Majalah Obat Tradisional
Not a member yet
427 research outputs found
Sort by
ANALISIS FITOKIMIA EKSTRAK N-HEKSANA DAN FRAKSI DAUN Marsilea crenata Presl. DENGAN GC-MS
Estrogen deficiency causes various health problems in postmenopausal women, including osteoporosis. Phytoestrogen emerged as a potential alternative of estrogen with minimum side effects. Green clover (Marsilea crenata Presl.) is a typical plant in East Java which suspected contains estrogen-like substances. The aim of this research was to report the phytochemical properties of M. crenata using GC-MS as a preliminary study. M. crenata leaves were dried and extracted with n-hexane, then separated using vacuum column chromatography to get four fractions, after that the n-hexane extract and four fractions were identified with GC-MS. The results of GC-MS analysis showed some compounds contained in M. crenata leaves like monoterpenoid, diterpenoid, fatty acid compounds, and other unknown compounds. The results obtained in this research indicated a promising potential of M. crenata as medicinal plants, especially as antiosteoporotic agent.Defisiensi estrogen menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada wanita pascamenopause, salah satunya osteoporosis. Fitoestrogen muncul sebagai alternatif yang potensial pengganti estrogen dengan efek samping minimal. Semanggi (Marsilea crenata Presl.) merupakan tanaman khas Jawa Timur yang diduga mengandung senyawa dengan fungsi mirip estrogen (estrogen-like substances). Tujuan dari penelitian ini untuk melaporkan kandungan senyawa kimia dalam M. crenata menggunakan GC-MS sebagai studi pendahuluan. Daun M. crenata diekstraksi dengan n-heksana lalu dipisahkan menggunakan kromatografi kolom vakum, setelah itu ekstrak n-heksana dan empat fraksi yang didapatkan diidentifikasi menggunakan GC-MS. Hasil analisis GC-MS menunjukkan beberapa golongan senyawa yang terkandung dalam daun M. crenata seperti monoterpenoid, diterpenoid, senyawa asam lemak, dan senyawa lain yang belum diketahui. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan potensi menjanjikan M. crenata sebagai tanaman obat, khususnya sebagai antiosteoporosis
EFEK IMUNOMODULATOR DARI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL HERBA SAMBILOTO (Andrographis paniculata (Burm. f.) Nees) DAN RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) TERHADAP PROLIFERASI SEL LIMFOSIT MENCIT Balb/c SECARA IN VITRO
Our susceptibility to various infectious diseases can be avoided by increasing the specific immune responses either by the proliferation of lymphocytes. Immunomodulator effect of Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees) and Curcuma xanthorrhiza Roxb have been well evaluated. Empirically, the East Borneo’s tribe combined both herbs to treat jaundice disease. However, scientific evidence is still needed in their use as a drug candidate. This study explores further effect of the immunomodulator from 5 ethanol extract groups. Quantitative analysis was also completed using a densitometer to obtain andrographolide and curcumin levels of ethanol extract. Lymphocyte proliferation was tested by using MTT colorimetric method, the results was read by an ELISA reader and statistically analyzed with One-Way ANOVA test with 95 % of confidence level. The maceration yield of sambiloto ethanol extract (EES) and temulawak ethanol extract (EET) were respectively 5.78 % w / w and 3.92 % w / w. The results of quantitative analysis in 28.6 mg EES contained 11.43 % andrographolide and from the 251.8 mg EET contained 28.79 % curcumin. From the MTT test, all treatment groups were significantly different from the control group. Based on the OD values, the best combination to increase lymphocyte cell proliferation ETS was a group contained 56.25 mg of temulawak and 18.75 mg of sambiloto in 1 ml of solvent. Nonetheless, the value was not higher than the ability of ET in increasing cell proliferation.Kerentanan tubuh terhadap berbagai penyakit infeksi dapat dihindari dengan meningkatkan respon imun spesifik salah satunya dengan proliferasi sel limfosit. Efek immunomodulator telah teruji baik pada sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees) maupun temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Secara empiris, masyarakat Kalimantan Timur mengobati penyakit kuning dengan kombinasi kedua tanaman. Meskipun begitu, bukti ilmiah masih sangat diperlukan dalam pemanfaatannya sebagai obat. Penelitian ini mengeksplorasi lebih lanjut kemampuan daya imunomodulator dari lima kelompok ekstrak etanol. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan densitometer untuk mendapatkan kadar andrografolid dan kurkumin dari ekstrak etanol. Uji proliferasi limfosit menggunakan kolorimetri metode MTT dan dianalisis secara statistik dengan uji One-Way ANOVA dalam taraf kepercayaan 95 %. Hasil analisis kuantitatif dalam 28,6 mg ekstrak kental etanol sambiloto (EES) mengandung 11,43 % andrografolid dan dalam 251,8 mg ekstrak kental temulawak (EET) mengandung 28,79 % kurkumin. Uji MTT semua kelompok perlakuan berbeda signifikan dari kelompok kontrol. Berdasarkan nilai OD, kombinasi terbaik dalam peningkatan proliferasi sel limfosit ialah kelompok ETS yang mengandung 56,25 mg temulawak dan 18,75 mg sambiloto dalam 1 mL pelarut. Namun nilai tersebut ternyata tidak lebih tinggi dari kemampuan ET dalam meningkatkan proliferasi sel
EFEK EKSTRAK ETANOL GANGGANG HIJAU (Ulva lactuca L.) TERHADAP AKTIVITAS SGOT-SGPT PADA TIKUS
Damage of liver can be demonstrated by increased cellular enzyme activities. Aspartat aminotransaminase (AST) and Alanin aminotransferase (ALT) are two kinds of enzymes are the most commonly associated with liver damage. One cause of liver damage is free radicals like carbon tetrachloride. Green algae (Ulva lactuca L.) contains melatonin that is able to scavenging free radical. This study aims to determine the ability of ethanolic extract of green algae (Ulva lactuca L.) as a hepatoprotective to reduce levels of AST and ALT due to free radical compounds CCl4. This research uses 35 male rats Wistar were divided into 5 groups. Group I as normal controls only given food and drink , Group II is a solvent control each test animals were given an aqueous suspension of 1% CMC-Na, group III were each given ethanol extract of green algae (Ulva lactuca L.) at a dose of 100mg/kgBB orally, group III were each given ethanol extract of green algae (Ulva lactuca L.) at a dose of 200mg/kgBB, and group IV as comparison control were each given tablet Curcuma at a dose of 200mg/kgBB. All groups were treated for 21 days orally. On day 22 were given injections of CCl4 1.0mL/ kg intraperitoneally except Group I. The rats blood was taken and analyzed through eye orbitalis sinus AST and ALT activities. The results were statistically analyzed using One Way ANOVA test followed by LSD test with level of 95%.From the study it can be concluded that ethanolic extract of green algae (Ulva lactuca L.) has hepatoprotective effect of being able to reduce activities of SGOT and SGPT in CCl4-induced white male rats.Kerusakan pada hepar dapat ditunjukkan oleh aktivitas enzim seluler yang semakin meningkat. SGOT dan SGPT adalah dua macam enzim yang paling sering dihubungkan dengan kerusakan sel hepar. Salah satu penyebab kerusakan hepar adalah senyawa radikal bebas yaitu CCl4. Ganggang hijau (Ulva lactuca L.) memiliki senyawa melatonin yang bersifat anti oksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan ekstrak etanol ganggang hijau (Ulva lactuca L.) sebagai hepatoprotektor dengan menurunkan kadar SGOT dan SGPT akibat senyawa radikal bebas yaitu CCl4. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I (kontrol normal) hanya diberi makan dan minum, kelompok II diberi suspensi CMC-Na 1% sebagai kontrol pelarut, kelompok III diberi suspensi ekstrak etanol ganggang hijau dengan dosis 100mg/kgBB/hari, kelompok IV diberi suspensi ekstrak etanol ganggang hijau dengan dosis 200mg/kgBB/hari, dan kelompok V larutan pembanding tablet curcuma sebagai kontrol pembanding dengan dosis 200mg/kgBB/hari. Perlakuan dilakukan selama 21 hari secara per oral, pada hari ke-22 diberi suntikan CCl4 1,0mL/kgBB secara intraperitoneal kecuali kelompok I. Pengambilan darah melalui sinus orbitalis untuk diukur aktivitas SGOT dan SGPT. Hasil yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan uji One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji LSD dengan taraf kepercayaan 95 %. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol ganggang hijau (Ulva lactuca L.) dapat menurunkan aktivitas SGOT dan SGPT pada tikus jantan putih yang diinduksi CCl4
OPTIMASI FORMULA TABLET HISAP EKSTRAK RIMPANG LENGKUAS (Alpinia galanga (L.) Stuntz) DENGAN KOMBINASI BAHAN PEMANIS MANITOL DAN SUKROSA MENGGUNAKAN METODE SIMPLEX LATTICE DESIGN
Galangal (Alpinia galanga (L.) Stuntz) has many benefits for the health. Galangal is used as a tonic traditionally, but the dose is unknown, so it is necessary to be formulated. Lozenges was selected for the formulation of galangal because its practical and comfortable form. Taste is an important parameter for the lozenges so a mixture of mannitol and sucrose are used in this formulation. This research aims to optimize the lozenges formulation using a mixture of mannitol and sucrose with Simplex Lattice Design method. Galangal rhizome was extracted by maceration using 70% ethanol. Lozenges were made in three formulas, Formula A (100%: 0%), Formula B (50%: 50%), and Formula C (0%: 100%) with SLD in wet granulation method. Granule mass was sieved through the sieve no. 10 and dried in an oven at 60°C, then dried granule was mixed homogeneously with magnesium stearate-talk and tested for its physical properties include flow rate and compactibility. The granule was compressed into tablets and tested for its physical properties, including weight uniformity, hardness, friability, dissolving time, and tasting test. The data which was obtained were used to create a profile of physical properties of the granule and the taste of the tablet. Optimum formula was selected based on the highest total response. The tablet was created based on the optimum formula and tested physical properties of granule and tablets. The data was obtained and compared theoritically and statistically using the T-Test. The result showed that optimum formula of galangal rhizome extract lozenges is a formula with ratio 25% maintol : 75% sucrose. The optimum formula of the flow rate and granule compactibility and significantly different between verification and SLD calculations, while the dissolved time and the respon of tablets flavor are not significantly different. The dominant composition of sucrose can increase granule's compactibility response, dissolving time, and tasting test of lozenges, lowering the response speed of the flow of granules.Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Stuntz) memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya sebagai tonikum. Lengkuas sebagai tonikum masih digunakan secara tradisional, sehingga dosis tidak tetap dan tidak praktis, maka perlu dilakukan formulasi. Tablet hisap dipilih untuk formulasi lengkuas karena praktis dan nyaman. Rasa merupakan parameter yang penting untuk tablet hisap. Oleh karena itu digunakan campuran antara manitol dan sukrosa. Penelitian ini bertujuan untuk optimasi formula tablet hisap menggunakan campuran manitol dan sukrosa dengan metode Simplex Lattice Design. Ekstrak rimpang lengkuas diperoleh dengan maserasi menggunakan etanol 70%. Tablet hisap dibuat dalam tiga formula yaitu Formula A (100%:0%), Formula B (50%:50%), dan Formula C (0%:100%) dengan metode SLD secara granulasi basah. Massa granul diayak melalui pengayak no. 10 dan dikeringkan dalam oven suhu 60°C, kemudian granul kering dicampur homogen dengan Mg stearat-talk, selanjutnya diuji sifat fisik meliputi kecepatan alir dan kompaktibilitas. Granul dikempa menjadi tablet dan diuji sifat fisik, meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu larut, serta tanggap rasa. Data yang diperoleh digunakan untuk membuat profil sifat fisik granul dan rasa dari tablet. Formula optimum dipilih berdasarkan respon total tertinggi. Kemudian dibuat tablet berdasarkan formula optimum dan diuji sifat fisik granul dan tablet. Data yang diperoleh kemudian dibandingkan secara teoritik dan statistik menggunakan T-test. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa formula optimum tablet hisap ekstrak rimpang lengkuas adalah formula dengan perbandingan 25% manitol : 75% sukrosa. Kecepatan alir dan kompaktibilitas granul formula optimum berbeda bermakna antara verifikasi dengan perhitungan SLD, sedangkan waktu larut dan tanggap rasa tablet berbeda tidak bermakna. Komposisi sukrosa yang dominan dapat menaikkan respon kompaktibilitas granul, waktu larut, dan tanggap rasa tablet hisap, menurunkan respon kecepatan alir granul
STABILITAS FISIK DAN AKTIVITAS KRIM W/O EKSTRAK ETANOLIK BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarph (scheff.) Boerl,) SEBAGAI TABIR SURYA
Cream of Ethanolic extract Mahkota dewa fruit (Phaleria macrocarph (scheff.) Boerl,) has been reported as a sunscreen in in-vivo. The objective of this study is to evaluate the activity of sunscreen and physical stability. Determination of sunscreen was done by defining values of SPF (Sun Protection Factor) using Switzerland Weber strain mice with in vivo method. In this test we used 1 group without treatment, one negative control group (base), and 4 group treatments. Group treatment is a cream w/o ethanolic extract Mahkota dewa fruit. The value of SPF is a comparison of the DEM on the skin which were given sunscreen cream with DEM on the skin without the cream. We also did some physical stability test on the cream such as the viscosity test, spreading power, latched power, and the ratio of segregation. The Data were analyzed using SPSS to find the effect for addition of extract and prolonged storage of stability of cream. The results showed that a cream Mahkota dewa at concentration 4.6, d and 10% have an activity as a sunscreen with an SPF value of 1.25; 1.56; 2.4; and 3.05. In addition the Mahkota dewa have a good physical stability during storage.Krim ekstrak etanolik buah mahkota dewa (Phaleria macrocarph (scheff.) Boerl,) telah diuji aktivitasnya sebagai tabir surya secara in vivo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas tabir surya dan stabilitas fisiknya. Penentuan aktivitas tabir surya dilakukan dengan menentukan nilai SPF (Sun Protection Factor) secara ini vivo pada mencit galur Swiss Weber. Uji ini digunakan 1 kelompok tanpa perlakuan, 1 kelompok control negatif (basis), dan 4 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan adalah krim w/o ekstrak etanolik buah mahkota dewa. Nilai SPF merupakan perbandingan DEM pada kulit yang diberi krim tabir surya dengan DEM pada kulit tanpa krim. Uji stabilitas fisik krim meliputi uji viskositas, daya sebar, daya lekat, dan rasio pemisahan. Data dianalisis menggunakan SPSS untuk mengetahuipengaruh penambahan ekstrak dan lama penyimpanan terhadap kestabilan krim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krim mahkota dewa kadar 4,6,d dan 10% memiliki aktivitas sebagai tabir surya dengan nilai SPF sebesar 1,25; 1,56; 2,4; dan 3,05. Selain itu mahkota dewa memiliki stabilitas fisik yang baik selama penyimpanan
AKTIVITAS SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOLIK DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill.) PADA SEL KANKER LEHER RAHIM HeLa
Cervical cancer is one of the most common cancer in women. The high mortality rate indicates that chemotherapy has not overcome cancer disease. Strategies and development of cervical cancer treatment should be pursued. Avocado leaf (Persea americana Mill) is one of natural product that had antioxidant activity by scavenging radicals and cytotoxic activity. The aim of the study was to identify the cytotoxic activity on HeLa cervix cancer cells and to identify the chemical subtance groups of avocado leaves ethanol extract as chemopreventive agent. Active contents of avocado leaves was extracted by maceration with 96% ethanol. Chromatographic test were done to identify the chemical substances of avocado extract. Cytotoxic activity of avocado leaves ethanol extract was measured using MTT assay. The result of the phytochemical screening with thin layer chromatography test showed that the extract of avocado leaf contained flavonoids, alcaloids, and saponin. Avocado leaves ethanol extract inhibited HeLa cell growth with the IC50 of 360 µg/mL. Morphology of Hela cell showed that extract inhibited cell growth in dose dependent.Kanker leher Rahim merupakan salah satu kanker yang paling terjadi pada wanita. Angka kematian yang tinggi menunjukkan bahwa kemoterapi tidak memberikan hasil yang baik sehingga perlu dikembangkan strategi untuk mengatasinya. Daun alpukat (Persea americana Mill) adalah salah satu produk alami yang memiliki aktivitas antioksidan dengan menangkap radikal bebas dan memiliki aktivitas sitotoksik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi aktivitas sitotoksik dari ekstrak etanolik daun alpukat pada sel kanker leher Rahim HeLa dan mengidentifikasi senyawa aktif yang ada pada daun alpukat. Senyawa aktif dari daun alpukat diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Uji kromatografi dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa aktif. Aktivitas sitotosik ekstrak etanolik daun alpukat dilakukan dengan uji MTT. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa daun alpukat mengandung senyawa golongan flavonoid, alkaloid dan saponin. Ekstrak etanol daun alpukat menghambat pertumbuhan sel HeLa dengan nilai IC50 sebesar360 µg/ml.
FORMULASI SEDIAAN LOSION ANTIOKSIDAN EKSTRAK AIR DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis L.)
The research about lotion dosage formulation that contain green tea leaf water extract with concentration 0.0002%, 0.002%, 0,02%, and 8.6% had been done. The basic of the EC50 value. Which calculated from linierity regression equation between tested solution concentration and scavenging percent. The lotion formulation began with lotion base orientation included organoleptic, homogeinity, pH, and viscosity. It showed that lotion base with glyceryl monostearate 5.5% have the best pH stability, viscosity, and consistency. Evaluation of lotion dosage include physical evaluation (organoleptic, homogeinity, viscosity and stability) and chemical evalution (pH and the stability of lotion antioxidant activity. Antioxidant activity stability evaluation of lotion with 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl solution using spectrophotometri UV-Visible showed, that formula which contain 0.02% and 8.6% green tea leaf water extract gave the best radical scavenging activity and stable during storage. Penelitian tentang formulasi dosis ekstrak air daun teh hijau dengan konsentrasi 0,0002%, 0,002%, 0,02% dan 8,6% telah dilakukan. Penetapan nilai EC50 dilakukan berdasarkan perhitungan persamaan regresi linier antara larutan uji dan persentase peredamanl. Formulasi losion dimulai berdasarkan orientasi basis dengan parameter organoleptik, homogenitas, pH dan viskositas. Diketahui bahwa losion dengan5,5% glyceryl monostearate mempunyai stabilitas pH, viskositas dan konsistensi yang terbaik. Evaluasi formulasi termasuk evaluasi fisik (organoleptis, homogenitas, viskositas dan stabilitas) dan evaluasi kimia (pH dan stabilitas aktivitas anti oksidan). Evaluasi aktivitas antioksidan formula yang mengandung larutan 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl menggunakan spektrofotometri UV-Vis menunjukkan bahwa formula yang mengandung 0.02% dan 8,6% ektrak air daun teh memberikan aktivitas anti oksidan terbaik dan stabilitas selama penyimpanan
PENENTUAN AKTIVITAS ISOLAT ANDROGRAFOLID TERHADAP α-AMILASE DAN α-GLUKOSIDASE MENGGUNAKAN METODE APOSTOLIDIS DAN MAYUR
Disorders of carbohydrate metabolism can lead to diabetes mellitus. Carbohydrates are metabolized in the gastrointestinal tract into simple glucose and absorbed into the bloodstream and affected blood glucose levels. The absorption process is catalyzed by α- 1 ,4 - glycoside breaking bond enzyme , namely α - amylase and α -1 ,6 - glycoside breaking bond enzyme, namely α – glucosidase. They are found in the intestinal cells. Research had been conducted in an effort to develop an alternative treatment of diabetes mellitus by testing the ability of isolates of andrographolide in inhibiting α-amylase activity and α-glucosidase in vitro. Andrographolide isolates showed fairly good activity in inhibiting α-amylase ( IC50 = 1,.49 mg/mL) and weak in inhibiting α-glucosidase (IC50 = 38,86 mg/mL). Inhibition of α-amylase activity is evidence of one mechanism of andrographolide in reducing carbohydrate metabolism that can affect blood glucose levels and indicates that andrographolide is a potential alternative medicine in addressing diabetes mellitus .Gangguan metabolisme karbohidrat dapat menyebabkan Diabetes mellitus. Karbohidrat dalam saluran cerna mengalami metabolisme menjadi glukosa yang sederhana kemudian diabsorbsi masuk kedalam peredaran darah serta mempengaruhi kadar glukosa dalam darah. Proses penyerapan ini dikatalisis enzim pemecah ikatan α-1,4-glikosida yaitu α-amilase dan enzim pemecah ikatan α-1,6-glikosida yaitu α-glukosidase yang terdapat pada sel usus. Telah dilakukan penelitian sebagai upaya mengembangkan pengobatan alternatif diabetes mellitus dengan menguji kemampuan isolat andrografolid dalam menghambat aktivitas α-amilase dan α-glukosidase secara in vitro. Isolat andrografolid memperlihatkan aktivitas yang cukup baik dalam menghambat α-amilase (IC50= 12,49 mg/mL) dan lemah dalam menghambat α-glukosidase (IC50= 38,86 mg/mL). Penghambatan aktivitas α-amilase ini menjadi bukti salah satu mekanisme andrografolid dalam mengurangi metabolisme karbohidrat yang dapat mempengaruhi kadar glukosa dalam darah dan mengindikasikan andrografolid sebagai obat alternatif yang cukup potensial dalam mengatasi penyakit diabetes mellitus
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIOKSIDAN SENYAWA DERIVAT PIRANON DARI MIKROBA ENDOFITIK Penicillium sp PADA TUMBUHAN KUNYIT PUTIH (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe)
Exploration of bioactive compound were continuously done as more new diseases appearing, from infection, cancer, and other degenerative diseases. The invention of new antibiotic compound and antioxidant compound is very needed to solve this problem. Endophytic microbes are microbes which lives in plant’s culture and produce the active secondary metabolite. In previous research, 2 compounds from endofitic microbes Penicillium sp in kunyit putih had been successfully isolated and identified as di-(2-ethylhexyl)phthalate and pyranon derivated as 5 (4’-ethoxy-2’-hydroxy-5’-methyl-2’,3’-dihydrofuran-3’-il (hydroxy) methyl-4-isopropyl-3-methyl-2-pyran-2-on). The goal of this research is to test antibacterial and antioxidant activitiy from derivate pyranon, which is resulting from endofitic microbes Penicillium sp in kunyit putih (Curcuma zeodaria). The method used to test the antibacterial activity is dic diffusion, using E. Coli, S. Dysenteriae, S. Aureus, and B. Subtilis. with variation of concentrations 250, 500, 1000, dan 2000μg/mL, and to test the antioxidant activity used 1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl ( DPPH) method with variation of concentrations 1000, 500, 250, 125, 62.5, 31.25, 15.625, and 7.8125 µg/mL. The research shown that the antibacterial activity is strongest at S. aureus with 11mm-blocked-zone at 250µg/mL concentration. Pyranon derivate also has active antioxidant manner with IC5016.05µg/mL.Pencarian senyawa bioaktif terus menerus dilakukan seiring dengan makin banyaknya penyakit-penyakit baru yang bermunculan, mulai dari penyakit infeksi, kanker, dan berbagai penyakit degeneratif lainnya. Penemuan senyawa antibiotoik baru dan senyawa yang bersifat antioksidan sangat diperlukan untuk mengatasi hal ini. Mikroba endofitik merupakan mikroba yang tumbuh dalam jaringan tumbuhan yang dapat menghasilkan metabolit sekunder yang aktif. Pada penelitian sebelumnya telah berhasil diisolasi dua senyawa dari mikroba endofitik Penicillium sp pada tumbuhan kunyit putih dan diidentifikasi sebagai Di-(2-etilheksil)phthalat dan derivat piranon yaitu5 (4’-etoksi-2’-hidroksi-5’-metil-2’,3’-dihidrofuran-3’-il (hidroksi) metil-4-isopropil-3-metil-2-piran-2-on). Tujuan penelitian ini adalah menguji aktivitas antibakteri dan antioksidan dari senyawa derivat piranon yang dihasilkan dari mikroba endofitik Penicillium sp pada tumbuhan kunyit putih (Curcuma zeodaria). Aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram dengan bakteri uji E.coli, S. dysenteriae, S. aureus, dan B. subtilis dengan variasi konsentrasi uji 250, 500, 1000, dan 2000 μg/ml, dan aktivitas antioksidan dengan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) dengan variasi konsentrasi 1000, 500, 250, 125, 62,5, 31,25, 15,625, dan 7,8125µg/mL. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antibakteri paling kuat pada bakteri S. aureus dengan zona hambat 11mm pada konsentrasi 250µg/mL. Senyawa derivat piranon juga bersifat aktif anti oksidan dengan IC5016,05µg/mL
ANALISIS RASIO PROTEKSI ANTIULSER SARI BUAH PEPINO (Solanum muricatum Aiton) MENGGUNAKAN MENCIT SEBAGAI MODEL HEWAN COBA
Peptic ulcer were been caused by an imbalance between the aggressive factors and a number of defense mechanisms. Pepino (Solanum muricatum Aiton) fruit predicted had antiulcer activity. This study is aimed to test the antiulcer activity of pepino fruit juice in Swiss-Webster mice model which induced by 50 µL concentrated acetic acid. The steps in this study consist of making of fruit juice, phytochemical screening, testing of antiulcer activity at 300, 500, dan 800 µL/20 g BW in doses, and data analyzed using ANOVA. The concentration of pepino fruit juice was 2.5 g/mL. Phytochemical screening showed that pepino fruit juice contain alkaloids, flavonoids, and tannins with protection ratio were 6.02, 23.15, and 63.29% at 300, 500, dan 800 µL/20 g BW, respectively.Peptik ulser disebabkan oleh ketidakseimbangan antara faktor agresif dan sejumlah mekanisme pertahanan. Buah pepino (Solanum muricatum Aiton) diprediksi memiliki aktivitas antiulser. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antiulser sari buah pepino terhadap mencit Swiss-Webster yang diinduksi dengan asam asetat pekat. Tahapan penelitian meliputi pembuatan sari buah, penapisan fitokimia, uji aktivitas antiulser dengan dosis 300, 500, dan 800 µL/20 g BB pada mencit yang diinduksi dengan 50 µL asam asetat pekat, kemudian hasil dianalisis secara ANAVA. Sari buah memiliki konsentrasi 2,5 g/mL. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa sari buah pepino mengandung alkaloid, flavonoid, dan tanin dengan rasio proteksi sebesar 6,02; 23,15; dan 63,29% pada dosis 300, 500, dan 800 µL/20 g BB, secara berturut-turut