JPMI (Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia)
Not a member yet
187 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA PADA MATERI OPERASI BILANGAN PECAHAN
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dalam rangka meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Jawai Selatan. Jenis penelitian ini digunakan adalah kuantitatif, bentuk penelitian yang digunakan Pre-Experimental Design dengan One Group Pretest-Postest Design. Populasi penelitian adalah semua kelas VII yang terdiri dari 5 kelas. Sampel penelitian yang diambil menggunakan Simple Random Sampling maka di dapat kelas VII C dengan jumlah siswa 29 siswa sebagai kelas eksperimen. Pengambilan data menggunakan instrumen berupa tes uraian yang disesuaikan dengan karakteristik soal pemahaman konsep dan telah diuji menggunakan validasi isi dan realibilitas, lembar observasi, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Hasil perhitungan aktivitas dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT menunjukkan sebesar 88,59% dengan kriteria baik sekali. Hasil perhitungan angket respon siswa untuk pernyataan positif yang memilih Sangat Setuju dan Setuju sebesar 84,83%, sedangkan yang memilih Ragu-Ragu, Tidak Setuju dan Sangat Tidak Setuju sebesar 15,17%. Untuk pernyataan negatif yang memilih Sangat Tidak Setuju) dan Tidak Setuju sebesar 80,00%, sedangkan yang memilih Ragu-Ragu, Setuju, dan Sangat Setuju sebesar 20,00%. Jadi secara keseluruhan siswa memberikan respon yang positif terhadap model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan kriteria sangat baik.
Pengaruh Model Pembelajaran Snowball Throwing Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran snowball throwing terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa. Jenis penelitian ini adalah True Eksperimental dengan desain penelitian Posttest Only Control Desain. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Singkawang. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan komunikasi matematis siswa, angket motivasi, lembar observasi aktivitas. Teknik analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut: 1) Untuk menjawab sub masalah 1 menggunakan uji t independen; 2) Untuk menjawab sub masalah 2 menggunakan rumus effect size; 3) Untuk menjawab sub masalah 3 dianalisis berdasarkan skala likert; 4) Untuk menjawab sub masalah 4 dihitung berdasarkan rumus persentase aktivitas. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa: 1) Terdapat perbedaan kemampuan komunikasi matematis siswa antara yang menggunakan model pembelajaran snowball throwing dengan yang tidak menggunakan model pembelajaran snowball throwing dengan nilai thitung 7,9 dan ttabel 2,009 yaitu 7,9 > 2,0009; 2) Terdapat pengaruh model pembelajaran snowball throwing terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa, dengan effect size sebesar 1,83 yang tergolong tinggi. 3) Terdapat pengaruh model pembelajaran snowball throwing terhadap motivasi siswa, dengan rata – rata motivasi belajar siswa yaitu 79,90 kategori sangat baik; 4) Terdapat pengaruh model pembelajaran snowball throwing terhadap aktivitas siswa, persentase aktivitas siswa untuk pada dua pertemuan adalah 63,98% kategori tinggi
Kemampuan Literasi Matematis Space And Shape Dan Kemandirian Siswa SMA Pada Discovery Learning Berpendekatan RME-PISA
Rendahnya kemampuan literasi matematis siswa di Indonesia mengakibatkan peringkat Indonesia pada tes PISA rendah. Hal ini juga diakibatkan karena kurangnya kemandirian siswa dalam belajar di kelas, pembelajaran yang berpusat pada guru sehingga siswa pasif dan hanya menerima informasi dari guru membuat siswa mudah lupa materi yang diajarkan terutama materi bangun ruang yang masih sangat abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi apakah kemampuan literasi matematis dan kemandirian siswa yang diajar dengan model Discovery Learning berpendekatan RME –PISA tuntas secara klasikal dan lebih baik daripada kemampuan literasi matematis dan kemandirian siswa yang diajar menggunakan model RME dan lebih baik daripada siswa yang diajar secara ekspositori. Penelitian ini termasuk penelitian semu yang menggunakan desain pretest-posttest control group. Data kemampuan literasi matematis dikumpulkan melalui tes kemampuan literasi matematis pada materi jarak dalam ruang dimensi tiga dengan soal-soal setara tes PISA, sedang data kemandirian siswa dikumpulkan dari hasil observasi selama proses pembelajaran. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi matematis dan kemandirian siswa yang diajar dengan model Discovery Learning berpendekatan RME –PISA tuntas secara klasikal dan lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model RME, lebih baik daripada siswa yang diajar secara ekspositori
MODEL DISCOVERY LEARNING BERBANTUAN GEOGEBRA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
Kualitas Pendidikan di daerah tertinggal tidak dapat disamakan dengan pendidikan di daerah maju. Rendahnya kualitas pendidikan di Daerah tertinggal dapat disebabkan karena fasilitas pendidikan yang jauh lebih minim dari pada daerah maju, salah satunya adalah minimnya media pembelajaran. Rendahnya kualitas pembelajaran di sekolah menengah membuat kualitas input ke perguruan tinggi daerah setempat juga ikut rendah sehingga mahasiswa perlu mengejar keteritinggalan pengetahuan yang sudah terlewati. Peran pengajar dalam menghadapi masalah ini dapat di lakukan melalui desain model pembelajaran berbasis masalah berbantuan media software untuk mengefektifkan pembelajaran, salah satunya software geogebra. Hasil penelitian dalam menerapkan model Discovery Learning berbantuan Geogebra menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan pemecahan masalah setelah terjadi proses pembelajaran, terjadinya ketuntasan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan pemecahan masalah mahasiswa yang diajarkan dengan model Discovery Learning berbantuan Geogebra lebih baik dari mahasiswa yang diajarkan dengan model konvensional
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MEANS-ENDS ANALYSIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dalam meningkatkan kemapuan pemecahan masalah matematis siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan bentuk penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan one group pretest posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah sema siswa kelas VIII SMP N 11 Singkawang. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ; (1) terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa berdasarkan uji gain dan uji t, dengan perhitungan uji gain yang berada dalam kategori sedang dan perrhitungan uji t dimana nilai t hitung > t tabel; (2) Respon siswa terhadap model pembelajaran means ends analysis dikategorikan baik; (3) aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran, siswa terlihat aktif mempelajari materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran means ends analysis dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis sisw
MATHEMATICAL DIFFICULTIES LEARNERS IN SOLVING CREATIVE THINKING IN THE GEOMETRY ABILITY
The purpose of this study to identify the Difficulties and disadvantages experience by learners in terms of the process of settlement problems of mathematical creative thinking abilities part of indicators. The research instrument used was a matter of mathematics creative thinking ability test and interview guidelines Subject in this study in class VIII-D Junior High School. Based on the research results, Difficulties and disadvantages experienced by learners when solving test creative thinking abilities mathematics include, most learners do not express a variety of ideas, ideas or plans of settlement diverse, does not solve the problem in various ways, does not try to solve problems in ways own or use a non-standard way, and most learners do not develop and elaborate the answer in solving problems
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Implementasi Project Based Learning (PJBL) Berpendekatan Saintifik
Kemampuan berpikirkritismatematika siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Soe rendah. Upaya peningkatannya diterapkan model PjBL berpendekatan saintifik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis pada kedua kelas sampelberdasarkan kategori kemampuan awal yaitu kategori atas, menengahdan bawah.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatifmodelquasi eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas yang diajarkan model PjBL berpendekatan saintifik lebih baik dari siswa yang diajarkan tanpa model tersebut pada ketiga kategori yaitu kategori atas, menengah dan bawah. Perbedaan yang paling tinggi terdapat pada kategori bawah sehingga model PjBL berpendekatan saintifik paling efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis untuk siswa pada kategori kemampuan awal yang rendah.
Penggunaan Model Kooperatif Tipe CIRC Berbasis Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
Sebagian besar siswa mempunyai kemampuan berhitung (komputasi) dalam menyelesaikan soal matematika tetapi bila diberikan soal cerita mereka mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal itu. Hal tersebut terindikasi bahwa kemampuan siswa dalam memahami dan merancang model matematika masih rendah, masalah tersebut terkait dengan masalah kemampuan komunikasi matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) ketuntasan kemampuan komunikasi matematis siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC berbasis konstruktivisme, (2) perbedaan kemampuan komunikasi matematis pada kedua kelas sampel yang dipilih berdasarkan kategori kelompok kemampuan komunikasi matematis awal siswa. Penelitian ini termasuk penelitian quasi experimental dengan pendekatan kuantitatif yang didesain dalam bentuk non-equivalent (pre-test and post-test control-group design). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan menggunakan model kooperatif tipe CIRC berbasis konstruktivisme mengalami ketuntasan baik individual maupun klasikal, kemampuan komunikasi matematis siswa pada kelas yang diajarkan menggunakan model kooperatif tipe CIRC berbasis konstruktivisme lebih baik dari siswa yang diajarkan tanpa menggunakan model tersebut berdasarkan kategori kemampuan komunikasi matematis awal siswa
Pengaruh Model Role Playing Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Pada Materi Fungsi Komposisi Kelas XI Sma Negeri 6 Singkawang
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh model Role Playing terhadap kemampuan komunikasimatematis siswa. 2) mengetahui aktivitas belajar siswa terhadap model Role Playing. 3) mengetahui motivasi belajarsiswa terhadap model Role Playing. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 6 Singkawang.Adapun populasi dalampenelitian ini yaitu seluruh kelas XI yang terdiri dari XI IPA, XI IPS 1 dan XI IPS 2.Sampel dalam penelitian ini yaitukelas XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 1 sebagai kelas kontrol. Penelitian ini menggunakan metodeeksperimen dengan desain only control group design. Soal yang diberikan berupa essay terdiri dari 3 soal yang memuatindikator kemampuan komunikasi matematis siswa yang telah diuji cobakan terlebih dahulu dengan validitas, reliabilitas,daya pembeda dan tingkat kesukaran.Teknik analisis data yang digunakan untuk melihat pengaruh model Role Playingterhadap kemampuan komunikasi menggunakan rumus Effect Size, untuk mengetahui aktivitas belajar siswa denganmenghitung persentase indikator aktivitas belajar siswa dan untuk mengetahui motivasi belajar siswa menggunakanrumus rata-rata indikator motivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pengaruh model Role Playing terhadapkemampuan komunikasi matematis siswa didapatkan hasil yaitu 0,29% dengan kategori sedang. 2) aktivitas belajarsiswa dengan diterapkan model Role Playing mencapai 77,91% dengan kategori aktivitas belajar siswa tinggi. 3)motivasi belajar siswa diperoleh 3,98 dengan kategori motivasi belajar siswa tinggi
Penerapan Engaged Learning Strategy Dalam Menumbuhkembangkan Tanggung Jawab Belajar dan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Sekolah Menengah Atas
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tanggungjawab belajar dan kemampuan koneksi matematis siswa pada materi Fungsi Logaritma di kelas X IPA SMA Negeri 3 Singkawang yang menerapkan Engaged Learning Strategy. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan tanggung jawab belajar adalah sikap dan perilaku siswa yang menunjukkan kepatuhan umum dengan standar perilaku yang diharapkan serta komitmen sehubungan dengan belajar akademik siswa, yang bisa dilihat dari aspek-aspek seperti: (1) Memiliki Inisiatif, Otonomi dan Kendali Belajar (2) Berpartisipasi Aktif dalam Pembelajaran, (3) Orientasi Positif terhadap Sekolah, (4) Mampu Memanajemen Sumber Belajar. Sedangkan kemampuan koneksi matematis adalah kemampuan siswa menemukan dan menggunakan keterkaitan antar konsep dalam matematika dan kemampuan siswa menemukan dan menggunakan keterkaitan konsep matematika dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Experiment (Eksperimen Semu) dengan rancangan one-group pre-test post-test design, dimana kemampuan koneksi matematis 37 siswa dalam pembelajaran diukur sebelum dan setelah pembelajaran yang menerapkan Engaged Learning Strategy. Dalam penelitian ini, tanggung jawab belajar diukur dengan menggunakan kuesioner penilaian diri sedangkan kemampuan koneksi matematis siswa diukur dengan menggunakan tes uraian. Hasil penilaian diri kemudian diolah dengan skala Likert yang dikonversi menjadi data kuantitatif sementara hasil tes uraian diolah dengan mengacu pada pedoman penskoran. Hasil analisis data menunjukkan secara umum tanggung jawab belajar siswa meningkat sebesar 6 % dimana peningkatan terbesar adalah indikator Berpartisipasi Aktif dalam pembelajaran. Hal ini terjadi karena masalah nyata yang digunakan dalam pembelajaran sehingga dapat memotivasi siswa untuk menginvestasikan minatnya dalam belajar. Sedangkan untuk kemampuan koneksi matematis dibatasi dalam penelitian ini hanya untuk koneksi dengan kehidupan sehari-hari dan antar konsep matematika. Secara keseluruhan kemampuan koneksi matematis mengalami peningkatan skor rata-rata sebesar 1,5%