Jurnal Gantang
Not a member yet
202 research outputs found
Sort by
Penerapan Lesson Study pada Perkuliahan Pengantar Aljabar
The quality of learning is an important thing that must be the attention of lecturers. The quality of learning can be improved through collaboration between lecturers in the implementation of lesson study. This research aims to describe the implementation of lesson study in introductory algebra. This research is a descriptive qualitative study. The research subjects were first semester students of mathematic education consisting of 27 students. Data collected in form of students learning outcomes and learning process data in the implementation of lesson study. Data collection thechniques in the form written tests, observation, discussion, and video documentation. Test data analysis was carried out by giving a score to the test results, while the learning activities data were analyzed by describing the implementation of learning. The result of the study show that the implementation of lesson study which consists of the plan, do, and see stages has been well implementated. Student learning outcomes also show good resultsKualitas pembelajaran merupakan hal penting yang harus menjadi perhatian dosen. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan melalui kolaborasi antar dosen dalam pelaksanaan lesson study. Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan lesson study pada perkuliahan pengantar aljabar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah mahasiswa semester I pendidikan matematika yang terdiri dari 27 mahasiswa. Data yang dikumpulkan berupa data hasil belajar mahasiswa dan data proses pembelajaran pada pelaksanaan lesson study. Teknik pengumpulan data berupa tes tertulis, observasi, diskusi, dan dokumentasi video. Analisis data tes dilakukan dengan pemberian skor terhadap hasil tes, sedangkan data kegiatan pembelajaran dianalisis dengan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan lesson study yang terdiri dari tahap plan, do, see telah terlaksana dengan baik. Hasil belajar mahasiswa juga menunjukkan hasil yang bai
Representasi Matematis Siswa Bergaya Kognitif Visualizer-Verbalizer dalam Menyelesaikan Soal Matematika TIMSS
This study aims to describe students\u27 mathematical representations in a cognitive style of visualizers in solving TIMSS problems. This research is a qualitative descriptive study. In this study consisted of 4 students where 2 of them were students with low and high cognitive style visualizers, and 2 others were students with low and high cognitive verbalizer styles. The instruments in this study were the researchers themselves and assisted with cognitive style questionnaire sheets, TIMSS test sheets, and interview guidelines. Data collection techniques used were in the form of cognitive style tests, TIMSS test questions, and student interviews. The technical data analysis used is data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study are that mathematical representations with cognitive visualizer style are able to work on the questions in the form of images or illustrations well through the stages set by the researcher, namely; the interest in the question according to its cognitive style, understanding the problem more than the student who has a positive verbalizer style, uses a better solution to approach the perfection of the answer. Students\u27 mathematical representations in the cognitive verbalizer style are able to work on questions presented with story or narrative questions that are easier to understand and able to describe well and are able to represent in mathematical languages.Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan representasi matematis siswa bergaya kognitif visualizer-verbalizer dalam menyelesaikan soal TIMSS. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini terdiri dari 4 siswa dimana 2 diantaranya merupakan siswa bergaya kognitif visualizer rendah dan tinggi, dan 2 lainnya merupakan siswa bergaya kognitif verbalizer rendah dan tinggi. Intrumen pada penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan lembar angket gaya kognitif, lembar tes soal TIMSS, dan Pedoman wawancara. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu berupa tes gaya kognitif, tes soal TIMSS , dan wawancara siswa. Adapun teknis analisi data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data,dan penarik kesimpulan. Hasil peneltian ini yaitu bahwa Representasi matematis bergaya kognitif visualizer mampu mengerjakan soal dalam bentuk gambar atau ilustrasi dengan baik melalui tahapan-tahapan yang telah ditetapkan oleh peneliti, yaitu; ketertarikan pada soal sesuai gaya kognitifnya, memahami soal lebih ketimbang siswa yang bergaya konitif verbalizer, menggunakan cara penyelesaian lebih baik juga hingga mendekati kesempurnaan pada jawabannya. Representasi matematis siswa bergaya kognitif verbalizer mampu mengerjakan soal yang disajikan dengan soal cerita atau narasi lebih mudah memahami serta mampu menguraikan dengan baik serta mampu merepresentasikan dalam bahasa matematia
Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa melalui Pendekatan Open-Ended pada Siswa Sekolah Menengah Pertama
The Low Mathematical Connection Ability (MCA) of students is the main problem of research. Problems in the field of students are less able to connect mathematical concepts/ideas in mathematical problem solving. Thus a learning approach is needed that spurs students to solve problems with flexibility, namely learning with an open-ended approach. The purpose of this study was to determine the improvement of MCA of junior high school students through an open-ended approach. To achieve this goal, a quasi-experimental study was conducted with a pretest posttest control group design. The study population was seventh grade students of SMP Negeri 5 Padangsidimpuan . Through cluster random sampling selected students of class VII-5 as the experimental class and students of class VII-6 as the control class. The research conducted shows the results through the Independent Samples Test obtained the significance of the results of the pretest and posttest of 0.004, which means that there are differences between the MCA students in the experimental class and the control class. Furthermore, through the N-gain test the average N-gain class experiment value was 0.48, which means that the value of improvement was in the medium category and in the control class the N-gain value was 0.28 which means it was in the low category. Thus it was concluded that the MCA students through the open-ended approach differed significantly from the MCA students with the conventional approach and the MCA students who were given the open-ended learning approach better than the MCA students with the conventional approach.Rendahnya Kemampuan Koneksi Matematis (KKnM) siswa merupakan permasalahan utama penelitian. Permasalahan di lapangan siswa kurang mampu mengkoneksiakan konsep/ide matematika dalam pemecahan masalah matematis. Dengan demikian perlu suatu pendekatan pembelajaran yang memacu siswa untuk menyelesaikan masalah dengan feleksibel yaitu pembelajaran dengan pendekatan open-ended. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan KKnM siswa SMP melalui pendekatan open-ended. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian eksperimen semu dengan rancagan Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 5 Padangsidimpuan. Sampel yang dipilih adalah kelas VII-5 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas VII-6 sebagai kelas kontrol. Penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil melalui uji independen sampel t-tes diperoleh signifikansi hasil pretest dan posttest sebesar 0,004 yang berarti terdapat perbedaan rata-tara antara KKnM siswa kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Selanjutnya melalui uji N-gain diperoleh nilai rata-tara N-gain kelas eksperimen sebesar 0,48 yang berarti nilai peningkatan berada pada kategori sedang dan pada kelas kontrol diperoleh nilai N-gain sebasar 0,28 yang berarti berada pada kategori rendah. Dengan demikian disimpulkan bahwa KKnM siswa melalui pendekatan open-ended berbeda secara signifikan dengan KKnM siswa dengan pendekatan konvensional dan KKnM siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan open-ended lebih baik dari pada KKnM siswa dengan pendekatan konvensional
Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Tipe Sensing-Intuiting dalam Menyelesaikan Soal Olimpiade
Koneksi matematis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki siswa dalam mempelajari matematika di sekolah. Melalui koneksi matematis, siswa dapat lebih mudah dalam menyelesaikan soal terutama soal olimpiade. Hal tersebut dikarenakan dalam pengerjaan, soal olimpiade membutuhkan penalaran dan pemahaman konsep serta hubungan antar konsep secara mendalam. Penelitian ini mengangkat tentang kemampuan koneksi matematis berdasarkan tipe kepribadian Sensing-Intuiting, karena tipe Sensing cenderung pada pengetahuan prosedural sedangkan Intuiting cenderung pada pemrosesan data berdasarkan pola dan hubungan secara konseptual dan melihat kemungkinan yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan koneksi matematis siswa berkepribadian Sensing – Intuiting dalam menyelesaikan soal olimpiade. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMP yang ada di Surabaya dengan subjek sebanyak 2 siswa yaitu 1 siswa tipe Sensing dan 1 siswa tipe Intuiting. Subjek dipilih menggunakan angket Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dan diuji dengan 3 soal olimpiade yang kemudian diwawancara. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa berkepribadian Sensingmemiliki kemamuan koneksi matematis sedang dengan rata-rata nilai adalah 3, sedangkan siswa berkepribadian Intuiting memiliki kemampuan koneksi matematis tinggi denga rata-rata nilai adalah 4,6.Koneksi matematis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki siswa dalam mempelajari matematika di sekolah. Melalui koneksi matematis, siswa dapat lebih mudah dalam menyelesaikan soal terutama soal olimpiade. Hal tersebut dikarenakan dalam pengerjaan, soal olimpiade membutuhkan penalaran dan pemahaman konsep serta hubungan antar konsep secara mendalam. Penelitian ini mengangkat tentang kemampuan koneksi matematis berdasarkan tipe kepribadian Sensing-Intuiting, karena tipe Sensing cenderung pada pengetahuan prosedural sedangkan Intuiting cenderung pada pemrosesan data berdasarkan pola dan hubungan secara konseptual dan melihat kemungkinan yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan koneksi matematis siswa berkepribadian Sensing – Intuiting dalam menyelesaikan soal olimpiade. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMP yang ada di Surabaya dengan subjek sebanyak 2 siswa yaitu 1 siswa tipe Sensing dan 1 siswa tipe Intuiting. Subjek dipilih menggunakan angket Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dan diuji dengan 3 soal olimpiade yang kemudian diwawancara. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa berkepribadian Sensingmemiliki kemamuan koneksi matematis sedang dengan rata-rata nilai adalah 3, sedangkan siswa berkepribadian Intuiting memiliki kemampuan koneksi matematis tinggi denga rata-rata nilai adalah 4,6
Kualitas Perangkat dan Keterampilan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Matematika pada Mata Kuliah Micro Teaching Menggunakan Analisis Model Rasch
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kualitas perangkat dan keterampilan mengajar dengan menggunakan analisis Model Rasch. Penelitian dengan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif ini dilakukan pada subjek penelitian mahasiswa semester V tahun akademik 2017/2018 Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji pada mata kuliah Micro Teaching. Data yang digunakan berjenis primer/langsung yang diperoleh melalui teknik penugasan berupa perangkat pembelajaran yang terdiri atas silabus mini, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mini, dan media pembelajaran. Data berikutnya diperoleh melalui observasi pada aspek keterampilan mengajar yang merupakan tolok ukur dalam proses pembelajaran. Kemudian dilakukan penilaian terhadap kedua sumber data tersebut dengan menggunakan instrumen lembar penilaian perangkat dan keterampilan mengajar yang memuat indikator-indikator terkait dengan teknik rating scale sehingga menghasilkan data ordinal. Data mentah dari kedua sumber diolah dan dianalisis menggunakan Model Rasch dengan software Ministep. Analisis yang dilakukan adalah person measure, item measure, dan person map item. Hasil analisis dipaparkan dengan teknik deskriptif kualitatif guna menggambarkan kualitas perangkat dan keterampilan mengajar. Hasil analisis perangkat diperoleh bahwa kualitas rata-rata perangkat pembelajaran disusun oleh mahasiswa berada di atas rata-rata taraf kualitas standar perangkat. Terdapat 71% dari total mahasiswa yang memiliki kualitas setiap item pada perangkat di atas rata-rata standar. Hasil analisis pada aspek mengajar diperoleh kualitas rata-rata mengajar mahasiswa lebih tinggi dari rata-rata taraf kualitas mengajar standar. Terdapat sekitar 46,4% dari total mahasiswa yang memiliki kualitas mengajar setiap itemnya berada di atas kualitas rata-rata
Penerapan Model Eliciting Activities (MEAs) dalam Pembelajaran Matematika Materi Relasi dan Fungsi
This study is the descriptive research that aims to determine student learning activities when applied MEAs approach and learning outcomes after applied MEAs with subject relation and function. The subjects were students of class VIIID junior high school number 1 Indralaya Utara, amounting to 32 students. The data were collected using observation dan test and analyzed descriptively. The research result to show implementation of student learning on MEAs approach included in the good category. From result learning get 29% students included in the very active category, 19% students included in active category and 26% students included in quite active category while students learning outcomes included pretty good when 7% students included in very good category, 33% students included in good category and 40% students included in pretty good category, with an average value is 66,1.This study is the descriptive research that aims to determine student learning activities when applied MEAs approach and learning outcomes after applied MEAs with subject relation and function. The subjects were students of class VIIID junior high school number 1 Indralaya Utara, amounting to 32 students. The data were collected using observation dan test and analyzed descriptively. The research result to shows the implementation of student learning on the MEAs approach included in the good category. From result learning get 29% students included in the very active category, 19% students included in active category and 26% students included in quite an active category while students learning outcomes included pretty good when 7% students included in very good category, 33% students included in good category and 40% students included in pretty good category, with an average value is 66,1
Pengaruh Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematika
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan komunikasi matematika peserta didik yang memperoleh pembelajaran Aptitude Treatment Interaction dan ekspositori. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa program studi Pendidikan Matematika Universitas Indraprasta PGRI. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran yaitu Aptitude Treatment Interaction dan ekspositori, sedangkan variabel terikat adalah kemampuan komunikasi Matematika. Teknik pengolahan data dengan menggunakan uji beda 2 rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction mempengaruhi kemampuan komunikasi matematika.
Kata kunci: Aptitude Treatment Interaction; komunikasi; matematika
This research aims to know the differences of mathematical communication ability of learners who acquire Aptitude Treatment Interaction and exspository learning model. This research was conducted on student of Mathematics Education Study Programme at University of Indraprasta PGRI. The research method used was experiment with sample number of as many as 50 respondents. Independent variables in this study were models of learning, namely Aptitude Treatment Interaction and expository, while dependent variable is the ability of mathematical communication. Data processing techniques used was comparing the mean of two population. The results showed that the application of Aptitude Treatment Interaction learning model affects the ability of mathematical communication.
Keywords: Aptitude Treatment Interaction; communication; mathematic
Peranan Teknologi dalam Mendukung Proses Berpikir Level C3 Siswa pada Materi Operasi Himpunan melalui Penggunaan Swish Max4
Technological developments in the 21st century has been very rapid, forcing teachers to become more creative in terms of creating innovative learning media, interesting, and not left behind. By using visual media the teacher can provide certain visuals to the students in the learning process, which will be expected to help the students in thinking at C3 level. The background of the study is the low ability of students in working on the application of operations in the set in everyday life as well as visualize the operation of the set, based on a survey of researchers through interviews with teachers of SMP Negeri 11 Tanjungpinang. In this study the researcher uses multimedia-based visual media by the use of swish max4 software, to help students think up to level C3 or in the realm of applying especially on the material of the operation of the set and also can visualize the operation set in everyday life. Experiments were conducted in class VII.1 and class VII.2 at SMP Negeri 11 Tanjungpinang, obtaining posttest result of experiment class higher 76,24 compared to control class 66,92, It was proved that class given swish max4 media treatment can help students in Thinking up to C3 level or applying.
Keywords: Swish max4, think level C3, Problem application of set operationPerkembangan teknologi pada abad ke-21 ini sudah sangat pesat, membuat guru menjadi lebih kreatif dalam hal membuat media pembelajaran yang inovatif, menarik, serta tidak ketinggalan zaman. Dengan menggunakan media visual guru dapat memberikan visual tertentu pada siswa dalam proses pembelajaran, yang nantinya diharapkan dapat membantu siswa dalam berpikir C3. Lalu dilatar belakangi oleh kemampuan siswa yang rendah dalam mengerjakan soal applikasi operasi pada himpunan dikehidupan sehari-hari sekaligus memvisualisasikan operasi himpunan, berdasarkan survei peneliti melalui wawancara dengan guru SMP Negeri 11 Tanjungpinang. Sehingga pada penelitian ini peneliti menggunakan media visual berbasis multimedia berbantuan software swish max4, untuk membantu siswa berpikir hingga level C3 atau pada ranah mengaplikasikan khususnya pada materi operasi himpunan dan juga dapat memvisualisasikan operasi himpunan dikehidupan sehari-hari. Telah dilakukan eksperimen di kelas VII.1 dan kelas VII.2 pada SMP Negeri 11 Tanjungpinang, memperoleh hasil posttest kelas eksperimen lebih tinggi 76,24 dibangdingkan dengan kelas kontrol 66,92, terbukti bahwa kelas yang diberikan treatment media swish max4 dapat membantu siswa dalam berpikir hingga level C3 atau mengapplikasikan.
Kata kunci : Swish max4, berpikir level C3, Soal applikasi operasi himpuna
Kemampuan Pemodelan Matematika Siswa Dengan Strategi Scaffolding With A Solution Plan Pada Materi Trigonometri Di Kelas X SMAN 2 Palembang
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemodelan matematika siswa setelah diterapkannya pembelajaran dengan strategi scaffolding with a solution plan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian siswa kelas X IPS 2 SMAN 2 Palembang yang berjumlah 28 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes tertulis yang terdiri atas empat soal uraian untuk mengukur kemampuan pemodelan matematika siswa. Soal tes disusun dengan mengacu pada indikator kemampuan pemodelan matematika. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa kemampuan pemodelan matematika siswa kelas X IPS 2 SMAN 2 Palembang berada pada kategori baik dengan rincian sebagai berikut: 9 siswa berkategori sangat baik; 11 siswa berkategori baik; 5 siswa berkategori cukup; 2 siswa berkategori kurang; dan 1 siswa berkategori sangat kurang.
Kata kunci: kemampuan pemodelan matematika; scaffolding with a solution plan
This study aims to describe the ability of students\u27 mathematical modeling after the implementation of learning with a scaffolding with a solution plan strategy. Type of the research is quantitative descriptive research with research subjects of class X IPS 2 of SMAN 2 Palembang totaling 28 students. Data collection techniques were carried out with a written test consisting of four description questions to measure students\u27 mathematical modeling abilities. Test questions were prepared by referring to indicators of mathematical modeling abilities. Based on the results of the study, it was found that the mathematical modeling ability of class X IPS 2 of SMAN 2 Palembang was in a good category with following details: 9 students are in very good category; 11 students are in good category; 5 students are in enough category; 2 students are in low category; 1 student is in very low category.
Keywords: mathematical modeling ability; scaffolding with a solution planPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemodelan matematika siswa setelah diterapkannya pembelajaran dengan strategi scaffolding with a solution plan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian siswa kelas X IPS 2 SMAN 2 Palembang yang berjumlah 28 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes tertulis yang terdiri atas empat soal uraian untuk mengukur kemampuan pemodelan matematika siswa. Soal tes disusun dengan mengacu pada indikator kemampuan pemodelan matematika. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa kemampuan pemodelan matematika siswa kelas X IPS 2 SMAN 2 Palembang berada pada kategori baik dengan rincian sebagai berikut: 9 siswa berkategori sangat baik; 11 siswa berkategori baik; 5 siswa berkategori cukup; 2 siswa berkategori kurang; dan 1 siswa berkategori sangat kurang.
Kata kunci: kemampuan pemodelan matematika; scaffolding with a solution plan
This study aims to describe the ability of students\u27 mathematical modeling after the implementation of learning with a scaffolding with a solution plan strategy. Type of the research is quantitative descriptive research with research subjects of class X IPS 2 of SMAN 2 Palembang totaling 28 students. Data collection techniques were carried out with a written test consisting of four description questions to measure students\u27 mathematical modeling abilities. Test questions were prepared by referring to indicators of mathematical modeling abilities. Based on the results of the study, it was found that the mathematical modeling ability of class X IPS 2 of SMAN 2 Palembang was in a good category with following details: 9 students are in very good category; 11 students are in good category; 5 students are in enough category; 2 students are in low category; 1 student is in very low category.
Keywords: mathematical modeling ability; scaffolding with a solution pla
Kemampuan Konservasi Panjang Pada Siswa Usia 6-7
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan konservasi panjang pada siswa yang memiliki usia 6-7 tahun di Kabupaten Manggarai. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan sampel yang diambil secara acak sejumlah 80 anak. Siswa yang berusia 6 tahun berjumlah 40 anak, begitu juga dengan siswa yang berumur 7 tahun, yang diambil dari SD di Kabupaten Manggarai. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket konservasi panjang yang berisi pernyataan-pernyataan mengenai berbagai kondisi yang menjelaskan konsep konservasi panjang. Setiap anak diberi tes kemampuan konservasi panjang kemudian dilanjutkan dengan wawancara mengenai alasan memberi jawaban pada tes konservasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa golongan konserver pada siswa yang berusia 6 tahun sebesar 0% dan 7 tahun sebesar 7,5%. Selanjutnya, golongan konserver parsial pada siswa yang berusia 6 tahun sebesar 7,5% dan 7 tahun sebesar 22,5%. Selain itu, untuk golongan non-konserver pada siswa yang berusia 6 tahun sebesar 92,5% dan 7 tahun sebesar 70%. Hasil ini menunjukkan kemampuan konservasi panjang pada siswa yang memiliki usia 6-7 tahun di Kabupaten Manggarai masih rendah dan sebagian besar belum memahami konsep konservasi panjang.
Kata kunci: konservasi panjang; siswa usia 6-7 tahun; deskriptif kualitatif
The purpose of this study was to describe the ability of Manggaraian children of age six to seven in length conservation area. This research is a qualitative descriptive study. The random sampling technique was used to select 80 children, consisted of 40 children per age. The instrument of this research was a length conservation questionnaire containing statements about conditions that explain the concept of length conservation. Each child was given a length conservation skill test followed by an interview about the reasons for providing answers to the conservation test. The results showed that none of six-year-old children was conserver, only 7.5% were partial conserver, and 92.5% were non-conserver. For seven-year-old children, 7.5% were conserver, 22.5% were partial, and 70% were non-conserver. These results indicate the lengthy-term conservation ability of children age six to seven in Manggarai Regency is still low and most have not understood the concept of length conservation.
Keywords: length conservation; student of age 6 to7; qualitative descriptivePenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan konservasi panjang pada siswa yang memiliki usia 6-7 tahun di Kabupaten Manggarai. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan sampel yang diambil secara acak sejumlah 80 anak. Siswa yang berusia 6 tahun berjumlah 40 anak, begitu juga dengan siswa yang berumur 7 tahun, yang diambil dari SD di Kabupaten Manggarai. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket konservasi panjang yang berisi pernyataan-pernyataan mengenai berbagai kondisi yang menjelaskan konsep konservasi panjang. Setiap anak diberi tes kemampuan konservasi panjang kemudian dilanjutkan dengan wawancara mengenai alasan memberi jawaban pada tes konservasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa golongan konserver pada siswa yang berusia 6 tahun sebesar 0% dan 7 tahun sebesar 7,5%. Selanjutnya, golongan konserver parsial pada siswa yang berusia 6 tahun sebesar 7,5% dan 7 tahun sebesar 22,5%. Selain itu, untuk golongan non-konserver pada siswa yang berusia 6 tahun sebesar 92,5% dan 7 tahun sebesar 70%. Hasil ini menunjukkan kemampuan konservasi panjang pada siswa yang memiliki usia 6-7 tahun di Kabupaten Manggarai masih rendah dan sebagian besar belum memahami konsep konservasi panjang.
Kata kunci: konservasi panjang; siswa usia 6-7 tahun; deskriptif kualitatif
The purpose of this study was to describe the ability of Manggaraian children of age six to seven in length conservation area. This research is a qualitative descriptive study. The random sampling technique was used to select 80 children, consisted of 40 children per age. The instrument of this research was a length conservation questionnaire containing statements about conditions that explain the concept of length conservation. Each child was given a length conservation skill test followed by an interview about the reasons for providing answers to the conservation test. The results showed that none of the six-year-old children was conserver, only 7.5% were partial conserver, and 92.5% were non-conserver. For seven-year-old children, 7.5% were conserver, 22.5% were partial, and 70% were non-conserver. These results indicate the lengthy-term conservation ability of children age six to seven in Manggarai Regency is still low and most have not understood the concept of length conservation.
Keywords: length conservation; student of age 6 to7; qualitative descriptiv