AGRIFOR
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
IDENTIFIKASI DAN KEANEKARAGAMAN MAKROFAUNA TANAH DI PERKEBUNAN JERUK SIAM (Citrus nobilis) DI KECAMATAN BAYONGBONG, GARUT
Keanekaragaman organisme tanah, seperti makrofauna tanah di suatu tempat dipengaruhi oleh kondisi di lingkungan sekitarnya. Kegiatan budidaya yang tidak ramah lingkungan dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem, khususnya dapat menurunkan keberadaan dari makrofauna tanah di tempat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi dan menghitung indeks keanekaragaman makrofauna tanah di perkebunan jeruk siam. Penelitian dilakukan Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan metode hand sorting. Analisis yang digunakan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon Wiener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 jenis makrofauna tanah yang terbagi ke dalam 6 ordo, yaitu Ordo Hymenoptera, Haplotaxida, Orthoptera, Araneae, Coleoptera, dan Sytromotophora. Hasil analisis indeks keanekaragaman, diperoleh bahwa nilai indeks keanekaragaman makrofauna tanah di lokasi penelitian adalah 1,196. Angka tersebut menunjukkan bahwa keanekaragaman di lokasi penelitian termasuk kategori sedang dan dapat dikatakan kondisi ekosistem cukup stabil
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI JAGUNG (Zea Mays L.) DI KABUPATEN KARO, SUMATERA UTARA
Corn (zea mays) is one of the potential food crops aimed at improving the national economy. The increase made in corn production through the suppression of corn imports by the government so that the land for corn development can be utilized. Karo Regency is a corn production center in North Sumatra that has the potential to develop corn farming with a land area of 107,241 ha with a production of 715,940 tons. The purpose of this study was to analyze the corn farming development strategy and the internal and external constraints faced in corn farming activities. The research method used is descriptive method and data collection techniques are carried out using observation, interviews and questionnaires. There are two sub-districts as samples, namely Simpang Empat and Barusjahe Districts. The analysis technique used is descriptive and SWOT analysis. The results of the study indicate that the development strategies that can be carried out in corn farming in Karo Regency are (a) increasing the bargaining power of farmers in the context of industry/traders that impose strict quality requirements; (b) increase productivity to prepare for competition from imported corn products; (c) planning for weather variations to improve the quality of corn produced by farmers; (d) increase the knowledge and capacity of farmers in the context of controlling pests and diseases in maize; (e) reduce corn production costs to reduce fluctuations in production, quality, and pric
UJI EFEKTIVITAS PESTISIDA NABATI DARI EKSTRAK DAUN SALAM, LENGKUAS DAN KUNYIT TERHADAP BUSUK BUAH RHIZOCTONIA (Rhizoctonia solani Kühn ) PADA TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill.) SECARA IN VITRO
Busuk buah rhizoctonia adalah salah satu penyakit pada tomat yang terjadi karena adanya serangan dari cendawan Rhizoctonia solani Kühn yang menyebabkan penurunan hasil buah tomat yang cukup signifikan dan mempengaruhi tinggi permintaan pasar, sehingga membutuhkan upaya pengendalian jamur yang dapat mengimbangi angka serangan penyakit. Secara teknis petani saat ini menggunakan pestisida sintetik untuk pengendalian penyakit pada tanaman budidaya yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, sehingga dibutuhkan alternatif pengendalian dengan menggunakan pestisida nabati. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jamur penyebab penyakit, mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun salam, lengkuas dan kunyit terhadap jamur, serta menganalisis kombinasi terbaik ekstrak daun salam, lengkuas dan kunyit dengan konsentrasi 5% untuk mengendalikan jamur penyebab penyakit busuk buah Rhizoctonia pada tanaman tomat. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman dari Januari hingga April 2023. Hasil percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 8 perlakuan dan diulang sebanyak 6 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan di uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Penelitian ini menunjukan pemberian ekstrak daun salam, lengkuas dan kunyit memberikan aktivitas penghambatan pada pertumbuhan koloni jamur. Pemberian perlakuan kombinasi ekstrak daun salam, lengkus dan kunyit memiliki efektifitas terbaik dalam menghambat pertumbuhan koloni jamur uji dengan konsentrasi 5% ditunjukkan pada daya hambat sebesar 53,56%
POTENSI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TEBU DI LAHAN PASIRAN DENGAN PEMBERIAN BLOTONG BASAH
Tebu (Saccharum officinarum L) merupakan tanaman rumput-rumputan yang telah dibudidayakan di lebih dari 90 negara, baik di negara tropis dan subtropis. Tebu di Indonesia dimanfaatkan utama sebagai bahan baku dalam industri gula. Saat ini budidaya tebu banyak dilakukan pada lahan marjinal (pasiran) sehingga hasil yang didapatkan kurang maksimal. Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Kiaran, Kecamatan Cangkringan, Kelurahan Wukirsari dan varietas tebu yang digunakan merupakan Bululawangan (BL). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian RAK 1 faktor yaitu penambahan blotong, dengan dua taraf yaitu B0 (tanpa blotong) dan B1 (dengan blotong) dengan tiga ulangan. Dosis blotong yang ditambahkan adalah 11,25 ton/ha blotong basah. Analisa tanah dan tanaman serta hasil tanaman dilakukan untuk melihat pengaruh pemberian blotong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blotong basah dari PG Madukismo memiliki kandungan pH yang netral, C organik tinggi dan memiliki kandungan hara baik N, P, K, Ca, Mg, dan Na. Terdapat hasil yang signifikan lebih tinggi pada tebu yang ditanam di lahan yang ditambahkan blotong dibandingkan pada tebu yang ditanam pada lahan tanpa penambahan blotong, pada parameter diameter batang, jumlah batang per rumpun, jumlah daun hijau dan produktivitas tebu. Kadar lengas tanah dan berat volume tanah memberikan hasil yang berbeda nyata antara lahan yang diberi blotong dan tanpa penambahan blotong. Penambahan blotong memberikan peningkatan yang signifikan pada parameter produksi brix dan produktivitas tebu, dengan peningkatan produktivitas hingga 208%. Pemberian blotong sebagai bahan pembenah tanah menjadi salah satu alternatif dalam upaya peningkatan produktivitas tebu di lahan pasiran.
HUTAN INDUSTRI DAN DEFORESTASI: BAGAIMANA HUTAN INDUSTRI MENGANCAM KEBERLANGSUNGAN HUTAN HUJAN DI PAPUA, INDONESIA
Persebaran tutupan hutan alam Indonesia paling luas pada tahun 2021 berada di Provinsi Papua dan Papua Barat. Wilayah ini terkenal sebagai tempat tangkapan karbon di bagian Timur Indonesia, surga bagi keanekaragaman flora-fauna dan kaya akan kebudayaan local bagi masyarakat adat. Namun sejak beberapa tahun terakhir, keindahan hutan-hutan yang berdiri kokoh dan tanah masyarakat adat Papua telah beralih fungsi menjadi hutan industry demi keperluan ekspansi bisnis dan memenuhi permintaan pasar global. Akibatnya, beberapa tempat penting bersejarah rusak karena penggundulan dan penggusuran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing yang datang. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana hutan industry mampu menjadi ancaman bagi keberlangsungan hutan hujan di Papua, Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori sekuritisasi sebagai kerangka berpikir untuk membantu menjawab pertanyaan dari penulisan ilmiah ini. Penelitian ini menggabungkan beberapa sumber literatur seperti artikel jurnal, situs web resmi dan laporan dari beberapa media online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas hutan industri di sektor perkebunan kelapa sawit, industry kertas dan kayu menjadi faktor utama penyebab berkurangnya hutan alam atau deforestasi di Indonesia. Dalam sebuah laporan investigasi “Trashing the Last Rainforest” yang dilakukan oleh beberapa organisasi di Tanah Papua, disebutkan salah satu pelakunya adalah perusahaan kertas Moorim asal Korea Selatan yang telah meratakan hutan hujan alam untuk produksi serpihan kayu pembuatan kertas. Oleh karena itu, beberapa organisasi menyebutkan bahwa waktu terus berjalan untuk menyelamatkan iklim dan hutan di bumi, dimana banyak orang bergantung kepada keduanya
EVALUASI DAN ARAHAN PEMANFAATAN LAHAN SUB DAS OLONJONGE KABUPATEN PARIGI MOUTONG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
Pengelolaan sumberdaya alam akan memberikan manfaat dimasa yang akan datang, maka perlu dikelola dengan baik sehingga fungsinya dapat terpelihara sepanjang masa. Salah satu sumberdaya alam yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah Daerah Aliran Sungai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui arahan pemanfaatan lahan Sub DAS Olonjonge dan kesesuaian penggunaan lahan aktual terhadap arahan pemanfaatan yang dibuat.. Hasil overlay peta jenis tanah, lereng dan intensitas hujan di dapat arahan pemanfaatan lahan yaitu Kawasan Lindung seluas 2.026,40 Ha, Kawasan Penyangga seluas 615,51 Ha, Kawasan Budidaya Tahunan seluas 235,63 Ha, Kawasan Budidaya Semusim seluas 515,08 Ha. Evaluasi pemanfaatan lahan pada Kawasan lindung yang sesuai adalah hutan seluas 2010,73 Ha atau 99,23%, tidak sesuai kebun coklat seluas 15,67 ha atau 0,77 %, Kawasan penyangga penggunaan lahan yang sesuai adalah hutan seluas 220,06 Ha atau 35,75 %, tidak sesuai kebun coklat seluas 394,08 Ha atau 64,03 %, dan kebun campuran sesuai bersyarat yang seluas 1,37 Ha. Kawasan budidaya tahunan penggunaan lahan aktual yang ditemui adalah kebun coklat seluas 135, 10 Ha (sesuai) dan kebun campuran seluas 100,53 Ha (S), Kawasan budidaya semusim penggunaan lahan yang sesuai adalah permukiman seluas 29,63 Ha, kebun campuran seluas 421,68 Ha, kebun coklat seluas 33,93 Ha, sawah seluas 18,21, hutan seluas 11,62 Ha
IKLIM MIKRO DI BAWAH TEGAKAN POHON KOMBINASI ANGSANA (PTEROCARPUS INDICUS) DAN GLODOKAN (POLYALTHIA LONGIFOLIA) DI MEDIAN JALAN MAYOR JENDERAL S. PARMAN DI KOTA SAMARINDA
Peranan pohon-pohon yang ditanam di median jalan dapat memperbaiki iklim mikro di suatu kota. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik beberapa unsur cuaca (intensitas cahaya matahari, suhu udara, dan kelembapan udara), menghitung tingkat kebisingan, dan menghitung indeks kenyamanan pada tiga titik berbeda di bawah tajuk dan luar tajuk pohon kombinasi angsana (Pterocarpus indicus) dan glodokan (Polyalthia longifolia) di median Jalan Mayor Jenderal S. Parman, Kota Samarinda. Pengukuran unsur-unsur cuaca dan tingkat kebisingan dilakukan pada tiga waktu pengukuran (pagi pukul 06.00-07.00 WITA; siang pukul 12.00-13.00 WITA; sore pukul 17.00-18.00 WITA) selama 30 hari menggunakan Environment meter dan Lux meter. Intensitas cahaya matahari dan suhu udara rataan di bawah tajuk relatif lebih rendah dibandingkan dengan di luar tajuk pohon di median jalan. Kelembapan udara rataan pada Titik 1 di bawah tajuk dan di luar median jalan tinggi dikarenakan adanya pohon besar yang memiliki kerapatan tajuk yang relatif tinggi. Tingkat kebisingan rataan di Titik 1 di bawah tajuk sebesar 75,6 dB dan di luar tajuk sebesar 76,6 dB, di Titik 2 di bawah tajuk sebesar 76,0 dB dan di luar tajuk sebesar 76,3 dB, dan di Titik 3 di bawah tajuk sebesar 76,0 dB dan di luar tajuk sebesar 75,9 dB. Temperature Humidity Index (THI) pada ketiga titik pengukuran masih tergolong nyaman. Informasi tentang iklim mikro di bawah tajuk pohon-pohon yang ditanam di median jalan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pemilihan jenis dan pengelolaan tanaman di median jalan
PERTUMBUHAN ORGAN VEGETATIF TANAMAN MULTI FUNGSI PETAI (Parkia speciosa) DARI BIJI HINGGA SIAP TANAM
Tanaman MPTS merupakan tanaman yang bermanfaat ganda baik kayu maupun non kayunya seperti daun, buah, bunga dan biji. Tanaman jenis ini menjadi pilihan dalam proyek rehabilitasi lahan dan hutan karena bermanfaat bagi masyarakat sekitar hutan. Salah satu jenis MPTS yang penting adalah petai dengan produk non kayu berupa buah. Keberhasilan budidaya petai tergantung dari pembibitannya, sehingga perlu diketahui tahapan perkecambahan bijinya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fase-fase perkecambahan dan pertumbuhan organ vegetatif petai. Biji petai diamati secara langsung (direct observation) dari awal penaburan sampai semai siap sapih. Organ yang tumbuh awal pada perkecambahan petai adalah radikula diikuti dengan pulmula. Tipe perkecambahannya adalah epigeal dengan organ batang, akar dan daun sempurna terbentuk pada hari ke-12. Penelitian ini memberikan informasi waktu penyapihan semai sehingga berdampak pada penyiapan bibit MPTS pada program rehabilitasi lahan dan hutan
PRODUKSI PUPUK ORGANIK PADAT DARI LIMBAH SERABUT KELAPA SAWIT DENGAN BAHAN PENUTUP GEOTEKSTIL
Serabut kelapa sawit memiliki C/N rasio yang tinggi sehingga dalam pemanfaatannya sebagai pupuk organik padat diperlukan proses pengomposan agar dapat menurunkan C/N rasio. Bahan penutup yang baik diperlukan dalam proses pengomposan guna menghasilkan pupuk organik padat yang efektif dan memenuhi syarat mutu. Tujuan penelitian ini adalah memproduksi pupuk organik padat dari limbah serabut kelapa sawit menggunakan bahan penutup geotekstil dengan pembanding penutup plastik, serta dilakukan pengujian kualitas fisik, kimia, dan biologi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 2 × 2. Faktor pertama merupakan bahan penutup (P), yang terdiri atas 2 taraf yaitu, bahan penutup geotekstil (P1) dan bahan penutup plastik (P2). Faktor kedua adalah penambahan mikrob (C), yang terdiri 2 taraf yaitu, tanpa penambahan mikrob (C0), dan dengan penambahan mikrob (C1). Proses pengomposan dilakukan selama 30 hari dan dilakukan pembalikan setiap 3 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi pupuk organik padat kualitas terbaik terdapat pada perlakuan dengan bahan penutup geotekstil yang menghasilkan warna coklat kehitaman dan beraroma seperti tanah, pH dan total hara makro (N+P2O5+K2O) yang telah memenuhi syarat berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 261 Tahun 2019, serta total mikrob yang sangat tinggi
EVALUASI STATUS MUTU AIR SUNGAI SAMBOJA DI KECAMATAN SAMBOJA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Menipisnya air bersih akibat adanya pencemaran di sungai sebagai bagian dampak penurunan kualitas mutu air. Diketahuinya status kualitas dan mutu air Sungai Samboja di Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara menjadikan tujuan dari penelitian ini. Analisis data untuk mengevaluasi status dan kualitas air Sungai Samboja adalah dengan mengambil sampel kualitas air di tiga titik yaitu hilir, tengah, dan hulu dalam dua kondisi tidak hujan dan setelah hujan. Kemudian parameter kualitas air diuji dan dibandingkan dengan baku mutu air dengan menggunakan metode Storet dan metode indeks pencemaran yang mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Status kualitas air sungai Samboja secara spasial dan temporal menggunakan metode Storet, alokasi air kelas II dikategorikan “tercemar sedang” dan “tercemar parah” dengan skor -12 sampai -34. Sedangkan dengan menggunakan metode indeks pencemaran kelas II termasuk “memenuhi baku mutu” hingga “tercemar ringan” dengan nilai IP sebesar 0,69 hingga 3,57