JPMI (Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia)
Not a member yet
187 research outputs found
Sort by
Pengembangan Pembelajaran Scientific Berbasis Multirepresentasi Untuk Menunjang Pembelajaran Matematika dalam Kurikulum 2013
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pembelajaran matematika dengan pendekatan scientific berbasis multirepresentasi dalam kurikulum 2013. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan modul yang menunjang pembelajaran matematika dengan pendekatan scientific dalam kurikulum 2013 dan menjelaskan keterpakaian modul yang dikembangkan untuk menunjang pembelajaran matematika dengan pendekatan scientific dalam kurikulum 2013, dan melihat keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam menerapkan modul scientific berbasis multirepresentasi di SMP. Adapun target yang dicapai melalui penelitian ini adalah terbitnya sebuah karya ilmiah yang dapat memberi wawasan dan pengetahuan bagi pembaca melalui publikasi ilmiah dalam jurnal ber-ISSN dan terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan model pengembangan 4D tanpa tahap Dissemination. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VII SMP di Kota Singkawang. Dari populasi yang ada dipilih dua SMP di Kota Singkawang yang menjadi sampel penelitian melalui teknik random sampling. Satu kelas VII yang berada di kedua SMP tersebut diberikan pembelajaran dengan pendekatan scientific berbasis multirepresentasi. Data penelitian diperoleh melalui teknik tes dan non tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan pembelajaran scientific berbasis multirepresentasi dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, modul scientific berbasis multirepresentasi mendapatkan respon yang sangat baik oleh siswa dan memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa, serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan modul scientific berbasis multirepresentasi terlaksana dengan sangat baik di kelas VII SMP
THE ANALYSIS OF MATHEMATICAL CREATIVE THINKING SKILLS AND SELF-EFFICACY OG HIGH STUDENTS BUILT THROUGH IMPLEMENTATION OF PROBLEM BASED LEARNING AND DISCOVERY LEARNING
This research implements Problem Based Learning and Discovery Learning model to analysis the increase of mathematical creative thinking skills, mistakes in the process of mathematical creative thinking, and self-efficacy of high school students in Tasikmalaya. The research method used is descriptive, data collection techniques through creative thinking ability tests and questionnaires mathematics self-efficacy. The instruments were previously assessed by experts in mathematics education. Based on the data analysis, it is concluded that the mathematical creative thinking abilities of students through Problem Based Learning is increasing compared to the mathematical creative thinking abilities of students through Discovery Learning. Mistakes students of mathematical creative thinking processes in Problem Based Learning, generally on flexibility and originality indicators. While at Discovery Learning, mistakes students of mathematical creative thinking processes is generally on sensitivity, flexibility and originality indicators. Flexibility is solving the problem with a variety of different ways, but the result is the same, and originality is to solve the problem in its own way does not use a standard formula. Sensitivity is the ability to detect problems. Self-efficacy of students in Problem Based Learning and Discovery Learning are both at high qualifications
EFFORTS TO IMPROVE STUDENT’S SELF CONFIDENCE USING COLLABORATIVE LEARNING MODEL
One way to improve students' self-confidence is to implement a collaborative learning model. Improving students' self-confidence using collaborative learning models can be done by conducting classroom action research. The subject of this class action research is the students of class X MIPA 4 SMA Negeri 2 Ngaglik, Sleman, Yogyakarta School Year 2015/2016 consisting of thirty two students. This study consists of two cycles. Technique Data collection used is test and non test. The instrument of this study is the test of student achievement and student confidence questionnaire. Data analysis techniques consisted of the conversion of qualitative data to quantitative and student mastery calculation. The average of student achievement before treatment is 40.3125 with the complete proportion of students is 3.125% and after treatment is 87.9167 with proportion of student which is complete is 100%. The average student self-confidence before treatment was 96.46875 with moderate category and after treatment was 109.2188 with high category. The results showed that collaborative learning model can improve student's self-confidence
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA KELAS VI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATERI JAJARGENJANG
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model pembelajaran kontekstual dalam rangka meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Asoka Singkawang Selatan. Bentuk penelitian yang digunakan Pre-Experimental Design dengan One Group Pretest-Postest Design. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VII. Sampel penelitian yang diambil menggunakan Sampling jenuh maka didapat kelas VII yang berjumlah 20 siswa sebagai kelas eksperimen. Untuk mendapatkan hasil penelitian digunakan tes kemampuan pemecahan masalah, dan lembar angket. Hasil penelitian ini menunjukkan model pembelajaran kontekstual telah dilaksanakan dengan memperoleh nilai rata-rata 65,95 terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui model pembelajaran kontekstual pada materi jajargenjang sebesar 0,43 yang berkriteria sedang. Ketuntasan siswa diperoleh sebesar 75% dengan jumlah siswa 20 orang, dan respon siswa menunjukkan kategori sangat baik dengan persentase 93,84%. Dengan demikian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis melalui model pembelajaran kontekstual pada materi jajargenjang.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE COOPERATION IN EDUCATION (CO-OP CO-OP) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA PADA MATERI KUBUS DAN BALOK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Kooperatif tipe Co-Op Co-Op terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, aktivitas siswa, dan untuk melihat keterlaksanaan model pembelajaran Kooperatif tipe Co-Op Co-Op pada materi kubus dan balok kelas VIII SMP Negeri 01 Selakau. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen dan menggunakan desain Pre-Eksperimental dengan bentuk Posttest-Only Control Design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kelas VIII SMP Negeri 01 Selakau yang terdiri dari lima kelas yang berjumlah 186 siswa. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling. Adapun sampelnya terdiri dari dua kelas yaitu kelas VIIID sebagai kelas eksperimen sebanyak 35 orang siswa dan kelas VIIIE sebagai kelas kontrol sebanyak 35 orang siswa. Hasil uji coba soal diperoleh nilai tingkat reliabilitas sebesar 0,88 dengan jumlah 28 siswa dapat diinterpretasikan bahwa soal tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa mempunyai reliabilitas sangat tinggi dan layak digunakan. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Kooperatif tipe Co-Op Co-Op terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menggunakan perhitungan Uji-t di mana hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh model pembelajaran Kooperatif tipe Co-Op Co-Op terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sebesar 0,91 dengan kriteria kuat. Analisis lembar observasi aktivitas belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa, yang mana pada pertemuan pertama diperoleh persentase sebesar 87,15% dan pertemuan kedua sebesar 89,11% dengan kriteria sangat aktif. Analisis lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran Kooperatif tipe Co-Op Co-Op menggunakan perhitungan persentase frekuensi keterlaksanaan diperoleh persentasenya sebesar 81,91% kriteria sangat baik
Pengaruh Model Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) Terhadap Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Pada Materi Lingkaran Kelas VIII
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) terhadap kemampuan penalaran matematis siswa pada materi lingkaran kelas VIII. Penelitian yang digunakan true experiment design dengan desain pretest-posttest control group design. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII di SMP Negeri 04 Singkawang. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan terpilih kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dan VIII D sebagai kelas kontrol. Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumus N-gain dan uji-t (independen) untuk mengetahui perbedaan peningkatan, Effect Size untuk mengetahui pengaruh, persentase aktivitas siswa dan nilai motivasi belajar siswa untuk mengetahui aktivitas siswa dan motivasi belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan (1) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa setelah diberikan model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) yang dibuktikan dengan nilai N-gain 0,51 kategori sedang pada kelas eksprimen dan 0,25 kategori rendah pada kelas kontrol serta uji-t (independen) diperoleh nilai thitung = 5,67 > ttabel = 2,00, (2) terdapat pengaruh model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) terhadap kemampuan penalaran matematis siswa yang dibuktikan perolehan nilai Effect Size sebesar 1,76 dengan kategori tinggi, (3) terdapat pengaruh model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) terhadap aktivitas siswa yang dibuktikan dengan perolehan persentase aktivitas 67,4% dengan kategori aktif, (4) terdapat pengaruh model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) terhadap motivasi siswa yang dibuktikan dengan nilai rata-rata motivasi belajar siswa keseluruhan sebesar 44,76 dengan kategori tinggi
Integrasi Etnomatematika Dalam Kurikulum Matematika Sekolah
Etnomatematika merupakan matematika yang diterapkan oleh kelompok budaya tertentu. Itu berarti etnomatematika bukan sekedar bicara tentang etnis atau suku. Karena pengajaran matematika di sekolah dan matematika yang ditemukan anak dalam kehidupan sehari-hari sangat berbeda, maka pembelajaran matematika sangat perlu memberikan muatan/menjembatani antara matematika dalam dunia sehari-hari yang berbasis pada budaya lokal dengan matematika sekolah. Melihat kurikulum 2013 yang menanamkan pemikiran ilmiah dan pendidikan karakter, menjadi rasional untuk mengintegrasikan etnomatematika dan pembelajaran matematika. Tulisan ini membahas kemungkinan pengintegrasian etnomatematika ke dalam kurikulum matematika dan model pembelajaran yang mendukung pembelajarannya
Pembelajaran Model SAVI Berpendekatan Kontekstual Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa
Kemampun Pemecahan masalah siswa menjadi tuntutan tertinggi dalam dunia pendidikan termasuk pembelajaran matematika pada semua jenjang pendidikan, siswa yang yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah dengan baik akan mampu berhadapan dengan masalah-masalah nonrutin dan mampu menyusun langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah tersebut. Usaha peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dibentuk dari berbagai macam cara termasuk kreatifitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran dikelas dengan baik melalui penggunaan model dan pendekatan pada kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketuntasan kemampuan pemecahan masalah siswa menggunakan pembelajaran model SAVI berpendekatan kontekstual; kelas dengan pembelajaran model SAVI dan kelas dengan pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi-experimental) yang didesain dalam bentuk non-equivalent (pre-test and post-test) control-group design. Penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan menggunakan model SAVI berpendekatan kontekstual tuntas baik individual maupun klasikal, kemampuan pemecahan masalah siswa pada kelas yang diajarkan model SAVI berpendekatan kontekstual lebih baik dari siswa yang diajarkan SAVI lebih baik dari siswa dengan pembelajaran konvensional