AGRIFOR
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
METODE SENSUS POKOK TANAMAN KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN SOFTWARE MAP SOURCE DAN AUTODESK MAP
Mendapatkan data tanaman yang akurat sesuai dengan kondisi real di lapangan perlu dilakukan kegiatan sensus pokok secara teliti. Pada umumnya hasil kegiatan sensus pokok dituang ke dalam form blangko sensus (staple card). Data yang dihasilkan sering kali tidak akurat. Sebagai upaya untuk menghasilkan data sensus pokok yang lebih akurat, digunakanlah GPS (Global Positioning System) sebagai alat sensus. Kajian ini dilakukan untuk menentukan metode sensus pokok yang efektif dan efisien antara menggunakan staple card dan menggunakan GPS. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kajian ini, yaitu dengan melakukan pengamatan dan observasi di lapangan mengenai kedua metode sensus pokok yang dikaji. Parameter yang diamati yaitu biaya, waktu dan tenaga yang dibutuhkan, serta akurasi data yang dihasilkan masing–masing metode. Hasil kajian menunjukkan bahwa sensus pokok menggunakan GPS akan lebih efisien dan efektif, serta dapat menghasilkan profit yang lebih besar bagi perusahaan yaitu Rp.204.674/ha/tahun
ANALISIS VARIANSI HASIL PRODUKSI TANAMAN UBI JALAR MENGGUNAKAN POLA SAMPING TANAMAN SAMBILOTO DAN MELATI
Penelitian ini bertujuan untuk menguji beda hasil produksi tanaman ubi jalar dengan menggunakan penanaman pola tumpang sari tanaman sambiloto dan melati. Metode yang digunakan adalah eksperimen. Secara umum, karakteristik penelitian eksperimen dalam penelitian ini meliputi: Manipulasi, Pengendalian atau kontrol, dan Pengamatan. Analisis pengujian menggunakan analisis varians. Analisis varians merupakan suatu cara yang efektif untuk menguji apakah mean dua sampel atau lebih sungguh-sungguh berbeda apa tidak. Penelitian ini ingin menguji produksi hasil tanaman ubi jalar dengan memberikan pelakuan melalui pola penanaman tumpang sari dengan tanaman sambiloto dan melati. Penelitian ini menyimpulkan adalah (1) ada beda yang signifikan antara mean-mean kelompok, yaitu kelompok 1 sebagai variabel kontrol, kelompok 2 sebagai variabel eksperimen dengan pola penanaman tumpang sari ubi jalar dan sambiloto dan kelompok 3 sebagai variabel eksperimen dengan pola penanaman tumpang sari ubi jalar dan melati. (2) kelompok III secara signifikan mempunyai penampilan lebih baik dibanding kelompok I dan itulah satu-satunya beda yang signifikan. Meskipun kelompok II berpenampilan lebih baik daripada kelompok I (M1 = 1,3 dan M2= 1,8) beda sebesar 0,5 belum merupakan suatu beda yang signifikan. (3) kelompok III secara signifikan mempunyai penampilan lebih baik dibanding kelompok I dan itulah satu-satunya beda yang signifikan. (4) ada beda yang signifikan antara M1 dan M2+3
EFEKTIVITAS BAKTERI PSEUDOMONAD FLUORESCENT ISOLAT PF-142 DAN PUPUK HAYATI MIKORIZA DALAM MENGHAMBAT PENYAKIT LAYU BAKTERI Ralstonia solanacearum PADA TANAMAN CABAI
Bakteri patogen Ralstonia solanacearum dapat menurunkan produktivitas tanaman cabai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi isolat Pseudomonas fluorescent Pf-142 dan jamur mikoriza arbuskula terhadap R.solanacearumsecara in vivo. Penelitian ini menggunakan percobaan RAK dua faktorial, faktor pertama adalah kombinasi Pseudomonas fluorescent Pf-142 dengan pupuk hayati mikoriza yang terdiri dari P1 = 10 ml suspensi bakteri Pf-142 + 0 gr pupuk hayati mikoriza), P2 (7,5 ml suspensi bakteri Pf -142 + 2,5 gr pupuk hayati mikoriza), P3 (5 ml suspensi bakteri Pf-142 + 5 gr pupuk hayati mikoriza), P4 (2,5 ml suspensi bakteri Pf-142 + 7,5 gr pupuk hayati mikoriza), dan P5 (0 ml suspensi bakteri Pf-142 + 10 gr pupuk hayati mikoriza). Faktor kedua adalah waktu aplikasi yang terdiri dari T1 (7 hari sebelum tanam), T2 (saat tanam). Hasil penelitian menujukkan bahwa perlakuan 5 ml suspensi bakteri Pf-142 + 5 gr pupuk hayati mikoriza yang diaplikasikan 7 hari sebelum tanam mampu menunda gejala penyakit lay bakteri hingga 11,5 hari, perlakuan 10 ml bakteri suspensi Pf-142 + 0 gr pupuk hayati mikoriza yang diaplikasikan saat tanam memiliki keparahan penyakit sebesar 16%, dan perlakuan 0 ml suspensi bakteri Pf-142 + 10 gr pupuk hayati mikoriza yang diaplikasikan saat tanam memiliki proporsi akar terkolonisasi mikoriza sebesar 77,59%. Dengan demikian perlakuan 5 ml bakteri suspensi Pf-142 + 5 gr pupuk hayati mikoriza yang diaplikasikan 7 hari sebelum tanam adalah perlakuan yang terbaik
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN AKTIVATOR MOL DARI SAMPAH SAYUR KOL DAN EM4 PADA PENGOMPOSAN KIRINYUH (Chromolaena odorata L) DENGAN METODE SEMI ANAEROB
Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan berdampak kepada kesehatan masyarakat. Tumpukan sampah yang berasal dari sisa buah-buahan dan/atau sayuran jarang dimanfaatkan oleh masyarakat, karena sudah tidak layak untuk makanan ternak. Biasanya sampah sayuran hanya dibiarkan saja, sehingga menimbulkan aroma yang kurang sedap bagi kebersihan lingkungan dan dapat mengganggu kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan efektivitas penggunaan MOL dari sampah sayur kol dan EM4 sebagai aktivator pada pengomposan kirinyuh. Pada pembuatan kompos memanfaatkan sayur kol sebagai sumber MOL dari sisa kegiatan sehari-sehari manusia yang kurang bermanfaat dan mengetahui kandungan hara yang terkandung di dalam kompos kirinyuh serta mengetahui efisiensi penggunaan aktivator MOL dan EM4 pada proses pengomposan kirinyuh. Informasi dari MOL serta kandungan hara kirinyuh diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memerlukan dengan pengolahan yang profesional agar sampah organik serta gulma bisa diolah dan menghasilkan sesuatu yang berguna dan mempunyai nilai ekonomis. Proses pengomposan dengan aktivator EM4 menghasilkan kompos sebanyak 41 kg (58,57%) dan pengomposan dengan aktivator MOL menghasilkan kompos sebanyak 45 kg (64,28%) dengan parameter yang diamati meliputi warna, bau, suhu, pH, kadar unsur hara N, P, K, Mg dan kadar C-organik. Hasil analisis kualitas kompos kirinyuh dengan metode semi anaerob menggunakan aktivator EM4 dan aktivator MOL memenuhi standard SNI 19-7030-2004 yaitu bertekstur halus, berwarna cokelat kehitam-hitaman dan berbau tanah.
MIKROBIA PADA Plant Growth Promoting Rhizobakteri BAMBU, ALANG-ALANG DAN PISANG
Plant Growth Promoting Rhizocbacteria (PGPR) adalah sejenis bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri tersebut hidupnya secara berkoloni menyelimuti akar tanaman sehingga memberikan keuntungan bagi tanaman. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis bakteri yang terdapat pada PGPR akar bambu, akar alang-alang dan akar pisang. Penelitian dilakukan di laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman. Isolasi bakteri PGPR dilakukan dengan mengambil sampel dari ketiga bahan larutan PGPR tersebut. Kemudian setiap sampel PGPR diambil sebanyak 2 ml dan ditumbuhkan pada media Nutrient Agar (NA) dengan metode sebar. Dari masing-masing PGPR dibuat pada 4 (empat) cawan petri, sehingga didapat sebanyak 12 isolat bakteri PGPR yang mampu tumbuh pada media tersebut. Beberapa genus yang termasuk dalam PGPR tersebut adalah Pseudomonas, Serratia, Azotobacter, Azospirillum, Acetobacter, Burkholderia, Enterobacter, Rhizobium, Erwinia, Flavobacterium dan Bacillus. Masing-masing isolat rhizobacteria memiliki peranan yang penting dalam mengendalikan serangan patogen dan memicu pertumbuhan. Analisa bakteri digunakan sebagai parameter untuk mengetahui efektivitas serta potensi yang terkandung dalam bakteri tersebut
PENGARUH KOMPOS SOLID SAWIT DENGAN DEKOMPOSER BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL EDAMAME PADA TANAH GAMBUT
Kacang-kacangan merupakan komoditas pangan yang memerankan peranan penting di Indonesia, termasuk di dalamnya kacang edamame (Glycine max (L.) Merr.). Sifat fisik dan kimia tanah gambut penting untuk diketahui terutama saat digunakan untuk budidaya edamame. Penggunaan pupuk organic, seperti kompos limbah padat (sludge) kepala sawit, yang diaplikasikan ke dalam tanah dapat menyuburkan karena meningkatkan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pada perusahaan kelapa sawit, sludge adalah sisa limbah pengolahan minyak sawit. Sludge juga dikenal sebagai solid, dimana ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh berbagai dekomposer pada kompos solid sawit terhadap pertumbuhan dan hasil edamame pada tanah gambut. Penelitian dirancang secara acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan lima ulangan. Dosis pada semua perlakuan sebanyak 20 ton.ha-1. Perlakuan yang diberikan adalah P0 = control, P1 = kompos solid sawit dengan dekomposer EM4, P2 = kompos solid sawit dengan dekomposer M21, P3 = kompos solid sawit dengan dekomposer Tangguh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solid sawit berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil edamame. Pemberian kompos solid sawit dengan decomposer mempengaruhi pertumbuhan edamame, meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, dan waktu muncul bunga, sedangkan pengaruhnya terhadap hasil berupa berat basah, berat kering, jumlah polong, dan berat polong edamame
PERTUMBUHAN DAN HASIL KENTANG GRANOLA (Solanum tuberosum L.) PADA BERBAGAI JENIS PUPUK ORGANIK DAN UKURAN BIBIT DI DATARAN MEDIUM KABUPATEN GARUT
Kentang merupakan tanaman pangan yang strategis dengan mendukung ketahanan pangan bagi perekonomian di Indonesia. Tanaman kentang cenderung hanya mampu beradaptasi dengan baik pada daerah dataran tinggi, sehingga perlu dilakukan pengembangan teknologi budidayanya, agar produksi tanaman kentang dapat dilakukan produksi dengan baik pada daerah dataran tinggi, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik dan ukuran bibit pada pertumbuhan tanaman kentang di dataran sedang. Penelitian ini mengunakan rencana split plot, faktor petak utama adalah pupuk organik dan faktor ke dua adalah anak petak yaitu ukuran bibit. Dalam percobaan faktorial 4x3, dengan dua faktor perlakuan, diulang sebanyak 3 kali. Faktor yang di uji adalah faktor pertama : pupuk organik (o0) kontrol, (o1) pupuk kompos, gulma (o2) pupuk kompos kotoran domba dan petroganik, (o3) pupuk kompos kotoran domba. Faktor anak petak yaitu: (b1) S:10-30g, (b2) M:30-60 dan (b3) L: 60-90. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk oraganik dan ukuran bibit tidak terjadi interaksi terdap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, nisbah pupus akar, jumlah umbi pertanaman, jumlah umbi per petak, bobot umbi per tanamna dan bobot umbi perplot. Namun mempunyai pengaruh mandiri pada jumlah daun, jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi per petak dan nisbah pupus akar. jumlah umbi per petak, bobot umbi per tanamna dan bobot umbi per petak. Namun mempunyai pengaruh mandiri pada jumlah daun, jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi per petak dan nisbah pupus akar. jumlah umbi per petak, bobot umbi per tanamna dan bobot umbi per petak. Namun mempunyai pengaruh mandiri pada jumlah daun, jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi per petak dan nisbah pupus akar
KOMPOSISI JENIS DAN TIMBUNAN KARBON VEGETASI HUTAN LINDUNG GUNUNG SIMBOLON KABUPATEN SIMALUNGUN
Dampak dari kegiatan ilegal yang merusak ekosistim hutan dapat menyebabkan perubahan komposisi jenis dan timbunan karbon vegetasi. Penelitian yang ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan timbunan karbon (C) vegetasi Hutan Lindung Gunung Simbolon (HLGS) Kabupaten Simalungun. Metode penelitian menggunakan invetarisasi potensi kayu dan menduga timbunan karbon dengan pendekatan BEF (Biomass Expending Factor). Berdasarkan hasil inventarisasi dan pengolahan data jenis vegetasi dan potensi kayu diperoleh kesimpulan bahwa terdapat 22 jenis vegetasi yang terdiri dari 2 jenis dipterocarpacea (Shorea leprosula dan Shorea platycaldos), 7 jenis pionir (Macaranga tricocarpa, Macaranga gigantea, Homalanthus populneus, Trema orientalis, Anthocephalus chinensis, Arthocarpus anisophyllus, Zyzigium sp), 3 jenis endemik (Schima wallicii, Cinnamomum averum dan Cinnamomum subaveninum) serta 10 jenis rimba campuran (Alstonia scholaris, Lithocarpus cycloporus, Kompassia malaccensis, Sauaria vulcani, Aquillaria malaccensis, Borassus flabellifer, Cratoxylon arborescens, Bischofia javanica, Litsea monopetala dan Casuarina junghuhniana). Timbunan karbon dari berbagai jenis vegetasi yang terdapat pada 29.560 ha ekosistim Hutan Lindung Gunung Simbolon adalah 22.914.659,4 atau 2,29146594 x 107 ton
PERAN LEMBAGA KESEHATAN, PENDIDIKAN, DAN KEUANGAN DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN DI KABUPATEN KUTAI BARAT
Laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kutai Barat (Kubar) tahun 2021 untuk lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan adalah negatif dan lebih rendah dibandingkan lapangan usaha kesehatan dan kegiatan sosial, jasa pendidikan, dan jasa keuangan dan asuransi. Sektor pertanian perlu untuk dikembangkan agar kemampuan sektor pertanian dalam mensejahterakan masyarakat semakin meningkat. Tujuan penelitian adalah untuk menginventarisasi lembaga kesehatan, pendidikan, dan keuangan, mendata kegiatan pertanian (pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan), menelaah kinerja lembaga dan sektor pertanian, serta menganalisis peran lembaga dalam mendukung pengembangan pertanian di Kubar. Cakupan penelitian adalah Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Penelitian dilaksanakan sejak September 2021 hingga Februari 2022. Penelitian ini mengumpulkan data sekunder dan data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan dilakukan penentuan indeks Location Quotient (LQ). Telah berkembang berbagai lembaga kesehatan, pendidikan, dan keuangan di Kubar. Kegiatan bidang pertanian yang diusahakan adalah pertanian tanaman pangan, tanaman hortikultura, perkebunan, peternakan, jasa pertanian dan perburuan, kehutanan dan penebangan kayu, dan perikanan. Kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan lebih tinggi dibandingkan lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial, jasa pendidikan, dan jasa keuangan dan asuransi. Rata-rata indeks LQ lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan; jasa kesehatan dan kegiatan sosial; jasa pendidikan; dan jasa keuangan dan asuransi di Kubar berturut-turut sebesar 1,87 (sektor basis); 1,20 (sektor basis); 0,99 (sektor non basis); dan 0,08 (sektor non basis). Lembaga kesehatan sangat berperan, lembaga pendidikan berperan, dan lembaga keuangan kurang berperan dalam mendukung pengembangan pertanian di Kubar. Peran sektor kesehatan, pendidikan, dan keuangan perlu ditingkatkan dengan berbagai upaya.The Role of Health, Education, and Finance Institutions in Supporting Agricultural Development in West Kutai District. The growth rate of Gross Regional Domestic Product of West Kutai in 2021 for industry of agriculture, forestry, and fishing was negative and lower than that of human health and social work activities, education, and financial and insurance activities industries. The agricultural sector needs to be developed so that the ability of agricultural sector to improve the community welfare will increase. The research objectives were to inventory of health, educational, and financial institutions, record agricultural activities (agriculture, livestock, forestry, and fishing), examine the performance of health institutions, educational institutions, financial institutions, and the agricultural sector, as well as analyze the role of health, educational, and finance institutions in supporting the agricultural development in West Kutai. The scope of research was West Kutai District, East Kalimantan Province, Indonesia. The research was conducted from September 2021 to February 2022. This study collected secondary data and the data were analyzed descriptively quantitatively and the Location Quotient (LQ) indexs were determined. Various health, educational, and financial institutions have developed in West Kutai. Activities in the agricultural sector that are cultivated the food crops, horticultural crops, plantation crops, livestock, agriculture services and hunting, forestry and logging, and fishing. The performance of agriculture, forestry, and fishing industry was higher than that of the human health and social work activities, education, and financial and insurance activities industries. The average LQ indexs of agriculture, forestry, and fishing; human health and social work activities; education; and financial and insurance activities industries were 1.87 (base sector); 1.20 (base sector); 0.99 (non-base sector); and 0.08 (non-base sector), respectively. Health institutions play a very important role, educational institutions play a role, and financial institutions play less role in supporting the agricultural development in West Kutai. The role of health, education, and financial institutions needs to be increased with various efforts
PERCEPATAN PERTUMBUHAN BIBIT MAHONI (Swietenia macrophylla King.) DENGAN PEMBERIAN DOSIS AZOLLA DAN SKARIFIKASI BIJI
Mahoni ialah tumbuhan yang banyak ditanam sebagai tumbuhan penjaga karena sifatnya yang tahan panas serta mempunyai energi menyesuaikan diri yang baik. Tanaman mahoni mudah dibudidayakan hanya saja perkecambahannya yang lambat karena tanaman mahoni memiliki masa dormansi yang panjang.Penelitian yang dilaksanakan bertujuan untuk: 1) Untuk mengetahui apakah takaran Azolla mempengaruhi perkembangan benih tumbuhan mahoni (Swietenia macrophylla King.) 2) untuk mengetahui apakah skarifikasi mempengaruhi perkembangan benih tumbuhan mahoni (Swietenia macrophylla King.), 3) Untuk mengetahui apakah terjadi interaksi antara dosis Azolla dan perlakuan skarifikasi terhadap pertumbuhan bibit tanaman mahoni (Swietenia macrophylla King.)Penelitian ini dilakasanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 aspek. Aspek awal merupakan takaran azolla (4,5 g polybag-1, 9 g polybag-1, 13,5 g polybag-1) dan faktor kedua adalah macam skarifikasi biji (tanpa di ampelas, di ampelas 1 sisi, di ampelas 2 sisi, di ampelas 3 sisi) serta diulang sebesar 3 kali.Hasil penelitian menujukkan bahwa : 1) Perlakuan macam dosis azolla 13,5 g polybag-1 (D3) memberikan pengaruh paling baik untuk parameter tumbuh tunas, tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar. 2) Perlakuan skarifikasi biji dengan diamplas satu sisi (S1) memberikan pengaruh tumbuh tunas dan jumlah daun paling baik.3) Interaksi antara dosis azolla dan skarifikasi biji memberikan pengaruh jelas kepada patokan jauh pangkal