Majalah Obat Tradisional
Not a member yet
427 research outputs found
Sort by
AKTIVITAS LARVASIDA EKSTRAK ETANOL, FRAKSI N-HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN METANOL DAUN SEMBUKAN TERHADAP LARVA NYAMUK Aedes aegypti DAN ANOPHELES INSTAR III
Stinkvine (Paederia foetida L.) is known as a plant that has many properties that are empirically used in traditional medicine. However, information of utilization of Stinkvine leaf outside as a traditional medicine has not been discovered yet. This research aims to determine the potential larvicidal extracts and fractions of stinkvine leaf. The ethanol extract of stinkvine leaf fractionated using column chromatography with n-hexane, ethyl acetate, and methanol. Larvicidal activity test against Aedes aegypti and Anopheles III instar was done using 25 larvae for each treatment extracts and fractions in 5 series of concentration, and left exposed for 24 hours. Total mortality of larvae is calculated and analyzed using a modified Finney probit to determine the LC50 and LC90 values. The results showed larvicidal activity on larvae of Aedes aegypti mosquitoes with LC50 and LC90 value of n-hexane, ethyl acetate, and methanol fraction respectively 67,89 ; 10,92 ; 30,98 µg/mL and 114,11 ; 18,80 ; 54, 12 µg/mL. Larvicidal activity on larvae of Anopheles mosquitoes with LC50 and LC90 value of n-hexane, ethyl acetate, and methanol fraction respectively 50,76 ; 14,96 ; 60,82 µg/mL and 87,23 ; 25,65 ; 90,92 µg/mL. Ethyl acetate fraction of ethanol extract of stinkvine leaf (Paederia foetida L.) shows to have highest larvicidal activity against the mosquito larvae of Aedes aegypti and Anopheles. The results of GC-MS analysis of the ethyl acetate fraction showed there are 15 compounds, a constituent component consisting of lupeol (20,32 %), gamma-sitosterol (12,22 %), cyclohexanecarboxamide (11,82 %), campesterol (11,45 %), 3-butenol, 4- (2,6,6-trimethyl-1-sikloheksenil) (7,98 %), siklolanos-24-en-3-ol (7,87%), and there are 9 other components with a percentage amount of 0,18 to 5,86 %.Sembukan (Paederia foetida L.) dikenal sebagai tanaman yang memiliki banyak khasiat yang secara empiris digunakan dalam pengobatan tradisional. Namun demikian, informasi pemanfaatan daun sembukan diluar sebagai obat tradisional belum di publikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi larvasida ekstrak dan fraksi dari daun sembukan. Ekstrak etanol daun sembukan difraksinasi menggunakan metode kromatografi kolom menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol. Uji aktivitas larvasida terhadap nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles instar III dilakukan dengan menggunakan 25 ekor larva untuk masing-masing perlakuan ekstrak dan fraksi dalam 5 seri konsentrasi, dan terpapar selama 24 jam. Jumlah kematian larva dihitung dan dianalisis dengan analisis probit modifikasi Finney untuk menentukan nilai LC50 dan LC90. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas larvasida pada larva nyamuk Aedes aegypti dengan nilai LC50 dan LC90 pada fraksi n-heksana, etil asetat, dan metanol masing-masing sebesar 67,89; 10,92 ; 30,98 µg/mL dan 114,11 ; 18,80 ; 54,12 µg/mL. Aktivitas larvasida pada larva nyamuk Anopheles dengan nilai LC50 dan LC90 pada fraksi n-heksana, etil asetat, dan metanol masing-masing sebesar 50,76 ; 14,96 ; 60,82 µg/mL dan 87,23 ; 25,65 ; 90,92 µg/mL. Fraksi etil asetat dari ekstrak etanol daun sembukan (Paederia foetida L.) terbukti mempunyai aktivitas larvasida yang paling tinggi terhadap larva nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles. Hasil analisis GC-MS pada fraksi etil asetat menunjukan terdapat 15 senyawa, komponen penyusun terdiri dari lupeol (20,32 %), gama sitosterol (12,22 %), sikloheksanekarbosamid (11,82%), kampesterol (11,45%), 3-butenol, 4-(2,6,6-trimetil-1-sikloheksenil) (7,98%), siklolanos-24-en-3-ol (7,87%), dan terdapat 9 komponen lain dengan persentase jumlah dari 0,18 - 5,86%
PENGARUH SUHU PENGERINGAN GRANUL KOMBINASI MINYAK SERAI DAPUR - DAUN JERUK PURUT TERHADAP JUMLAH KEHILANGAN MINYAK DAN AKTIVITAS LARVASIDANYA
Granules of lemongrass and kaffir lime oil are reported to have larvicidal activity against the mosquito Aedes aegypti, with LC50 of 38.30ppm and 39.58ppm, while LC90 of 51.57ppm and 79.43ppm respectively. During the manufacture of granules, loss of oil are reported by 64.20% to 65.91% for lemongrass and kaffir lime oil. This research aims to make granules combination from lemongrass and kaffir lime oils by varying the temperature of the drying granules and testing its larvicidal activity against Ae. aegypti. Oil combination is selected by using analysis simplex lattice design, and the combination chosen is made of granules, in drying room temperature for 24h, a temperature of 50°C for 2h 30min and a temperature of 70°C for 1h. Larvicidal activity testing against larvae of Ae. aegypti is done by using the third instar larvae 20 for each granule solution made in 5 series of concentration, and left exposed for 24h. The number of deaths of larvae is calculated and analyzed by modified probit analysis Finney to determine LC50 and LC90. The results showed the combination lemongrass-kaffir lime oil is selected ratio of 9:1, and drying the granules with a temperature of 70°C for 1h produces the greatest larvicidal activity with 63.17ppm LC50 and LC90 of 85.04ppm.Granul minyak serai dapur dan jeruk purut dilaporkan memiliki aktivitas larvasida terhadap nyamuk Aedes aegypti, dengan LC50 berturut-turut sebesar 38,30ppm dan 39,58ppm, sedang LC90 sebesar 51,57ppm dan 79,43ppm. Selama pembuatan granul dilaporkan terjadi kehilangan minyak sebesar 64,20% untuk serai dapur dan 65,91% untuk jeruk purut. Penelitian ini bertujuan untuk membuat granul kombinasi minyak serai dapur-jeruk purut dengan memvariasi suhu pengeringan granul serta menguji aktivitas larvasidanya terhadap nyamuk Ae. aegypti. Kombinasi minyak dipilih dengan menggunakan analisis simplex lattice design, dan kombinasi terpilih dibuat granul, dengan pengeringan suhu kamar selama 24 jam, suhu 50°C selama 2jam 30menit dan suhu 70°C selama 1jam. Uji aktivitas larvasida terhadap larva nyamuk Ae. aegypti instar III dilakukan dengan menggunakan 20 ekor larva untuk masing-masing larutan granul yang dibuat dalam 5 seri konsentrasi, dan dibiarkan terpapar selama 24 jam. Jumlah kematian larva dihitung dan dianalisis dengan analisis probit modifikasi Finney untuk menentukan nilai LC50 dan LC90. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi minyak serai dapur- jeruk purut terpilih adalah perbandingan 9:1, dan granul dengan pengeringan suhu 70°C selama 1jam menghasilkan aktivitas larvasida terbesar dengan LC50 63,17ppm dan LC90 sebesar 85,04ppm.
KANDUNGAN VITAMIN C, VITAMIN A DAN ALPHA HYDROXY ACID DALAM BENGKOANG (Pachyrhizus Erosus)
Bengkoang or Pachyrhizus erosus has been used as a traditional cosmetic material since many years ago. Until now, many cosmetic preparations using bengkoang as a main material have been produced by cosmetic industries, mainly for skin care, whitening and sunscreen preparation. However, content of vitamin A, vitamin C and alpha hydroxyl acid has not been discovered yet. These compounds are essential in skin care process because of their activities in cell regeneration, antioxidant as well as peeling of dead skin cell layer. The aim of this research is to provide information about the content of three compounds in bengkoang. Vitamin A has been analysed by spectrophotometer, vitamin C analysed using titration method and alpha hydroxyl acid analysed using gas chromatography. The result showed that concentrations of vitamin A and vitamin C are 179.21 ± 8.19 ppm and 0.31 ± 0.06 %, respectively. Meanwhile the content of alpha hydroxyl acid was 0.80 ± 0.01% (measured as glycolic acid).Bengkoang atau Pachyrhizus erosus telah lama digunakan sebagai bahan kosmetika tradisional sejak puluhan tahun yang lalu. Bahkan sampai sekarang banyak diproduksi sediaan kosmetik terutama untuk perawatan kulit, pemutih serta tabir surya menggunakan bahan dasar bengkoang. Namun demikian, informasi kandungan vitamin A, vitamin C dan alpha hydroxyl acid (AHA) yang ada dalam bengkoang belum dipublikasikan. Senyawa-senyawa tersebut sangat bermanfaat dalam perawatan kulit karena memiliki aktivitas sebagai pemacu regenerasi sel, antioksidan dan peeling sel kulit yang mati. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi ketiga kandungan senyawa tersebut. Dalam penelitian ini, vitamin A dianalisis secara spektrofotometri, vitamin C secara titrasi dan AHA dianalisis menggunakan kromatografi gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan vitamin A dan vitamin C dalam bengkoang berturut-turut 179,21 ± 8,19 ppm dan 0,31 ± 0,06 %, sedangkan kandungan alpha hydroxyl acid adalah 0,80 ± 0,01 % (dihitung sebagai asam gliko lat)
AKTIVITAS ANTIOSTEOPOROSIS EKSTRAK ETANOL 96 % DAUN Abelmoschus manihot L. MEDIK SECARA IN VITRO MENGGUNAKAN SEL PREOSTEOBLAS MC3T3-E1
Osteoporosis is a disease characterized by low bone mass and structural deterioration of bone tissue. Estrogen deficiency causes loss of bone mineral density which causes osteoporosis. Phytoestrogen is a potential alternative of estrogen that can be used as Hormone Replacement Therapy on osteoporosis with minimum side effects. Many edible plants contain phytoestrogens that are believed to promote bone health. Abelmoschus manihot (L.) Medik has been known as a plant that is empirically used in the traditional medicine and has potency to prevent osteoporosis. The aim of this research is to determine whether the Abelmoschus manihot (L.) Medik leaves have the potential to increase bone formation in an in vitro assays using preosteoblast cell line MC3T3-E1. The results showed an increasing activity of Alkaline phosphatase using confocal laser scanning microscopy technique.Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan kerusakan struktur jaringan tulang. Defisiensi estrogen menyebabkan hilangnya kepadatan mineral tulang yang dapat menyebabkan osteoporosis. Fitoestrogen berpotensi sebagai alternatif pengganti fungsi estrogen yaitu sebagai Hormon Replacement Therapy pada penyakit osteoporosis yang memiliki efek samping minimal. Banyak tanaman yang mengandung phytoestrogen diyakini dapat meningkatkan kesehatan tulang. Abelmoschus manihot (L.) Medik merupakan tanaman yang diketahui secara empiris mempunyai banyak efek yang digunakan sebagai pengobatan tradisional dan berpote nsi untuk mencegah osteoporosis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol 96 % daun Abelmoschus manihot (L.) Medik untuk meningkatkan pembentukan tulang secara in vitro pada sel preosteoblast MC3T3-E1. Hasil penelitian in vitro menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun Abelmoschus manihot (L.) Medik mampu meningkatkan aktivitas Alkaline Phosphatase yang diukur dengan Confocal Laser Scanning Microscopy
AKTIVITAS ANTIRADIKAL DPPH SERTA PENENTUAN KANDUNGAN FENOLIK DAN FLAVONOID TOTAL SARI LARUT AIR DAUN DAN BUAH Ficus carica L. DAN Ficus parietalis Bl.
Ficus carica L and Ficus parietalis Bl. (Moraceae) are closely related plants which also known in Indonesia as Figs L. Considering the wide therapeutic value of Figs, this research was aimed to evaluate the DPPH-radical scavenging activity of both plants as well as their total phenolic and flavonoids. Extracts were produced by using boiled water and diluted to gain the desired concentration. Analyses were performed by using UV-vis spectrophotometer. Radical scavenging activity testing was done by using radical of DPPH (2,2-diphenyl-1-pycrylhydrazyl) to determine the IC50s. The determination of total phenolic was conducted by using Folin-Ciocalteau method and calculated as Gallic Acid Equivalence (GAE). The total flavonoid was measured by using AlCl3-reagents, and calculated as Rutin Equivalence (RE). Afterwards, the radical scavenging activity was correlated to the total phenolic and flavonoids contents. The results showed that the water soluble extract of F. carica fruit had the best IC50 value of 33.38 mg/mL, followed successively by the F. parietalis fruit (35.69 mg/mL), F. parietalis leaves (44.01 mg/mL) and the F. carica leaves (76.38 mg/mL). The highest content of total phenolic was shown by the leaves of F. parietalis (1.46% w/w GAE) and the lowest was in the fruit or F. carica (0.36% w/w GAE). The highest flavonoid content was detected in the leaves of F. carica (1.42% w/w RE) and the lowest was in the F. parietalis fruit (0.20% w/w RE). Correlation analyses of the IC50 values vs. the total phenolic and the flavonoids contents resulted in a positive slope having R2 values as 0.5362 and 0.9895, respectively. As a conclusion, the total flavonoid content influenced the DPPH radical scavenging activity by 98.95%, while the total phenolic content influence was only 53.62%.Tumbuhan Ficus carica L. dan F. parietalis Bl. (Moraceae) adalah tumbuhan yang di Indonesia kerap kali disebut sebagai Tin atau Ara. Mengingat penggunaannya yang sangat luas bagi pengobatan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan serta kandungan fenolik dan flavonoid total dari sari larut air daun dan buah F. carica dan F. parietalis Ekstrak diperoleh dengan cara menyari sejumlah sampel menggunakan air mendidih sehingga diperoleh konsentrasi yang diinginkan. Pengujian aktivitas penangkapan radikal dilakukan dengan menggunakan DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan ditentukan nilai IC50. Penentuan kandungan fenolik total dilakukan menggunakan pereaksi Folin Ciocalteau dan dinyatakan sebagai ekuivalen asam galat. Flavonoid total ditetapkan dengan menggunakan reagen AlCl3 dan dinyatakan sebagai ekivalen rutin (ER). Kandungan fenolik dan flavonoid yang didapatkan selanjutnya dikorelasikan dengan aktivitas antiradikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC50 terbaik terdapat pada buah F. carica L. (33,38 mg/mL), kemudian buah F. parietalis B. (35,69 mg/mL), daun F. parietalis Bl. (44,01 mg/mL), dan daun F. carica L. (76,38 mg/mL). Kandungan fenolik tertinggi terdapat pada daun F. parietalis Bl. (1,46% b/b EAG) dan terendah pada buah F. carica L. (0,36% b/b EAG). Kandungan flavonoid tertinggi terdapat pada daun F. carica L. (1,42% b/b ER) dan terendah pada buah F. parietalis Bl. (0,20% b/b ER). Analisis korelasi antara nilai IC50 dengan kandungan fenolik dan flavonoid total menunjukkan korelasi positif dengan nilai R2 sebesar 0,5362 dan 0,9895 dengan kemiringan positif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kandungan flavonoid total mempengaruhi aktivitas penangkal radikal bebas sebesar 98,95%, sedangkan pengaruh kandungan fenolik total hanya sebesar 53,62%
KOMBINASI EKSTRAK KULIT MANGGIS DENGAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA DAN EKSTRAK SARANG SEMUT SEBAGAI PENURUN KADAR KOLESTEROL DAN TRIGLISERIDA PADA TIKUS PUTIH JANTAN
Hypercholesterolemia is a disease associated with high levels of cholesterol and LDL levels in the blood. Utilization of the commercial drugs can be given; however apart from the expensive price, adverse side effects might occur. It makes people choose alternative medication with herbal medicine through the use of natural materials. This study aimed to determine the effect of the combination of mangosteen peel extract-extract of roselle calyx and mangosteen peel extract-extract the ant nest plant as lowering cholesterol and triglyceride levels in male rats. The method used in this study was a laboratory experimental method using device posttest only control group design (simple experimental design). This study used 25 male rats of Wistar strain, divided into 5 groups; Group I: group without treatment, group II: control group solvent (NaCMC 1%), group III: positive control group (Simvastatin), Group IV: combination group mangosteen peel extract (200 mg / kg) - extract of roselle calyx (250 mg / kg), group V: group combination of mangosteen peel extract 200 mg / kg) - extract anthill (270 mg / kg). Induction of cholesterol in rats using quail egg yolk (10 ml / kg). The results showed that there was no significant difference in cholesterol and triglycerides between the combination of both extracts of mangosteen peel with a positive control (p<0,05).Hiperkolesterolemia merupakan penyakit yang berhubungan dengan tingginya kadar kolesterol , dan kadar LDL dalam darah. Penggunaan obat komersial dapat diberikan, namun selain dari harganya yang mahal dapat juga terjadi efek samping yang merugikan. Hal ini membuat masyarakat memilih pengobatan alternatif dengan obat herbal melalui pemanfaatan bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi dari ekstrak kulit manggis – ekstrak kelopak bunga rosella dan ekstrak kulit manggis – ekstrak sarang semut sebagai penurun kadar kolesterol dan trigliserida pada tikus putih jantan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental laboratorium dengan menggunakan rancangan posttest only control group design (rancangan eksperimental sederhana). Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan galur wistar yang dibagai menjadi 5 kelompok. Kelompok I kelompok tanpa perlakuan, kelompok II kelompok kontrol pelarut (NaCMC 1%), kelompok III kelompok kontrol positif (Simvastatin), kelompok IV kelompok kombinasi ekstrak kulit manggis (200 mg/kgBB) – ekstrak kelopak bunga rosella (250 mg/kgBB), kelompok V kelompok kombinasi ekstrak kulit manggis 200 mg/kgBB) – ekstrak sarang semut (270 mg/kgBB). Induksi kolesterol pada tikus menggunakan kuning telur puyuh (10 ml/kgBB). Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan penurunan kolesterol dan trigliserida yang bermakna antara kombinasi kedua esktrak kulit manggis dengan kontrol positif (p< 0,05)
OPTIMASI KOMPOSISI ETANOL-AIR SEBAGAI CAIRAN PENYARI DALAM PRODUKSI EKSTRAK KERING DAUN SAMBUNG NYAWA [Gynura procumbens (Lour.) Merr.)]
Sambung Nyawa leaves (Gynura procumbens (Lour.) Merr has been widely used as herbal medicine which requires a quality improvement of the dry extract for industrial production. Extraction solvent optimization is one key factor which determines the quality. This research aims was to find out the optimal ethanol-water composition as extraction solvent by using Simplex Lattice Design (SLD) method of which the total phenolics, total flavonoids and DPPH radical scavenging activity were used as quality parameters. Dried leaves as raw materials were pulverized and screened at Mesh 60, macerated (1:5) with ethanol-water compositition as 1:0; 0.7:0.3; and 0.5:0.5 v/v, shaked for 24 h, filtered. The procedure was repeated twice. Filtrates were collected of which lactose were added (1:2)w/w and spray dried at 100C for 30 min. Dried extracts yielded were evaluated the quality by using SLD method of which the total phenolics, total flavonoids as well as DPPH radical scavenging activity were used as parameters. Optimal SLD response was revealed at the ethanol:water composition of 0.66:0.34 – 0.75:0.25 v/v (Rtotal>0.9). No significant difference of the above mentioned parameters between the values resulted from the experiment and SLD formula. Correlation analyses of total phenolics and total flavonoids towards DPPH-radical scavenging activity were found as 95.29% and 1.25%, respectively.Daun Sambung Nyawa (Gynura procumbens (Lour.) Merr telah dipergunakan secara luas sebagai obat herbal sehingga membutuhkan peningkatan kualitas pembuatan ekstrak kering untuk industri. Optimasi pelarut ekstraksi adalah salah satu faktor kunci yang menentukan kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi etanol-air untuk pelarut ekstraksi yang optimal menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD) dengan parameter kualitas berupa flavonoid total dan fenol total serta aktivitas penangkalan radikal DPPH. Daun kering diserbukkan dan diayak pada Mesh 60, dimaserasi (1:5) dengan variasi komposisi etanol-air sebagai berikut 1:0; 0,7:0,3; and 0,5:0,5 v/v, digojok selama 24 jam kemudian disaring. Proses diulangi 2 kali. Filtrat dikumpulkan dan ditambah laktosa (1:2)b/b kemudian dilakukan pengeringan menggunakan spray dryer pada 100˚C selama 30 menit. Ekstrak kering yang dihasilkan dievaluasi kualitasnya menggunakan metode SLD dengan fenol total, flavonoid total dan aktivitas penangkal radikal DPPH sebagai parameter. Respon optimal SLD response diketahui pada komposisi etanol-air 0,66:0,34 – 0,75:0,25 v/v (Rtotal>0,9). Tidak terdapat perbedaan signifikan antara data yang diperoleh dari eksperimen dan dari hasil perhitungan menggunakan formula SLD. Analisis korelasi antara fenol total dan flavonoid total, masing-masing terhadap aktivitas penangkal radikal bebas adalah berturut-turut sebesar 95,29% dan 1,25%.
ANALISIS SIDIK JARI KROMATOGRAM Stevia rebaudiana SECARA HIERACHIAL CLUSTER ANALYSIS (HCA) DAN PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA)
Bioactivity herbal plant is influenced by its active compounds and consistency. Stevia rebaudiana contains bioactive compounds, diterpene glycosides which have antidiabetes activity. The goal of this study was to develop fingerprints analysis of S. rebaudiana based on High Performance Liquid Chromatography (HPLC) chromatogram. S. rebaudina leaves were taken from different planting area, leave ages, and seeds source. S. rebaudiana leaves were analyzed using isocratic Reversed Phase High Performance Liquid Chromatography (RP-HPLC). Fingerprints analysis of S. rebaudiana was done using chemometrics of Hierarchical Cluster Analysis (HCA) and Principal Component Analysis (PCA). Peak marker “common peak” were identify using Cluster Observation in HCA analysis at each peaks retention time formed in chromatogram. Retention times giving similarity value more than 0,90 were identified as “common peak”. HCA analysis resulted in 5 “common peak” identification as peaks marker particularly at peak no 1, 2, 4, 6 and 7. HCA analysis was also clustered samples into 3 main cluster. PCA analysis was optimized by calculated peak area whose N > 2000 particularly peak no 4, 6, and 7. PCA analysis result can be used to classify chromatogram based on original seeds, planting area and leave ages. Fingerprints analysis developed can be used an alternative method for quality control of S. rebaudiana herbal plants based on its bioactive compounds systemic characteristics.Bioaktivitas tanaman herbal sangat dipengaruhi oleh kandungan senyawa aktif dan konsistensinya. Stevia rebaudiana mengandung senyawa aktif diterpen glikosida yang berkhasiat untuk antidiabetes. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan metode analisis sidik jari tanaman herbal S. rebaudiana berdasarkan kromatogram High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Sampel daun S. rebaudiana berasal dari 5 daerah, usia dan asal bibit yang berbeda. Sampel daun S. rebaudiana dianalisis dengan metode Reversed Phase High Performance Liquid Chromatography (RP-HPLC) isokratik. Analisis sidikjari kromatogram S. rebaudiana menggunakan metode kemometrika secara Hierarchical Cluster Analysis (HCA) dan Principal Component Analysis (PCA). Pemilihan peak penanda (marker) “common peak” dilakukan dengan melakukan uji HCA secara Cluster Observation pada waktu retensi setiap puncak yang muncul di setiap kromatogram sampel. Waktu retensi yang memberikan nilai similarity level lebih dari 0,90 digunakan sebagai “common peak”. Analisis HCA yang dilakukan memberikan 5 puncak “common peak” sebagai penanda kromatogram yaitu peak no 1, 2, 4, 6, dan 7 dan dikelompokkan menjadi tiga klaster utama. Analisis PCA yang dilakukan dioptimalkan dengan memasukkan data area puncak yang memiliki nilai N > 2000 yaitu puncak no 4, 6 dan 7. Hasil PCA yang diperoleh dapat mengklasifikasikan kromatogram berdasarkan asal bibit, tempat tumbuh dan usia daun. Metode analisis sidik jari yang dikembangkan dapat dijadikan alternatif metode untuk kontrol kualitas tanaman herbal S. rebaudiana berdasarkan karakteristik sistemik kandungan senyawa fikokimia
AKTIVITAS ANTELMINTIK BIJI Veitchia merrillii TERHADAP Ascaridia galli SECARA IN VITRO
The objective of this research was to evaluate the anthelmintic activity of ethanolic extract of nuts Veitchia merrillii against intestinal nematode, Ascaridia galli. Phytochemical tests were performed for testing different chemicals group present in the extract. The effect of these extract were determined by in vitro based on inhibition of motility and mortality of worms. Amount of four worms were exposed in triplicate to each of phosphate buffered saline, 25 mg/mL, and 75 mg/mL crude ethanolic extract of V. merrillii, and 15 mg/mL albendazole. The motility of worm was observed on 9, 18, 27, and 36 hours interval. The mortality of worms were recognized by their straight flat appearance with no movements at the head and tail regions of the body. We found that the ethanolic extract of V. merrillii contains tannins, alkaloids, flavonoids, triterpenoids, and saponins neither steroid. Based on the in vitro trials conducted using above extract at 25 and 75 mg/mL concentration, the extract of V. merrillii showed anthelmintic effect. The extract of V. merrillii was effective at 75 mg/mL concentration only. The study indicated that it is potential to develop herbal-based anthelmintic to control A. galli in poutry.Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi aktivitas antelmintik ekstrak etanol biji Veitchia merrillii terhadap nematoda intestinal, Ascaridia galli. Metode fitokimia dilakukan untuk menguji keberadaan jenis kimiawi di dalam ekstrak. Efek dari ekstrak tersebut ditentukan melalui in vitro berdasarkan hambatan pergerakan dan kematian cacing. Sebanyak empat ekor cacing masing diperlakukan triplikat dalam phosphate buffered saline, 25 mg/mL, dan 75 mg/mL larutan ekstrak V. merrillii, dan 15 mg/mL albendazole. Pergerakan cacing diamati pada interval 9, 18, 27, dan 36 jam. Kematian cacing ditentukan berdasarkan ada tidaknya pergerakan badan, bagian kepala, dan ekor cacing. Kami menemukan bahwa larutan ekstrak V. merrillii mengandung tanin, alkaloid, flavonoid, triterpenoid, saponin, tetapi tidak mengandung steroid. Berdasarkan percobaan in vitro, penggunaan konsentrasi 25 dan 75 mg/mL ekstrak V. merrillii menunjukkan efek antelmintik. Ekstrak V. merrillii tersebut hanya efektif pada konsentrasi 75 mg/mL. Kajian tersebut mengindikasikan bahwa antelmintik berbasis herbal untuk mengendalikan A. galli berpontesi dikembangkan
EVALUASI SIFAT FISIK DAN DAYA IRITASI SEDIAAN LOTION MINYAK ATSIRI BUNGA CENGKEH (SYZIQIUM AROMATICUM) DENGAN BERBAGAI VARIASI KONSENTRASI
In this study, the lotion contained essential oil of clove Syzigium a romaticum which contained eugenol as the active ingredient. Eugenol has been scientifically proven as anti-inflammatory. Because its activity, the study about development of dosage form is needed. Aims of this study was to know the physical properties of spreadibility, adhesivity, pH, viscosity and irritation index of lotion with variation concentration of essential oil.Thisstudywasstartedwithaformulationoflotionwith variationconcentrationofessentialoil5%(FI); 10% (FII); 15% (FIII). Lotion was evaluated physical properties with parameters spreadibility, adhesivity, viscosity and pH. The evaluation of iritation index was done using guinea pig test animals. Data were analyzed statistically with One Way Anova at confidence level of 95% to detect a significant difference between the treatment groups. The results of the study showed the variation consentration did not influence pH the increasing concentration caused a decreasing spredibility P<0.05 and increasing adhesivity P<0.05. The all of concentration did not irritated the skin of guinea pigs.Pada penelitian ini lotion berisi minyak atsiri bunga cengkeh yang mengandung zat aktif eugenol. Eugenol telah terbukti secara ilmiah berkhasiat sebagai antiinflamasi. Oleh karena itu sediaan antiinflamasi topikal perlu dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat daya sebar, daya lekat, pH viskositas, daya iritasi sediaan lotion dengan variasi konsentrasi minyak asiri bunga cengkeh. Penelitian ini diawali dengan formulasi sediaan lotion dengan konsentrasi minyak atsiri bunga cengkeh 5% (FI); 10% (FII); 15% (FIII). Lotion dievaluasi sifat fisik dengan parameter daya sebar, daya lekat, viskositas dan pH. Selain itu juga dievaluasi daya iritasi terhadap kulit menggunakan hewan uji marmut. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik One Way Anova dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan. Hasil percobaan sifat fisik lotion menunjukkan bahwa variasi konsentrasi tidak mempengaruhi pH. Peningkatan konsentrasi menyebabkan penurunan daya sebar (P<0,05) dan peningkatan daya lekat (P<0,05). Lotion dengan ketiga konsentrasi tidak mengiritasi pada kulitmarmut