AGRIFOR
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
PERHITUNGAN KEBUTUHAN DAN PEMETAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BONTANG
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kebutuhan Ruang Terbuka Hijau berdasarkan luas wilayah mengacu pada Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang dan kebutuhan oksigen di Kota Bontang, memetakan sebaran dan luasan, memetakan lahan yang potensial untuk dijadikan Ruang Terbuka Hijau kawasan perkotaan, dan memprediksi kebutuhan Ruang Terbuka Hijau 10 tahun kedepan. Kegiatan yang dilakukan meliputi persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan penyusunan skripsi, menggunalkan sumber informasi dari Citra SPOT 6/7 Tahun 2020, peta administrasi Kota Bontang, Data statistik Kota Bontang, Data statistik Kota Bontang, Peta Fungsi Kawasan dan Peta RTH eksisting, sebagai data acuan untuk mengetahui kecukupan RTH berdasarakan 30%. Luas wilayah di Kota Bontang adalah 4.856,40 ha yang terdiri dari RTH Privat 1.618,80 dan RTH Publik 3.237,60 ha. Luas RTH eksisting Kota Bontang yaitu 7.023,68 ha; RTH Privat 1.676,41 ha dan RTH Publik 5.362,94 ha. Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di Kota Bontang sudah terpenuhi kecukupan sebesar 30% dari luas wilayah. Sementara luas RTH berdasarkan kebutuhan oksigen adalah 8.361,7 ha sehingga terdapat kekurangan luas RTH sebesar 1.322,35 ha. Ruang Terbuka Hijau Kota Bontang tersebar merata pada semua kecamatan dan fungsi kawasan,. Luas areal yang potensial untuk dijadikan RTH adalah seluas 1.523,50 ha dan mencukupi untuk memenuhi kekurangan luas RTH sebesar 1.338,02 ha sampai tahun 2031. Berdasarkan hasil analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Kota Bontang dalam kurun 10 tahun kedepan (tahun 2031) adalah 8.361,7 ha perlu dilakukan inventarisasi pada lahan yang berpotensi dijadikan RTH, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa lokasi tersebut memang cocok dan bisa dijadikan RTH
PENGARUH PUPUK KALSIUM NITRAT DAN PUPUK KALIUM FOSFAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG HIJAU (Vigna radiata) DI TANAH GAMBUT
Pengembangan kacang hijau di tanah gambut di Kabupaten Kubu Raya masih terbatas dan cenderung ditanam sebagai tanaman sela. Produktivitas kacang hijau Kalimantan Barat tahun 2019 hanya mencapai 0,8 ton per hektar berbeda nyata dengan produktivitas nasional dengan capaian 1,7 ton per hektar. Dalam upaya pemanfaatan lahan gambut untuk penambahan luas tanam kacang hijau di tanah gambut dibutuhkan informasi yang beragam khususnya tentang penggunaan jenis pupuk yang mendukung pertumbuhan dan hasil kacang hijau yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pupuk kalsium nitrat dan pupuk kalium fosfat terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau, serta mendapatkan dosis pupuk kalsium nitrat dan kalium fosfat untuk pertumbuhan dan hasil kacang hijau yang optimal. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei 2021 hingga Juli 2021 menggunakan lahan gambut di Desa Arang Limbung Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama adalah Pupuk kalsium nitrat (k0= kontrol, k1 = pupuk pupuk kalsium nitrat dengan dosis 300 kg ha-1, k2 = pupuk pupuk kalsium nitrat dengan dosis 600 kg ha-1, k3 = pupuk pupuk kalsium nitrat dengan dosis 900 kg ha-1). Faktor kedua adalah Pupuk kalium fosfat (m0= kontrol, m1 = pupuk kalium fosfat dengan dosis 80 kg ha-1, m2 = pupuk kalium fosfat dengan dosis 160 kg ha-1,m3 = pupuk kalium fosfat dengan dosis 240 kg ha-1, m4 = pupuk kalium fosfat dengan dosis 320 kg ha-1). Variabel pengamatan terdiri dari tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per polong, bobot 100 biji, jumlah biji per tanaman, berat kering biji per tanaman, berat kering akar, dan berat kering tanaman. Berdasarkan analisis sidik ragam terhadap variabel pengamatan diketahui bahwa interaksi pupuk kalsium dan pupuk kalium fosfat berpengaruh nyata terhadap jumlah biji per tanaman. Perlakuan 900 kg ha-1 Kalsium Nitrat dan 240 kg ha-1 kalium fosfat menghasilkan jumlah biji tertinggi
ISOLASI JAMUR ENTOMOPATOGEN PADA LAHAN TANAMAN PANGAN, HORTIKULTURA, DAN PERKEBUNAN DI KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA DAN UJI PATOGENISITAS PADA Spodoptera litura
Jamur entomopatogen merupakan jenis bioinsektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman. Pengendalian menggunakan bioinsektisida yang berbahan aktif jamur entomopatogen merupakan salah satu cara pengendalian yang ramah lingkungan serta tidak berdampak negatif bagi lingkungan dan tidak merusak ekosistem disekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jamur entomopatogen yang terdapat pada lahan tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan dan mengetahui tingkat patogenisitas jamur tersebut sebagai entomopatogen pada Spodoptera litura. Lokasi pengambilan sampel berada di Saloloang, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman, pada bulan Agustus 2020 hingga Maret 2021. Perlakuan menggunakan isolat jamur entomopatogen yang berhasil di isolasi dengan insect bait method menggunakan larva Tenebrio molitor. Uji patogenisitas dirancang dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan uji lanjut menggunakan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian ini ditemukan 4 jenis jamur entomopatogen yang di isolasi di Kabupaten Penajam Paser Utara yaitu Aspergillus sp. isolat lahan tanaman perkebunan, Cunninghamella sp. isolat lahan tanaman hortikultura, Fusarium sp. isolat lahan tanaman pangan dan perkebunan, dan Metarhizium sp. isolat lahan tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Semua isolate jamur Metarhizium sp. efektif mengendalikan ulat grayak (Spodoptera litura) in vitro dengan kerapatan spora 105/mL
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI (Glycine max L) DENGAN PEMANFAATAN LIMBAH TERNAK KELINCI PADAT DAN CAIR
Limbah ternak kelinci memberikan manfaat yang besar untuk budidaya Kedelai. Penelitian ini bertujuan : (1) mengetahui interaksi antara pemberian pupuk organik dari limbah ternak kelinci padat dan cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai, (2) mengetahui dosis pupuk organik padat kelinci yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai, dan (3) mengetahui konsentrasi pupuk organik cair urin kelinci yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.Metode penelitian menggunakan rancangan percobaan faktorial 4x4 yang disusun pada Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan ulangan sebanyak empat kali. Faktor pertama adalah pupuk organik padat (P) dengan dosis : 0 Mg.ha-1 (p0), 5 Mg.ha-1 (p1). 15 Mg.ha-1 (p2) dan 25 Mg.ha-1 (p3). Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk organik cair urin kelinci (U) dengan konsentrasi 0 mL.L-1air (u0), 200 mL.L-1air (u1), 400 mL.L-1air (u2), dan 600 mL.L-1air (u3). Data dianalisa dengan uji F dan untuk membandingkan antara rata-rata dua perlakuan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5 %.Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi terbaik dari masing-masing perlakuan terdapat pada dosis pupuk organik padat kelinci pada dosis 15 Mg.ha-1 dengan pupuk organik cair pada konsentrasi 600 mL.L-1air (p2u3) dan berpengaruh nyata terhadap variabel tinggi tanaman umur 42 HST, dan jumlah cabang per tanaman. Konsentrasi 600 mL.L-1air (u3) pupuk organik cair urin kelinci memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai serta berpengaruh nyata pada variabel tinggi tanaman umur 14, 28, dan 42 HST, waktu berbunga, berat kering polong isi, berat kering biji, dan berat 100 butir biji
KORELASI ANTARA KERAPATAN KERING TANUR DENGAN NILAI PENYUSUTAN DAN SIFAT MEKANIKA KAYU BAYUR (Peterospermum javanicum) DAN PANGSOR (Ficusc callosa Wild)
Potensi kayu-kayu non komersil yang tumbuh di lahan terlantar maupun hutan sekunder selama ini belum dimanfaatkan dengan optimal. Termasuk diantaranya informasi dari jenis cepat tumbuh seperti kayu pangsor (Ficus callosa Willd) dan bayur (Peterospermum javanicum) sifat fisika dan mekanika yang tersedia dari kayu tersebut belum lengkap. Karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara nilai kerapatan kering tanur dengan besarnya nilai penyusutan kayu dan sifat mekanika kayu. Sehingga dalam penelitian ini diambil kayu pangsor yang mempunyai berat jenis kelas kuat V dan Bayur dengan kelas kuat III yang diambil pada bagian pangkal, tengah dan ujung batang. Pembuatan sampel dan pengujian sifat fisika mekanika kayu menggunakan standar Jerman (DIN). Analisis data korelasi dibantu dengan program Microsoft Exel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kayu pangsor dan bayur terdapat hubungan korelasi positif antara kerapatan kering tanur dengan penyusutan volume maksimal, keteguhan tekan sejajar serat dan MoE dengan sifat hubungan yang lemah
UJI EFEKTIVITAS JAMUR Metarhizium anisoplae DAN Beauveria bassiana Bals LOKAL DAN KOMERISIAL TERHADAP HAMA KUTU DAUN (Aphis craccivora) PADA TANAMAN KACANG PANJANG (Vigna sinensis L.)
Kutu daun dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produk kacang panjang. Penelitian bertujuan untuk melihat efektifitas beberapa jamur entomopatogen (jamur Metarhizium anisopliae lokal, Beauveria bassiana Bals lokal, Metarhizium anisopliae komersial dan Beauveria bassiana Bals komersial) dalam mengendalikan kutu daun Aphis craccivora C.L. Koch.Untuk membandingkan efektivitas jamur entomopatogen (jamur Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana Bals) isolat lokal Kalimantan Timur dan isolat komersial.Penelitian dilakukan di lapangan dan di Laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari lima perlakuan san lima ulangan. Perlakuan yang dingunakan yaitu dengan aplikasi Isolat Beauveria bassiana Bals lokal, Metarhizium anisopliae lokal, Beauveria bassiana Bals komersial, Metarhizium anisopliae komersial. Hasil penelitian menunjukan bahwa jamur entomopatogen (jamur Metarhizium anisopliae lokal, Beauveria bassiana Bals lokal, Metarhizium anisopliae komersial dan Beauveria bassiana Bals komersial) efektif dalam mengendalikan populasi Hama Kutu Aphis craccivora C.L. Koch. dan efektivitas jamur entomopatogen (jamur Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana Bals) isolat lokal Kalimantan Timur dan isolat komersial tidak berbeda nyata dalam menekan populasi hama Kutu Daun Aphis craccivora C.L. Koch
PENGGUNAAN ETANOL DAN METANOL SEBAGAI ATRAKTAN TERHADAP PENGGEREK BUAH KOPI (Hypothenemus hampei Ferr.) (Coleoptera:Scolytidae) DI DESA PARIKSABUNGAN KECAMATAN SIBORONGBORONG KABUPATEN TAPANULI UTARA
Hypothenemus hampei merupakan hama utama pada tanaman kopi yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas tanaman kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis atraktan dan ketinggian perangkap yang efektif untuk mengendalikan PBKo di lapangan. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis atraktan (Etanol dan Metanol serta perbandingan kedua jenis atraktan) sedangkan faktor kedua adalah tinggi perangkap (0.5 m, 1 m, 1.5 m). Penelitian ini dilaksanakan di lapangan perkebunan kopi dan Identifikasi di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan atraktan Etanol dan Metanol (1 : 4) terbaik dan berpengaruh nyata terhadap jumlah imago PBKo yang terperangkap. Ketinggian perangkap terbaik adalah pada 1 meter lalu diikuti 0,5 meter dan 1,5 meter dengan rataan masing-masing 1.37, 1.32 dan 1.22 ekor PBKo. Semua jenis atraktan yang di uji berpengaruh nyata untuk menarik imago PBKo, jenis atraktan terbaik adalah Etanol : Metanol (1:4) dengan ketinggian 1 meter
EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN PADA LAHAN TANAMAN CENGKEH DAN KAKAO MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN
The research purposed to know the land capability class and study the Sustainable Agricultural Management with Agroforestry systems on the land of PT. Fructi Agri Sejati Dusun Komboh, Sambirejo Village, Kec. Wonosalam, Kab. Jombang. One of the ways to manage sustainable agricultural land is by utilizing land according to the land capability class. Land use must be balanced between land use and conservation efforts to maintain the balance of the ecosystem and the preservation of the physical condition the land. The application of agroforestry systems have included one way of the sustainable agricultural systems. The results showed that the land capability class for Clove and Cocoa was class VI with limiting factor is the slope. Land use based on land capability class for clove and cocoa plants, are: 1) Nature Reserve, 2) Forestry, 3) Limited grass, and 4) Fairly good grass. The land use is sought to be as close as possible to the characteristics of the nature reserve and to adjust the slope level, by mechanical and vegetative conservation
APLIKASI PUPUK KANDANG DIPERKAYA TRICHODERMA SP. UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENGENDALIAN FUSARIUM SP. PADA BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.)
Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura di Indonesia yang mempunyai kontribusi besar terhadap perekonomian. Penelitian dilaksanakan pada November 2020 sampai Februari 2021 di Laboratorium Ekologi dan Produksi Tanaman dan Greenhouse Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 4 x 2 dengan 3 ulangan sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Faktor pertama adalah aplikasi pupuk kandang dan dosis Trichoderma sp. meliputi T0 = 0 g/pot., T1= 10 g/pot, T2 = 20 g/pot, T3 = 30 g/pot. Faktor kedua yaitu inokulasi Fusarium sp. (F) meliputi F0 = Tanpa Inokulasi Fusarium sp., F1 = Inokulasi Fusarium sp. Variabel pengamatan meliputi keparahan penyakit, kadar klorofil daun, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi dan berat umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk kandang yang diperkaya dosis Trichoderma sp. secara signifikan dapat menekan keparahan penyakit Fusarium sp. bawang merah, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata pada kadar klorofil daun, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi dan berat umbi. Perlakuan pupuk kandang yang diperkaya Trichoderma sp. dengan dosis 10g/pot yang diberikan sebelum tanam dapat mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh Fusarium sp. Perlakuan pupuk kandang yang diperkaya dengan berbagai dosis Trichoderma sp. belum dapat meningkatkan produksi bawang merah pada perlakuan tanpa inokulasi Fusarium sp. dan inokulasi Fusarium sp
PENILAIAN KORELASI BIODIVERSITAS DAN KARBON TERSIMPAN PADA TAMAN KOTA BENDOSARI, KOTA SALATIGA
Taman Kota Bendosari ini merupakan salah satu RTH yang dimiliki oleh Kota Salatiga dan menjadi paru-paru kota, yang fungsinya sebagai aspek berlangsungnya daur ulang antara karbondioksida (CO2) dan oksigen (O2). Taman Kota Bendosari memiliki keanekaragaman hayati yang menunjukkan adanya jasa lanskap biodiversitas yang harus dipertahankan serta dilestarikan. Selain itu vegetasi di taman juga menyerap karbon dan berpotensi untuk mengatasi pemanasan global. Penelitian bertujuan untuk mengetahui nilai biodiversitas dan karbon tersimpan pada Taman Kota Bendosari terhadap pengelolaan jasa lanskap, serta mengkorelasikan hubungan kedua variabel tersebut. Selain itu, penelitian ini juga merumuskan rekomendasi untuk menentukan langkah selanjutnya menuju masyarakat rendah karbon. Metode yang digunakan untuk mengestimasi karbon tersimpan yaitu persamaan alometrik, sedangkan untuk menghitung nilai biodiversitas menggunakan Indeks Shannon-Wiener dan Indeks Margalef. Nilai biodiversitas yang didapat terdiri dari nilai indeks kekayaan spesies yaitu 6,72 dengan status tinggi. Nilai indeks kemerataan yaitu 0,82 dengan status tinggi, dan nilai keanekaragaman yaitu 3,17 dengan status tinggi. Kandungan karbon tersimpan pada plot 1 yaitu pohon sebanyak 5319,55 ton/ha, tumbuhan bawah sebanyak 4,83 ton/ha, nekromassa sebanyak 3,83 ton/ha, dan seresah sebanyak 13,23 ton/ha. Sedangkan untuk plot 2 yaitu pohon sebanyak 6640,02 ton/ha, tumbuhan bawah sebanyak 4,34 ton/ha, nekromassa sebanyak 3,79 ton/ha, dan seresah sebanyak 12,9 ton/ha. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara biodiversitas dan serapan karbon. Hal tersebut disebabkan oleh keberadaan pohon di Taman Kota Bendosari sebagian besar bukan pohon dengan diameter batang yang besar, walaupun jumlah pohon pada taman sangat tinggi jika dilihat dari nilai biodiversitas.