraction, grinding, drying, flouring, and sieving. The results showed that the yield ranged from 49.33 - 69.33%, while the physical properties, including viscosity, moisture content, whiteness, and glucomannan content ranged from 31.556 - 39.556 m. Pas, 4.74 - 6.99%, 81.14 - 83.24%, and 95.13 - 97.57%, respectively. The variations in age of 1 year, 2 years, and 4 years affected yield, but the porang tubers had no effect on glucomannan content, and the quality of the flour on viscosity, moisture content, and whiteness. The variations with different ages met commercial standards, and the best variation was 1-year-old porang tubers with the highest yield of 65.33%. Concerning the physical properties, the highest viscosity, moisture content, whiteness, and glucomannan content was 39.556 m. Pas, 17%, 83.24% and 95.13%, respectively. Therefore, the plant could be harvested at 1 year old for extraction to meet export needs

    Reviewer Volume 43 Tahun 2023

    No full text

    Millennials' Consumer Behavior in the Coffee Agroindustry: The Effect of Consumer Attitudes on Purchasing Decisions

    Get PDF
    Enjoying a good cup of coffee is gaining popularity among Indonesian millennials, particularly in metropolitan areas, with an annual growth rate of 6% in the last decade. Therefore, this study aimed to provide information for adjusting coffee shop marketing strategies by estimating the influence of consumer attitudes, in particular, motivation and perception, and lifestyle, on their purchasing decisions. We sampled 153 individuals (majorly aged 25 to 27 years, with a slight bias toward females) in Yogyakarta, Java, using an online survey with 33 questions on consumer attitudes, along with four demographic questions. The responses were converted to a Likert score and analyzed using multiple linear regression. Our results demonstrate that the consumer attitudes investigated collectively explained ~41%, with motivation and perception being the dominant factor (F = 51,401 ; p < 0.05). It showed that motivation and perception, and lifestyle variables significantly affected coffee shop purchasing decisions among millennials in Yogyakarta. At the same time, the F test revealed that they had a combined effect significantly. Therefore, coffee shop owners must consider consumers' motivation and perception, and lifestyle to increase millennial coffee shop consumers' loyalty in Yogyakarta

    Pemanfaatan Ampas Kopi sebagai Bahan Karbon Aktif untuk Pengolahan Air Limbah Industri Batik

    Get PDF
    Pengolahan air limbah industri batik dapat dilakukan menggunakan metode adsorpsi, diantaranya menggunakan karbon aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis aktivator karbon aktif ampas kopi dan konsentrasi air limbah batik terhadap kualitas air limbah setelah proses adsorpsi dengan mengacu pada parameter baku mutu air limbah tekstil. Parameter pengamatan meliputi derajat keasaman (pH), dissolved oxygen (DO), chemical oxygen demand (COD), biological oxygen demand (BOD), total suspended solid (TSS), total disolved solid (TDS), dan total solid (TS). Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Blok Lengkap (RBL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis aktivator karbon aktif ampas kopi yang terdiri dari: (A1 ) karbon aktif dengan aktivator HNO3 , (A2 ) karbon aktif dengan aktivator H3 PO4 , (A3 ) karbon aktif dengan aktivator ZnCl2 . Faktor kedua adalah konsentrasi air limbah industri batik yang terdiri dari: (B1 ) 50%, (B2 ) 75%, (B3 ) 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis aktivator karbon aktif ampas kopi berpengaruh terhadap pH, TSS, COD, dan BOD air limbah industri batik. Konsentrasi air limbah berpengaruh terhadap TSS, TDS, dan TS. Proses adsorpsi air limbah industri batik terbaik diperoleh pada perlakuan A3 B1 (karbon aktif dengan aktivator ZnCl2 pada konsentrasi air limbah batik 50%), air limbah yang dihasilkan memiliki pH 6,33, TSS 0,6 mg/L, TDS 0,6 mg/L, TS 1,2 mg/L, COD 148,18 ppm, BOD 9,2 ppm, dan DO 3,6 mg/L

    Penambahan Bubuk Kunir Putih (Curcuma mangga Val.) dan Carboxymethyl Cellulose pada Snack Bar: Pengujian pada Sifat Fisikokimiawi dan Sensori

    Get PDF
    Snack bar (SB) adalah salah satu produk yang dapat dijadikan pangan fungsional dengan penambahan bubuk kunir putih. SB dibuat dengan pencampuran kacang-kacangan, sereal, dan buah-buahan dengan penambahan agen pengikat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji efek dari penambahan bubuk kunir putih (Curcuma mangga Val.) dan Carboxymethyl Cellulose (CMC) pada sifat fisikokimiawi dan sensori dari SB. Variasi formula yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perbandingan mocaf dan bubuk kunir putih sebanyak 100:4; 100:8 dan 100:12 g; serta konsentrasi CMC sebesar 0,5; 1 dan 1,5%. SB dianalisis dengan analisis fisik (tekstur dan volume pengembangan), kimia (aktivitas antioksidan dan analisis proksimat), dan uji kesukaan. SB dengan penambahan 12% bubuk kunir putih dan 1% CMC mendapatkan hasil sifat fisikokimiawi dan sensori yang terbaik dengan nilai tekstur sebesar 1.227,67 gf, volume pengembangan 0%, aktivitas antioksidan 10,76% RSA, kadar air 7,96%, abu 1,64%, protein 4,55%, lemak 11,93% dan karbohidrat 73,93%

    Application of Liquid Smoke from Rubber Wood Clone PB-340 as Latex Coagulant and Preservation of Natural Rubber Coagulum

    Get PDF
    The utilization of rubber wood waste in the form of liquid smoke has the potential to overcome environmental problems caused by the industry. Therefore, this study aimed to determine the potential of liquid smoke from rubberwood clone PB 340 to be used as a coagulant and preservative. Rubber wood waste was processed into liquid smoke using the pyrolysis method with a temperature of 400°C. Determination of the composition of liquid smoke was carried out using gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) analysis. The results showed that the rubber wood clone PB 340 contained 57.78% cellulose, 12.16% hemicellulose, and 19.01% lignin. Furthermore, volatile analysis with GC-MS showed that liquid smoke from rubber wood clone PB 340 contained 58 organic compounds. Some compounds in liquid smoke were phenols, furans, furfurals, acetic acid, and cyclopentene. The product was then tested for its performance as a latex coagulant at several concentrations of 5%, 10%, 15%, 20%, and 25% v/v, as well as storage time of 1, 7, and 14 days. The treated latex samples that had turned into coagulums were examined for their sheet quality parameters, including initial plasticity (P0), plasticity retention index (PRI), total volatile compounds, impurity, and ash content. The outcomes from all comparisons of pure liquid smoke concentrations and storage time of up to 14 days of the coagulum samples showed that in the initial plasticity value (P0), the plasticity retention index (PRI), volatile matter, ash content, and dirt content had met the applied Standard Indonesian Rubber (SIR)

    Status Keberlanjutan Usaha Tani Palawija-Kencur Sistem Tumpang Sari: Kasus di Lahan Kering Madura

    Get PDF
    Lahan pertanian di Madura sebagian besar adalah lahan kering. Lahan ini dimanfaatkan untuk produksi pangan. Sistem pertanaman yang diterapkan umumnya sistem tumpang sari. Salah satu sistem tumpang sari yang diusahakan petani yaitu tumpang sari palawija-kencur (kencur-jagung-kacang hijau). Sistem pertanaman ini merupakan salah satu cara meningkatkan produktifitas lahan dan menjaga keberlanjutan produksi tanaman di lahan kering. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis status keberlanjutan usaha tani palawija-kencur sistem tumpang sari dilihat dari 5 dimensi pembangunan pertanian berkelanjutan. Lokasi penelitian di Desa Lenteng Barat dan Ellak Laok Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep, Madura. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada 100 petani, penyuluh pertanian, pengamatan langsung di lapangan. Multi dimensional scaling (MDS), leverage analysis dan Monte Carlo dengan menggunakan aplikasi rapfarm diaplikasikan untuk menganalisis status keberlanjutan dan atribut sensitif. Analisis terhadap atribut yang diteliti menunjukkan 20 atribut sensitif terhadap peningkatan status keberlanjutan untuk lima dimensi. Indeks keberlanjutan usaha tani palawija-kencur sistem tumpang sari di Madura termasuk kriteria cukup berkelanjutan, dengan indeks gabungan 66,56. Dimensi kelembagaan dan ekologi masing-masing menunjukkan indeks keberlanjutan sebesar 81,16 dan 80,85 yang artinya sangat berkelanjutan. Sementara, dimensi ekonomi, teknologi, dan sosial cukup berkelanjutan dengan nilai indeks sebesar 51,74; 58,01; dan 61,07 secara berturut-turut. Petani perlu mempertahankan penggunaan teknologi konservasi dan menguasai teknologi untuk mengakses informasi pasar. Model tumpang sari palawija-kencur dapat dikembangkan di wilayah lahan kering lainnya mengingat model ini merupakan model yang cukup berkelanjutan

    Keefektifan “ProKlim” dalam Pengendalian Longsor Secara Vegetatif di Kampung Iklim Desa Sambak, Kajoran, Magelang

    Get PDF
    Partisipasi masyarakat Desa Sambak dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim telah diapresiasi dalam bentuk penghargaan ProKlim. Desa Sambak terletak pada zona transisi Gunung Api Sumbing dan Pegunungan Menoreh sehingga rawan terhadap bencana erosi, longsor dan kekeringan. Penelitian ini berfokus untuk mengevaluasi efektivitas kegiatan ProKlim dalam pengendalian longsor secara vegetatif. Identifikasi sebaran longsor dilakukan dengan metode interpretasi visual foto udara dilanjutkan pemeriksaan lapangan yang digunakan untuk membangun peta kerawanan longsor menggunakan metode frekuensi rasio. Identifikasi lokasi pengendalian longsor secara vegetative dilakukan dengan partisipasi masyarakat dan dilanjutkan delineasi foto udara secara visual. Pola spasial distribusi longsor dan mitigasi longsor secara vegetatif ditentukan dengan metode analisis tetangga terdekat. Analisis keefektifan  ProKlim ditekankan pada identifikasi letak pengendalian longsor melalui kegiatan penanaman pada wilayah rawan longsor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan penanaman yang dilakukan belum ditempatkan pada zona rawan longsor sehingga mitigasi longsor kurang efektif. Kesimpulan diperoleh dari  42 kejadian  longsor di wilayah kajian didominasi pada: kelerengan 15-25° dan 8-15°; tutupan lahan pertanian lahan kering, semak, dan tanah terbuka; arah hadap lereng tenggara dan timur; profil kurvatur (+) dan (-); jarak dengan jalan 100-200 m dan 200-300 m; dan jarak dengan sungai < 150 m. Dengan nilai AUC (Area under the ROC Curve), validasi model kerawanan sebesar 0,66. Pada sebaran penanaman dalam konteks pengendalian longsor secara vegetatif terdapat pada tutupan lahan kebun campur dan hutan kering sekunder. Pola spasial longsor dan pengendalian longsor secara vegetatif memiliki pola random

    Preliminary Study of Sonication Time for Extracting Natural Dye and Antioxidant from Sargassum duplicatum

    Get PDF
    Sargassum duplicatum is a brown seaweed containing various chemical compounds with potential applications as a natural dye and antioxidant. These compounds include alginate, protein, vitamin C, tannins, iodine, phenols, and pigments such as chlorophyll a, chlorophyll c, fucoxanthin, xanthophyll, and carotene. Therefore, this study aimed to determine the effect of varying extraction times on the color and antioxidant quality of Sargassum duplicatum extract. One of the methods used to extract Sargassum duplicatum is ultrasonication, which involves using ultrasonic waves to break down the cell walls of the material and facilitate efficient compound extraction. The extraction was carried out at 15 (A), 30 (B), and 45 minutes (C), with three repetitions for each treatment. The assessed parameters included yield calculation, total carotenoids, antioxidant activity, and color intensity. Parametric data were analyzed using ANOVA and Tukey HSD follow-up tests. The extraction process used an 80% ethanol solvent at 40 °C and a frequency of 42 kHz. This study employed an experimental laboratory approach using a completely randomized design (CRD) with different extraction times. The results showed significant differences (p<5%) in yield value, total carotenoids, antioxidant activity, and color intensity of Sargassum duplicatum extract at different extraction times. The best results were obtained at 45 minutes, yielding 86.66%, with 9.62% total carotenoids, an IC50 value of 1241.02 ppm, and lightness (L*), redness (a*), and yellowness (b*) values of 4.44, -3.46, and 37.90, respectively

    861

    full texts

    1,394

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    agriTECH
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇