Majalah Obat Tradisional
Not a member yet
427 research outputs found
Sort by
ISOLATION AND IDENTIFICATION OF FREE RADICALS SCAVENGER FROM Daucus carota L LEAVES
The presence of free radicals produced inside the cells is thought to cause a range of diseases such as degenerative diseases. Antioxidant properties of carrot root (Daucus carota L.) have been reported elsewhere to inhibit the formation of these free radicals, but the compounds responsible for antioxidant activity inside its leaves have not yet determined. In Indonesia, Daucus carota L. leaves are regarded as waste product after harvesting the root. This study was conducted to isolate and identify the compound having antioxidant activity from the leaves of D.carota. n-Hexane, ethyl acetate, and methanol extracts were examined for free radical scavenger activity by using DPPH method. The n-hexane extract showing free radical scavenger activity was solid-solvent partitioned, fractionated using vacuum liquid chromatography and tested for free radical scavenger activities. The active compound was isolated by using preparative thin layer chromatography and its purity was determined by TLC with three mobile phase systems and two dimensional TLC. Based on spectroscopy UV-Vis, IR as well as 1H-NMR (CDC13) data, the active compound was suggested to be xanthophyll derivate, lutein. The compound at concentration of 0.616, 1.025, and 2.05 ppm had antioxidant activities of 0.94 ± 0.05; 18.53 ± 0.15; and 49.07 ± 0.86, respectively
EFEK ANTIANGIOGENIK EKSTRAK METANOL AKAR PASAK BUMI (Eurycoma longifolia, Jack) PADA MEMBRAN KORIO ALANTOIS (CAM) EMBRIO AYAM YANG TERINDUKSI bFGF
Angiogenesis is a neovascularization process which its function is to supply nutrient and oxygen for cell survival. Pasak bumi is one of the Indonesian original plants having anti cancer activity. Extract of methanol, buthanol, kloroform, and water akar pasak bumi was proved to have cytotoxic effect on cancer cell culture. This research aim to know activity of antiangiogenic extract of metanol akar pasak bumi at chorioallantoic membrane of chicken embryo. Antiangiogenic activity test conducted by divide 8-9 days old egg embrio into 8 groups. Group I as paper disc control, group II as bFGF control, group III as bFGF control + DMSO 0.8% solvent, group IV, V, VI, VII, and VIII as groups of treatment. Each groups of treatment were gave by bFGF 1ng/µL extract of metanol akar pasak bumi respectively with concentration 20, 40, 60, 80 and 100 µg/mL concentration. After 3 days incubation, then the chorioallantoic membrane macroscopic and microcospically analized. The antiangiogenic activity extract of metanol akar pasak bumi at chorioallantoic membrane bFGF induce at used concentration, that is start from 40 µg/mL concentration. The increases of the concentration also increase the prohibition activity to angiogenesis. Angiogenesis merupakan peristiwa pertumbuhan pembuluh darah baru, yang memungkinkan sel kanker mendapatkan suplai nutrisi dan oksigen, sehingga dapat terus bertahan hidup. Pasak bumi (Eurycoma longifolia, Jack) merupakan salah satu tanaman asli Indonesia yang memiliki potensi anti kanker. Ekstrak metanol, butanol, kloroform, dan air dari akar pasak bumi terbukti memiliki efek sitotoksik terhadap beberapa sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antiangiogenik ekstrak metanol akar pasak bumi pada CAM embrio ayam. Uji penghambatan angiogenesis dilakukan dengan membagi telur berembrio umur 8-9 hari dalam 8 kelompok perlakuan. Kelompok I sebagai kontrol paper disc, kelompok II sebagai kontrol bFGF, kelompok III sebagai kontrol bFGF+ pelarut DMSO 0,8%, kelompok IV, V, VI, VII dan VIII sebagai kelompok uji penghambatan angiogenesis, pada paper disc diberi bFGF 1 ng/μL dan ekstrak metanol akar pasak bumi berturut-turut dengan dosis 20, 40, 60, 80 dan 100 μg/mL. Setelah diinkubasi selama 3 hari (umur embrio12 hari), telur dibuka dan isi telur dikeluarkan, kemudian CAM yang melekat pada cangkang diamati secara makroskopik dan mikroskopik. Ekstrak metanol akar pasak bumi memberikan aktivitas antiangiogenik mulai kadar 40 μg/mL. Peningkatan konsentrasi ekstrak metanol akar pasak bumi meningkatkan aktivitas penghambatan angiogenesis
KANDUNGAN ASAM ASKORBAT PADA KULTUR KALUS ROSELA (hibiscus sabdariffa L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI SUKROSA DALAM MEDIA MS
Ascorbic acid is an antioxidant which is found in rosella flower. Its production through conventional method needs long time and wide field, so an alternative method through development of callus invitro is conducted. Sucrose is a main carbon source in MS medium and this sugar plays role as precursor for the formation of ascorbic acid. This study was conducted to determine the effect of sucrose concentration on callus formation and production of ascorbic acid. Sucrose was added to the media at the concentration of 20 g/L, 30 g/L, 40 g/L and 50 g/L. The culture was incubated for 42 days with twice subculture every 10 days. Analysis of ascorbic acid was perfomed using iodometry. The results showed that the callus was grow better in sucrose of 20 g/L while the ascorbic acid production was better in sucrose 50 g/L. Asam askorbat merupakan salah satu antioksidan yang dijumpai dalam kelopak bunga rosela. Produksinya secara konvensional memerlukan waktu dn lahan yang luas, sehingga diperlukan metode alternatif menggunakan pembentukan kalus secara in vitro. Sukrosa berperan sebagai sumber karbon utama dalam medium MS, slain itu dapat berperan sebagai prazat pembentukan asam askorbat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan sukrosa dalam pembentukan kalus dan produksi asam askorbat. Perlakuan yang diberikan adalah beberapa konsentrasi sukrosa yaitu 20 g/L, 30 g/L, 40 g/L dan 50 g/L dalam medium kultur. Kultur diinkubasi selama 42 hari dengan subkultur 2 kali setiap 10 hari sekali. Analisis kandungan asam askorbat dilakukan dengan metode titrasi iodometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus terbentuk paling cepat pada penambahan sukrosa 20 g/L sedangkan kandungan asam askorbat tertinggi diperoleh pada kalus dengan penambahan sukrosa 50 g/ L
INDEK GLIKEMIK UWI, GADUNG DAN TALAS YANG DIBERIKAN PADA TIKUS
The aim of the study was the determination of glycaemic index (GI) of local tubers such as Uwi (Dioscorea alata), Gadung (Dioscorea hispida), dan Talas (Colocasia esculenta). Tubers were prepared as raw flour which were administered orally to the rats. Blood were taken at 0; 0,5; 1 and 2 hour after tubers administration. The dose was 2,5 kg/kg body weight (BW) whereas glucose was administered as a standart treatment. Area Under Curve (AUC) was calculated after plotting the graph of time versus glucose levels. Glucose levels were determined using GOD-PAP kit. GI values were calculated as a ratio of AUC (0-2hr) of tubers to glucose. Porang was moderate while the other tubers were low GI.Indonesia kaya akan umbi lokal yang semakin hari semakin dilupakan oleh generasi sekarang sebagai sumber bahan pangan yang sehat. Seiring dengan makin meningkatnya penyakit degeneratif terkait tingginya asupan glukosa, perlu digali kembali kekayaan lokal umbi-umbian dan pembuktian kandungan karbohidrat sehat di dalamnya yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indek glikemik (IG) umbi-umbian yang diberikan secara oral pada tikus. Umbi yang diteliti antara lain, Uwi (Dioscorea alata), Gadung (Dioscorea hispida) dan Talas (Colocasia esculenta). Tikus dikelompokkan menjadi 9 kelompok masing-masing terdiri 4 ekor. Umbi diberikan dalam bentuk serbuk yang disuspensikan ke dalam Na CMC 0,1% dengan dosis 2,5 g/kg berat badan (BB), kontrol positif berupa glukosa pemberian oral dosis 2,5 g/kg BB. Dilakukan pengambilan sampel darah hewan uji pada jam ke 0 (sebelum pemberian senyawa uji atau kontrol), 0,5; 1 dan jam ke-2 setelah pemberian senyawa uji. Serum darah selanjutnya ditetapkan kadar glukosanya menggunakan GOD-PAP kit. Data berupa kadar glukosa darah hewan uji versus waktu dianalisis menjadi Area Under Curve (AUC) kadar glukosa versus waktu (0-2 jam). Perhitungan IG dilakukan dengan membandingkan AUC (0-2jam) senyawa uji terhadap AUC (0-2jam) glukosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga umbi yang diteliti memiliki nilai IG rendah (14-22). Umbi lokal dapat dikembangkan sebagai sumber karbohidrat yang sehat
OPTIMASI KOMPOSISI SUKROSA DAN ASPARTAM SEBAGAI BAHAN PEMANIS PADA FORMULA TABLET-EFFERVESCENT EKSTRAK ETANOLIK BUAH MENGKUDU
Mengkudu (Morinda citrifolia L.) has been widely used as traditional medicine. Its unpleasant smell and flavor urge a more acceptable dosage formulation. The aim of this research was to optimize the composition of sucrose and aspartame as sweetening agent in effervescent tablet formulation by using Simplex Lattice Design method. Effervescent tablets were produced by fusion method in five (5) different formulas, i.e. formula I (100% sucrose), II (suucrose-aspartame=75%:25%), III (sucrose-aspartame=50%:50%), IV (sucrose-aspartame=25%:75) dan V (100% aspartame). Effervescent granules were evaluated for mass density, flowing time, tapping index and compactibility characteristics. The effervescent tablets were tested for weight uniformity, hardness, friability, and disintegration time characteristics as well as TLC profile chromatogram. Data was analyzed by one way ANOVA, Scheffe method and Kruskall-Wallis with significance level 95%. The tablet acceptability was tested among 30 respondents. The results showed that the different composition of sucrose-aspartame influence the physical characteristics of granules and tablets effervescent produced. More sucrose content will increase the hardness, lower the friability but prolong the disintegration time. 70% respondents chose formula III as the best formula. Evaluation of SLD data recommended sucrose and aspartame in 42:58 proportion as the most optimum formula.Mengkudu (Morinda citrifolia L.) telah dipergunakan secara luas dalam pengobatan tradisional. Bentuk sediaan yang ada saat ini belum mampu menutupi rasa dan bau tidak enak buah mengkudu, sehingga perlu diformulasikan sediaan yang lebih akseptabel. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi formula ekstrak etanolik 40% buah mengkudu menggunakan variasi kadar sukrosa-aspartam dengan metode Simplex Lattice Design (SLD). Tablet effervescent ekstrak etanolik buah mengkudu dibuat menggunakan metode peleburan dalam lima (5) formula, yaitu formula I (100% sukrosa), II (sukrosa-aspartam=75%:25%), III (sukrosaaspartam=50%:50%), IV (sukrosa-aspartam=25%:75) dan V (100% aspartam). Granul effervescent dievaluasi karakteristik densitas massa, waktu alir, indeks pengetapan dan kompaktibilitas. Tablet effervescent yang diperoleh diuji karakteristik keseragaman bobot, kekerasan tablet, kerapuhan, waktu larut tablet dan profil KLTnya. Analisis secara statistik dilakukan dengan metode analisis varian satu jalan, uji Scheffe dan Kruskall-Wallis pada taraf kepercayaan 95 %. Uji akseptabilitas tablet yang dihasilkan dilakukan terhadap 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kadar sukrosa-aspartam mempengaruhi sifat densitas massa, sifat alir dan kompaktibilitas granul yang dihasilkan. Semakin besar jumlah sukrosa di dalam tablet, tablet menjadi lebih keras, kerapuhan kecil, namun waktu larutnya lebih lama. Hasil uji akseptabilitas menunjukkan bahwa 70% responden lebih menyukai formula III dibandingkan formula yang lain. Hasil perhitungan SLD menunjukkan komposisi sukrosa dan aspartam 42:58 sebagai formula optimum
PENGARUH ENKAPSULASI EKSTRAK DAUN MURBEI (Morus alba L.) TERHADAP TEKANAN DARAH ARTERI PADA TIKUS
Rutin and quercetin are flavonoid compounds containing in the extract of mulberry (Morus alba L.) leaves have an influence on the cardiovascular system. This study aims to assessment of the blood pressure effect and cardiac puls after giving ethanolic extract of mulberry leaves. The extract was made using 95% ethanol by remaseration method. The content of rutin and quercetin in the extract were determined by using HPLC(High Performance Liquid Chromatography). The formula of the encapsulation containing extract 0.25% w/v, chitosan 0.5mg/mL and TPP (sodium tripolyphosphate) 1mg/mL. Characterization of extract encapsulated was done on the particle size, encapsulation efficiency and FTIR. Extract encapsulated was given to rats orally, subsequently arterial blood pressure and heart rate were measured using Coda Non-Invasive Blood Pressure System. The results showed that mulberry extract contains rutin (0.879±0.138) mg/g and quercetin (4.427±0.065) mg/g. Ratio of chitosan-TPP with 0.5:1 forms particle size were 25.11-45.2 nm, encapsulation efficiency (76.14±2.29)%. Mulberry leaves extract and encapsulated extract could decrease arterial blood pressure. Rutin dan kuersetin merupakan senyawa golongan flavonoid yang terkandung dalam ekstrak daun murbei (Morus alba L.) dan mempunyai pengaruh dalam sistem kardiovaskuler. Pada penelitian ini diteliti pengaruh enkapsulasi ekstrak daun murbei terhadap tekanan darah arteri,. Ekstrak dibuat secara remaserasi dengan menggunakan penyari etanol 95%. Kandungan rutin dan kuersetin didalam ekstrak ditentukan dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Enkapsulasi dilakukan terhadap 0,25% ekstrak, menggunakan kitosan 0,5mg/mL dan TPP 1mg/mL. Karakterisasi dilakukan terhadap ukuran partikel, efisiensi enkapsulasi dan Spektroskopi Infra Merah-Fourier Transform. Ekstrak dengan dosis 1g/kg berat badan dan ekstrak terenkapsulasi dengan dosis 1,313g/kg berat badan kemudian diberikan secara per oral pada tikus normotensif maupun tikus hipertensif, selanjutnya diukur tekanan darah arteri dan frekuensi denyut jantung dengan menggunakan Coda Non-Invasive Blood Pressure System. Hasil menunjukkan bahwa kadar rutin dan kuersetin dalam ekstrak adalah (0,87±0,138) mg/g dan (4,427±0,065) mg/g. Kitosan-TPP dengan perbandingan 0,5:1 membentuk partikel dengan ukuran antara 25,11–45,21nm dan efisiensi enkapsulasi (76,14±2,29) % pada enkapsulasi ekstrak daun murbei. Ekstrak daun murbei dan ekstrak daun murbei terenkapsulasi dapat menurunkan tekanan darah arteri
EFEK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DAN DAUN JAMBU METE (Anacardium occidentale Linn.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PADA KULIT MENCIT (Mus musculus Linn.)
The aim of this research is to assess the efficacy of guava and cashew leaves as an alternative medicine for the wounds treatment. This study used a completely randomized design (CRD), which is divided into 5 treatments with 4 replicates, K0 as a control using B®, K1 using guava leaves with water solvent, K2 using guava leaves with alcohol solvent, K3 uses cashew leaves with solvent water, K4 using cashew leaves with alcohol solvent. The method used is to squash each treatment K1, K2, K3 and K4 as much as 100mg/200ml, and store it for five days in the refrigerator. The drug paste is obtained by separating the liquid and the deposit, and then drug paste can be applied to the wounds that had been given as long as 2 on the back every morning and afternoon. The variable used is healing time, the number of leukocytes, neutrophils, lymphocytes and the ratio of N/L. The results showed that the healing time has no significant difference (P<0.05) between control and treatment that is in control for 14.00±1.63 days, guava leaves with water solvent 12.25±4.50 days, guava leaves with alcohol solvent 10.50±4.35 days, cashew leaves with water solvent 12.50±1.00 days, and cashew leaves with alcohol solvent 11.00±3.91 days. The result of stress levels also showed no significant difference (P<0.05) between the treatment and control is in control of the N/L of 1.95±0.11, guava leaves in water solvent of 1.98±0.20, guava leaves with alcohol solvent 2.30±0.09, cashew leaves with water solvent 1.84±0.30, and cashew leaves with alcohol solvent 1.95±0.20. Based on this it can be concluded that the guava and cashew leaves either with water or alcohol solvent can be used as a cure for skin wounds.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji khasiat daun jambu biji dan daun jambu mete sebagai obat alternatif untuk pengobatan luka. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dibagi menjadi 5 perlakuan dengan 4 ulangan, K0 sebagai kontrol menggunakan B®, K1 menggunakan daun jambu biji dengan pelarut air, K2 menggunakan daun jambu biji dengan pelarut alkohol, K3 menggunakan daun jambu mete dengan pelarut air, K4 menggunakan daun jambu mete dengan pelarut alkohol. Metode yang digunakan adalah dengan cara menghaluskan masing-masing perlakuan K1, K2, K3 dan K4 sebanyak 100mg/200ml, kemudian diendapkan selama lima hari di dalam lemari es. Pasta obat didapatkan dengan memisahkan antara cairan dan endapan, kemudian pasta obat dapat dioleskan pada mencit yang telah diberi luka sepanjang 2 cm pada bagian punggung setiap pagi dan sore. variabel yang digunakan adalah lama penyembuhan, jumlah leukosit, neutrofil, limfosit dan rasio N/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lama penyembuhan tidak terdapat beda nyata (P<0,05) antara kontrol dengan perlakuan yaitu pada kontrol selama 14,00±1,63 hari, daun jambu biji dengan pelarut air 12,25±4,50 hari, daun jambu biji dengan pelarut alkohol 10,50±4,35 hari, daun jambu mete dengan pelarut air 12,50±1,00 hari, dan daun jambu mete dengan pelarut alkohol 11,00±3,91 hari. Tingkat stres yang dihasilkan juga menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P<0,05) antara perlakuan dan kontrol yaitu pada kontrol N/L sebesar 1,95±0,11, daun jambu biji dengan pelarut air 1,98±0,20, daun jambu biji dengan pelarut alkohol 2,30±0,09, daun jambu mete dengan pelarut air 1,84±0,30, dan daun jambu mete dengan pelarut alkohol 1,95±0,20. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa daun jambu biji dan daun jambu mete baik dengan pelarut air maupun alkohol dapat digunakan sebagai obat penyembuh luka pada kulit.
FORMULASI TABLET HISAP CAMPURAN EKSTRAK RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dan KENCUR (Kaempferia galanga L) MENGGUNAKAN KOMBINASI BAHAN PENGISI MANITOL – MALTODEXTRIN
Mixture of temulawak and kencur is usually used to increase appetite, but the usual dosage form is less practical and unstable. It is therefore will be better to make it into lozenges, that will be more practical and acceptable. This research aims to determine the effect of filler agent manitol-maltodextrin variations to the physical characteristics of granule, tablet, and the flavor of the tablet. The extracts of temulawak and kencur were made by percolation using ethanol 70%, wet granulated, and made for three formulas of combination manitol-maltodextrin (100:0, 85:15, 70:30). Results showed that the combination of manitol-maltodextrin had affected the time of flow, physical behavior of granule and lozenges compactibility, except for appearance test. The result of flavor test showed respondents stated formula I was sour, and the formula II and III were bitter.Campuran rimpang temulawak dan kencur sering digunakan sebagai penambah nafsu makan.Namun bentuk sediaan yang selama ini digunakan kurang praktis dan tidak stabil dalam penyimpanan. Oleh karena itu perlu dibuat sediaan tablet hisap yang lebih praktis dan acceptable. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi bahan pengisi manitolmaltodextrin terhadap sifat fisik granul, sifat fisik tablet dan rasa tablet.Ekstrak temulawak dan kencur dibuat dengan metode perkolasi menggunakan etanol 70%, kemudian digranul dengan metode granulasi basah, dibuat menjaditiga formuladengan kombinasi bahan pengisi manitol-maltodekstrin (100:0, 85:15, 70:30). Hasil penelitian menunjukkan kombinasi bahan pengisi manitol-maltodextrin berpengaruh terhadap waktu alir, kompaktibilitas pada sifat fisik granul, dan sifat fisik tablet hisap, kecuali pada uji penampilan. Hasil uji tanggap rasa menunjukkan bahwa responden merasakan formula I asam, sedangkan formula II dan III menunjukkan rasa pahit
AKTIVITAS MUKOLITIK SIRUP EKSTRAK ETANOLIK BUNGA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L.) WARNA MERAH MAHKOTA TEGAK SECARA IN VITRO
Ethanolic extract of red shoe flower (Hibiscus rosa-sinensis L.) has been known to decrease mucus viscosity by in vitro. The aim of this study is to evaluate the effect of various concentration of the extract in syrup for decreasing mucus viscosity and to evaluate the extract concentration which is equal with asetilsistein syrup 2.00%. Ethanolic extract was produced by maseration and made into five different concentration of syrup formula (1.00; 1.25; 1.50; 1.75 and 2.00%). The result showed that there is not any mucolytic activity from all of the formulas by decreasing mucus viscosity and there is not any formula as effective as mucolytic activity of asetilsistein 2.00%.Ekstrak etanolik bunga kembang sepatu warna merah telah terbukti dapat menurunkan viskositas mukus secara in vitro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh varian konsentrasi ekstrak dalam menurunkan viskositas mukus dalam sirup secara in vitro dan untuk mengetahui besarnya konsentrasi ekstrak yang sebanding dengan sirup asetilsistein 2,00%. Ekstrak etanolik diperoleh dengan menggunakan metode maserasi kemudian dibuat dalam sediaan sirup dengan konsentrasi ekstrak yang bervariasi (1,00; 1,25; 1,50; 1,75 dan 2,00%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sirup dengan konsentrasi ekstrak 1,00; 1,25; 1,50; 1,75; dan 2,00% tidak menunjukkan adanya aktivitas mukolitik secara in vitro dengan menurunkan viskositas mukus usus sapi dan tidak ada yang sebanding dengan aktivitas mukolitik asetilsistein 2,00%
INFUSA DAUN PACING Costus speciosus (Koen.) J.E. SMITH SEBAGAI PENGHAMBAT JUMLAH DAN KUALITAS SPERMATOZOA PADA MENCIT JANTAN BALB/C
Costus speciosus (Koen.) J.E. Smith (Pacing) is a plant widely use as traditional contraception. The objective of this study is to evaluate the effect of pacing leaves infusion on Balb/C mice spermatogenesis and its reversibility. This study was conducted on male mice. Mice was divided into 6 groups, 6 mice each group. Pacing leaves infusion was given orally at dose 275, 550, and 1100 mg/kg body weight for 14 days. The control groups received distilled water and another group received corn oil and andriol 5.2 mg/kg body weight. At day 15, 3 mice from all of groups was euthanized and the rest of mice in all of groups was euthanized in day 28 to evaluate the reversibility of spermatogenesis. The observation of spermatogenesis was conducted on quantity and quality of spermatozoa (motility, viability, and morphology). The result showed that pacing leaves infusion at dose 275, 550, and 1100 mg/kg body weight reduced the number of spermatozoa by 16-38 % (p<0.05), but it did not change the viability and morphology of the spermatozoa. At dose 275 and 550 mg/kg body weight, pacing leaves infusion reduced the motility of spermatozoa by 36-39 % (p<0.05). The ability of pacing leaves infusion in reducing the number and motility of spermatozoa is reversible.Costus speciosus(Koen.)J.E. Smith (Pacing) merupakan tanaman yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh infusa daun Pacing terhadap spermatogenesis mencit jantan strain Balb/Cserta reversibilitas efeknya sebagai dasar dari pembuktian secara ilmiah kemampuan daun Pacing sebagai calon obat kontrasepsi khususnya pada individu jantan. Mencit dikelompokkan menjadi 6 kelompok masing-masing terdiri atas 6 ekor mencit. Infusa daun Pacing diberikan dengan variasi dosis yakni 275, 550 dan 1100 mg/kgBB, sementara itu kelompok kontrol terdiri atas kelompok pemberian akuades, kelompok pemberian minyak jagung dan kelompok Andriol dosis 5,2 mg/kgBB. Semua sediaan uji diberikan secara oral setiap hari selama 14 hari. Pada hari ke 15 hewan uji dalam semua kelompok dikorbankan masing-masing 3 ekor mencit kemudian dilakukan pembedahan, 3 ekor mencit sisanya dipelihara hingga hari ke 28 tanpa pemberian sediaan uji untuk mengetahui reversibilitas efek spermatogenesisnya. Pengamatan efek spermatogenesis dilakukan terhadap jumlah dan kualitas spermatozoa (motilitas, viabilitas dan morfologi). Data jumlah dan kualitas spermatozoa dianalisis secara statistik menggunakan uji non-parametrik Kruskal-Wallis, dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infusa daun Pacing pada dosis 275, 550 dan 1100 mg/kg BB mampu menurunkan jumlah spermatozoa sebesar 16-38 % (P<0,05), namun tidak mengubah viabilitas dan morfologi spermatozoa. Selain itu, pada dosis 275 dan 550 mg/kg BB, infusa daun Pacing mampu menurunkan motilitas spermatozoa sebesar 36-39% (P<0,05). Kemampuan infusa daun Pacing dalam menurunkan jumlah dan motilitas spermatozoa bersifat reversible setelah 14 hari kemudian