AGRIFOR
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
KEANEKARAGAMAN SERANGGA DI PERTANAMAN KECOMBRANG (Etlingera elatior JACK) PADA ZONA PENYANGGA KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER
Keanekaragaman Serangga di Pertanaman Kecombrang (Etlingera elatior Jack) pada Zona Penyangga Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kecombrang merupakan tanaman rempah - rempah asli Indonesia. Sampai saat ini belum ada penelitian keanekaragaman serangga pada tanaman kecombrang dan juga belum terdeteksinya status peran serangga pada tanaman kecombrang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai keanekaragaman serangga di pertanaman kecombrang pola tanam monokultur dan polikultur di zona penyangga Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan 4 kali pengamatan di lapangan dan identifikasi serangga dilakukan sampai tingkat famili. Penelitian ini menggunakan 4 jenis perangkap serangga (perangkap jaring, perangkap jatuh, perangkap kuning, perangkap lampu). Hasil identifikasi serangga yang tertangkap pada lahan kecombrang monokultur yaitu 917 ekor dengan 7 ordo dan 37 famili sedangkan pada lahan kecombrang polikultur terdapat 1595 ekor dengan 7 ordo dan 42 famili. Identifikasi nilai keanekaragaman pada lahan monokultur menunjukkan nilai 2,51, nilai kekayaan margalef 5,27 dan indeks kemerataan 0,69 sementara pada lahan polikultur nilai keanekaragaman sebesar 2,52, nilai kekayaan Margalef 5,55 dan indeks kemerataan 0,67. Indeks kemerataan pada lahan monokultur lebih tinggi atau berbanding terbalik dari indeks keanekaragaman dan indeks kekayaan pada kedua jenis lahan, hal tersebut menunjukkan kedua lahan termasuk ke dalam kategori kemerataan tinggi Analisis nilai kesamaan dua lahan menunjukkan angka 0,67 yang termasuk ke dalam kategori tinggi pada kesamaan spesies. Penelitian menyimpulkan bahwa ekosistem serangga di zona penyangga kawasan taman nasional gunung leuser masih alami
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KOMPOS DAN PUPUK NPK PHONSKA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L) VARIETAS HARMONY
Prospek pengembangan budidaya mentimun secara komersial yang dikelola secara agribisnis semakin cerah, karena pemasaran hasilnya tidak hanya dilakukan di dalam negeri (domestik), tetapi juga ke luar negeri (ekspor). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pupuk kompos dan pupuk NPK Phonska serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun, danuntuk memperoleh dosis pupuk kompos dan pupuk NPK Phonska yang optimum untuk menghasilkan produksi yang maksimal.Penelitian menggunakan analisis faktorial 3x4 dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 3 kali ulangan. Faktor penelitian terdiri atas 2 faktor. Faktor I adalah Pupuk Kompos (K), terdiri atas 3 taraf, yaitu :tanpa pupuk kompos atau kontrol (k0), dosis pupuk kompos 10 ton/ha setara 400 g/tanaman (k1), dan dosis pupuk kompos 20 ton/ha setara 800 g/tanaman (k2). Faktor II adalah Pupuk NPK Phonska (P), terdiri atas 4 taraf, yaitu : tanpa pupuk NPK Phonska atau kontrol (p0), dosis pupuk NPK Phonska 100 kg/ha setara 4 g/tanaman (p1), dosis pupuk NPK Phonska 200 kg/ha setara 8 g/tanaman (p2), dan dosis pupuk NPK Phonska 300 kg/ha setara 12 g/tanaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kompos tidak berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman umur 20 hari setelah tanam dan umur berbunga. Berpengaruh nyata terhadap jumlah buah per tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap panjang tanaman umur 40 hari setelah tanam, panjang buah, diameter buah dan produksi buah per tanaman.Perlakuan pupuk NPK Phonska tidak berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman umur 20 hari dan umur 40 hari setelah tanam dan umur berbunga. Berpengaruh sangat nyata terhadap panjang buah, diameter buah, jumlah buah per tanaman dan produksi buah per tanaman.Interaksi perlakuan antara pupuk kompos dan pupuk NPK Phonska tidak berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman umur 20 hari dan umur 40 hari setelah tanam, umur berbunga, diameter buah dan jumlah buah/tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap produksi buah/tanaman. Berat buah tertinggi terdapat pada perlakuan k2p3 (dosis pupuk kompos 20 ton/ha dan dosis pupuk NPK Phonska 300 kg/ha), yaitu 3,94 kg/tanaman, sedangkan berat buah terendah terdapat pada perlakuan k0p0 (tanpa pupuk kompos dan pupuk NPK Phonska atau kontrol), yaitu 2,54 kg/tanaman
PENGARUH MULSA DAN PUPUK KANDANG SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merril) PADA LAHAN PASANG SURUT
Tujuan penelitian adalah untuk : (1) Mengetahui pengaruh mulsa dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai dilahan pasang surut, (2) Mengetahui dosis pupuk kandang sapi yang terbaik terhadap hasil tanaman kedelai dilahan pasang surut, (3) Mengetahui ketebalan mulsa yang terbaik untuk tanaman kedelai dilahan pasang surut.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2018 sampai Juni 2018. Tempat penelitian Di Jalan A Wahab Syahranie, Sangatta Utara, Kutai Timur. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 3 taraf perlakuan pemberian mulsa dan 3 perlakuan pemberian pupuk kandang sapi sehingga diperoleh 9 kombinasi. Masing-masing perlakuan dikelompokkan sebanyak 3 kali. Taraf perlakuan yaitu faktor pertama perlakuan mulsa (M0) Tanpa mulsa, (M1) Mulsa jerami ketebalan 2 cm, (M2) Mulsa jerami ketebalan 4 cm, faktor kedua pupuk kandang sapi (S0) Tanpa Pupuk kandang sapi, (S1) Perlakuan pupuk kandang sapi 4 kg/petak, (S2) Perlakuan pupuk kandang sapi 6 kg/petak. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan maka dianalisis dengan sidik ragam Uji F 5% dan 1% dan bila terdapat hasil berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji BNT 5%.Hasil penelitian menunjukkan Pengaruh Mulsa berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman 7 hst, 14 hst, 21 hst, jumlah cabang umur 14 hst, 21 hst, dan umur panen. Sedangkan pengaruh pupuk kandang berbeda nyata terhadap jumlah cabang 14 hst, 21 hst, dan umur panen. Pemberian mulsa 4 cm dan pupuk kandang sapi 6 kg/petak menunjukkan hasil terbaik
ESTIMASI STOK KARBON TANAH ORGANIK PADA MANGROVE DI TELUK KABA DAN MUARA TELUK PANDAN TAMAN NASIONAL KUTAI
Hutan mangrove Taman Nasional Kutai merupakan ekosistem penting yang harus dijaga dan ditingkatkan kelestariannya. Degradasi ekosistem mangrove melalui berbagai aktivitas manusia telah menjadi penyebab utama berkurangnya kemampuan hutan mangrove dalam menyerap dan menyimpan karbon. Hutan mangrove dianggap sebagai ekosistem yang paling banyak menyimpan karbon di dunia yang sebagian besar karbon tersimpan di tanah. Pada lokasi penelitian ditemukan rata-rata C-organik di Muara Teluk Pandan sebesar 2,20% dan di Teluk Kaba memiliki rata-rata C-organik sebesar 2,27%. Rendahnya kandungan C-organik telah mempengaruhi stok karbon tanah. Di kedua lokasi memiliki kisaran stok karbon tanah, yaitu sebesar 66,2-116,1 ton/ha. Rata-rata stok karbon tanah di Teluk Kaba sebesar 74,85 ton/ha, kemudian rata-rata stok karbon tanah di Muara Teluk Pandan sebesar 94,43 ton/ha. Berdasarkan literatur dan hasil penelitian yang terkait, menunjukkan stok karbon tanah mangrove di lokasi penelitian tergolong rendah. Adanya berbagai aktivitas manusia dan perubahan tata guna lahan terutama untuk tambak telah berpotensi menyebabkan terganggunya ekosistem mangrove termasuk fungsi mangrove sebagai penyimpan karbon
PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR NASA DAN PUPUK KOMPOS TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JERUK MANIS (Citrus aurantium).
Pengaruh Pupuk Organik Cair Nasa dan Pupuk Kompos Terhadap Pertumbuhan Bibit Jeruk Manis (Citrus aurantium). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk organik cair nasa dan pupuk kompos serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jeruk manis, dan juga untuk mengetahui konsentrasi pupuk organik cair nasa dan dosis pupuk kompos yang tepat untuk pertumbuhan bibit jeruk manis (Citrus aurantium).Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dalam percobaan faktorial 3 x 3, dengan 5 ulangan. Terdiri atas 2 faktor perlakuan. Faktor I adalah jenis pupuk organik cair Nasa (V), terdiri atas 3 taraf, yaitu : tanpa pupuk organik cair Nasa (v0), konsentrasi pupuk organik cair Nasa 1 ml/l.air (v1), dan konsentrasi pupuk organik cair Nasa 2 ml/l.air (v2). Faktor II adalah dosis pupuk kompos (K), terdiri atas 3 taraf, yaitu : dosis pupuk kompos 15 ton/ha setara 15 g/polibag (k1), dosis pupuk kompos 30 ton/ha setara 30 g/polibag (k2), dan dosis pupuk kompos 45 ton/ha setara 45 g/polibag (k3).Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk Nasa tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun umur 90 hari setelah tanam. Berpengaruh nyata terhadap tinggi bibit umur 60 hari setelah tanam, jumlah daun umur 30 hari dan 60 hari setelah tanam dan diameter batang umur 30 hari dan 60 hari setelah tanam.Interaksi perlakuan antara perlakuan pupuk Nasa dan pupuk kompos berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi bibit umur 30 hari dan 60 hari setelah tanam, jumlah daun umur 30 hari, umur 60 hari dan umur 90 hari setelah tanam, diameter batang umur 30 hari dan umur 90 hari setelah tanam. Berpengaruh nyata terhadap diameter batang umur 60 hari setelah tanam. Berpengaruh sangat nyata terhadap diameter batang umur 60 hari setelah tanam
PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN dan PERKEMBANGAN DAUN BAWANG (Allium fistulosum L.) BIBIT ANAKAN
Tujuan penelitian, yaitu untuk megetahui pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan daun bawang yang ditanam dengan cara memotong bibit anakan. Dalam penelitian, media tanam yang digunakan adalah tanah dan air.Penelitian dilakukan selama sepuluh hari, terhitung sejak tanggal 29 mei sampai 7 juni 2020. Penelitian dilaksanakan di desa Ajibarang kulon, kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan rancangan penelitian acak lengkap (RAL) dengan cara mengamati perbedaan pada pertumbuhan dan perkembangan bawang daun bibit anakan yang ditanam pada air dan tanah sekali dalam dua hari.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Air yang digunakan sebagai media tanam mempunyai pengaruh nyata terhadaptinggi daun,dan pertumbuhan daun baru. Tinggi daun saat hari kedua penelitian mencapai 2 cm, dan terus bertambah 2 cm setiap dua hari. Daun baru muncul terhitung pada hari ke-dua, dan setelah itu muncul di hari ke-empat.Tanah yang digunakan sebagai media tanam mempunyai pengaruh nyata terhadap Panjang penguningan pada daun. Pada hari ke-enam, salah satu daun menguning hingga 3 cm
PENGARUH JUMLAH DAN UMUR BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN
Lahan sawah tadah hujan sebagai lahan yang paling banyak dimanfaatkan untuk pertanaman padi adalah juga merupakan ekosistem yang beresiko tinggi karena sangat mungkin terjadi kekeringan, kebanjiran atau pasang surutnya air laut yang menyebabkan produksi padi pada lahan sawah tadah hujan cenderung rendah. Jumlah bibit perlubang tanam dan umur pindah tanam merupakan beberapa faktor penting yang menentukan keberhasilan dalam kegiatan produksi tanaman padi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah teradi interaksi antara jumlah bibit dan umur bibit dan untuk mengetahui jumlah bibit dan umur bibit terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman padi pada lahan sawah tadah hujan. Penelitian berlokasi di Balai Benih Hortikultura Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sanggau dengan lahan sawah tadah hujan tanah aluvial.Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, disusun secara faktorial dan terdiri dari dua faktor yaitu jumlah bibit pertitik tanam (J) terdiri dari 5 taraf 5 bibit pertitik tanam (j1), 10 bibit pertitik tanam (j2), 15 bibit pertitik tanam (j3), 20 bibit pertitik tanam (j4) dan 25 bibit pertitik tanam (j5). Dan umur bibit (U) terdiri dari 14 HSS (u1), 21 HSS (u2), 28 HSS (u3) dan 35 HSS (u4). Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum, jumlah anakan produktif, berat gabah kering panen, berat 1.000 butir gabah, berat gabah kering giling pertanaman, berat gabah kering giling.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara perlakuan jumlah bibit dan umur bibit terhadap pertumbuhan dan hasil padi pada lahan sawah tadah hujan. Perlakuan jumlah bibit 5 pertitik tanam dan perlakuan umur bibit 21 HSS merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman padi pada lahan sawah tadah hujan
PENGARUH PUPUK BIORGANIK DAN PUPUK BOOM FLOWER TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG (Solanum melongenaL) VARIETAS LAGUNA F1.
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk Biorganik dan pupuk Boom Flower serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Terung, serta untuk mengetahui konsentrasi pupuk Biorganik dan pupuk Boom Flower yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Terung.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dalam percobaan faktorial 4 x 3, dengan 4 ulangan. Terdiri atas 2 faktor perlakuan. Faktor I adalah pupuk Biorganik (P), terdiri atas 4 taraf, yaitu : p0 =tanpa pupuk biorganik (kontrol), p1 = dosis pupuk biorganik25 g /polibag, p2 =dosis pupuk biorganik50 g/polibag, p3 =dosis pupuk biorganik75 g/polibag. Faktor II adalah pupuk Boom Flower (B), terdiri atas 3 taraf, yaitu : b0 =tanpa pupuk Boom Flower (kontrol), b1 = konsentrasi pupuk boom flower 2 ml liter air-1, b2 =konsentrasi suplemen boom flower 4 ml liter air-1. Perlakuan pupuk biorganik tidak berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari, umur 30 hari dan umur 45 hari setelah tanam, jumlah buah per tanaman dan berat buah per tanaman. Berat buah per tanaman terberat terdapat pada perlakuan p3 (dosis pupuk 75 g/polibag), yaitu 3,31 kg/tanaman. Sedangkan berat buah teringan terdapat pada perlakuan p0 (tanpa pupuk biorganik), yaitu 1,84 kg/tanaman.Perlakuan pupuk boom flower tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 30 hari dan umur 45 hari setelah tanam. Berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari setelah tanam dan jumlah buah per tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap umur saat berbunga dan berat buah per tanaman. Berat buah per tanaman terberat terdapat pada perlakuan b2 (konsentrasi pupuk 4 ml liter air-1), yaitu 2,79 kg/tanaman. Sedangkan berat buah teringan terdapat pada perlakuan b0 (tanpa pupuk boom flower), yaitu 2,44 kg/tanaman.Interaksi perlakuan pupuk biorganik dan pupuk boom flower tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari, umur 30 hari dan umur 45 hari setelah tanam, umur saat berbunga dan jumlah buah per tanaman. Berpengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK CANTIK DAN PUPUK ORGANIK CAIR HORMONIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERONG UNGU (SOLANUM MELONGENA L.) VARIETAS YUVITA F1
Tujuan penelitian adalah untuk : (1) mengetahui pengaruh pemberian pupuk Organik Cantik dan Pupuk Organik Cair Hormonik beserta interaksinya terhadap pertumbuhan dan produksi Tanaman Terong Ungu Varietas Yuvita F1; (2) mengetahui dosis pupuk Organik Cantik dan konsentrasi POC Hormonik yang sesuai untuk tanaman terong.Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei 2018 sampai bulan September 2018, terhitung sejak dari persiapan media tanam hingga pengambilan data terakhir. Tempat penelitian di Jl. Teuku Umar, Samarinda, Kalimantan Timur.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial 4 x 4 yang diulang sebanyak tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk Cantik (K) yang terdiri atas empat taraf yaitu : tanpa pupuk Cantik (k0), 150 kg ha-1 setara 150 g polibag-1 (k1), 250 kg ha-1 setara 250 g polibag-1 (k2), dan 350 kg ha-1 setara 350 g polibag-1 (k3). Faktor kedua adalah konsentrasi POC Hormonik (P) yang terdiri atas empat taraf yaitu :tanpa POC Hormonik (p0),1 ml 1-1 air (p1), 2 ml 1-1 air (p2), dan 3 ml 1-1 air (p3).Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) perlakuan pemberian pupuk Cantik berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 15, 30, dan 45 hari setelah tanam, jumlah buah per tanaman dan berat satu buah, dan berpengaruh nyata terhadap diameter dan panjang buah. Perlakuan 350 g polibag-1 menghasilkan hasil buah tanaman terong ungu yang paling baik (2) perlakuan pemberian POC Hormonik berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 15, 30, dan 45 hari setelah tanam serta jumlah buah per tanaman; berpengaruh nyata terhadap berat satu buah, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap diameter buah dan panjang buah. Perlakuan 3 ml l-1 air -menghasilkan hasil buah tanaman terong ungu yang paling baik; dan (3) interaksi antara pupuk Cantik dan POC Hormonik berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 30 dan 45 hari setelah tanam; berpengaruh nyata terhadap jumlah buah per tanaman, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 15 hari setelah tanam, diameter buah, panjang buah, dan berat satu buah
POTENSI AGROFORESTRI DI DESA MARA SATU KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA
Agroforestri tradisional yang berkembang dari budaya lokal memiliki peran penting sebagai sumber pendapatan rumah tangga petani di Desa Mara Satu. Pendapatan merupakan indikator ekonomi petani karena besarnya pendapatan akan menentukan pemenuhan kebutuhan hidupnya, tetapi pendapatan juga ditentukan oleh nilai ekonomi dari komoditi atau produk agroforestri yang dihasilkan oleh petani. Potensi Agroforestri dapat dilihat dari dua aspek, yaitu potensi vegetasi penyusun agroforestri dan potensi ekonomi komoditi agroforestri. untuk potensi vegetasi penyusun agroforesti dengan melihat hasil hutan kayu dan hasil hutan non kayu, sedangkan potensi ekonomi dilihat dari nilai ekonomi dari produk agroforestri yang dihasilkan dari sistem agroforestri yang ada. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Mara Satu Kecamatan Tanjung Palas Barat Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara. Metodologi yang digunakan adalah metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel secara sengaja sedangakan penentuan jumlah sampel ditentukan berdasarkan teknik Slovin. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif dan dimuat dalam bentuk tabel. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Volume total (potensi) tanaman agroforestri responden Desa Mara Satu adalah 797,18 m3 dengan Volume tegakan paling besar adalah tanaman Durian (Durio zibethinus) sebesar 270.34 m3. Potensi tanaman obat Desa Mara Satu memiliki total nilai ekonomi sebesar Rp. 177.099.000,- per tahun dengan potensi yang paling besar adalah jahe merah (Zingiber officinale Linn. var. rubrum) yaitu sebesar Rp. 81.600.000,- per tahun. Total nilai ekonomi produk tanaman agroforestri dari 37 responden petani Desa Mara Satu adalah sebesar Rp. 3.385.889.000,- per tahun