355 research outputs found

    Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Pengembangan Kelapa Babasal (Cocos nucifera) Di Kecamatan Batui Kabupaten Banggai

    Full text link
    Evaluation of Land Suitability for the Development of Babasal Coconut (Cocos nucifera) in Batui District, Banggai Regency. This study aims to determine land suitability and limiting factors as well as processing efforts in the development of Babasal Coconut (Coconus nucifera) in Batui District. This study lasted for 3 months (July-September 2020) using the parametric approach method of Khiddir's (1986) square root land index. The results showed that the actual land suitability class in Batui District SPL 1, SPL 2, SPL 3, SPL 4, SPL 5, SPL 6, SPL 7, SPL 8, SPL 9 were S3 (marginal) while the limiting factors were texture, slope, flood hazard and N-total. Furthermore, for improvement efforts are moderate to high level management by fertilizing, making terraces, planting parallel to contours, planting ground covers, constructing embankments and constructing drainage channels. The allocation direction for Babasal coconut (Coconus nucifera) development in Batui District with potential suitability class SPL 3 is classified as S1 criteria (very suitable) with an area (3731.16 ha). Furthermore, at SPL 1, SPL 2, SPL 4, SPL 5, SPL 6, SPL 7, SPL 8 and SPL 9 with S3 criteria (marginal) with an area (21288.21 ha) while the limiting factor for potential land suitability in Batui District is the texture content criteria are rather rough and cannot be repaire

    PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI MENGENDALIKAN HAMA-HAMA PADI MERAH (Oryza nivara L.) DI DUSUN SOPORARU, TAPANULI UTARA, SUMATERA UTARA

    Full text link
    Locally specific Natabo brown rice was identified in Pangaribuan Subdistrict, North Tapanuli, where the attack of stem borer, brown planthoppers, leafhoppers and stink bugs affects rice productivity. The alternative step to control pests in a biological used by biology pesticides to increase productivity and food security. This research was conducted for eight months during March to October 2020, with a survey stage, inventory of pests in the fields using the purposive random sampling method in Soporaru backwoods, Sigotom Julu Village, Pangaribuan District, North Tapanuli. The application of biology pesticides consists of 5 treatments, namely: B0 (Control, without application); BP1 (neem leaves, galangal, lemongrass, detergent, water); BP2 (soursop leaves, galangal rhizome, garlic, detergent, water); BP3 (soursop leaves, detergent, water) and BP4 (kenikir leaves, marigold flowers, Zinnia flowers). The composition of insects consist of 8 order, 26 familes, totalpopulation were 1.080 individuals.The calculation of the Margallef species richness index (Rp=7.25; Rc=7.15), the Evenness evenness index (Ep= 0.62; Ec=0.57) and the Shannon Wiener diversity index (Hp'= 2.38; Hc’=2.12). The parameters of temperature, humidity, rainfall) are calculated. The use of biology pesticides has strategic potential in controlling the dominant pests of rice in the future

    Rapid Survei Keanekaragaman Hayati Status Konservasi Permen LHK (P.106/2018) dan IUCN di areal Nilai Konservasi Tinggi Perkebunan Kelapa Sawit

    Full text link
    Adanya kawasan nilai konservasi tinggi (NKT) di dalam areal perkebunan menjadi syarat wajib bagi perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang memiliki sertifikat RSPO ataupun ISPO. Penelitian ini penting untuk di lakukan karena, sampai saat ini kajian mengenai keanekaragaman makhluk hidup di kawasan NKT perkebunan kelapa sawit masih sangat kurang.. Penelitian ini di lakukan pada bulan Oktober 2020 di PT. RHS, Provinsi Kalimantan Tengah. Data yang di kumpulkan berupa keragaman tumbuhan (Flora) dan lima jenis hewan (Fauna)  yaitu hewan Mamalia, Reptil, Aves, Amfibi dan Pisces. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status konservasi keragaman makhluk hidup di kawasan Nilai Konservasi Tinggi di perkebunan Kelapa Sawit menurut status konservasi KemLHK No. 106 tahun 2018 dan IUCN (International Union for Conservation and Natural Resources). Metode penelitian yang digunakan yaitu melalui pengamatan secara langsung untuk keragaman binatang dengan teknik Total Count, Tabel 10 Jenis dan tangkapan Kamera Trap sedangkan untuk keragaman tumbuhan di lakukan dengan teknik plot segi empat 20 x 100 meter. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat 14 Jenis Mamalia, 1 Reptil, 24 Burung dan 11 Jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam status perlindungan menurut KemLHK No. 106 tahun 2018. Sedangkan menurut status konservasi IUCN terdapat 2 jenis mamalia dan 3 jenis tumbuhan yang termasuk kategori kritis (CR); 2 jenis Mamalia, 2 jenis Reptil dan 2 jenis tumbuhan yang termasuk kategori terancam punah (EN); 9 jenis mamalia, 2 jenis reptil dan 8 jenis tumbuhan yang termasuk kategori terancam punah (VU); 17 jenis burung dan 2 jenis ikan yang termasuk dalam kategori hampir terancam punah (NT)

    PENGARUH VARIASI Electrical Conductivity (EC) LARUTAN NUTRISI HIDROPONIK RAKIT APUNG PADA FASE VEGETATIF CEPAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI PAKCOY (Brassica Rapa L.)

    Full text link
    Sawi pakcoy merupakan salah satu jenis sayuran yang mudah dibudidayakan, pakcoy juga banyak dijadikan sebagai peluang bisnis karena peminatnya yang cukup banyak. HIdroponik rakit apung merupakan salah satu teknik budidaya tanaman tanpa media melainkan dengan media udara. Keberhasilan budidaya tanaman secara hidroponik dipengaruhi oleh pengontrolan Konduktivitas Listrik(EC) didalam udara. Penelitian ini bertujuan untuk menetukan pengaruh dan nilai variasi EC yang mampu memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman sawi pakcoy yang ditanam secara hidroponik rakit apung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 5 perlakuan. Masing-masing pengobatan diulang sebanyak 5 kali. Penelitian menunjukkan adanya pengaruh variasi EC dalam larutan hidroponik terhadap pertumbuhan dan tanaman sawi pakcoy pada beberapa parameter pengamatan. Pengaruh perlakuan yang signifikan terdapat pada parameter tinggi tananam, jumlah daun, luas daun, dan berat tanaman segar. Sedangkan total klorofil dan berat kering tanaman tidak menunjukkan adanya perbedaan nyata antar perlakuan. Perlakaun D ((EC 1,6 mS/cm (7-14HSS) dan 2, 4 mS/cm (15-41HSS)) mampu memberikan pertumbuhan dan hasil yang terbaik pada tanaman sawi pakcoy. Perlakuan D memberikan hasil yang berpengaruh nyata pada pengamatan parameter seperti tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan berat basah tanaman

    EFEKTIVITAS PEMBERIAN AIR CUCIAN BERAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SELEDRI (APIUM GRAVEOLENS L.)

    Full text link
    ABSTRAKAir cucian beras sering dibuang dan dianggap limbah rumah tangga padahal air cucian beras dapat dimanfaatkan dan memiliki potensi sebagai pupuk organik cair pada tanaman untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Tujuan penelitian untuk mendapatkan efektivitas pemberian air cucian beras dan gula yang diperbanyak dengan air bersih terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman seledri. Metode menggunakan RAL satu faktor; 4 perlakuan dan 4 ulangan, tiap ulangan terdapat 4 polybag sampel tanaman. Perlakuan A; 1 liter air cucian beras + 1 liter air bersih, B; 1 liter air cucian beras + 1 liter air bersih, C; 1 liter air cucian beras beras + 1 liter air bersih + 2 gr gula pasir, D; 1 liter air cucian beras + 2 liter air bersih + 2 gr gula pasir. Pengambilan data umur 6 MST dan parameter diamati: tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah batang (helai), bobot segar brangkasan tanaman (gr) dan bobot segar tanaman (gr). Data hasil pengamatan dianalisis one-way MANOVA dan dilanjutkan Tukey. Hasil penelitian efektivitas pemberian air cucian beras dan gula berbeda nyata pada perlakuan A, B, C dan D terhadap jumlah batang tanaman tetapi tidak berbeda nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar brangkasan dan bobot segar tanaman. Perlakuan A lebih efektif pada tinggi tanaman (23 cm), bobot segar brangkasan (7,31 gr) dan bobot segar tanaman (6,38 gr). Perlakuan C lebih efektif pada jumlah daun (31,63 helai) dan jumlah batang (7,31 helai)

    ANALISIS POTENSI KAYU BULAT Shorea leprosula DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

    Full text link
    Analisis Potensi Kayu Bulat Shorea leprosula  di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Kerusakan hutan alam dan semakin menurunnya pasokan kayu untuk bahan industri olahan kayu perlu kiranya peningkatan produktivitas hutan diantaranya dengan melaksanakan pembangunan hutan tanaman dipterokarpa dengan jenis Shorea leprosula. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui potensi kayu bulat dan (2) mengetahui hubungan antar variabel berdasarkan analisis bioekonomi Shorea leprosula  dengan jarak tanam 3m x 2m yang berlokasi di Kabupatn Kutai Kartanegara dengan luasan plot penelitian seluas 1 ha dengan metode pengambilan sampel tegakan secara systematic random sampling. Analisis data yang digunakan dengan mengukur diameter, tinggi dan volume tegakan setelah itu di analisis secara matematis menggunakan regresi liner sederhana untuk mengetahui hubungan berbagai variabel dengan melihat nilai koefisiensi determinasi (R2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total volume dan riap S. leprosula  jarak tanam 3m x 2m maksimal dicapai pada umur 47 tahun sebesar 470,09 m3/ha dan riap  MAI dan CAI berturut-turut sebesar 10,00 dan 10,31 m3/ha/thn. Terdapat hubungan keeratan yang tinggi antar variabel bioekonomi umur, diameter, tinggi dan riap dengan koefisien determinasi (R2) lebih besar dari 94%

    IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN HUBUNGAN KEKERABATAN SALAK PONDOH, SALAK MADU, SALAK GULA PASIR DI DESA SUMBER KECAMATAN WONOSALAM JOMBANG

    Full text link
    Indonesia mempunyai jenis buah-buahan yang sangat banyak, salah satunya yaitu buah salak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ciri morfologi maupun  kekerabatan antar tanaman salak pondoh, salak madu serta salak gula pasir di desa sumber kecamatan wonosalam kabupaten jombang. Penelitian dilaksanakan pada bulan februari-juni 2021 dengan memilih 5 sampel pada setiap jenis tanaman salak dengan parameter penelitian tinggi tanaman, panjang daun, panjang pelepah daun, kerapatan duri, tekstur duri, bentuk duri, warna permukaan atas daun dan warna permukaan bawah daun. Penelitian dilaksanakan  secara langsung dan disusun menggunakan metode deskriptif dan dianalisis menggunakan analisis cluster berupa dendogram kemiripan. Berdasarkan pengamatan morfologi vegetatif ciri morfologi antara tiga jenis salak tersebut mempunyai beberapa ciri morfologi yang mirip, Diantara tiga jenis tanaman salak tersebut secara besar dikelompokkan mempunyai hubungan kekerabatan yang jauh dengan menunjukkan nilai kemiripan sebesar 54%-74%

    SUHU DAN KELEMBAPAN TANAH PADA POSISI TOPOGRAFI DAN KEDALAMAN TANAH BERBEDA DI TAMAN SEJATI KOTA SAMARINDA

    Full text link
    Keberadaan taman kota mempunyai fungsi yang sangat penting bagi suatu kota, baik fungsi ekologis, estetika, dan ekonomis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik suhu dan kelembapan tanah pada posisi topografi berbeda (puncak, lereng, dan lembah) dan kedalaman tanah berbeda (5 cm, 10 cm, dan 20 cm) di Taman Sejati, Kota Samarinda. Pengukuran suhu dan kelembapan tanah dilakukan pada tiga waktu (pagi hari pukul 07.00-08.00 WITA, siang hari pukul 12.00-13.00 WITA, dan sore hari pukul 17.00-18.00 WITA) selama 30 hari dengan menggunakan alat Environment meter merk Krisbow KW06-291. Suhu tanah rataan pada kedalaman 5 cm, 10 cm, dan 20 cm yang terukur di posisi puncak berkisar 27,8-30,0°C, di posisi lereng berkisar 27,6-30,4°C, dan di posisi lembah berkisar 28,6-31,4°C. Sedangkan kelembapan tanah rataan pada kedalaman 5 cm, 10 cm, dan 20 cm di puncak, lereng, dan lembah masing-masing berkisar 72,8-90,0%, 64,9-89,7%, dan 67,0-88,7%. Perbedaan karakteristik suhu dan kelembapan tanah dipengaruhi oleh posisi topografi dan kedalaman tanah. Informasi karakteristik suhu dan kelembapan tanah bermanfaat untuk pengelolaan vegetasi dan tanah, terutama dalam pemilihan jenis-jenis tanaman yang sesuai pada topografi berbeda di taman kota

    ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN SEKTOR PERTANIAN DATARAN TINGGI SUMATERA UTARA

    Full text link
    The agricultural sector in the highlands of North Sumatra is the main sector of economic support for the people in the area. Although some sub-sectors have not shown significant improvement in the economy. For this reason, researchers are interested in analyzing each basic or superior sub-sector, so that policies can be taken to solve existing problems. The purpose of this study was to analyze the superior commodities of the upland agricultural sector in North Sumatra. The data used in the secondary data is obtained from the Central Statistics Agency (BPS) in 2019 covering the food crop sub-sector, the vegetable and fruit horticulture sub-sector, the livestock sub-sector, the plantation sub-sector. To answer the research questions, LQ analysis is used to determine superior commodities. The results showed that the food crop sub-sector in the highlands was a superior commodity with LQ = 1.62. The vegetable and fruit horticultural sub-sector is included in the basic or superior category with each value (1.13), (1.80). The plantation sub-sector has the greatest LQ value with an LQ value of 2.90. So it can be concluded that upland agricultural commodities in North Sumatra are generally the base agricultural sector.

    PEMANFAATAN TANAMAN REFUGIA MENGENDALIKAN HAMA PADI (Oryza nivara L) DI SOPORARU TAPANULI UTARA

    Full text link
    The refugia plant is one of the flowers that can be used as a shelter for natural enemies and as a feed sources for insects.  The purpose of this study was to compare the use of refugia and without refugia plants in controlling environmentally friendly red rice pests in Soporaru Hamlet, Sigotom JuluVilalge, Pangaribuan District, North of Tapanuli Regency, North of Sumatra Province. This study uses a purposive sampling method with 3 types of traps, namely: yellow traps, fall traps and net traps. The samples was identified in the Plant Disease Laboratory, Faculty of Agriculture, University of North Sumatra in July 2020  until February 2021.  The results showed that 8 orders of refugia were caught on land using refugia, 23 families, and 1,952 individuals, while on land without refugia there were 8 orders, 22 families and 1,807 individuals.  On land using refugia (r) compared to land without refugia (k) it is known that the Species Richness Index (R) (Rr=2.9 and Rk=2.8), Diversity Index (H) (Hr=2.67 and Hk=  2.19), and Evenness Index (E) (Er=0.85 and Ek=0.71).  Function status identified on land using refugia and without refugia as many as 5 species, namely herbivores, pollinators, predators, parasitoids and scavengers. 

    333

    full texts

    355

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    AGRIFOR
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇